
Rifki terdiam beberapa saat, membayangkan apa yang akan terjadi dikemudian hari dengan dirinya dan juga Nadhira, permata iblis dan keris pusaka xingsi membawa sebuah bencana bagi dirinya dan juga Nadhira.
"Apakah aku dan dia harus saling membunuh nantinya Bay? Ini semua salahku karena aku terlalu dalam mencintainya, bagaimana aku bisa tega untuk membunuhnya dengan keris pusaka xingsi?".
"Aku tau ini sangat berat bagimu Rif, tapi percayalah bahwa rencana Allah begitu indah, dibalik setiap ujian yang kita jalani Allah telah menitipkan sebuah kebahagiaan yang begitu indah didalamnya".
"Lalu apa yang harus aku lakukan Bay? Apakah aku harus membunuh Nadhira karena permata iblis itu?"
"Jangan bertindak gegabah dulu Rif, semua pasti ada jalan keluarnya nanti, kita hanya bisa menebak situasi yang akan datang, tapi jangan lupa bahwa Allah mampu membolak balikkan takdir, jika Allah sudah berkehendak jadi maka terjadilah".
"Kau benar Bay, tapi jika harus membunuh Nadhira maka aku tidak akan sanggup untuk melakukan itu, jika harus mati ditangan Nadhira maka aku akan siap untuk itu".
"Aku percaya pada cinta kalian, kalau kalian akan selalu bersama nantinya, jangan menyerah seperti ini Rifki, selama masih ada tekat maka akan selalu ada jalan keluar untuk itu".
"Iya Bay, aku akan berusaha untuk itu, dan untuk hal ini jangan sampai Nadhira mengetahuinya, jika ada diantara kalian yang berani membocorkannya maka aku tidak akan membiarkan kalian hidup".
"Anda tenang saja Tuan Muda, kami tidak akan melakukan itu" Jawab mereka serempak.
Rifki percaya dengan kesetiaan anggota Gengcobra, jika mereka berani menentangnya mereka akan bernasib buruk seperti sebelum sebelumnya karena Rifki ataupun Aryabima tidak akan membiarkan hal itu begitu saja.
Keluarga Abriyanta sangat membenci yang namanya penghianatan, dan mereka tidak akan membiarkan siapapun yang telah berkhianat kepadanya akan hidup dengan baik, mereka pasti akan menghancurkan kehidupan seseorang yang telah berkhianat kepadanya dan anggota keluarganya.
"Kalau sampai Nadhira mengetahuinya, maka kalian semua yang akan menanggungnya".
"Iya Tuan Muda, kami siap menanggung semuanya".
"Bagus, Reno ingat baik baik siapa saja yang ada dimobil ini, kalau sampai ini semua bocor kepada Nadhira maka kau harus hafal siapa saja yang ada disini saat ini".
"Baik Tuan Muda, saya akan mengingatnya dengan baik, dan tidak akan melakukan kesalahan".
"Aku sangat percaya denganmu Reno, sudah bertahun tahun kau selalu ada untuk anggota Gengcobra dan jangan pernah berhianat".
"Saya tidak berani melakukan itu Tuan Muda, saya akan terus setia kepada Tuan Muda, dan saya tidak akan pernah mengkhianati kebaikan yang telah Tuan Muda berikan kepada saya selama ini".
"Jika kau sudah menemukan orang yang kau cintai, katakan kepadaku, kau juga berhak untuk bahagia Ren, mengingat usiamu yang hampir kepala tiga, sudah saatnya kau menikah".
"Tapi Tuan Muda, saya tidak akan menikah sebelum Tuan Muda menemukan orang yang tepat, saya hanya takut Tuan Muda kenapa kenapa".
"Aku bangga denganmu Reno".
"Terima kasih Tuan Muda atas kebaikan yang telah Tuan Muda berikan selama ini".
"Sudah kewajibanku untuk membantu dirimu".
*****
Rifki sedang berada dikamarnya didalam markas Gengcobra seorang diri, ia pun menatap keluar melalui cendela yang ada diruangan itu, akan tetapi kamarnya itu nampak begitu gelap karena tidak ada penerangan sebuah lampu yang biasanya ia nyalakan untuk menerangi ruangan itu dan kini ruangan itu terlihat seperti sebuah ruangan sunyi dan gelap.
Rifki masih teringat dengan sangat jelas, tentang perkataan perkataan yang telah diucapkan oleh sosok yang ia temui didalam desa Mawar Merah itu, dan hal itu membuat beban yang sangat berat bagi Rifki, bagaimana bisa dia melakukan itu kepada orang yang sangat ia cintai, apalagi hanya ada cara itu satu satunya.
Rifki mampu mengeluarkan keris pusaka xingsi itu dari dalam tubuhnya sendiri, akan tetapi dia tidak akan mampu untuk melakukan itu, dan ia tidak ingin keris itu keluar dari dalam tubuhnya hingga menyebabkan adanya orang yang merebutnya ataupun menginginkan kekuatan dari keris pusaka xingsi tersebut.
Akan tetapi jika permata itu tidak kunjung dikeluarkan dari dalam tubuh Nadhira maka disaat gerhana bulan merah selanjutnya Nadhira akan menjadi mangsa mereka dan Rifki belum tentu mampu untuk melindungi Nadhira saat itu.
Sekarang hanya ada dua pilihan bagi Rifki, menghancurkan permata itu dengan keris pusaka xingsi atau membiarkan Nadhira menjadi incaran para dukun sakti digerhana bulan merah yang akan datang, akan tetapi kedua pilihan itu menyangkut nyawa Nadhira sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah Nadhira harus mati ditanganku?" Guman Rifki.
Sejak kembali desa Mawar Merah tersebut Rifki langsung mengurung dirinya sendiri dikamarnya dan tidak ada seorang pun yang berani untuk menganggunya ataupun hanya sekedar mengetuk pintu kamar tersebut apalagi kamar itu kini berada didalam kegelapan.
Rifki merasa hidup ini sangat tidak adil dimana dia harus pergi meninggalkan gadis yang ia cintai dan juga membunuh gadis tersebut dengan keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya agar dirinya mampu untuk menghancurkan permata iblis yang telah ditakdirkan untuk hancur ditangannya dan juga ditangan Nadhira sendiri.
Tok tok tok
"Tuan Muda, sejak pagi anda belum makan sama sekali, saya datang untuk membawakan anda makanan Tuan Muda, tolong buka pintunya".
Suara Reno terdengar menggema dikamar Rifki, Reno memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Rifki karena sejak pagi Rifki belum keluar dari kamar itu ataupun hanya sekedar makan saja, dan hal itu membuat seluruh anak buahnya merasa cemas dan khawatir dengan kondisi Rifki.
"Kamu makan saja, aku tidak lapar" Jawab Rifki dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Tapi Tuan, saya takut anda sakit, tolonglah makan sedikit saja Tuan Muda"
Tidak ada jawaban dari Rifki dari dalam dan hal itu membuat Reno hanya menunduk lesu karena dirinya tidak berhasil untuk membujuk Rifki agar dirinya mau makan, Reno pun mengetuk pintu itu kembali dan berharap bahwa Rifki akan keluar akan tetapi harapannya itu lenyap begitu saja karena tidak ada sahutan dari Rifki.
"Tuan Muda, apakah anda baik baik saja?" Tanya Reno dengan nada paniknya.
"Aku baik baik saja, kau tidak perlu mencemaskan diriku Reno" Akhirnya Rifki menyahuti ucapannya.
"Tuan Muda tolonglah makan sedikit saja, mumpung ini masih hangat Tuan Muda"
Lagi lagi Rifki tidak menyahuti ucapannya itu, dan hal itu membuat Reno tidak berani lagi untuk mengetuk pintu tersebut, ia pun berjalan kearah dimana Bayu berada dengan menundukkan kepalanya dengan lesu karena dirinya tidak berhasil untuk membujuk Rifki agar mau makan.
"Dia tidak mau juga?" Tanya Bayu ketika Reno sudah sampai didepannya.
Mendengar pertanyaan itu Reno hanya mampu menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya dengan lemas, ia merasa sedih karena dirinya tidak berhasil untuk membujuk Rifki yang sejak tadi pagi belum juga makan.
"Berikan itu kepadaku" Bayu segera merebut nampan berisi makanan itu dari tangan Reno dan Reno hanya membiarkannya begitu saja.
Bayu pun segera bergegas menuju kedepan pintu kamar Rifki yang tengah tertutup dengan rapatnya itu, ia pun menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan sebelum dirinya mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok tok tok
"Rif buka pintunya, kau belum makan sejak pagi, kenapa kau menghukum dirimu sendiri seperti ini sih Rif, itu bukan kesalahanmu" Ucap Bayu.
Dan ketukan pintu darinya tersebut sama sekali tidak ada jawaban dari Rifki yang ada didalam kamar tersebut, dan hal itu membuat Bayu merasa cemas karena dia takut Rifki kenapa kenapa didalam sana.
"Rif, kalau kau tidak keluar maka aku akan mendobrak pintu ini sekarang juga, aku tidak peduli semarah apa kau denganku nantinya" Ancam Bayu.
Rifki sana sekali tidak peduli dengan ancaman itu, dan dia hanya mengabaikan saja ucapan Bayu tanpa menjawabnya sedikitpun itu, hal itu membuat Bayu langsung berdiam diri karena ia tidak mendapatkan respon dari Rifki.
Bayu pun berniat untuk mengetuk pintu itu kembali, akan tetapi sebelum dia melakukan itu pintu kamar tersebut sudah dibuka oleh Rifki, sontak hal itu membuat Bayu tersenyum canggung dihadapan Rifki.
Rifki yang melihat Bayu membawa nampan didepan kamarnya hanya bisa bersandar dipintu kamar tersebut sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya dan menatap penuh tanda tanya kepada Bayu saat ini.
Melihat itu membuat Bayu segera bergegas masuk kedalam kamar tersebut tanpa seizin dari Rifki, Bayu melewati Rifki begitu saja tanpa banyak bicara dengan Rifki sendiri.
Bayu segera bergegas menuju kesebuah saklar kamar tersebut dan menyalahkan begitu saja tanpa persetujuan dari Rifki, setelah itu dirinya langsung bergegas menuju ke sebuah kursi yang berada sedikit jauh dari dirinya.
Mendengar teriakan Rifki membuat Bayu segera menghentikan langkahnya dan berdiam diri ditempat dirinya berhenti, sementara Rifki langsung mendatangi dimana Bayu berada saat ini.
"Siapa yang mengizinkan dirimu masuk?" Tanya Rifki dengan nada dinginnya.
Bayu masuk dengan seenaknya saja, ia pun mulai berani melakukan tindakan tanpa perintah dari Rifki, apalagi melanggar ucapan Rifki saat ini, setelah Rifki bertanya seperti itu kepadanya, dirinya langsung bergegas kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kursi yang ada didalam ruangan kamar Rifki.
Dengan santainya dirinya langsung duduk disana dan hal itu membuat Rifki hanya menghela nafasnya dalam dalam dan segera mendatanginya, Bayu pun meminta kepada Rifki untuk duduk disebelahnya.
"Sudahlah Rif, jangan kebanyakan marah seperti itu, buruan makan mumpung masih hangat, didepan ada Tante Putri loh, setelah makan kau temui dia"
"Mama datang kemari? Sejak kapan?"
"Mungkin sekitar 30 menit yang lalu, aku bilang saja kepadanya kalau kamu masih mandi, dia nungguin diruang tamu markas, buruan dimakan biar kau memiliki tenaga untuk selanjutnya".
"Kenapa kau tidak bilang kepadaku sebelumnya sih Bay, aku merasa tidak enak membuat Mama menunggu lama".
"Sudah buruan dimakan, mungkin kita akan mendapatkan begitu banyak omelan karena telah membuat Syaqila merasa sebal".
"Itu salahmu bukan salahku".
"Lagian kau kan pemimpin kami, jadi tetap kau yang akan berhadapan dengan Tante Putri".
"Setelah ini akan ku buat perhitungan denganmu Bay, lihat saja nanti".
"Itu urusan nanti Rifki, untuk saat ini urus dulu makananmu ini, cepat habiskan".
"Kau benar benar menyeretku dalam masalah Bay".
"Buruan dimakan, atau aku akan menyeretmu untuk lebih dalam lagi".
"Kau berani mengancamku Bay?".
__ADS_1
Bayu hanya mengangkat kedua bahunya sambil berkata, "Hem? Tidak ada pilihan lain".
*****
Nadhira berjalan seorang diri ditengah tengah kegelapan malam, perasaannya merasa sangat bersalah dengan Rifki, ia tidak menduga bahwa Rifki akan berubah drastis seperti saat ini, apalagi dirinya yang selalu menampakkan sebuah senyuman kepadanya sekarang terasa begitu hambar.
Entah kemana kakinya akan melangkah saat ini, dirinya hanya mengikuti kemauan dimana kakinya bergerak, tanpa dia sadari bahwa kini dia melewati sebuah bangunan yang sangat sederhana akan tetapi terlihat begitu mewah.
Dibangunan itu hanya ada lahan yang tidak terlalu luas bagi Nadhira, akan tetapi akan terlihat sangat luas bagi masyarakat sekitar dan diberi pagar tembok mengitari sebuah bangunan persegi didalamnya, dari dalam bangunan itu tiba tiba sosok seorang lelaki berlari keluar dari dalam sana.
"Dhira, kamu ngapain kesini?" Tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Theo.
"Aku hanya jalan jalan, tidak sengaja lewat tempat ini saja kok Theo".
"Kamu jangan jalan jalan kemari, disini banyak orang pemabuk dan bahaya bagi seorang gadis seperti dirimu Dhira".
"Apa ini tempatmu mabuk Theo?" Tanya Nadhira dengan penuh selidik kepada Theo.
"Iya" Jawab Theo dengan anggukan pelan.
"Oh".
"Kenapa kamu terlihat sedih Dhira? Apa ada orang yang telah menyakiti dirimu?" Tanya Theo ketika melihat ekspresi sedih diwajah Nadhira saat ini.
"Ngak kok Theo".
Dari dalam bangunan itu terlihat banyak orang laki laki yang tengah larut dalam mabuk mereka, banyak diantara mereka yang sedang menari nari mengikuti alunan nada musik ya ada ditempat tersebut, Nadhira memperhatikan hal itu dengan seksama.
"Apa mereka sering seperti itu Theo?".
"Iya Dhira, mereka hanya ingin melepaskan beban mereka saja, dan orang pemabuk tidak sepenuhnya adalah orang nakal, justru sebagaian dari mereka hanya ingin melepaskan beban yang dirinya tanggung selama ini".
"Benarkah?".
"Kau mau ngapain Dhira?" Tanya Theo ketika melihat Nadhira melangkah kearah bangunan itu.
"Mabuk dan lupakan segalanya" Jawab Nadhira tanpa menoleh kearah Theo lagi.
Theo terdiam beberapa saat seperti sedang mencerna apa yang dikatakan oleh Nadhira, sementara Nadhira sendiri sudah bergegas masuk kedalam area bangunan itu tepat dimana banyak orang yang tengah mabuk.
Ketika Theo sudah memahami apa yang dikatakan oleh Nadhira, ia segera bergegas berlari untuk mengejar Nadhira, Nadhira langsung menyambar sebuah gelas yang berisi minuman beralkohol itu akan tetapi ketika dirinya hendak menyentuhkannya kepada ujung bibirnya tiba tiba Theo menghentikannya begitu saja.
"Apa yang ingin kau lakukan Dhira? Minuman ini tidak baik untuk seorang wanita".
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin melepaskan beban yang ada dipundakku".
"Jangan Dhira" Ucapnya sambil merebut gelas yang ada ditangan Nadhira, "Aku tidak ingin melihatmu mabuk seperti dulu lagi, kau seorang wanita yang masih gadis Dhira, bagaimana kalau ketika kau tidak sadarkan diri kau melakukan tindakan yang dilaur nalar? Itu akan sangat berbahaya".
"Bagaimana kalau kita minum bersama sama? Dan lupakan rasa kekhawatiranmu itu".
"Kau terlalu nekat Dhira, kenapa kau sangat ingin minum minuman seperti ini? Ini minuman sangat berbahaya Dhira"
"Lalu kenapa kau terlalu suka dengan minuman seperti ini Theo?".
"Mungkin sudah menjadi candu, bukan hanya sekali atau dua kali aku mencobanya Dhira".
"Biarkan aku mencobanya" Ucap Nadhira sambil merebut kembali minuman itu dari tangan Theo.
"Jangan minum disini Dhira didalam saja, disini banyak lelaki yang suka main dengan wanita, akan sangat bahaya kalau kau tidak sadarkan diri diluar sini nanti, kita ngobrol didalam saja".
"Baiklah".
Theo segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam bangunan yang ada diarea itu, dan membiarkan seluruh anak buahnya yang sudah tidak sadarkan diri diluar bangunan tersebut, sementara dirinya mengikuti langkah Nadhira untuk masuk.
Dari kejauhan tempat itu terlihat dua orang laki laki yang tengah bersembunyi dibalik semak semak, kedua orang itu terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Nadhira saat ini, ia pun segera mengeluarkan ponsel yang ada didalam saku bajunya itu dan menekan sebuah nomor disana.
"Halo Tuan, sepertinya Nona Dhira ingin mabuk Tuan, dia masuk kesebuah markas Gengters yang sangat tersembunyi" Ucap orang tersebut.
Nampak terlihat orang yang sedang menelfon tersebut terlihat begitu sangat serius untuk mendengarkan suara seseorang dari seberang telfon itu, terlihat seperti tidak ada sebuah senyuman dibalik wajah keduanya.
__ADS_1
"Baik Tuan" Ucapnya lagi untuk mengakhiri telfon itu.