
Rifki tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini apalagi Syaqila kini tengah mengancam dirinya dengan bermain main dengan nyawa Putri, orang yang paling disayangi oleh Rifki saat ini dan selamanya, Rifki terlihat sangat marah dengan apa yang terjadi saat ini, akan tetapi Syaqila mengancamnya jika dia berani melawan ucapannya maka ia tidak segan segan mencelakai Putri.
Syaqila tersenyum ketika melihat Rifki hanya diam membisu karena ucapannya itu, Aryabima yang berada dikejauhan pun merasa bingung dengan apa yang tergambar diwajah Rifki itu, dan ia pun menoleh kearah anak angkat dan menantunya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Aryabima.
"Apa lagi Ayah kalau bukan sebuah pertunangan Rifki dan Syaqila" Jawab Putri.
"Tidak, bukan itu yang ku tanyakan kepada kalian, kenapa Rifki sekarang ini seperti sedang memendam sebuah kemarahan? Meskipun dia tidak berbicara, aku merasa bahwa ada yang salah disini".
"Mungkin dia marah denganku Ayah, karena aku telah memaksanya untuk menikah, tapi aku tidak punya pilihan lain saat ini".
"Maksudmu apa? Kenapa kau memaksa cucuku untuk menikah? Dan kenapa kau bilang tidak punya pilihan lain?".
"Nanti aku akan menjelaskan semuanya kepada Ayah setelah ini" Sela Haris.
"Kenapa harus menunggu nanti? Ada masalah apa?"
"Ayah mengertilah untuk saat ini, Haris akan jelaskan nanti kepada Ayah".
Acara pertunangan pun segera dimulai, Rifki dan Syaqila menyematkan sebuah cincin kepada pasangan saat ini, setelah itu suara gemuruh tepuk tangan menggema didalam gedung tersebut, melihat itu membuat Nadhira ingin sekali pergi dari tempat itu akan tetapi hatinya terus menolaknya.
"Kenapa? Kenapa dia terlihat sedih seperti itu? Bukankah ini adalah keinginannya? Syaqila adalah wanita yang cocok untuk Rifki, tapi kenapa Rifki sama sekali tidak bahagia?" Ucap Nadhira dengan sedih dan kebingungan.
Pandangan Nadhira pun tertuju kepada seseorang yang berada dilantai atas bangunan tersebut, ia merasa curiga dengan orang tersebut, ia menemukan keanehan dengan sebuah lampu gantung yang ada diatas Rifki saat ini.
Lampu gantung itu bergoyang goyang seakan akan ada yang sedang berusaha untuk melepaskan lampu tersebut agar Rifki celaka, Nadhira yang melihat itu pun mendadak seperti berhenti nafas seketika, apalagi saat ini hanya Rifki seorang yang berada dibawah lampu tersebut sementara Syaqila sedang sibuk untuk menerima ucapan ucapan selamat dari teman temannya.
"Tidak, Rifki tidak boleh celaka" Ucap Nadhira lirih.
Nadhira pun langsung berlari kearah panggung yang ada didepannya itu tempat dimana Rifki berdiri saat ini, tanpa mempedulikan banyak orang Nadhira berusaha untuk mendekat kearah Rifki.
Nadhira melihat bahwa lampu tersebut sebentar lagi akan terlepas dari tempatnya, ketika dirinya hendak sampai ditempat Rifki tiba tiba lampu itu meluncur dengan cepat kearah Rifki.
"TIDAK! RIFKI...!!" Teriak Nadhira histeris.
"Apa!" Teriak Rifki.
Bruakkk... Ciarr....
"Rifki!" Teriak Aryabima.
"Apa yang terjadi?" Ucap semua orang yang terkejut dengan apa yang terjadi.
Sebelumnya lampu tersebut terjatuh mengenai Rifki, untung saja Nadhira terlebih dulu menabrakkan tubuhnya kepada Rifki hingga membuat keduanya berguling guling jatuh dari panggung acara pertunangan itu.
Keduanya berhenti berguling tepat disaat Nadhira berada diatas tubuh Rifki dengan nafas yang tersengal sengal, sementara Rifki tidak sadar dengan apa yang terjadi saat ini akan tetapi suara pecahan kaca tersebut membuatnya mengerti kenapa Nadhira mendorong tubuh itu.
Pandangan keduanya saling bertemu satu sama lain, diantara pecahan kaca keduanya terbaring, dapat dilihat bahwa sebagian pecahan kaca tersebut mengenai kaki Nadhira hingga berdarah.
"Kenapa kau menyelamatkanku? Biarkan aku mati saja Dhira" Tanya Rifki kepada Nadhira yang masih berada diatas tubuhnya.
Nadhira segera menutup mulut itu dengan satu tangannya yang sebelumnya berada diantara keduanya, Nadhira memandangi kedua mata yang indah itu yang kini terlihat ada setitik air mata yang tersimpan disana.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja Rifki, karena hanya aku yang berhak untuk membunuhmu"
Mendengar jawaban itu seketika membuat Rifki tersenyum kearah Nadhira yang ada diatasnya, jarak keduanya hanya berpaut beberapa senti saja akan tetapi tubuh mereka kini sudah tidak berjarak lagi.
Melihat Rifki dan Nadhira saat ini sedang tumpang tindih membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Nadhira, sementara keluarga Rifki segera bergegas untuk mendatangi keduanya.
"Bayu! Tangkap orang itu, jangan biarkan dia lolos begitu saja!" Teriak Nadhira memerintahkan kepada Bayu untuk menangkap seseorang yang dilihat oleh Nadhira sebelumnya.
"Baik Dhira" Jawab Bayu dan langsung memerintahkan anggota Gengcobra yang lainnya untuk segera menangkap lelaki itu.
Anggota Gengcobra saat ini sedang berhamburan untuk dapat menangkap orang tersebut atas perintah dari Nadhira, Rifki sendiri pun tidak berusaha untuk menyingkirkan tubuh Nadhira dari tubuhnya karana saat ini dirinya sedang terpaku dan tidak mampu bergerak karena tatapan Nadhira.
Nadhira pun segera bangkit dari tubuh Rifki yang saat ini sedang ia tindih, setelah itu dirinya membantu Rifki untuk duduk dan langsung menjatuhkan pelukannya kepada Rifki, ia merasa begitu cemas saat ini.
"Apa kau baik baik saja Rif".
__ADS_1
Rifki memejamkan kedua matanya karena pelukan dari Nadhira yang membuatnya merasa lebih tenang, Nadhira sangat khawatir dengan keadaan Rifki saat ini, apalagi dengan adanya seseorang yang berusaha untuk mencelakai Rifki kali ini.
Para tamu yang hadir ditempat itu langsung dibuat begitu terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, apalagi Rifki yang sama sekali tidak menolak pelukan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya kali ini.
Rifki begitu terluka hatinya ketika Syaqila mengatakan hal itu kepadanya sebelumnya, akan tetapi kehangatan dari Nadhira membuat perasaannya menjadi lebih tenang daripada sebelumnya.
"Aku baik baik saja Dhira, terima kasih, karena tidak membiarkanku mati ditangan orang lain" Jawab Rifki.
"Syukurlah"
"Maafkan aku"
"Ada apa dengan dirimu Rifki? Kenapa kau tiba tiba meminta maaf kepadaku?" Tanya Nadhira ketika mendengar nada suara Rifki yang begitu banyak penyesalan dan kesediaan.
"Bukan apa apa, hanya saja aku merasa salah" Bohong Rifki.
"Kau memang adalah penjahat dan kesalahanmu begitu banyak kepadaku, tapi melihatmu minta maaf seperti ini aku merasa terkejut, kau akan menanggung semuanya nanti" Ucapnya sambil melepaskan pelukan tersebut dari Rifki dengan wajah yang memerah bak tomat.
Melihat itu membuat Rifki mengembangkan seutas senyuman kepada Nadhira yang terlihat seperti sedang menahan malu dihadapan Rifki, tidak ada kata kata yang keluar dari mulutnya setelah Nadhira mengatakan itu kepadanya.
Nadhira segera bergegas menjauh dari Rifki ketika suara keributan orang orang yang tengah sibuk membicarakan dirinya, begitu banyak kata kata yang menyakiti hati Nadhira mereka lontarkan, tidak sedikitpun yang menyumpahi Nadhira dengan apa yang telah ia lakukan.
Kebaikannya menolong Rifki pun sama sekali tidak mereka anggap dan kini justru mereka menghujat Nadhira yang telah berani untuk memeluk seorang Tuan Muda Abriyanta begitu saja.
Mendengar itu membuat Nadhira hanya mampu tersenyum tipis, ia tidak masalah jika seluruh dunia akan membicarakan keburukannya akan tetapi ia sama sekali tidak menyesalinya karena dirinya berhasil melindungi Rifki dan dirinya akan selalu menjadi perisai bagi Rifki.
"Apa kau baik baik saja Nak?" Tanya Putri yang langsung memeluk anaknya itu.
"Mama tidak perlu khawatir soal Rifki, Rifki akan baik baik saja selama Nadhira selalu ada untuk Rifki" Ucap Rifki pelan dan hanya dapat didengar dengan begitu jelasnya oleh Putri.
"Ini hanya kebetulan, mungkin lampu itu sudah waktunya untuk diganti, lagian kau beruntung diselamatkan oleh Nadhira, kalo Nadhira tidak ada disini mungkin orang lain yang akan menyelamatkan dirimu" Ucap Putri.
"Tidak Ma, semua orang tidak menyadari tentang bahaya yang sedang mengintai Rifki, tapi Nadhira yang menyadari itu terlebih dulu, dan dia segera berlari untuk menyelamatkan Rifki".
"Bisa jadi kan emang ini rencana liciknya, sehingga hanya dirinya yang mengetahui tentang ini".
"Jika Tante tidak menyukai Dhira, Dhira mohon jangan menuduh Dhira seperti itu" Ucap Nadhira yang tidak sengaja mendengar suara Putri.
"Siapa kau?" Tanya Nadhira.
"Bukan urusanmu!" Ucap lelaki itu.
"Berani beraninya kau ingin mencelakai Rifki tepat didepan mata kepalaku sendiri, apa kau sudah bosan untuk hidup ha?".
Plakk... Plakk...
Tanpa basa basi lagi Nadhira langsung menampar lelaki itu dengan sangat kerasnya dipipi kiri dan kanannya, karana seringnya Nadhira berlatih hingga membuat tamparannya sangat kuat dan dalam sekejap langsung membuat pipi orang itu membiru.
Melihat aksi tersebut membuat semua orang tercengang tanpa mampu mengeluarkan suara sedikitpun itu, sementara Syaqila merasa geram melihat Nadhira yang sok jago didepan banyak orang untuk saat ini.
Siapa juga yang tidak bisa menampar pipi musuh yang bahkan saat ini sedang dikunci oleh orang yang begitu kuat, bahkan anak kecil pun bisa melakukan itu juga.
"Ingat ini, siapapun bos mu itu, jika dia berani mencelakai Rifki, aku tidak akan tinggal diam begitu saja, bahkan seluruh dunia pun akan aku lawan" Ucap Nadhira sambil menatap kearah Syaqila.
Nadhira pun terlihat sedang menarik nafas dalam dalam, ia merasa begitu terluka saat ini ketika orang itu ingin mencelakai Rifki, ia pun memegangi dengan erat kerah baju lelaki itu yang kini tidak berdaya ditangan Bayu.
"Besar juga nyalimu itu, apa kau sudah bosan untuk hidup saat ini? Aku bisa saja membunuhmu ditempat ini beserta bosmu itu" Entah apa yang membuat Nadhira mengatakan hal tersebut.
Bhukk...
Nadhira memberikan sebuah tendangan tepat diperut lelaki itu hingga membuat lelaki tersebut bertekuk lutut didepannya, sementara Rifki hanya membiarkan Nadhira bersikap apapun yang dia inginkan untuk saat ini.
Dihati mereka semua tertulis bahwa Nadhira itu kejam, karena melihat aksi yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, Nadhira pun berjalan kearah seorang pemuda yang berada tidak jauh dari dirinya saat ini.
"Apa kau ingin membiarkan dia mati ditanganku?" Tanya Nadhira.
"Maksudmu apa?" Tanya Pemuda tersebut.
"Aku telah mendengar semuanya tanpa kau sadari sedikitpun, dan kau sendiri lah yang telah merencanakan ini untuk mencelakai Rifki bukan?".
__ADS_1
Pertanyaan itu sontak membuat semuanya terdiam, dan bahkan membuat pemuda tersebut sampai menghentikan nafasnya, pemuda itu adalah saudara Syaqila dan anak dari Paman Syaqila.
Bhuk..
Tanpa basa basi lagi Nadhira juga menendang perut pemuda itu hingga pemuda itu termundur beberapa langkah kebelakang dan jatuh tepat dikejauhan, tendangan Nadhira begitu keras hingga membuat pemuda tersebut menggeram kesakitan.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Syaqila.
"Kau tanya kepadaku apa yang aku lakukan? Apa kau sendiri juga adalah dalang dari semuanya? Wajahmu tidak bisa menutupi semua kebenarannya dariku"
"Maksudmu apa? Aku sama sekali tidak mengerti".
"Kau tidak perlu mengerti apa ucapanku, meskipun aku mengatakan yang mudah di mengerti oleh semua orang, hal itu tidak akan berlaku untuk dirimu karena kau bukan manusia"
"Kau mengatakan seolah olah aku adalah hewan begitu maksudmu?"
"Syukurlah jika kau sadar akan ucapanku".
"Kau! Berani sekali kau mempermalukan diriku didepan umum seperti ini".
"Hanya anji*g yang menggonggong yang akan dilempari batu, sementara singa yang diam akan ditakuti oleh semua orang".
Tanpa basa basi Nadhira langsung menceploskan apa yang ingin sekali dia katakan itu, melihat itu hanya membuat Rifki tersenyum tipis dan merasa kagum kepada Nadhira, didepan banyak orang dirinya mampu mengatakan hal seperti itu.
Hal itu berbanding terbalik dengan Syaqila yang kini wajahnya terlihat begitu merah padam karena menahan emosinya kepada Nadhira didepan begitu banyak orang seperti saat ini.
"Apa yang kau katakan kepada Rifki sebelum kalian saling menyematkan cincin?"
"Itu bukan urusanmu" Jawab Syaqila mengela.
"Itu adalah urusanku! Siapapun yang ingin menyakiti Rifki, aku tidak akan membiarkannya begitu saja, sebelum menyakiti Rifki, mereka harus berurusan dengan diriku, emang kau pikir aku tidak mendengarnya? Memang benar aku tidak mendengarnya langsung, tapi ekspresi wajah Rifki mampu menjelaskan semuanya kepadaku".
Beberapa orang langsung menyerbu kearah Nadhira setelah Nadhira mengatakan hal itu, Nadhira tidak tinggal diam untuk melihat hal itu, ia langsung bergerak cepat untuk menyerang balik orang orang tersebut hingga membuat semua orang terkejut.
Banyak diantara mereka yang memilih untuk keluar dari gedung tersebut karena takut akan celaka didalam sana, biar bagaimanapun juga akan terjadi sebuah pertarungan didalam gedung tersebut.
Melihat itu Rifki juga tidak tinggal diam, apalagi anggota Gengcobra, mereka langsung membantu Nadhira untuk melawan orang orang itu, Rifki dan Nadhira lalu membuat rangkaian gerakan yang begitu indah dan mampu membuat beberapa orang langsung terjatuh didepannya.
Rifki dan Nadhira seakan akan tengah menari diantara orang orang yang menyerbu keduanya itu, gerakan yang sangat indah akan tetapi dapat membuat mereka tumbang dalam sekejab, memang benar kata orang yang indah itu sangat mematikan.
Dalam sekejab saja hal itu mampu membuat mereka kewalahan menghadapi keduanya, dan anggota Gengcobra tidak membiarkan itu, mereka lalu menangkap mereka semua tanpa tersisa.
Setelah bertarung cukup lama, Nadhira pun menjatuhkan dirinya untuk berlutut karena ia sadar bahwa kakinya kini tengah berluka akibat kejadian sebelumnya itu, dan ketika dirinya sadar ia baru merasakan perih dikakinya.
"Dhira kakimu terluka" Ucap Rifki ketika melihat bekas darah dicelana Nadhira.
"Aku baik baik saja, jangan pedulikan aku, nanti juga akan sembuh sendiri kok, kamu ngak perlu khawatir" Ucap Nadhira dan langsung berdiri.
"Tidak, kita harus mengobatinya terlebih dulu sebelum terjadi infeksi, aku takut masih ada bekas kaca yang tertinggal didalam lukamu".
"Aku tidak butuh perhatianmu itu, aku masih bisa menanganinya sendiri".
"Baiklah, mau jalan sendiri atau ku gendong?".
Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira untuk menggendongnya pergi dari tempat itu dan hal itu membuat Nadhira terkejut dan langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Rifki.
"Rifki apa yang kau lakukan!" Ucap Nadhira sambil memberontak untuk meminta dilepaskan.
"Mengobatimu" Jawab Rifki singkat.
"Apa begini sikap Tuan Muda Abriyanta? Yang membawa gadis lain keluar dari acara pertunangannya sendiri?" Tanya Nadhira.
"Diamlah, lukamu harus segera diobati".
"Kenapa kau sangat peduli dengan lukaku? Ini hanya luka kecil bagiku dengan sering berjalannya waktu nanti juga sembuh sendiri".
"Kau telah menyelamatkan nyawaku, dan aku harus membalas kebaikanmu".
"Jika aku katakan bahwa kau harus membalasnya dengan nyawamu, apa kau akan memberikan nyawamu itu kepadaku?".
__ADS_1
"Bukankah sebelumnya kau telah mengatakan bahwa kau akan membunuh diriku? Apa kau juga meminta aku bunuh diri agar aku bisa memberikan nyawaku kepadamu Dhira? Untuk membalas kebaikan yang telah kau berikan itu" Ucap Rifki sambil menatap lembut kearah Nadhira