Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
kedatangan Rifki


__ADS_3

Lelaki tersebut langsung memegangi tangan Nadhira dan mengajak Nadhira untuk pergi dari tempat itu, dipertengahan jalan lelaki itu terus memperhatikan perut Nadhira yang membuncit, Nadhira yang menyadari itu pun langsung memegangi perutnya dan sesekali mengusapnya dengan pelan.


"Anak dari Rifki? Kamu sedang hamil anaknya saat ini Dhira?" Tanya pemuda tersebut dengan nada yang berbeda kepada Nadhira, ada rasa sesak didadanya tiba tiba akan tetapi dirinya berusaha untuk berbicara sebahagia mungkin dihadapan Nadhira karena dia tidak mau menunjukkan sisi kesedihannya.


"Iya, ini adalah anakku dan Rifki, aku tengah hamil anaknya saat ini" Ucap Nadhira seraya mengusap perutnya pelan.


"Selamat ya Dhira, Allah telah mempercayakan seorang anak kepada kalian, kalian harus menjaganya dengan baik, apa kamu masih sanggup untuk berlari dengan kondisi hamil seperti ini Dhira? Atau kita istirahat dulu disini, aku kasihan kepadamu kalau terus menerus berlari seperti ini"


"Makasih, aku masih bisa kok, aku bukan orang yang mudah menyerah begitu saja, dan ini adalah anak Rifki, dia juga pasti kuat seperti Ayahnya"


"Baiklah, kalo sudah tidak sanggup berlari katakan saja kepadaku, aku akan mencarikan tempat yang nyaman untukmu duduk agar kau bisa beristirahat nantinya"


"Iya aku akan bilang kepadamu nanti, ayo"


"Ayo"


Tanpa disangka anak buah dari lelaki yang bersama dengan Nadhira kini telah berhasil dikalahkan, sebagian dari mereka pun kehilangan nyawa karena luka tebasan yang cukup dalam ditubuh mereka, menyadari bahwa Nadhira tidak ada disana membuat orang yang menculik itu langsung murka dan memerintahkan seluruh anggotanya untuk mencari keberadaan dari Nadhira.


"Dhira ayo pergi dari sini cepat!"


"Ada apa?"


"Mereka akan segera menyusul kita, aku harap Rifki dan anggota Gengcobra segera datang untuk menolong dirimu dari mereka, aku tidak bisa melindungimu lebih lama lagi Dhira, semoga mereka cepat datang sebelum anggota gengku kalah" Ucap pemuda itu ketika mendengar ponselnya berbunyi.


"Semoga saja, aku juga berharap seperti itu agar mereka bisa menolong kita"


Sebelum terjadi pertarungan itu, dia memerintahkan anggotanya untuk menelponnya ketika mereka tidak mampu menahan serangan tersebut sehingga ketika ponselnya berbunyi menandakan bahwa mereka sudah tidak sanggup untuk melawan.


Menyadari kehilangan Nadhira dari tempat tersebut, orang yang menculik Nadhira segera memerintahkan anggotanya untuk mengejar Nadhira dan pemuda yang membawanya pergi tersebut, mereka lalu menghentikan pertarungan itu dan bergegas pergi dari tempat tersebut.


Anak buah yang dibawa oleh pemuda tersebut pun sudah banyak yang terluka bahkan ada yang tidak sadarkan diri sampai meninggal dunia, yang masih sanggup untuk berdiri mulai bangkit untuk mengejar mereka semua dan menghalangi mereka.


Nadhira dan pemuda tersebut kembali dalam sebuah pelarian, ketika dirinya merasakan bahwa pernafasan Nadhira kini memburu membuatnya menghentikan langkahnya dan membawa Nadhira untuk berjalan dengan arah yang berbeda daripada sebelumnya.


Kini pemuda tersebut dan Nadhira tengah berada disebuah bangunan tua yang telah ditinggal oleh pemiliknya, pemuda itu menyuruh Nadhira untuk duduk ditempat itu karena kondisi yang sedang hamil tidak memungkinkan bagi Nadhira untuk berlari lebih lama lagi.


"Apa kamu masih sanggup untuk berlari?" Tanya pemuda itu yang khawatir dengan Nadhira.


"Aku masih sanggup Theo" Ucap Nadhira yakin.


Pemuda itu adalah Theo yang baru saja keluar dari penjara, dirinya dipenjara karena membuat kekacauan di pernikahan Nadhira dan Rifki, akan tetapi dirinya dibebaskan oleh pengacara yang handal karena jaminan uang.


"Wajahmu tidak bisa berbohong Dhira, kau terlihat sangat pucat sekali sekarang, sebaik kita beristirahat disini untuk beberapa waktu"


"Theo kenapa kau mau menolongku? Bukankah kau dendam kepadaku karena aku lebih memilih untuk hidup bersama Rifki daripada dirimu, lalu kenapa kau datang untukku saat ini?"


"Aku ingin minta maaf kepadamu Dhira, aku begitu banyak salah kepadamu dan juga Rifki, aku baru sadar mencintai itu artinya mengikhlaskan orang yang dicintainya bahagia meskipun bukan aku alasan yang membuatmu bahagia, dan Rifki lebih pantas untukmu, seharusnya aku menjaga dirimu dan membuatmu bahagia bukannya melukaimu karena egoku yang ingin bersamamu,


Aku salah Dhira, aku salah dalam mengartikan sebuah cinta, sekarang aku hanya ingin kau bahagia, aku akan berusaha untuk melindungimu agar bisa bersama dengan Rifki, Dhira jika ini adalah akhir dari hidupku aku mohon kepadamu dan Rifki, mohon maafkan semua kesalahanku selama ini yang telah aku perbuat pada kalian,


Mungkin maaf saja tidak cukup bagimu Dhira, akulah penyebab dari kemarian Omamu, maafkan aku, aku akan membayar semuanya dengan nyawaku saat ini, aku hanya meminta satu hal kepadamu, tolong makamkan jenazahku dengan layak bersama dengan anggota gengku,


Mereka adalah keluargaku Dhira, jika ada anggota Gengters yang masih hidup, biarkan dia bergabung dengan anggota Gengcobra, kami semua rela mati untuk kalian, jika aku mati sekarang ini juga, aku sangat ikhlas Dhira,


Dhira, kau harus bahagia ya, sampai detik ini aku masih mencintaimu, kaulah orang yang ku cintai dalam akhir hidupku, dan aku ingin kau bisa bahagia dengan Rifki, membesarkan anak kalian bersama sama, aku akan meminta kepada Tuhan semoga hubungan kalian tidak akan terpisahkan"


"Theo, aku tidak bisa berkata apa apa lagi, aku sudah mengikhlaskan kepergian Oma, itu semua adalah takdir, aku bahkan sudah memaafkanmu sebelum dirimu meminta maaf, kau harus baik baik saja dan aku akan meminta kepada Rifki agar dirimu bisa bergabung dengan anggota Gengcobra"


"Terima kasih Dhira, kau wanita yang baik hati, Dhira dengarkan aku, tidak ada waktu lagi untuk saat ini, mereka akan segera sampai ditempat ini, aku tidak tau nomor telepon Rifki, kau pakai ponselku untuk menghubunginya, aku akan mencegah mereka untuk menemukanmu" Theo pun merogoh saku celana untuk mengambil benda pipih yang berada disana dan menyerahkannya kepada Nadhira.


"Theo, terima kasih untuk saat ini karena telah menolongku dan maaf atas apa yang aku lakukan kepadamu selama ini"


"Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu Dhira, Rifki benar, jika kita mencintai seseorang maka kita harus melakukan apapun untuk membuat orang yang kita cinta itu bahagia meskipun kebahagiaannya itu bukan bersama kita, Rifki jauh lebih mengerti tentang dirimu daripada aku yang hanya bisa memaksamu"


"Semoga kau bisa menemukan orang yang benar benar mencintaimu dengan tulus ya, maafkan aku karena tidak bisa membalas cintamu itu"


"Aamiin, Dhira bolehkah aku menyentuh perutmu dan mengusapnya pelan? Untuk yang terakhir kalinya aku meminta sesuatu kepadamu"

__ADS_1


"Boleh"


"Terima kasih Dhira"


Theo pun menggerakkan tangannya dengan pelan untuk menyentuh perut Nadhira, ia pun mengusapnya dengan perlahan lahan perut Nadhira itu, mendadak Theo merasa sangat bahagia setelah mengusap perut Nadhira itu.


"Jaga Mamamu dengan baik ya Nak, Om akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian, semoga kalian selalu bahagia dan selalu bersama sama" Ucap Theo lirih.


Mendengar ucapan tersebut membuat firasat Nadhira seakan akan mengatakan bahwa lelaki yang ada dihadapannya itu akan pulang ke Rahmatullah, entah mengapa Nadhira merasakan hal itu.


"Theo ini dimana? Biar aku beritahu Rifki agar segera datang"


"Hutan yang didekat jalan Halmahera, dekat dengan desa Angrek merah, katakan saja kepadanya perumahan Delta baru lurus ke timur sampai tepi hutan belantara"


"Baiklah, kau harus hati hati"


"Jika aku tidak kembali, bersembunyilah ditempat ini Dhira, jangan keluar sampai Rifki datang untuk menolongmu ya, kau harus baik baik saja"


"Iya Theo"


"Aku pergi, jaga dirimu baik baik dan juga anakmu"


"Theo..." Nadhira merasa berat untuk melepaskan kepergian dari Theo.


"Aku mencintaimu Dhira, aku ingin kau bahagia bersama dengan Rifki, hidupku tidak lama lagi, kau harus tetap bahagia ya, aku tidak ingin kau menangis karena Rifki, jika Rifki menyakitimu katakan kepada awan biar aku dengar, dan akan aku adukan kepada Tuhan" Theo pun mengusap puncak kepala Nadhira dengan perlahan lahan.


Mendengar perkataan itu seketika membuat air mata Nadhira meleleh, apalagi dengan usapan dari Theo yang mengucapkan kata kata perpisahan, Nadhira pun memegangi perutnya dan mengusapnya perlahan lahan.


"Theo, terima kasih atas apa yang kau lakukan selama ini, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat baikku, kalo bisa cepatlah kembali"


"Insya Allah, sampaikan kepada Rifki rasa terima kasihku kepadanya, karena dia aku sadar apa itu cinta, dan juga keponakanku yang ada diperutmu harus baik baik saja juga, kau kan sudah menganggap diriku sebagai sahabatmu, bisakah anakmu ini memanggilku sebagai Om nya suatu saat nanti, meskipun aku sudah masuk kedalam tanah"


"Iya Theo, dia adalah keponakanmu, dan kau akan selalu menjadi Om nya sampai kapanpun, akan ku ceritakan kepadanya suatu saat nanti tentang dirimu dan juga pengorbananmu"


"Aku sangat senang mendengarnya Dhira, terima kasih ya, kalo begitu aku pergi duluan ya, jaga dirimu baik baik"


Theo pun berlalu pergi dari tempat itu, melihat kepergian itu membuat Nadhira merasa bahwa pemuda itu tidak akan pernah kembali lagi, kalau bukan karena Theo mungkin Nadhira tidak akan bisa bertemu kembali dengan Rifki.


Ketika bayangan sudah menghilang dari kejauhan, Nadhira lalu menyalakan ponsel tersebut akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika melihat wallpaper dari ponsel itu, itu adalah foto dirinya bersama dengan Theo beberapa tahun yang lalu.


Cukup lama Nadhira memandangi ponsel tersebut dan akhinya dirinya menekan aplikasi telepon untuk menekan nomor ponsel Rifki, ia pun mulai menghubungi Rifki menggunakan ponsel tersebut akan tetapi tak kunjung diangkat oleh Rifki.


Nadhira pun menjadi semakin cemas dengan Rifki, karena teleponnya sejak tadi tidak dijawab oleh Rifki, Setelah beberapa kali mencoba akhirnya telponnya itu terhubung juga dengan Rifki.


"Halo assalamualaikum, dengan siapa ya?" Suara dari benda pipih itu, mendengar itu membuat perasaan Nadhira terlihat bahagia, ini adalah suara Rifki, orang yang paling dia rindukan.


"Waalaikumussalam sayang, ini aku Nadhira" Jawab Nadhira yang tidak mampu menghentikan air mata yang menetes itu.


"Nadhira, ini beneran kamu? Kamu baik baik saja kan? Kamu dimana sayang? Katakan kepadaku, aku sangat khawatir" Nadhira dapat mendengar suara bahagia berasal dari mulut Rifki.


"Aku baik baik saja, ini ponsel milik Theo, Theo memintaku sembunyi dari orang orang jahat itu, sedangkan dia dan anggotanya sedang melawan mereka, cepatlah datang hiks.. hiks.. hiks.. aku takut"


"Theo keluar dari penjara?"


"Ceritanya panjang, cepat kemari Rif hiks.. hiks.. hiks.. ini sangat sakit, perutku sakit, aku takut"


"Aku dijalan Dhira, kirim lokasimu sekarang, aku akan datang secepat mungkin"


"Cepat Rifki"


"Kamu sembunyi dulu, selama aku belom datang jangan keluar, tenang ya aku akan segera datang"


Nadhira pun mengirimkan sherelok kepada Rifki melalui ponselnya tersebut, Rifki lalu melihatnya bahwa tempat itu sudah tidak terlalu jauh dari dimana Nadhira berada.


****


Theo kini tengah melawan beberapa anggota penculik Nadhira bersama dengan anggota Gengters yang ia bawa sebelumnya, hanya tersisa 40 anggota Gengters yang bersama dengan Theo dengan luka yang memenuhi tubuhnya, sementara musuhnya masih berkisar 85 orang.

__ADS_1


"Kami tidak bisa menahannya terlalu lama Bos!"


"Kalian harus bertahan, sebentar lagi anggota Gengcobra pasti datang" Ucap Theo.


"Tapi aku takut sebelum mereka datang kita sudah mati disini, dan wanita itu dalam bahaya setelahnya"


"Yang penting kita sudah berusaha!"


"Baik Bos"


Mereka kembali menyerang musuhnya meskipun mereka kalah jumlah dan begitu banyak anggota Gengters yang telah tewas ditangan mereka, anggota Gengters perlahan lahan mulai berguguran satu persatu.


Theo yang melihat anggotanya tersebut hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat dan terus melawan mereka semua, ia sangat berharap bahwa Rifki dan anggota Gengcobra segera datang ketempat itu untuk menolong Nadhira.


Sementara itu Rifki tengah berada didalam perjalanan dengan perasaan cemas kepada Nadhira, ia berharap bahwa dirinya belom terlambat untuk datang menolong Nadhira, Bayu yang mengemudikan mobil tersebut pun menambah kecepatannya agar segera sampai.


Setelah menerima telpon dari Nadhira, Rifki segera bergegas menuju kelokasi yang diberitahukan oleh Nadhira, dengan kecepatan penuh mereka bergegas ketempat itu untuk menemukan Nadhira.


Sebelum sampai dilokasi Nadhira ia melihat adanya beberapa mobil yang parkir dengan acak acakan dan dua mobil yang sedang bertabrakan, melihat itu membuat Rifki dan anggota Gengcobra segera turun dari mobilnya.


Banyak tubuh orang yang berserakan ditempat itu, Rifki lalu menyuruh mereka untuk memeriksa tubuh tubuh yang terbaring disana itu, nampaknya hanya sedikit yang masih bernafas ditempat itu karena yang lainnya sudah banyak yang meninggal dunia.


Rifki pun mendengar suara perkelahian dari kejauhan, Rifki memerintahkan anggota Gengcobra untuk mendatangi suara itu bersama dengannya, ia yakin bahwa yang berkelahi itu adalah anggota Gengters yang dipimpin oleh Theo.


Theo kini melawan lima orang sekaligus, ia yakin bahwa dia tidak akan bisa bertahan begitu lama, tiba tiba Rifki muncul didekatnya dan bagaikan angin sejuk membuat hati Theo merasa bahagia atas kedatangan Rifki ketempat itu.


"Akhirnya kau datang juga, Rif" Ucap Theo yang kini sudah penuh dengan luka sayatan dan darahnya pun mulai bercucuran.


"Terima kasih telah menghalangi mereka sebelum aku datang" Ucap Rifki.


"Bukan masalah, aku menyayangi Dhira dan ingin dia bahagia bersamamu, jika kalian berpisah jauh maka Dhira akan sedih dan aku tidak ingin itu terjadi"


"Itu artinya kau sudah menyetujui hubungan Dhira denganku?"


"Dhira adalah sahabatku, itu artinya kau juga adalah sahabatku dan aku tidak mau sahabat sahabatku sedih, maafkan tindakanku selama ini kepadamu dan Dhira, aku telah salah"


"Aku sudah lama memaafkanmu Theo"


"Dan saatnya kita berjuang bersama sama untuk melindungi Dhira"


"Kau benar, kita harus bersatu"


"Sebaiknya kita habisi mereka secepat mungkin"


"Baiklah"


Kedua lelaki yang pernah bermusuhan itu pun kini bersatu untuk dapat menghabisi musuh yang mereka hadapi saat ini, Rifki dan Theo saling membantu satu sama lain untuk dapat menyerang musuh mereka akan tetapi karena Rifki yang masih terluka saat ini sehingga dirinya belum bisa bergerak dengan bebas.


"Rif aku bantu" Ucap Bayu.


"Iya Bay"


Ia tahu betul kalo Rifki tidak boleh terlalu banyak gerak karena sebelumnya Rifki telah kehilangan banyak darah dan juga punggungnya juga yang telah dijahit beberapa waktu yang lalu, hal itu membuat Bayu tidak mau jauh jauh dari Rifki.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama, didalam pertarungan itu Bayu terus menjaga Rifki dari belakang, karena Bayu tau kelemahan Rifki saat ini adalah luka yang ada dipunggungnya itu sehingga hal itu membuat Bayu terus berada dibelakang Rifki untuk menjaga lelaki itu.


"Rif, sebaiknya kau segera menemui Dhira, biar disini aku dan yang lainnya akan urusi" Ucap Theo memberi saran kepada Rifki.


"Apa kau yakin?"


"Kau meremehkanku? Pemimpin mereka tidak ada disini, kau harus menyelamatkan Dhira sebelum orang itu yang menemukannya terlebih dulu"


Bukan hanya bertarung akan tetapi Theo juga memperhatikan sekitarnya untuk mengetahui keberadaan dari pemimpin orang orang yang menculik Nadhira itu, akan tetapi dirinya sudah tidak menemukannya lagi.


"Baiklah, kearah mana dia?" Tanya Rifki.


"Selatan" Ucap Theo sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Sebenarnya bukan arah itu yang dimaksud oleh Theo, akan tetapi untuk mengecoh musuh yang dihadapinya saat ini Theo mengatakan arah selatan, Rifki yang mengerti maksudnya tersebut segera mengundurkan diri dari pertarungan menuju kearah utara dari tempat dirinya bertarung.


__ADS_2