
Nadhira tengah terduduk dengan lemas disebuah batang pohon yang telah roboh, ia menggenggam ponsel yang ada ditangannya itu dengan erat untuk menunggu kedatangan Rifki ditempat itu akan tetapi setelah sekian lama menunggu ditempat itu Rifki belum juga datang.
"Kenapa Rifki lama sekali, semoga dia baik baik saja, aku takut dia kenapa napa, Ya Allah lindungilah suami hamba, hamba mohon, jaga dia dimanapun dia berada karena hanya dia yang aku punya"
Nadhira pun meneteskan air matanya, ia lalu mengusap pelan perutnya yang terasa sedikit sakit itu, tangannya yang memerah itu pun sama sekali tidak dipedulikan olehnya, ia menatap keawan awan untuk menenangkan pikirannya.
Tiba tiba ada yang memegangi tangannya dengan erat dan menariknya untuk berdiri dengan kasar, tangan yang memerah itu pun terasa nyeri, Nadhira pun menoleh dan mendapati sosok seorang pemuda yang telah menculiknya sebelumnya.
"Lepasin! Lepasin aku! Akh... Lepasin" Teriak Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan tangannya.
"DIAM KAU! Berani beraninya kau mau lari dariku!" Bentak lelaki itu kepada Nadhira.
"Aku ngak peduli! Lepaskan aku! Lepasin! Tanganku sakit, lepasin...! Kau jahat aku ngak suka!"
"Diam, kau adalah milikku! Aku tidak akan pernah melepaskanmu"
"Kau tidak berhak atas diriku! Aku tidak akan pernah menjadi milikmu! Tidak akan pernah!"
Plakkk
Dengan ringannya tangan orang itu pun menampar pipi Nadhira lagi, hal itu membuat luka sobek diujung pipi Nadhira pun bertambah lebar daripada sebelumnya, rasa panas, kebas, nyeri, dan perih pun kini dirasakan oleh Nadhira.
Lelaki itu pun menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu meskipun Nadhira terus memberontak untuk meminta dilepaskan, dengan kasarnya orang itu membawa Nadhira untuk masuk kedalam hutan yang lebih dalam.
Karena Nadhira sedang hamil berusia 6 bulan hal itu membuat dirinya kesusahan untuk beladiri, dan dirinya tidak mau kalau akan terjadi sesuatu dengan bayi yang ada didalam kandungnya itu, Nadhira mencoba untuk melepaskan tangannya dari tangan orang tersebut sebisa yang ia mampu.
Darah yang mengalir diujung bibirnya itu pun menetes ke bajunya, akan tetapi luka itu tidak seberapa daripada rasa sakit yang ada diperutnya yang kini ia rasakan itu, meskipun dirinya kesakitan akan tetapi orang itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya.
"Lepaskan aku! Perutku sakit! Bisa ngak sih jangan kasar kasar" Teriak Nadhira.
"Berani memberontakku lagi, akan ku bunuh kau disini sekarang juga"
"Bunuh saja, aku tidak takut denganmu! Kematian jauh lebih baik bagiku sekarang, daripada harus bersama dengan orang sepertimu"
"Jangan menguji kesabaranku disini"
"Kesabaran? Kau tidak memiliki itu, jadi jangan bicarakan kesabaran dihadapanku"
"Mau ku tampar lagi?" Ucapnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
Lelaki itu pun mengepalkan tangannya dengan erat, wanita yang dihadapannya itu seakan akan tidak memiliki rasa takut pada dirinya, meskipun beberapa kali dirinya menyakiti Nadhira akan tetapi Nadhira sama sekali tidak takut kepadanya itu.
"Bunuh aja sekalian, aku tidak takut!"
"Kau menantangku ha? Membunuhmu begitu mudah bagiku sekarang"
"Jika memang mudah maka bunuh saja"
"Kau!"
"Apa! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Ngak sama sekali! Lepaskan aku! Perutku sakit"
Tanpa berkata kata lagi, orang itu kembali menarik tangan Nadhira dengan kasarnya, Nadhira yang ditarik dengan tiba tiba itu pun membuat langkahnya sedikit sempoyongan akan tetapi dirinya masih sanggup untuk berdiri dengan tegaknya.
"BERHENTI!" Teriak seseorang dari belakang mereka.
Mendengar teriakan itu membuat lelaki tersebut segera mengarahkan lengannya kearah leher Nadhira dengan erat sementara tangan satunya memegangi tangan Nadhira untuk menguncinya, Nadhira pun terbatuk batuk karena eratnya cekikikan tangan orang itu dilehernya.
Tangan kiri Nadhira mencoba untuk melepaskan cekikikan tersebut, keduanya langsung menoleh kearah dimana seseorang yang berteriak sebelumnya itu berada, terlihat Rifki dengan mengepalkan kedua tangannya erat hingga membuat otot ototnya terlihat timbul dikulitnya.
Melihat ujung bibir Nadhira berdarah semakin membuat Rifki murka, melihat kedatangan Nadhira seketika tercipta sebuah senyuman diwajah Nadhira, senyuman yang mengerikan karena darah dan air matanya keluar secara bersamaan.
"Sekali kau melangkah maju akan ku habisi wanita ini sekarang juga"
"Rifki hiks.. hiks.. hiks.. tolong aku, dia jahat, tolong aku" Tangis Nadhira kembali pecah ketika melihat sosok Rifki berada dihadapannya saat ini.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Lepaskan dia"
"Melepaskan dia? Tidak akan pernah, tujuanku belum terlaksana"
__ADS_1
"Bayi itu tidak bersalah, akulah pemilik keris pusaka xingsi bukan bayi itu, keris pusaka xingsi ada didalam tubuhku, jika kau menginginkannya maka tangkap aku bukan dia, dia tidak akan memiliki keris pusaka xingsi itu karena usianya masih bayi, lepaskan istriku maka aku akan serahkan diriku"
"Tidak Rif, jangan lakukan itu aku mohon, jangan"
"Dhira, maafkan aku, aku belom bisa menjadi suami yang baik untukmu, karena aku kau dalam bahaya, maafkan aku karena melibatkan dirimu dan juga anak kita didalam masalah ini, maafkan aku sayang" Dengan nada sedih Rifki mengucapkan itu.
"Jangan Rif, aku mohon kepadamu, jangan lakukan itu, aku tidak mau kehilanganmu"
"Inilah yang mereka inginkan Dhira, tolong! Lepaskan istriku dia tidak bersalah, yang kau inginkan adalah keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhku kan? Dan ini semua tidak ada hubungannya dengan dia"
"Apakah ucapanmu dapat aku percaya? Bagaimana kalau kau berbohong?" Ucap lelaki itu.
"Aku tidak akan pernah berbohong soal itu, aku bisa menunjukkan kepadamu energi keris pusaka xingsi itu saat ini juga, jika kau menginginkannya maka kau bisa mengambilnya dariku, tapi aku mohon lepaskan istriku, dia tidak terlibat dalam soal ini Varel"
"Bagaimana kau tau namaku?"
"Tidak penting aku tau dari mana soal itu, lepaskan dia dan tangkaplah aku, aku rela mengorbankan nyawaku sendiri asalkan istriku baik baik saja, kau menginginkan keris itu kan? Dan keris itu melekat pada nyawaku, ambillah nyawaku maka kau akan mendapatkan keris itu"
"Tidak! Aku ngak mau kehilanganmu Rif, kau pernah berjanji kepadaku bahwa akulah yang akan mati lebih dulu daripada dirimu, jangan lakukan itu aku mohon, jangan tinggalin aku" Teriak Nadhira histeris.
"Lepaskan dia, akan ku ganti dengan nyawaku, aku tidak akan menyerangmu selama kau tidak menyakiti Nadhiraku" Ucap Rifki pasrah sambil menjatuhkan tubuhnya ditempat itu untuk berlutut.
"Baiklah, jika kau berani melakukan itu, aku tidak akan segan segan untuk menghabisi kalian berdua saat ini juga" Lelaki itu tertawa begitu senangnya melihat Rifki yang tunduk kepadanya.
"Aku tidak akan melakukan itu, aku rela jika nyawaku yang diambil, asalkan bukan Nadhiraku" Pasrah Rifki.
"Jika kau mati, bawalah aku bersamamu Rif, aku tidak mau hidup sendiri tanpa dirimu, kau pernah berjanji akan selalu bersama sama, jangan lakukan itu Rif aku mohon kepadamu"
"Dhira, kau dan anak kita harus baik baik saja ya, aku sangat menyayangimu Dhira"
"Rifki hiks.. hiks.. hiks.."
"Jangan menangis Dhira, hatiku sakit melihatmu menangis seperti itu"
"Kau harus baik baik saja, jangan pernah tinggalkan aku sendirian, aku tidak mau itu terjadi, aku hanya punya dirimu saja Rif"
Lelaki yang bernama Varel tersebut langsung menggerakkan tangannya dan mengarahkan telapak tangannya kepada Rifki, dengan ilmu gaib yang ia pelajari selama ini dirinya mengetahui bahwa memang benar keris pusaka xingsi itu masih berada didalam tubuh Rifki.
Rifki yang merasakan energi tersebut langsung memejamkan kedua matanya merasakan pergerakan dari energi yang dialirkan oleh Varel, Rifki seakan akan dipaksa untuk mengeluarkan energi dari keris pusaka xingsi tersebut.
"Apapun akan ku lakukan demi dirimu Dhira, kau harus baik baik saja" Ucap Rifki pelan dan bahkan hanya terlihat bibirnya bergetar pelan.
"Kau memang tidak berbohong, keris pusaka xingsi itu memang ada didalam tubuhmu" Ucap Varel.
"Sudah ku katakan kan? Aku adalah pemilik keris pusaka xingsi itu, maka lepaskan istriku, dia tidak ada hubungannya dengan ini semua, seharusnya aku yang kau tangkap bukan dia, karena percuma saja kau menangkapnya karena dia tidak memiliki keris pusaka xingsi itu"
"Tidak akan! Karena ketika kau mati nanti, dia akan menjadi milikku, karena kau sudah tiada ditanganku maka aku akan memiliki wanita ini"
"Maka aku tidak akan pernah menyerahkan keris pusaka xingsi ini kepadamu, bahkan disaat aku mati sekalipun itu, keris ini akan ikut lenyap bersamaku"
"Sebelum kau benar benar mati, aku sendiri yang akan merebutnya darimu"
"Coba saja kalo bisa" Tantang Rifki.
Varel pun mengeluarkan energi yang ia miliki untuk menarik keris pusaka xingsi dari dalam tubuh Rifki, Rifki lalu bangkit untuk berdiri dengan tegaknya, Rifki merasa bahwa tubuhnya seakan akan dihisap dengan kuat oleh orang itu.
Rifki memegangi dadanya yang terasa sedikit nyeri karena hal itu, melihat itu membuat Nadhira terlihat lemas, akan tetapi Varel sudah berkeringat dingin karena terlalu berat untuknya agar dapat menarik kekuatan keris pusaka xingsi dan hal itulah yang membuat dirinya langsung melepaskan pegangannya dari tangan Nadhira.
Ketika pegangan tangan Varel terlepas dari tangan Nadhira membuat Bayu segera menarik tangan Nadhira untuk menjauh dari tempat itu, tak beberapa lama kemudian Rifki memuntahkan seteguk darah karena rohnya yang dilukai oleh Varel.
"Rifki.... Tidak! Jangan sakiti Rifkiku arghh... Lepaskan aku lepaskan! Jangan sakiti Rifki, aku mohon" Teriak Nadhira sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bayu.
"Tidak Dhira, jangan memohon kepada orang lain" Ucap Rifki yang berusaha untuk bersuara, "Kau tidak pantas melakukan itu hanya demi diriku, kau seorang bidadari milikku tidak pantas untuk memohon kepada seorang bajing*n seperti dia"
"Rifki... Jangan tinggalkan aku hiks.. hiks.."
"Akh... Dadaku sakit" Ucap Rifki pelan dan hampir tidak terdengar oleh siapapun.
Rifki memegangi dadanya yang terasa nyeri tersebut dan hampir terjatuh ketanah untung saja salah satu tangannya langsung menahan tubuhnya agar tidak jatuh keatas tanah tersebut, melihat itu membuat Nadhira semakin berteriak histeris.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa melakukan itu, aku pemilik keris pusaka xingsi tidak mengizinkan keris ini lepas dari diriku" Ucap Rifki sambil menatap tajam kearah orang itu meskipun sambil memegangi dadanya.
"Sampai kapan kau akan bertahan? Sebaiknya kau lepaskan keris pusaka xingsi itu" Ucap Varel.
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku"
"Kau terlalu keras kepala!"
Rifki merasa tubuhnya sangat lemah saat ini, ia pun mencoba untuk menghapus bekas darah yang ada diujung bibirnya itu, melihat Rifki seperti itu membuat Nadhira terus berteriak tak henti hentinya.
"Khodam macan putih, Tuan mu memanggilmu saat ini, segeralah datang kemari dan bantulah aku, untuk menghadapi seseorang yang ada dihadapanku sekarang, cepatlah datang" Ucap Rifki sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Rifki memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada energi miliknya, tiba tiba tubuh Rifki bercahaya putih terang dan hanya bisa dilihat oleh Varel saja, dan kedatangan khodam tersebut membuat energi dari Varel langsung terputus begitu saja, setelah energi itu terputus Rifki membuka kedua matanya.
"Kau tidak akan bisa melakukan itu" Ucap Rifki sambil berdiri dengan tegaknya.
"Siapa kau! Kenapa kau memiliki energi sebesar ini" Tanya Varel terkejut.
"Aku adalah arwah Pangeran Kian Jayaningrat, siapapun yang berani menyakiti keturunanku harus mati ditanganku"
Ternyata kesadaran Rifki telah berganti dengan sosok Pangeran Kian yang merasuki tubuhnya itu, energi itu langsung membuat Rifki nampak begitu berwibawa dan lebih berkarisma daripada sebelumnya, Nadhira yang memandang Rifki dari kejauhan itu pun langsung merasa tenang ketika menatap wajah Rifki.
"Tidak mungkin! Aku adalah keturunan Pangeran Kian, bukan dirimu"
"Itu adalah kebenarannya, Rifki adalah keturunanku satu satunya, dan aku tidak akan membiarkanmu menghabisinya begitu saja"
"Aku tidak percaya itu, karena aku adalah keturunan dari Pangeran Kian sendiri, dan aku yang berhak atas keris pusaka xingsi itu bukan dirimu" Bantah Varel.
"Kau bukanlah keturunanku, darahku tidak pernah mengalir dalam tubuhmu, dan kau tidak memiliki hubungan apapun denganku, hanya keturunanku yang bisa memiliki keris pusaka xingsi"
"Aku tidak percaya itu, kau bohong, kau bukan Pangeran Kian yang sebenarnya!"
"Kau keturunan dari Birawa, pengawal setiaku, kali ini kau begitu keterlaluan, melibatkan seorang anak yang bahkan belum pernah melihat indahnya dunia"
Varel pun mengarahkan tangannya kembali kearah Rifki, akan tetapi hal itu sama sekali tidak berpengaruh kepada Rifki yang kini tengah dirasuki oleh arwah dari Pangeran Kian yang selalu bersemayam didalam tubuh Rifki melalui keberadaan dari keris pusaka xingsi.
Meskipun tubuh Pangeran Kian telah lenyap akan tetapi jiwanya selalu berada didalam keris pusaka xingsi untuk menjaga keris tersebut, hal itulah yang membuat keris pusaka xingsi mampu untuk mengenali Tuannya.
"Apa buktinya jika kau adalah Pangeran Kian?"
"Aku dan Birawa adalah seorang sahabat, aku seorang Pangeran tapi Birawa adalah pengawalku, Birawa memiliki anak bernama Danu, tapi dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan diriku, Danu tidak mengetahui soal itu karena dia berpikir bahwa akulah yang membunuh Birawa,
Danu memiliki seorang anak lelaki yang bernama Galih, waktu itu Galih masih berusia 2 tahun, ia diadopsi oleh anakku yang bernama Panji, karena Galih berusaha untuk membunuh Panji dan istrinya Indah sehingga nyawanya melayang ditangan Panji, dan waktu itu Indah sedang hamil anak pertamanya,
Istri Danu tidak terima atas kematian dari suaminya itu sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri demi menyusul suaminya, sementara Galih yang belum bisa apa apa akhirnya diadopsi oleh Panji dan menjadi anak pertama Panji dan Indah,
Panji hanya memiliki satu anak yang bernama Abiyoga, sementara Galih adalah anak angkatnya, Abiyoga mendapatkan perlakuan khusus dari Panji karena Abiyoga adalah pemilik dari keris pusaka xingsi sehingga Panji melakukan itu kepadanya,
Galih tidak terima ketika dirinya mengetahui bahwa Abiyoga adalah penerus dari Panji, dia berpikir bahwa apapun yang didapatkan oleh Abiyoga itu tidak adil baginya termasuk juga keris pusaka xingsi, yang dia ketahui adalah dia anak pertama dari Panji dan Indah, karena Panji tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah anak angkat,
Galih memutuskan untuk pergi dari rumah, dan akan datang untuk membalas dendam suatu saat nanti kepada Abiyoga, dan dendam itu berlangsung sampai detik ini,
Dan kau adalah keturunan Galih, cucu dari Galih dan anak dari Aji, kau bukanlah keturunan dariku, sehingga kau tidak memiliki darah keturunanku, jika kau memilikinya maka energi keris pusaka xingsi tidak akan menyerangmu
Kau telah dibutakan oleh ambisi yang sama sekali tidak berhak kau dapatkan, sadarlah kalian bukanlah keturunanku, dan hanya pemuda ini yang menjadi keturunanku yang tersisa karena semuanya telah kalian bunuh, aku tidak akan membiarkan kalian membunuhnya juga"
"Tidak! Kau pembohong! Ayahku bilang, Kakek Galih adalah anak pertama Panji, seharusnya dia yang mendapatkan keris pusaka xingsi itu bukan Chandra, Chandra telah merebut semuanya dari Kakekku, Ayah bilang aku harus merebut semuanya kembali"
"Kau salah, dengan menghabisi Chandra dan anak anak Panji yang lainnya, bukan berarti Ayahmu bisa memiliki keris pusaka xingsi itu, anak anak Galih telah dibutakan oleh ambisi, dan itu adalah sebuah ketidak mungkinan untuk kalian dapatkan"
"Apapun akan aku lakukan, asalkan aku mendapatkan kekuatan keris pusaka xingsi"
"Jika itu kemauanmu, maka hadapi aku sekarang"
...****************...
Author lagi mumet, kayak gangsing,, ngenes poll hiks.. hiks.. Author mau sembunyi dipojokan saja dah
see you,, next...
__ADS_1