Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kembali bersama


__ADS_3

Nadhira pun mengambil salep tersebut dan membuka tutupnya itu, setelahnya ia menuangkan secara perlahan lahan diluka Rifki dan sesekali meniupnya untuk menghilangkan rasa perih tersebut, Rifki pun memejamkan matanya karena merasa perih ketika salep tersebut bersentuhan dengan lukanya.


"Sakit ya Rif?" Tanya Nadhira khawatir.


"Engak, rasaya kayak digigit semut doang kok, ngak sakit sama sekali" Jawab Rifki.


"Jangan bohong kenapa sih, kalo sakit bilang sakit bukan beralasan"


"Sakitnya hilang kalo kamu yang ngobatin lukaku, beda lagi ceritanya kalo sama Bayu, Bayu kasar sekali kalo ngobatinnya"


Nadhira pun mengipasi luka Rifki itu dengan kedua tangannya, meskipun AC dikamar itu masih menyala akan tetapi Nadhira mengetahui bahwa Rifki tengah kesakitan saat ini, dan Nadhira pun begitu telatennya untuk mengobati Rifki saat ini.


"Apa Bayu sering menyakitimu?"


"Bayu sangat kasar kalo mengobatinya, berbeda denganmu Dhira, kau sangat halus dan lembut, jadi lukanya tidak terlalu sakit seperti disaat Bayu yang mengobati lukaku"


"Kenapa kau harus meminta Bayu untuk mengobatimu, kenapa kau tidak memintaku untuk melakukan itu Rif?"


"Aku benar benar minta maaf, aku tidak memintamu karena aku tidak mau membuatmu semakin khawatir dengan diriku, dan dirimu juga masih marah kepadaku soal keputusan yang telah aku ambil tanpa persetujuan darimu Dhira"


"Lain kali bilang ya, jangan ada yang disembunyikan dariku, aku juga berhak tau apapun mengenai dirimu"


"Iya, lain kali aku akan bilang kepadamu, makasih ya sayang karena udah diobatin"


"Ini pasti gara gara diriku kan? Gara gara aku, lukamu semakin parah begini, andai saja aku ngak keluar waktu itu mungkin kau pasti akan baik baik saja dan lukamu tidak akan bertambah parah seperti ini"


"Sudah ku bilang, apapun akan aku lakukan untuk melindungimu Dhira, kau sangat berarti bagiku Dhira, dan aku tidak ingin kau kenapa kenapa hanya karena kelalaianku lagi, terlahir kalinya aku telah membuat kita kehilangan anak kita"


"Lupakan soal itu, aku tidak mau mengingatnya lagi dan aku tidak mau bertengkar dengan dirimu hanya karena masalah ini lagi"


"Iya sayang" Rifki pun membalikkan badannya untuk menatap kearah Nadhira yang ada dibelakangnya itu.


Pandangan keduanya bertemu, Rifki yang tengah tidak memakai baju itu pun membuat Nadhira membuang pandangannya dari tubuh Rifki, kedua pipi Nadhira langsung bersemu merah dan terasa panas dirasa oleh Nadhira, Nadhira pun memegangi kedua pipinya.


"Kenapa? Kenapa membuang muka seperti itu dari suamimu Dhira?" Tanya Rifki ketika melihat Nadhira membuang muka dari dirinya.


"Kau ngak pake baju" Cicit Nadhira pelan.


"Eihh... Kenapa merah begitu? Bukankah kita sudah lama menikah? Kenapa masih malu malu begitu sih? Bagaimana bisa aku pake baju sementara lukaku aja belom kamu perban?"


"Hadap sana, biar aku perban"


"Kan belom kering sayang, nanti saja kalo sudah kering baru diperban"


"Eh.."


Tanpa kata kata Rifki langsung menarik tubuh Nadhira kedalam pelukannya, ia pun mengeratkan pelukannya tersebut, kulit wajah Nadhira dengan kulit dada bidangnya kini menyatu tanpa adanya jarak sedikitpun itu.


Merasakan pelukan tersebut membuat Nadhira memejamkan kedua matanya seraya menghirup aroma tubuh Rifki dalam dalam, aroma itu seakan akan telah menjadi candu baginya, sangat nyaman yang ia rasakan saat ini.


"Berapa lama kamu ngak mandi?" Tanya Nadhira sambil memejamkan kedua matanya.


"Mungkin ada sekitar 1 bulanan yang lalu deh, dari waktu kamu operasi sampai sekarang belom mandi sama sekali, emang kenapa?"


"Bau" Nadhira mendongak wajahnya untuk menatap wajah Rifki yang berada didalam pelukannya itu.


"Bau apa?"


"Wangi, aku suka"


Nadhira pun menyembunyikan wajahnya didalam dada bidang suaminya itu, ia pun menggesek gesekkan hidungnya disana hingga membuat Rifki merasa geli, meskipun Rifki tidak mandi akan tetapi dirinya tetap menjaga tubuhnya agar tidak bau asam dan tetap wangi.


Rifki pun terkekeh dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira saat ini, hal itu membuat Nadhira tidak mau berhenti untuk melakukan apa yang tengah ia lakukan saat ini, hingga Rifki semakin mengeratkan pelukannya itu dan membuat Nadhira berhenti untuk melakukannya.


"Geli sayang"


"Rif, Mama pernah bilang kepadaku, kalo kamu pernah kena luka tembak waktu diluar negeri"


"Mama bilang gitu? Kapan? Kok aku ngak tau Mama bilang seperti itu kepadamu?"


"Waktu Mama menjagaku dirumah sakit waktu itu, kau pun pergi entah kemana"


"Aku ngak pergi kemana mana, aku ada didepan ruang rawatmu, dan itu dulu, sekarang udah ngak, bagaimana mungkin Rifki terluka kalo ada Dhira yang selalu ada disisinya"


"Itu beneran? Kenapa aku tidak tau soal itu?"


Nadhira langsung bangkit dari pelukan Rifki dan menatap kearah Rifki dengan lekat lekat, Rifki pun menundukkan kepalanya menoleh kearah dada kirinya yang tadinya digunakan oleh Nadhira bersandar, Nadhira pun mengikuti arah pandangannya itu.


Bekas luka itu sudah terlihat samar dan sedikit sudah tidak terlihat lagi, Nadhira pun menggerakkan tangannya untuk menyentuh dada kirinya itu, jika dilihat dari jauh bekas luka itu tidak mampu terlihat akan tetapi jika dipandang dengan dekat baru akan terlihat begitu samar samar.

__ADS_1


Nadhira menyentuh bekas tersebut dengan ibu jarinya, sementara Rifki pandangannya tertuju kepada jari Nadhira yang menyentuh bekas lukanya tersebut, tersirat sebuah perasaan sedih dihati Nadhira ketika melihat bekas luka tersebut.


"Udah ngak sakit, jangan sedih lagi" Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira.


"Tapi ini tembus ke paru parumu Rif, pasti dulu sangat sakit sekali kan?"


"Ngak sakit kok sayang, kan dibawah pengaruh obat bius waktu itu, lagi pula aku baik baik saja sekarang, aku ngak kenapa kenapa kok, buktinya kita masih bisa bersama sampai saat ini kan?"


"Rifki aku takut terjadi sesuatu denganmu, aku tidak bisa melihatmu terluka"


"Begitupun dengan diriku Dhira, aku ngak bisa melihat dirimu terluka, mangkanya itu kamu harus jaga dirimu baik baik ya"


"Jadi mimpiku itu beneran terjadi kepadamu?"


"Entahlah, aku tidak tau pasti tentang mimpimu itu sayang, mungkin kamu bisa melihat kejadian itu lewat mimpimu karena sangking rindunya dengan diriku hehe... Sekarang kita sudah bersatu, jadi mungkin itu hanya firasatmu saja"


"Aku takut Rif, aku takut kamu kenapa kenapa"


"Jangan takut Dhira, aku ngak kenapa kenapa kok, kamu sudah lihat sendiri kan? Aku baik baik saja Dhira, lagian luka itu juga sudah kering"


"Kenapa selama ini aku tidak melihatnya?"


"Mungkin Allah yang menutupi, karena jika kamu tau pas waktu itu, kamu pasti akan sedih, dan Allah tidak mau kamu bersedih lagi"


"Jadi waktu itu, kau sedang terluka dan melawanku waktu pertama kali kita bertemu kembali? Dan dengan bodohnya aku tidak mengetahui akan hal itu sehingga aku menyerangmu"


Rifki pun menganggukkan kepalanya, "Iya Dhira, mangkanya waktu itu, anggota Gengcobra mengawasiku karena takut aku terluka lagi, mereka mau menghentikanmu untuk menyerangku tapi aku segera menghentikan mereka agar tidak menghentikan dirimu, agar kamu bisa meluapkan semua kemarahanmu kepadaku, aku salah karena telah meninggalkan dirimu dalam waktu yang lama"


"Aku benar benar tidak bisa mengerti tentang dirimu, aku merasa seperti hanya menuntutmu untuk mengerti tentangku tapi aku tidak berusaha untuk mengerti tentang dirimu, aku seegois itu kah?"


"Engak, aku ngak merasa seperti itu kok, aku hanya ingin kamu bahagia sayang, bukan untuk melihat lukaku ini, biar aku sendiri yang mengetahuinya, kamu hanya perlu mengetahui bahagianya saja"


"Ngak, ini sama sekali ngak adil, mulai sekarang jangan ada yang disembunyikan lagi dariku"


"Iya, apapun kemauanmu, aku pasti akan berusaha untuk mewujudkannya"


Tak beberapa lama kemudian, Rifki merasa bahwa lukanya sudah mengering, Nadhira sendiri pun langsung membantu Rifki untuk memakaikan perban dilukanya itu, setelahnya Rifki segera memakai kembali bajunya kembali dengan perlahan lahan dan dibantu oleh Nadhira.


"Ayo pulang kerumah kita, sudah lama kita tidak pulang kerumah kita" Ajak Rifki seraya bangkit berdiri.


"Pulang sekarang?"


Nadhira pun mengangguk, dan seraya mengatakan, "Aku mau"


"Baiklah ayo pulang"


Rifki pun membantu Nadhira untuk bangkit dari tempat tidurnya itu, setelahnya Nadhira langsung merangkul lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya dipundak Rifki, keduanya langsung berjalan keluar dari dalam kamar tersebut dengan sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan.


Melihat Rifki dan Nadhira sudah baikan membuat semuanya merasa senang, Rifki lalu mengajak Nadhira untuk mendekat kearah kedua orang tuanya yang tengah duduk diruang keluarga.


"Ma, Pa, Rifki dan Dhira pulang dulu ya" Ucap Rifki.


"Kalian sudah baikan?" Tanya Putri dengan girang.


"Iya Ma, doain semoga hubungan kita langgeng sampe tua nanti"


"Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, Mama senang mendengarnya kalo kalian sudah baikan lagi, yah Mama akan kesepian kalo ngak ada Dhira disini"


"Dhira dan Rifki akan sering sering main kemari untuk menjenguk Mama kok" Ucap Nadhira.


"Lagian masih ada Ayu, yaahhh ternyata Ayu dilupakan begitu saja" Gerutu Ayu yang tengah asik memakan cemilan.


Mereka pun menertawakan ucapan Ayu bersama sama, merasa dirinya ditertawakan membuat Ayu langsung bangkit dan mendekat kearah Putri, ia pun memegangi tangan Putri dengan erat dan tak lupa bibirnya yang mengerucut panjang itu.


Ayu yang merasakan tengah ditertawakan itu pun langsung cemberut begitu saja kepada mereka, mungkinkah benar dirinya sudah dilupakan begitu saja? Dirinya pun tidak terima jika dilupakan begitu saja oleh kedua orang tuanya maupun Kakak laki lakinya itu.


"Kalian menertawakan Ayu?" Tanya Ayu dengan sebal kepada mereka.


"Engak kok Ay, kami semua menertawaka Mama yang melupakan dirimu" Jawab Rifki.


"Kakak cantik mereka nakal, omelin tuh suami Kakak, dia jahat banget sama Ayu, masak dia mengatakan bahwa Ayu dilupakan sih, jahat kan Kak?" Ayu pun mengadu kepada Nadhira.


"Nanti Kakak akan hukum dia dirumah, kamu tenang saja ya Ay, biar dia tau rasa" Ucap Nadhira kepada Ayu sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Beres Kak, Kakak cantik memang yang terbaik deh" Tanpa sengaja Ayu melihat bekas merah dileher Nadhira karena ulah Rifki, "Eh tapi kok, Kakak cantik lehernya kenapa? Kok merah gitu? Gatal ya kak?"


Nadhira yang menyadari pertanyaan Ayu pun langsung segera menutup lehernya dengan satu tangannya, pertanyaan tersebut langsung membuat Putri dan Haris senyum senyum sendiri dengan apa yang keduanya lakukan itu sebelumnya.


"Ngak tau kenapa Ay, rasanya agak gatal emang" Jawab Nadhira beralasan.

__ADS_1


"Anak kecil jangan ikut campur" Ucap Rifki.


"Apa salahnya Ayu bertanya Kak? Kak Dhira sampai terluka begitu, ya jelas Ayu tanya lah, karena Ayu sayang Kak Dhira jadi Ayu khawatir kepadanya"


"Ngak boleh, Dhira itu milikku"


"Posesif kali jadi suami" Sela Haris.


"Papa pun gitu, Rifki peluk Mama aja ngak boleh, padahal Rifki itu anak sendiri bukan orang lain"


Haris seakan akan mati kata kata mendengar ucapan dari Rifki itu hingga tidak bisa menyahutinya, karena sikap positif itu adalah turunan dari dirinya sendiri, kini giliran Putri yang merasa malu mendengar ucapan keduanya itu, pantas saja sikap mereka tidak berbeda jauh, mereka kan Bapak sama anak.


Ayu yang tidak mengerti maksud mereka pun hanya bisa berdiam diri dan menoleh kearah mereka satu persatu demi mencari jawaban yang ingin dirinya ketahui itu akan tetapi tidak ada yang mau menjelaskan kepada dirinya itu.


"Rupanya benar benar anak Papa ternyata" Guman Haris sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kalo bukan anak Papa, lalu Rifki anak siapa?" Tanya Rifki sambil memincingkan sebelah matanya.


"Anak pungut kali Rif" Ucap Putri.


"Ya Allah Ma, jahat bener sama anak sendiri, tapi bener juga sih, udah mirip kayak anak pungut, bahkan lebih mirip ke anak yang dibuang daripada anak pungut kalo menurutku"


Mereka pun tertawa mendengar ucapan Rifki, sementara Nadhira semakin mengeratkan pelukannya dilengan Rifki dan menyandarkan kepalanya dipundak Rifki, Rifki adalah tempat ternyaman baginya untuk bersandar ketika kelelahan.


"Terima nasib aja Kak, kan Ayu yang anak paling disayangi oleh Mama sama Papa disini bukan Kakak" Ucap Ayu dengan sombongnya.


"Kalo menghayal jangan terlalu tinggi, ketabrak pesawat terbang baru tau rasa loh"


"Iri bilang Bos!"


"Bos ngak bakal iri sama karyawan! Siapa yang iri sama bocil sepertimu Ay? Kakak mau minta Adek lagi lah dari Mama, biar dirimu itu ada saingannya nanti"


"Kalo itu sih Ayu setuju, Ayu kan juga pengen punya Adik dari dulu, biar Ayu ngak kesepian seperti ini"


"Nah kan, kedua anak kita sudah setuju Dek, ayo buat satu lagi" Ucap Haris kepada Putri.


"Nanggung Pa kalo cuma satu, sekalian yang banyak" Rifki menahan tawanya karena ucapan dari Papa tersayang itu.


"Ngak! Kalian berdua aja yang buat, Mama ngak mau, cukup dua anak saja" Sela Putri.


"Mama aja yang buat dulu, nanti Dhira sama Rifki nyusul, ya kan sayang?" Ucap Nadhira yang masih setia menyandarkan kepalanya.


"Itu pasti sayang" Rifki pun mengusap kepala Nadhira pelan dengan tangan lainnya.


"Ngak, kalian aja, Mama sudah tua, ngak cocok kalo mau hamil lagi"


"Kata siapa ngak cocok? Umur kamu aja masih 19 tahunan, masih bisa nambah lagi" Ucap Haris.


"19 tahunan dari mana? Kita nikah aja umur 25 tahunan," Gerutu Putri.


"Tapi kamu masih terlihat 19 tahunan, Ma." Haris memegangi pundak Putri.


"Ngaco banget! Ingat umur,"


"Gimana kalo Ayu saja yang hamil?" Saran Ayu dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua.


"AYU!" Teriak mereka bersamaan.


"Hehehe... Bercanda, Ayu juga kan belom menikah" Ayu menyengir melihat tatapan tajam dari semuanya.


"Kamu masih sekolah, jangan aneh aneh, atau mau Kakak buang ke Surya Jayantara sekalian" Ucap Rifki dengan tegasnya.


"Ih Kakak kok jahat amat sih, mentang mentang dulu ditinggal disana sekarang mau buang Ayu kesana lagi, ngak kasihan apa sama Ayu" Ucap Ayu lirih, membayangkannya saja membuatnya merinding.


"Mangkanya sekolah yang bener, raih cita citamu setinggi langit, berani aneh aneh Kakak buang beneran"


"Ngak ngak Kak, Ayu janji akan sekolah yang bener"


"Nah gitu dong, janji harus ditepati, awas aja sampe ngelakuin hal hal yang membuat Kakak marah, ngak bakal Kakak ampuni"


"Kakak cantik, tolong Ayu, Kak Rifki kalo ngomel menakutkan" Ayu pun merengek kepada Nadhira.


"Dengerin saja ucapannya, daripada nanti dibuang beneran, Kakak ngak bisa apa apa" Ucap Nadhira.


"Iya Kak"


"Ya sudah, kami pamit dulu ya Pa"


Rifki dan Nadhira lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya itu, setelah itu mereka berdua segera bergegas keluar dari rumah tersebut untuk menuju ke mobilnya yang akan membawanya pulang kerumah mereka itu, sudah sangat lama mereka tidak pulang kerumah itu.

__ADS_1


__ADS_2