
Nadhira sedang duduk berdiam diri sendirian di gazebo yang ada dihalaman samping rumahnya, ia memandangi kearah kolam ikan dengan perasaan yang begitu rumit untuk dibelaskan, dapat ia lihat bahwa ikan ikan tersebut sedang berenang renang dengan begitu bahagianya bersama dengan teman temannya yang ada dikolam itu.
"Rifki, hari ini adalah hari dimana kau pulang ke tanah air ini, dan maafkan aku karena aku tidak hadir untuk menyambut kedatanganmu, kau tau Rif? Aku sangat merindukan dirimu, tapi aku tidak mampu untuk bertemu dengan dirimu, kau pasti sangat kecewa dengan apa yang aku lakukan selama ini".
Dari kejauhan tempat Nadhira duduk dapat terlihat bahwa Pak Mun dan Pak Santo terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nadhira yang sejak tadi seperti terlihat begitu sedih, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Nona Muda nya itu.
"Kenapa Non Dhira terlihat begitu galau seperti itu sekarang? Apa mungkin dia sedang putus cinta?" Tanya Pak Santo kepada Pak Mun.
"Ya ngak tau lah, apa saat liburan kemaren ada yang membuat Non Dhira kecewa? Atau pemuda yang bernama Theo itu telah menyakiti hatinya hingga Non Dhira seperti ini?" Tanya Pak Mun.
"Ngak ada tuh Pak yang membuatnya galau, Theo sendiri juga sepertinya tidak ada masalah dengan Non Dhira sebelumnya, apa gara gara kedatangan orang orang itu kali ya Pak?".
"Apa benar yang kau katakan itu? Apa yang dikatakan oleh orang orang itu sebelumnya sehingga membuat Non Dhira seperti ini, ngak tega juga kalau lihat Non Dhira seperti ini, padahal biasanya tuh hanya dia terlihat paling begitu bersemangat disini, kalau dia sedih seperti ini rasanya tuh kayak sunyi banget nih rumah".
"Anda benar, lalu apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya kembali tersenyum? Sepertinya itu akan terlihat sangat sulit".
"Ngak tau juga, semoga ada seseorang yang datang dan mampu untuk menghibur dirinya".
Nadhira hanya bisa menatap dalam diam kearah kolam ikan itu, ia pun bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah ikan ikan yang berenang tersebut untuk melihatnya lebih dekat lagi, melihat ikan yang berenang tersebut akan membuatnya sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
Tak beberapa lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah Nadhira, Pak Mun dan Pak Santo melihat kedatangan orang orang itu lagi dan keduanya mencoba untuk menghentikan mereka menemui Nadhira.
"Biarkan aku bertemu dengan Dhira sekarang" Ucap seseorang itu dengan tegas dan juga tatapan yang mengintimidasi.
Pak Mun dan Pak Santo tidak bisa berbuat apa apa sehingga dirinya membiarkan pemuda itu untuk menemui Nadhira yang tengah termenung seorang diri didepan kolam ikan yang ada dihalaman rumah besar tersebut.
Tanpa Nadhira sadari bahwa tiba tiba datanglah sosok seorang lelaki yang tengah berdiri dibelakangnya, lelaki itu tersenyum kepada Nadhira meskipun Nadhira tidak menoleh kearahnya saat ini, lelaki tersebut terus memandangi apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira saat ini.
"Kau tau, aku sangat merindukan dirinya, entah bagaimana keadaannya saat ini, Bayu bilang kalau saat ini dia pulang ke Indonesia, itu artinya aku bisa bertemu kembali dengan dirinya bukan? Tapi, aku tidak mampu untuk melakukan itu ikan, apa kau punya solusi untuk diriku? Hem.. sepertinya kau tidam mengetahui bahasa ku rupanya" Ucap Nadhira kepada ikan ikan tersebut.
Dirinya sama sekali tidak menyadari akan kedatangan seseorang dirumahnya, sosok tersebut terus mendengarkan apa yang tengah dikeluhkan oleh Nadhira kepada ikan ikan tersebut dan bahkan ikan itu sama sekali tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Nadhira.
"Apa kau tau bagaimana wajahnya sekarang ikan? Pasti wajahnya akan terlihat semakin tampan, apa mungkin banyak wanita juga yang menginginkannya, ataukah dia sudah memiliki wanita lain sekarang, kau bahkan sama sekali tidak pernah melihat dia ataupun bertemu dengannya, lalu bagaimana kau bisa tau wajahnya, aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi aku takut untuk menemuinya ikan".
Nadhira menertawai ucapannya sendiri, meskipun ikan tersebut melihat wajah Rifki akan tetapi ikan itu juga tidak bisa berbicara balik kepada Nadhira, Nadhira hanya mengutarakan isi hatinya saja kepada ikan ikan tersebut.
Mendengar perkataan Nadhira membuat pemuda itu tersenyum kearah Nadhira, ia begitu bahagia ketika melihat bahwa Nadhira masih dalam keadaan baik baik saja, sebelumnya ia merasa takut kalau terjadi sesuatu kepada Nadhira akan tetapi setelah melihat kondisi Nadhira dengan mata kepalanya sendiri membuat pemuda itu mampu bernafas lega.
"Dhira" Ucap pemuda itu.
"Eh, kenapa aku tiba tiba mendengar suaranya disini? Mungkinkah ini hanya halusinasiku saja, apa mungkin aku terlalu merindukan dirinya sehingga aku masih bisa mendengar suaranya yang sangat menyebalkan itu, sudahlah Dhira jangan memikirkan dia terus, kau telah membuat dia kecewa, aku sangat yakin bahwa disinya sudah memiliki wanita lain, tidak mungkin kalau orang yang memiliki wajah setampan dirinya tidak diperebutkan oleh banyak gadis".
"Jika kau merindukannya kenapa kau tidak datang untuk menemuinya?"
Nadhira segera menoleh kearah suara itu, ia begitu terkejut ketika melihat sosok Rifki tengah berdiri dibelakangnya saat ini, sementara Rifki tersenyum begitu bahagianya ketika dirinya dapat bertatap langsung dengan Nadhira.
Nadhira sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya dapat bertemu kembali dengan sosok yang sangat ia rindukan itu, ia begitu terkejut dengan kedatangan Rifki ketempat itu, apalagi kedatangannya sama sekali tidak ia rasakan sebelumnya.
"Rifki, kau disini?" Ucap Nadhira.
"Kenapa kau tidak datang untukku Dhira? Apakah kau begitu sangat marah dengan sahabatmu ini? Sehingga kau tidak ingin bertemu denganku"
"Bu... Bukan seperti itu Rif, a.. a.. aku telah sangat mengecewakan dirimu sebelum, a.. aku merasa bahwa aku tidak pantas lagi untuk dirimu" Jawab Nadhira terbata bata.
__ADS_1
"Kenapa Dhira? Apa karena Amanda yang menjebak dirimu sebelumnya? Tapi kenapa kau melampiaskan semuanya kepada diriku? Apa salahku sebenarnya Dhira? Kenapa kau tidak ingin bertemu denganku?".
"Tolong jangan dekati aku lagi Rif, aku bukanlah orang yang pantas untuk dirimu" Ucap Nadhira yang berusaha untuk menghentikan langkah kaki Rifki yang perlahan lahan mulai mendekat kearahnya.
"Aku sudah tau semuanya Dhira, tidak ada yang perlu kau sembunyikan lagi dariku, aku sangat merindukan dirimu Dhira, kenapa kau tidak mau datang untuk menemuiku sebelumnya?" Dan Rifki mulai melangkah kembali kearah Nadhira.
"AKU BILANG JANGAN DEKATI AKU LAGI RIF!" Bentak Nadhira kepada Rifki.
Sringggg...
Nadhira segera mengeluarkan tongkat yang masih berbentuk tabung kecil miliknya itu dari dalam saku yang ada dibajunya, setelah itu ia segera memanjangkan tongkat tersebut dengan cara menekankan dihadapan Rifki dengan begitu cepat, dan ia bentangkan tongkat tersebut dihadapan Rifki saat itu juga, Rifki begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira.
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan mengangkat senjatamu itu kepada diriku Dhira, mengapa kau melakukan ini kepadaku Dhira? Salahku apa?" Tanya Rifki keheranan dengan sikap Nadhira.
"Aku bisa saja melukai dirimu Rifki, jika kau terus berusaha untuk mendekat ke arahku maka jangan salahkan aku jika aku melukaimu nantinya".
Dari kejauhan tempat kedua orang itu berdiri terlihat beberapa anak buah Rifki juga hadir dirumah tersebut, mereka juga sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira, mereka mengira bahwa pertemuan keduanya akan terlihat begitu romantis tapi ternyata Nadhira justru mengangkat senjatanya untuk melawan Rifki.
"Jika itu bisa menghilangkan rasa sakit dihatimu kepadaku maka lakukan saja apa maumu Dhira, itu jauh lebih baik daripada melihat dirimu begitu membenciku seperti ini".
"Aku tidak main main dengan ucapanku Rifki! Jangan mendekat atau aku akan menyakitimu".
"Aku juga tidak main main dengan tekatku Dhira, jika kau ingin menyakitiku, maka sakiti aku".
Nadhira segera menggerakkan tongkat dan melawan Rifki dengan sangat lincahnya, Rifki yang mendapat serangan tiba tiba membuat dirinya harus secepat mungkin untuk dapat menghindar serangan tersebut.
Rifki tidak menyangka bahwa Nadhira akan seserius itu dalam menyerangnya, Nadhira melakukan sapuan bahwa untuk membuat Rifki terjatuh akan tetapi Rifki segera melompat untuk menghindari serangan tersebut, dan Nadhira tidak berhenti disitu begitu saja melainkan melakukan serangan lain kepada Rifki.
Gerakan keduanya terlihat begitu indah dan sangat lincah, Rifki mampu dengan mudah untuk mengimbangi kelincahan Nadhira dan hal itu membuat Pak Santo begitu sangat kagum dengan dirinya karena dirinya sendiri tidak begitu lincah untuk menghindari serangan Nadhira.
Nadhira menyerang kearah Rifki dengan begitu seriusnya dan mengarahkan tongkat tersebut untuk dapat melukai Rifki akan tetapi Rifki menyambutnya dengan senang hati, Nadhira juga mengeluarkan pena yang mampu menjadi senjata tajam dan ia arahkan kepada Rifki.
"Niat membunuhmu begitu kuat kepadaku Dhira, apa kau menginginkan aku terluka dengan seranganmu itu?" Ucap Rifki yang dibuat lebih terkejut lagi dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira.
"Sudah ku bilang, aku tidak main main dengan ucapanku Rifki, sebaiknya kau pergi dari sini! Sebelum aku melukaimu"
"Tapi aku tidak takut untuk mati ditanganmu Dhira, suatu kehormatan jika bisa mati ditangan Tuan Puteri" Jawab Rifki dengan mudah sambil menampakkan sebuah senyuman kepada Nadhira.
"Jangan bertindak bodoh Rifki".
"Kapan aku pernah bertindak begitu pintar didepanmu Dhira? Bukankah aku selalu terlihat bodoh seperti ini sebelumnya?".
Tanpa kata kata Nadhira kembali melanjutkan serangannya kepada Rifki, kali ini ia menggunakan dua senjata yang ada dimasing masing tangannya sekaligus untuk dapat melawan Rifki, Rifki terus menerus berusaha untuk menghindar dari serangan serangan fatal yang dilakukan oleh Nadhira.
Rifki merasa bahwa Nadhira benar benar serius dalam ucapannya dan ingin sekali melukai Rifki saat ini, melihat serangan itu membuat anak buahnya merasa khawatir dengan kondisi Rifki yang belum sepenuhnya sembuh dari serangan yang tiba tiba.
"Kenapa wanita itu malah menyerang Tuan Muda dengan seserius itu? Apakah dia benar benar menginginkan Tuan Muda celaka?" Tanya seseorang kepada Bayu yang ikut hadir.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, aku yakin Nadhira tidak akan melukai Rifki karena dia sangat menyayangi Rifki" Ucap Bayu.
"Aku belum pernah melihat Non Dhira menyerang seseorang seperti itu, apa kau yakin bahwa dia tidak akan melukai Tuan Muda kalian?" Tanya Pak Santo.
"Maka biasakanlah mulai saat ini Pak, aku yakin sekali bahwa nantinya mereka akan sering melakukan ini dan bahkan jauh lebih keras lagi".
__ADS_1
"Apa dulunya mereka juga sering melakukan itu?" Tanya Pak Mun yang penasaran.
"Seperti yang kalian lihat, keduanya sangat menyukai dan bahkan gila pertarungan".
Nadhira tak henti hentinya menghujani Rifki dengan serangan serangan yang mematikan jika dilihat karena beberapa kali ia mengayunkan senjata tajam itu kearah fatal beberapa bagian tubuh Rifki, hal itu membuat Rifki dapat mengetahui bahwa saat ini Nadhira begitu sangat emosinya.
Rifki terus menghindar dan sesekali dirinya menyerang balik kearah Nadhira, tanpa Nadhira sadari bahwa Rifki tengah meraih saku jasnya dan mengeluarkan benda yang sama seperti apa yang dipegang oleh Nadhira yakni tongkat yang dapat memanjang dengan sendirinya.
Sringggg...
Rifki juga ikut memanjangkan tongkat yang ada ditangannya, melihat itu membuat Nadhira sangat terkejut dan ia segera memundurkan beberapa langkah dari Rifki, Rifki hanya bisa memutar mutarkan tongkat ditangannya ketika melihat Nadhira memundurkan diri.
"Kau berniat untuk melawanku sekarang Rif?" Tanya Nadhira sambil lebih mengeratkan lagi pegangannya dari tongkat yang ada ditangannya itu.
"Bukankah ini akan lebih mengasikkan lagi? Jika hanya dirimu yang memegang senjata, itu sama sekali tidak adil bukan?".
Tanpa kata kata Nadhira segera menyerang kembali kearah Rifki dan tongkat keduanya saling berbenturan satu sama lain, hal itu membuat Nadhira semakin menambah kekuatannya untuk dapat menyerang kearah Rifki tanpa harus terkena sebuah tangkisannya itu.
Rifki mampu membaca setiap gerakan yang akan dilakukan oleh Nadhira dan hal itulah yang membuatnya mampu dengan mudah untuk menghindar dan menangkis setiap serangan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya.
"Apa seperti ini caramu menyambut kedatangan seorang tamu Dhira? Kasihan sekali dengan seseorang yang akan menjadi tamu tamumu itu nantinya jika harus berhadapan langsung dengan senjatamu itu" Ucap Rifki.
"Aku tidak pernah menyambut kedatanganmu ditempat ini Rif, jadi jangan berpikir yang macam macam tentang diriku" Jawab Nadhira sambil menatap tajam kearah Rifki yang sangat mengintimidasi.
"Tapi aku merasa aku sekarang sudah menjadi tamu disini, rasanya pemilik rumah sepertinya begitu sangat menginginkan aku terluka ditempat ini" Ucap Rifki seakan akan tidak mempedulikan tatapan tajam yang diberikan oleh Nadhira kepadanya.
"Diamlah Rif, hadapi aku sekarang juga, atau pergilah dari tempat ini secepatnya!"
"Kau memberikan dua pilihan yang sangat sulit bagiku Dhira, apakah tidak ada pilihan ketiga yang bisa aku pilih? Ah tidak, itu sama sekali tidak perlu, begini saja sudah bagus menurutku sih".
"Kau terlalu banyak omong kosong Rif".
"Kau tau Dhira, aku sangat merindukan mengobrol dengan dirimu, ya meskipun dalam pertarungan seperti ini sih, bukanlah masalah".
Meskipun dalam pertarungan itu, keduanya masih mampu untuk mengucapkan sebuah kata, Nadhira seakan akan terus kalah soal pertarungan ataupun perkataan dari Rifki, sepertinya Rifki mampu dengan mudah untuk menyahuti perkataannya itu meskipun harus dengan terus menghindari setiap serangan yang diberikan oleh Nadhira.
Nadhira tidak mempedulikan ucapan Rifki dan terus menerus menyerang kearah Rifki dengan begitu lincahnya, pertarungan itu bagaikan sebuah tontonan yang sangat bagus untuk anak Gengcobra ataupun para pekerja yang ada dirumah Nadhira.
Melihat keributan yang ada dihalaman depan membuat Bi Ira dan Bi Sari segera bergegas kehalaman depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, Bi Ira begitu terkejut ketika melihat Rifki sudah kembali dari luar negeri dan saat ini dirinya sedang berhadapan dengan Nadhira.
"Wih Non Dhira keren sekali" Ucap Bi Sari yang kagum dengan gerakan beladiri Nadhira.
"Kalian datang terlambat, sudah setengah jam tontonan ini berlangsung, mungkin sebentar lagi akan berakhir" Ejek Pak Mun.
"Emang ada apa sih? Kenapa mereka bertarung seperti itu?" Tanya Bi Sari.
"Sulit untuk menjelaskan kepada kalian tentang keduanya, bukan hanya kau yang tidak tau, tapi kami juga tidak tau kenapa Nona Muda begitu agresif untuk menyerang Tuan Muda mereka" Ucap Pak Santo sambil menunjuk kearah anggota Gengcobra.
"Apa pemuda itu telah melakukan kesalahan kepada Non Dhira? Setahuku Non Dhira tidak pernah menyerang seseorang dengan seperti itu kalau orang itu tidak bersalah".
"Mana ku tau, bagaimana kalau kau langsung saja bertanya kepada Nona?"
"Tidak, kau lihat sendiri kan bagaimana pertarungan mereka? Bisa bisa diriku sendiri yang menjadi babak belur nantinya".
__ADS_1
"Baguslah kalau kau sadar, sudahlah kita nikmati saja pertarungan ini".
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...