Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Berduka


__ADS_3

Disatu sisi, dua orang lelaki dan wanita berdiri dikejauhan, keduanya memandang kearah jurang tempat dimana Nadhira terjatuh itu. Keduanya meneteskan air matanya ketika menyaksikan kepergian dari Nadhira dan mereka terlambat untuk menyelamatkan nyawa Nadhira.


"Dia sudah pergi, dan meninggalkanku untuk selamanya, dan tidak akan pernah kembali lagi." Tangis lelaki tersebut pun pecah seketika.


"Kakak, kenapa Kakak pergi secepat ini meninggalkan kami? Maafkan aku Kak, aku tidak menyadari akan kebaikan Kakak selama ini, semoga kita akan dipertemukan kembali suatu saat nanti dialam yany berbeda,"


"Maafkan aku, Nak. Aku belum bisa membahagiakan dirimu selama ini, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa apa. Maafkan aku, maafkan Ayahmu ini."


"Maafkan aku juga yang tidak bisa mengerti tentangmu, aku egois, aku salah, aku telah berlaku jahat terhadap dirimu selama ini. Jika ada kesempatan untuk membalas kebaikanmu, maka aku akan berusaha untuk itu,"


"Dhira, jangan pergi tinggalkan kami secepat ini. Kamu belum sempat untuk membalas kebaikanmu kepada kami, kau harus baik baik saja dan kembali kedalam pelukan suamimu. Kasihan dia yang telah kau tinggalkan itu,"


"Cinta kalian begitu kuat, aku telah salah untuk memintamu menjauhi dia. Meskipun aku menginginkan Rifki untuk diriku, aku tidak akan bisa melakukan itu, karena hanya cinta darimu yang begitu besar kepadanya. Takdirlah yang telah menyatukan kalian, dan meskipun kalian berpisah saat ini yakinlah bahwa aku tidak bisa merebutnya darimu."


"Dhira, kembalilah."


Keduanya pun melihat sosok Rifki yang tengah digotong oleh anggota Gengcobra dan membawanya pergi dari tempat itu. Masih ada harapan untuk Rifki bisa selamat karena jantungnya masih berdetak saat ini meskipun dengan lemahnya, mereka tidak ingin membuang waktu lagi dan segera menyelamatkan Rifki.


Anggota Gengcobra yang masih tersisa ditempat tersebut pun membagi tugas, sebagian ikut Haris untuk membawa Rifki kerumah sakit sementara yang lainnya menuju kedasar tebing untuk mencari jasad Nadhira yang diduga telah meninggal karena tingginya tempatnya untuk terjatuh sehingga permata iblis itu pun hancur.


"Apakah kita akan ikut mereka mencari?" Tanya sang wanita kepada lelaki.


"Iya, tapi jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita berdua. Kita mencarinya dengan diam diam," Jawab sang lelaki.


"Baiklah,"


Keduanya pun bergegas untuk turun gunung menuju kedasar jurang demi mencari Nadhira. Hal itu tidak akan mudah karena juang tersebut begitu luasnya, dan tidak akan mudah ditemukan apalagi dengan tubuh tanpa nyawa. Bisa jadi tubuhnya akan tersangkut sesuatu sehingga tidak membiarkannya untuk menyentuh tanah, ataupun sebaliknya.


*****


"Non Dhira jatuh kejurang!" Teriak Pak Santo terkejut ketika Pak Mun mengatakan bahwa Nadhira terjatuh kejurang ketika ingin menyelamatkan Rifki.


"Iya, dan Tuan Muda pun kini dibawa kerumah sakit karena kondisinya keritis,"


"Innalilahi wa innailaihi roji'un, semoga Non Dhira cepat ditemukan ya," Ucap Pak Santo dengan mata yang berkaca kaca, karena baginya Nadhira itu adalah wanita yang sangat baik dan majikan yang sangat pengertian.


"Non Dhira ngak boleh meninggal, dia kan orang baik, pasti selamat! Dan Allah pasti akan menyelamatkan dirinya, dia pasti akan kembali,"


"Andai saja waktu itu kita mencegah kepergian dari Tuan Muda, mungkin mereka tidak akan seperti ini. Musuhnya terlalu banyak, dan mereka mengincar nyawa Tuan dan Nona Muda."


"Terus saja andai andai, aku dengar dengar bahwa Nona Muda tengah hamil muda saat ini. Aku dengarnya juga tidak sengaja ketika Tuan Besar mengatakannya tadi,"


"Benarkah? Pasti Tuan Muda akan sangat kecewa mendengarnya, apalagi anak yang mereka harap harapkan itu pun ikut serta jatuh kejurang bersama dengan Nona Muda,"


"Tapi Tuan Muda sedang keritis saat ini, semoga saja nyawanya tertolong. Meskipun tertolong dia tidak akan terima jika Nona Muda meninggal, aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa nantinya."


"Kau benar, semoga saja Tuan Muda sanggup untuk menerima ujian ini. Semoga juga Non Dhira segera ditemukan dalam keadaan hidup agar Tuan Muda tidak terlalu sedih mendengarnya."


"Aamiin."


"Apa yang kalian katakan?" Tanya Bi Sari tiba tiba.


Mendengar pertanyaan tersebut lalu membuat keduanya pun menoleh kearah Bi Sari yang tengah berdiri dibelakang keduanya. Pak Mun pun menjelaskan semuanya kepada Bi Sari, akan tetapi siapa sangka bahwa Bi Sari justru langsung pingsan ketika mendengarnya.


Bi Sari adalah orang yang dekat dengan Nadhira setelah Bi Ira, dan dirinya yang selalu ada untuk Nadhira. Ia tidak mampu untuk mendengar bahwa Nadhira telah terjatuh dari jurang sehingga dirinya langsung tidak sadarkan diri saat itu.

__ADS_1


"Sar! Sari!" panggil Pak Mun sambil menepuk pipi Bi Sari untuk menyadarkan wanita tersebut.


Keduanya pun langsung menggotong tubuh Bi Sari untuk masuk kedalam kamarnya, dan mereka pun meminta kepada pembantu yang lainnya untuk mengurusi Bi Sari yang tidak sadarkan diri itu.


Mendengar kabar mengenai Nadhira yang tidak selamat itu pun membuat semuanya merasa sedih, anggota Gengcobra kini tengah berduka atas kepergian dari Nona Muda mereka. Surya Jayantara pun ikut serta berduka dan tidak lupa juga perusahaan Abriyanta grub pun berduka, bukan hanya itu saja akan tetapi panti asuhan tempat Fika pun berduka saat ini.


Begitu banyak orang yang tengah berduka atas kepergian dari Nadhira, Nadhira yang memang baik hati itu pun membuat semuanya merasa kehilangan atas kepergiannya yang sangat tragis itu, dan bahkan jasadnya saja tidak ditemukan meskipun setelah mencarinya begitu lama.


*****


"DHIRA!!!" Teriak dari Bi Ira yang kini tengah berada ditepi jurang dimana Nadhira terjatuh.


Setelah mendengar kabar bahwa Nadhira jatuh kejurang hal itu langsung membuat Bi Ira berteriak histeris, dirinya pun langsung bergegas menuju ke lokasi dimana Nadhira jatuh. Hal itu langsung membuat Pak Santo pun segera menyusulnya karena takut bahwa istrinya akan berbuat nekat nantinya.


"Kamu dimana, Nak! Ibu datang untuk menjemputmu pulang, cepatlah pulang Nak. Jangan tinggalkan Ibu seperti ini! Hiks.. hiks.. hiks.." Bi Ira pun terisak tangis sambil berteriak kearah jurang itu.


Dirinya berharap bahwa Nadhira akan mendengarnya dan segera bergegas menemuinya, akan tetapi harapannya itu hanyalah sebuah angan angan yang tidak akan pernah terjadi. Jurang yang setinggi ratusan meter itu pun, tidak akan pernah membuat orang selamat jika terjatuh didalamnya begitu saja, meskipun mereka telah mencari keberadaan dari tubuh Nadhira pun akan sia sia karena tubuh tersebut tidak akan ditemukan keberadaannya.


Mendengar istrinya yang berteriak histeris itu pun langsung membuat Pak Santo meneteskan air matanya pilu. Dirinya juga merasakan kesedihan ketika mendengar kabar bahwa Nadhira tidak akan terselamatkan, dan kini kesedihannya itu bertambah ketika kelihat Bi Ira yang menangis histeris.


Pak Santo pun mencoba untuk menenangkan istrinya yang berteriak histeris itu, Bi Ira tidak mampu untuk menerima kenyataan bahwa Nadhira telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Bi Ira yang selalu diperlakukan dengan baik oleh Nadhira itu pun merasa begitu kehilangan seorang anak seperti Nadhira.


Kesedihannya itu sudah tidak mampu untuk dibendung lagi, rasa sesak didadanya pun mulai menyeruak keluar. Tiba tiba sosok seorang gadis yang berusia 16 tahunan itu pun datang menghampiri Bi Ira dan menjatuhkan pelukannya kedalam pelukan Bi Ira.


"Ibu Ira, Kak Dhira pasti selamat kan?" Tanya gadis itu sambil terisak tangis yang menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


"Dia pasti baik baik saja, dia tidak boleh meninggalkan kita semua seperti ini."


"Ibu, Fika ngak mau kehilangan Kakak Dhira seperti ini. Kakak Dhira harus selamat demi Fika,"


Ya gadis itu tidak lain adalah Fika, seorang gadis kecil yang pernah diselamatkan oleh Nadhira dan telah dianggap Adik angkatnya sendiri. Fika pernah diajak tinggal bersama dengan Nadhira dirumahnya akan tetapi dirinya menolak karena masih ingin tinggal dipanti asuhan bersama dengan Bu Fatimah.


"Dhira, kamu anak yang baik, Nak. Ibu ngak mau kehilanganmu seperti ini, kau harus baik baik saja."


Ketiga orang itu pun berlutut ditempat sambil menatap kearah jurang kematian itu, kesedihan pun menyelimuti hati mereka. Kepergian Nadhira kali ini memberikan kesedihan yang mendalam bagi semuanya karena jasadnya yang tidak ditemukan, dan hal itu membuat seluruhnya terus mencari dan mencari meskipun tiada hasilnya.


"Ibu Ira, tolong selamatkan Kakak. Fika ngak mau kehilangan Kakak baik, Kakak yang selama ini telah menolong Fika. Seandainya tidak ada Kakak waktu itu mungkin Fika sudah ngak ada karena mati kelaparan waktu itu,"


"Ibu tidak bisa berbuat apa apa, Nak. Ibu tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya, semoga saja dia baik baik saja."


"Aamiin... Kak Dhira selalu baik kepadaku Bu, meskipun aku bukan saudara kandungnya ataupun saudaranya, dia selalu memperlakukanku dengan baik selama ini. Aku anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh orang tuanya dan bahkan diusir oleh Tantenya, dengan baiknya dia merawatku dan selalu menjadi penyemangatku didalam panti asuhan. Dia pernah mengajakku untuk tinggal bersamanya, tapi aku menolaknya,"


Bi Ira pun mengusap pelan kepala Fika. Ia tau apa yang Fika rasakan ketika kehilangan Nadhira seperti ini, hanya Fika sosok Adik angkat yang paling disayangi oleh Nadhira, Nadhira telah menyelamatkannya waktu itu dari ketegaan Tantenya sendiri. Nadhira begitu berarti bagi Fika, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Fika saat ini jika tidak ditolong oleh Nadhira waktu itu.


"Kakak pasti selamat kan, Bu? Dia tidak akan meninggalkan Fika seperti ini kan? Kak Dhira pasti akan baik baik saja. Dia tidak mungkin tega meninggalkan Fika seperti ini,"


Tapi kenyataannya memang Nadhira telah meninggalkan semuanya, dirinya begitu tega terhadap orang orang yang menyayanginya, dirinya pergi tanpa pamit dan bahkan tidak akan pernah kembali kedunia ini.


"Dia pasti selamat, dia tidak akan pernah meninggalkan kita seperti ini. Selama ini dirinya telah melewati cobaan begitu besar, tapi kenapa takdirnya harus berakhir seperti ini?"


"Ya Allah, kembalikan Kakak Dhira kepada kami. Kami mohon kepada-Mu, hanya Engkaulah tempat kami memohon,"


Fika dan Bi Ira itu pun menangis sesenggukan setelah, keduanya masih tidak menyangka bahwa Nadhira telah pergi mendahului keduanya. Mereka tidak terima atas kepergian dari Nadhira, akan tetapi mereka tidak tau mau protes kepada siapa saat ini.


"Bu, Kak Dhira pasti akan kembali bersama kita kan? Aku ngak mau Kak Dhira pergi seperti ini, aku telah kehilangan orang tuaku, Bu. Dan aku tidak mau kehilangan Kakakku juga,"

__ADS_1


"Ibu juga ngak mau Dhira pergi, tapi apa yang harus kita lakukan saat ini? Kita bahkan tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya,"


*****


"Dhira kamu dimana?" Teriak Bayu dan beberapa anggota Gengcobra yang tengah menyusuri jalanan curam yang ada didasar jurang tersebut.


"Nona Muda!"


"Dhira!"


Mereka terus memanggil nama Nadhira didasar jurang tersebut, akan tetapi yang dipanggilnya tak kunjung menyahuti panggilan tersebut. Bahkan jasad anggota Gengcobra yang terjatuh pun tidak ditemukan saat ini, begitupun dengan tubuh Nadhira yang telah terjatuh di kedalaman jurang itu.


"Tuan Bayu, bagaimana jika kita berpencar saja?" Tanya Reno yang tengah menyilakan ranting ranting pohon yang ada disana sambil terus melangkah.


"Baiklah, setiap anggota inti Gengcobra berpencar dan membawa beberapa anggota untuk mencari Nadhira disetiap penjuru jurang ini," Putus Bayu.


"Baik Tuan Bayu!" Jawab mereka serempak.


Mereka pun lalu mencari keberadaan dari Nadhira dengan berpencar agar memudahkan mereka untuk menelusuri tempat tempat tersebut yang belum pernah sama sekali ditelusuri oleh siapapun itu. Sehingga yang hilang akan sulit untuk ditemukan, akan tetapi mereka sama sekali tidak mau menyerah sedikitpun itu dan terus berusaha untuk mencari keberadaan dari Nadhira.


"Dhira! Dhira!"


Mereka pun beberapa akali memanggil nama Nadhira dan berharap mendapatkan sahutan dari dirinya, akan tetapi harapannya itu hanyalah sia sia. Hanya ada kesunyian yang ada ditempat itu sekaligus suara hewan hewan yang terlihat menyeramkan saling bersahutan.


Mereka sama sekali tidak mengenal kata takut, mereka pun melangkah dengan penuh keyakinan bahwa mereka semua akan mampu untuk membawa jenazah Nadhira kembali dan memakannya dengan layak.


Harapan bahwa Nadhira masih hidup tersebut hanyalah sia sia karena mereka tau kedalaman dari jurang tersebut. Siapapun yang terjaruh dijurang itu tidak akan pernah selamat karena ketinggiannya yang mampu membuat tubuh manusia hancur begitu saja.


Kaki mereka seakan akan tidak berhenti untuk terus melangkah, tanpa kenal lelah mereka terus mencari keberadaan dari Nadhira. Bahkan tidak aja jejak sama sekali untuk menemukan keberadaan dari Nadhira ditempat itu, mereka kebingungan harus mencarinya kemana lagi.


Gerombolan yang dipimpin oleh Reno pun menemukan sesuatu, yakni sobekan dari pakaian milik Nadhira yang terjaruh diatas tanah. Ia pun bergegas untuk mengambilnya dan dirinya sangat yakin bahwa itu adalah pakaian milik Nadhira sebelumnya.


"Semuanya cari ditempat ini, siapa tau Nona Muda jatuh berada disekitar sini. Ini adalah pakaian miliknya yang ia pakai tadi," Ucap Reno.


Mereka pun langsung berpencar untuk memutari tempat tersebut, akan tetapi sama sekali tidak menemukan apapun disana. Bahkan bekas darah pun tidak ada ditempat itu, seakan akan tubuh Nadhira lenyap begitu saja tanpa bekas.


Hanya sobekan itu saja yang dirinya temukan saat ini, akan tetapi mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Nadhira ataupun anggota Gengcobra yang telah terjatuh sebelumnya. Karena dihutan itu tidak ada sinyal sehingga Reno tidak bisa untuk menghubungi yang lainnya untuk memberitahukan apa yang dirinya temukan saat ini.


*****


5 bulan kemudian...


Secercah harapan terus dipanjatkan oleh sosok lelaki yang terlihat menyedihkan dengan kondisi tubuh yang terlihat pucat. Dirinya berharap bahwa orang yang ada dihadapan membuka kedua matanya, ruangan yang serba berwarna putih dengan diiringi suara detakkan jantung melalui sebuah alat itu pun nampak memilukan.


Terlalu banyak hal yang telah ia lewati, dirinya telah kehilangan sosok seorang Ayah yang sangat menyayanginya, dan dirinya tidak ingin kehilangan sosok yang ada didepannya itu kali ini. Wajah pucat dari seseorang yang terbaring itu nampak begitu jelas, tangan dinginnya membuat hati gundah gulana.


"Bangunlah, sampai kapan kau akan tertidur seperti ini? Apa kau tidak ingin melihatku yang ada disampingmu saat ini? Bukalah matamu, Nak. Semuanya akan baik baik saja,"


Sosok yang terbaring itu seakan akan merespon ucapan si lelaki dengan cara meneteskan air matanya. Entah sudah berapa lama dirinya terbaring tidak berdaya, beberapa selang terpasang pada tubuhnya untuk membantunya mampu bertahan hidup sampai saat ini.


Perasaan kehilangan terus menghantui lelaki tersebut, semuanya hanya mimpi yang sama sekali tidak diinginkan untuk terjadi, mimpi yang akhinya telah menjadi nyata tanpa mampu untuk ditolaknya untuk terus terjadi.


Hingga sebuah keajaiban datang menyertai kedua sosok tersebut, suasana haru pun langsung menyelimuti tempat tersebut. Perjuangan para Dokter pun tidak akan sia sia, ketika melihat tangan pasiennya bergerak perlahan, pertanda bahwa dirinya akan sadarkan diri.


Rifki mulai membuka kedua matanya, pandangan yang masih buram tersebut membuatnya harus mengerjapkan matanya berkali kali, melihat Rifki yang sudah membuka kedua matanya membuat Haris langsung nampak sangat bahagia.

__ADS_1


Rifki pun mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya itu, karena terpejam begitu lama membuatnya sangat sulit untuk beradaptasi dengan cahaya yang ada didalam ruangan tersebut. Rifki merasa begitu silau karena cahaya yang ia terima itu.


"Rifki, akhirnya kau sadar juga Nak," Ucapnya dengan senangnya.


__ADS_2