Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kemunculan mereka


__ADS_3

Terlihat ada kemarahan dikedua mata Nadhira ketika mengingat tentang anaknya yang tiada bahkan anak tersebut belum pernah melihat dunia. Hati seorang Ibu mana yang tidak sakit ketika mengetahui bahwa anaknya sudah tidak bernafas lagi, Nadhira sangat terluka saat itu.


"Kalian yang telah membunuh anakku, aku akan membalasnya lebih kejam daripada itu," Ucap lelaki tersebut dengan tegasnya.


"Dan anak anakmu telah membunuh anakku, bukankah seharusnya begitu? Nyawa dibayar dengan nyawa, bukan salah kami yang telah membunuh anakmu itu, tapi salahkan anakmu yang telah bertindak kejam kepada anakku." Bantah Nadhira.


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup lebih lama lagi, kalian berdua harus mati ditanganku,"


"Hidup dan mati hanya ada ditangan Allah, jangan salahkan kami jika kami membunuhmu karena kami hanya ingin melindungi diri,"


"Kau tidak akan bisa membunuhku, aku memiliki ilmu kebal yang tiada tanding. Aku juga memiliki ilmu yang mampu menghidupkan kembali tubuhku," Ucapnya dengan berbangga diri.


"Itu tidak akan lagi kau miliki, karena aku yang akan menghancurkannya,"


"Tidak mungkin!"


"Nimas datanglah! Waktunya untuk dirimu bangkit, Panji datanglah! Sudah cukup keris pusaka xingsi ini menjadi perusak dunia. Hanya dengan bersatu maka kalian bisa menyelesaikan tugas yang belum sempat selesai," Teriak Nadhira.


Nadhira pun memejamkan kedua matanya sambil terus memanggil Nimas dan Panji. Tak beberapa lama kemudian angin mulai berhembus dengan kencangnya, Rifki yang menyaksikan hal itu pun langsung membelalakkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat saat ini.


Rifki merasakan sesuatu energi yang mengalir dari tubuhnya menuju kearah dadanya, lebih tepatnya kearah dimana keris pusaka xingsi itu berada. Rifki juga merasakan bahwa energinya kembali terisi dan rasa sakit yang ia rasakan perlahan lahan mulai menghilang.


"Cepat halangi wanita ini!" Teriak lelaki tersebut kepada anak buahnya.


Lelaki tersebut yang memang mempelajari ilmu hitam sejak kecil itu pun mampu untuk memanggil mahluk gaib yang ada disekitarnya untuk menyerang kearah Nadhira. Melihat itu membuat Rifki berusaha untuk bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut dan menyelamatkan Nadhira dari para mahluk gaib itu.


Nadhira merasakan sesuatu yang menabrak kearah tubuhnya, sesuatu itu seperti sebuah angin yang sangat kencang sehingga tabrakan yang dihasilkan cukup keras. Bandul kalung yang dipakai oleh Nadhira bukanlah bandul sembarangan, akan tetapi bandul tersebut terdapat sosok seorang mahluk gaib yang bersemayam didalamnya.


Angin kencang langsung memutari tempat tersebut, mulut Nadhira pun masih berkomat kamit mengucapkan nama Nimas dan Panji berulang ulang kali. Nadhira terus berusaha untuk memanggil kedua mahluk tersebut dengan menggunakan pengetahuan yang dia miliki saat ini.


Nadhira tidak tau apakah cara ini akan berhasil atau tidak, ia hanya berharap bahwa Rifki akan selamat kali ini. Nadhira tidak akan membiarkan Rifki kenapa kenapa bahkan sampai terluka, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melindungi orang yang paling dicintainya itu.


"Dhira, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Rifki dengan paniknya.


"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku tidak akan pernah membiarkanmu kenapa kenapa Rif," Jawab Nadhira.


Nadhira pun memejamkan kedua matanya dengan erat, sebuah cahaya merah terang pun mampu Nadhira lihat ketika tengah memejamkan kedua matanya itu. Cahaya tersebut seolah olah tengah bergejolak saat iki, dan seperti tengah tertiup angin kesana kemari.


"Jangan membahayakan dirimu sendiri, sayang. Aku mohon jangan lakukan itu,"


Ketika mereka semua bergegas menuju kearah Nadhira untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Nadhira, Andre langsung bergegas untuk menghalangi mereka semua. Akan tetapi, tubuh mereka seakan akan terpental jika berada didekat Nadhira, Nadhira pun membuka kedua matanya.


"Ndre, selamatkan Rifki. Bawa dia pergi dari sini sekarang!" Perintah Nadhira.


"Tapi Nona Muda, bagaimana bisa saya meninggalkan anda begitu saja?".


"Ngak ada waktu lagi, cepat bawa Rifki pergi dari sini, biar aku yang urus mereka disini. Rifki sedang lemah sekarang dan tidak bisa diajak bertarung,"


"Baiklah Nona Muda,"


Nimas pun muncul dihadapan Nadhira sambil membentangkan kedua tangannya itu, baju merah darah yang biasanya dipakai oleh Nimas kini berubah menjadi warna yang cukup gelap serta kedua tangannya terdapat kuku kuku yang panjang. Itu adalah wujud asli dari Nimas, yang tidak pernah memperlihatkan kepada siapapun.


Sebuah cahaya keemasan pun muncul disamping Nadhira dan hanya dapat dilihat oleh orang orang yang mampu melihat alam gaib. Cahaya itu berasal dari sosok Dilham yang ikut muncul disamping Nadhira, melihat itu pun membuat orang tersebut tidak mempercayai apa yang tengah ia lihat saat ini.


"Kau tidak sendirian, Dhira. Kami ada untukmu," Ucap salah satu mahluk yang mendadak muncul disebelah kanan Nadhira.


Sosok seorang wanita sepuh yang memiliki rambut berwarna putih panjang dengan membawa sebuah tongkat keramat. Nadhira sama sekali tidak mengenali siapa wanita itu, saat ini alam gaib terlibat begitu nyata didepannya.


Sementara disatu sisi, Andre kini tengah berusaha untuk membantu Rifki melepaskan diri dari ikatan tersebut. Ketika tali sudah terlepas mendadak tubuh Rifki pun meluruh jatuh akan tetapi langsung ditangkap oleh Andre agar tidak jatuh ketanah.

__ADS_1


"Tuan Muda ngak papa?" Tanya Andre dengan khawatirnya kepada Rifki.


"Aku ngak apa apa," Jawab Rifki dengan lemahnya.


Rifki seakan akan tidak memiliki banyak tenaga untuk saat ini sehingga dirinya berpegangan dengan erat leher Andre dengan tangan kanannya. Pandangan Rifki kembali fokus kepada Nadhira yang berada cukup jauh darinya saat ini, ia takut kalau Nadhira kenapa kenapa nantinya.


"Siapa kalian semua?" Tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Ayah dari si kembar Varel dan Avel.


Aji adalah nama dari Ayah Varel dan Avel. Aji mempelajari ilmu gaib sehingga dirinya dapat melihat alam gaib dan melihat ada tiga mahluk yang tengah berdiri disamping Nadhira dan akan melindungi Nadhira dengan semampu yang dia bisa.


"Aku Ratu iblis yang akan menghancurkan permata iblis dengan kemampuanku," Jawab Nimas.


"Aku pelindung keris pusaka xingsi, dan akan menghancurkan kekuatan keris itu dengan kemampuan yang aku miliki," Ucap Dilham.


"Aku Nyi Dara, utusan dari Nyi Ratih untuk membantu keturunannya mencapai tujuannya," Jawab wanita paruh baya itu.


Tak beberapa lama kemudian munculah beberapa mahluk yang sangat menakutkan, hal itu langsung membuat Nadhira memundurkan langkahnya karena takut untuk melihat mahluk mahluk tersebut. Ini pertama kalinya bagi Nadhira melinat begitu banyaknya mahluk gaib yang tak kasat mata itu, sehingga hal itu masih membuat Nadhira ketakutan.


"Dhira! Jangan bahayakan nyawamu sendiri," Rifki pun berusaha untuk berteriak dengan semampu dan sebisanya.


Tak beberapa lama kemudian terjadilah peperangan antara mahluk tersebut, Aji telah memberikan tumbal untuk para mahluk tersebut sehingga mereka mau membantunya untuk melawan Ratu iblis itu, kekuatan para mahluk tersebut tidak mampu untuk diremehkan begitu saja.


Nadhira terperangah melihat kejadian tersebut, angin disekitarnya pun terasa begitu kencangnya untuk berputar. Melihat itu langsung membuat Nadhira merasa pusing karena gerakan mereka cukup lincah dan bahkan sangat sulit untuk diikuti oleh kedua mata manusia.


Dari pertarungan tersebut terciptalah sebuah perisai yang tidak mampu untuk ditembus oleh siapapun, siapapun yang ingin datang ketempat itu akan merasa energinya diserap begitu saja, dan mereka akan mewurungkan niatnya itu.


"Cepat serang wanita itu!" Teriak Aji sambil menuding kearah Nadhira.


Nadhira yang memang berdiri seorang diri tanpa anggota Gengcobra maupun Rifki tersebut langsung mengeluarkan tongkat miliknya. Melihat itu membuat Rifki berusaha untuk mendekat kearah Nadhira akan tetapi ditahan oleh Andre karena dia menjalankan perintah dari Nadhira.


"Lepaskan aku! Aku harus menolong Nadhira!" Teriak Rifki.


"Cepat lindungi Dhira!" Teriak seseorang yang tiba tiba muncul ditempat itu.


Orang itu tidak lain adalah Aryabima yang telah sampai ditempat tersebut beserta beberapa anggota Gengcobra yang ikut bersamanya. Aryabima dengan kemampuan yang ia miliki tersebut berusaha untuk membuka perisai yang menyelimuti tempat itu sebelumnya dan membawa anggota Gengcobra masuk kedalam.


Bayu dan inti anggota Gengcobra lainnya langsung bergegas untuk memutari Nadhira sementara yang lainnya pun berusaha untuk melawan anak buah dari Aji. Tempat yang berada ditengah tengah hutan dan jurang itu pun terlihat ramai karena adanya sebuah pertarungan, entah pertarungan manusia dengan manusia ataupun mahluk gaib dengan mahluk gaib.


Rifki dan Andre pun langsung diputari oleh anggota Gengcobra yang baru datang itu, melihat kondisi Rifki dan Nadhira yang bersimbah darah membuat Haris merasa sangat cemas apalagi Nadhira saat ini sedang mengandung cucunya.


Anggota Gengcobra kalah telak, sehingga energi mereka pun diserap oleh para mahluk suruhan dari Aji itu, mereka pun langsung berjatuhan diatas tanah. Aryabima tidak tinggal diam dan dirinya pun langsung menyerang kearah Aji dengan tenaga penuh yang ia miliki itu.


"Ayah!" Teriak Haris ketika melihat Aryabima terjatuh diatas rerumputan.


"Kakek!" Teriak Rifki.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Arya. Ajalmu sebentar lagi akan segera tiba, dan aku lah yang akan menjadi malaikat mautmu sendiri," Ucap Aji dengan sombongnya.


Aryabima langsung mencoba untuk bangkit berdiri dengan kemampuan yang masih tersisa itu, sudah cukup banyak anggota Gengcobra dan anak buah dari Aji yang terjatuh didalam jurang tersebut. Nyawa mereka akan menjadi tumbal untuk kekuatan dari para mahluk gaib suruhan Aji.


"Ayahku telah menganggap Galih seperti anaknya sendiri, tapi Galih lah yang telah berkhianat kepadanya dan merenggut nyawa dari Chandra. Dendammu sama sekali tidak berarti Aji, sebaiknya lupakan saja dendam itu dan kembali damai," Ucap Aryabima.


"Sebaiknya simpan kembali kata katamu itu, sampai kapan pun itu kita tidak akan pernah berdamai. Kalian semua jahat, untuk apa berdamai dengan orang seperti kalian yang telah tega kepada Ayah Galih, dan kalian juga yang telah merenggut nyawa kedua anakku."


"Asal kau tau, cucuku tidak akan melakukan itu selama kalian tidak membahayakan nyawa dari istrinya. Anakmu telah membunuh anaknya yang bahkan belum lahir kedunia, hati seorang Ayah mana yang tidak terluka disaat anak yang dinanti nantikan justru dibunuh begitu saja,"


"Jangan banyak omong, cepat hadapi aku!"


Aji pun langsung kembali menyerang kearah Aryabima, karena ilmu kebal yang dirinya miliki hal itu membuat Aryabima sangat kesulitan untuk melawannya meskipun bersama dengan Haris dan beberapa anggota Gengcobra.

__ADS_1


Aryabima dan Haris pun terpental jatuh ketanah akibat dari tendangan yang dilontarkan oleh Aji kepada keduanya secara bergantian. Rifki yang melihat pertarungan itu pun tidak bisa berdiam diri saja, ia ingin sekali ikut membantu keluarganya akan tetapi karena kondisi tubuhnya sangat tidak memungkinkan untuk dirinya ikut bertarung.


Nadhira yang berada ditengah tengah anggota Gengcobra tersebut pun mengepalkan kedua tangannya ketika melihat Aryabima dan Haris kewalahan menghadapi Aji dan anak buahnya itu. Nadhira lalu bergegas untuk bergabung dengan keduanya, ia beserta anggota Gengcobra lainnya langsung menyerang untuk membantu Aryabima.


"Papa, kita lawan bersama sama," Ucap Nadhira kepada Haris.


"Jangan, sebaiknya kau lindungi Rifki. Biar mereka menjadi urusan Kakek," Ucap Aryabima.


"Tapi Kek,"


"Cepat!"


Nadhira lalu menoleh kearah Rifki dan Andre berada, ia terkejut ketika anggota Gengcobra yang menjaga Rifki sudah terbaring diatas tanah karena serangan dari anak buah Aji. Melihat itu langsung membuat Nadhira berlari kearah Rifki, akan tetapi dengan sigap anak buah Aji langsung menangkap Rifki.


"RIFKI!" Teriak Nadhira.


"Lepaskan!" Teriak Rifki meminta untuk dilepaskan oleh beberapa orang itu.


Rifki yang tengah lemah tersebut tidak mampu untuk melawan mereka yang cukup kuat, meskipun dirinya mencoba untuk memberontak akan tetapi dirinya akan kalah dengan tenaga mereka. Nadhira lalu menendang salah satu orang yang ingin menangkapnya itu dengan kerasnya, ia pun melakukan hal yang sama dengan anak buah Aji yang lainnya itu.


"Dhira awas!" Teriak Rifki ketika melihat beberapa anak buah Aji berlari kearahnya.


Bhuk Brak Dhuk


Tanpa ampun Nadhira langsung menyerang mereka menggunakan tongkat yang ada ditangannya saat ini, ia sama sekali tidak membiarkan mereka untuk menyerang balik kearah Nadhira. Nadhira benar benar tidak bisa diremehkan begitu saja, tiba tiba sebuah mahluk datang dan merasuk dalam tubuh Rifki tanpa mampu ditolak oleh Rifki sendiri.


Kini kesadaran Rifki sudah berganti dengan sosok tersebut, ia pun menggerakkan tangan Rifki hingga membuat orang orang yang tengah memeganginya terpental begitu saja. Sosok tersebut langsung bergegas untuk menuju kearah Nadhira dan membantu Nadhira.


"Rifki," Ucap Nadhira pelan.


"Aku bukan Rifki, sebaiknya menjauhlah dari tempat ini dan lindungi janinmu itu," Ucap mahluk tersebut menggunakan tubuh Rifki.


"Bagaimana kau tau bahwa aku hamil?" Tanya Nadhira yang terkejut ketika mendengarnya.


"Cepat menjauh, biar aku melawan mereka semua!" Sentaknya.


Nadhira pun hanya bisa pasrah dan sedikit menjauh dari tempat tersebut, mahluk tersebut dengan kuatnya menyerang kearah mereka dan perlahan lahan mendekat kearah pertarungan Aryabima dan Haris yang sedang melawan Aji.


"Sudah waktunya keris pusaka xingsi ini hancur," Ucapnya kepada Aryabima dan Haris.


"Kita hancurkan bersama sama," Ucap Aryabima dan langsung mendapatkan anggukan dari mahluk tersebut melalui tubuh Rifki.


Sudah banyak orang yang sedang bertarung ditempat itu dan akhinya terjatuh dijurang, kini yang ada diatas bukit itu hanya ada sekitar 15 anggota Gengcobra dan juga 25 anak buah Aji. Pertarungan mereka pun masih berlanjut sampai sekarang, dan tidak dapat dihentikan begitu saja selama masih belum ada pihak yang kalah.


Kini sosok yang ada didalam tubuh Rifki sedang berhadapan dengan sosok Aji, keduanya sama kuatnya satu sama lain. Terlihat bahwa pertarungan itu terasa imbang, akan tetapi Aji langsung mengambil sebuah senjata tajam untuk melawannya.


"Siapa kau?" Tanya Aji kepada sosok yang merasuki tubuh Rifki.


"Aku adalah Panji, sebaiknya menyerahlah. Atau kau akan mati ditanganku," Ucapnya.


"Panji? Tidak mungkin, jiwanya sudah lenyap dan Panji tidak bisa muncul lagi," Aji merasa terkejut ketika mendengarnya.


"Jiwaku memang sudah lenyap beserta dengan tubuhku, tapi jiwaku telah terbagi. Yang lenyap adalah bagian dari jiwaku dan jiwaku yang asli berada didalam keris pusaka xingsi, dan selalu melindungi pemilik dari keris pusaka xingsi selama ini. Nyi Ratih memanggilku dan membangkitkan jiwaku kembali, aku datang untuk membantu melenyapkan keris pusaka xingsi ini,"


"Kau tidak bisa melenyapkannya begitu saja, aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku itu,"


"Galih adalah cucu angkatku, dia sama sekali tidak berhak untuk memiliki keris pusaka xingsi. Hanya keturunanku yang mampu memilikinya, bukan Galih maupun keturunannya,"


Tanpa berkata kata lagi, Aji langsung menyerang kearah Rifki, sementara Panji pun langsung bergerak untuk menghindari serangan itu menggunakan tubuh Rifki. Ia pun menyerang balik kearah Aji dengan sebuah tendangan yang cukup keras, hingga membuat Aji langsung terpental mundur beberapa langkah kebelakang.

__ADS_1


Tidak mau menyerah begitu saja, Aji pun langsung berlari kearah Rifki dan menyerangnya kembali. Akan tetapi, serangan tersebut sangat mudah untuk ditangkis oleh Panji dan Panji pun melontarkan pukulannya kembali kearah Aji dan membuat Aji langsung terbaring diatas tanah sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.


__ADS_2