
Nadhira sedang duduk bersama dengan Theo disebuah kursi yang panjang didalam ruangan yang ia masuki tersebut, tempat itu terlihat sedikit remang remang karena cahaya lampu tidak terlalu terang benderang ditempat itu.
"Kau ada masalah apa Dhira? Sampai sampai kau ingin mencoba minuman seperti ini, minuman ini tidak baik bagi kesehatan juga"
"Aku sangat lelah Theo, aku hanya ingin bebas dari masalahku selama ini".
"Tapi bukan begini caranya Dhira, jangan karena kau banyak masalah hingga membuatmu ingin mabuk dengan minuman seperti ini, emang sih minum ini mampu membuatmu lupa sementara tapi setelah kau sadar maka masalah itu bakalan muncul lagi dan bahkan bisa semakin membesar".
"Semuanya telah berubah Theo, termasuk diriku".
"Apa kau masih memikirkan soal Rifki itu? Sudahlah Dhira lupakan saja dirinya lagian dia juga sudah menyakiti hatimu, dia tidak pantas untuk mendapatkan air matamu itu".
"Mungkin mengatakannya saja semua orang juga bisa Theo, tapi untuk menjalaninya tidak semua orang bisa melakukannya, melupakan seseorang yang sangat berarti bagi diriku adalah hal yang sangat menyakitkan Theo".
"Aku tau itu Dhira, berusahalah agar kau bisa melupakan orang yang telah menyakiti hatimu"
"Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan Theo".
Rifki terlalu berharga bagi Nadhira karena disaat dia terpuruk sekalipun itu Rifki akan selalu ada untuk menemaninya selama ini dan selalu melindunginya, akan tetapi sejak Rifki berubah hal itu membuat Nadhira merasa sangat terluka akibat dari perubahannya tersebut.
Glek
Nadhira mengepalkan kedua tangannya seketika itu juga dan langsung memasukkan minuman tersebut kedalam mulutnya dan segera menelannya, setelah itu terlihat butiran kristal putih keluar dari ujung matanya dan menetes ke pipinya.
"Dhira! Apa yang kau lakukan".
"Semuanya sudah berakhir hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah begitu saja.
"Tidak Dhira, semuanya belum berakhir begitu saja".
Nadhira menaruh gelas yang ada ditangannya dengan keras diatas meja, ia pun mengeratkan kepalan tangannya dengan kedua mata yang perlahan lahan mulai memerah dengan tangisan air mata yang membasahi kedua matanya itu.
Sekilas bayangan bayangan dirinya bersama dengan Rifki terlintas begitu saja dipikirannya, tentang kebersamaannya selama ini dan juga kenangan kenangan yang mereka jalani bersama sama seketika menggerayangi dirinya itu.
Tangannya mengepal membayangkan kembali disaat dimana Rifki tengah terluka dihadapannya, tangisan itu mendadak berubah menjadi tawa yang sangat menyakitkan, bagaimana tidak? Karena meskipun disaat dia tertawa akan tetapi air matanya terus saja mengalir dengan derasnya.
Ia sudah kehilangan begitu banyak orang orang yang ia sayangi, dan kali ini ia benar benar kehilangannya sehingga hal itu membuat dirinya merasa begitu sangat terluka batinnya.
"Semuanya sudah berubah Theo dan tidak akan pernah sama lagi seperti dulu, dia pergi meninggalkanku untuk selamanya" Ucapnya lagi dengan linangan air mata.
"Dhira kau sudah mabuk? Sekali teguk saja sudah seperti ini kamu Dhira, apa karena Rifki kau jadi nekat seperti ini Dhira?".
"Dia jahat sangat jahat, aku benci dirinya".
"Sudah ku katakan kepadamu kan, dia bukan orang yang baik untukmu Dhira, kenapa kau terlalu berharap kepadanya".
Nadhira kembali mengangkat gelas kecil itu yang kosong itu dan ia sodorkan kepada Theo, Nadhira pun tersenyum dengan sangat menyedihkan kepada Theo, Theo pun mengisi kembali gelas yang kosong itu dengan minuman yang sudah tersedia dimeja itu.
Setelah gelas kecil itu terisi dengan minuman beralkohol sesuai dengan keinginan Nadhira, Nadhira segera menyuruh Theo untuk meminumnya, tanpa menunggu jawaban dari Theo Nadhira langsung membantu Theo untuk meminumnya.
"Aku tidak minum Dhira, aku akan menjagamu sampai kau sadar nanti" Ucap Theo sambil memegangi tangan Nadhira agar menghentikan Nadhira untuk memberikan minuman itu kepadanya.
"Minumlah bersamaku Theo, ini sangat enak" Ucap Nadhira setengah sadar dan setengah mabuk.
"Kau benar benar sudah mabuk Dhira?".
"Ayolah Theo".
Theo pun menuruti kemauan Nadhira karena dirinya sendiri juga ingin menikmatinya malam ini, dan karena itu dirinya datang kemarkasnya yang tersembunyi itu agar tidak ada yang menganggunya didalam markas tersebut akan tetapi Nadhira tanpa sengaja ikut serta bergabung ditempat seperti itu.
Melihat Theo yang meminum minuman tersebut membuat Nadhira tertawa dengan kerasnya, ia pun melupakan rasa sakit hati yang tengah ia alami saat ini, seakan akan beban yang ada dipundaknya berkurang begitu saja.
Nadhira pun kembali meminum minuman itu sampai dirinya benar benar merasa seperti melayang layang diudara, sampai sampai kesadarannya pun ikut melayang karena minuman itu.
Nadhira pun langsung berdiri dari tempat duduknya itu dengan sempoyongan menuju kearah pintu keluar dari gedung tersebut sambil tertawa terbahak bahak, diikuti oleh Theo dibelakangnya, akan tetapi Theo masih dapat sadar dari minuman itu karena minuman itu hanya sedikit membuatnya pusing.
"Dhira kau mau kemana?" Tanya Theo.
__ADS_1
"Mau bersenang senang" Jawab Nadhira.
"Jangan keluar Dhira, diluar banyak laki laki".
Senyum sumringah langsung tercipta wajah Nadhira, ia pun langsung bersemangat untuk segera keluar meskipun dengan langkah sempoyongan agar dapat mencapai area luar bangunan tersebut, Nadhira terlalu bersemangat sampai sampai ia menatap tembok yang tidak jauh dari dirinya.
Bhukk...
"Akh... Siapa yang menaruh tembok disini?"
"Kau ngak papa Dhira?" Tanya Theo yang langsung berusaha untuk mendekat kearah Nadhira.
Nadhira mencoba untuk bangkit kembali dari jatuhnya itu, setelah itu ia bergegas keluar dari tempat itu untuk menemui anggota Gengters yang lainnya yang sedang mabuk diluar bangunan itu, melihat kedatangan Nadhira membuat semua perhatian orang orang terarah kepadanya.
Yang di pikirkan oleh Nadhira hanyalah bersenang senang malam ini dan melupakan beban yang ada dipundaknya untuk sementara waktu, ia pun terus melangkah untuk mendekat ketempat orang orang yang sedang mabuk berada.
"Bolehkah aku gabung dengan kalian?" Tanya Nadhira dengan senyum sumringah.
"Hai gadis cantik, ayo kita bersenang senang" Ucap seorang laki yang memiliki rambut kriting dengan sebuah gelas kecil ditangannya dan sedang duduk disebuah bangku yang ada dihalaman itu.
"Kau harus lebih ramah denganku atau aku akan menghajarmu nanti" Ucap Nadhira dengan manjanya.
"Apapun akan ku lakukan untuk Tuan Puteri dari istana langit".
"Bagus bagus".
Nadhira yang tanpa sadar langsung duduk dipangkuan lelaki tersebut, ia pun merebut gelas tersebut dari tangan si lelaki, sementara lelaki itu langsung memeluk tubuh Nadhira dari belakang dengan penuh manjanya.
"Kau sangat cantik gadis kecil, maukah kau menemaniku semalam saja? Kita akan sangat bersenang senang nanti".
Dengan pelukan itu Nadhira merasa tidak nyaman, seakan akan ada yang berbeda dari laki laki itu, melihat itu membuat Theo dengan langkah gontai langsung menghampiri Nadhira dan menariknya dari pangkuan lelaki tersebut dengan sangat kerasnya.
"Apa yang kau lakukan Dhira?" Tanya Theo yang masih setengah sadar.
"Kau kasar sekali Theo, aku hanya ingin bersenang senang saja disini".
"Sebaiknya kau minum lagi"
Nadhira pun memaksa Theo untuk minum minuman yang ada digelas yang sedang dibawa olehnya itu, dan dengan terpaksa Theo harus meneguk minuman tersebut kembali, hal itu membuat Nadhira tertawa dan berusaha untuk melepaskan diri dari Theo.
Nadhira pun bergabung dengan orang orang yang tengah menari nari karena alunan musik yang ada dihalaman tersebut, kedatangan Nadhira membuat beberapa orang mendekat kearahnya dan ikut menari nari, begitu pun dengan Theo yang perlahan lahan mulai oleng karena minuman tersebut.
"Kau sangat cantik" Bisik seorang lelaki ditelinga Nadhira yang tengah mabuk.
Mendengar pujian itu membuat Nadhira menerbitkan sebuah senyuman manis kepada si lelaki, dan lelaki itu langsung memeluk Nadhira dari belakang dengan gelak tawanya, hal itu membuat Nadhira merasa geli akan tetapi dia tidak ada niatan untuk menyingkirkan tangan tersebut karena kesadaran sudah hilang.
"Bukan pelukan yang aku cari" Ucap Nadhira sambil menggeleng gelengkan kepalanya, ia pun menggerakkan tangannya untuk melepaskan pelukan tersebut secara perlahan lahan.
Nadhira kembali lepas dari pelukan orang tersebut, ia pun melangkah untuk mendekati yang lainnya, Nadhira lalu menari nari dibawah alunan musik yang membuat kepalanya semakin pusing dengan suara bas yang mendengung.
Nadhira seakan akan menikmati suasana ditempat itu saat ini, begitupun dengan Theo yang tidak sadar dengan apa yanh ia lakukan, situasi ditempat itu terasa begitu ramai dan membuat semua orang bahagia karena pengaruh dari minuman beralkohol.
"Semuanya sudah berlalu" Ucap Nadhira lirih.
"Maukah kau menemaniku malam ini saja?" Tanya seorang pria yang tidak jauh dari Nadhira dan langsung memeluknya begitu saja.
"Kau terlalu genit sekali, dia tidak seperti dirimu".
"Kau seperti bidadari yang turun dari surga sayang, rasanya aku ingin menghabiskan malam ini denganmu disini".
"Kau bukan yang aku cari teman, hehe" Ucap Nadhira dengan gelak tawa.
Nadhira pun melepaskan pelukan tersebut dan langsung menari nari ditempat itu, entah apa yang ia rasakan saat ini seakan akan itu bukanlah Nadhira yang dikenal oleh banyak orang, dan Nadhira pun tidak menyadari apa yang saat ini sedang ia lakukan.
Theo tiba tiba menjatuhkan tubuhnya dipunggung Nadhira dan memeluk Nadhira dari belakang, ia pun menempelkan wajahnya dileher Nadhira, dan hal itu seketika membuat Nadhira menghentikan narinya.
"Rifki, kenapa kau sangat manja kali ini" Ucap Nadhira yang mabuk dan mengira bahwa Theo adalah Rifkinya itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Dhira".
"Aku tau itu, tapi kenapa kau meninggalkanku Rifki, apa kau sudah tidak peduli denganku?".
"Aku akan selalu ada untukmu Dhira".
"Kau manis sekali Rifkiku".
Nadhira mencoba untuk melepaskan pelukan tersebut dari Theo karena rasa yang sedikit tidak nyaman bagi dirinya, Nadhira tidak mampu berdiri dengan benar karena kepalanya yang pusing sehingga dirinya berdiri dengan badan yang sedikit sempoyongan karena efek minuman tersebut.
"Lalala..." Nadhira bersenandung kecil sambil menari nari dengan alunan musik yang mengema diarea sekitar tempat itu.
Ia pun kembali melangkah menuju kesebuah meja yang terdapat beberapa gelas minuman beralkohol tersebut, ia pun mengambil satu gelas untuk dirinya dan langsung meminumnya hingga tandas tak tersisa setetes pun itu.
Meskipun gelak tawa dapat terdengar dari mulut Nadhira akan tetapi air mata pun mampu terlihat diujung kedua mata Nadhira yang saat ini tengah memerah dengan begitu pekatnya karena efek dari minuman beralkohol itu.
"Rifki kau begitu jahat kepadaku" Ucapnya pelan.
Nadhira yang tengah berdiri sambil bersandarkan meja tersebut menatap kearah orang orang yang tengah ramai menari itu, dan tiba tiba ada yang berlutut di depannya sambil menyodorkan sebuah gelas kaca kecil.
"Maukah kau menikah denganku sayang?" Tanya seorang pria.
Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, pria tersebut langsung memeluk tubuh Nadhira yang tengah berdiri sehingga wajah pria tersebut menempel pada perut Nadhira bagian bawah.
Nadhira merasa tidak nyaman dengan pelukan tersebut, karena pelukan itu bukanlah yang ia cari cari, entah seperti apa yang ia cari saat ini, dan hal itu langsung membuat Nadhira melepaskan pelukannya dan segera berjalan menjauh dari orang tersebut.
"Dimana dia" Gumannya pelan.
Nadhira terus mencari pelukan seseorang yang membuat merasa nyaman akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya ditempat itu, dengan sempoyongan dirinya terus melangkah memutari tempat tersebut.
Nadhira terus berjalan entah kemana dengan sempoyongan, tanpa ia sadari bahwa saat ini dirinya tengah mendekat kearah dimana Theo berada, dan dirinya pun kembali menari nari dengan bahagianya bersama dengan Theo.
Karena terlalu bersemangat untuk menari hal itu membuat Theo hampir terjatuh diatas tanah akan tetapi sebelum dirinya terjatuh tanpa sengaja dia mengenai tubuh Nadhira, Nadhira yang tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya pun terjatuh dan keduanya pun terjatuh ditanah secara bersamaan dan seperti tumpang tindih, dengan Theo diatas.
Nadhira membuka kedua matanya dan menatap kearah Theo yang ada diatasnya, bukannya berteriak akan tetapi Nadhira langsung memeluknya, entah apa yang sedang ia lakukan dirinya pun tidak menyadari hal itu.
Theo pun tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengannya, ia pun mencoba untuk membuka pakaian Nadhira yang sedang berada dibawahnya saat ini, dan hampir menampakkan sebuah gunung kembar milik Nadhira, rasanya ia seperti ingin merampas harta berharga milik Nadhira tersebut.
"Kau sangat cantik Dhira" Puji Theo yang mabuk.
Salah satu tangan Theo pun hampir meraba bagian sensitif yang ada dibawah tersebut, Nadhira yang tidak sadarkan diri dan masih terpengaruh oleh minuman beralkohol tersebut pun tidak mengetahui dengan apa yang saat ini tengah terjadi kepadanya dan juga Theo.
Theo seakan akan tengah berusaha untuk merebut kehormatan Nadhira begitu saja, Theo sendiri tidak mengetahui sejak kapan dirinya tengah mabuk berat sehingga ia tidak tau apa yang saat ini sedang ia lakukan kepada Nadhira.
Sedikit demi sedikit resleting baju Nadhira perlahan lahan mulai terbuka, dengan tangan yang tidak bertenaga Nadhira mencoba untuk menjauhkan tangan yang hendak membuka bajunya tersebut.
Bhukk
Tiba tiba seseorang datang dan menendang tubuh Theo hingga terpental dengan berguling jauh dari Nadhira, sementara Nadhira masih tetap terbaring diatas rerumputan yang ada ditempat itu tanpa mengetahui apa yang saat ini tengah terjadi kepadanya itu.
"Dhira"
"Apa maumu kenapa kau menghalangiku?" Tanya Theo dengan marahnya.
Orang itu mengepalkan tangan dengan sangat eratnya seakan akan dia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Theo, Theo yang tengah mabuk pun langsung bangkit dari terbaringnya diatas tanah dan langsung menyerang kearah orang tersebut, dan orang orang yang tengah mabuk itu langsung membantunya untuk menyerang kearah orang itu.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun yang berani mencoba untuk melecehkan Nadhiraku begitu saja" Ucap orang itu yang tidak lain adalah Rifki.
"Siapa kau yang berani melawanku, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari tempat ini begitu saja, aku beritahu dirimu, aku lah pemimpin disini" Ucap Theo dengan sempoyongan karena mabuk.
"Emang aku peduli ha? Meskipun kau pemimpin seluruh dunia pun aku tidak takut denganmu, siapapun yang berani berniat melecehkan Nadhiraku harus berhadapan dengan diriku".
"Siapa kau? Kenapa kau menghalangiku? Aku akan menghancurkan dirimu nanti, cepat katakan siapa dirimu yang sebenarnya!".
"Bukan urusanmu! Jika kau ingin merebut harga diri Nadhira maka aku tidak akan membiarkan itu terjadi, siapapun itu harus berhadapan dengan diriku terlebih dulu".
Dengan langkah sempoyongan mereka mendekat kearah Rifki dan berusaha untuk menyerangnya secara bersama sama, dan Rifki pun langsung memasang kuda kuda untuk berniat membuat mereka bahak belur.
__ADS_1
Mereka menyerang kearah Rifki dengan sangat agresif sekali akan tetapi Rifki mampu mengalahkan mereka dengan mudah karena mereka yang belum sadarkan diri dengan sepenuhnya dari minuman yang telah mereka konsumsi sebelumnya.