
Rifki terbaring lemah sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri itu, bahkan dirinya berada di antara orang orang yang kekar dan tanpa luka ataupun lelah itu. Ia tidak bisa menghubungi anggota Gengcobra karena ponselnya hilang, bahkan anggota Gengcobra kesulitan untuk mencari posisinya saat ini karena dirinya seorang diri disana.
Sangat mudah bagi Sena untuk bisa mencelakai Rifki lantaran sama sekali tidak terhalang oleh anggota Gengcobra. Sekarang Sena merasa begitu memiliki kuasa atas nyawa Rifki, apalagi Rifki tengah terluka saat ini dan hal itu begitu mudah untuk bisa kehilangan nyawanya.
"Ya Allah, bantu aku." Rifki berucap pelan sambil menahan nyeri didadanya.
Rifki merasa dadanya terasa sesak, bahkan dirinya juga kesulitan untuk bisa bernafas dengan bebas. Rasanya udara di sekelilingnya begitu menipis lantaran terkena sebuah tekanan tinggi, dan itulah efek dari beberapa tendangan dan pukulan yang mengenai dadanya berulang ulang kali dengan kerasnya.
Bhummm...
Terdengar sebuah bunyi hantaman yang sangat keras, sangking kerasnya bunyi itu terdengar hingga Rifki dan yang lainnya pun mendengarnya. Mereka sangat terkejut dengan bunyi itu, meskipun hanya sekali akan tetapi sudah membuat mereka ketakutan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sena setelah mendengar bunyi itu.
"Kebakaran! Kebakaran!" Tak beberapa lama terdengar suara teriakan dari kejauhan.
Tak beberapa lama kemudian, para penduduk yang tinggal tidak jauh dari tempat itu saling berhamburan. Mereka bahkan tidak menyadari ada kejadian pengeroyokan ditempat itu, yang mereka pikirkan hanyalah keselamatannya.
Bukan tanpa sebab kebakaran itu terjadi, lebih tepatnya karena sebuah konsleting listrik yang berada disebuah rumah kos yang tidak jauh dari tempat itu. Lantaran tempatnya sangat berdekatan, sehingga hal itu sangat mudah bagi api untuk menyambar ketempat yang lainnya.
Para warga saling berhamburan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, bahkan banyak yang saling dorong mendorong untuk mendahului yang lainnya. Rifki memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari Sena, dia tidak akan bisa untuk menghadapi mereka semua dengan kondisinya yang seperti sekarang ini.
Para warga saling berdesakan hingga membuat Rifki sangat mudah untuk kabur, dirinya pun mencoba untuk berpegangan pada baju seorang lelaki yang berlari melewatinya. Rifki berpegangan sangat erat karena berusaha untuk bangkit dari duduknya, sementara Sena terlihat sangat kewalahan karena tubuhnya yang terus ditabrak oleh orang orang itu.
Sena beserta anak buahnya pun mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh, mereka pun tidak menyadari bahwa mereka kehilangan perhatiannya kepada Rifki. Rifki mengikuti segerombolan orang itu menuju ke tempat yang aman, meskipun dia tidak sanggup untuk berjalan lagi tapi dia terus berusaha untuk menyelamatkan diri dari Sena beserta anak buahnya.
Tumbuh tumbuhan yang kering pun ludes terbakar api yang besar itu, bahkan begitu banyak orang yang mengungsi lantaran rumah mereka yang telah diporak porandakan oleh si jago merah. Tibalah Rifki beserta para warga ditempat yang aman, dan semuanya terlihat sangat sedih atas kehilangan harta mereka bahkan sanak saudara yang masih tertinggal ditempat.
Rifki bersandar disebuah tembok yang cukup jauh dari kerumunan para warga dan memposisikan dirinya agar merasa nyaman ketika bersandar. Rifki menatap sekelilingnya yang penuh dengan orang orang, entah mengapa musibah seperti ini bisa terjadi tepat disaat dirinya membutuhkan bantuan.
Rintihan terdengar begitu menyiksa ditempat itu, bahkan tak seorangpun yang sanggup untuk menahan air mata mereka. Para relawan pun mencoba untuk memeriksa keadaan mereka, dan mengobati luka mereka akibat bencana itu.
"Mas, biar kami obati luka anda," Ucap seorang relawan yang melihat memar dan juga noda darah di wajah Rifki.
Rifki masih terlihat begitu muda, bahkan wajahnya yang seperti baby face pun membuat orang orang mengira bahwa usianya masih sekitar 25 tahunan. Rifki hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa menjawab ucapan dari lelaki yang ada didepannya.
"Sepertinya ini bukan karena luka bakar," Guman lelaki itu pelan akan tetapi masih tetap terdengar oleh Rifki yang memang jauh dari suara bising orang orang.
"Akibat benturan para warga yang berlarian," Jawab Rifki sambil menatap lekat kearah lelaki yang ada didepannya.
"Baiklah, kami obati dulu."
Lelaki tersebut pun mulai membersihkan bekas darah yang ada di wajah Rifki, bahkan wajah Rifki pun terlihat datar tanpa rasa sakit sedikit pun itu. Lelaki yang ada didepannya terlihat merasa curiga dengan luka Rifki, karena lukanya sangat parah bahkan ujung bibirnya terlihat sobek.
"Mas..." Ucap lelaki itu menggantung karena perkataan Rifki.
"Terlalu banyak tau, bisa memotong umurmu," Potong Rifki sambil menatap tajam kearah lelaki itu.
Rifki tau bahwa jawabannya sebelumnya itu tidak memuaskan bagi lelaki yang ada dihadapannya itu, sehingga ia mengira bahwa lelaki itu masih curiga kepadanya apalagi dengan tatapan yang diberikannya kepada Rifki. Mendengar ucapan Rifki, sontak langsung membuat lelaki tersebut terdiam seribu bahasa, bahkan dirinya tidak berani untuk berbicara.
"Sepertinya dia bukan orang biasa, aku nggak boleh sampai salah langkah apalagi menyinggungnya. Bisa bisa hidupku yang akan berakhir gegara aku salah langkah," Guman lelaki itu sambil menatap kearah Rifki.
"Keputusan yang bagus, jangan sampai menyinggungku," Ucap Rifki melihat kediaman dari lelaki yang ada didepannya.
"Anda bisa mendengar suara hatiku?" Tanya lelaki itu terkejut.
"Tidak. Lebih baik kau diam, dan lakukan tugasmu pada yang lainnya juga."
__ADS_1
Rifki sudah tidak lagi dapat mendengar suara hati seseorang karena keris pusaka xingsi tidak lagi ada bersamanya, akan tetapi dirinya masih bisa melihat hal hal gaib dan kemampuan lebih daripada yang lainnya mengenai alam gaib.
Rifki pun mencoba untuk bangkit dari duduknya ketika merasa bahwa tubuhnya sudah mendingan, bahkan dirinya berniat untuk pergi dari tempat itu, ia harus segera menemukan keberadaan dari Nadhira, dan dirinya tidak mau sampai kehilangan Nadhira untuk yang kedua kalinya.
"Anda mau kemana?" Tanya lelaki itu ketika melihat Rifki bangkit dari duduknya setelah dia selesai diobati.
"Mencari istriku." Jawab Rifki singkat.
"Tapi disana masih bahaya, Mas. Api belom juga bisa padam dan banyak reruntuhan bangunan yang belum dipastikan keamanannya."
Rifki menghela nafasnya dengan kasar, dirinya pun langsung menoleh kearah lelaki itu dan berkata, "Aku tidak berasal dari sana! Istriku juga tidak ada disana."
Setelah mengatakan hal itu, Rifki langsung bergegas pergi dari tempat tersebut karena ia tidak mau membuang waktunya dengan sia sia. Sedangkan lelaki tersebut hanya bisa terdiam tanpa banyak kata, apa mungkin dia menolong orang yang salah?
"Pria yang aneh," Gumannya pelan sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
*****
Setelah ditabrak oleh segerombolan para warga, Sena akhirnya bisa berdiri dengan benarnya dan tidak seperti sebelumnya yang terhoyor kesana kemari. Sena pun membenarkan rambutnya yang berantakan akibat segerombolan para warga itu, dengan kesalnya dirinya memaki karena rambut panjangnya yang berantakan.
"Sial! Mereka datang dari mana sih?" Umpatnya dengan sangat kesalnya.
"Sepertinya diujung sana ada kebakaran, Bos. Pantas saja mereka berlarian untuk berlindung," Ucap salah satu anak buah Sena yang ada didekat wanita itu.
Sena terlihat amat sangat kesal karena kecantikan rambutnya rusak begitu saja, dirinya pun mencoba untuk menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat santai. Dirinya pun menoleh kearah dimana ia melihat Rifki terakhir kalinya, dan kekesalan kembali muncul bahkan lebih besar ketika mendapati bahwa Rifki sudah tidak ada disana.
"Bangsaattttt!! Arghhhhh.... Kemana Rifki? Kenapa dia bisa kabur!" Bentaknya kepada seluruh anak buahnya.
"Sepertinya dia berhasil kabur, Bos."
Bhukkk...
"Aku tidak tanya soal dia kabur, Bod*h! Cepat cari dia sampai ketemu!"
"Baik Bos!" Seru seluruhnya dan langsung berhamburan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Kalian benar benar bod*h! Kenapa kalian semua meninggalkanku!" Teriaknya lagi dan membuat seluruhnya berhenti.
Sena benar benar murka saat ini, bahkan seluruhnya pun terkena amukannya tanpa terkecuali. Akhirnya beberapa anak buahnya tinggal ditempat itu bersama dengan Sena, jika mereka semua pergi meninggalkan Sena maka artinya tidak ada yang menjaga wanita itu.
*****
Rifki terus berlarian mencari keberadaan dari Nadhira, entah kemana dirinya harus mencari istrinya saat ini. Bahkan dia sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan dari Nadhira, entah mengapa tidak ada yang memberinya petunjuk apapun soal itu.
"Dhira, aku sudah tidak kuat. Maafkan aku,"
Seketika tubuhnya terhoyor hingga menabrak sebuah pohon, Rifki pun terbaring diatas rerumputan yang ada ditempat itu, tempat yang sangat terpencil. Rifki memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, bahkan rasanya dia sangat kesulitan untuk bernafas setelah berlari cukup lama.
Dibawah rimbunnya pepohonan, Rifki mencoba untuk menyandarkan tubuhnya dibatang pohon itu. Rifki mencoba untuk menyetabilkan pernafasannya yang memburu, bahkan kakinya terasa sangat lemas jika digunakan untuk berdiri walaupun sesaat.
Pandangan pun memburam bahkan dia tidak mampu melihat dengan jelas disekelilingnya itu, entah dia berada dimana saat ini akan tetapi tempat itu terasa begitu asing baginya. Perlahan lahan, Rifki mulai memejamkan kedua matanya dan pandangannya mendadak menjadi gelap.
"Selamanya, aku akan tetap mencintaimu Dhira ku."
Seluruh semesta terlihat sangat gelap baginya, bahkan suara suara binatang kecil pun tak lagi didengarnya, rasanya seluruhnya gelap nan sunyi tanpa ada suara apapun. Rifki pun jatuh tidak sadarkan diri ditempat itu, bahkan tubuhnya sampai roboh hingga terbaring tidak berdaya diatas rerumputan yang rimbun.
Sementara disatu sisi, Nadhira yang tidak sadarkan diri akibat obat bius, dia perlahan lahan menggerakkan jari telunjuknya. Di alam bawah sadarnya, Nadhira terlihat berlarian kesana kemari untuk mencari Rifki.
__ADS_1
Tanpa sengaja dirinya melihat seorang wanita yang dikenalnya, wanita itu menggunakan pakaian serba merah yang kerap menjadi identitasnya. Nadhira menghentikan langkahnya tepat didepan wanita itu, sementara wanita itu langsung tersenyum kearahnya.
"Dhira, akhirnya kita bertemu lagi," Ucap wanita itu.
"Nimas," Ucap Nadhira.
"Iya ini aku, Nimas. Di duniamu kita tidak bisa saling bersentuhan, tapi disini aku bisa memegangi kedua tanganmu," Nimas pun meraih tangan Nadhira dan menautkan tangannya dengan tangan Nadhira.
"Bukankah jiwamu sudah melebur waktu itu? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi disini. Aku sangat merindukanmu,"
"Jiwaku memang melebur. Tapi sekarang, aku adalah dirimu dan dirimu adalah aku. Jiwaku melebur menjadi satu denganmu, dan aku hanya bisa bertemu denganmu melalui mimpimu bukan di duniamu."
"Jadi kita adalah satu?"
"Iya. Aku datang hanya untuk mengatakan kepadamu, bangunlah, lawan obat bius itu. Selamatkan Rifki, jika terlambat kau akan kehilangannya untuk selamanya. Nyawanya diambang batas, jika sampai wanita jahat itu menemukannya mungkin kau tidak lagi memiliki kesempatan untuk bisa menyelamatkan dia,"
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Nimas? Bagaimana bisa aku bangun? Terus bagaimana caranya aku bisa menemukan keberadaan Rifki?"
"Kau harus bisa. Rifki berada dekat dengan tempat ini, hanya hatimu yang bisa membawamu untuk menemukannya,"
Di alam nyatanya, Nadhira tengah berusaha untuk bangkit meskipun itu sangat susah. Nadhira merasa bahwa seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, bahkan kedua matanya sangat sulit untuk dibuka. Akan tetapi, Nadhira sama sekali tidak mau menyerah begitu saja, ia harus berusaha demi Rifki.
Tidak akan ada yang bisa mengalahkan tekat manusia yang sudah bulat, bahkan dia akan mampu melakukan apapun demi satu tujuannya. Rasa sakit pun tidak akan mampu menghalanginya, bahkan mereka akan sanggup menahan jutaan rasa sakit demi tekatnya itu.
Sebuah keajaiban pun terjadi, Nadhira mampu untuk membuka kedua matanya meskipun belum mampu membukanya dengan lebar. Kepalanya terasa sangat pusing akibat obat bius itu, bahkan rasa pusingnya terlihat sangat menusuk di dalam kepalanya itu.
"Akh..." Pekiknya ketika memaksakan diri untuk bangkit dari tempat itu.
Nadhira terus berusaha untuk bangkit, meskipun kaki dan tangannya sangat sulit untuk digerakkan saat ini. Akan tetapi dia tidak menyerah begitu saja, bahkan rasa sakit itu tidaklah cukup untuk menghalangi langkah kakinya.
"Siapapun tidak akan bisa menghalangi jalanku," Ucapnya pelan sambil terus berusaha.
Nadhira berusaha untuk bangkit dan berjalan keluar dari goa itu, akan tetapi tubuhnya terus sempoyongan hingga dia beberapa kali menabrak dinding goa yang dimana dia berada. Bahkan bukan hanya itu saja, dia pun terjatuh duduk diatas tanah lantaran rasanya seperti seluruh dunia ini tengah bergetar dengan hebatnya.
Bukan Nadhira namanya jika menyerah begitu saja, meskipun beberapa kali terjatuh akan tetapi dia terus saja bangkit berdiri. Ketika dia jatuh lagi, dia akan bangkit dengan tenaga dua kali lipat yang dirinya bisa. Hingga akhirnya dia bisa sampai dipintu goa yang ada disana, ketika ia akan melangkah keluar, tiba tiba dua orang langsung menghadangnya.
"Siapa kalian?" Tanya Nadhira dengan terkejut.
"Sebaiknya anda kembali masuk ke dalam, atau kami akan menggunakan kekerasan," Ancam lelaki itu.
"Tidak. Aku tidak takut sama kalian berdua,"
"Anda masih lemah, bagaimana bisa menghadapi kami berdua? Jangan ambil resiko, jika tidak mau kehilangan nyawa."
"Emang kalian pikir aku takut? Aku sama sekali tidak takut jika harus kehilangan nyawa sekalipun itu. Siapapun yang menghalangi jalanku, jangan harap mereka bisa hidup."
"Keras kepala."
Lelaki itu langsung memegang tangan Nadhira dan hendak membawanya kembali masuk kedalam, akan tetapi dengan sigap Nadhira langsung melontarkan sebuah pukulan kepadanya. Karena lemahnya, pukulan itu dengan mudah ditangkis oleh lelaki tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers...
How are you to day? God willing, all right.
Setelah berabad abad Author tidak update, ada yang rindu kah dengan Author? Rasanya Author sangat rindu menulis, tapi keadaan yang membuat Author seperti ini. Tetap semangat, dan jangan menyerah.
__ADS_1
See you, jangan lupa dukungan dan selalu tungguin Author update, ya? Thanks for watching.