
Haris pun memegangi pundak Nadhira seraya untuk menguatkan wanita tersebut, tanpa Nadhira sadari bahwa Haris tengah mengembangkan senyuman yang sangat tipis ketika melihat Nadhira menangis karena takut kehilangan Rifki.
"Masih ada Papa, Mama, dan Ayu, yang akan menemanimu Nak, kau tidak akan sendirian lagi karena masih ada kami disini untukmu"
"Itu tidak akan cukup Pa, tanpa Rifki semuanya terasa hambar Pa, Dhira bahkan tidak bisa hidup tanpa Rifki yang selalu ada disamping Dhira, Dhira ngak mau dia pergi seperti ini Pa! Hiks.. hiks.. hiks.. Kembalikan Rifki kepadaku Pa, jangan ambil dia seperti ini"
Nadhira pun terlihat histeris ketika melihat Rifki yang sama sekali tidak bergerak itu, ia pun membenamkan wajahnya ditangan Rifki dan tangannya yang saling bertautan itu, ini hanyalah mimpi yang sama sekali tidak ia inginkan untuk terjadi.
"Rifki bangun! Kau tidak boleh pergi seperti ini, Rifki aku mohon bangunlah, jangan tinggalkan aku Rifki"
"Apa kau mau memaafkannya jika dia bangun?"
Mendengar suara itu langsung membuat Nadhira berhenti untuk berteriak histeris, seketika itu juga Nadhira langsung menghapus air matanya yang ada dipipinya, pandangannya seakan akan tengah menatap kekosongan yang ada didepannya.
"Suara ini" Nadhira sangat mengenali suara tersebut.
Nadhira pun menoleh kearah wajah Rifki yang masih memejamkan matanya, semilir angin lembut pun membuat rambut panjang Nadhira terurai dan diterpa angin, air matanya seakan akan berhenti menetes untuk sesaat karena wajah Rifki yang damai.
"Aku mendengar dia berbicara, dia tidak mungkin pergi meninggalkan diriku kan? Dia pasti bangun untuk menemuiku lagi kan"
Nadhira lalu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Rifki ketika mendengar suara itu, akan tetapi tiba tiba tangan Rifki mengenggam erat pergelangan tangan Nadhira dan langsung membuat Nadhira sontak begitu terkejut bukan main lantaran tangannya yang tiba tiba dipegangi oleh seseorang.
"Maukah kau memaafkanku Dhira?" Rifki lalu membuka kedua matanya dan bangkit dari tidurnya.
Pandangan Nadhira dan Rifki kini bertemu, kedua mata Nadhira nampak membengkak karena menangis sementara kedua mata Rifki terlihat penuh harap bahwa Nadhira akan memaafkannya, melihat Nadhira meneteskan air mata membuat Rifki ikut serta berkaca kaca.
Rifki sangat merindukan mata indah milik Nadhira, ada sebuah rindu yang telah terobati disana setelah melihat wajah Nadhira yang teramat sangat ia rindukan itu, senyum diwajah Rifki mengembang dengan cerahnya.
Melihat itu membuat seluruhnya hanya bisa berdiam diri dan menyaksikan hal yang dilakukan oleh Rifki saat ini, melihat keduanya saling bertatapan seperti itu membuat mereka pun merasa bahagia, karena selama perpisahan keduanya Rifki terlihat sangat murung dan bahkan tidak memiliki semangat untuk itu.
"Seharusnya kita abadikan momen ini Ren" Bisik Vano kepada teman rasa saudaranya itu.
"Kau benar besti, kapan lagi ada momen romansa seperti ini, melihatnya membuatku ingin segera menikah tapi apalah daya jodohku belum datang" Sahut Fajar yang mendengarnya.
"Mangkanya cari dong"
"Ngak nyadar diri, entah kenapa anggota Gengcobra rata rata semua pada jomblo ya? Paling yang sudah nikah pun pada keluar dan sebagian yang nikah bisa dihitung dengan jari"
"Husstttttt, jangan rame" Ucap Reno dengan menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya untuk menghentikan keramean mereka.
Cowok itu memang selalu tegas, sehingga sekali berucap saja seluruhnya langsung berdiam diri karena takut untuk bersuara disaat seperti ini, akan tetapi ketika sedang berkumpul untuk bercanda mereka akan terlihat seperti saudara.
Air mata Nadhira pun menetes karena dirinya merasa dibohongi oleh Rifki, sementara Rifki nampak terlihat begitu berharap bahwa Nadhira akan memaafkannya untuk kali ini.
"Dhira, aku merindukanmu" Ucap Rifki lirih dan bahkan tidak terdengar.
"Kau menipuku Rif? Kau sangat jahat kepadaku Rif, kenapa kau lakukan ini? Apa kau tidak puas melihatku menangis hanya karenamu? Apa kau ingin melukai hatiku Rif, kau tega kepadaku, kenapa kau berbohong seperti ini kepadaku Rif? Kau jahat" Nadhira tidak habis pikir kenapa Rifki melakukan ini kepadanya.
"Maafkan aku Dhira, aku tidak punya cara lain selain ini, hanya ini yang bisa aku lakukan"
"Kau jahat Rif, aku membencimu hiks.. hiks.. hiks.."
"Dhira, maafkan aku, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu, aku mohon maafkan aku"
"Aku tidak butuh penjelasanmu lagi Rif, lepaskan tanganku! Kau tega membohongiku Rif, aku benci denganmu" Nadhira pun mencoba untuk melepaskan pegangan tangan Rifki dari tangannya.
Rifki memegangi kedua tangan Nadhira dengan sangat erat, ia tidak mau melepaskan tangan tersebut, Rifki tidak ingin kehilangan Nadhira lagi, sementara Nadhira terus memberontak untuk meminta dilepaskan oleh Rifki.
"Dhira dengarkan aku sekali saja"
"Lepaskan aku Rif! Aku tidak butuh penjelasanmu lagi, aku benar benar kecewa dengan dirimu"
"Aku bisa jelaskan semuanya kepadamu Dhira, maafkan aku, aku memiliki alasan lain untuk ini, dengarkan aku sekali saja Dhira, aku akan jelaskan semuanya kepadamu"
"Aku ngak butuh penjelasanmu Rif, aku membencimu hiks.. hiks.. hiks.. kau telah membohongiku, hatiku terasa sangat sakit, kau tidak tau perasaanku dan bagaimana khawatirnya aku dengan dirimu"
"Maafkan aku Dhira, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu Dhira, dengarkan penjelasanku Dhira, aku mohon kepadamu"
__ADS_1
"Kau tau bertapa sakitnya hatiku mendengar ini? Kau sama sekali tidak mempedulikan perasaanku Rif, kau jahat, kau tega kepadaku"
"Apa kau masih mencintaiku Dhira? Kenapa kau menangis disaat mendengar bahwa aku tiada?"
"Kau pikir sendiri, lepaskan tanganku sekarang juga! Kau jahat kepadaku Rif, kau jahat"
"Ngak akan, aku ngak akan pernah melepaskan dirimu Dhira, sampai kapanpun itu aku tidak akan pernah melepaskan dirimu, hanya kamu yang aku cintai didalam hidupku Dhira, kau lah cinta terakhir dalam hidupku"
"Lepaskan aku! Kau telah membohongiku Rif"
Nadhira pun memukuli tangan Rifki agar dia melepaskan tangannya itu, meskipun sampai memerah akan tetapi Rifki sama sekali tidak mau melepaskan tangan Nadhira, akhirnya Nadhira pun memukuli dada Rifki dan memaksa untuk Rifki melepaskan pegangan tangannya.
"Lepaskan aku Rif! Aku benci, aku membencimu Rif"
"Ngak mau, aku ngak akan melepaskanmu, aku ngak mau kehilanganmu Dhira, aku ngak mau"
Rifki pun menarik tubuh Nadhira untuk masuk kedalam pelukannya itu, ia memeluk erat tubuh Nadhira sementara Nadhira terus memberontak untuk meminta dilepaskan, ia merasa sangat kecewa dengan Rifki saat ini, ia pun beberapa kali memukul dada Rifki agar Rifki segera melepaskannya.
Akan tetapi hal itu sama sekali tidak cukup untuk bisa membuat Rifki melepaskan pelukannya itu, karena semakin erat Rifki memeluknya membuat Nadhira langsung memukul punggungnya dengan sangat keras tanpa berpikir lebih panjang lagi.
"Akh..." Pekik Rifki dan tiba tiba pelukan itu melonggar karena Nadhira memukul bekas luka jahitannya begitu sangat erat.
Nadhira sama sekali tidak menyia nyiakan kesempatan untuk melepaskan diri dari pelukan Rifki, ia lalu bangkit dan berlari masuk kedalam rumah tersebut meninggal Rifki.
"Dhira jangan tinggalkan aku!" Teriak Rifki.
Dengan rasa sakit itu, Rifki langsung bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan rasa sakitnya itu untuk mengejar Nadhira yang masuk kedalam rumah tersebut, Nadhira dan Rifki kini berada dalam kejar kejaran masuk kedalam rumah itu.
"Dhira, dengarkan aku dulu, jangan tinggalkan aku seperti ini Dhira, aku mohon"
"Aku ngak mau bertemu denganmu lagi Rif, kau sudah mempermainkan perasaanku"
"Dhira, aku bisa jelaskan kepadamu"
"Aku ngak butuh penjelasanmu"
Nadhira masuk kedalam kamar Rifki dan hendak mengunci kamar tersebut, ketika hendak ditutup jari jari Rifki memegangi ujung pintu tersebut hingga jari jarinya terhimpit oleh pintu itu, Nadhira mencoba untuk menutupnya dengan susah payah tanpa melihat bahwa jari jari Rifki sudah memerah.
Mendengar Rifki memekik kesakitan membuat Nadhira langsung menoleh kearah jari Rifki yang menjadi penghalang pintu tersebut untuk tertutup dengan rapatnya itu.
"Apa yang kau lakukan Rif, tanganmu bisa terluka" Nadhira baru menyadari bahwa ada jari Rifki yang menghalangi pintu tersebut setelah dia berusaha untuk bisa menutup pintunya.
"Dengarkan aku sekali saja Dhira, aku hanya ingin bertemu denganmu, jangan tutup pintunya"
"Aku ngak mau lagi mendengarkan penjelasanmu Rif, pergilah dari sini, aku ngak mau bertemu denganmu"
"Biarkan aku masuk Dhira, biarkan aku menjelaskan semuanya kepadamu, aku mohon jangan seperti ini kepadaku Dhira"
"Pergilah, aku ngak mau bertemu denganmu"
"Aku ngak mau pergi dari sini Dhira, tolong jangan usir aku dari sini"
"Pergi atau ku patahkan jari jarimu itu"
"Jika itu yang membuatmu senang maka lakukan saja Dhira, apapun yang kamu mau lakukan kepadaku itu, aku ngak apa apa kok, aku hanya minta satu hal kepadamu, tolong jangan usir aku, dengarkan aku sekali ini saja, aku mohon"
"Aku ngak butuh penjelasanmu lagi Rif, biarkan aku sendiri dan jangan pernah mengangguku"
"Aku melakukan ini karena atas permintaan dari Papa, dan semua ini juga rencana anggota inti Gengcobra Dhira, aku tidak bisa menemuimu karena aku tidak mau membuatmu khawatir Dhira, aku mohon jangan lakukan ini kepadaku Dhira, biarkan aku masuk, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu"
Mendengar itu membuat Nadhira perlahan lahan berjalan menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya diatas kasur, ia membiarkan Rifki untuk masuk kedalam kamarnya itu, dengan perlahan lahan Rifki mulai membuka pintu kamar tersebut dan menutupnya dari dalam.
"Makasih Dhira" Ucap Rifki.
Ketika Rifki masuk kedalam kamar tersebut mendadak lukanya semakin sakit dan hal itu membuatnya langsung terduduk dilantai dan bersandarkan pada tembok yang ada disebelah pintu kamarnya itu.
Rifki nampak memejamkan kedua matanya dan seperti sedang kesakitan, ia pun merabah rabah bajunya untuk mencari obat pereda rasa sakit tersebut akan tetapi dirinya tidak menemukannya.
__ADS_1
"Obatku mana, aku tadi menaruhnya disini, kenapa sekarang tidak ada"
Rifki nampak panik dan terus merogoh saku baju dan celananya untuk mencari obat pereda rasa nyeri itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak kunjung menemukan obat yang dirinya maksud itu, ia pun menggenggam erat ujung bajunya karena rasa sakit yang ia rasakan tiba tiba itu.
"Akh.. kenapa tiba tiba nyerinya semakin parah seperti ini sih" Guman Rifki.
Setelah sekian lama mencari obat tersebut, akhirnya dirinya menemukan obat yang ia maksud dilantai yang berada tidak jauh darinya, ia langsung mengambil obat tersebut dan menggenggamnya dengan erat.
"Dhira, tolong ambilkan minum"
Suara Rifki terdengar seperti menahan rasa sakit yang mendalam dan hal itu langsung membuat Nadhira bangkit dari tidurnya, melihat Rifki yang terduduk dilantai sambil bersandar ditembok membuat Nadhira segera bangkit berdiri dan mengambil segelas air yang ada dinakas.
"Dhira, tolong"
"Kamu kenapa Rif? Apa yang terjadi dengan dirimu Rif?" Tanya Nadhira sambil menyerahkan segelas air kepada Rifki.
Tanpa menjawab pertanyaan Nadhira itu, Rifki lalu mengambil segelas air minum yang ada ditangan Nadhira, ia langsung membuka kemasan obat tersebut dan memasukkannya kedalam mulutnya bersamaan dengan air yang ada digelas itu.
Rifki merasa lega setelah meminumnya, ia pun memejamkan kedua matanya yang terasa pusing saat ini, sementara Nadhira langsung mengambil gelas yang dipegang oleh Rifki dan menaruhnya diatas meja yang ada didekatnya.
"Kamu sakit apa Rif? Kamu kenapa?" Tanya Nadhira panik sambil memegangi kedua pundak Rifki dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Ngak apa apa kok Dhira, memang sudah waktunya sakit, sekarang udah ngak sakit lagi kok, makasih ya udah ngambilin minum untukku"
"Apa yang terjadi denganmu Rif?" Air mata Nadhira pun menetes.
"Aku ngak apa apa, kamu jangan nangis ya"
"Kenapa kamu minum obat ini? Katakan kepadaku, kenapa?" Nadhira pun memegangi pipi Rifki dengan kedua tangannya itu, "Tubuhmu dingin sekali Rif, kamu kenapa? Katakan, jangan membuatku semakin cemas seperti ini".
"Hanya nyeri saja kok, tapi beneran udah ngak apa apa sekarang ini, kamu jangan khawatir seperti itu ya, aku ngak apa apa kok, jangan sedih"
"Aku takut"
"Maafkan aku, aku tidak mau membuatmu cemas hanya karena diriku selama ini Dhira, aku tau hari harimu begitu berat karena telah kehilangan anak kita dan aku tidak mau membuatmu semakin terbebani hanya karena diriku, aku salah kepadamu dan aku berhak menerima hukuman ini darimu"
"Kau sakit apa? Kenapa tidak mengatakannya lebih awal kepadaku Rif? Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku? Apa kau sama sekali tidak menganggapku ada?"
"Punggungku sakit, aku tidak berani mengatakan itu kepadamu, kau masih sangat marah kepadaku Dhira, aku tidak mau membuatmu semakin bersedih jika mengetahuinya, Papa menyuruhku untuk istirahat total agar segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya, aku sama sekali tidak mengetahui rencananya itu Dhira, aku serius"
"Jadi kau merahasiakan semua ini dariku? Apakah aku sudah tidak berarti bagimu Rif? Sehingga kau sama sekali tidak mau memberitahuku"
"Maafin aku Dhira, aku telah jahat kepadamu dan aku telah membuatmu menangis, maafin aku ya, aku melakukan ini hanya karena aku tidak ingin membuatmu khawatir soal diriku"
"Kau jahat Rif, kau merahasiakan hal sebesar ini dariku, kau sama sekali tidak adil kepadaku" Air mata Nadhira nampak mengucur deras.
"Maafkan aku Dhira, aku salah"
"Kau jahat!"
Nadhira pun langsung bangkit dari duduknya dan menuju kekasurnya itu, ia meninggalkan Rifki yang masih terduduk dilantai itu dengan menahan rasa sakitnya saat ini, perasaannya saat ini terasa begitu campur aduk menjadi satu, ia tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini.
Rifki pun memejamkan matanya menikmati rasa sakit itu, bibirnya terbuka dan tetutup akan tetapi tidak ada kata kata yang keluar dari dalam mulutnya itu, ia pun mencoba untuk menetralkan kembali pernafasannya yang memburu itu, tubuhnya berkeringat dingin dan bahkan terasa begitu dingin.
"Maafkan aku Dhira, aku salah karena merahasiakan ini semua darimu, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk aku dapat merubah segalanya, beri aku kesempatan untuk yang kedua kalinya, jika aku gagal lagi lebih baik aku mati ditanganmu"
Rifki memegangi ujung bajunya serasa menahan rasa perih itu, ia memandangi kearah Nadhira yang tengah terbaring diatas kasurnya sambil menutup dirinya dengan sebuah selimut, akan tetapi dibalik selimut itu Nadhira tengah menangis, ia tidak tega melihat Rifki yang kesakitan seperti itu.
"Kau merahasiakan semuanya dariku Rif, apakah aku tidak berarti bagimu? Selama ini kau anggap aku sebagai apa Rif" Guman Nadhira pelan dengan bibir mengigit bibirnya agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Rifki.
"Dhira, aku benar benar minta maaf kepadamu, beri aku kesempatan untuk kedua kalinya agar aku bisa memperbaiki semuanya, maafkan aku Dhira"
"Apakah aku sudah tidak berarti bagimu Rif? Sehingga kau menyembunyikan semuanya dariku"
"Aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu Dhira, aku hanya tidak mau menambah bebanmu, sudah cukup dirimu sedih atas kehilangan anak kita, aku tidak mau membuatmu semakin sedih dengan keadaanku ini"
"Aku ngak mau ngomong sama dirimu lagi"
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak peduli lagi denganku lagi Dhira? Maafin aku"
"Ngak"