
Aryabima segera menarik tangan Rifki untuk menjauh dari kedua orang tuanya, tangisan kencang dari Rifki itu pun membuat hati mereka tersayat sayat, diusia yang masih 3 tahun dirinya sudah dipisahkan dari kedua orang tuanya dan tanpa kasih sayang dari mereka semua.
"Rifki mau pulang Kek, Rifki ngak mau ikut sama Kakek, Rifki mau pulang" Rengek Rifki didalam mobil.
"Disana nanti kamu akan memiliki banyak teman Nak, setiap hari akan tinggal bersama sama dengan mereka nanti" Jelas Aryabima.
"Beneran Kek? Apakah tempatnya ada permainannya Kek? Apa tempatnya juga besar seperti rumah Rifki?"
"Banyak sekali mainan disana, kamu pasti akan suka nantinya, beneran Kakek tidak berbohong"
Setelah mendengar penjelasan dari Aryabima, Rifki mulai berhenti untuk menangis dan merengek, Rifki pun memandangi jalanan yang ia lewati, dan tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampailah ditempat Surya Jayantara.
Aryabima langsung menyuruhnya untuk turun dari mobil tersebut, Rifki sangat ragu untuk melangkahkan kakinya turun dari mobil karena tempat itu cukup asing baginya, akan tetapi Aryabima menarik tangannya untuk masuk kedalam tempat itu.
"Tuan Besar, siapa anak ini?" Tanya Hendra ketika melihat Aryabima menarik tangan Rifki.
"Dia adalah penerus perusahaan Abriyanta Groub, dan keturunanku"
"Jadi anak ini adalah Tuan Muda Rifki? Imut sekali sih Nak wajahmu itu"
Hendra yang tidak pernah melihat wajah Rifki pun merasa kagum dengan Rifki kecil, dirinya belom pernah bertemu sebelumnya sehingga yang ia dengar hanyalah namanya saja, ia mengenal nama dari Rifki akan tetap tidak dengan wajahnya.
Hendra merasa kagum dan bangga dengan Rifki yang saat ini sedang bersembunyi dibalik tubuh Aryabima, ini adalah pertama kalinya dirinya datang ketempat seperti itu sehingga membuatnya merasa sangat tidak nyaman berada disana.
"Mulai sekarang dia akan tinggal disini, dengan anak anak yang lainnya, tolong jaga dia, dan jangan pernah berikan dia fasilitas apapun itu apalagi membedakan perlakuan kalian dengan anak yang lainnya, biarkan dia berusaha dengan sendirinya, jika sampai kalian melakukan itu kalian akan aku keluarkan dari Surya Jayantara ini"
"Tapi Tuan Besar dia adalah penerus anda, lalu bagaimana mungkin kami bisa melakukan itu kepada Tuan Muda"
"Selama disini, dia bukan siapa siapa untuk kalian takuti, kalian tidak perlu menghormati dia, kalo dia salah kalian berhak untuk menghukumnya tapi jangan terlalu keras, hukum sepantasnya saja sesuai dengan umurnya sampai dia benar benar jerah, selama berada didalam tidak perlu mengawasinya begitu dekat, dan jangan biarkan dia keluar dari Surya Jayantara atau kalian akan aku hukum"
"Baik Tuan Besar kami akan melaksanakan tugas dengan baik, kami akan menjaga Tuan Muda Rifki dengan baik disini"
"Oh iya sekali lagi, jangan biarkan siapapun menemuinya begitupun dengan kedua orang tuanya, aku tidak ingin ada seorangpun yang datang untuk bertemu dengannya, dia tidak boleh ditemui oleh siapapun itu, jika kedua orang tuanya memaksa untuk masuk maka kalian berhak untuk mengusirnya".
"Bukankah itu sangat berat bagi Tuan Muda? Apalagi diusianya seperti ini tidak bertemu dengan kedua orang tuanya itu hal yang sangat berat, bagaimana mungkin Tuan Muda bisa melewatinya?"
"Dia bukan anak biasa, dia mengemban tanggung jawab yang besar, aku tidak ingin kedatangan orang tuanya nantinya akan membuat anak itu menjadi manja, aku tidak suka"
"Tapi Tuan Muda akan membenci anda nantinya, dia akan berpikir bahwa kalian sudah tidak peduli lagi dengan dirinya, bukankah itu tidak bagus untuk masa depannya nanti?"
"Dia harus belajar mandiri sejak kecil, karena tugas yang harus ia pikul sangat besar nantinya, banyak anak yang tidak memiliki orang tua disini, aku harap Rifki akan tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana untuk mengambil setiap tindakan, dan dia bisa menghargai setiap manusia tanpa membedakan status dan kedudukan, dia harus belajar untuk menghormati mereka dan apapun kedudukannya itu agar dia mampu menjadi pemimpin yang baik, jika nantinya aku yang dibenci olehnya, itu tidak masalah karena aku telah melaksanakan tugasku"
"Tujuan anda sangat mulia Tuan Besar, dengan memperkenalkan dunia kepada Tuan Muda Rifki, aku merasa sangat yakin bahwa dia akan tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana, adil, dan penuh dengan kasih sayang sesama manusia, dan bahkan dia akan menganggap mereka adalah saudara"
"Baguslah jika kau mengerti tujuanku, aku serahkan Rifki kepadamu, dan jangan panggil dia Tuan Muda lagi, panggil sana dia Rifki"
"Baik Tuan Besar"
Rifki yang sejak tadi bersembunyi dibalik tubuh Aryabima pun melirik sekitarnya untuk mencari mainan yang dimaksud oleh Kakeknya itu akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan apa apa disana, ia pun tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang itu dan hanya fokus untuk menatap area sekitarnya saja.
"Kakek, disini ngak ada mainan, Kakek bilang disini banyak mainan tapikan ngak ada mainan" Ucap Rifki yang fokus menatap sekitarnya.
"Kau belum melihatnya Nak, masuklah bersama Paman Hendra, nanti kau akan senang" Ucap Aryabima seraya menarik tubuh Rifki kedepannya.
"Beneran Kek?"
"Beneran, masuk saja"
"Kakek tunggu disini ya? Rifki mau melihatnya, paman ayo aku pengen mainan"
Rifki pun menarik narik tangan Hendra untuk masuk kedalam bangunan Surya Jayantara itu, melihat itu membuat Aryabima langsung melambaikan tangan kepada cucu satu satunya itu, dari sanalah penderita Rifki bermula.
__ADS_1
Didalam sana banyak sekali anak anak yang tidak memiliki orang tua, Rifki selalu menyendiri dan kesepian apalagi untuk tidur saja dirinya hanya beralaskan tikar dan kasur lantai yang tipis, awalnya dirinya tidak bisa tidur karena biasanya Putri akan menidurkan dirinya terlebih dulu.
Beberapa hari disana membuat Rifki terus begadang karena tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia sering menatap kearah teman teman sekamarnya yang mampu tidur dengan nyenyaknya, entah kenapa mereka bisa tertidur seperti itu sementara dirinya sendiri tidak bisa.
"Mama, aku ingin pulang, Rifki tidak suka ditempat ini, tolong jemput Rifki sekarang" Rengek Rifki meminta untuk membawanya pulang.
Disana Hendra benar benar memperlakukan Rifki seperti dirinya memperlakukan anak anak yang lainnya, tanpa fasilitas, tanpa tutur kata yang lembut, dan juga dia benar benar menghukum Rifki ketika dirinya salah.
Berulang ulang kali Putri mencoba untuk mendatangi Rifki akan tetapi selalu dicegah oleh Hendra, ia hanya bisa menyaksikan sosok Rifki dari kejauhan, berulang ulang kali Rifki terjatuh dari berlarinya akan tetapi Rifki tetap bangkit tanpa meminta bantuan, Putri yang menyaksikan itu hanya bisa meneteskan air mata karena tidak tega menyaksikan kejadian itu.
"Biarkan aku bertemu dengan anakku sebentar saja Pak" Ucap Putri memohon.
"Tidak bisa Nyonya, tidak ada yang boleh menemui Rifki sesuai dengan perintah Tuan Besar, sebaiknya Nyonya kembali kerumah saja"
"Tapi Pak, dia anakku kenapa aku tidak boleh menemuinya"
"Saya hanya menjalankan perintah Nyonya, maafkan saya karena harus menyuruh Nyonya untuk pergi dari sini sekarang juga"
Putri pun akhirnya menyerah karena tidak diizinkan sama sekali untuk menemui anaknya itu, semakin dia meminta untuk masuk dan hal itu membuat Hendra semakin mengusirnya dari tempat itu karena dia hanya menjalankan perintah dari Aryabima.
Rifki merasa sangat kesepian, dirinya tidak tau lagi harus berbuat apa ditempat itu, ia merasa sangat marah dengan Kakeknya yang meninggal dirinya sendiri disana, ketika dirinya kembali untuk menemui Aryabima ternyata Aryabima sudah tidak ada disana untuk menunggunya.
Rifki pun mencari keseluruh area itu akan tetapi dirinya tidak menemukan Aryabima juga, ia pun menunggu disebuah tempat duduk yang berada tidak jauh dari gerbang utama untuk menunggu kedatangan Aryabima untuk menjemputnya akan tetapi sampai sekarang dirinya belom dijemput juga.
"Mama Rifki ingin pulang" Rifki membenamkan wajahnya dikedua kakinya yang kini tengah terduduk disebuah pojokan bangunan itu.
"Hai, kenapa kamu menangis disini?" Tiba tiba seorang anak lelaki berusia sekitar 9 tahunan datang mendekat kearah Rifki yang tengah membenamkan wajahnya dibalik kedua lututnya.
"Aku ingin pulang" Tangis Rifki pecah.
"Kamu dulunya tinggal dimana?"
"Kenapa bisa berada disini? Apa kamu dibuang oleh mereka?"
"Dibuang? Mama sama Papa tidak mungkin membuangku disini, Kakekku yang mengajakku kemari tapi sampe sekarang dia ngak menjemputku, apa mungkin Kakek lupa dengan diriku? Kakek jahat! Aku benci dengan Kakek"
"Jangan membenci keluarga seperti itu teman, apa kamu telah melakukan sebuah kesalahan? Sampai sampai ditinggalkan ditempat seperti ini?"
"Aku selalu membuat Mama sama Papa marah, maafkan Rifki Mama hiks.. hiks.. hiks.. Rifki janji tidak akan nakal lagi, tolong jemput Rifki" Tangis Rifki pecah seketika.
"Sudah jangan nangis lagi, ini rumah kita sekarang, jangan nangis ya, aku mau kok berteman denganmu, mulai sekarang kita berteman biar kamu tidak sendirian lagi"
"Beneran? Aku ngak punya temen disini, kamu mau berteman denganku?" Rifki menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
"Sekarang sudah punya, aku mau kok berteman denganmu meskipun umur kita berbeda jauh, kenalin nama aku Reno, kalo kamu siapa?"
"Namaku Rifki"
"Nama yang bagus, mulai sekarang jangan sedih lagi, kita adalah keluarga disini, sesama keluarga tidak boleh saling menyakiti satu sama lain"
"Terima kasih ya Kak Reno"
"Iya sama sama, oh iya aku juga punya temen loh namanya Vano, kau mau berkenalan dengannya juga? Nanti aku kenalin deh ke kamu"
"Iya aku mau"
"Nanti kalo sudah bertemu dengan keluargamu, jangan lupa minta maaf ya, mereka melakukan ini pasti demi kebaikanmu sendiri"
"Kamu tidak ingin bertemu dengan orang tuamu juga? Apa mereka juga membuangmu disini?"
"Orang tuaku sudah lama meninggal, aku tidak punya siapa siapa lagi"
__ADS_1
"Maaf ya, telah mengingatkan dirimu" Rifki merasa bersalah ketika Reno mengatakan hal itu kepadanya.
"Kamu ngak salah, ini memang sudah menjadi takdir, selagi mereka masih ada tolong bahagiakan mereka, kalo sudah tiada kita tidak akan bisa membahagiakan mereka lagi"
"Iya Kak, Rifki janji tidak akan nakal lagi"
"Bagus, kau memang temanku yang baik"
Sejak saat itulah pertemuan antara Rifki dengan Reno dan Vano terjadi, hal itu membuat Rifki merasa nyaman berada didalam Surya Jayantara, mereka pun sering bermain bersama dan melalui hari hari mereka dengan bahagia.
Tanpa terasa bahwa sudah setahun lebih Rifki berada didalam Surya Jayantara itu, kini saatnya Aryabima untuk menjemput cucunya itu, Aryabima pun datang ke tempat Surya Jayantara dan langsung disambut oleh Rifki dengan sebuah pelukan.
"Kakek, Rifki kangen" Ucap Rifki.
"Eh, bagaimana kabar cucu Kakek ini" Ucap Aryabima seraya berlutut didepan Rifki untuk mensejajarkan tinggi badan Rifki.
"Rifki senang disini Kek, banyak temen dan juga mereka baik baik Kek, Rifki selalu diajakin main bersama sama, tapi mereka bilang mereka sudah tidak punya orang tua, kasihan sekali kan Kek, Paman juga galak Rifki sering diomeli olehnya"
"Syukurlah kalo kamu suka disini, ingat satu hal pesan Kakek, Rifki harus menjadi pemuda yang baik suatu saat nanti, seperti kamu disini dengan mereka yang tidak pernah membeda bedakan, nanti kalo sudah besar kamu harus seperti itu tanpa membeda bedakan ya"
"Siap Kek, kenapa Kakek tidak pernah mendatangi Rifki disini? Rifki sangat rindu, sebenarnya Rifki marah sama Kakek sama Mama sama Papa yang membawa Rifki ketempat ini, tapi temen temenku mengatakan kalo Rifki tidak boleh marah sama kalian karena kalian sayang Rifki kan?"
"Mereka benar Nak, kami sangat menyayangimu, Kakek membawamu kemari ada tujuan tertentu yang akan kau pahami ketika dewasa nanti"
"Dewasa membingungkan ya Kek, apa apa harus nunggu Rifki dewasa"
"Iya harus, disaat itu Rifki sudah menjadi kuat, dan bisa mengatasi semua masalah"
"Rifki ingin cepat cepat dewasa Kek"
"Makan yang banyak biar cepat dewasa, oh iya Kakek mau memberitahu Rifki kalo sebentar lagi Rifki akan masuk sekolah"
"Rifki sekolah Kek? Asikkk... Rifki akan pergi sekolah"
Rifki terlalu bersemangat ketika Aryabima memberitahukan bahwa dirinya akan masuk sekolah, Aryabima pun mengajak Rifki untuk pergi dari tempat itu, Rifki sebenarnya sangat berat untuk meninggalkan teman temannya yang ada disana, akan tetapi Aryabima terus mengatakan bahwa mereka akan bertemu kembali suatu saat nanti.
Aryabima membawa Rifki masuk kedalam markas Gengcobra, Rifki merasa bingung kenapa Aryabima justru membawanya ke tempat yang asing lagi, pahala sebelumnya dirinya berpikir bahwa Aryabima akan membawanya pulang.
"Kakek, dimana ini? Kenapa bangunannya sangat menakutkan, Rifki mau pulang, Rifki mau bersama Papa sama Mama" Ucap Rifki yang melihat ke sekeliling markas tersebut yang dijaga oleh orang orang yang terlihat gagah dan menakutkan.
"Kakek tinggal disini, Rifki juga harus tinggal disini bersama dengan Kakek, Rifki akan berlatih beladiri dibawa bimbingan Kakek mulai saat ini"
"Beladiri? Apa itu Kek?"
"Untuk melindungi diri dari orang orang jahat"
"Apa beladiri itu kayak yang dilakukan oleh ultraman? Apa Rifki harus belajar beladiri juga? Tapi Rifki masih kecil" Rifki memandangi telapak tangannya yang berukuran sangat kecil itu.
"Lebih mudah belajar beladiri diusia dini seperti ini Nak, tubuhmu masih lentur, kalo sudah besar malah jadi kaku nantinya"
"Baiklah, Rifki mau ikut latihan Kek, Rifki ingin hebat seperti ultraman, boboiboy, dan banyak lagi"
"Jangan pernah mengeluh"
"Rifki ngak ngeluh kok Kek, Rifki kan anak kuat"
Mulai detik itu, Rifki berlatih sangat keras dibawah bimbingan dari Aryabima, beberapa kali dirinya mengeluh akan tetapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Aryabima dan justru dirinya akan mendapatkan hukuman kalau mengeluh.
Diusianya yang menginjak 4 tahun sudah diajari beladiri oleh Aryabima, tidak heran jika suatu saat nanti dirinya akan dipanggil sebagai pelatih muda, karena hanya dirinya yang mampu mengalahkan orang dewasa sekalipun meskipun usianya yang dibilang masih kecil itu.
Dipagi harinya Rifki akan pergi bersekolah disekolah TK, siang harinya saatnya dia akan tidur siang untuk memulihkan tenaganya, disore hatinya digunakan untuk belajar materi yang telah diajarkan oleh gurunya kepada dirinya itu, dan malam harinya dirinya akan belajar beladiri bersama dengan Aryabima sampai pukul 8 malam.
__ADS_1