
Air matanya kini seakan akan ingin menetes ketika melihat nama 'Abriyanta Groub' yang terpapang sangat jelas disana. Apalagi anggota Gengcobra yang berkeliling ditempat itu, seakan akan tengah memastikan keamanan dari anak pemilik perusahaan besar tersebut.
"Apakah pesta ini diadakan olehnya? Kenapa harus ada nama Abriyanta Groub di sini? Mungkinkah Rifki yang membuat pesta ini, pantas saja ada anggota Gengcobra di sini," Guman Ana pelan sambil menatap ke arah banner itu.
Gumanannya itu tidak dapat didengar oleh keduanya karena ramainya tempat itu, akan tetapi gumanan nanya itu terasa begitu sangat menyayat hatinya. Bagaimana bisa Rifki menghianatinya? Sementara dirinya terus menjaga hati untuk Rifki.
Ketakutannya itu seakan akan terjadi saat ini, dirinya takut bahwa Rifki akan menikah dengan wanita lainnya ketika dirinya pergi. Bahkan dirinya tidak rela, Rifki disentuh oleh wanita lain, akan tetapi dirinya juga tidak bisa kembali bersamanya saat ini karena demi keselamatan dari anak dan suaminya itu.
Ana tidak tahu bahwa permata itu sudah lenyap di saat dirinya masih mengandung Kinara, bahkan bayang bayangan tentang kematian orang-orang yang ada di sekitarnya terus menghantuinya. 11 tahun dirinya hidup dengan rasa penuh ketakutan di setiap saat, takut bawa anaknya kenapa napa ataupun Rifki kenapa napa.
Dirinya menatap nanar ke arah sebuah banner yang berada tidak jauh darinya itu, perasaannya semakin berkecamuk ketika melihat adanya anggota Gengcobra yang berkeliling ditempat itu. Perasaan cemburu pun hadir didalam hatinya, dirinya bahkan tidak bisa berpikir dengan jernihnya saat ini.
Yang ada didalam pikirannya hanyalah ingin menghajar Rifki karena telah mengkhianatinya itu, akan tetapi dirinya tidak bisa melakukan itu untuk saat ini. Ia tidak tau lagi apa yang harus dirinya lakukan sekarang, air matanya seakan akan ingin keluar dari pelupuk matanya itu.
Ana seakan akan tidak memiliki tenaga untuk saat ini, kekuatannya seakan akan terkuras dengan habisnya. Dia tidak menyangka bahwa Rifki akan melupakannya seperti ini, bukankah itu tujuannya sebelumnya? Tapi kenapa Ana merasakan sakit hati ketika mengetahui bahwa pesta itu untuk anak Rifki.
Ana melihat kearah anaknya itu, anaknya begitu sangat takjub dengan hal yang saat ini mereka lihat, yakni keramaian kota. Dirinya merasa sangat kasihan dengan Kinara, jika mengetahui bahwa Ayahnya telah memiliki putri lagi, dan melupakan dirinya itu.
Bagaimana nasib Kinara selanjutnya, apakah dia akan tahan jika melihat ayahnya bersama dengan anak yang lainnya. Ana tidak dapat membayangkan bahwa hal itu akan tiba, mungkin hati Kinara akan merasa hancur melihat kebersamaan Rifki dengan anak barunya itu.
Melihat anaknya yang merasa senang hal itu membuat Ana takut kebahagiaannya akan terenggut suatu saat nanti, Iya tidak tahu bagaimana masa depan Kinara nantinya akan seperti apa, membayangkannya saja sangat sulit baginya apalagi kalau sampai hari itu benar benar tiba entah seperti apa hatinya saat itu.
"Mama, Nara belum pernah melihat tempat seramai ini sebelumnya. Ini sangat indah," Ucap Kinara dengan senangnya karena terpana dengan keramaian kota itu.
Mendengar suara Kinara yang sangat bahagia itu, membuat Ana tidak mampu untuk membendung air matanya. Kedua matanya pun berair, akan tetapi belum sempat menetes ke pipinya, air mata itu langsung merembes dicadarnya itu.
"Sis, tolong jagain Nara bentar ya, aku mau kekamar mandi dulu," Ucap Ana.
"Iya Kak, aku jagain Nara kok,"
"Nara sama Tante dulu ya, Mama mau kekamar mandi," Ucap Ana kepada Kinara.
"Jangan lama lama ya, Ma. Nara ngak mau ditinggal sama Mama," Ucap Kinara dengan membulatkan matanya.
Disaat seperti itu, Kinara terlihat sangat imut dengan kedua pipinya yang gemoy. Melihat itu membuat Ana ingin sekali mencubit pipi anaknya yang cubby tersebut, karena merasa gemasnya kepada Kinara.
"Iya Nak,"
Ana pun bergegas untuk pergi dari tengah tengah alun alun kota itu, dirinya pun menuju kearah toilet umum yang ada disana. Bukan karena ingin menunaikan hajatnya akan tetapi untuk mencari informasi mengenai Rifki, yang dirinya tuduh memiliki istri baru itu.
Ana tidak mampu menahan tangisannya itu, sehingga dirinya tidak ingin Kinara melihatnya dalam keadaan menangis seperti itu. Ana tidak mau membuat anaknya khawatir dengan dirinya yang tiba tiba menangis itu, ketika sampai ditoilet umum, Ana langsung mengusapi air matanya.
Ana pun langsung terlihat lemas didepan toilet umum itu, dirinya pun lalu meluruh kesebuah kursi yang ada didepan toilet umum. Perasaannya terasa sakit, padahal yang sebenarnya Rifki masih tetap setia menunggu kepulangannya beserta anaknya itu.
"Kamu tega banget dengan diriku, Rif. Kenapa kamu mengkhianatiku seperti ini? Siapa wanita yang kamu nikahi itu? Sehingga bisa menggantikan posisiku dihatimu," Ucap Ana dengan kesalnya dan beberapa kali memukul lututnya sendiri.
Dirinya ingin sekali marah kepada Rifki, akan tetapi dirinya tidak bisa melakukan hal itu saat ini. Jika dirinya hanya mementingkan egonya saja, mungkin nyawa Kinara yang berada dalam bahaya saat ini jika sampai identitasnya terbongkar.
Cukup lama dirinya berada disana, tiba tiba beberapa orang pun lewat didepannya begitu saja. Orang orang itu terlihat menyeramkan karena perawakan mereka yang terlihat garang, dan seperti orang orang yang tidak bisa disinggung oleh orang biasa.
"Setelah pesta bunga api, lakukan misi mu untuk menculik CEO Abriyanta itu," Ucap seseorang yang tidak sengaja didengar oleh Ana.
Mendengar itu, Ana langsung membelalakkan kedua matanya, dirinya pun langsung bergegas untuk bersembunyi dibalik semak semak, dan mendengarkan pembicaraan mereka. Karena pakaiannya yang serba hitam itu, membuatnya sangat mudah untuk bersembunyi tanpa ketahuan oleh siapapun.
"Beres Bos asalkan ada uangnya,"
"Kalian tenang saja, semuanya sudah aku siapkan sejak lama. Asalkan tugas kalian semua selesai malam ini,"
"Apakah semuanya sudah lengkap Bos?" Tanya salah satu dari mereka.
"Semuanya sudah terencana, dan tidak akan mungkin gagal untuk saat ini. Meskipun anak buahnya cukup banyak, mereka tidak akan bisa menghalangi rencana kita,"
"Lalu dimana obatnya?"
Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Bos itu pun merogoh saku jasnya, dirinya pun memberikan sesuatu kepada anak buahnya. Entah obat apa yang mereka pegang itu, Ana memperhatikannya dengan seksama tanpa ingin terlewatkan sedikitpun.
"Ini adalah obat tidur, setelah pesta selesai dilaksanakan. Dia akan tertidur lelap, saat itu juga kita langsung culik dia dan ambil keris pusaka xingsi itu," Ucap Bos dari mereka.
__ADS_1
"Baik Bos,"
"Ingat, berikan obat ini kepada makanan dan minuman yang akan dia minum atau makan nanti. Jangan sampai gagal,"
"Beres Bos, kami akan melakukan dengan sebaik mungkin soal ini, tapi jangan lupa imbalannya."
"Tenang saja, sudah aku siapkan uang 50 juta untuk kalian. Pastikan semuanya berjalan dengan lancar,"
Itu banyak hal yang dilalui oleh Rifki selama ini tanpa kehadiran dari Nadhira, bahkan Rifki selalu dalam masalah hingga hampir kehilangan nyawa. Begitupun juga dengan Nadhira, yang harus terus berjuang untuk membesarkan anaknya seorang diri dan melindungi anaknya itu.
Keduanya sama sama terluka dan sama sama berjuang di jalan mereka masing masing, Rifki dengan masalahnya sementara Nadhira juga dengan masalahnya sendiri. Tanpa saling berhubungan keduanya tetap menjaga hati satu sama lain, meskipun tanpa bertemu akan tetapi Rifki tetap menafkahi keduanya.
Entah sampai kapan Nadhira akan kembali kepadanya, Rifki hanya menantikan hal itu tiba. Dimana dirinya dan anak istrinya berkumpul bersama untuk berbagi canda dan gurau, dirinya sangat menantikan hal itu meskipun dirinya tidak tahu kapan hari itu tiba.
Rifki hanya berharap hari itu datang dengan cepatnya, sudah 11 tahun dirinya menunggu kedatangan dari anak dan istrinya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana kondisi keduanya saat ini, Rifki juga tidak tahu wajah dari Kinara.
"Asalkan ada uang semuanya akan beres, Bos. Serahkan saja semuanya kepada kami karena kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menculik Rifki dari acara itu," Ucap salah satu dari mereka dengan merasa yakinnya tanpa ada keraguan sedikitpun, karena menurutnya rencana itu sudah matang.
"Kalau sampai gagal kalian harus menanggungnya," Ucap sosok lelaki yang diduga adalah Bos dari mereka.
Krakkk...
Ketika Ana hendak pergi dari tempat itu, tiba tiba dirinya tanpa sengaja menginjak ranting pohon hingga berbunyi. Dirinya merasa begitu panik, dan ia berusaha untuk sebisa mungkin menjauh dari tempat tersebut agar mereka tidak tau tentang keberadaannya.
"Siapa itu!" Teriak salah satu dari mereka.
"Cepat priksa! Jangan sampai ada orang yang dengar," Perintah dari Bos mereka.
"Baik Bos!"
Mereka pun langsung bergegas untuk mendekat kearah Ana, Ana semakin gelisah ketika melihat mereka yang mendekat. Ana tidak memiliki banyak waktu untuk pergi dari tempat itu, sehingga dirinya pun kembali bersembunyi dibalik semak semak yang lainnya.
"Siapa itu?"
"Meaungg," Ucap Ana berpura pura menjadi kuning.
Jantung Ana seakan akan berhenti berdetak saat itu, dirinya benar benar ketakutan saat ini, bukan takut dengan mereka akan tetapi dirinya takut identitasnya akan terbongkar saat ini juga. Didalam hatinya, dirinya terus memanjatkan doa agar tidak ada yang melihat keberadaannya itu, bahkan dirinya sampai menahan nafas karena tidak ingin ketahuan.
Orang orang itu semakin mendekat kearah dimana Ana berada, satu dari mereka pun sudah berada didekat Ana. Bahkan pakaian bagian belakang Ana pun kini tengah diinjak olehnya tanpa dirinya sadari, Ana semakin gelisah karena takut ketahuan saat ini.
Didalam hatinya, Ana terus memanjatkan doa doa kepada Allah untuk menyelamatkan dirinya sekarang. Ana sebenarnya tidak takut untuk mati, akan tetapi dirinya tidak ingin Rifki dan Kinara dalam bahaya apapun.
"Sepertinya dibalik semak semak ada orang," Ucap salah satu diantara mereka.
Ucapan itu langsung membuat jantung Ana semakin tidak tenang, bahkan rasanya seperti jantung itu tengah berhenti berdetak sangking paniknya. Ana pun memejamkan matanya, dia berhadap bahwa ada keajaiban yang dapat menolongnya saat ini.
"Kena kau!"
Tiba tiba, seekor kucing yang besar pun meloncat kehadapan para lelaki itu, hingga membuat mereka sangat terkejut. Entah datang dari mana kucing tersebut, akan tetapi Ana merasa bersyukur karana kedatangan dari seekor kucing hitam itu.
"Ternyata kucing Bos!" Teriak salah satu dari mereka.
"Apa kucing beneran? Priksa yang benar! Jangan sampai ada yang mendengarnya,"
"Sudah Bos! Disini memang ngak ada apa apa selain kucing,"
"Baiklah, ayo pergi."
Mereka pun bergegas untuk pergi dari tempat tersebut, melihat itu membuat Ana merasa sangat lega setelahnya. Ana pun langsung keluar dari persembunyiannya itu setelah merasa bahwa dirinya sudah aman, dirinya pun segera bergegas pergi dari tempat tersebut.
"Moci..." Panggil seseorang kepada seekor kucing tersebut.
Meaung
"Kucing manis, habis ngapain kamu?"
Kucing tersebut pun bergegas untuk mendatangi seorang wanita yang telah memanggilnya itu, wanita tersebut langsung berjongkok dihadapan kucing tersebut dan lalu menggendongnya. Wanita itu tersenyum tipis kearah seekor kucing hitam itu, dan mengusap ucap bulunya yang lembut itu.
__ADS_1
"Untung aku bawa kamu kemari Moci, makasih ya? Berkat kamu Dhira selamat, nanti aku akan berikan makanan yang banyak untukmu, sebagai imbalannya dariku." Ucap wanita itu kepada kucing yang dirinya gendong itu.
Wanita itu terus mengusap usap bulu kucing yang dipanggilnya dengan nama Moci itu, wanita tersebut pun tersenyum ketika melihat Moci sepertinya tengah merasa nyaman dalam gendongannya hingga kucing itu memejamkan matanya.
*****
Ana langsung bergegas kembali untuk menemui Anak dan juga Adik angkatnya itu. Keduanya kini tengah asik menikmati jagung bakar yang dibelinya itu, entah kenapa tiba tiba Kinara ingin memakan jagung bakar yang telah diserut itu.
"Mama," Panggil Kinara ketika melihat Ana.
"Eh, lagi makan apa ini?" Tanya Ana kepada Kinara.
"Jagung bakar, Ma. Ini enak banget Ma, ada rasa manis dan asinnya,” Ucap Kinara sambil terus memakan jagung tersebut.
Ana lalu mengusap pelan puncak kepala Kinara yang tengah asik memakan jagung bakar itu, Siska melihat ekspresi panik diwajah Ana melalui kedua matanya itu.
"Mama mau?" Tanya Kinara sambil menyendokkan jagung bakar tersebut dan langsung menyiapkannya kedalam mulut Ana.
"Hemm... Enak sekali," Ucap Ana sambil mengunyahnya perlahan lahan.
Kinara pun kembali fokus kepada makanannya saat ini, sementara Ana memandangi wajah anaknya dengan lekat lekat. Perhatian Siska tak luput dari Ana, sepertinya Ana sedang menyembunyikan sesuatu yang penting.
"Kak," Panggil Siska kepada Ana.
"Siska, aku titipkan Nara kepadamu ya, jaga dia dengan benar. Aku ada urusan penting, setelah acara ini kalian berdua langsung pulang, jangan menunggu diriku," Ucap Ana.
"Tapi Kak, urusan apa itu? Kenapa tiba tiba?" Tanya Siska yang ikut tidak tenang.
"Mama mau kemana?" Tanya Kinara dengan polosnya kepada Mamanya itu.
"Nara, kamu sama Tante dulu ya? Mama ada urusan penting," Ucap Ana kepada anaknya.
"Urusan apa, Ma?"
"Nara masih kecil, kalo besar nanti Nara bakalan paham dengan sendirinya."
"Tapi Ma,” Ucap Kinara.
"Mama pergi dulu, setelah ini kalian pulang ya? Jangan tungguin Mama,"
"Mama ngak ikut pulang sama kita?"
"Mama pasti pulang demi Nara, besok pagi Mama pasti sudah ada dirumah,"
"Janji ya?"
"Iya, Mama janji. Nurut ya sama ucapan Tante?"
"Iya Ma,"
"Sis, aku titip Nara. Jangan sampai dia kenapa kenapa, apapun yang terjadi tetap lindungi Nara. Jangan biarkan dia kenapa kenapa, Kakak percayakan dia kepadamu. Nara sangat berarti bagi Kakak," Ucap Ana kepada Siska.
"Iya Kak, Kakak tenang saja soal itu. Aku akan jaga Nara sebaik mungkin,"
Ana pun langsung mencium anaknya itu, dia tidak tau apakah dia akan baik baik saja nantinya, atau justru dirinya pulang ke pangkuan Allah. Yang dirinya lakukan hanyalah untuk melindungi suaminya, Ayah dari anaknya itu.
"Mama harus pulang,"
"Iya Nak, Mama pergi dulu ya?"
Ana pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu meninggalkan Kinara dan Siska. Kinara menatap kepergian Mamanya dengan perasaan sendu, entah mengapa dirinya takut Mamanya kenapa kenapa nantinya.
Sementara Ana langsung mencari tempat dimana Rifki berada, dirinya tidak mau sampai telat untuk menyelamatkan orang yang paling disayanginya itu. Bagaimana pun caranya dirinya harus bisa mengagalkan rencana orang orang yang jahat itu, dan menyelamatkan Rifki.
"Aku harus mencari tau keberadaan Rifki saat ini, aku tidak akan membiarkan dia kenapa kenapa," Ucap Ana sambil terus berjalan.
Dirinya pun melihat beberapa anggota Gengcobra yang sedang menyebar disana, dirinya pun mencoba mendekat kearah mereka demi mengetahui dimana keberadaan dari Rifki melalui mereka. Tidak ada yang membicarakan tentang Rifki, selama dirinya mencuri dengar kepada mereka.
__ADS_1