
Nadhira menangis ketika melihat Rifki seperti itu akan tetapi tangisannya tidak mampu terlihat karena tertutup dengan tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya itu.
"Jangan lakukan hal yang bodoh seperti ini" Nadhira merasa tidak tega melihat wajah Rifki yang sudah terlihat begitu pucat itu.
"Aku yakin kau pasti datang untuk menemuiku".
Rifki segera bergegas memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya, Rifki seakan akan tidak ingin melepaskan pelukan tersebut, ia takut kalau dirinya melepaskan pelukan itu nantinya Nadhira akan kembali pergi dari dirinya dan dia akan kehilangan Nadhira untuk selama lamanya.
Nadhira pun merasakan bahwa tubuh Rifki terasa gemetaran karana udara dingin itu, dan hal itu membuat Nadhira segera membalas pelukan tersebut dan berharap bahwa Rifki akan merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan dirimu saja Dhira, kenapa kau harus meninggalkanku begitu saja? Kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadamu? Jangan tinggal aku Dhira, aku mohon".
"Maafkan aku Rifki, jangan melakukan tindakan bodoh seperti ini lagi Rifki" Ucap Nadhira sambil mengusap punggung Rifki.
"Aku tidak peduli dengan diriku Dhira, aku hanya tidak ingin kehilanganmu".
Rifki memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya, dibawa hujan badai malam ini, keduanya sedang basah kuyup, melihat itu membuat Bayu, Bi Ira, dan Pak Santo merasa bahagia karena Nadhira mau menemui Rifki untuk kali ini.
"Rifki, kita masuk dulu ya, kau pasti sangat kedinginan diluar sini".
Rifki hanya mengangguk kepada Nadhira, Nadhira segera bergegas melepaskan pelukan tersebut dan membantu Rifki untuk berdiri dari tempat itu, Rifki pun segera bangkit dari berlututnya atas bantuan dari Nadhira sendiri.
Ketika Rifki sudah bangkit berdiri seketika dirinya akan berjalan tiba tiba pandangannya mulai menggelap, tanpa ia sadari bahwa kini dirinya sudah tidak sadarkan diri, melihat tubuh Rifki yang hampir roboh membuat Bayu segera menangkap tubuh tersebut sebelum jauh ketanah.
"Rifki!" Teriak mereka bersamaan.
"Bay cepat bawa dia masuk! Pak Santo tolong bantu!" Ucap Nadhira dengan paniknya.
"Baik Non Dhira".
"Baik Dhira".
*****
Rifki kini tengah terbaring dikamar tamu yang ada dirumah Nadhira, Bayu pun sudah mengganti pakaiannya dan kini ia membalutnya dengan selimut yang sangat tebal untuk menghangatkan badan Rifki yang tengah kedinginan itu.
Nadhira sudah mengganti pakaian sendiri dan kini tengah duduk disamping Rifki yang sedang tidak sadarkan diri itu, sementara Bayu dan juga Bi Ira kini tengah duduk dikursi yang ada didalam ruangan itu.
"Ini masih terlalu pagi, kau bisa istirahat dulu Bay, oh iya Bu, tolong antarkan Bayu kekamar yang lainnya, Ibu juga harus istirahat setelah itu" Ucap Nadhira sambil menyuruh Bi Ira dan Bayu beristirahat dikamar yang lainnya.
"Kamu tidak istirahat dulu Dhira?" Tanya Bayu.
"Aku ingin tetap disini menjaga Rifki, sampai dia terbangun nanti".
"Kau harus istirahat juga Dhira, kau pasti juga sudah kelelahan kan? Tidak tidur semalaman tidak baik untuk kesehatan Dhira".
"Aku tau itu Bay, tapi Rifki tak kunjung sadarkan diri, ini semua salahku karena telah membiarkan dia begitu saja Bay".
"Aku tau perasaanmu Dhira, ini memang tidak mudah untuk kalian berdua, disatu sisi kau diminta oleh Tante Putri untuk menjauhi Rifki sementara kau sangat mencintainya, tapi disisi lain Rifki juga tertekan karena perjodohan itu, jika dia tidak menerimanya Tante Putri mengancamnya akan bunuh diri".
Nadhira merasa begitu terkejut mendengar ucapan dari Bayu, ia tidak menyangka bahwa hal yang dilalui oleh Rifki begitu sangat sulit, ia tidak menyangka bahwa Putri akan melakukan hal seperti itu kepada anaknya sendiri hanya untuk memisahkan Nadhira dengan Rifki.
"Apakah itu benar Bay?".
"Iya Dhira, kepergianmu yang tiba tiba itu sangat merubahnya, Rifki yang dulunya begitu hangat dengan anggota Gengcobra ataupun yang lainnya kini lebih sering mengurung dirinya didalam kamar, ia pun mudah sekali emosi, sejak mengetahui kau tidak ada dirumah, ia bahkan seperti sosok yang sama sekali tidak aku kenali".
"Aku hanya berharap dia segera melupakan diriku Bay, aku tidak ingin karena kehadiranku dalam hidupnya membuatnya bertengkar dengan Tante Putri hanya gara gara diriku".
"Aku tau itu Dhira, aku akan berusaha yang terbaik untuk kalian, aku hanya berharap bahwa kau bisa bersama dengan Rifki kembali".
"Sepertinya itu tidak akan mungkin Bay, aku hanya ingin dia bahagia, walaupun bukan diriku yang menjadi alasannya untuk bahagia, aku sangat menyayanginya Bay, aku tidak ingin memisahkan dia dari Ibunya, karena surga seorang lelaki akan tetap berada dibawah kaki Ibunya" Nadhira memandangi wajah Rifki yang sedang terlelap.
"Kamu yang sabar ya Dhira, semoga dirimu mendapatkan sosok seorang lelaki yang mampu mencintaimu dan menerimamu apa adanya, meskipun akhirnya nanti kau tidak akan bersama dengan Rifki"
"Iya Bay, makasih juga ya, karena kau selalu ada untuk Rifki selama ini dan menjaga Rifki".
"Kami semua menyayangi Rifki, seluruh anak Gengcobra sangat menghormati dia Dhira".
"Aku tau itu Bay, ya sudah sebaiknya kau istirahat saja dulu dikamar sebelah, biar Ibu Ira yang mengantarkan dirimu".
"Ngak Dhira, sebaiknya kau saja yang istirahat, aku akan menjaga Rifki disini, Bi tolong bawa Nadhira kembali kekamarnya" Ucap Bayu kepada Bi Ira.
"Ngak Bay, aku ngak mau".
"Untuk kali ini saja Dhira, dengarkan ucapanku".
"Baiklah, tolong jaga Rifki ya".
"Kau tenang saja Dhira".
__ADS_1
Nadhira pun pasrah dengan ucapan Bayu, Nadhira segera kembali kekamarnya yang ada dilantai atas, Nadhira pun segera masuk kedalam kamarnya dan berzikir menunggu adzan subuh.
Jam dinding masih menunjukkan pukul setengah 3 pagi, sehingga Nadhira memutuskan untuk berzikir daripada tidur dalam waktu yang sangat mepet dengan waktu setiap harinya dia terbangun, sementara itu Bayi tengah selonjoran dikursi yang tidak jauh dari tempat dimana Rifki terbaring.
"Sampai kapan kau akan berpura pura tertidur hm? Bangunlah, dia sudah pergi dari sini kok, kau tidak perlu berakting lagi" Ucap Bayu.
Rifki pun membuka matanya sedikit demi sedikit dan segera duduk ditempatnya itu, sebenarnya Rifki sudah terbangun sejak dirinya dibawa masuk kedalam oleh Bayu, dirinya hanya kelelahan saja sehingga pandangannya menggelap.
Bayu mengetahui bahwa Rifki sudah sadarkan diri ketika dirinya hendak mengganti pakaian Rifki, melihat itu membuat Bayu segera meminta kepada semuanya untuk keluar dari ruangan tersebut, setelahnya Rifki langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Setelah mengganti pakaiannya, Rifki segera membaringkan tubuhnya diatas kasur yang ada dikamar tamu itu, ia pun berpura pura untuk tidak sadarkan diri ketika Nadhira dan Bi Ira masuk kedalam ruangan tersebut.
"Kenapa kau harus mengatakan itu kepada Nadhira sih!" Ucap Rifki yang terlihat geram kepada Bayu.
"Mengatakan apa? Aku hanya tidak bisa berbohong, bukankah itu yang sebenarnya terjadi? Aku beritahu kepadamu ya Rif, gadis yang dijodohkan denganmu itu sepertinya tidak layak untukmu".
"Maksudnya?"
"Iya bener, aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu, kalo sampai Tante Putri marah kepada anak Gengcobra, berarti gadis itu telah mengadu kepadanya"
"Apa yang kau lakukan dengan dia Bay?".
"Kau tenang saja dulu Rifki, aku hanya mengatakan bahwa gadis pilihanmu jauh lebih baik daripadanya".
"Terus?".
"Aku meyakinkan dia bahwa gadis itu tidak akan pernah bersama denganmu, meskipun dia sudah mendapatkan dukungan dari Mamamu, mungkin dia akan mengadu kepada Mamamu Rif".
Bukannya marah mendengar perbuatan dari Bayu, Rifki justru tertawa dengan apa yang telah dilakukan oleh Bayu, mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan agar gadis itu membencinya lalu membatalkan perjodohan ini.
"Kau benar benar berani Bay, tidak ku sangka kau akan melakukan itu kepada seorang gadis".
"Tapi kau harus membantuku Rif untuk menghindari kemarahan dari Tante Putri besok ataupun lusa nanti"
"Kalo soal itu aku tidak bisa Bay, kau harus menanggungnya sendiri, aku paling tidak bisa jika harus melihat Mama marah".
"Ayolah Rif, jangan sampai anak Gengcobra diikut ikutkan soal ini juga".
"Apa hubungannya dengan anak Gengcobra? Bay.. Bay entah masalah seperti apa yang kau buat itu, ku harap Mama tidak memenggal kepalamu itu".
Rifki tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu, sementara Bayu hanya bisa menyengir tanpa rasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan, justru dia hanya takut dengan kemarahan dari Putri.
"Si Lala? Siapa lagi itu?".
"Bukannya namanya adalah Syaqila ya? Ya aku panggilnya Si Lala po"
"Ngak tau, namanya saja aku lupa".
"Nama tunangan sendiri saja lupa, apalagi nanti kalo sudah menjadi istrimu".
"Aku aja tidak niat dalam perjodohan ini, bagaimana bisa dia akan menjadi istriku? Tanpa kau bilang pun, aku sudah mengetahui karakternya seperti apa".
"Sepertinya hanya dia sendiri yang semangat dalam perjodohan ini Rif".
"Entahlah, aku hanya merasa bahwa dia tidak benar benar tulus, bahkan khodam penjagaku sedikit tidak senang karena itu".
"Apa kau yakin bakalan menikah dengannya? Lalu bagaimana dengan Nadhira?"
"Aku tidak tau takdir akan seperti apa, selama aku bisa berjuang untuk mendapatkan hati Nadhira, aku akan melakukan itu Bay, aku sangat menyayangi Nadhira, melihat Nadhira sedih seperti itu, aku juga merasa sedih Bay".
"Perjuangkan Nadhira Rif, jika kau sangat mencintainya dan kau yakin bahwa cinta kalian begitu kuat, aku yakin bahwa Tante Putri akan merestui hubungan kalian nantinya".
"Aku akan perjuangkan dirinya Bay, biarpun seluruh dunia menolak, aku tidak akan menyerah, aku pernah berjanji kepada langit dan Nadhira, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Nadhira walaupun seluruh dunia membenci hubungan kita".
"Aku sangat salut denganmu Rif, aku tau bahwa ucapanmu itu tidak main main, kita kan sudah bersahabat sejak kecil dan aku sangat paham dengan watakmu itu".
Tak beberapa lama kemudian terdengarlah suara adzan subuh berkumandang diawang awang, Rifki dan Bayu langsung bergegas untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, Bayu segera keluar dari kamar tamu itu untuk mengambilkan Rifki air minum, didapur ia tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang tengah memasak, melihat kedatangan Bayu seketika membuat wanita itu berteriak.
"Siapa kau! Apa kau ingin maling disini?" Tanya wanita itu dengan ketakutan, wanita itu adalah Bi Sari yang tidak menyaksikan kejadian malam ini.
"Ha?" Ucap Bayu yang tidak mengerti maksud dari wanita tersebut.
"MALING! MALING!" Teriak Bi Sari.
Bi Sari segera mengambil sebuah sapu yang terdekat dari dirinya, dan langsung memukuli Bayu tanpa ampun, ia pun terus berteriak meminta pertolongan karena ia pikir bahwa Bayu berniat untuk maling ditempat itu.
"Ampun Bi! Ampun!" Teriak Bayu sambil menahan rasa sakit dari pukulan itu.
__ADS_1
Mendengar teriakan Bi Sari membuat Bi Ira segera datang untuk memeriksanya, ia begitu terkejut ketika melihat Bayu tengah dipukuli oleh Bi Sari dengan gagang dari sapu.
"Ehhh... Astaghfirullah, Sari hentikan!".
Bi Ira langsung merebut sapu tersebut agar Bi Sari berhenti untuk memukuli Bayu, mendengar keributan tersebut membuat Rifki merasa terganggu dan dirinya langsung bergegas keluar dari kamar tersebut untuk melihat situasi.
"Kenapa anda menghentikan diriku si Bi? Dia mau maling ditempat ini" Ucap Bi Sari dengan sedikit kesal dan kebingungan.
"Apa kau ingin Non Dhira marah ha? Dia adalah tamu ditempat ini, bagaimana bisa kau memukulinya seperti itu".
"Tamu?" Tanya Bi Sari dengan terbengong.
"Ada apa ini ribut ribut dipagi hari seperti ini?" Tanya Rifki yang baru tiba.
"Kau sudah sadarkan diri Nak" Ucap Bi Ira ketika melihat Rifki ditempat itu.
"Sudah Bi, apa Nadhira masih tidur?"
"Dia sudah bangun, mungkin lagi berlatih dihalaman depan pagi ini".
Rifki hanya mengangguk, dirinya pun segera membantu Bayu untuk bangkit berdiri karena pukulan yang diberikan oleh Bi Sari terlalu kuat dan beruntun membuat Bayu harus berjongkok untuk berlindung.
"Bi! Aku bisa saja melaporkan anda kepolisi karena satu, kekerasan yang anda lakukan kepada saya pagi ini, dua anda menuduh saya sembarangan sebagai maling dan merusak nama baikku, kena pasal berlapis anda nanti" Ucap Bayu sambil mengeluh kesakitan dengan wajah sebalnya.
"Tuan maafkan saya, tolong jangan laporkan saya, saya mohon Tuan, saya tidak mengetahui bahwa anda adalah tamu dari Non Dhira" Ucap Bi Sari dengan wajah memelas.
"Bay, jangan menggertak perempuan, ngak baik" Ucap Rifki.
"Kalo menggertak laki laki boleh ya?" Tanya Bayu.
"Silahkan".
"Oke kalo begitu, Bibi cepat ganti kelamin aja biar aku bisa menggertak Bibi sekarang juga, karena Bibi telah berani memukulku dengan sengaja, dan permasalahan kita belum selesai sampai disini saja, ingat itu Bi".
Mendengar ucapan Bayu membuat Rifki menepuk kepalanya sendiri, bagaimana bisa seseorang langsung mengganti kelaminnya sendiri? Sementara Bi Sari yang mendengarnya seketika langsung melotot kearah Bayu.
"Ngak begitu juga kali Bay! Mau ku tabok kau pake sandalku ha?" Ucap Rifki dengan geram.
"Kan kau bilang tadi kalo menggertak perempuan ngak boleh, ya sudah aku suruh Bibi ini ganti kelamin saja, soalnya aku masih ada dendam yang sangat mendalam dengan dirinya itu" Ucap Bayu yang tidak mau disalahkan.
"Bay! Apa kau ingin aku memotong masa depanmu itu sekarang juga ha? Biar kau jadi wanita".
"Ya jangan lah Rif, apa jadinya diriku nantinya kalo seperti itu, bagaimana kalau ngak ada wanita yang suka dengan diriku?".
"Emang sekarang ada yang suka denganmu Bay?".
"Heiii.. jangan menghina diriku ya" Ucap Bayu sambil menunjuk kearah Rifki
Rifki hanya memberikan tatapan tajam kepada Bayu dan seketika itu membuat Bayi segera mengigit jarinya sendiri, tatapan itu adalah andalan Rifki untuk menghentikan perkataan dari Bayu.
"Selalu saja seperti itu" Guman Bayu.
"Baiklah aku ingin bertemu dengan Nadhira, dia ada diluar kan Bi?" Tanya Rifki.
"Iya Nak, dia sedang berada diluar, Nak boleh Bibi bicara berdua denganmu?" Tanya Bi Ira dengan hati hati kepada Rifki.
"Boleh kok Bi, Bibi mau bicara apa dengan Rifki?"
"Ikuti Bibi sekarang juga".
"Iya Bi, Bay jangan bertindak macam macam disini, atau akan ku hajar disini dimarkas nanti".
"Tuan Muda Abriyanta tenang saja, semuanya akan aman karena diriku".
"Untuk Bibi, Bibi jangan terlalu dekat dengan pemuda ini, dia buaya tingkat dewa" Ucap Rifki memperingati Bi Sari.
"Enak saja kau bilang, aku adalah pemuda baik baik ya, dan bukan lelaki seperti itu".
Rifki tidak mempedulikan ucapan Bayu, ia lalu mengikuti langkah dari Bi Ira, entah apa yang ingin dibicarakan oleh Bi Ira kepadanya, sepertinya hal itu begitu sangat serius.
...****************...
......I**nnalilahi wa innailaihi roji'un......
...mohon doa untuk para readers kesayangan Author sekalian, semoga almarhum Ayah Author ditempatkan disisi terbaik-Nya dan diampuni segala dosa dosanya, Aamiin ya Rabbal alamin...
......Mohon maaf atas keterlambatan updatenya, saya selaku Author dinovel ini meminta maaf yang sebesar besarnya 🙏......
......**Jaga sebelum pergi dan jika sudah pergi dia tidak akan kembali****......
__ADS_1