Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Makan bersama anak panti


__ADS_3

Dengan perlahan lahan dirinya memasukkan Nadhira kedalam mobil setelah Pak Mun membukakan pintu untuk keduanya itu, setalahnya Pak Mun pun bergegas untuk duduk ditempat pengemudi untuk menjalankan mobil tersebut.


"Non Dhira sakit apa Tuan Muda?" Tanya Pak Mun.


"Hanya kecapean saja Pak, oh iya Pak, nanti berhenti dulu di lestoran buat mengisi perut Nadhira, dia belum makan sejak pagi dan itu yang menyebabkan dirinya merasa pusing"


"Baik Tuan Muda, sebentar lagi kita akan melewati sebuah restoran yang terkenal, apakah Tuan Muda mau ke lestoran itu?"


"Iya Pak, lestoran manapun aku mau asalkan Nadhira bisa mengisi perutnya".


Pak Mun segera menjalankan mobil itu menuju ketempat dimana lestoran dia maksud itu berada, nyatanya tempat itu tidak jauh dari rumah sakit yang sebelumnya mereka singgahi itu dan nampak begitu ramai pengunjung.


Rifki segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam lestoran tersebut dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka duduki, setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, Rifki segera memanggil pelayan restoran itu untuk memesan sesuatu.


"Permisi ada yang bisa saya bantu?" Ucap pelayan restoran tersebut kepada Rifki dan Nadhira.


"Saya pesan ikan bakar madu, salad buah, capcay, ayam panggang, jus buah apel dan juga jus alpukat" Ucap Rifki sambil membaca menu yang tertera disebuah kertas yang telah di laminating itu.


"Ada lagi Mas? Mbak?"


"Sudah itu saja"


"Baik Mas, mohon ditunggu sebentar ya"


Rifki hanya mengangguk kepada pelayan restoran tersebut untuk mengiyakannya, setelah cukup lama menunggu akhirnya pesanan mereka datang juga, Rifki segera memberikan nasi ikan bakar tersebut kepada Nadhira untuk dimakannya dan juga jus buah apel untuk Nadhira.


"Ini makanan sehat untuk ginjal kamu Dhira, makanlah yang banyak, dan salad buahnya nanti dimakan setelah selesai makan nasi" Ucap Rifki.


"Makasih sayang" Nadhira merasa senang ketika diperhatikan oleh Rifki seperti itu.


Rifki pun segera mengambil ayam panggang tersebut dan menaruhnya diatas nasi yang ada di piringnya tersebut, keduanya pun langsung menikmati makanan itu dengan perlahan, Rifki juga tidak lupa memberikan capcay yang ia pesan kepada Nadhira.


Sayur sayuran yang ada didalam capcay itu sangat bermanfaat bagi Nadhira sehingga Rifki memberikan sayuran tersebut untuk dinikmati oleh Nadhira, Nadhira yang melihat itu hanya bisa berdiam diri karena dirinya sendiri juga telah merasa lapar.


"Lebih enakan buatanmu Rif" Ucap Nadhira ketika menyuapkan sesendok capcay kedalam mulutnya.


"Yaya dong, makanan buatan Rifki tidak akan ada yang bisa mengalahkan rasanya"


"Nanti sore buatkan makanan yang seperti itu ya"


"Baiklah, sudah buruan dimakan mumpung masih hangat Dhira".


Nadhira pun kembali memasukkan makanan itu kedalam mulutnya, setelah memakannya hingga habis Nadhira pun segera meminum jus apel pesanan dari Rifki untuknya, setelah selesai dirinya pun merasa sangat kenyang.


"Saladnya dimakan sayang" Ucap Rifki yang masih sibuk dengan minumannya itu.


"Aku sudah kenyang Rif" Jawab Nadhira sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Buah buahan itu baik untuk kesehatanmu sayang, baiklah kita makan bersama sama, sini aku suapin"


Rifki pun menyendok sebuah anggur merah yang menjadi toping disalad buah itu dengan taburan cokelat dan keju, Nadhira pun dengan senang hati membuka mulutnya agar Rifki mampu untuk memasukkan salad itu kedalam mulut Nadhira.


Rasa segar dan manis itu pun terasa begitu enak dimulut Nadhira, tidak ada hal yang lebih enak daripada suapan dari pasangannya, apa yang dilakukan oleh Rifki dan Nadhira tersebut langsung membuat orang orang yang ada ditempat itu merasa iri dengan hubungan keduanya.


"Disini saladnya enak banget ya Dhira" Puji Rifki ketika dirinya selesai memasukkan salad buahnya didalam mulutnya.


"Sepertinya kita harus stok makanan seperti ini dirumah deh Rif, seger banget"


"Kalo begitu aku akan memberitahu Bi Sari untuk selalu menyediakan salad buah untukmu"


"Terima kasih sayang"


"Oh iya Dhira, aku mau mengundang anak anak panti asuhan untuk datang kerumah sebagai acara syukuran atas bersatunya dua perusahaan, apa kau setuju dengan itu?"


"Itu ide yang bagus Rif, bagaimana bisa aku menolak hal itu? Rumah kita bakalan rame dengan anak anak panti nantinya, pasti sangat seru"


"Apalagi dengan kehadiran anak anak kita, itu pasti bakalan sangat menyenangkan Dhira"


"Diperutku belom ada anakmu"


"Bagaimana bisa kau tau hal itu? Kan ini masih proses Dhira"


"Kak Dhita aja sudah mulai mual mual ngak jelas, itu artinya sudah ada tanda tanda hamil muda"


"Benarkah? Sepertinya aku harus meminta Kak Stevan untuk berbagi resep deh, eh kau lupa Dhira? Mereka kan sudah menikah 3 bulan yang lalu, sudah pantaslah kalau Kak Dhita sudah hamil, kalo kita seminggu aja belom ada"


"Eh iya ya, Kak Dhita sudah hamil, kemarin Kak Stevan membawanya ke Dokter untuk priksa dan ternyata dia positif hamil"


"Wih kita akan memiliki keponakan baru Dhira, pasti sangat membahagiakan, apalagi menunggu kehadiran sikecil itu".

__ADS_1


"Kau benar Rif, butuh 9 bulan lagi untuk menantikan kehadirannya itu"


Rifki pun tersenyum bahagia mendengar kabar bahwa Nandhita sudah hamil, ia tidak menyangka bahwa Stevan berhasil untuk menghamili Nandhita dengan cepat, dan kabar tentang kehamilannya itu membuat Rifki semakin bersemangat untuk menebar benih benihnya didalam perut Nadhira agar segera mengejar Kakak iparnya itu.


*****


Rifki dan Nadhira telah sampai dirumah mereka dan langsung masuk kedalam rumah tersebut agar Nadhira bisa beristirahat, setelah membaringkan tubuh Nadhira diatas ranjang Rifki segera bergegas untuk menemui Bi Ira dan juga Bi Sari yang ada dilantai bawah.


"Bu, kami berdua mau ngadain makan makan bersama anak anak panti, apakah itu ide yang bagus Bu?" Tanya Rifki kepada Bi Ira.


"Makan makan bersama anak panti? Boleh juga Nak"


"Kalo begitu Ibu tolong beritahu pihak panti asuhan untuk mengundang mereka diacara nanti"


"Kapan itu acaranya Nak?"


"Besok Bu, dan ini uangnya sudah aku siapkan untuk keperluan belanja untuk acara besok, Pak Mun sudah menunggu diluar Bu dan akan mengantarkan kalian untuk berbelanja, maaf banget ya Bu kalo Rifki dan Nadhira tidak bisa menemani kalian berbelanja"


"Iya ngak apa apa Nak, baiklah kalo seperti itu, Ibu mau bersiap siap dulu sebelum berbelanja, ini nanti mau dibelikan apa saja?"


"Terserah Bu mau belanja masak apapun itu, entah itu daging, sosis, atau sebagainya, nanti kalo uangnya kurang bilang saja, harus banyak soalnya seluruh anak panti asuhan akan ikut datang kemari"


"Kalo begitu nanti beli aneka daging saja ya, soalnya anak panti jarang makan daging"


"Iya Bu, kalo begitu aku kembali keatas dulu ya, mau nemenin Nadhira, Nadhira lagi sakit soalnya Bu"


"Loh sakit apa Nak?"


"Pusing saja kok Bu, untung saja bukan sakit yang berat sih Bu".


"Apa dia hamil?" Tanya Bi Ira yang to the point.


"Belom Bu, Rifki tadi sudah membawanya ke Dokter juga kok, tapi belom ada tanda tanda kehamilan, kata Dokter tadi dia hanya kecapean saja dan disuruh banyak istirahat untuk menghilangkan rasa pusingnya itu, Ibu tenang saja"


"Syukurlah kalo begitu"


*****


Acara yang dinanti nantikan itu akhirnya tiba, dimana dirumah Nadhira saat ini tengah diadakan sebuah makan bersama dengan anak anak panti atas bersatunya kedua perusahaan besar dan juga kabar gembira atas kehamilan dari Nandhita.


Bi Sari, Bi Ira dan juga kedua pembantu yang ada didalam markas Gengcobra tersebut kini tengah sibuk untuk mempersiapkan makan bersama tersebut, begitu banyak makanan yang harus mereka masak karena akan ada banyak anak panti asuhan yang datang untuk menghadiri acara itu.


"Dhira mereka sudah datang" Ucap Rifki ketika melihat satu Bus sudah terparkir didepan rumahnya.


Nadhira pun tersenyum ketika melihat beberapa anak panti asuhan yang mulai turun dari Bus tersebut dan dipimpin oleh Bu Fatimah, setelah itu Nadhira mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumahnya itu.


"Assalamualaikum" Ucap Bu Fatimah ketika masuk kedalam rumah Nadhira.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh" Jawab penghuni rumah dengan serempak.


"Fika dimana Bu?" Tanya Nadhira ketika tidak melihat Fika bersama dengan rombongan itu.


"Dia ada di Bus yang lainnya Nak, sudah lama tidak bertemu denganmu Nak, bagaimana kabarnya?" Tanya Bu Fatimah kepada Nadhira.


"Alhamdulillah baik Bu, Ibu sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah baik juga Nak, oh iya Ibu dengar kamu sudah menikah ya? Mana suamimu Nak?" Tanya Bu Fatimah sambil celingukan.


"Itu Bu, dia lagi mengobrol dengan anak anak panti" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearaj Rifki yang tengah sibuk dengan anak panti putri yang masih berusia 2 tahunan.


Melihat anak tersebut sudah begitu akur dengan Rifki membuat Nadhira tersenyum kearahnya, bagaimana mungkin suaminya itu mudah sekali mencuri hati anak kecil tersebut apalagi mereka baru saja bertemu selama ini.


"Oh itu suaminya, ganteng banget ya, langsung akrab dengan Aisyah"


"Jadi anak kecil itu namanya Aisyah ya Bu?"


"Iya Nak, bayi itu Ibu temukan dibawah kolong jembatan 1 tahun yang lalu, dia dibuang oleh orang tuanya sendiri"


"Kasihan banget Bu, orang tuanya tidak punya hati sama sekali, semoga saja mereka segera mendapatkan hidayah"


"Aamiin"


"Ya sudah Bu silahkan masuk, saya mau menemui suamiku dulu"


"Iya Nak"


Bu Fatimah pun segera masuk kedalam rumah itu bersama dengan anak anak panti yang lainnya, sementara Nadhira bergegas mendatangi Rifki yang tengah menggendong anak kecil tersebut dan sesekali membuat anak itu tertawa.


"Sepertinya ada yang merebut posisiku disini" Ucap Nadhira didekat Rifki.

__ADS_1


Rifki yang mendengar ucapan Nadhira segera bergegas untuk membalikkan badannya dan menatap kearah Nadhira, ia pun tersenyum dengan cerahnya kearah Nadhira yang sedang berada dihadapannya itu.


"Ngak sayang, lihat anak ini, baru datang juga sudah minta digendong olehku"


"Dia punya nama dan namanya adalah Aisyah"


"Bagaimana kamu tau? Kan kalian belum berkenalan sejak tadi, aku saja yang menggendongnya belum mengetahui namanya"


"Bu Fatimah yang memberitahu diriku, dia dibuang oleh orang tuanya dikolong jembatan"


"Kasihan sekali, padahal anak anak seperti ini belum memiliki dosa"


"Kau benar Rif, entah apa yang dipikirkan oleh orang yang telah membuangnya begitu saja, apa mereka hanya mau enaknya saja tapi tidak mau menanggung akibatnya? Anak anak seperti ini kan tidak berdosa"


"Itulah akhir zaman, maksiat seakan akan ada dimana mana, dan bahkan seperti maksiat adalah suatu hal yang biasa didunia padahal kan dosanya sangat besar dan berat diakhirat"


Anak itu sepertinya telah terhipnotis oleh Rifki sehingga dia sama sekali tidak menangis ketika digendong oleh orang yang baru ia temui itu, Nadhira pun menyentuh pipi anak tersebut dengan gemesnya karena anak itu merasa sangat lucu dan menggemaskan bagi Nadhira.


"Sayang jangan kencang kencang kalo gemes, nanti sakit anaknya" Ucap Rifki ketika melihat pipi anak tersebut sudah sedikit memerah karena Nadhira dan juga terlihat sedikit mewek.


"Habisnya gemes sih Rif, maapin"


"Kalo gemes ke aku aja ngak papa sampe merah, kasihan kalo ke anak ini"


"Beneran ngak apa apa?"


"Beneran sangat"


Nadhira pun mencubit dengan gemes pipi Rifki hingga membuat pemuda itu mengerutkan keningnya menahan sakit akibat dari cubitan Nadhira, Nadhira benar benar mencubitnya dengan sangat keras, tiba tiba bayi yang ada digendong Rifki menangis seakan akan mengutarakan isi hatinya.


"Eh sayang kenapa menangis?" Tanya Nadhira sambil melepaskan cubitannya dari Rifki.


"Dia butuh asi Dhira, berikan"


"Hah? Belom keluar lah Rif, kan belom punya anak"


Rifki tertawa mendengarnya, ia pun mengangkat bayi itu dan menyandarkannya kedada bidang miliknya, sesekali dirinya menepuk dan menimang nimang bayi itu hingga membuat bayi tersebut berhenti untuk menangis.


"Anak pintar" Puji Rifki.


"Eh kenapa jadi diam seperti ini?"


"Aku hebatkan Dhira? Langsung bisa membuat anak ini diam seketika"


"Kau apakan anak ini Rif? Apa kau memakai mantra untuk membuatnya diam?"


"Pikiranmu negatif sekali tentang diriku Dhira, anak kecil akan suka digendong dengan cara seperti ini, sini aku beritahu"


Rifki pun menjelaskan kepada Nadhira tentang bagaimana cara untuk membuat anak bayi diam, dan Nadhira memperhatikan setiap apa yang dikatakan oleh Rifki tersebut dan mencoba untuk memahaminya karena siapa tau nanti dia juga butuh ilmu tersebut untuk memenangkan anaknya.


"Kenapa kau tau sekali tentang itu? Aku yang wanita saja tidak terlalu paham"


"Kan aku pandai untuk merebut hati seseorang, jelas aku pandai juga merebut hati anak ini, anak kecil hanya butuh kasih sayang dan diperlakukan dengan lembut, kalo kita memperlakukannya dengan lembut nanti dirinya bakalan nyaman bersama kita"


"Kau calon Ayah yang baik Rif, pasti anak kita nantinya bakalan sayang banget sama Ayahnya karena Ibunya tidak bisa sesabar Ayahnya"


"Nanti setelah kita punya anak, kau harus lebih sabar untuk mengurusi anak anak kita, dan kita harus mengajarinya dengan baik agar ketika besar nanti mereka akan menjadi orang yang baik"


"Iya sayang, aku akan berusaha melakukan itu"


"Nah gitu dong, biar anak anak kita memiliki sikap yang baik seperti diriku"


"Percaya diri sekali"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk kak kali aja tertarik dengan cerita yang ini, jangan lupa mampir ya, heppy reading


Dua gadis kembar Elona dan Elena memiliki sifat yang sangat berbeda. Adik kembarnya sangat membenci kakak kembarnya hingga suatu ketika adik kembarnya menabrak seorang nenek tua dan meminta pertolongan kakak kembarnya untuk mengakui kalau dirinya yang menabraknya.


Alona yang sangat menyayangi adiknya akhirnya mengakui kalau dirinya yang menabraknya hingga salah satu cucu nenek tersebut mengajaknya untuk menikah dengan dirinya.


Siksaan demi siksaan dari suaminya diterima oleh Alona hingga Alona kabur namun selalu tertangkap oleh suaminya hingga suatu ketika dirinya berhasil kabur.


Apa yang akan dilakukan suaminya ketika suaminya mengetahui kalau ternyata Alona bukanlah orang yang menabrak neneknya? Sedangkan Alona sudah pergi entah kemana.


Ikuti yuk novelku yang ke 26


__ADS_1


__ADS_2