
Kinara terus mencari tongkat yang dimaksud itu, tubuhnya berkeringat dingin dan gemetaran karena tidak mendapati tongkat itu dimana mana. Kinara lupa menaruhnya dimana sebelumnya, sehingga ketika ditanya oleh Mamanya, dirinya tidak bisa menjawabnya.
Kinara terus menggeledah isi kamarnya hingga berantakan untuk mencari tongkatnya itu, bahkan dirinya sama sekali tidak menemukannya, dan dirinya lupa kapan terakhir kali ia memakai tongkat tersebut. Ana yang menyaksikan anaknya kebingungan mencari tongkat tersebut, dirinya hanya beesidekap dada sambil menyandarkan tubuhnya ditembok seraya melihat apa yang dilakukan oleh Kinara.
"Ma, aku ingat terakhir kali aku memakainya, aku taruh disini. Tapi nggak tau hilang dimana," Suara Kinara yang hampir frustasi ketika mencari tongkat tersebut.
"Kamu tau kan seberapa berharganya tingkat itu bagi Mama? Kenapa bisa sampai lupa menaruhnya? Nara, jawab Mama!" Ana terlihat seperti begitu marah karena kecerobohan dari anaknya itu.
"Maafkan aku, Ma. Aku janji akan mencarinya sampai ketemu,"
"Dimana kamu bisa menemukannya? Mau cari kemana? Kenapa kamu sangat ceroboh sekali, Nara? Itu adalah tongkat kesayangan Mama, pemberian yang berharga dari Papamu. Kenapa kamu bisa sampai menghilangkannya?"
"Maafin Nara, Ma. Nara bakalan cari tongkat itu sampai ketemu, beri Nara waktu untuk menemukannya, Nara pasti akan menemukannya nanti, Ma. Maafin Nara," Kinara pun menjatuhkan dirinya dilantai dengan isak tangis didepan Mamanya.
Kinara tau bahwa tongkat itu adalah tongkat kesayangan dari Ana, dan benda yang paling berharga karena pemberian dari orang yang paling dicintai oleh Ana. Benda itu adalah satu satunya hal yang mampu membawanya bertemu dengan Papanya, karena Kinara yakin bahwa Papanya akan bisa mengenalinya dengan tongkat itu.
Akan tetapi sangat disayangkan, tongkat itu justru hilang dari genggaman tangannya. Entah kemana lagi dirinya harus mencari tongkat itu, ia telah mencarinya dikamar dan halaman rumahnya akan tetapi tidak kunjung menemukannya.
"Jika Papamu sampai tau, mungkin dia akan sangat marah sama Mama, Nak. Bagaimana jika Papamu mengatakan bahwa Mama sudah tidak mencintainya lagi karena menghilangkan benda kesayangannya itu? Nara, apa yang kamu lakukan? Kenapa bisa tongkat itu hilang? Kemana kamu membawanya pergi?"
"Mama..." Ucap Kinara menggantung, dan hanya memanggil Namanya saja.
"Jawab Nara! Kenapa tongkat itu bisa hilang?" Sentak Ana, dirinya baru pertama kali bernada seperti itu kepada anaknya hingga membuat Kinara begitu sangat terkejut.
Melihat Kinara yang dimarahi oleh Ana, hal itu langsung membuat Siska langsung menarik tangan Kinara untuk membawanya berdiri dibelakangnya. Kinara hanya menurut saja karena dirinya juga takut dimarahi oleh Ana, dan terlihat setitik air mata dipelupuk matanya.
"Maksud kamu apa, Siska!" Sentak Ana kepada Siska.
"Kak, jangan marahi Nara berlebihan seperti itu. Aku tau Kakak marah dengan Nara karena tongkat itu hilang, dan jangan sampe gara gara itu Kakak juga kehilangan anak Kakak. Nara memang salah karena lalai, beri dia waktu untuk mencarinya," Ucap Siska lirih sambil mengusap lengan Ana seraya mengajaknya untuk duduk.
Siska pun menyuruh Kinara untuk mengambilkan air minum untuk Ana agar perasaannya menjadi lega, Kinara dengan segera langsung bergegas mengambilkan segelas minuman untuk Mamanya.
Kinara datang dengan membawa segelas minuman dan langsung menyerahkannya kepada Ana, Ana pun membuka sedikit cadarnya untuk meminum minuman tersebut agar hatinya merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
"Maafin Nara, Mama. Nara begitu ceroboh dalam membawa sesuatu yang paling berharga untuk Mama, Nara janji pasti akan menemukannya nanti dan menyerahkannya kepada Mama." Suara Kinara begitu pelan karena takut kalau Ana akan memarahinya lagi, akan tetapi suaranya itu masih mampu didengar oleh Ana.
"Kemana kamu akan mencarinya?" Tanya Ana.
"Kepasar. Nara ingat terakhir kali memakainya itu dipasar, mungkin nanti Nara bisa menemukannya," Ucap Kinara yang telah mengingat kejadian yang ia lalui ketika menggunakan tongkat tersebut.
"Jelaskan kepada Mama, apa yang kamu lakukan?"
"Nara hanya membantu ibu ibu, Ma. Kasihan barangnya dicopet oleh orang jahat, terus Nara memakai tongkat itu untuk melawannya," Kinara berkata jujur kepada Ana.
"Kamu berkelahi?" Tanya Ana dengan kedua mata yang melotot kearah anaknya.
Kinara hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia mengiyakan pertanyaan dari Ana itu. Rasanya seperti dihantam sebuah batu yang teramat sangat besar, hingga membuat Ana pun sampai mundur seraya memegangi dadanya.
"Sudah Mama bilang kan! Jangan pernah berkelahi dengan orang lain, Nara. Apalagi terlibat dalam masalah orang lain, bagaimana jika kamu kenapa kenapa? Apa kamu tidak mempedulikan perasaan Mama?"
"Ma, Nara nggak bisa diam saja kalau lihat orang lain butuh bantuan, hati Nara sakit kalo tidak bisa membantu orang lain yang kesusahan. Nara sudah besar, dan berhak menentukan pilihan Nara, Ma. Biarkan diriku berguna bagi orang lain, hanya itu tujuan hidup Nara, Ma."
Kinara pun langsung terisak tangis ketika selesai mengatakan kalimat yang panjang itu, dirinya merasa ada yang berbeda dari Mamanya kali ini, sehingga Mamanya sangat marah kepadanya. Kinara sendiri tidak tau penyebab apa yang membuat Mamanya sangat marah kepadanya, jika memang Mamanya masih mencintai Papanya, lantas mengapa mereka tidak bersama? Itulah yang dipikirkan oleh Kinara.
__ADS_1
Ana langsung memeluk anak semata wayangnya itu, pelukan yang sangat erat seakan akan takut akan kehilangan gadis kesayangannya itu. Terdengar suara isakkan lirih yang keluar dari mulutnya, dan mampu didengar oleh Kinara.
"Maafin Mama yang sangat egois ini, Nak. Mama sangat menyayangimu, dan takut kehilangan dirimu. Tapi Mama lupa, manusia itu harus saling tolong menolong," Isakkan itu semakin jelas terdengar ditelinga Kinara.
"Mama nggak salah kok sama Nara, Nara yang salah karena menghilangkan benda kesayangan Mama. Maafin Nara ya, Ma?"
"Lupakan benda itu, yang penting kamu baik baik saja, Nara. Jangan lakukan hal nekat lagi, Mama mohon,"
"Nara nggak bisa janji, Ma. Nara akan melakukan apapun demi Mama, Nara sayang sama Mama, Nara nggak mau Mama kenapa kenapa juga."
"Mama juga sangat sayang sama Nara. Kamu nggak ada yang luka, kan? Penjahat itu tidak melukaimu, kan?" Tanya Ana sambil melepaskan pelukannya itu dan menatap kearah wajah anaknya.
"Nara ngak kenapa napa kok, Ma. Tadi banyak orang yang datang, mereka terlihat sangat menyeramkan. Lalu, Nara kabur dari sana karena takut jika mereka bagian dari penjahat itu, dan Nara lupa untuk mengambil tongkat milik Mama."
Ana pun terdiam, Ana yakin bahwa itu adalah bagian dari anggota Gengcobra yang tengah bertugas disana. Jika mereka bukan anggota Gengcobra, mana mungkin tongkat miliknya itu bisa sampai ditangan Rifki.
"Terus apakah mereka mengejarmu, Nara?"
"Nggak kok, Ma. Mereka langsung membantu penjahat itu, dan Nara langsung sembunyi tadi."
"Syukurlah kalau mereka tidak mengejarmu."
*****
Di pagi yang teramat sangat cerah, seorang wanita tengah memperjualkan dagangan hasil kebunnya. Wanita itu nampak begitu sangat kelelahan dan dirinya mengusap keringat yang menetes dari wajahnya itu, rasa gerah pun tengah dirinya rasakan.
Dihadapan wanita itu terdapat beberapa sayuran dan buah buahan hasil kebunnya, hanya itu yang bisa dirinya lakukan. Sejak pagi belum ada seorang pun yang mampir dilapaknya, sehingga buah buahan itu masih utuh dan tertata rapi.
Tiba tiba sosok pemuda pun menghampirinya, pemuda tersebut langsung mengambil sebuah buah jeruk yang ada diujung, dan dirinya pun menciumnya untuk merasakan aromanya.
"Iya Mas, kami memetiknya sendiri." Wanita itu pun menjawab sambil mendekat kearah pembeli tersebut.
Lelaki tersebut pun menoleh kearah dari mana asal wanita itu berjalan, dirinya pun terpana dengan wajah wanita yang setengah paruh baya itu. Usia wanita itu menginjak pada usia sekitar 60 tahunan, akan tetapi wajahnya masih terlihat cantik meskipun terlihat sedikit keriput didahinya.
"Mas!" Panggil wanita itu sambil melambaikan tangannya didepan wajah lelaki tersebut, karena lelaki itu seakan akan tengah melamun.
Bukan, lelaki itu tidak melamun, melainkan mengingat sesuatu ketika melihat wajah wanita yang ada dihadapannya itu. Lelaki itu pernah melihat wajah tersebut, akan tetapi dirinya lupa pernah melihatnya dimana.
"Mas nggak papa, kan?" Tanya wanita itu lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari lelaki itu sebelumnya.
"Tante Lia," Ucapan itu langsung terlontarkan begitu saja dari mulut lelaki tersebut.
"Tante Lia? Saya bukan Tante anda." Wanita itu seakan akan kebingungan dengan panggilan yang diucapkannya.
"Nggak mungkin. Akhirnya aku menemukan dirimu yang telah lama menghilang, Tante harus pulang bersamaku," Ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Sapta.
Sapta telah berkeliling diberbagai tempat yang jauh hanya untuk mencari Lia, setelah terakhir kali dirinya bertemu dengan Nadhira, baru kali ini dirinya menemukan seseorang yang sama persis dan mirip dengan Lia. Ia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Lia, akan tetapi kenapa wanita itu terlihat bingung.
"Mungkin anda salah orang, Mas. Namaku bukan Lia," Wanita itu tetap kekeh bahwa dirinya bukanlah Lia.
"Nggak. Pulanglah bersamaku, Dhira butuh dirimu saat ini," Ucapnya sambil memegangi tangan wanita itu.
Dengan kasarnya wanita itu langsung menghempaskan tangan Sapta, "Mas jangan asal bicara, ya! Saya tidak kenal dengan anda, siapa Dhira? Saya tidak tau."
__ADS_1
"Bagaimana bisa Tante melupakan anak Tante sendiri? Dhira adalah anak Tante."
"Masnya ngaco, ya! Anak saya namanya Ratna, bukan Dhira."
"Setelah 30 tahun Tante menghilang, kenapa Tante melupakan semuanya? Kasihan Dhira yang telah Tante tinggalkan selama ini, dia berjuang mati matian sendirian selama ini."
"Aku nggak peduli. Kamu jangan asal bicara tentang diriku, ya! Aku tidak mengenal kamu ataupun orang yang kamu panggil dengan nama Dhira itu!" Sentak wanita yang terlihat kehilangan kesabaran itu.
Mendengar suara wanita yang tampak marah itu, tiba tiba seorang lelaki keluar dari dalam lapak tersebut dan menghampiri wanitanya.
"Ada apa ini?" Tanya lelaki yang baru saja keluar.
"Ini loh, Mas. Pemuda ini terus memaksakan kalau diriku namanya Lia, dan bilang aku itu saudaranya sehingga dia mau bawa aku pergi. Aku sendiri saja tidak kenal dengan dia, apalagi Dhira Dhira yang dikatakannya itu."
Mendengar aduan dari wanita tersebut membuat lelaki yang gagah itu nampak begitu marah, Sapta sendiri pun hanya bisa berdiam diri ketika lelaki itu memarahinya dan bahkan hampir saja membuatnya babak belur. Untung saja ada beberapa warga yang membantunya agar terhindar dari lelaki itu, ini adalah kesalahannya yang beranggapan bahwa wanita itu adalah Lia tanpa berpikir panjang.
Akan tetapi hati Sapta terus mengatakan bahwa itu adalah Lia, ia harus menyelidiki kebenarannya dan membawa wanita itu pulang untuk bertemu dengan anaknya. Sebelum dirinya menemukan bukti bukti bahwa memang benar dia adalah Lia, iya tidak akan memberitahu hal itu kepada Nadhira.
Sapta pun pergi dari tempat tersebut karena tidak mau memancing keributan lebih lama lagi, jika dirinya masih berada di tempat itu mungkin saja akan ada orang yang tersakiti nantinya. Sapta harus berusaha untuk membawa dia pergi dari tempat itu, karena hanya dia yang mampu untuk melindungi Nadhira.
"Aku sangat yakin bahwa dia adalah Tante Lia. Apa mungkin telah terjadi sesuatu dengannya hingga membuat dia hilang ingatan? Aku harus membuatnya mengingat semuanya sebelum semuanya terlambat. Aku sudah menemukan Tante Lia, aku hanya perlu membuatnya ingat tentang masa lalunya."
Sapta masih tetap bertekad untuk membuat wanita itu mengingat segalanya, hati kecilnya terus berkata bahwa wanita itu memang benar benar adalah Lia. Dia hanya perlu menggunakan beberapa cara untuk membuatnya ingat, agar Lia bisa membantu Nadhira untuk menyelesaikan semuanya dan dendam itu akan berakhir.
Sapta memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dirinya harus merencanakan sesuatu agar mampu mengembalikan ingatan Lia. Dirinya harus benar benar memikirkan cara yang matang agar rencana tidak gagal, karena dirinya harus segera membawa Lia pergi untuk membantu Nadhira.
Sementara disatu sisi, wanita itu tengah melamun, melamunkan hal yang dikatakan oleh pemuda yang dirinya temui sebelumnya. Hatinya merasa berkecamuk, ia sama sekali tidak ingat apa apa bahkan dirinya tidak mengenali wanita yang dipanggil dengan nama Dhira.
"Kamu kenapa? Masih memikirkan ucapan lelaki tadi?" Tanya lelaki yang ada disebelahnya.
"Mas, entah mengapa hatiku tidak tenang tiba tiba. Perkataan lelaki tadi membuatku menjadi bimbang,"
"Mungkin dia hanya orang asing, Dek. Sudah lebih dari 20 tahun kita menjalani pernikahan, bukankah baru kali ini ada yang mengatakan itu kepadamu?"
"Iya sih, Mas. Aku pernah bertanya kepada Ibu waktu dia masih hidup, tapi dia sama sekali tidak mengatakan asal usulku, bahkan aku tidak tau masa kecilku sendiri. Sudah sering diriku memimpikan seorang anak gadis yang tidak aku kenal, tapi siapa anak itu? Aku sendiri tidak tau."
"Perlahan lahan ingatanmu itu akan kembali juga nantinya, bersabarlah."
"Sampai kapan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haii readers....
Bagaimana kabar kalian? Masih setia nungguin CTDH nggak nih?
Maafin Author yang beberapa hari tidak bisa update ya, entah mengapa nih hp agak ngeblank dan logout sendiri. Beberapa hari ini apk ini nggak bisa dibuka, setiap buka selalu keluar sendiri hingga Author jengkel banget.
Dan Alhamdulillah kali ini bisa dibuka, semoga tidak rewel lagi dan bisa update terbaru untuk menyelesaikan kisah yang menggantung ini..
Cukup kisah saja yang digantung, asal jangan gantung diri ya besti ✌️ Canda kok, jangan dianggap serius yak...
See you again...
__ADS_1
Heppy reading all... Lope lope sekebon toge ♥️