Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Penundaan acara pernikahan


__ADS_3

Orang yang berteriak tersebut langsung memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya, dan menjadi penghalang serangan benda tajam tersebut dengan tubuhnya itu, Nadhira yang merasakan pelukan tersebut langsung meneteskan air matanya.


Nadhira terpaku dengan apa yang terjadi kali ini, Nadhira membelalakkan kedua matanya dengan lebar lebar dan air matanya lolos begitu saja dari pelupuknya, bertapa sakit yang dia rasakan saat ini ketika melihat orang yang paling disayanginya terluka karenanya.


"Oma" Ucap Nadhira panik.


Tubuh Sarah pun menjadi tameng pelindung untuk Nadhira sehingga dirinya yang terkena serangan tersebut, Nadhira yang tidak mampu menahan beban berat tersebut akhirnya terjatuh dan menyandarkan Sarah didadanya.


"Oma, apa yang Oma lakukan hiks.. hiks.. hiks.. Oma! Oma! Kenapa Oma melakukan ini, Oma tidak boleh meninggalkan Dhira" Air mata Nadhira berjatuhan membasahi kening Sarah ketika melihat Sarah sudah bersimbah darah.


Air mata Nadhira yang menetes kekening Sarah membuat Sarah menatap dengan linangan air mata kearah Nadhira sambil menahan rasa sakit akibat dari tusukan itu, begitupun dengan darah segar yang tiba tiba mengalir dari ujung bibir Sarah.


Melihat itu membuat tubuh Nadhira bergetar hebat, ia sangat panik melihat Sarah dalam kondisi seperti itu apalagi Sarah sama sekali tidak berbicara kepadanya karena Sarah sedang menahan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan selama ini.


Jika itu Nadhira maka Nadhira masih mampu untuk menahan rasa sakit karena dirinya yang sering terluka akan tetapi Sarah yang tidak pernah terkena tusukan membuat Sarah hanya bisa berdiam diri sambil menahan rasa sakitnya itu.


"Oma hiks.. hiks.. maafin Dhira karena tidak bisa melindungi Oma, ini semua salah Dhira, jangan tinggalkan Dhira Oma, Dhira mohon" Nadhira terus memeluk tubuh Sarah yang terbaring dengan lemahnya itu.


Sarah mencoba untuk menggerakkan tangannya menyentuh pipi Nadhira, dengan perlahan lahan Sarah mengusap pipi Nadhira hal itu membuat Nadhira memegangi tangan Sarah yang saat ini sedang memegangi pipinya itu.


Sarah mencoba untuk membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kepada Nadhira, tapi sama sekali tidak ada kata yang keluar dari dalam mulutnya dan dirinya hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tersebut.


"Apa yang ingin Oma katakan kepada Dhira?" Tanya Nadhira yang melihat itu.


"Dhi ra ti dak sa lah" Ucap Sarah dengan susah payahnya.


Setelah berusaha untuk berbicara akhirnya suara Sarah mampu keluar dari bibirnya, meskipun dengan terbata bata dalam pengucapannya karena menahan rasa sakit itu apalagi dengan darah yang rasanya memenuhi mulutnya.


"Ini salah Dhira Oma, karena Dhira Oma seperti ini hiks.. hiks.. maafkan Dhira"


"Oma, maafkan aku" Ucap Theo lirih dan hampir tidak didengar oleh siapapun.


Sarah yang merasa tidak tenang dengan keadaan Nadhira ditempat itu mendadak dirinya diam diam keluar dari kamar tersebut dan anggota Gengcobra yang menjaga tempat itu tidak menyadari bahwa Sarah telah pergi.


Melihat kejadian itu membuat Theo dan anggotanya langsung membawa Rifki pergi dari tempat itu, sementara Nadhira masih memangku Sarah dalam pelukannya dan menatapnya dengan linangan air mata.


"THEO!!!" Bentak Nadhira.


Nadhira pun memeluk tubuh Sarah yang saat ini sedang menahan sakitnya akibat tusukan benda tajam itu, ia tidak menyangka bahwa Sarah akan melakukan itu untuk melindunginya.


"Syu kur lah kau ti dak apa apa Nak" Ucap Sarah sambil terbata bata karena mulutnya sudah penuh dengan darah segar.


"Bertahanlah Oma, kenapa Oma melakukan ini untuk Dhira, jika terjadi sesuatu dengan Oma aku tidak akan pernah memaafkanmu Theo" Ucap Nadhira dengan geramnya.


"Ja ga di ri mu ba ik baik Nak"


"Oma, jangan tinggalkan Dhira, bertahanlah Oma, Dhira mohon kepada Oma hiks.. hiks.."


Nadhira pun menundukkan kepalanya menahan rasa sedihnya, entah kenapa kebahagiaan yang dia nanti nantikan itu malah justru berakhir dengan kesedihan, ia tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini, disini Sarah terluka parah akan tetapi disatu sisi Theo membawa Rifki pergi bersamanya.


Terdengar isak tangis dari bibir Nadhira lirih, ia tidak tau lagi apa yang harus dirinya lakukan saat ini, ia sangat mencintai Rifki akan tetap dirinya juga tidak ingin kehilangan Sarah.


Tak beberapa lama kemudian Bayu dan beberapa anggota Gengcobra datang ketempat dimana mereka mendengar suara Nadhira berteriak, mereka begitu terkejut ketika mengetahui Sarah yang sudah terbaring dengan lemah dan bersimbah darah seperti itu.


Gaun atasan Nadhira yang berwarna putih pun kini sudah menjadi merah karena darah yang dimiliki oleh Sarah, Bayu segera bergegas untuk mendatangi Nadhira dan memeriksa keadaan Sarah.


"Apa yang terjadi Dhira? Kenapa dengan Oma Sarah? Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Bayu khawatir.


"Oma melindungiku Bay, anak buah Theo ingin menghabisiku tapi Oma datang dan menjadi pelindung untukku, ini semua salahku Bay seandainya aku tidak lengah mungkin Oma tidak akan terluka seperti ini"


"Kurang ajar sekali Theo! Aku tidak akan membiarkan Theo begitu saja Dhira" Umpat Bayu.


"Tolong jaga Oma, bawa dia kerumah sakit secepat mungkin Bay, aku tidak ingin kehilangan Oma, aku sendiri yang akan mengejar Theo agar dia tidak bisa membawa Rifki pergi dari sini" Ucap Nadhira dengan tegas meskipun air matanya berjatuhan.


"Tapi Dhira bagaimana mungkin kau bisa membiarkan dirimu sendirian" Ucap Bayu.


"CEPAT BAY! Jangan pedulikan aku, nyawa Oma lebih penting saat ini, begitupun dengan keselamatan dari Rifki" Bentak Nadhira.

__ADS_1


"Tapi Dhira..."


"JANGAN MEMBANTAHKU BAY! Ini semua demi keselamatan dari Rifki dan Oma, lakukan apapun yang aku perintahkan sekarang juga!"


Nadhira teringat kembali tentang apa yang dikatakan oleh Nimas kepadanya bahwa hanya cinta tulusnya yang mampu untuk menyadarkan Rifki dari mantra yang diberikan oleh seseorang kepada Rifki itu, jika Nadhira pergi kerumah sakit hal itu akan membuat dirinya kehilangan sosok Rifki.


Akan tetapi jika Bayu yang mengantarkan Sarah kerumah sakit hal itu masih menciptakan sebuah peluang bagi Nadhira untuk bisa menyelamatkan kedua orang yang ia sayangi itu, masih ada waktu untuk mampu menyelamatkan Sarah.


Keputusan Nadhira sangat tepat untuk menyerahkan Sarah kepada Bayu, sementara dirinya akan kembali mengejar Theo yang belum jauh dari dirinya itu, ia harus membuat Rifki sadarkan diri agar keadaan semuanya kembali membaik.


Jika Rifki sadar maka tidak ada alasan lain untuk Theo bisa membawanya pergi, Rifk akan dengan mudah untuk mengalahkan mereka karena ilmu beladiri yang ia miliki tidak akan mudah untuk dipecahkan oleh siapapun.


"Hanya aku yang bisa membuat Rifki bangun Bay, Rifki terkena sebuah mantra jahat, jika Rifki bangun maka semuanya akan baik baik saja, tolong mengertilah Bay hiks.. hiks.. cepat bawa Oma pergi dari sini" Ucap Nadhira penuh harap.


"Baiklah Dhira, biarkan Reno yang ikut bersamamu untuk menjagamu Dhira, aku akan pergi membawa Oma Sarah kerumah sakit sekarang" Ucap Bayu dengan keterpaksaannya.


"Iya Bay, jaga Oma dengan baik"


"Kau tenang saja Dhira, aku pasti akan segera sampai dirumah sakit untuk Oma Sarah, dia akan segera ditangani oleh Dokter"


"Iya Bay"


"Kami pergi dulu Dhira"


Bayu segera mengangkat tubuh Sarah untuk pergi dari tempat itu, Nadhira pun menangis sejadi jadinya ketika menatap kepergian dari Bayi tersebut, acara pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan lagi, ia pun tidak menyangka bahwa pernikahan ini akan menyebabkan orang yang dirinya sayangi terluka.


"ARGHHHH....." Teriak Nadhira.


Mendengar teriakan keputusasaan Nadhira membuat Reno mendekat kearah Nadhira dan mengusap pelan punggungnya Nadhira untuk menenangkan hati Nadhira saat ini, Nadhira pun menoleh kearah Reno dengan tatapan penuh kesedihan.


"Aku ngak apa apa kok Ren, kau tidak perlu menghawatirkan tentang diriku" Ucap Nadhira yang berusaha untuk kembali tegar.


"Maaf aku telah lancang menyentuhmu Nona Muda, melihatmu berteriak seperti itu saya menjadi tidak tega" Ucap Reno yang sadar akan perbuatannya.


"Bukan masalah, sebaiknya kita segera mengejar Theo yang membawa Rifki"


Nadhira, Reno dan anggota Gengcobra lainnya segera bergegas menuju kearah dimana Theo membawa Rifki kabur sebelumnya, melihat Sarah yang terluka membuat kedua anggota keluarga itu segera mengantarkannya kerumah sakit.


Dan yang tersisa ditempat itu hanyalah Haris, Aryabima, David, Stevan dan anggota Gengcobra lainnya, sementara yang wanita segera mengikuti Bayu yang membawa Sarah menuju kerumah sakit.


"Om saya mau bergabung dengan yang lainnya untuk menjaga gerbang" Ucap Stevan, Stevan adalah suami dari Nandhita.


"Baiklah, jangan biarkan siapapun keluar dari gedung ini" Ucap David.


"Om apakah digedung ini hanya ada satu gerbang? Atau mungkin ada jalan lainnya? Aku takutnya ada jalan rahasia"


"Pemilik gedung ini mengatakan bahwa hanya ada gerbang utama saja Nak, dan Kakek yakin bahwa orang yang membawa Rifki belum kabur dari gedung ini" Ucap Aryabima.


"Baiklah Kek jika seperti itu, mungkin sedikit saran saja dari saya, sebaiknya kita memeriksa bagian belakang gedung, siapa tau orang itu telah merencanakan hal yang lain"


"Saran yang bagus, baiklah aku yang akan kesana" Ucap Haris.


Haris langsung membawa beberapa anggota Gengcobra bersamanya untuk menuju kebagian belakang dari bangunan tersebut, melihat itu membuat Stevan langsung bergegas pergi menuju kebagian gerbang utama, sementara Aryabima dan juga David menuju kearah yang berbeda beda.


Sementara beberapa orang yang membawa Sarah kerumah sakit saat ini sedang berada didalam mobil sambil menyaksikan tubuh Sarah yang terbaring tidak sadarkan diri dengan lemahnya.


"Ma, apakah Kak Rifki akan baik baik saja?" Tanya Ayu sambil meneteskan air mata.


"Dia pasti baik baik saja Nak, semoga saja yang lainnya segera menemukannya" Ucap Putri sambil memeluk tubuh Ayu yang ada disampingnya.


"Ayu sangat takut Ma, bagaimana kalau telah terjadi sesuatu dengan Kak Rifki?"


"Kita berdoa saja ya, semoga Kakak Rifki dan Kakak Nadhira baik baik saja"


"Ayu selalu berdoa Ma, Ayu takut Ma"


"Jangan takut, ada Mama disini, Papa juga sedang berusaha untuk mencari Kakak Rifki"

__ADS_1


"Iya Ma,, hiks.. hiks.." Tangisan itu tidak mampu untuk dibendung lagi oleh Ayu.


Mendengar Ayu yang menangis seperti itu membuat Fika yang berada tidak jauh darinya hanya bisa menggenggam tangan Bi Ira yang ada didekatnya, sementara Nandhita memegangi tangan Sarah berharap bahwa Sarah akan selamat.


"Oma bertahanlah kita akan segera sampai, Oma tidak boleh meninggalkan aku dan Nadhira, kami sangat menyayangimu Oma" Ucap Nandhita sambil menempelkan punggung tangan Sarah kepada pipinya itu.


Sarah yang kehilangan banyak darah itu pun sudah tidak mampu untuk mempertahankan kesadarannya, ia pun tidak mampu untuk membuka kedua matanya, dan pendengarannya terasa sangat sunyi seakan akan dirinya berada di kegelapan malam yang tak memiliki ujung.


"Yang sabar Nak" Ucap Putri sambil mengusap pelan puncak kepala Nandhita.


"Tante, Dhita takut terjadi sesuatu dengan Oma" Ucap Nandhita sambil berlinangan air mata.


"Tante tau ini berat, jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin"


"Iya Tante" Ucap Nandhita sambil menganggukkan kepalanya pelan.


*****


Nadhira beserta Reno dan yang lainnya segera bergegas untuk mencari Theo yang sedang membawa Rifki pergi bersamanya, Nadhira melangkah sesuai dengan kata hatinya yang mengatakan kemana dirinya akan melangkah selanjutnya.


"Lebih baik kita berpencar saja Ren, kamu cari kedalam gedung dan aku akan mencari dihalaman luar gedung" Ucap Nadhira.


"Apa kau yakin Nona Muda?"


"Apa kau meragukan diriku?"


"Aku tidak berani melakukan itu Nona Muda"


"Cepat laksanakan tugasmu"


"Baik Nona Muda".


Reno membawa beberapa orang untuk mencari Rifki menuju kebagian dalam dari bangunan tersebut, sementara Nadhira hanya membawa tiga orang bersamanya untuk mencari dihalaman belakang bangunan yang besar itu.


"Pelankan langkah kaki kalian, jangan sampai ada yang mendengarnya" Ucap Nadhira dengan lirih kepada ketiga anggota Gengcobra yang saat ini sedang bersamanya.


"Baik Nona Muda" Jawab mereka bersamaan akan tetapi dengan nada lirih.


Nadhira dan ketiga anggota Gengcobra segera memelankan langkah kaki mereka, Nadhira semakin merasa sangat khawatir dengan Rifki karena sejak tadi dirinya belum menemukan keberadaan dari Theo dan yang lainnya sedang membawa Rifki pergi.


Disatu sisi Theo dan ketiga anak buahnya sedang berusaha untuk mencari jalan keluar dari tempat itu, ia pun menemukan sebuah pagar pembatas tembok yang tidak terlalu tinggi dan tingginya hanya setinggi pinggangnya saja.


Hal itu akan semakin mudah untuk membawa Rifki pergi dari tempat tersebut, Theo pun melangkah ke perbatasan pagar tersebut beserta salah satu anak buahnya sementara kedua anak buahnya yang lain sedang membopong tubuh Rifki yang masih belum sadarkan diri itu.


Dengan selamat Theo bersama dengan satu anak buahnya tersebut melangkahi pagar itu, sementara kedua anak buahnya yang ada disudut lainnya langsung mengangkat tubuh Rifki yang pingsan dan Theo langsung membantu anak buahnya itu.


Dengan susah payah akhirnya usaha mereka telah berhasil untuk membawa Rifki pergi dari tempat itu, setelah itu kedua anak buah Theo itu ikut melompat melewati pagar tembok yang ada didepan mereka.


"Berhenti kalian!" Seketika terdengar suara teriakan Nadhira dari kejauhan setelah kedua anak buah Theo melompat dari pagar itu.


Mendengar teriakan itu membuat mereka langsung bergegas untuk melangkah pergi dari tempat itu, Nadhira langsung berlari untuk menangkap mereka dan dirinya pun ikut melompat dari pagar tersebut beserta ketiga anggota Gengcobra.


Theo dan anggotanya langsung masuk kedalam mobilnya yang berada tidak jauh dari tempat itu, mereka pun langsung bergegas untuk pergi dari sana sementara Nadhira langsung menghentikan langkahnya ketika melihat mobil itu telah berjalan.


"Sial!" Umpat Nadhira.


Nadhira pun menatap sekelilingnya dan menemukan sebuah motor CBR yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, ia pun berlari menuju kearah motor itu dan sangat kebetulan sekali bahwa kontaknya masih terpasang disana.


Tanpa meminta izin kepada pemiliknya, Nadhira segera memakai helm dan langsung mengalahkan sepeda motor itu, melihat aksi Nadhira membuat anggota Gengcobra seketika menghentikan nafasnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Nona Muda!" Teriak anggota Gengcobra yang menyaksikan kejadian tersebut.


"Woi maling! Tolong maling! Maling!" Teriak pemilik sepeda motor tersebut ketika melihat Nadhira membawanya pergi.


Teriakan dari pemilik sepeda motor itu pun membuat warga sekitar segera berlarian kearah dimana lelaki itu berteriak, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka berkumpul dan mencoba untuk mengejar Nadhira.


"Maaf Pak pinjam motornya sebentar!" Teriak Nadhira balik.

__ADS_1


Anggota Gengcobra yang menyaksikan itu hanya bisa menepuk jidat mereka masing masing, bagaimana bisa itu disebut meminjam? Sementara pemilik dari motor itu sendiri belum mengizinkannya, pantas saja Nadhira disebut sebagai maling.


__ADS_2