Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kabur


__ADS_3

Nadhira masih tetap menodongkan pisau tersebut kepada seseorang yang ada didepannya, bahkan dirinya tidak pernah mempercayai siapapun selain Rifki dalam hidupnya. Sementara wanita itu masih diam ditempatnya sambil menatap kearah Nadhira, dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


"Kau mau bunuh diriku pun nggak masalah, Dhira. Aku tidak takut mati di tanganmu. Memang kesalahanku begitu banyak kepadamu, dan aku minta maaf atas semuanya kepadamu. Jika dengan membunuhku kau bisa memaafkan diriku, maka lakukanlah itu kepadaku."


"Kenapa kau melakukan ini? Kau tau, kehadiranmu dalam hidupku sangat menyiksaku! Kau merenggut semuanya dariku! Kau dan Ibumu telah menghancurkan hidupku. Karena kau, aku jadi seperti ini!"


Wanita tersebut pun menangis karena ucapan Nadhira, dapat dilihat bertapa hancurnya hati Nadhira selama ini. Ingin rasanya dirinya menebus kesalahannya selama ini, akan tetapi dirinya tidak tau harus berbuat apa untuk menebusnya.


"Maaf," Hanya kata kata itu yang bisa wanita tersebut katakan kepada Nadhira.


"Maaf kamu bilang? Apa maaf mu bisa mengembalikan semuanya? Kau bahkan sama sekali tidak bisa merubah kenyataan!"


"Aku memang tidak bisa merubah masa lalu, tapi aku bisa merubah masa depan. Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan maaf darimu, aku akan berusaha untuk itu."


"Aku tidak membutuhkan dirimu."


Cukup lama keduanya saling berhadapan saat ini, bahkan Nadhira sama sekali tidak menurunkan pisau kecilnya itu. Sekali jantung yang terhunus, maka perempuan yang ada didepannya bisa dipastikan akan mati dalam waktu sekejap.


Tak beberapa lama kemudian, tiba tiba Sena dengan para anggotanya berdatangan dan memutari keduanya. Nadhira begitu terkejut melihatnya, dan langsung mengunci pergerakan dari wanita yang ada didepannya itu.


"Apa maksudmu! Kau menjebak ku, ha!" Teriak Nadhira ditelinga wanita itu.


"Kau sudah dikepung disini, Dhira. Kau tidak akan bisa kabur lagi,"


"Sudah ku duga bahwa dirimu tidak tulus meminta maaf, Manda. Kau pembohong!"


"Terus sekarang mau mu apa?"


"Kau harus mati bersamaku."


Wanita itu tidak lain adalah Amanda, Adik tiri dari Nadhira sendiri. Saat ini Amanda berada dalam tawanan Nadhira, bahkan Amanda sedang disekap oleh Nadhira dengan menggunakan pisau kecil sekaligus tangannya yang dikunci oleh Nadhira.


"Dhira, ayo kabur perlahan lahan," Bisik Amanda tepat ditelinga Nadhira.


"Maksudmu apa?" Tanya Nadhira keheranan.


"Mama tidak akan mencelakakan diriku, kau yakin saja kepadaku,"


Nadhira pun menatap sekelilingnya, nampak tak seorangpun yang berani mendekat kearah keduanya itu, bahkan mereka seperti tengah menjauh karena takut jika Amanda sampai kenapa kenapa. Amanda adalah kesayangan dari Sena, sehingga mereka berusaha untuk menjaganya.


"Lepaskan Manda!" Teriak Sena ketika melihat pisau kecil yang terarah kepada leher anaknya.


"Tidak akan! Sekali kalian mendekat, maka akan ku bunuh Manda sekarang," Ancam Nadhira.


"Mama tolong aku! Aku nggak mau mati sekarang!" Teriak Amanda.


"Diam kau!" Sentak Nadhira kepada Amanda.


"Mama!"


Tanpa Nadhira sadari bahwa Amanda menggerakkan tangannya untuk menggoreskan pisau itu dilehernya sendiri, dan langsung terlihat bekas merah memanjang sekaligus darah yang bercucuran keluar.


"Manda!" Teriak Sena terkejut.


"Arghhh..." Teriak Amanda.


"Apa yang kau lakukan?" Bisik Nadhira.


"Bawa aku pergi, Dhira."


Nadhira pun perlahan lahan melangkah mundur dan diikuti oleh Amanda, mereka semua pun langsung siap siaga untuk berjaga jaga didepan Nadhira. Nadhira dengan segera langsung membawa Amanda pergi dari tempat tersebut, ketika jarak keduanya sudah menjauh Amanda langsung menarik tangan Nadhira untuk bersembunyi.


Keduanya kini bersembunyi disebuah lubang dibawah sebuah jembatan, dan tubuh keduanya pun ditutupi oleh rerumputan agar tidak dilihat oleh orang orang itu. Keduanya dapat menyaksikan bahwa Sena beserta seluruh anak buahnya tengah berpencar untuk mencari mereka berdua.


Cukup lama mereka berada disana hingga tempat itu terlihat begitu sepi karena seluruhnya sedang mencari keduanya, Amanda pun menarik tangan Nadhira untuk kabur dari tempat itu karena tidak mau menyia nyiakan kesempatan.


"Manda kita mau kemana?" Tanya Nadhira sambil berlari ditarik oleh Amanda.


"Cari tempat yang aman sampai Rifki datang, percaya saja kepadaku," Jawab Amanda sambil terus menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu.


"Iya tapi kemana?"

__ADS_1


"Sudah jangan banyak bertanya."


Amanda masih tetap menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat tersebut, puluhan meter keduanya terus berlarian diantara rimbunnya semak dan pepohonan. Bahkan keduanya sama sekali tidak memperhatikan langkah kaki mereka, bahkan kaki mereka sampai terluka akibat rerumputan yang tajam.


"Tunggu sebentar. Bukannya ini mengarah kepada desa Flamboyan?" Nadhira pun menyadari bahwa Amanda membawanya ketempat itu.


"Mereka akan mencarimu di desa Mawar Merah, hanya desa Flamboyan yang aman untuk saat ini. Setelah ledakkan itu, seluruh penduduk pergi dari tempat itu," Jelas Amanda.


"Bagaimana dirimu bisa tau soal ledakkan itu?"


"Ada banyak hal yang belum kamu ketahui, Dhira. Sebaiknya kita segera ke sana, dan aku akan jelaskan semuanya kepadamu nanti."


Amanda pun membawanya menuju ke tepi sebuah jalan raya yang sepi, dirinya pun mencari sebuah angkutan umum yang lewat disana untuk membawanya pergi bersama dengan Nadhira. Butuh waktu dan jarak yang jauh untuk bisa mencapai desa Flamboyan, oleh karena itu mereka butuh angkutan umum untuk membawanya pergi.


Terlihat ada sebuah mobil pick up yang terparkir diujung jalan, dan nampaknya sopirnya tidak ada ditempat itu. Amanda langsung mengajak Nadhira untuk naik keatas mobil pick up tersebut, dan menutupi tubuh mereka dengan sebuah terpal plastik yang ada disana.


Amanda melakukan itu karena dirinya mendengar dari kejauhan suara Sena beserta anak buahnya yang akan datang, oleh karena itu mereka berdua harus bersembunyi untuk menghindari mereka semua. Nadhira dan Amanda sampai harus menahan nafasnya ketika tanpa sengaja mendengar suara Sena yang sedang bercakap cakap dengan anak buahnya itu.


"Pak, anda lihat dua orang wanita yang berlari disini?" Tanya Sena kepada seorang pria yang hendak naik untuk menyopir mobil pick up itu.


"Tidak ada, Mbak. Sejak tadi disini sepi," Jawab Sopir tersebut.


"Cepat periksa barang angkutan itu, siapa tau mereka ada didalam." Perintah Sena.


"Baik Bos!" Seru beberapa anak buah Sena.


"Mbak ini ada apa, ya?" Tanya Sopir itu sambil mencegah mereka untuk memeriksa isi didalam mobil pick up itu.


Mendengar itu, Amanda dan Nadhira saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan. Keduanya tau jika sampai mereka ketahuan, maka keduanya akan dalam bahaya saat ini.


Detak jantung keduanya langsung berubah menjadi sangat cepat, bahkan lebih cepat daripada habis lari maraton. Keduanya terus berdoa semoga saja ada yang menyelamatkan keduanya sebelum semuanya terlambat, bahkan tak henti hentinya keduanya memanjatkan doa.


Nadhira terlihat seperti tengah menahan sakit di dadanya, bahkan jika untuk bertarung dirinya tidak akan sanggup untuk saat ini apalagi melawan banyak orang seperti itu. Melihat itu, Amanda hanya bisa menggenggam erat tangan Nadhira dengan kedua tangannya untuk menguatkan wanita itu.


Amanda mencoba untuk meyakinkan Nadhira dengan menganggukkan kepalanya pelan kepada Nadhira, Nadhira hanya bisa pasrah dengan nasibnya saat ini, entah dirinya akan mati saat ini atau nanti.


"Pergilah, selamatkan dirimu, Manda. Jangan pedulikan diriku," Ucap Nadhira pelan dan hanya berbisik kepada Amanda.


"Tidak Manda, aku tidak mau mengorbankan orang lain."


"Aku adikmu bukan orang lain,"


"Tapi..."


Nadhira pun menggerakkan tangannya untuk menyuruh Amanda diam, dirinya tau bahwa Sena kini tengah ada didekatnya. Tiba tiba sebuah dering ponsel pun berbunyi, dan nampak sopir mobil pick up tersebut mengeluarkan ponselnya.


"Kenapa kirimannya belom sampai?" Terdengar seseorang yang marah marah dari ponsel tersebut.


"Maaf Bos, masih dalam perjalanan." Jawab sopir tersebut.


"Bisa kerja dengan baik nggak sih! Sudah ditunggu sama konsumen loh!" Sentaknya.


"Iya ya, Bos. Ini kurang sebentar sampai,"


"Baiklah, cepat diantar."


Tanpa sepatah kata pun, sopir tersebut langsung masuk kedalam mobilnya dan langsung menancapkan gasnya. Bahkan Sena belum sempat memeriksanya, akan tetapi mobil itu sudah melaju pergi meninggalkan tempat itu.


"Woi jangan kabur!" Teriak salah satu anak buah Sena.


"Kejar mereka!" Perintah Sena.


Beberapa anak buahnya pun langsung bergegas pergi untuk mengambil mobil pribadi mereka dengan berlari lari, mereka tidak mau ketinggalan untuk mengejar Nadhira dan Amanda.


"Hafalkan nomer platnya," Ucap Sena.


Salah satu anak buahnya pun mencatat nomor plat dari mobil pick up tersebut, agar mereka bisa melacaknya nanti ketika ketinggalan jejak. Di satu sisi, Nadhira dan Amanda merasa lega karena mobil tersebut jalan tanpa dilihat oleh Sena, keduanya pun membuka penutup terpal plastik yang ada di mobil itu.


"Manda, lehermu penuh darah," Ucap Nadhira ketika mengetahui bahwa separuh baju Amanda sudah berubah menjadi warna merah darah. Amanda bahkan lupa tentang lukanya itu, akan tetapi dirinya baru teringat ketika Nadhira mengatakannya.


"Nggak masalah," Jawab Amanda dengan santainya.

__ADS_1


"Ini harus segera diobati, Manda. Nanti jadi infeksi,"


"Yang terpenting kita sudah bebas dari Mama Sena, Dhira. Soal itu biar diurus nanti saja,"


Mendengar ada yang berbicara dibelakang, hal itu langsung membuat sopir mobil pick up itu menghentikan laju mobilnya. Oleh karena itu, Nadhira dan Amanda pun saling berbenturan karena berhenti dengan mendadak seperti itu.


"Kalian siapa?" Tanya sopir itu dan dirinya sudah berdiri didepan kedua wanita itu.


"Saudara saya terluka, Pak. Boleh ya kami numpang agar dia segera bisa diobati," Ucap Nadhira penuh harap.


"Aku sibuk. Sebaiknya kalian turun sekarang," Usir lelaki itu.


"Pak, kami mohon biarkan kami menumpang sampai depan. Kami janji tidak akan menyusahkan nantinya, lihatlah dia terluka sangat parah."


"Jangan jangan kalian berdua yang dicari oleh orang orang tadi, ya? Aku tidak mau terlibat dalam masalah kalian, sebaiknya kalian segera turun dari mobilku ini."


"Saya bisa bayar lebih mahal dari barang yang anda bawa, Pak. Beri kami tumpangan sampai depan sana," Ucap Amanda tiba tiba.


"Emang kalian mau bayar berapa?"


"10 juta, hanya sampai dijalan depan sana. Apakah itu kurang?"


"Baiklah, hanya sampai depan saja saja. Setelah itu kalian berdua segera turun, karena aku tidak mau terlibat dalam masalah kalian."


"Terima kasih, Pak." Jawab keduanya serempak.


Sopir tersebut kembali mengendarai mobil pick up itu, dan mereka pun kembali melaju meninggalkan tempat tersebut. Nadhira dan Amanda duduk sambil memandangi jalanan yang mereka lalui, keduanya hanya bisa berdiam diri tanpa ada sepatah kata pun itu.


Keduanya hanya bisa duduk diam sambil menatap sekelilingnya, jalanan yang sepi semakin menambah suasana damai disana. Pikiran Nadhira tidak bisa fokus saat ini, dirinya tiba tiba kepikiran dengan Rifki yang berada jauh darinya saat ini.


"Kita balik saja ke rumah Rifki, Manda. Aku mendadak merasa tidak tenang," Ucap Nadhira tiba tiba.


"Tapi disana bahaya, Dhira. Jika kita kembali, justru akan membahayakan semuanya, apa kamu mau itu terjadi?"


"Tapi bagaimana dengan dia, Manda? Aku tidak bisa tenang."


"Tenanglah Dhira, dia akan baik baik saja kok. Ada anggota Gengcobra yang akan melindungi dia disana, kau yakin dengan Bayu, Reno, Fajar, Vano dan yang lainnya, kan? Kau harus yakin kalau mereka bisa melindungi Rifki."


"Tapi bagaimana kalau dia kenapa kenapa, Manda? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan dia,"


"Aku tau kau cemas soal dia, tapi untuk saat ini tolong pikirkan nyawamu sendiri. Dia bakalan kesulitan untuk melawan mereka nanti, jika kau bersamanya dan merusak kefokusannya."


"Aku tidak bisa meninggalkan dia seperti ini, Manda. Aku tidak masalah jika nyawaku menjadi taruhannya, asalkan dia baik baik saja."


"Apa kau ingin ditangkap oleh mereka? Jika kau ditangkap lalu bagaimana perasaannya? Apa kau suka melihat Rifki menghawatirkan dirimu."


Pertanyaan dari Amanda membuat Nadhira langsung terdiam, dirinya tidak ingin itu terjadi tapi perasaannya tidak bisa dibohongi bahwa dirinya memang mencemaskan Rifki. Dia ingin kembali, tapi untuk saat ini dirinya tidak bisa melakukan itu.


Nadhira hanya menatap kosong ke arah jalanan yang ada di depannya itu, perasaannya bahkan rasanya seperti tidak karu karuan untuk saat ini. Apa yang diucapkan Amanda ada benarnya, dan dia tidak mau bertindak gegabah untuk masalah dengan Sena kali ini.


"Rifki, aku harap dirimu baik baik saja. Aku tidak mau dan tidak akan pernah rela jika dirimu terluka sedikitpun itu," Ucap Nadhira lirih dan langsung membuat Amanda mengenggam erat tangan Nadhira.


"Yakinlah kepada Allah, Dhira. Bahwa suamimu akan baik baik saja,"


"Semoga saja, Manda. Semoga dia baik baik saja."


*****


Rifki terus berlari ke arah tempat yang dimana dirinya berjanji akan menemui Nadhira disana, bahkan anak buahnya sampai tertinggal jauh karena sangking cepatnya dirinya berlari. Dia bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri, karena pikirannya terus tertuju kepada Nadhira.


"Dhira, maafkan aku yang telah ceroboh," Gimana nya lirih sambil terus berlari.


Rifki terus berlari tanpa mempedulikan nafasnya yang memburu akibat berlari, bahkan dirinya terus berlari mencari keberadaan dari Nadhira. Ketika dirinya sampai ditempat itu, dia semakin gelisah karena tidak menemukan keberadaan dari Nadhira.


"Dhira! Dhira! Kamu dimana!" Teriak Rifki yang terus mencari Nadhira disekitar tempat itu.


Rifki sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Nadhira, dan hal itu langsung membuatnya mendadak menjadi tidak tenang apalagi mengingat pesan singkat yang dirinya dapatkan sebelumnya itu.


Rifki semakin panik karena tidak menemukan keberadaan dari Nadhira, bahkan tanah yang dirinya pinjak dapat terlihat bahwa telah terjadi pertarungan ditempat itu. Hal itu semakin membuat perasaannya tidak karuhan, bahkan dirinya merasa gagal untuk menolong wanita yang dicintainya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu kenapa kenapa, Sayang. Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku sendiri, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu bahkan sedetik pun itu."

__ADS_1


__ADS_2