Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Bahayanya wanita yang lagi PMS


__ADS_3

Rifki terkejut ketika mendengarnya, seingatnya dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada Nadhira kenapa Nadhira bisa mengatakannya, itu adalah rahasianya bersama dengan anggota Gengcobra yang ikut dengan dirinya ke desa Mawar Merah.


"Ngak usah terkejut seperti itu Rif, aku sudah mengetahui semuanya"


"Kau tau dari mana Dhira? Siapa yang memberitahu hal itu kepadamu?"


"Tidak penting aku tau darimana Rif, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Jika itu yang terjadi maka aku iklas jika dirimu yang membunuhku Dhira, aku tidak akan pernah bisa untuk melukaimu dan aku tidak akan bisa melakukan itu"


"Tapi jika itu keharusan?"


"Percayalah kepadaku, kita tidak akan terpisahkan bahkan maut sendiri pun tidak akan bisa melakukan itu, setiaku hanya untukmu sayang, menikah hanya sekali dalam seumur hidup dan bagiku kaulah cinta terakhir dalam hidupku, bahkan disaat maut menjemputku hanya ada namamu dihatiku".


"Aku tidak buruh ucapan Rif, tapi aku buruh bukti bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan diriku, meskipun aku yang mati terlebih dulu, aku tidak akan rela melihatmu bersama wanita lain"


"Aku akan membuktikan kesetiaanku kepadamu Dhira, sampai akhir hayatku aku akan setia kepadamu, jika aku berhianat maka aku akan meminta kepada Allah untuk menghukum diriku dengan sangat berat dan aku rela mengorbankan nyawaku hanya untuk dirimu, demi Allah aku bersumpah akan selalu menyayangi Nadhira sepanjang hidupku jika aku berhianat maka aku siap untuk bunuh diri meskipun itu dosa asalkan tidak menghianati wanitaku"


Mendengar ucapan Rifki seketika membuat air mata Nadhira meleleh terharu, ia pun langsung membalikkan badannya dan menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Rifki.


Nadhira membenamkan wajahnya didada bidang suaminya dengan pelukan yang sangat erat seakan akan tidak mau kehilangan lelaki itu, Rifki pun membalas pelukan tersebut dan sesekali mengusap kepala Nadhira dengan lembut.


"Jangan tinggalkan aku Rif"


"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu Dhira, kita akan selalu bersama selamanya, bukan hanya didunia tapi juga diakhirat nanti"


Kedua tubuh tanpa busana tersebut menempel begitu saja tanpa adanya jarak, Rifki pun mendongakkan kepala Nadhira dan langsung menjatuhkan ciuman dibibir Nadhira, seketika itu juga ciuman panas tercipta didalam kamar mandi.


Rifki bebas untuk melakukan apapun kepada istrinya itu, setelah melakukan ciuman panas itu Rifki kembali menggosok tubuh Nadhira untuk membersihkannya, Nadhira pun sedikit merasa gugup dan dirinya pun ikut serta menggosok tubuh Rifki bergantian.


Setelah itu Rifki mengajak Nadhira bangkit dan keluar dari bathtub tersebut dan berjalan kearah shower dan Rifki menyalahkan kran shower tersebut hingga menghujani keduanya, setelah selesai dirinya segera mematikan kran shower itu dan langsung menutupi tubuh Nadhira dengan handuk.


Nadhira segera bergegas keluar dari kamar mandi itu untuk mengganti pakaiannya, sementara Rifki langsung menyambar sebuah handuk kecil untuk menutupi bagian pinggang kebawahnya.


Mandi dipagi hari itu terasa begitu sangat menyegarkan, membuat tubuh keduanya seakan akan kembali vit seperti sebelumnya dan lebih semangat untuk menjalani hari harinya itu.


"Habis ini wudhu dan kita sholat subuh" Ucap Rifki.


"Baik sayang" Jawab Nadhira.


Setelah mengganti pakaian, Nadhira segera bergegas untuk menuju kekamar mandi lagi untuk berwudhu setelah Rifki, setelah Rifki keluar dari kamar mandi, Nadhira pun langsung masuk kedalam untuk berwudhu.


"Mau ngapain? Aku sudah wudhu jangan disentuh nanti batal" Tanya Nadhira ketika melihat Rifki membentangkan tangannya.


"Ah masak sih" Goda Rifki sambil terus mendekat kearah Nadhira.


"Rifki! Aku sudah wudhu tau, jangan disentuh!"


"Wudhu lagi lah"


"Ngakkkkk!!! Menjauh ngak! Aku sudah wudhu"


"Ngak mau sayang"


"Rifki Chandra Abriyanta, aku sudah wudhu sayang"


"Kita juga sudah menikah sayang, kenapa harus takut batal"


"Nah kan batal" Keluh Nadhira ketika Rifki berhasil buat menyentuh tangan Nadhira.


"Mana ada? Kau akan mahramku sayang, ayo sholat pake mukenahmu"


"Harus wudhu lagi lah"


*****


Nadhira dan Rifki berjalan bersamaan untuk menuruni tangga yang menghubungkan kamarnya dilantai bawah, setelah itu keduanya segera bergegas menuju kedapur untuk mengisi perut mereka.


Rifki pun segera duduk dimejanya dan Nadhira lalu mengambilkan piring untuk Rifki dan mengisinya dengan nasi dan lauk, ia pun mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.


Keduanya tengah menikmati sarapan pagi bersama sama, karena waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi sehingga Nandhita dan Stevan belum keluar dari kamarnya.


Bi Ira dan juga Bi Sari telah memasak makanan tersebut sejak sebelum sholat subuh sehingga meskipun pagi seperti ini akan tetapi makanan sudah tersedia dimeja makan.


"Jam segini Kakak belom bangun" Ucap Nadhira.


"Biasalah, mungkin dedek bayinya lagi rewel"


"Emang bisa kayak gitu? Lahir aja belom"


"Bisa dong, nanti kamu juga ngerasain kayak gitu"


"Bagaimana kau bisa tau hal itu sayang? Kau kan tidak pernah mengandung"


"Tidak perlu mengandung untuk mengetahuinya sayang, tapi sesuai dengan kata hati"


Ketika keduanya telah selesai sarapan pagi, Nandhita dan suaminya baru keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sangat rapi, melihat kedatangan keduanya itu membuat Rifki dan Nadhira langsung melongo dibuatnya.

__ADS_1


"Rapi banget, mau kemana?" Tanya Nadhira.


"Ya mau ke KUA lah, emang kalian ngak siap siap?"


"KUA?" Bengong Nadhira, "Astaga... Aku lupa hari ini, aku akan ganti baju dulu.


Nadhira lalu bergegas untuk meninggalkan tempat itu menuju kekamarnya yang ada dilantai atas, ia benar benar lupa bahwa mereka akan mengantar Bi Ira dan Pak Santo ke KUA, dan Rifki yang melihat itu pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Hati hati sayang! Jangan lari lari seperti itu" Teriak Rifki memperingati Nadhira.


"Iya sayang" Jawab Nadhira tanpa menoleh lagi.


Tak beberapa lama kemudian Nadhira baru datang dari kamarnya, akan tetapi diririnya begitu terkejut ketika melihat Rifki yang telah berpakaian rapi, dan dirinya pun segera mendatangi Rifki.


"Kapan ganti bajunya?" Guman Nadhira.


"2 tahun yang lalu sayang" Jawab Rifki yang mendengar gumanan dari Nadhira.


"Aneh emang nih anak"


"Haha... Becanda sayang, pas kamu dikamar mandi tadi ganti bajunya, kamu sih lama banget"


"Maafin, ternyata aku halangan saat ini"


"Yah... Harus puasa dong, sabar Rifki sabar"


Mereka semua tengah bersiap siap untuk mengantarkan Pak Santo dan Bi Ira yang akan menuju ke KUA, gercep sekali mereka ya, dan mereka telah masuk kedalam mobil yang disopir oleh Pak Mun, dan setelah itu mereka segera meninggalkan tempat itu, semuanya ikut kecuali Bi Sari yang menjaga rumah dan juga salah satu satpam yang ditugaskan untuk menjaga rumah tersebut.


Sesampainya disana, akad nikah pun segera dimulai, Nadhira yang menyaksikannya pun merasa sangat bahagia karena akhirnya Bi Ira dan Pak Santo telah sah menjadi pasangan suami istri.


"Selamat ya Bu" Ucap Nadhira ketika mereka berjalan kearah mobil.


"Terima kasih Nak" Jawab Bi Ira.


Tiba tiba perut Nadhira begitu sakit dan terasa sangat nyeri karena nyeri haid, ia pun memegangi perutnya dengan sangat erat, Rifki yang melihat itu pun langsung mendekat kearah Nadhira.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Rifki khawatir.


"Perutku sakit sekali Rif, ayo pulang, aku ingin istirahat secepatnya" Jawab Nadhira.


"Kerumah sakit dulu ya"


"Ngak mau"


Rifki pun segera memegangi tangan Nadhira yang sedikit oleng tersebut, Rifki terkejut ketika merasakan bahwa tangan Nadhira begitu dingin dengan keringat dingin yang mengalir kedalam tubuhnya itu, dan dengan wajahnya yang pucat.


"Dhira apa yang terjadi? Kenapa kau begitu dingin"


"Bu apakah dia selalu seperti itu kalo lagi halangan?" Tanya Rifki kepada Bi Ira dengan kebingungan.


"Iya Nak, kau harus bisa mengendalikannya" Jawab Bi Ira seraya tersenyum kearah Rifki.


"Aku bisa kok mengendalikan diriku"


"Bukan dirimu tapi dirinya, karena emosinya yang akan berubah ubah nantinya"


Rifki tidak mengerti maksud dari hal itu, hingga membuatnya hanya berdiam diri untuk mencoba mencerna perkataan tersebut, karena dirinya sendiri tidak paham mengenai emosi yang akan meningkat ketika sedang berhalangan.


"Sakit bego! Cepetan napa sih! Lama banget" Teriak Nadhira kepada Rifki.


"Iya sayang iya"


Rifki mengambil nafas dalam dalam ketika Nadhira menyebutnya bego, dan dirinya pun langsung tersadarkan oleh hal yang dinamakan dengan nyeri haid, sehingga Rifki segera mengajaknya untuk cepat cepat pulang agar Nadhira bisa beristirahat dengan nyenyak dirumah.


Ketika sesampainya dirumah dirinya langsung bergegas untuk menggendong Nadhira untuk masuk kedalam kamar mereka yang ada dilantai atas, dan langsung membaringkan tubuhnya ditempat tidur.


"Dhira kamu ngak papa kan?" Tanya Rifki pelan.


"Berisik amat sih, bisa diem ngak ha?"


Mendengar Nadhira yang masih tetap menggunakan nada tinggi kepadanya membuat Rifki hanya bisa berdiam diri tanpa tau apa yang harus dirinya lakukan, selama ini dia tidak pernah melihat Nadhira dengan emosi yang meluap luap seperti itu.


Tok tok tok


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, mendengar itu membuat Rifki segera bangkit dari duduknya untuk berjalan menuju kearah pintu tersebut dan membukanya, nampak sekali adanya bayangan Bi Ira yang tengah berdiri didepan pintu sambil membawakan segelas minuman hangat.


"Berikan ini kepada Nadhira Nak" Ucap Bi Ira.


"Apa ini Bu?" Tanya Rifki.


"Teh hangat tapi tidak terlalu manis, nanti nyerinya akan reda sendiri setelah meminum obat ini" Bi Ira lalu menyerahkan segelas minuman hangat dan juga sebutir obat kepada Rifki.


"Apa dia sering mengonsumsi obat ini?"


"Iya, ketika halangan dihari pertama"


"Bu, apa yang harus aku lakukan? Dia begitu cepat emosi, aku bertanya pelan dia malah menjawab dengan nada tinggi"

__ADS_1


"Usap perutnya pelan dengan minyak kayu putih, kau harus lebih banyak bersabar untuk menghadapi wanita yang sedang berhalangan"


"Yakin ngak digigit?"


"Aku bukan harimau!" Teriak Nadhira dari dalam ketika mendengar perkataan keduanya.


"Iya sayang iya, kamu bukan harimau" Jawab Rifki sedikit ngeri mendengar suara Nadhira, "Ya sudah Bu, aku mau masuk dulu sebelum dia makin marah nantinya" Bisik Rifki kepada Bi Ira.


"Baiklah" Ucap Bi Ira sambil bergegas meninggalkan kamar mereka berdua.


Rifki langsung menutup pintu tersebut dan membawa segelas minuman hangat untuk ia serahkan kepada Nadhira yang tengah terbaring diatas kasurnya itu, Rifki lalu menyerahkan obat yanga masih ada didalam kemasan kepada Nadhira.


"Minumlah obatnya, setelah itu biar aku balur dengan minyak kayu putih"


"Aku ngak bisa minum obat Rif"


"Ngak bisa minum obat? Bukannya kalo setiap sakit selalu minum obat"


"Harus dihalusin dulu Rif, ngak bisa langsung bulat seperti itu"


"Astaga Dhira, kayak anak kecil saja kamu ini, masak obat sebesar ini saja tidak bisa menelannya langsung sih? Jadi harus di halusin dulu? Makin pahit tauk"


"Iya, kalo ditelan langsung nanti muntah"


"Ya udah biar aku halusin"


Rifki pun mencari benda benda yang ada disekitarnya yang dapat ia gunakan untuk menghaluskan obat tersebut akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya, ia pun mengigit bungkus obat itu dengan keras hingga membuat obat tersebut remuk.


"Keras juga ini obat" Guman Rifki.


Melihat tingkah Rifki yang berusaha untuk menghaluskan obat tersebut membuat Nadhira tertawa akan tetapi rasa nyerinya membuatnya hanya bisa menahan tawanya itu, dibuat untuk berbicara saja terasa sangat menyakitkan.


Rifki pun membuka bungkus obat tersebut dan menuangkan serbuk obat kedalam sendok, akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika obatnya belom halus sepenuhnya.


"Yah... Gimana ini Dhira? Masak ukuran segini belom bisa menelannya sih"


"Pokoknya haluskan Rif, aku ngak bisa meminumnya kalo belom halus semuanya"


"Dikit aja Dhira, nanti langsung ditelen aja, masak masih bisa muntah sih"


"Coba cium aroma obatnya, bikin mual Rif banget"


Rifki pun mendekatkan hidungnya untuk mencium bau obat tersebut, ia pun membuka matanya lebar lebar setelah mencium aroma itu, dan melihat ekspresi Rifki membuat Nadhira menyengir.


"Benar saja kau tidak suka dengan aromanya, baunya memang seperti obat" Ekspresi wajah Rifki malas.


"Karena itu obat sayang, bagaimana bisa baunya seperti jeruk" Nadhira semakin gemas kepada Rifki hingga mencengkeram erat lengan suaminya itu.


"Sakit Dhira" Keluh Rifki sambil menggosok gosok telapak tangannya pada lengannya yang telah dicengkeram dengan erat oleh Nadhira.


"Biarin, siniin tanganmu biar ku gigit sekalian"


"Ngak mau, sakit tau"


"Aaa Rifki jahat!" Rengek Nadhira.


"Cup cup ya, jangan nangis dong sayang pliss, nih nih makan aja sekalian aku ngak apa apa kok beneran" Rifki menyodorkan lengannya kepada Nadhira.


"Beneran?"


"Iya"


Nadhira pun tak henti hentinya untuk terus merengek dihadapan Rifki, hingga membuat Rifki kebingungan harus bersikap apa sekarang, dengan kekuatan sepenuh tenaga, Nadhira mengigit lengan tersebut hingga tangan Rifki mengeluarkan bercak darah.


"Arghhh.. sakit banget ya Allah" Teriak Rifki ketika Nadhira tiba tiba mengigitnya seperti itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk mampir dinovel temenku yang ini, kali aja buruh rekomendasi, Heppy reading


***


Laura seorang designer muda berbakat yang patah hati karena dua minggu sebelum pernikahannya, Tommy sang tunangan meninggal dunia akibat kecelakaan di race mobil yang diikutinya.


Laura berupaya melupakan Tommy, dia pindah ke Cimahi untuk memimpin sebuah panti asuhan balita milik uwaknya.


Banyak pria mengajukan diri sebagai pengganti Tommy. Namun semua tak ditengok oleh Laura.


Siapakah yang akan beruntung memetik bunga cantik ini?


- August sang pilot


- Ariano, yang arsitek


- Adnan, perwira polisi


- Ilyas dokter anak muda

__ADS_1


- atau Syahrul, duda beranak dua yang usianya selisih jauh dengan Laura



__ADS_2