Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Izinkan aku untuk bertemu denganmu


__ADS_3

Dalam diamnya Rifki meneteskan air matanya akan tetapi butiran kristal putih itu tidak mampu terlihat karena derasnya hujan yang membasahi tubuhnya saat ini, hingga yang terlihat hanyalah sebuah kebisuan dan helaan nafas.


"Tuan Muda, ayolah jangan bersikeras seperti ini, anda bisa sakit nantinya, ayo ke pos saya, nanti saya bikinkan minuman hangat untuk anda".


Rifki hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak mau pergi kemana mana sampai Nadhira mau membukakan pintu gerbang untuk dirinya, dikejauhan Nadhira melihat bahwa Rifki tidak mau memakai payung ataupun diajak oleh Pak Santo keposnya.


"Apa sih yang dia inginkan sebenarnya? Kalau seperti ini dia bisa sakit" Ucap Nadhira dengan meneteskan air matanya.


Nadhira tak habis pikir dengan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki saat ini, Nadhira mendapatkan sebuah pesan dari Pak Santo yang mengatakan bahwa tubuh Rifki sekarang sedang menggigil karena dinginnya hujan malam ini.


Nadhira merasa sangat cemas dengan keadaan Rifki yang terus menerus berlutut didepan gerbang rumah Nadhira itu, Rifki sangat nekat sekali untuk melakukan itu, hujan pun tak kunjung reda malam ini, Nadhira melihat kearah jam dinding yang ada dikamar yang menunjukkan pukul 11 malam.


Pak Santo sangat tidak tega ketika melihat Rifki seperti itu, apalagi ketika melihat tubuh Rifki yang sudah mulai menggigil kedinginan seperti itu, ia pun kembali masuk kedalam pos nya dan segera menghubungi Nadhira untuk menyampaikan sesuatu kepada Nadhira.


"Halo Non" Ucap Pak Santo ketika telfonnya sudah terhubung dengan Nadhira.


"Bagaimana Pak? Apa Rifki masih tidak mau pergi dari sana juga?" Tanya Nadhira diseberang telfon.


"Dia tidak mau juga Non, sepertinya dia begitu kedinginan Non, kasihan sekali dia Non, dia bahkan bilang kalau dia tidak peduli meskipun nyawanya akan hilang, apa tidak sebaiknya Non Dhira temui dia sebentar saja? Kasihan dia Non".


"Apa tolong berusahalah untuk membujuk dia lagi Pak, jangan biarkan dia terus terusan seperti itu Pak, bujuk dia untuk pulang" Ucap Nadhira dengan isak tangis.


"Baik Non saya akan berusaha lagi".


Pak Santo pun segera membuatkan minuman hangat untuk Rifki, ia juga takut kalau Rifki kenapa kenapa, setelahnya dia menggunakan payung yang lainnya untuk mengantarkan minuman hangat itu untuk Rifki, agar tubuhnya tidak terlalu menggigil seperti itu.


"Tuan, minumlah dulu minuman ini, saya tidak tega melihat anda seperti ini Tuan Muda" Ucapnya sambil menyodorkan minuman kepada Rifki.


"Aku tidak mau Pak, aku hanya ingin bertemu dengan Nadhira, jika Nadhira tidak ingin menemuiku artinya dia menginginkan kematianku Pak".


"Tuan Muda janganlah berbicara seperti itu, Non Dhira sangat menyayangi Tuan Muda".


"Jika dia menyayangiku maka dia akan datang untuk menemuiku Pak".


"Tuan Muda, tolonglah, jangan menyiksa diri anda sendiri seperti ini, kita ke pos dulu ya".


Rifki masih tetap pada pendiriannya sendiri, segala bujukan yang telah dilakukan oleh Pak Santo sama sekali tidak berlaku untuk dirinya, Pak Santo pun melaporkan hal ini kepada Nadhira.


"Halo Non Dhira" Ucap Pak Santo melalui telfonnya.


"Bagaimana Pak" Tanya Nadhira diseberang sana.


"Dia tetap tidak mau Non, apa yang harus saya lakukan? Sepertinya dirinya sudah terlihat begitu lemas karena udara dingin Non, sekilas saya melihat bahwa bibirnya sudah sedikit membiru".


"Apa!"


"Saya tidak tau harus berbuat apa Non, segala cara sudah saya coba tapi hasilnya nihil"


Tut tut


Nadhira langsung memutuskan telfon tersebut sepihak, Nadhira yang mendapatkan laporan tersebut bertambah semakin cemasnya, dengan apa yang tengah dilakukan oleh Rifki.


Bi Ira tiba tiba masuk kembali kedalam kamar Nadhira dan melihat Nadhira masih tetap berdiri dengan tegaknya didepan cendela kaca yang ada didalam kamarnya itu, Nadhira kini tengah menatap kearah Rifki yang masih tetap berlutut didepan gerbang rumahnya itu.


"Apa yang harus kita lakukan Nak?" Tanya Bi Ira yang juga ikut menatap kearah Rifki.


"Bu tolong temui Rifki dan bujuk dia untuk masuk kerumah, beri dia pakaian yang hangat juga, setelah itu buatkan minuman hangat untuknya, aku tidak bisa melihatnya seperti itu".


"Baiklah, Ibu akan segera menemuinya dan berusaha untuk membujuknya".


"Iya Bu"


Bi Ira pun bergegas keluar dari kamar Nadhira dan turun kelantai dasar rumah tersebut, ia mencari pakaian yang hangat untuk dipakai oleh Rifki nantinya, dan dirinya juga segera mencari jas hujan untuk datang menemuinya digerbang depan.


Setelah itu Bi Ira segera memakai jas hujan tersebut dan segera keluar dari rumah Nadhira, ia pun segera membuka pintu gerbang tersebut dengan lebar lebar dan mendatangi Rifki yang tengah berlutut ditempat itu saat ini.


"Bi Ira" Ucap Rifki saat mengetahui bahwa Bi Ira tengah membuka gerbang rumah tersebut.


"Ayo masuk Nak, Bibi sudah menyiapkan pakaian yang hangat untukmu" Ajak Bi Ira.

__ADS_1


"Ngak Bi, Rifki masih ingin tetap disini sampai Nadhira keluar menemui Rifki, untuk apa Rifki masuk jika Nadhira sendiri sudah tidak mau untuk menemui Rifki lagi".


"Bibi tau segalanya Nak, mungkin Nadhira masih butuh waktu untuk memulihkan perasaannya Nak, kau terlihat sangat pucat Nak".


"Ini semua salah Rifki Bi, Rifki tidak berhak untuk mendapatkan maaf dari Nadhira, gara gara Rifki dia terluka seperti ini Bi" Rifki meneteskan air matanya meskipun tidak terlihat karena cipratan air hutan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri Nak, sudah ayo masuk kedalam, Bibi takut terjadi sesuatu denganmu, tolong jangan menolak lagi".


Bi Ira pun menarik tangan Rifki agar Rifki mampu bangkit dari berlututnya didepan pintu gerbang rumah tersebut, akan tetapi tangan Rifki dengan lemasnya segera melepaskan pegangan tangan Bi Ira yang sedang berusaha untuk membuatnya bangkit.


"Ayolah Nak, ini sudah malam, tubuhmu pun terasa begitu dingin"


"Aku tidak akan pergi dari sini Bi, sebelum Nadhira sendiri yang mendatangiku".


"Sampai kapan dirimu akan berada disini Nak, kamu masuk dulu kedalam untuk menghangatkan tubuhmu itu, setelah itu jelaskan semuanya kepada Nadhira didalam sana"


"Aku tetap pada pendirianku Bi, aku tidak akan pergi dari sini sebelum Nadhira sendiri yang memintaku".


"Sampai kapan Nak? Kau pasti sangat kedinginan".


"Sampai ajal menjemputku Bi".


"Apa kau juga ingin menambah luka dihati Nadhira dengan cara seperti ini Nak Rifki? Janganlah kamu menghukum dirimu sendiri seperti ini, Nadhira sudah cukup terluka karena kejadian waktu itu, jangan menambah lukanya lagi dengan cara menyakiti dirimh sendiri Nak".


"Biarlah ini menjadi hukuman bagi Rifki Bi, karena Rifki telah menyakiti hati Nadhira, rasa dingin ini tidak akan mampu untuk menandingi rasa sakit hati yang sedang dialami oleh Nadhira Bi, bahkan Nadhira sendiri sudah tidak mempedulikan diriku Bi, apa gunanya aku hidup didunia ini".


Rifki pun menyatukan kedua tangannya yang mulai mengkerut karena menahan rasa dingin, dan mendekapnya dengan erat, Bi Ira yang melihat itu pun berusaha untuk mengajak Rifki untuk masuk kedalam rumah tersebut akan tetapi Rifki terus saja menolaknya.


"Nak Bibi mohon jangan seperti ini, ayo masuk kedalam, kita selesaikan didalam ya".


Rifki tetap menggelengkan kepalanya, sudah dua jam lebih dirinya berlutut ditempat itu, dinginnya hujan malam ini terasa begitu menusuk bagi dirinya akan tetapi dirinya tetap pada pendiriannya bahwa dia tidak akan pergi dari tempat itu sebelum Nadhira sendiri yang mendatanginya.


Bi Ira pun sudah merasa dingin padahal dirinya telah memakai jas hujan, sementara Rifki yang pakaiannya sudah basah kuyup tidak lagi mampu untuk dideskripsikan bagaimana rasa dingin yang ia rasakan saat ini, Bi Ira pun pergi ke pos satpam untuk segera menghubungi Nadhira.


"Halo Bu" Ucap Nadhira terlebih dulu setelah telfon tersebut terhubung.


"Ia masih tetap tidak mau Nak, katanya dia tidak akan pergi dari tempat itu sebelum kamu sendiri yang mendatanginya nak".


Rifki dapat mendengar bahwa Bi Ira kini tengah berbicara kepada Nadhira, entah apa yang dibicarakan oleh Nadhira saat ini, ia hanya mampu mendengar suara Bi Ira saja.


"Dhira, izinkan aku untuk bertemu denganmu" Guman Rifki pelan.


Tiba tiba datanglah seseorang dari belakang Rifki, orang itu membawakan sebuah payung untuk Rifki dan segera memayungi tubuh Rifki yang tengah kehujanan itu, orang itu tidak lain adalah Bayu yang sangat khawatir dengan kondisi Rifki.


"Tuan Muda, sebaiknya kita pergi dari sini, mungkin Nadhira sudah benar benar tidak ingin bertemu denganmu lagi" Ucap Bayu yang merasa kasian dengan kondisi Rifki saat ini.


"Tidak Bay aku tidak mau pergi dari sini sebelum dia datang menemuiku" Ucap Rifki sambil menunduk.


"Tuan Muda, perhatikan kondisi anda sendiri".


Melihat kedatangan dari Bayu membuat Bi Ira segera mendekat kearah keduanya, meskipun Bayu sudah membujuknya akan tetapi Rifki sama sekali tidak mau pergi dari tempat itu dan tetap pada pendiriannya.


"Aku sudah membujuknya untuk masuk, tapi Rifki tetap tidak mau" Ucap Bi Ira.


"Tuan Muda, jangan menghukum diri anda seperti ini, sudah ayo pergi dari sini" Ucapnya sambil menarik tangan Rifki untuk pergi.


"Lepaskan aku Bay!" Ucap Rifki dengan marah sambil mengibaskan tangan Bayu.


"Nak, benar apa kata temanmu itu, jangan menghukum dirimu sendiri seperti ini, jika kau tidak mau pergi dengannya maka masuklah kedalam, Bibi telah menyiapkan pakaian yang hangat untukmu".


"Aku tidak mau Bi, Nadhira sendiri tidak ingin aku masuk kedalam, aku akan tetap menunggu Dhira disini sampai dia mau menemuiku".


"Tuan Muda, jangan nekat seperti ini, ini sudah malam dan jam sudah menunjukkan pukul 1 petang, sampai kapan kau akan terus disini" Bayu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Rifki.


"Sampai Nadhira datang menemuiku" Jawab Rifki.


"Aku akan menemui Nadhira didalam" Ucap Bayu.


Bayu pun bergegas menuju kerumah tersebut untuk mendatangi Nadhira, melihat itu membuat Rifki hanya berdiam diri ditempatnya bahkan Bi Ira juga tidak mampu berbuat apa apa sekarang.

__ADS_1


Nadhira yang melihat Bayu mendekat kearah rumahnya segera keluar dari kamarnya menuju kelantai bawah lebih tepatnya dirinya segera menemui Bayu diruang tamunya.


"Dhira" Ucap Bayu sambil membuka pintu rumah tersebut dengan memanggil Nadhira.


"Bay, bagaimana?" Tanya Bayu.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan Dhira? Apa kau mau menunggu Rifki sampai dia tidak sadarkan diri diluar sana? Kenapa kau menghukum Rifki seperti ini, apa kau tega melihatnya kedinginan diluar sana seperti itu? Jika kau tidak mau menemui Rifki tapi pikiran kan juga tentang kesehatannya Dhira"


"Bay aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin Rifki segera melupakan diriku, aku tidak mau menemuinya Bay, jika aku kesana dia akan sulit untuk melupakan diriku".


"Tapi tidak seperti ini caranya Dhira! Apa kau membiarkan Rifki jatuh sakit ha? Dimana perasaanmu itu Dhira? Aku benar benar tidak menyangka bahwa kau akan melakukan ini kepada Rifki".


"Maafkan aku Bay, sebaiknya kau cepat membawa dia pergi dari sini, jangan biarkan dia terus hujan hujanan seperti ini".


"Kau tau sendirikan bagaimana watak Rifki? Bagaimana bisa dia menuruti ucapanku? Bahkan tidak ada yang mampu untuk membujuknya, jika kau tidak mau menemuinya sekali saja, sama halnya kau menyiksa Rifki Dhira, kau membuatnya terluka".


Nadhira hanya berdiam diri ditempat itu meskipun air matanya kini berjatuhan, sementara Bayu merasa kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan agar Rifki mau ikut dengannya pergi dari rumah itu, ia tidak sanggup melihat Rifki yang terus terusan berlutut diluar gerbang rumah Nadhira dan dibawah derasnya hujan.


"Dhira aku mohon, temui dia sekali saja, dia sudah kedinginan diluar sana Dhira, bahkan wajahnya sudah terlihat begitu pucat, apa kau tega melakukan ini dengannya?"


"Maafkan aku Bay, sebaiknya kau segera membawa dia pergi dari sini".


"Aku hanya ingin bilang kepadamu Dhira, aku tidak ingin kau menyesali semuanya sebelum terlambat nanti Dhira".


Bayu pun segera bergegas pergi dari rumah Nadhira dan kembali mencoba untuk membujuk Rifki agar mau meninggalkan tempat tersebut, ucapan Bayu seakan akan membekas dihati Nadhira.


Bayu berjongkok didepan Rifki dan berusaha untuk membujuknya pergi dari tempat itu, akan tetapi Rifki masih tetap pada pendiriannya, ia tidak ingin meninggalkan tempat itu sebelum Nadhira keluar dan bertemu dengan dirinya.


"Ayo pulang Rif".


Rifki menggelengkan kepalanya kepada Bayu, ia tidak mau pulang dan ia hanya ingin bertemu dengan Nadhira malam ini, sudah sekian lama dirinya mencari keberadaan dari Nadhira dan dia tidak mau melewatkan hari ini untuk bertemu dengan dirinya.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bi Ira.


"Aku ngak tau Bi" Jawab Bayu.


"Nak bagaimana kalau kamu sakit nanti? Jangalah seperti ini Nak" Ucap Bi Ira yang juga mencoba untuk membujuk Rifki.


"Bi sebaiknya anda membujuk Nadhira agar mau bertemu dengan Rifki, tolong Bi, aku mohon kepada Bibi ini demi kesehatan Rifki Bi".


"Aku tidak bisa melakukan itu, Nadhira memiliki watak yang keras kepala, bahkan aku tidak akan bisa untuk membujuk Nadhira".


Bayu seketika terdiam, bahkan dirinya sendiri tidak mampu untuk membujuk keduanya, disatu sisi Nadhira tidak mau menemui Rifki akan tetapi disisi lain Rifki menghukum dirinya sendiri agar mampu untuk bertemu dengan Nadhira.


"Rifki, ayo pergi dari sini".


"Aku tidak mau Bay, aku ingin bertemu dengan Nadhira, aku tidak mau kehilangan dirinya".


"Rifki, Nadhira sudah tidak mau bertemu denganmu lagi, untuk apa kau terus terusan disini Rifki, ayo pergi dari sini sekarang, mau sampai kapan kau berlutut disini seperti ini?".


"Sampai ajal menjemputku".


"Jangan bertindak bodoh seperti ini Rifki! Jika kau mati sekarang pun, dia pasti akan bersama orang lain pengganti dirimu nantinya, dan kau hanya akan dikenang dengan nama" Bayu tidak habis pikir dengan jawaban dari Rifki.


"Aku tidak peduli Bay, selama aku masih hidup didunia ini, aku hanya ingin bertemu dengan dirinya Bay, kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadanya sehingga dia tidak mau menemuiku walaupun hanya sekali saja".


Tidak ada yang mampu untuk membujuk Rifki agar dia mau pergi dari tempat itu, sudah berbagai macam cara mereka lakukan akan tetapi sangat sulit untuk meluluhkan tekatnya itu.


Rifki menundukkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa dingin yang kini tengah menyerangnya hingga kedalam tulang tulangnya, semakin lama rasa dingin itu seakan akan mulai menyiksanya, akan tetapi Rifki masih tetap pada pendiriannya sendiri.


"Kita pulang saja ya, Nadhira tidak akan datang kemari, jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini".


"Nadhira pasti datang untuk menemuiku, aku sangat yakin itu, dia pasti akan datang untuk menemuiku".


Rifki sangat yakin bahwa Nadhira akan datang untuk menemuinya saat ini, entah kapan dia akan datang, tak beberapa lama kemudian ia merasakan bahwa ada yang tengah memegangi tangannya itu dan ia pun menatap kearah tangan yang sedang memeganginya, tangan itu berbeda jauh dari tangan Bayu.


"Sampai kapan kau akan menghukum dirimu sendiri seperti ini Rifki, kenapa kau sama sekali tidak mendengarkan suara orang yang mencemaskanmu".


"Dhira"

__ADS_1


Rifki yang mendengar suara Nadhira segera mengangkat kepalanya dan menghadap kearah Nadhira yang ada didepannya yang juga ikut hujan hujanan seperti dirinya, melihat itu membuat Bayu dan Bi Ira merasa senang karena akhirnya Nadhira mau untuk menemuinya.


__ADS_2