Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Merindukan Rifki


__ADS_3

Mendengar teriakan dari lelaki itu, langsung membuat yang lainnya mengetahui posisi Nadhira saat ini, mereka semua pun langsung mengejar Nadhira dan ingin menangkap wanita tersebut. Dengan kesusahan, Nadhira masih terus berusaha untuk berlari menyelamatkan dirinya dari kejaran orang orang tersebut.


Karena Nadhira tidak bisa berlari dengan cepat, dirinya pun masuk dalam kepungan mereka semua, Nadhira berlari kekiri dan langsung dihadang, lari kekanan langsung dihadang, begitupun dengan kedepan dan kebelakang.


"Mau lari kemana kamu?" Seorang lelaki yang Nadhira duga adalah pimpinan dari mereka.


"Kalian mau apa?" Tanya Nadhira dengan ketakutan saat ini.


"Ikutlah dengan kami, dan lahirkan anak itu. Setelahnya, berikan anak itu kepada kami, kami tidak akan menyakitimu setelah itu,"


"Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menyerahkan anakku kepada kalian semua,"


"Maka kami akan memaksamu!"


Mereka pun langsung memegangi kedua tangan Nadhira, Nadhira terus mencoba untuk melepaskan pegangan mereka semua. Nadhira terus berusaha meskipun dirinya tau bahwa usahanya akan gagal sia sia, akan tetapi dirinya sama sekali tidak mau menyerah begitu saja.


"Lepaskan!" Teriak Nadhira sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan mereka.


"Diamlah! Atau ku bunuh kau sekarang," Ancam lelaki tersebut kepada Nadhira.


"Aku sama sekali tidak takut akan kematian!"


"Aku belum selesai berbicara... Atau ku bunuh kau sekarang setelah anakmu mati,"


Mendengar itu langsung membuat Nadhira membelalakkan kedua matanya, ia pun menatap tajam kearah lelaki tersebut. Pernafasan Nadhira saat ini tengah memburu, dirinya tidak terima jika anaknya yang menjadi sasaran pertama dari orang yang ada dihadapannya itu.


"Kau tidak punya hati nurani, kau lebih kejam daripada Iblis sekalipun!" Teriak Nadhira.


"Aku sudah berbaik hati denganmu, tapi kau menolaknya begitu saja. Jadi, jangan salahkan aku untuk melakukan itu,"


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan anakku kepada kalian semua,"


"Kau sangat keras kepala, cukup menarik."


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Nadhira panik ketika lelaki tersebut mengangkat tangannya kepada Nadhira.


Nadhira seketika teringat tentang kejadian yang dirinya alami ketika hamil anak pertamanya, rasa sakit itu masih terasa begitu jelas baginya. Nadhira takut kalau anaknya akan celaka, dan rasa sakit ditubuhnya itu akan bertambah parah nantinya.


"Sepertinya kau sudah tau apa yang ingin aku lakukan kepadamu,"


"Jangan sakiti janin yang ada diperutku, aku mohon. Dia sama sekali tidak bersalah, tolong jangan lakukan itu kepadanya,"


Nadhira pun ketakutan ketika tangan lelaki itu hendak menyentuh perutnya tersebut, akan tetapi tiba tiba seseorang langsung menendang tangan itu hingga membuat lelaki itu langsung terpental begitu saja. Melihat itu membuat Nadhira terkejut sekaligus merasa lega, karena masih ada yang mau menolongnya saat ini.


Tiba tiba beberapa orang pun datang ketempat itu, keduanya seakan akan tengah memperebutkan Nadhira dan anaknya. Mereka pun mengepung Nadhira disana, Nadhira sama sekali tidak mengenali orang orang tersebut.


"Serahkan wanita itu kepadaku," Ucap seorang lelaki yang diduga adalah pimpinan dari orang orang yang baru tiba ditempat itu.


"Siapa kau? Kau tidak akan pernah mendapatkan wanita ini,"


"Kau tidak perlu tau siapa diriku, aku akan merebutnya darimu dan mendapatkan kekuatan keris pusaka xingsi itu,"


"Tidak akan pernah!"


Mereka pun akhinya bertarung untuk memperebutkan Nadhira dan anak yang ada didalam kandungannya itu, Nadhira pun dihadapan dengan orang orang yang saling memperebutkan dirinya hingga tidak mempedulikan bahwa mereka akan saling membunuh nantinya.


"Apa untungnya memiliki keris pusaka itu? Keris pusaka xingsi yang membawa masalah ini," Ucap Nadhira lirih ditengah tengah pertarungan mereka.


Ditengah tengah pertarungan tersebut, tiba tiba Nadhira merasa bahwa tangannya ditarik oleh seseorang. Dirinya pun langsung mengikuti orang tersebut untuk pergi dari tempat itu, seseorang itu memakai sebuah jaket hitam dan menutupi kepalanya, dirinya juga memakai masker hitam sehingga wajahnya tidak mudah dikenali.


"Tunggu! Siapa dirimu?" Tanya Nadhira mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan tangan orang tersebut.


"Kau tidak perlu tau siapa diriku, sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini. Mumpung mereka masih bertarung satu sama lain," Ucap orang tersebut.

__ADS_1


Suara orang tersebut terdengar sangat familiar bagi Nadhira, dan Nadhira menembak bahwa orang itu adalah seorang wanita dari bagaimana nada suaranya terdengar ditelinga Nadhira.


"Bagaimana kalo mereka menyadarinya?"


"Aku akan menggantikan posisimu disini, cepat pergi dari sini,"


Orang tersebut pun langsung menarik tangan Nadhira kembali untuk pergi dari tempat itu, setelah lama keduanya berlari, mereka pun berhenti ketika merasa bahwa keadaan sudah aman ditempat itu saat ini.


"Siapa dirimu? Kenapa kau menyelamatkan aku?" Tanya Nadhira ketika keduanya berhenti.


"Kau tidak perlu tau siapa diriku, jika diperkenankan untuk bertemu kembali, maka suatu saat nanti kita akan bertemu. Musuhmu sangat banyak, setelah ini samarkan identitasmu dan jangan kembali kepada suamimu sampai anakmu dewasa nanti dan mengerti tentang semuanya. Jika kau kembali, maka mereka semua akan tau siapa identitas anakmu dan hal itu akan membahayakan nyawa anakmu. Jika anakmu dalam bahaya tentu saja suamimu tidak akan tinggal diam, maka sama saja kau membahayakan keduanya nanti."


"Baiklah, aku akan lakukan apapun demi anak dan suamiku, lalu kemana aku harus pergi? Aku sama sekali tidak tau tentang tempat ini,"


"Lurus saja, kau akan menemukan sebuah desa disana, dan tinggallah disana."


"Terima kasih atas pertolongannya,


Nadhira pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat tersebut sesuai dengan arahan dari orang itu, ia tidak banyak bertanya lagi karena nyawa anak dalam kandungannya lebih berharga dari pertanyaan yang dirinya lontarkan nantinya.


Nadhira berjalan diantara semak semak yang menjulang tinggi akibat tidak pernah dibersihkan. Dirinya sebenarnya tidak mengetahui arah ditempat itu, akan tetapi dirinya terus mencoba untuk melangkah diantara semak semak tersebut.


"Kamu harus bertahan ya, Nak. Mama akan segera mencari pertolongan untuk kita berdua, maafin Mama."


Nadhira terus melangkah menjauh dari tempat itu, dirinya sama sekali tidak memedulikan telapak kakinya yang beberapa kali tertusuk duri itu. Meskipun sakit ketika digunakan untuk melangkah, akan tetapi Nadhira tidak menyerah begitu saja untuk mencari bantuan.


Telapak kakinya yang mengeluarkan darah itu pun, membuat tanaman yang dilewatinya terdapat bekas darah disana. Akan tetapi, langkah kakinya itu tidak akan mudah ditemukan karena rimbunnya semak semak yang dirinya lalui itu.


Sementara orang tersebut terus memandangi kepergian dari Nadhira, ia pun tersenyum dari balik masker yang dirinya pakai itu. Ia merasa tenang jika Nadhira masih mampu untuk pergi dari tempat itu, melihat Nadhira baik baik saja itu sudah cukup.


"Pergilah sejauh mungkin dari tempat ini, Dhira. Aku tidak bisa mengantarmu untuk pergi, dan kau tidak perlu tau tentang identitasku, maafkan aku telah menyusahkanmu selama ini. Jaga dirimu baik baik, aku akan selalu melindungimu dengan caraku sendiri."


Setelah mengatakan itu, wanita itu pun pergi dari tempat itu untuk kembali ke area pertarungan sebelumnya. Dirinya dengan diam diam mengawasi dari balik semak semak, dirinya melihat kearah pertarungan itu dalam diamnya.


*Flash back off*


"Maafkan aku, Rif. Aku tidak bisa kembali kepadamu saat ini, musuh kita terlalu banyak dan menginginkan nyawa anak kita. Aku tidak bisa melihat kalian berdua dalam bahaya, kau boleh membenciku saat ini dan melupakan aku agar kau bisa hidup bahagia tanpa diriku disampingmu."


Nadhira pun menghapus air matanya yang hendak menetes dipipinya itu, ia tau resiko yang akan dirinya terima nantinya, dan dirinya akan menerimanya dengan iklas. Ia tau bahwa Kinara akan membenci Ayahnya karena tidak pernah ada untuknya, akan tetapi dirinya akan berusaha untuk membuat rasa kebencian itu hilang.


Nadhira pun melepaskan sebuah kalung yang melilit dilehernya itu, dirinya pun memasukkan cincin itu dikalung tersebut dan menjadikannya sebagai bandul kalung. Dirinya melakukan itu agar suatu saat nanti anggota Gengcobra tidak melihatnya, akan tetapi dirinya akan tetap memakainya.


"Rif aku rindu, tapi aku tidak bisa kembali pulang untuk saat ini. Biarkan Kinara tumbuh dewasa dan mengerti tentang semuanya, baru kita akan bisa bersama lagi seperti sebelumnya."


Nadhira pun kembali terisak setelah mengatakan hal tersebut, dirinya benar benar sangat merindukan sosok Rifki disampingnya. Akan tetapi, dirinya tidak mampu untuk melakukan hal itu, apalagi Kinara masih bayi yang baru saja dilahirkan olehnya.


Musuhnya terlalu banyak dan menginginkan Kinara, dengan Nadhira kembali kepada Rifki itu artinya akan mempermudah mereka untuk mengetahui identitas dari Kinara dan mereka akan berusaha untuk menculik anak yang masih merah itu.


Jangankan Kinara, bahkan orang dewasa seperti dirinya itu pun mudah sekali diculik oleh mereka, apalagi Kinara yang belum bisa apa apa itu. Dirinya tidak mau membahayakan nyawa Kinara, karena Kinara dan Rifki adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Tak beberapa lama kemudian, Kinara kecil pun menangis, hal itu langsung membuat Nadhira bangkit dari duduknya untuk menghampiri anaknya yang tengsh menangis itu dajmn menggendongnya.


"Kinara kenapa sayang?" Tanya Nadhira kepada anaknya itu.


Anak yang masih di bedong itu pun tidak bisa bergerak gerak sehingga dirinya hanya menggeliat saja. Nadhira pun menimang nimangnya pelan untuk menenangkan anaknya itu, Nadhira memandangi wajah anaknya dan menciumnya dengan sangat lama.


"Anak Mama kenapa menangis? Kinara juga pengen ketemu sama Papa ya? Maafin Mama ya, Nak. Karena Mama tidak bisa mempertemukan kalian saat ini, cepat dewasa ya, Nak. Dan kita bisa bertemu dengan Papa lagi nanti,"


Selesai mengatakan itu, air mata Nadhira pun menetes dipipinya, meskipun Kinara sudah lebih tenang daripada sebelumnya itu. Nadhira pun menghapus air matanya, ia tidak mau air mata tersebut meneteskan mengenai wajah anaknya itu.


Kinara seakan akan mengerti perasaan Ibunya itu, ketika Nadhira bersedih, Kinara kecil juga ikut menangis. Kinara dapat terlelap dalam tidurnya kembali setelah ditimang timang oleh Nadhira, dan berhenti untuk menangis.


*****

__ADS_1


Rifki telah kembali kerumahnya setelah mendapatkan informasi dari tempat yang dirinya datangi sebelumnya itu. Sementara, anggota Gengcobra masih tetap berada disana untuk mencari Nadhira dimanapun dirinya berada saat ini.


"Bay!" Panggil Rifki hingga membuat Bayu langsung bergegas untuk datang ke kamarnya itu.


"Ada apa, Rif?" Tanya Bayu.


"Tetap isi rekening itu tiap bulan, aku tidak mau Nadhira dan anakku sampai kekurangan apapun. Meskipun dia keras kepala dan tidak mau kembali, tapi dia tetap istriku selamanya, sudah kewajibanku untuk menafkahi mereka berdua."


"Baik Rif, kamu tenang saja. Aku akan selalu mengirim uang itu kepadanya,"


"Baiklah, kau boleh pergi."


Bayu pun langsung bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Sementara Rifki langsung bangkit dari duduknya dan berjalan kearah cendela kaca miliknya itu. Ia pun memandang kearah luar yang begitu luas itu, bahkan dia tidak mendapati ujungnya.


"Aku tidak akan memcarimu, Dhira. Tapi aku akan selalu menunggu kepulanganmu, setidaknya dengan kamu mengambil uang itu, aku bisa mengetahui bahwa kau masih hidup. Dan aku tidak mau, kau kekurangan suatu apapun,"


Rifki pun menatap indahnya langit sore itu, dirinya sangat merindukan Nadhira akan tetapi Nadhira begitu jahat kepadanya hingga dirinya tidak mau kembali kepada Rifki. Bahkan Nadhira telah menyembunyikan tentang kelahirannya dari dirinya, dia tega memisahkan anak dari Ayahnya.


"Kau jahat, Dhira. Aku juga berhak atas anakku, tapi kenapa kau tega memisahkan aku dengan darah dagingku sendiri? Kenapa kau lakukan itu, Dhira?"


*****


10 Tahun kemudian....


Seorang gadis kecil dengan rambut yang dikuncir tinggi seperti ekor kuda tengah berlarian disebuah pasar. Dibelakang gadis itu terdapat beberapa orang yang tengah mengejarnya, akan tetapi gadis itu masih terlihat tertawa dengan bahagianya.


"Woi! Berhenti! Ganti rugi kendi yang kau pecahkan!" Teriak seorang lelaki kepada gadis itu.


"Maaf Paman! Aku ngak sengaja," Jawab gadis kecil itu dan terus berlari.


Gadis itu langsung berlari menuju kerumahnya yang memang dekat dengan sebuah pasar, dirinya pun langsung bersembunyi dibalik punggung seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan. Wanita tersebut memakai sebuah cadar dan pakaian yang panjang nan syar'i.


"Ada apa ini, Bapak Bapak?" Tanya wanita itu.


"Dia memecahkan kendi yang aku jual begitu saja, kalian harus mengganti rugi atas itu," Ucap seorang lelaki dengan nada kasarnya sambil menuding kearah gadis kecil tersebut.


"Maafkan keponakan saya ya, Pak. Mungkin dia ngak sengaja ngelakuin itu, Bapak mau ganti rugi berapa?"


"Tiga ratus ribu, kendi yang dipecahkannya itu bukan hanya satu."


"Baiklah, Pak. Saya ambilkan uangnya dulu ya, silahkan duduk dulu,"


Wanita itu pun mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi yang ada diteras rumah tersebut. Sementara dirinya langsung masuk untuk mengambil uang sejumlah apa yang dikatakan oleh lelaki itu, setelahnya dirinya pun langsung memberikan uang tersebut kepada lelaki itu.


"Lain kali didik anak ini dengan benar, jangan membuat orang merasa rugi karena tingkahnya itu. Jangan sampai mengulang kesalahnya ini,"


"Iya Pak, saya akan mengajarkannya nanti,"


Sekumpulan lelaki itu pun pergi dari rumah itu, sekarang gadis kecil itu tengah ditatap oleh wanita tersebut dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya. Gadis itu sepertinya ketakutan sehingga menundukkan kepalanya dalam tanpa berani untuk menatap kearah wanita itu.


"Apa lagi yang kamu lakukan kali ini, Kinar?" Tanya wanita tersebut dengan tegas.


"Tante, Kinar ngak sengaja jatuhin kendi itu. Tadi kan Kinar main kejar kejaran sama temen temen, eh ngak sengaja nabrak kendi itu," Ucap gadis kecil tersebut yang tidak lain adalah Kinara yang sudah tumbuh besar.


"Lain kali jangan main dipasar, kalo kenapa kenapa gimana? Tante juga yang akan disalahkan sama Mamamu, mau Tante dimarahin lagi kayak dulu?"


"Tante jangan bilang ini kepada Mama ya? Kinar takut kalo sampai Mama tau,"


"Apanya yang ngak boleh bilang ke Mama?" Tanya seseorang dari luar rumah tersebut.


Sosok seorang wanita yang berusia sekitar 37 tahunan berdiri didepan pintu rumah tersebut, dirinya baru pulang dari pasar sambil membawa beberapa belanjaan dikedua tangannya. Wanita bercadar itu pun menatap tajam kearah Kinara yang sedang tertunduk, wanita itu pun menaruh barang belanjaannya dimeja ruang tamu.


"Jelaskan ke Mama, apa yang ngak boleh bilang ke Mama?" Tanya wanita itu.

__ADS_1


"Kak Ana, jangan marahin Kinar. Dia kan masih kecil, dia juga ngak sengaja, Kak.


"Selalu saja belain dia, Nara itu sudah besar Siska. Seharusnya dia tau apa yang salah dan benar,"


__ADS_2