Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Siapa itu Ana?


__ADS_3

Ana takut ketika Papa mertuanya mengatakan hal tersebut dengan nada tegasnya, dia takut bahwa identitasnya akan terbongkar jika berhadapan dengan lelaki tersebut. Mau tidak mau dirinya pun harus mengikuti kemana Haris akan membawanya saat ini, dan keduanya pun masuk kedalam ruang kerja Rifki.


"Ada apa Tuan Besar? Kenapa mengajak saya kemari?" Tanya Ana sambil gemetaran.


"Duduk," Ucap Haris menyuruh Ana untuk duduk disebuah kursi yang berhadapan dengannya.


Ana dengan segera langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan Haris dan hanya dipisahkan oleh sebuah meja saja. Entah apa yang ingin dikatakan oleh Haris kepadanya saat ini, akan tetapi Ana terlihat seperti tengah ketakutan sekaligus tubuhnya yang berkeringat dingin saat ini.


"Hanya ingin bertanya tanya denganmu," Jawab Haris yang masih dengan nada yang mencekam.


"Apa yang ingin Tuan Besar ketahui tentang saya? Saya akan menjawabnya dengan jujur," Ucap Ana dengan ragu kepada Haris.


Ana merasa ragu dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Haris saat ini, dan berdoa semoga Haris tidak mengenalinya. Haris adalah orang yang sangat peka dengan sesuatu, bahkan dirinya dapat mengetahui kebohongan dan kejujuran seseorang hanya dengan melalui jawaban dari orang yang bersangkutan dengannya itu.


Haris dapat membaca karakter seseorang melalui nada bicara seseorang, seperti seseorang yang tengah berbohong maka dirinya akan menjawab dengan terbata bata karena ragu. Seseorang yang jujur akan menjawabnya dengan percaya diri, sehingga hal itu harus membuatnya berhati hati dalam mengambil sebuah bahan pembicaraan.


"Berapa lama kamu berpengalaman sebagai pembantu rumah tangga?"


"Sudah hampir 9 tahunan saya bekerja, Tuan Besar. Tapi baru kali ini saya bekerja menginap dirumah majikan, selama ini saya bekerja selalu pulang kalau malam hari. Untuk menjaga anak saya yang tidak bisa tidur sendirian," Bohong Ana.


Meskipun dirinya berusaha untuk berbohong akan tetapi dirinya juga berusaha untuk meyakinkan Haris dengan ucapannya itu, agar Haris tidak mencurigai dirinya yang telah berbohong kepadanya. Dia takut jika kebohongannya itu terbongkar di hadapan haris, akan tetapi dirinya lebih takut jika nyawa Kinara dalam bahaya ketika Rifki mengetahui identitas asli Kinara dan orang orang jahat yang ingin mencelakakan Kinara.


"Disini nggak bisa pulang sembarangan, apa kamu sanggup?" Tanya Haris sekali lagi untuk memastikan.


"Sanggup Tuan," Jawan Ana dengan yakinnya.


"Lalu anakmu gimana? Apa kau menyesal telah bekerja disini setelah mengetahui bahwa kau tidak bisa pulang sembarangan?"


"Dia tinggal bersama adik saya, Tuan Besar. Jadi saya bisa tenang untuk meninggalkannya dirumah, dan mencari uang ditempat ini. Diterima bekerja disini saja, saya merasa sangat bersyukur,"


Haris pun terdiam mendengar ucapan dari Ana, dan menatap lekat lekat kearah kedua mata Ana. Tatapan itu seketika langsung membuat Ana merasa gemetaran, bahkan kedua tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat karena akibat dari tatapan mata yang diberikan oleh Haris.


Tatapan yang diberikan oleh Haris rasanya membuat jantung Ana berdebar takut, dirinya takut bahwa Haris akan mengetahui identitasnya itu. Seketika itu juga, Ana langsung menundukkan kepalanya, dirinya takut walaupun hanya melihat kearah tatapan Haris yang sangat lekat itu meskipun tatapannya itu tidak menajam sama sekali.


Meskipun tatapannya terlihat sangat biasa, akan tetapi Haris sedang membaca karakter orang yang ada dihadapannya itu. Dirinya melakukan itu hanya untuk berjaga jaga, karena takut jika ada penyusup yang telah lancang masuk kedalam rumah itu, apalagi beberapa tahun ini Rifki mendapatkan masalah yang begitu banyak.


Haris tidak ingin jika anaknya sampai kenapa kenapa lagi, apalagi dirinya sudah kehilangan menantu serta cucunya itu. Dirinya juga tidak ingin kehilangan menantu dan cucunya lagi, apalagi Keysa yang selalu membuatnya bahagia karena hanya Keysa, cucu yang dirinya punya menurutnya.


"Kenapa Tuan menatap saya seperti itu?" Tanya Ana yang masih tetap menundukkan kepalanya.


"Umurmu berapa?" Tanya Haris tanpa menjawab pertanyaan dari Ana sebelumnya.


"36 tahun,"


Haris pun memberitahukan kepada Ana tentang apa aja yang harus dan tidak boleh dilakukan dirumah itu, dirinya juga memberitahukan mengenai peraturan peraturan yang harus dikerjakan oleh Ana. Ana sendiri tau bahwa peraturan itu bertujuan untuk melindungi Rifki, dirinya pun sangat paham akan hal itu saat ini bagaimana kekhawatiran seorang ayah kepada putra tersayangnya itu.


"Kamu siapanya Dokter Affan?" Tanya Haris disaat akhir dari penjelasannya itu.


"Saya hanya clientnya dirumah sakit, dan bliau yang membantu persalinan saya waktu itu,"


"Aneh. Kenapa wanita bercadar mau dibantu melahirkan oleh seorang Dokter lelaki,"


Ucapan itu lantas membuat Ana ingin sekali pingsan saat ini, dan ingin segera pergi dari tempat itu secepat mungkin. Haris sendiri pun merasa aneh dengan wanita yang ada didepannya itu, bahkan wanita itu nampak berdiam diri sepertinya tengah menyimpan identitasnya dengan rapat.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain, saya terpaksa dibantu melahirkan oleh dokter lelaki, Tuan Besar. Saat itu saya mengalami kontraksi, anak yang ada didalam kandungan saya ingin segera keluar. Sehingga Dokter Affan yang membantu saya, karena Dokter wanita yang ada disana juga sedang melakukan cuti,"


"Tidak ada pilihan lain?"


"Benar."


"Lalu gimana dengan suamimu? Apa dia mengizinkan dirimu untuk dibantu oleh Dokter lelaki?"


"Itu urusan pribadi saya, Tuan Besar. Ini sama sekali tidak ada sangkut pahutnya dengan pekerjaan,"


Memang terlihat tidak sopan jika mengatakan hal seperti itu kepada seorang majikan, akan tetapi Ana takut jika Haris akan semakin bertanya lebih dalam mengenai dirinya itu yang akan berujung pada terbongkarnya semua rahasianya. Sementara Haris sendiri yang mendengarkan ucapan Ana pun membuatnya mengerutkan keningnya, kenapa pembantu yang ada didepannya sedikit tidak sopan terhadapnya.


"Memang ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, kamu bekerja disini untuk anakku, jadi aku harus lebih teliti soal memperkerjakan seseorang. Apalagi orang yang tidak dikenal seperti dirimu yang datang tiba tiba ketempat ini untuk melamar pekerjaan, wajar kan jika aku curiga denganmu," Jelas Haris kepada Ana.


Ana bingung harus menjawab apa, bagaimana juga apapun yang dilakukan oleh Haris bertujuan untuk menjaga Rifki, dirinya tidak mau jika sampai Rifki dalam bahaya. Oleh karena itu, Haris harus lebih selektif dalam memilih seorang pekerja yang ada dirumah anaknya itu.


"Tapi Tuan Besar, proses melahirkan tidak ada hubungannya dengan ini. Anda boleh menanyakan yang lainnya, tapi soal itu..."


"Kenapa dengan itu?"


Ana yang belum selesai mengatakan apa yang ingin dirinya katakan, Haris tiba tiba memotong pembicaraannya itu. Semakin lama, Ana merasa sangat gugup dihadapan Ayah mertuanya itu, bahkan dirinya seakan akan kehabisan kata kata jika Haris bertanya tentang dirinya itu.


"Tuan, jika waktu dulu tidak tergesa, mungkin saya memilih untuk dibantu melahirkan Dokter wanita. Tapi bukannya itu tidak ada salahnya, Tuan? Karena untuk menolong nyawa seseorang tidak harus disamakan gendernya."


Ana merasa yakin dengan jawabanya itu, dirinya sangat yakin bahwa Haris akan percaya kepadanya melalui ucapannya itu. Haris seketika terdiam dibuat Ana, akan tetapi didalam kepalanya begitu berisik, dia ingin tau siapa Ana sebenarnya. Haris tidak ingin jika Ana ingin mencelakakan anaknya, sama seperti kejadian yang beberapa kali dialami oleh Rifki.


"Cara bicaramu dan nada bicaramu sama seperti seseorang yang aku kenal," Ucap Haris tiba tiba.


"Maksud Tuan Besar apa? Saya tidak mengerti," Jantung Ana seakan akan tengah berdetak dengan kencangnya saat ini, mungkinkah Haris akan mengetahui identitasnya saat ini.


Pertanyaan itu langsung membuat jantung Ana berdetak lebih kencang lagi, kenapa Haris menanyakan hal tersebut kepadanya. Ana takut jika identitasnya telah terbongkar saat ini, sehingga Haris menanyakan hal tersebut kepadanya bahkan dengan nada yang sangat mengintimidasi.


Tatapan Haris menajam kepada Ana, hal itu membuat Ana terlihat gemetaran karena takut jika memang dugaannya itu benar bahwa Haris telah mengetahui identitasnya. Sangat sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari Haris, karena Haris tidak mudah percaya begitu saja sebelum mendapatkan bukti yang nyata.


"Nama saya Ana. Saya tidak pernah berbicara kepada Tuan sebelumnya, dan ini kali pertama saya berbicara kepada Anda. Bagaimana mungkin Tuan merasa kenal dengan saya?"


"Aku bukan orang yang mudah ditipu, kamu tidak bisa berbohong denganku. Ana, jangan sembarangan dirumah ini,"


"Saya tidak memiliki niat buruk disini, Tuan Besar. Saya disarankan oleh Dokter Affan untuk datang kemari,"


"Seberapa dekat kamu dengan Dokter Affan? Sampai sampai dia bisa menyarankan kamu bekerja disini. Apalagi dirimu yang hanya pasiennya saja,"


"Sejak anak saya bayi sampai sudah dewasa selalu mengandalkan Dokter Affan,"


"Alasanmu tidak masuk akal."


*****


Keysa kecil sedang duduk didepan televisi bersama dengan Rifki dan juga kedua orang tuanya. Keysa seakan akan tidak mau jauh dari Rifki, sehingga ketika sedang menonton televisi dirinya pun masih berpegangan erat dengan tangan Rifki menggunakan kedua tangannya yang mungil itu.


Keysa suka melihat film kartun, sehingga mereka semua pun menontonnya secara bersama sama. Ketika ada adegan yang lucu, Rifki dan Keysa pun tertawa secara bersamaan seakan akan seperti seorang Ayah dan juga anaknya. Rifki sendiri pun sekali menyuapi Keysa dengan cemilan, akan tetapi pandangannya sama sekali tidak teralihkan dari televisi itu.


"Om," Panggil Keysa akan tetapi gadis itu masih tetap menatap kearah televisi.

__ADS_1


"Ada apa Eysa?" Tanya Rifki. Eysa adalah panggilan kesayangan yang diberikan oleh Rifki kepada Keysa.


Rifki tidak memerhatikan kearah mana Keysa menatap saat ini, karena Rifki sendiri pun tengah sibuk menatap televisi yang ada didepan mereka semua itu. Pandangan Keysa terarah kepada foto anak kecil yang ada disebuah bingkai yang tidak jauh darinya, fotonya sama sekali tidak mirip dengan Keysa waktu bayi.


"Keysa sering datang kemari, tapi Keysa tidak tau itu foto siapa. Emang itu foto Keysa waktu bayi ya, Om?" Tanya Keysa polos.


Rifki pun langsung terarah kepada apa yang tengah dilihat oleh Keysa, dirinya pun mengambil foto tersebut dan menatapnya. Rifki terdiam beberapa saat sambil mengusap bingkai foto itu, terdapat sebuah kesedihan yang tercipta diraut wajahnya saat menatap kearah foto itu.


"Ini adalah foto anak, Om. Hanya foto ini yang Om punya,"


Rifki mendapatkan foto tersebut dari sebuah rumah yang pernah ditinggali oleh Nadhira, ketika Bayu datang kedesa itu dia sudah tidak menemukan keberadaan dari Nadhira akan tetapi menemukan foto tersebut. Waktu itu dirinya berpura pura menjadi seorang pengemis, dan diam diam masuk kedalam rumah yang ditunjukkan oleh warga sekitarnya.


Bayu tidak sengaja melihat foto tersebut yang tertinggal disana, dan didalam foto itu terdapat tanggal lahir dari Bayi yang ada digambar itu. Bayu menduga bahwa itu adalah anak Rifki dan Nadhira, karena tanggal lahir yang ada disana hanya beda beberapa hari dari hari kedatangannya didesa tersebut.


*Flash back on*


Rifki tengah menunggu kedatangan Bayu disebuah villa yang berada tidak jauh dari desa yang diduga tempat dimana Nadhira tinggal. Bayu datang dengan kondisi yang sudah babak belur akibat dihajar oleh warga sekitar, karena masalah yang telah terjadi didesa tersebut setelah kepergian dari Nadhira.


Bayu pun menjelaskan semua yang dirinya ketahui kepada Rifki, tanpa sedikitpun yang terlewatkan ketika dirinya menjelaskan. Dengan antusiasnya Rifki mendengarkan ucapan dari Bayu, meskipun dirinya ingin sekali murka ketika mendengar cerita yang disampaikan oleh Bayu.


"Aku menemukan ini, Rif. Dirumah tempat dimana dirinya tinggal," Ucap Bayu sambil menyodorkan sebuah foto kepada Rifki.


"Foto bayi?" Tanya Rifki heran sambil memandang kearah dimana Bayi berada.


Rifki pun memperhatikan wajah bayi mungil yang baru lahir itu, masih terlihat memerah dan juga sangat kecil dan menggemaskan. Rifki pun menitihkan air matanya ketika melihat gambaran bayu tersebut, akan tetapi didalam foto itu tidak terdapat nama dari bayi itu.


"Bayi siapa ini, Bay? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku," Ucap Rifki sambil melihat hidung yang mirip dengannya itu.


"Aku tidak tau, Rif. Tapi bisa jadi itu adalah foto anakmu, dibalik foto itu terdapat tanggal lahirnya, dan itu terjadi waktu kemarin. Itu juga aku temukan dirumah kosong yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya, dan memang ada seseorang yang telah melahirkan disana. Bisa jadi itu adalah Nadhira,"


"Jadi benar ini adalah anakku, Bay? Anak perempuanku," Rifki merasa bahagia meskipun sambil menitihkan air matanya setelah melihat wajah dari bayi mungil itu.


"Iya Rif. Bisa jadi dia adalah anakmu,"


"Cepat cari dia, Bay. Kalian harus segera menemukan keberadaan dari anakku, apapun yang terjadi cepat bawa dia pulang."


Kedua mata Rifki berkaca kaca sambil menatap kearah Bayu, sementara Bayu hanya menganggukkan kepalanya saja. Bayu segera menggerakkan anggota Gengcobra untuk mencari bayi mungil yang dimaksudkan itu, akan tetapi sampai detik ini mereka belum juga menemukan keberadaan dari Nadhira dan juga anaknya itu.


*Flash back off*


Rifki pun terlihat terpuruk setelah melihat wajah bayi itu, Keysa sendiri pun menjadi terdiam ketika melihat Rifki terdiam. Ketika Keysa ingin bertanya tentang apa yang terjadi dengan Om nya itu, akan tetapi tangan Ayu segera menarik tubuhnya kedalam pangkuannya itu, agar tidak menganggu Rifki.


Ayu takut jika Rifki akan memarahi Keysa setelahnya, apalagi dalam kondisi seperti ini yang akan membuat Rifki mudah sekali terpancing emosi. Ayu tidak mau Keysa kecil melihat kemarahan dari sosok Rifki, yang akan membuatnya takut dengan Rifki. Biar bagaimanapun juga, Rifki masih membutuhkan Keysa dalam hidupnya, hanya Keysa satu satunya penyemangat baginya saat ini.


"Mama, Om kenapa?" Tanya Keysa lirih.


"Om merindukan Tantemu dan anaknya, Sayang. Keysa jangan ganggu Om dulu ya," Ucap Ayu kepada anaknya itu.


"Kata Om, Tante kecelakaan, Ma. Tapi kenapa Om terus memikirkannya?" Keysa yang polos itu pun langsung asal berbicara tanpa berpikir terlebih dulu.


"Keysa," Ucap Ayu dengan nada yang lebih tinggi.


"Sudah, Ay. Jangan bernada kasar dengan anakmu, dia masih kecil dan belum tau apa apa," Ucap Rifki sambil meletakkan kembali foto itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kak. Gara gara ucapan Keysa, Kakak jadi sedih lagi," Ucap Ayu sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Aku nggak papa kok,"


__ADS_2