
Kinara tumbuh menjadi gadis yang cantik, wajahnya cerminan dari Rifki dan bahkan bisa dibilang Kinara adalah Rifki versi wanita. Kini usianya sudah menginjak 15 tahun, dan karena wajahnya yang cantik, dia sering dikejar kejar oleh lelaki.
Tak ada seorang pun lelaki yang mampu menarik hatinya, bahkan bisa dibilang didikan Siska sama sekali tidak tertarik dengan seorang lelaki. Siti pun sampai bingung dengan gadis itu, dia berpikir bahwa Kinara tidak normal seperti gadis lainnya, karena Kinara sama sekali tidak tertarik dengan lelaki manapun.
"Nek, aku mau ketempat Mama kerja ya? Aku sudah rindu banget sama Mama," Ucap Kinara sambil menyisir rambut panjangnya.
"Emang kamu tau tempatnya dimana?" Tanya Siti yang tengah sibuk memperhatikan Kinara yang sedang menyisir rambutnya itu.
"Mama pernah bilang kepadaku kok, aku tau tempatnya."
"Kamu sudah bilang ke Mamamu kalau mau kesana? Apa diperbolehkan? Nanti kalau tidak diperbolehkan gimana? Lagian mereka itu orang orang kaya, Nara. Dan Mamamu disana cuma bekerja,"
"Nara sudah tau itu, Nenek. Nara mau bikin kejutan sama Mama, hari ini kan hari ibu, Nara mau ngucapin selamat hari ibu untuk Mama."
"Kenapa nggak lewat telepon saja?"
"Setiap Nara mau kesana, selalu saja nggak boleh sama Nenek. Nara nggak masuk rumahnya kok, Nara hanya nunggu digerbang saja kok,"
Sejak dulu, Siti selalu melarang Kinara untuk datang kerumah itu sesuai dengan permintaan dari Ana. Siti tidak mengetahui kenapa Kinara tidak boleh menemuinya disana, akan tetapi Ana sama sekali tidak menjelaskan alasannya itu kepada Siti.
Yang Siti tau di sana Ana hanya sedang bekerja, Iya takut bahwa kehadiran Kinara di sana justru akan diusir dari tempat itu, apalagi ketika mengetahui bahwa mereka hanyalah keluarga miskin dan tidak sebanding dengan orang orang di tempat itu. Di satu sisi ada alasan tertentu mengapa Kinara dilarang ke tempat itu, semakin Kinara dekat dengan keluarga itu maka identitasnya bisa semakin terbongkar.
Ana takut jika identitas Kinara terbongkar saat ini maka Kinara bisa berada dalam bahaya, apalagi telah dikabarkan bahwa Sena telah keluar dari dalam penjara. Sapta pernah mengatakan kepadanya bahwa dia menyuruhnya untuk menjauhkan Kinara dari keluarganya sebelum bahaya itu pergi, dirinya akan berusaha untuk mencari Lia untuk menghentikan dendam itu.
Sapta tidak tahu sampai kapan dirinya akan terus mencari, dan untuk saat ini dirinya hanya bisa berusaha semampu dan sebisanya untuk mencari Lia. Sebelum Lia ditemukan, Ana tidak boleh mempertemukan Kinara dengan keluarganya, karena sama saja hal itu akan membahayakan nyawa Kinara dan juga Rifki.
"Nara, kita itu beda kasta sama mereka, Nenek nggak mau kalau kamu di sana nanti diusir sama mereka. Lagian kalau sudah waktunya Mamamu juga pasti pulang kok, dia kan nyari uang untuk Nara biar bisa melanjutkan sekolah," Jelas Siti kepada Kinara.
"Nenek nggak asik ah kalau gitu, Nara mau ke rumah temen Nara aja."
Kinara pun langsung bergegas pergi dari rumah itu, ketika Kinara melewati pintu tanpa sengaja dirinya berpapasan dengan Siska. Siska memperhatikan wajah Kinara yang nampak begitu kesal, sementara Kinara tanpa memperdulikan Siska langsung bergegas pergi dari tempat itu.
"Kenapa tuh anak? Apa dia marah lagi, Bu?" Tanya Siska kepada Siti.
"Nara pengen ketemu sama Mamanya, dia maksa ingin ke rumah besar itu," Jelas Siti.
"Bukannya bulan depan nanti Kak Ana juga pulang? Kenapa dia nggak sabaran banget untuk nunggu Kak Ana pulang?"
"Entahlah, sikapnya masih tetap sama, keras kepala. Paling sulit untuk menasehati dirinya itu,"
"Mungkin sudah turunannya seperti itu kali, Bu. Kak Ana sendiri juga keras kepala, Siska nggak tau lagi harus mendidiknya seperti apa."
*****
Kinara tengah mengendap endap menuju kerumah Rifki yang dimana Ibunya bekerja itu, Kinara ingin sekali bertemu dengan Ibunya untuk menunjukkan sebuah piala yang bertuliskan sebuah prestasi yang dirinya dapatkan disekolah. Sekarang dirinya sudah menginjak kelas 3 SMP dan sebentar lagi akan lulus.
Kinara sebenarnya adalah gadis yang cerdas hingga bisa meraih sebuah juara dalam cerdas cermat yang diadakan disekolahnya, akan tetapi karena kurangnya didikan dari kedua orang tuanya membuatnya terkenal nakal dan sangat sulit untuk dinasehati.
Bukan hanya itu, bahkan Kinara pun selalu membikin para guru yang mendidiknya hampir frustasi dibuatnya. Akan tetapi mereka bangga dengan Kinara yang cerdas, dan selalu mendapat peringkat pertama dikelasnya. Seandainya dirinya dididik langsung oleh orang tuanya, mungkin Kinara akan tumbuh menjadi gadis yang hebat akan iman dan akhlaknya.
"Waw... Ternyata rumahnya sangat besar, pantas saja Mama betah didalamnya. Udah kayak istana dalam dunia novel, mereka pasti sangat kaya raya dan banyak harta." Kinara sangat kagum ketika sudah sampai dirumah Rifki.
Kinara belum pernah melihat rumah yang sebesar itu, bahkan ini kali pertamanya menginjakkan kaki dihalaman yang agak jauh dari rumah tersebut. Bertapa kagumnya gadis itu saat ini, halaman yang luas, bangunan yang besar, sekaligus gerbang yang tinggi mengelilinginya membuatnya sangat kagum dan pandangannya sama sekali tidak lepas untuk mengagumi hal itu.
"Andai saja diriku yang menjadi pemilik rumah itu, pasti sangat menyenangkan."
__ADS_1
Kinara pun masih berdiri disebuah taman yang berada tidak jauh dari gerbang halaman rumah Rifki, Papanya. Kinara masih belum mengetahui identitas asli dari Ayahnya itu, Mamanya sama sekali tidak mau memberitahunya tentang siapa Ayahnya yang sebenarnya. Kinara pun duduk disebuah kursi untuk menyiapkan mentalnya menuju ke gerbang, rasanya dirinya tidak mampu untuk menemui Mamanya karena melihat luasnya halaman itu.
Kinara merasa apa yang dikatakan oleh Siti ada benarnya, keluarga kaya raya seperti itu tidak akan menerima tamu miskin sepertinya. Kinara ragu untuk melanjutkannya atau tidak, sementara tangannya masih mengenggam erat sebuah piala yang dirinya dapatkan disekolahnya.
Ketika dirinya hendak bangkit dari duduknya, tanpa sengaja dirinya melihat orang yang tengah mengendap endap digerbang, seakan akan orang itu tengah celingukkan untuk mencari seseorang. Kinara berpikir dia juga ingin bertemu dengan ibunya yang ada dirumah itu, dan oleh karena itu Kinara ingin mengikutinya agar bisa bertemu dengan Mamanya.
Tiba tiba wanita itu langsung terkejut ketika Kinara menyentuh pundaknya, gelagatnya sangat mencurigakan bagi Kinara yang melihatnya. Kinara tidak sengaja melihat pakaian tahanan yang ada dibalik jaket yang digunakan oleh orang tersebut.
"Sena," Kinara membaca nama yang tertera dibaju itu. "Ah... Tante baru keluar ya dari penjara?" Tanyanya.
Mendengar perkataan Kinara, sontak langsung membuat Sena membenarkan jaketnya itu, dirinya pun langsung segera kabur dari tempat itu agar tidak ada yang mengetahui tentang dirinya. Melihat Sena yang berlari menjauh dari tempat itu, hal itu langsung membuat Kinara mengejarnya karena takut jika memang benar wanita itu memiliki rencana buruk terhadap pemilik rumah itu.
"Tante jangan kabur!" Teriak Kinara sambil mengejarnya.
Kinara terus berlari mengejar Sena, meskipun dirinya tidak tau apa apa soal wanita itu, akan tetapi dirinya terus mengejarnya. Kinara tidak mengetahui maksud dan tujuannya kerumah besar itu, akan tetapi perasaannya menyuruhnya untuk mengejar kemana perginya wanita tersebut.
Sena yang merasa dikejar pun langsung berlari ketempat yang sepi, Kinara dengan salah satu tangannya pun menarik kasar tudung jaket yang digunakan oleh Sena hingga membuat tubuh Sena hampir terhuyur begitu saja.
"Tante kenapa kabur?" Tanya Kinara ketika keduanya telah berhenti untuk kejar kejaran.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Kinara, Sena langsung berbalik arah dan tiba tiba melontarkan sebuah tendangan kearah Kinara. Kinara yang mendapatkan serangan tiba tiba langsung mengelak begitu saja, untung saja dirinya mampu untuk beladiri dari ajaran ibunya.
"Wushhhh.... Tante kenapa langsung nyerang sih? Aku bukan orang jahat kok," Ucap Kinara yang selesai mengelak serangan tersebut.
"Kenapa kamu mengejar ku? Maumu apa?" Tanya Sena dengan nada tinggi.
"Nggak mau apa apa kok," Jawab Kinara nampak terlihat santai.
Kedua mata Kinara langsung membelalak ketika mengetahui wanita yang ada didepannya mengeluarkan sebuah pisau, entah darimana pisau itu sudah ada digenggaman Sena. Sena tanpa aba aba langsung menyerang kearah Kinara begitu saja, dan terjadilah perkelahian diantara keduanya.
Sena pun dengan mudah mengimbangi Kinara, karena Kinara tidak ada apa apanya dibandingkan Rifki dan Nadhira. Tiba tiba muncullah segerombolan orang diantara mereka, hal itu langsung membuat Kinara begitu sangat terkejut karena dihadapan tiga orang lelaki yang asing baginya.
Melihat itu langsung membuat Kinara termundur beberapa langkah, bagaimana dirinya bisa melawan orang banyak seperti ini? Kinara kebingungan harus berbuat apa saat ini. Kinara tidak menyangka bahwa akan hadir orang orang itu ditempat terpencil ini, dirinya terlalu melewati batas untuk ikut campur urusan orang lain.
"Eh tunggu tunggu, aku nggak tau urusan kalian apa'an dirumah besar itu. Tapi, boleh kah aku pergi?" Tanya Kinara yang dibuat seolah olah terlihat tenang akan tetapi sebenarnya dirinya ketakutan saat ini.
"Kau sudah terlanjur membuat masalah denganku, jika kau dibiarkan hidup maka kau akan menjadi ancaman terbesarku nanti," Ucap Sena.
"Tenang saja, aku tidak akan menceritakan kejadian tadi kepada siapapun kok, serius!"
"Habisi dia!" Sena memerintahkan kepada ketiga lelaki itu untuk menyerang Kinara.
Ketiganya langsung bergegas untuk melaksanakan perintah tersebut, melihat itu Kinara siap dan tidak siap harus melindungi dirinya sendiri. Ketiganya langsung bergegas untuk melontarkan sebuah pukulan dan tendangan kepada Kinara, akan tetapi dengan cepatnya Kinara segera menghindar dan menangkis serangan mereka.
Tanpa sengaja Kinara pun menginjak sebuah ranting hingga membuatnya terjatuh dengan kerasnya, dan ketiga orang tersebut langsung menangkapnya dan mengunci pergerakan tubuhnya itu dengan erat.
"LEPASKAN!" Teriak Kinara yang berusaha untuk memberontak.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Sena sambil memegangi dagu Kinara.
"Apa kau tau siapa diriku? Mamaku tidak pernah mengatakan siapa sebenarnya diriku," Tanya Kinara balik.
"Siapa Mamamu?"
"Dia hanya pembantu rumah tangga dirumah besar itu. Eh iya, kau tadi ngapain mengendap endap disana? Apa kau juga mau bertemu dengan keluargamu?"
__ADS_1
"Kau sengaja mengalihkan pembicaraan?"
"Tidak tidak, aku tidak berniat seperti itu kok, beneran. Tolong lepaskan aku, tanganku sakit banget," Kinara pun berlagak seolah olah kesakitan saat ini.
Mendengar jawaban polos dari Kinara, hal itu langsung membuat Sena memberi kode kepada ketiga orang itu untuk melepaskannya. Sena pikir wanita yang ada dihadapannya ini ada hubungannya dengan keluarga Rifki, akan tetapi dirinya salah karena mana mungkin wanita yang ada dihadapannya memiliki hubungan itu.
"Makasih karena sudah melepaskan diriku, Tante. Eh Tante belum menjawab pertanyaanku tadi," Kinara pun teringat tentang pertanyaan sebelumnya.
"Awalnya diriku juga sama sepertimu yang ingin bertemu dengan Ibuku, tapi keluarga mereka sangat jahat. Kau tau apa yang dilakukan oleh mereka?"
"Nggak tau, Tante. Emang apa yang dilakukan oleh mereka?"
"Mereka menyiksa Ibuku, bahkan tanpa ampun sama sekali. Terus aku difitnah ingin mencelakakan mereka karena ingin menyelamatkan Ibuku, dan berakhir masuk kedalam penjara. Aku kesini ingin membebaskan Ibuku, dan berpikir dengan membawa ketiga orang ini aku bisa mengeluarkan Ibuku dari sana." Sena pun mengarang cerita.
"Kasihan. Aku jadi teringat Mamaku disana, aku harus menyelamatkan Mamaku dari sana sebelum terlambat, kan?"
"Betul. Apa kau mau bekerja sama denganku untuk menyelamatkan mereka? Ilmu beladirimu sangat bagus, jika kau ikut berlatih denganku maka kau akan jauh lebih hebat nantinya," Sena mencoba untuk membujuknya agar Kinara mau menjadi anak buahnya.
Sena harus mengumpulkan banyak orang untuk bisa menghancurkan keluarga Nadhira dan Rifki, dia tidak akan pernah membiarkan Nadhira dan Rifki hidup dengan tenang. Dengan mengajak orang bergabung bersamanya, mungkin akan menjadi keuntungan terbesarnya untuk menghancurkan keluarga itu.
"Kita kan baru kenal, Tante. Maaf ya Tante, aku tidak mau terlibat dalam masalah apapun, nanti Mamaku marah kepadaku."
"Apa kau tidak kasihan dengan Mamamu? Aku dengar dengar, disana sudah lebih dari 5 pembantu rumah tangga yang mati loh, apa kau mau Mamamu jadi salah satu dari mereka yang mati?"
Ekspresi Kinara pun berubah setelah mendengarnya, pikirannya pun mendadak menjadi berantakan seketika itu juga. Ia tidak mau kehilangan Mamanya, karena hanya Mamanya yang dirinya punya.
"Benarkah? Aku tidak mau Mamaku mati. Lalu apa yang harus aku lakukan, Tante?"
"Kita habisi pemilik rumah itu, tapi jangan sampai ada yang tau."
"Gimana caranya? Nanti kalau dipenjara gimana?"
"Mereka orang jahat. Kalau mereka masih terus hidup, nanti bakalan banyak nyawa yang melayang ditangannya. Pikirkan itu baik baik,"
"Aku nggak mau Mama kenapa kenapa. Baiklah, aku mau bekerja sama denganmu, tapi apa yang harus aku lakukan?"
"Kau mau kerumah itu kan?"
"Iya, aku mau banget. Tapi setelah mendengarnya aku jadi takut,"
"Jangan takut, kamu tidak sendirian kok."
Sena pun memberikan sesuatu kepada Kinara, sebuah bungkus obat yang tengah digenggam oleh Kinara saat ini. Kinara pun bingung dengan bungkusan tersebut, dia tidak tau obat apa yang tengah dirinya pegang itu.
"Apa ini?" Tanya Kinara.
"Itu racun. Siapapun yang minum racun ini, dia bakalan mati jika tidak segera ditolong. Berikan itu kepada pemilik rumah, tapi pastikan Mamamu tidak meminumnya, kalau tidak maka Mamamu akan bernasib sama seperti lainnya."
"Jadi aku harus memberikan ini kepada pemilik rumah?"
"Masuklah dengan diam diam kesana, terus tabur itu ke makanan mereka. Kau carilah Ibumu dan bawa dia keluar dari sana, gampang kan?"
"Baiklah, aku akan melakukannya."
"Aku yakin kau bisa, kau hebat. Dengan seperti ini artinya kau menyelamatkan nyawa banyak orang,"
__ADS_1
"Bener. Aku harus melakukannya untuk menyelamatkan orang orang yang tidak bersalah,"