Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kesialan salah membeli pisang


__ADS_3

Rifki yang memang belum tidur pun membuka salah satu matanya untuk melirik kearah Nadhira dan kembali memejamkan kedua matanya, dirinya pun tersenyum ketika mendapati bahwa Nadhira tertidur dengan memeluk tubuhnya itu, Rifki berpura pura telah tertidur sehingga dia membiarkan apapun yang dilakukan oleh Nadhira.


"Rifki, kau sudah tidur" Ucap Nadhira sambil menggerakkan jari telunjuknya untuk memainkan hidung Rifki, "Kenapa dia bisa tidur nyenyak sih, ngak adil banget deh"


Melihat Rifki yang tidak bereaksi membuat Nadhira terus memainkan telunjuknya dihidung Rifki, Nadhira pun menaikkan pakaian Rifki dan bersandar didada bidang suaminya itu tanpa sehelai pakaian yang menutupi tubuh Rifki, Rifki yang merasakan itu hanya bisa tersenyum tipis entah apa yang sedang Nadhira lakukan saat ini.


"Hangat sekali dan nyaman, entah kenapa bisa dadamu seperti ini Rif, tempat bersandar ternyaman yang pernah ada" Nadhira mirip sekali seperti seekor kucing yang sedang menikmati dada bidang suaminya dan sesekali menggosok gosokkan hidungnya didada bidang Rifki.


Rifki merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira akan tetapi dirinya hanya bisa menahannya, detak jantungnya semakin berdebar dibuat oleh Nadhira, dan sangat sulit untuk dikondisikan.


"Detak jantungmu keras dan cepat banget Rif, kayak habis lari maraton tau ngak sih, dug dug dug dug dug dug, habis dikejar maling ya?" Ucap Nadhira seraya menempelkan telinganya didada bagian jantung Rifki dan mendengarkan detak jantung Rifki yang menurut dirinya sangat cepat itu.


"Kau yang membuatku tidak tenang Dhira" Ucap Rifki sambil memejamkan matanya.


"Kau belum tidur!" Teriak Nadhira dengan terkejut dan langsung bangkit duduk disebelah Rifki.


"Kenapa? Ngak bisa tidur tanpa diriku?" Tanya Rifki langsung membuka kedua matanya untuk menatap kearah Nadhira.


"Aku laper, pengen makan" Ucap Nadhira sambil menundukkan kepalanya dihadapan Rifki.


"Mau makan apa?" Rifki langsung duduk disebelah Nadhira sambil mengusap pelan pipi Nadhira.


"Pisang goreng"


"Hah? Jam segini ngak ada yang jualan pisang goreng Dhira, udah tengah malam ini"


"Ngak mau, pokok harus dapet pisang goreng"


"Iya sayang"


Rifki lalu bangkit dari tidurnya dan langsung memerintahkan anggota Gengcobra untuk berkumpul di lapangan sekarang juga, banyak anggota Gengcobra yang sudah beristirahat dengan nyenyak akan tetapi mereka harus terbangun gara gara perintah Rifki untuk berkumpul.


"Ada apa menyuruh kami untuk kumpul tengah malam seperti ini Tuan Muda, pinggang saya rasanya remuk sekali dan tidak bisa digerakkan dengan bebas" Keluh Fajar yang sejak tadi berusaha untuk memejamkan matanya akan tetapi tidak bisa karena pegal pegal yang ia rasakan.


"Tuan Muda, kami mengantuk" Keluh Reno yang sejak tadi telah mengerjakan banyak hal.


"Ada tugas penting untuk kalian" Ucap Rifki yang sama mengantuknya akan tetapi ia tahan.


"Tugas?" Ucap mereka bersamaan, mereka tidak mempercayai apa yang mereka dengar saat ini.


Mendengar adanya tugas membuat mereka semua yang tadinya mengantuk kini langsung membuka matanya dengan lebar lebar, tidak biasanya Rifki akan memberi mereka tugas ditengah malam seperti ini dan jika tidak ada hal yang mepet Rifki tidak akan mungkin memberi mereka tugas dimalam hari.


"Tugas apa Tuan Muda? Kenapa harus tengah malam seperti ini?" Tanya Vano dengan beberapa kali dirinya menguap karena masih mengantuk.


"Kenapa tidak besok pagi saja Tuan Muda? Kenapa harus malam malam seperti ini" Tanya Reno dengan nada rengeknya.


"Kalian harus mencari makanan pisang goreng sekarang juga" Ucap Rifki dengan tegas.


"APA! Hanya mencari pisang goreng?" Bayu benar benar tidak menyangka bahwa mereka dibangunkan di jam segini hanya untuk mencari pisang goreng.


"Yang benar saja Tuan Muda, mana ada pisang goreng di jam segini" Fajar yang tadinya membungkuk karena kelelahan itu pun langsung berdiri dengan tegaknya.


"Nah itu masalahnya, aku ingin kalian berpencar untuk mencari orang yang jualan pisang goreng itu"


"Sekarang Tuan Muda?"


"Tahun depan!"


"Oh masih lama"


"Detik ini juga! Cepat cari pedagang yang masih jualan pisang goreng"


"Kalau tidak ada gimana Tuan Muda?"


"Ngak usah balik ke markas! Pokoknya harus dapet pisang goreng"


"Ini pasti ulah Nadhira" Tebak Bayu yang tepat sasaran saat ini.


"Kau benar, dia lagi ngidam untuk makan pisang goreng dijam segini, pokoknya harus dapat bagaimanapun caranya itu, aku tidak ingin anakku nanti ngileran".


"Baik Tuan Muda!" Jawab mereka serempak.


Dengan langkah gontai karena masih mengantuk, seluruh anggota Gengcobra tersebut melangkah pergi menuju ke garasi tempat dimana sepeda motor mereka terparkir saat ini, dan sebagian dari mereka menggunakan mobil yang ada dimarkas itu.


Fajar, Bayu dan juga Reno kini tengah masuk kedalam mobil untuk mencari secara bersamaan, sementara Vano dan Andre naik sepedah secara berboncengan berdua, mereka pun berpencar untuk mencari makanan yang dimaksud tersebut.


"Kita harus mencari dimana lagi Ren" Keluh Fajar yang sejak tadi sibuk menyetir.


"Ke ladang penduduk saja, kali aja mereka punya buah pisang dirumah mereka yang sudah masak dan siap untuk dihidangkan" Saran dari Bayu.


"Jam segini kerumah warga? Kayak mau maling saja" Gerutu Fajar.


"Kita kan mau beli bukan maling, lagian jam segini mana ada kedai yang buka" Sela Reno membenarkan saran dari Bayu.


"Iya sih, tapi kalian tau ngak rumah penduduk yang mana yang mempunyai pohon pisang?" Fajar tidak habis pikir dengan jalan pikir keduanya itu.


"Didesa desa kayaknya banyak pohon pisang deh"

__ADS_1


"Desa mana Ren? Emang kau sudah punya pandangan untuk desa yang akan kita datangi?"


"Ngak ada sih, kali ajak ke desa Flamboyan yang berada didekat sini"


"Baiklah, kita akan kesana"


Fajar menghentikan laju mobilnya disaat mereka telah sampailah disebuah gapura yang bertuliskan Desa Flamboyan, desa itu terlihat begitu sunyi karena waktu yang menunjukkan pukul tengah malam tersebut, ketiga orang itu lalu turun dari mobil tersebut dan langsung masuk kedalam desa itu.


"Gimana mau nyari pohon pisang, disini bahkan sangat gelap" Guman Fajar.


"Jangan nyerah gitu aja napa sih, usaha dong" Tegur Reno yang ada disamping Fajar.


"Ngeri tau, lihat saja sama sekali tidak ada orang yang lalu lalang"


"Iya juga sih, ngak yakin kalo kita bakalan nemu tuh pohon pisang disini"


"Cih... Dasar penakut!" Umpat Bayu.


"Silahkan duluan Tuan Bayu, anda kan pemberani" Ucap Fajar sambil memberi jalan kepada Bayu.


Bayu pun menatap malas kearah dua orang itu, dirinya pun langsung melangkah untuk masuk kedalam desa itu, mereka mencari pos ronda yang ada didesa itu akan tetapi sama sekali tidak menemukan keberadaan dari pos ronda yang mereka cari cari tersebut.


"Eh bukankah itu pohon pisang?" Tanya Fajar sambil menunjuk kearah sebuah rumah yang terlihat sangat tua tersebut.


"Ayo kesana" Ajak Bayu.


"Apa anda yakin? Rumahnya kelihatan tidak meyakinkan untuk didatangi"


"Mana tau kalo belom nyoba masuk" Ucap Bayu yang acuh tak acuh kepada Fajar.


Bayu pun melangkah mendekat kearah gubuk tua yang ditunjuk oleh Fajar sebelumnya, Reno dan Fajar hanya mengikuti Bayu dari belakang dengan hati hati sambil berjaga jaga jika terjadi sesuatu dengan mereka ketika melangkah kearah bagunan tua itu.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Bayu pun mengetuk pintu rumah tersebut dan tak lupa dirinya mengucapkan salam, setelah sekian lama menunggu akhinya keluarlah seorang wanita patuh baya dan sedikit membungkuk dihadapan Bayu dan kedua orang itu.


"Waalaikumussalam, nyari siapa ya Nak?" Tanya wanita paruh baya tersebut dengan nada khas seperti orang yang baru bangun dari tidurnya.


"Maaf Bu karena menganggu waktu istirahatnya, apa anda pemilik dari pohon pisang yang ada disebelah itu?" Ucap Bayu sambil menunjuk kearah beberapa pohon pisang yang tengah menancap kokoh.


"Iya benar, ada apa ya?"


"Apa anda memiliki buah yang sudah matang Bu? Kami ingin membelinya"


"Kebetulan sekali, tadi sore saya memanennya dan belom sempat untuk dibawa kepasar"


"Baik Bu, kami akan membelinya"


Wanita paruh baya tersebut langsung memasukkan beberapa ruas buah pisang kedalam sebuah karung beras, setelahnya Bayu segera membayarnya sesuai dengan harga dari buah pisang tersebut, Fajar dan Reno langsung mengangkat karung yang berisikan buah pisang itu dan memasukkannya kedalam mobil yang ia naikin sebelumnya.


"Apa kau yakin bahwa buah ini aman?" Tanya Fajar ketika sampai didalam mobil.


"Maksudmu apaan?"


"Aku merasa aneh dengan ibu ibu itu, sejak tadi dirinya tanpa ekspresi sedikitpun, aku jadi merasa merinding dengan orang itu"


"Halah palingan itu hanya firasatmu saja"


"Ngak, ini bukan firasat belaka saja, apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan wanita tua itu?"


"Bener juga sih, Ren coba kau periksa buah pisang yang ada dibagasi itu" Perintah Bayu kepada Reno.


"Sebaiknya kita harus berhenti dulu deh Jar, berhenti ditempat yang sedikit rame" Saran Reno.


"Bentar bentar, aku cari tempat dulu"


Fajar memberhentikan mobil tersebut disebuah halaman kosong yang berada ditepi jalan dan dibawah pancaran cahaya lampu jalanan yang cukup terang, ketiganya pun turun dari dalam mobil itu untuk berjalan kearah bagasi mobil tersebut.


"Coba kau lihat dulu Ren" Ucap Fajar.


"Kenapa ngak kau saja yang lihat Jar"


"Agak merinding Ren, lebih baik dirimu saja yang memeriksanya"


"Cemen lo, masak gitu saja takut"


"Bukan takut, tapi hanya merinding saja dan firasatku mengatakan bahwa ada yang tidak beres"


"Sama aja"


Reno pun menarik ujung karung tersebut dengan perlahan lahan dan mengeluarkannya dari dalam bagasi mobil itu, tiba tiba cairan merah darah menetes keluar dari dalam karung tersebut, melihat itu membuat ketiganya langsung melotot dan tidak mempercayai apa yang mereka lihat itu.


"Bukankah itu darah?" Tanya Fajar yang tercengang melihat cairan merah itu.


"Kau benar Jar, itu darah" Ucap Bayu yang juga ikut tercengang melihatnya.

__ADS_1


"Kabur ngak?" Ucap Reno yang masih memegangi ujung karung tersebut dengan erat.


"Gimana mau kabur, tanganmu saja masih pegangan erat dengan karung itu" Guman Fajar.


"Ren, sebaiknya kau lihat dulu apa yang kau pegangi itu" Ucap Bayu memperingatkan.


"Rasanya lengket dan bau anyir darah" Ucap Reno tanpa berani untuk menoleh.


"Ren, dia menyeramkan sekali, matanya hitam, rambutnya panjang dan bajunya putih berlumur darah" Ucap Bayu memperjelas.


"Arghhhhhhhh....."


Plakkk


Reno yang langsung menoleh itu pun tanpa sadar langsung menonjok sesuatu yang menakutkan tersebut, sementara Fajar dan Bayu bersembunyi dibalik sebuah pohon karena ketakutannya, akan tetapi setelah Reno menoleh kearah karung tersebut mendadak karung itu berubah kembali menjadi sebuah karung beras pada umumnya.


"Aneh, tadi tanganku lengket kok sekarang bersih" Ucap Reno seraya menatap kearah tangannya.


Reno pun menoleh kesekitarnya untuk mencari tahu keberadaan dari Fajar dan Bayu, ia pun merasa merinding ketika mengetahui bahwa hanya ada dirinya seorang yang ada ditempat itu.


Reno yang merasa tidak nyaman itu pun langsung berlari masuk kedalam mobil, sementara Bayu dan Fajar kini tengah menundukkan kepalanya mereka dengan nafas yang tersegal segal, ia benar benar tidak mempercayai apa yang ia lihat sebelumnya, itu sangat menakutkan.


"Apa kau melihat apa yang aku lihat tadi?" Tanya Bayu setelah dirinya merasa tenang.


"Iya, aku melihat karung beras yang mengeluarkan darah" Jawab Fajar mengingat ingat.


"Bukan itu pe'ak, aku tadi melihat sosok kuntilanak yang berlumuran darah, ngeri banget kan?"


"Sekarang aku melihatnya"


"Apa yang kau katakan ha?"


"Di di di di.. aa.."


"Ngomong yang jelas bangs*d" Umpat Bayu yang merasa kesal dengan Fajar.


"Dia.... Dia..."


"Aku ngak paham!"


Fajar lalu menggerakkan tangannya untuk membuat Bayu menoleh keatasnya, untuk menjelaskannya kepada Bayu dirinya tidak mampu sehingga membuat Bayu menoleh keatas mereka berdua.


"Aaaaa....." Teriak keduanya.


"Apa yang harus kita lakukan!" Teriak Fajar.


"Lari bego!"


"Lemes besti"


"Woi... Cepat kemari! Ayo pergi dari sini!" Teriak Reno dari kaca mobil yang ia buka tersebut ketika mendengar teriakan dari Fajar dan Bayu.


Mendengar itu membuat keduanya lalu lari terbirit birit untuk segera sampai dimobil itu, hal itu sontak membuat Fajar terjatuh, melihat itu membuat Bayu segera menarik bajunya dan menyeretnya untuk menuju kemobil.


"Emakkkk......" Teriak Fajar yang diseret oleh Bayu.


Bayu pun langsung masuk kedalam mobil dan Reno langsung bergegas menjalankan mobil tersebut meskipun Fajar belom masuk kedalam mobil itu, melihat mobil itu yang pergi membuat Fajar harus berlarian untuk mengejarnya


"Woi! Jangan tinggalin aku" Teriak Fajar.


"Ren berhenti! Woi Fajar ketinggalan" Teriak Bayu yang melihat Fajar berlarian.


Cittttt... Bhukk


Mendengar itu membuat Reno segera mengerem mendadak mobil tersebut hingga membuat Bayu terbentur disandaran kursi mobil yang ada didepannya itu, bukan hanya Bayu saja akan tetapi Reno pun terbentur dengan setir mobil tersebut.


"Bisa pelan dikit ngak sih!" Keluh Bayu sambil mengusap keningnya yang sakit.


"Maaf Tuan, sengaja eh.. ngak sengaja maksudnya"


Fajar yang melihat mobil itu berhenti langsung bergegas membuka pintunya dan masuk kedalam dengan nafas yang tersegal segal, melihat itu membuat Reno kembali menjalankan mobil tersebut untuk pergi dari tempat itu.


*****


"Kalian bertiga ini kenapa?" Tanya Rifki yang melihat kedatangan dari ketiga orang itu kemarkas dengan nafas yang memburu.


"Ada hantu! Dimobil" Ucap Fajar dengan hebohnya.


"Hantu?" Tanya Rifki mengernyitkan dahinya tanpa rasa panik ketika mendengarnya.


"Benar Tuan Muda, menyeramkan sekali" Ucap Reno yang mulai terlihat sedikit tenang.


"Gitu aja takut?" Ucap Rifki seraya melenggang pergi menuju kemobilnya itu.


Rifki lalu berjalan mendekat kearah mobilnya untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi dengan ketiga anak buahnya itu, ia lalu membuka bagasi mobil tersebut untuk memeriksanya, Rifki dapat merasakan bahwa adanya energi lain didalam mobilnya tersebut.


"Apa yang telah kalian lakukan?" Tanya Rifki.

__ADS_1


Rifki melihat adanya bekas energi jahat didalam mobil tersebut, sebelumnya Reno telah membuang karung beras yang berisikan pisang itu dari dalam mobil dan menutupnya dengan erat.


Bayu pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rifki, Rifki mendengarnya hal tersebut dengan seksama tanpa ingin ada yang terlewatkan sedikitpun itu, pandangan Rifki masih tertuju kepada bagasi mobilnya karena disana adanya sebuah sosok yang menyeramkan.


__ADS_2