Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kedatangan Nadhira kemarkas


__ADS_3

Rifki mengangguk kepada Rafli karena dirinya sejak tadi sudah mengetahui bahwa Rafli bukanlah pelaku yang sebenarnya, menurut pendapat anggota inti Gengcobra juga telah mencari tau soal tersebut sebelumnya akan tetapi mereka belum menemukan pelaku yang sebenarnya.


Anggota inti Gengcobra terdiri dari Bayu, Reno, Vano, Fajar, dan Andre. Dan anggota inti tersebut paling dipercayai oleh Rifki sebagai tangan kanannya dalam menjaga markas dan juga Surya Jayantara, meskipun sikap asli mereka yang suka bercanda gurau akan tetapi mereka akan serius ketika melaksanakan tugas dari Rifki.


"Rafli! Aku tidak terima jika kau menuduhku seperti itu" Teriak Sahdam dan ingin melontarkan sebuah pukulan kepada Rafli.


Sringg... Bhuk... Brakk...


"Akh.."


Belum sempat Sahdam melontarkan pukulan kepada Rafli, Rifki langsung mengeluarkan tongkatnya untuk menahan serangan tersebut dan langsung menendang perut Sahdam dengan keras hingga dirinya terpental jauh menabral sebuah gazebo yang ada dihalaman belakang tersebut.


"Berani main kasar disini, akan ku patahkan tanganmu itu sekarang juga, kau pikir dirimu siapa disini? Dengan beraninya menyerang sesama anggota Gengcobra disini, bukan hanya kekuatan yang dibutuhkan ditempat ini, tapi juga kejujuran, akhlak yang baik, dan juga saling menyayangi satu sama lain layaknya sebuah keluarga".


"Maafkan saya Tuan Muda, saya cuma tidak terima dengan ucapan dia yang menyangkut pahutkan saya didalam masalahnya".


"Jika kau merasa tidak terima maka buktikan kalo ucapnya tidak benar! Bukan malah menyerangnya tiba tiba seperti ini"


"Bukti apa lagi Tuan Muda? Saya sudah mengatakan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan saya"


"Hanya dengan kata kata? Anak kecil juga bisa melakukannya padahal dia sendiri yang salah"


"Jadi Tuan Muda lebih percaya ucapannya? Dan menuduh saya sebagai pelakunya?"


"Aku tidak pernah menuduh tanpa bukti, dan semua bukti bukti sekarang terarah kepadamu! Kau tidak perlu ketakutan kalo kau memang tidak salah, dan yang ketakutan adalah pelaku yang sebenarnya!"


"Itu tidak benar Tuan Muda"


"Benar atau tidaknya, kau tidak bisa mengubah kenyataannya seperti apa"


Sekarang posisi Sahdam tengah terjebak dalam ucapan Rifki, ia tidak bisa membantah lagi ucapan dari Rifki dan dirinya hanya bisa diam tanpa kata kata, seolah olah kata kata yang akan keluar dari mulutnya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa dikeluarkan.


"Tangkap dia!" Perintah Rifki.


Mendapatkan perintah seperti itu membuat anggota Gengcobra langsung menangkap Sahdam beserta beberapa anggota Gengcobra baru itu, anggota Gengcobra baru hanya bisa berdiam diri karena sebelumnya mereka tidak kenal sosok seperti apa Rifki itu akan tetapi sekarang mereka tau bahwa sosok Rifki tidak bisa diremehkan.


"Tuan Muda, lepaskan saya!" Teriak Sahdam.


Plakk....


Rifki menampar keras pipi Sahdam setelah dirinya berteriak seperti itu, ia pun menatap tajam kearah Sahdam yang tengah dipegangi oleh beberapa anggota Gengcobra saat ini.


"Melepaskanmu? Setelah membuat kesalahan sebesar ini kau minta dilepaskan? Jangan harap!"


"Baiklah saya akan terima hukuman seperti Rafli Tuan Muda"


"Siapa yang mau menghukummu seperti Rafli? Dia aku hukum seperti itu agar dia lebih teliti kedepannya dan belajar dari kesalahannya, sedangkan dirimu terang terangan merusak nama baik Gengcobra"


"Ampuni saya Tuan Muda, saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi"


"Janji kau bilang? Orang sepertimu tidak akan bisa menepati sebuah janji, jangan berlagak kau bisa untuk menepatinya"


"Sahdam kenapa kau menjebak diriku seperti ini? Kita adalah teman seangkatan dari dulu, tapi kenapa kau melakukan ini kepasaku?" Tanya Rafli yang masih ada ditempat itu.


"Karena aku tidak suka dengan dirimu! Sok baik didepanku, selalu mendapatkan perhatian dari anggota Gengcobra lainnya, kau penipu! Kau pembohong besar Rafli, kau sama sekali tidak menghargai diriku"


"Maafkan aku, karena tidak pernah memperhatikan dirimu selama ini, aku terlalu disibukkan dengan kegiatan dimarkas, maafkan aku temanku"


"Kau bukan temanku! Kau penipu!"


"Kau tidak suka dengan Rafli, bukan berarti kau bebas untuk mencemarkan nama baik Gengcobra!" Ucap Bayu dengan geramnya.


"Ini kesalahanku karena telah mempercayakan seleksi ini kepada orang lain, seharusnya aku sendiri yang turun tangan untuk memilih siapa yang berhak untuk masuk kedalam markas besar Gengcobra" Ucap Rifki.


"Tidak Tuan Muda, ini bukan kesalahan tapi mengungkap jati diri mereka yang asli, tanpa ada kejadian seperti ini kita tidak akan tau siapa mereka yang sebenarnya dan kita tidak akan tau hal apa yang akan terjadi dimasa depan nantinya" Ucap Reno sambil menunjuk kearah Sahdam.


"Reno benar Tuan Muda, bisa jadi masalah seperti ini akan semakin besar nantinya jika tidak diketahui dari awal siapa pelakunya" Vano membenarkan ucapan dari Reno.


"Blokir nama mereka agar tidak bisa memasuki perusahaan manapun, siapapun yang berani membuat masalah dengan anggota Gengcobra akan tau sendiri akibatnya"


"Baik Tuan Muda" Ucap anggota inti Gengcobra.


"Untuk selebihnya hukuman yang pantas untuk mereka, aku serahkan kepada kalian berlima"


"Kami akan memberikan hukuman yang sepadan Tuan Muda" Jawab Bayu dengan tegas.


"Kalian yang tidak berkepentingan bisa kembali melakukan aktivitas kalian"


"Baik Tuan Muda" Jawab mereka serempak.

__ADS_1


Anggota Gengcobra lainnya segera membubarkan diri dan yang dihalaman tersebut hanya tersisa anggota inti dan beberapa anggota Gengcobra yang sedang memegangi Sahdam dan anggota Gengcobra baru lainnya.


"Aku mau kekamar, jangan biarkan siapapun masuk kedalamnya, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun, mengerti kalian?"


"Iya Tuan Muda, akan kami pastikan agar tidak ada yang masuk kedalam kamar anda"


Rifki pun meninggalkan tempat tersebut, dirinya harus bertindak yang tepat untuk mengembalikan nama baik anggota Gengcobra yang telah dirusak oleh beberapa orang, masalah ini benar benar membuatnya merasa sangat pusing.


Ia ingin mengistirahatkan tubuh yang lelah didalam kamarnya yang ada didalam markas Gengcobra tersebut, ia membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan keras hingga membuat anggota Gengcobra lainnya langsung terkejut.


Nadhira ingin menyusul Rifki yang saat ini sedang berada didalam markas Gengcobra, ia meminta kepada Pak Mun untuk mengantarkannya menuju kemarkas demi menyusul suaminya itu.


Sesampainya didepan markas itu, anggota Gengcobra yang berjaga didepan gerbang tersebut pun langsung membukakan pintu gerbang utama agar mobil yang dinaiki bisa masuk kedalam markas.


Setelah menurunkan Nadhira dari mobil, Nadhira meminta kepada Pak Mun untuk kembali pulang kerumahnya, karena disini ada anggota Gengcobra yang akan menjaganya dan juga mengantarnya jika itu diperlukan.


Pak Mun hanya mengangguk kepada Nadhira dan dirinya langsung menjalankan mobil tersebut untuk keluar dari markas besar Gengcobra dan melaju pergi meninggalkan markas itu.


"Dimana Rifki?" Tanya Nadhira kepada anggota Gengcobra yang lewat.


"Ada dikamarnya Nona Muda" Jawab mereka dengan sangat sopan.


"Baiklah" Ucap Nadhira dan langsung berlalu pergi.


Ketika akan sampai dikamar Rifki yang ada didalam markas Gengcobra, Nadhira tiba tiba dihentikan oleh Fajar dan Bayu, dan hal itu langsung membuat Nadhira menghentikan langkahnya dengan sebal.


"Ada apa sih! Minggir ngak!" Nadhira sangat sebal ketika keduanya menghentikan langkah kakinya.


"Lebih baik jangan temui Rifki saat ini Dhira, atau kau akan kena marah olehnya nanti, Rifki sedang tidak baik baik saja sekarang" Ucap Bayu memperingati Nadhira untuk tidak menemui Rifki saat ini.


"Iya Dhira itu benar, tadi aja dia sampe banting pintu untuk masuk kedalam kamarnya, ngeri banget deh" Tambah Fajar.


"Apa yang terjadi dengan dia? Katakan!" Ucap Nadhira yang mulai tidak sabaran karena dirinya khawatir dengan Rifki.


"Ada masalah didalam markas Gengcobra Dhira, ada seseorang yang berani untuk mencemarkan nama baik anggota Gengcobra" Ucap Bayu.


"Aku harus menemui Rifki" Nadhira lalu bergegas berlari tanpa menghiraukan teriakan kedua orang itu yang tengah mencegahnya.


Nadhira sangat khawatir dengan kondisi Rifki saat ini, apalagi dirinya mengetahui bahwa ada seseorang yang dengan beraninya mencemarkan nama baik anggota Gengcobra dan hal itu mungkin membuat Rifki sangat kecewa dengan anggotanya.


"Rifki!" Teriak Nadhira seraya sambil membuka pintu kamar dari Rifki tersebut.


Rifki langsung bangkit dari duduknya ketika melihat Nadhira sudah berada didalam kamarnya itu, Nadhira pun langsung berlari untuk memeluk tubuh Rifki saat ini, Rifki yang mendapatkan pelukan hangat dari Nadhira pun merasa sangat lega.


"Kenapa datang kemari sayang?" Tanya Rifki sambil memperlihatkan wajahnya baik baik saja.


"Apa aku tidak boleh untuk menemuimu disini?" Jawab Nadhira sambil menggembungkan pipinya.


"Tidak akan ada yang bisa melarangmu sayang, kau bebas keluar masuk markas ini" Rifki merasa sangat gemas melihat pipi gembung Nadhira itu.


"Aku tau Rif, kamu pasti merasa kecewa kan dengan anggota Gengcobra baru yang mencemarkan nama baik Gengcobra itu kan?"


"Bagaimana kamu tau soal itu sayang?"


"Bayu dan Fajar yang memberitahuku ketika aku masuk kedalam markasmu"


"Jadi mereka yang memberitakan hal ini kepadamu?"


"Jangan marah kepada mereka, aku yang ingin tau sendiri, apa kau masih marah dengan hal itu?"


"Tadinya merasa kecewa, tapi setelah melihatmu ada disini membuatku bahagia"


Rifki pun mencium kening Nadhira, aroma rambut Nadhira seakan akan sudah menjadi candu baginya, ia pun mengajak Nadhira untuk duduk dikasurnya, Nadhira hanya menuruti keinginan dari Rifki tanpa bantahan sedikitpun.


"Sudah selesai kan?" Tanya Rifki.


"Sudah kok sayang" Jawab Nadhira dengan seutas senyuman tipis diwajah cantiknya.


Rifki membelai pelan rambut Nadhira sambil menatap wajah Nadhira dengan senyuman yang sangat manis dan hal itu langsung membuat hati Nadhira menjadi sangat damai, dan berbunga bunga.


"Istriku sangat cantik, aku mencintaimu Dhira, selamanya akan mencintaimu, tetaplah berada disampingku jangan pernah meninggalkan diriku"


"Aku berjanji kepadamu Rif, dihatiku hanya ada dirimu saat ini dan selamanya, tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan dirimu selamanya"


Rifki pun menempelkan bibirnya pada bibir Nadhira dan melum*tnya, Nadhira pun memejamkan matanya seraya mengalungkan tangannya keleher Rifki sementara tangan Rifki memegangi pipi belakang Nadhira untuk memperdalam cium*nnya.


Rifki melingkarkan tangan kirinya dipundak Nadhira sementara tangan kanannya tengah sibuk membuka resleting baju Nadhira, perlahan lahan tangannya menerobos masuk kedalam baju Nadhira dan merem*s gundukan suci milik Nadhira.


"Dhira apa kau tidak apa apa!" Teriak Bayu dan langsung menerobos masuk kedalam kamar itu.

__ADS_1


Rifki yang sedang bercium*n dengan Nadhira itu pun langsung menghentikan apa yang dia lakukan sekarang ini, Nadhira sendiri langsung menarik selimut yang ada diatas kasur tersebut untuk menutupi tubuhnya yang resleting bajunya telah dibuka oleh Rifki sedikit.


"Eh maaf aku ngak tau, aku takut kamu kenapa kenapa Dhira, soalnya aku tidak mendengar adanya suara dari luar" Ucap Bayu yang terlihat salting sendiri gara gara sekilas dirinya melihat adegan yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu.


"Benar benar merusak moodku!" Ucap Rifki dengan sebalnya kepada Bayu.


"Apa yang kau lakukan disini! Tidak sopan sama sekali!" Teriak Nadhira marah.


"Maaf maaf, kalian lanjutkan saja cium menciumnya, sampai jadi dedek gemes yang imut imut, maaf aku tidak tau sebelumnya" Ucap Bayu sambil menyengir ketakutan.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti Bay! Aku tidak akan melepaskan dirimu" Rifki menatap tajam kearah Bayu.


"Akan ku hajar kamu nanti Bay! Hingga babak belur"


"Kita pukuli bareng bareng saja dia Dhira, tanganku sudah gatal sekali, ingin sekali mencabik cabiknya"


"Bagaimana kalo kita jadikan dia sebagai daging cincang Rif, dan membakarnya kayak sate"


"Lalu kita berikan kepada macan yang ada dikebun binatang"


"Maaf maaf, Bapak Bapak dan Ibu Ibu, anggap saja ini hanya iklan lewat, ah tidak tidak, anggap saja aku tidak ada eh aku kan bukan dedemit, gini aja anggap saja aku tidak lihat apa apa tadi, kalian bisa melanjutkan adegannya sekarang kok"


"Udah selesai ngomongnya?" Tanya Rifki sambil memainkan pisau kecil ditangannya.


"Ampun Tuan Muda, jangan main kekerasan, kasihanilah saya Tuan Muda Abriyanta" Ucap Bayu sambil menyatukan kedua tangannya.


"Bunuh saja dia Rif! Kita eksekusi sekarang juga, tidak sabar untuk mencincangnya menjadi beberapa bagian" Seru si kompor Nadhira.


"Tidak!!!" Bayu langsung berlari keluar dari ruangan itu dan menutup pintu itu dengan erat.


Rifki memijat pelipisnya yang terasa sedikit sakit, entah tiba tiba rasa pusing langsung menerjangnya begitu saja, melihat itu membuat Nadhira mendekatkan diri kepada Rifki.


"Kamu kenapa sayang? Pusing?" Tanya Nadhira sedikit khawatir dengan Rifki.


"Rasanya seperti mau terbang Dhira, pusing banget".


"Dilanjutkan ngak? Atau pulang saja kalo gitu"


"Kita disini saja Dhira"


"Baiklah"


Nadhira pun menarik tubuh Rifki untuk menjatuhkan Rifki kedalam pelukannya, Rifki pun bersandar dada kiri Nadhira, sementara Nadhira mengusap usap dan membelai kepala Rifki dengan penuh kelembutan.


"Aku minta Bayu buat buatin minuman hangat ya?" Tanya Nadhira.


"Ngak perlu sayang"


"Badanmu agak panas Rif, minum obat ya"


"Adik kecilku belom tenang Dhira, gara gara Bayu merusak semuanya"


"Ya udah ayo ditenangin dulu"


Nadhira menatap kearah wajah Rifki, Nadhira langsung mendekatkan bibirnya kepada bibir Rifki, dia melakukan hal yang sama seperti yang Rifki lakukan biasanya dan hal itu sontak membuat Rifki langsung terkejut dibuatnya.


Rifki pun menjatuhkan tubuhnya dan Nadhira untuk berbaling diatas kasur tersebut, Rifki sudah berada diatas Nadhira dan pandangan keduanya pun langsung bertemu, Rifki menyangga tubuhnya dengan kedua sikunya.


"Beraninya dirimu melakukan itu lebih dulu Dhira, akan ku buat dirimu tidak bisa berjalan kali ini sayang, aku sangat mencintaimu" Nafas Rifki mulai memburu dibuat Nadhira, dengan seutas senyuman yang ada diwajah Rifki membuat Nadhira merasa bahagia.


"Aku mencintaimu Rif"


Rifki menutupi tubuh keduanya dengan selimut yang lebar dan tebal, ia pun membuka resleting baju Nadhira lebih lebar lagi, dengan perlahan lahan ia melepaskan baju tersebut dan juga melepaskan celana panjang yang dipakai oleh Nadhira saat ini, setelah itu dirinya pun melepaskan pakaiannya.


Rifki memainkan jemarinya kearea sensitif milik Nadhira, pernafasan Nadhira menjadi semakin cepat dibuat oleh Rifki, Nadhira memeluk erat tubuh Rifki dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya, suara des*han lirih pun terdengar ditelinga Rifki saat ini, dan dirinya pun menikmati akan hal itu.


Selanjutnya hanya mereka yang tau :v


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai kak, kali aja butuh rekomendasi, silahkan dibaca juga ya, heppy reading


ini blubnya


Aluna diagnosis alzheimer, suatu penyakit yang mampu menghapus memori hingga berakhir pada kematian. Di saat raga tak mampu lagi bertahan, Aluna dipertemukan dengan seorang pria bernama Iskhandar. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun, Iskhandar tak mencintainya. Dia terpaksa menikahi Aluna. Iskhandar merasa terhina karena dirinya orang tak berpunya. Semua bisa didapatkan karena uang, dan Iskhandar merasa cinta itu tak seharusnya ada. Cinta tak bisa dibeli, tanpa ia tahu bahwa Aluna tulus mencintainya. Sampai Aluna rela hidup susah hanya demi cinta.


Apakah Aluna berhasil meraih cinta Iskhandar? Apa dia berhasil mendapatkan kebahagiaan di sisa umurnya?

__ADS_1



__ADS_2