
Mereka langsung bangkit dan mengejar Nadhira kembali, Nadhira yang gerakannya mulai melemah pun segera mampu untuk disusul oleh orang orang yang mengejarnya, salah satu dari mereka langsung menendang punggung Nadhira hingga membuatnya tersungkur diatas tanah.
Bhukk..
"Akh...."
"Kau tidak akan bisa lolos dari kami, menyerahlah".
"Aku tidak akan menyerah meskipun aku harus mati disini sekarang juga".
"Kau sangat keras kepala sekali, jika kau memaksa maka kami akan membunuhmu disini".
"Coba saja kalau kalian bisa".
Nadhira pun langsung melemparkan segenggam tanah berpasir kearah mereka hingga membuat mereka menggeram kesakitan karena pasir itu masuk kedalam mata mereka, dan itu menciptakan sebuah peluang bagi Nadhira untuk menyerang kearah mereka semua.
Nadhira segera menggerakkan tangan yang sedang mengenggam pisau kecil dengan gerakan menusuk ke arah mereka, meskipun itu tidak akan membunuh mereka akan tetapi dengan itu akan membuat mereka melemah.
"Akh..." Rintihan kesakitan dari mereka mulai terdengar begitu memilukan ditelinga Nadhira.
"Tidak akan ada yang bisa menghentikan diriku!" Ucap Nadhira dengan tegas.
Mereka yang terluka itu pun langsung menyerang balik kearah Nadhira, dan terjadilah perkelahian antara mereka ditempat itu, karena musuh yang tidak seimbang membuat Nadhira kewalahan dan mengalami banyak luka cidera.
"Bertahanlah Dhira, aku akan membantumu" Ucap Nimas dan langsung merasuki tubuh Nadhira.
Kini kesadaran Nadhira hilang dan berganti dengan kesadaran milik Nimas, Nimas pun menyerang kearah mereka dengan begitu ganasnya dan cepat, mereka yang merasakan serangan Nimas langsung terkejut dengan perubahan yang dialami oleh Nadhira.
Dengan mudahnya Nimas membuat semua orang terbaring kesakitan diatas tanah sambil memegangi dada mereka masing masing akibat serangan yang diberikan oleh Nimas kali ini, mereka pun berusaha untuk bangkit kembali dan menyerang kearah Nadhira lagi.
Seakan akan tak ada habisnya tenaga mereka untuk melawan Nadhira, melihat hal itu membuat Nimas menjadi kewalahan karena terdesak sehingga membuat Nadhira merebut kembali tubuhnya itu dari Nimas dan langsung menyerang balik kearah mereka.
"Nimas, serap energi mereka saja, aku akan menanganinya" Ucap Nadhira kepada Nimas dan langsung dibalas anggukan olehnya.
"Dhira, ambil ini"
Nimas melemparkan sesuatu kepada Nadhira sementara Nadhira langsung menangkapnya, ia tidak menyangka bahwa Nimas akan memberikan sebuah tongkat miliknya itu, ini keberuntungan Nadhira karena ada Nimas yang selalu untuknya.
"Kerja bagus Nimas".
Nadhira pun langsung memanjangkan tongkat tersebut dan memutarnya dihadapan mereka semua, melihat Nadhira yang tiba tiba memiliki tongkat sengaja membuat semua orang terkejut melihatnya dan termundur beberapa langkah kebelakang.
Sudah begitu banyak luka yang dimiliki oleh Nadhira, mulai dari kepalanya yang mengalirkan darah akibat benturan, sampai sampai tangannya penuh dengan luka sayatan dan bekas kemerahan hingga membiru akibat pertarungan itu.
"Siapapun yang menghalangi langkahku untuk menyelamatkan Rifki, maka dia harus mati ditanganku" Ucap Nadhira dengan geramnya.
Mendengar ucapan tersebut membuat beberapa orang merasa ngeri dengan Nadhira, bahkan disaat terluka seperti itu pun Nadhira sama sekali tidak menyerah sedikitpun meskipun dirinya hanyalah seorang wanita biasa akan tetapi tekatnyalah yang membuatnya begitu kuat.
Darahnya pun menetes dan membasahi bajunya, darah yang bercampur dengan keringat itu bukanlah penghalang bagi Nadhira untuk dapat menyelamatkan nyawa dari orang yang dicintainya, Nadhira pun menainkan tongkatnya tersebut.
"Siapa kau sebenarnya! Kenapa tenagamu tidak ada habisnya" Teriak seorang lelaki kepada Nadhira yang kini tengah memegangi dadanya.
"Kau terlalu meremehkan seorang wanita, kau lahir dari seorang wanita tapi kau lupa bahwa wanita rela mempertaruhkan hidupnya hanya untuk orang yang dicintainya"
"Wanita itu lemah, dan kau tidak akan sanggup untuk menghadapi kami semua".
"Akan ku pastikan aku akan merobek lidahmu itu"
Nadhira langsung bergerak untuk menyerang kearah orang orang itu dengan seluruh tenaga yang dia miliki saat ini, ia tidak mau menyerah begitu saja meskipun begitu banyak luka yang sudah ia alami saat ini, dan yang hanya ia pikirkan hanyalah mengenai Rifki.
Disatu sisi Nimas pun sedang berusaha untuk menyerap energi dari orang orang itu agar membuat mereka melemah untuk menghadapi Nadhira saat ini, energi mereka seakan akan tidak ada habisnya walaupun sudah diserap begitu banyak oleh Nimas.
"Yuhuu... Raka datang" Tiba tiba Raka muncul didekat Nimas saat ini.
"Dasar bocah, kemana saja kau!" Umpat Nimas kepada Raka yang tiba tiba muncul disebelahnya.
"Kenapa? Apa kau rindu denganku? Bilang saja kalau Rindu, ngak perlu bohong" Ucap Raka dengan penuh percaya diri.
"Jika kau tidak mau membantu, sebaiknya kau pergi dari sini".
"Aku datang atas perintah dari Rifki, kau tidak akan mampu menyerap energi orang orang itu karena mereka memiliki energi yang berasal dari permata abadi, jika kau terus melakukan itu maka kekuatanmu sendiri yang akan melemah".
__ADS_1
"Maksudmu apa? Apakah permata abadi muncul didunia ini? Tidak, itu akan membahayakan bagi keris pusaka xingsi, keturunan Pangeran Kian dalam bahaya saat ini, tapi kenapa aku tidak mampu merasakan permata abadi itu".
"Nimas apa yang kau katakan?" Tanya Nadhira yang sekilas mendengar bahwa Rifki dalam bahaya.
"Kita harus segera menyelesaikannya Dhira, kita tidak punya waktu lagi".
"Baik Nimas".
Nadhira pun mengayunkan tongkat yang ada ditangannya dan dengan diam diam dirinya juga mengayunkan sebuah pisau kecil, tongkat itu ia gunakan untuk mengelabuhi musuhnya agar serangan pisau kecil itu tidak dapat dihindari oleh mereka semua.
Dengan gerakan yang sedikit cepat dan mengalir begitu tenang hal itu membuat Nadhira mampu untuk mengalahkan mereka dalam sekejap, begitupun dengan dirinya yang terluka dengan serangan serangan yang diberikan oleh orang orang itu.
"Rifki, tunggu aku" Ucap Nadhira yang berhasil membuat orang orang itu sudah tidak mampu untuk bangkit kembali.
Nadhira pun berjalan dengan sempoyongan untuk meninggalkan tempat tersebut karena begitu banyak luka yang ada didalam tubuhnya, mulai dari kepala hingga ujung kakinya pun terluka, dan bercak darah seakan akan mengubah seluruh warna baju Nadhira saat ini hingga menjadi merah karena darah.
*****
Penghulu yang menggantikan penghulu sebelumnya kini sudah sampai ditempat dimana pernikahan antara Rifki dan Syaqila akan diadakan, melihat kedatangan penghulu tersebut membuat perasaan Rifki bertambah cemas.
Keluarga Syaqila menyambut kedatangannya dengan penuh kebahagiaan berbeda jauh dengan keluarga Rifki, Putri hanya bisa menggenggam erat tangan suaminya itu sementara Aryabima hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Apakah saya telat?" Tanya pengulu tersebut.
"Tidak Pak, terima kasih sudah menyempatkan untuk hadir diacara pernikahan saya" Ucap Syaqila.
"Baik, bisa kita mulai sekarang juga?".
"Tunggu, saya ingin berbicara dengan calon istri saya berdua" Ucap Rifki.
"Apa yang ingin kau bicarakan Rifki?".
"Baiklah, saya akan tunggu".
Rifki pun mengajak Syaqila menjauh dari orang orang yang ada disana, Syaqila hanya mengikutinya saja karena ia tidak mau jika Rifki membicarakan sesuatu yang akan membuatnya malu didepan banyak umum nantinya.
"Dimana Nadhira sekarang?" Tanya Rifki setelah keduanya sampai ditempat sepi.
"Aku ingin lihat dia sekarang juga, agar aku bisa memastikan sendiri bahwa dia baik baik saja".
"Itu tidak perlu, sebaiknya cepat selesaikan acara ini, jangan biarkan semua orang menunggu terlalu lama".
"Aku tidak akan melanjutkannya sebelum aku melihat wajah Nadhira sendiri dan memastikan bahwa dia baik baik saja dengan mata kepalaku".
"Kau terlalu memaksa, apa kau ingin aku memerintahkan kepada anak buahku untuk membunuhnya sekarang juga?".
"Aku tau, kau tidak berani menunjukkannya kepadaku kan? Karena kau sendiri tau bahwa Nadhira sudah kabur dari perangkapmu"
"Kau terlalu banyak tau, cepat selesaikan acara ini atau kau akan menyesalinya sendiri nanti".
"Tidak, aku tidak mau".
"Oh kau berani melawanku rupanya, apa kau lupa bahwa nasib kedua orang tuamu yang kau cintai itu sekarang ada ditanganku?".
"Kau sungguh licik".
"Cepat selesaikan semuanya".
Syaqila lalu menarik tangan Rifki dengan eratnya, ia pun mengalirkan energi yang ia miliki kepada Rifki hingga membuat Rifki merasakan sakit didadanya akibat dari energi tersebut, mau tidak mau Rifki harus mengikuti keinginan dari Syaqila itu.
Rifki lalu duduk didepan seorang penghulu dan wali nikah dari Syaqila, dirinya juga duduk disebelah Syaqila, pernikahan itu akan segera dimulai, Rifki lalu berjabat tangan dengan wali nikah dari Syaqila.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Rifki Chandra Abriyanta bin Haris Pratama Abriyanta dengan anak saya yang bernama Syaqila Dhifa Damayanti dengan maskawinnya berupa uang tunai sebesar 500 juta, tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira...." Nama Nadhira begitu saja meluncur dari mulut Rifki.
Rifki tidak mampu meneruskan perkataannya tersebut, mendengar itu membuat semua orang begitu terkejut karena salah dalam pengucapan nama mempelai wanita, dan begitu banyak orang yang saat ini sedang menggunjingkan Rifki.
"Nak, namanya Syaqila bukan Nadhira"
"Maafkan saya Pak".
__ADS_1
"Baiklah kita ulangi lagi".
"Iya Pak".
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Rifki Chandra Abriyanta bin Haris Pratama Abriyanta dengan anak saya yang bernama Syaqila Dhifa Damayanti dengan maskawinnya berupa uang tunai sebesar 500 juta, tunai"
"Saya terima nikah dan ka...."
"Berhenti!".
Belum selesai Rifki mengucapkan ijab kabul tersebut tiba tiba suara seorang gadis terdengar begitu nyaring hingga membuat Rifki tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya itu.
Mendengar teriakan tersebut membuat semua orang menoleh kearah sumber suara dan menemukan sosok Nadhira yang tengah berdiri dengan tubuh yang bersimbah darah, dan hal itu nampak begitu sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
"Dhira" Ucap Rifki dengan gemetaran ketika melihat Nadhira yang kini penuh dengan darah disekujur tubuhnya itu.
"Hentikan semuanya" Ucap Nadhira sambil menahan sakit yang ia rasakan.
Karena melakukan perjalanan yang cukup jauh membuat Nadhira kelelahan hingga ketika dirinya tiba digedung acara pernikahan itu dirinya nampak begitu lemah dan dengan sepenuh tenaga yang masih tersisa ia pun berteriak untuk menghentikan pernikahan tersebut.
Melihat pernikahan itu tidak lagi dilanjutkan membuat Nadhira tersenyum kearah Rifki dengan linangan air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya itu, darah yang keluar melalui keningnya itu pun mulai terlihat menggumpal hingga sudah tidak lagi menetes diwajahnya.
Kedatangan Nadhira ketempat itu membuat Syaqila begitu marah, Nadhira telah menggagalkan semuanya yang sudah dia rencanakan itu, tempat itu seketika bergemuruh setelah kedatangan Nadhira.
Bagaimana tidak, melihat Nadhira datang dengan keadaan bersimbah darah membuat semua orang merasa merinding walaupun hanya menatapnya, begitupun dengan luka yang ada ditubuh Nadhira saat ini, kepala Nadhira yang bocor dan juga bagian bibir Nadhira yang sobek menambah kesan ketakutan siapapun yang melihatnya.
Nadhira pun langsung berjalan perlahan lahan untuk menuju ketempat dimana Rifki berada, setiap langkah yang dilakukan oleh Nadhira meninggalkan setetes darah yang membekas dilantai gedung tersebut.
"Rifki, jangan lakukan itu" Ucap Nadhira lirih karena rasa sakit yang menyerangnya saat ini.
Pernikahan itu pun akhirnya tidak dilanjutkan, Nadhira sudah tidak kuat lagi dan akhirnya dirinya pun jatuh berlutut ditempat dimana dirinya berdiri saat ini karena ia sudah tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya dengan kedua kakinya itu.
"Dhira!" Teriak Rifki dan langsung bergegas bangkit dari duduknya untuk berlari kearah Nadhira.
Melihat kedatangan Nadhira ketempat itu membuat Putri dan yang lainnya merasa lega karena pernikahan itu tidak lagi diteruskan, Rifki langsung berlutut didepan Nadhira dengan perasaan sedihnya dan juga linangan air mata.
"Apa yang terjadi denganmu Dhira?" Tanya Rifki dengan khawatirnya.
"Jangan menikah dengan dirinya" Ucap Nadhira sambil menggeleng gelengkan kepalanya, "Aku tidak mau kehilangan dirimu Rifki, dia mau membunuhmu tepat disaat malam pertama dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi kepadamu" Tangis Nadhira pecah seketika setelah mengatakan itu.
"Dhira, kenapa kamu melakukan ini, kenapa kau menyelamatkan diriku Dhira, siapa yang telah menyakiti dirimu seperti ini, katakan kepadaku".
"Apa!" Ucap Abriyanta terkejut mendengar ucapan dari Nadhira.
"Aku tidak bisa melihatmu tiada Rifki, apapun akan aku lakukan, dia bilang dia ingin membunuhmu dan aku tidak bisa melihatmu mati"
"Dhira, maafkan aku karena aku telah membuatmu seperti ini" Ucap Nadhira dan langsung memeluk tubuh Nadhira yang bersimbah darah itu.
Baju pengantin yang terlihat putih bersih itu pun terlihat adanya sebuah noda darah yang melekat disana karena darah Nadhira yang ada dibajunya membekas begitu saja dibaju Rifki akibat pelukan yang diberikan oleh Rifki tersebut.
"Ini bukan salahmu Rifki, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun yang akan menyakitimu, jika harus mati maka biarkan aku terlebih dahulu daripada dirimu Rifki, aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu walaupun hanya sesaat".
"Kau tidak boleh meninggalkan diriku seperti ini Dhira, berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan diriku".
"Melihatmu baik baik saja, itu sudah cukup bagiku".
Anggota Gengcobra segera mengepung tempat itu ketika mengetahui bahwa Nadhira telah datang ke gedung itu dengan bersimbah darah, mereka tidak akan membiarkan keluarga Syaqila lolos begitu saja dari tempat itu.
"Kalian tidak akan bisa kabur dari sini" Ucap Bayu yang baru saja tiba ditempat itu.
"Penjaga!" Teriak Syaqila.
Teriakan itu seketika membuat anak buah Syaqila yang menyamar menjadi tamu undangan pun segera keluar dan berkumpul ditempat dimana Syaqila sedang berdiri saat ini.
"Ternyata kau sudah menyiapkan hal ini sejak awal" Ucap Bayu sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan itu".
"Baiklah, serang mereka!"
Melihat hal itu membuat seluruh tamu undangan yang tidak terlibat segera berlarian karena mereka tidak ingin terlibat dalam acara itu, gedung yang tadinya dihias begitu indah kini telah menjadi medan pertarungan antara Gengcobra melawan anak buah Syaqila dan terlihat begitu acak acakan.
__ADS_1
Bayu menyerang kearah anak buah Syaqila tanpa ampun sedikitpun, Rifki dan Nadhira hanya menyaksikan pertarungan itu dalam diam, keduanya dikelilingi oleh pertarungan antara Gengcobra melawan anak buah Syaqila.