Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kalang kabut


__ADS_3

Kinara merasa tidak akan tenang jika belum bertemu dengan Mamanya, hati kecilnya terus menjerit ingin sekali bertemu dengan Mamanya. Seorang anak kecil yang tidak bertemu dengan Mamanya beberapa saat saja sudah sangat merindukan Mamanya, apalagi dengan Kinara yang sudah jauh dari Papanya sejak kecil dan bahkan ditinggal oleh Mamanya saat ini.


"Nek, Nara nggak bisa tidur juga sampai saat ini. Nara pengen ketemu sama Mama, kenapa Mama belum pulang pulang? Nek, ayo nyusul Mama sekarang saja" ucapin harapan sambil memainkan hidung milik Bu Siti.


"Nara nggak bisa tidur mungkin karena Nara lapar kali, mau nenek buatkan susu sereal dulu? Atau telur mata sapi?" Ucap Bu Siti yang menduga bahwa gadis kecil itu kini merasa lapar sehingga tidak bisa tidur.


"Nara nggak lapar kok Nek, tadi Nara sudah makan sangat banyak diacara bunga api itu. Nara hanya pengen ketemu sama Mama, Nara nggak bisa tidur kalau nggak ada Mama di sini."


"Ini sudah sangat larut malam Nara, kalau nggak tidur gimana Nara bisa beraktivitas besok hari? Kalau Nara nggak tidur gimana kalau besok Nara sakit? Nara harus tetap menjaga kesehatannya. Jangan sampai membuat Mamanya Nara sedih, Nara sendiri kan belum pernah begadang sebelumnya."


"Nenek sudah mengatakan itu berkali kali, Nara sampai bosan mendengarnya. Apa ngak ada hal yang lain yang bisa Nenek katakan selain itu?"


"Kalau bosan, Nara tidur saja. Nanti nenek tidak akan mengomeli Nara lagi kalau Nara tidur, kalo Nara ngak tidur nanti Nenek omeli terus. Sekarang Nara tidur yang nyenyak ya?"


"Nara sudah berusaha Nek, tapi masih tetap saja nggak bisa tidur. Biasanya kalau tidur Mama selalu membelai Nara, dan menyanyikan arah sebuah lagu hingga membuat Nara tertidur."


"Bagaimana kalau Nenek yang menyanyikannya untuk Nara? Biasanya Nara suka dinyanyiin lagu apa?"


"Biasanya Mama selalu nyanyiin lagu sholawatan, Nek."


"Baiklah Nenek nyanyikan sekarang ya Nara nanti tidur,"


Bu Siti pun menyanyikan sebuah sholawat yang dirinya bisa untuk membuat gadis kecil itu tertidur, dirinya juga mengusap pelan kepala Kinara agar gadis kecil itu merasa nyaman sehingga mampu tertidur dengan mudah. Dengan alunan yang lirih, seketika membuat Kinara menguap karena rasa kantuknya mendadak tiba.


*****


Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 2 pagi, sudah lama mereka berada di pertarungan itu. Saat ini hanya tinggal dua orang saja anak buah Hendra, dan hanya tinggal tersisa 3 orang yang masih hidup termasuk juga Hendra. Hendra yang sejak tadi menyaksikan anak buahnya mati secara berurutan itupun terlihat sangat ketakutan, bahkan kakinya terasa sangat lemah hingga membuatnya tidak mampu untuk berlari pergi dari tempat itu.


Bagaimana bisa seorang wanita bisa membunuh seluruh anak buahnya? Apalagi anak buahnya itu yang begitu sangat terlatih, kenapa bisa dengan mudah dikalahkan oleh Nadhira begitu saja. Nadhira sendiri juga tidak mengetahui mengapa dirinya bisa melakukan itu sebelumnya.


Disatu sisi, seorang wanita tengah menggendong seekor kucing pun berdiri dikejauhan dan menyaksikan pertarungan itu. Dirinya pun tersenyum ketika melihat Nadhira mampu mengalahkan mereka, dirinya pun merogoh saku bajunya dan mengambil sebuah botol kecil.


"Kau begitu ceroboh, karena nekat datang sendirian ketempa ini, Dhira. Untung sebelumnya aku telah meracuni mereka, sehingga kau mampu menghabisinya dengan mudah. Moci... Lihatlah dia, bukankah sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri?" Tanya wanita itu kepada kucing yang ada didalam gendongannya.


Wanita itu menggeleng gelengkan kepalanya, dirinya tengah duduk disebuah dahan pohon yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi dirinya tersenyum kearah Nadhira sambil menyaksikan wanita itu bertarung ditengah tengah gelapnya malam, benar benar bertindak ceroboh kali ini.


Wanita itu adalah wanita yang sama yang berada ditaman alun alun kota, wanita itu juga yang telah menyelamatkan Nadhira sebelumnya. Siapa wanita itu? Penasaran dengannya? Lanjutlah sampai episode terakhir nanti,,, huaa...


Kucing hitam yang dibawanya itu nampak tertidur dengan pulasnya, karena wanita tersebut terus mengelusnya hingga merasa nyaman. Dengan rambut panjangnya yang terurai, wanita itu nampak begitu cantik, akan tetapi wanita itu juga terlihat menyeramkan saat ini.


"Racun ini tidak mematikan, hanya membuat tubuh orang gemetaran dan lemas. Kalo bukan karena ini, mungkin dia sendiri yang akan mati, benar benar bertindak ceroboh dirimu kali ini, Dhira. Mungkin dia mau mati bersama suaminya itu, huftt.. semoga lain kali dia tidak ceroboh seperti ini, membuat waktu santaiku terbuang begitu saja,"


Wanita itu sebelumnya telah menaburkan racun melalui pernafasan mereka, dirinya juga telah menaruh racun tersebut kedalam mobil yang dinaiki oleh mereka sebelumnya. Dirinya juga telah menyemprotkan racun itu kearah anak buah Hendra ketika mereka berkumpul didalam hutan, racun itu adalah seperti asap, sehingga mereka tidak ada yang curiga sebelumnya.


Wanita tersebut juga memiliki obat penawarnya, sehingga dirinya sendiri tidak terkena obat tersebut. Efek racun tersebut cukup lama, sekitar 5 jam lebih, sehingga dalam waktu itu mereka masih terdampak terkena racun tersebut.


Wanita itu begitu licik, bahkan dirinya bisa bertindak tanpa membuat orang lain curiga. Akan tetapi wanita itu tidak bisa bertarung, sehingga dirinya hanya mengandalkan pikirannya saja untuk bisa mengalahkan orang orang dan membantu Nadhira untuk membunuh semua musuh musuhnya dengan diam diam.


"Hebat ya dia, Kakak iparku begitu pintar mengajarkannya beladiri. Untung saja dirimu belajar beladiri waktu itu, tapi sayangnya dia selalu bertindak dengan gegabah tanpa memikirkan resiko yang didapatkan, kalo seperti itu diriku sangat malu mengakuinya sebagai Kakakku sendiri. Oh Tuhan! Mengapa aku harus memiliki Kakak sedarah seperti itu, bikin malu saja kalo bertindak gegabah, Papa! Lihatlah anak kandungmu yang satu itu, Kakak ketemu dewasa eh tapi dia belum mengenaliku huaa... Papaku kemana?" Gerutu wanita tersebut.


Wanita tersebut terus memperhatikan kearah pertarungan itu, dirinya pun mengawasi apa yang dilakukan oleh Nadhira saat ini. Wanita itu nampak begitu serius memperhatikan pertarungan, akan tetapi keseriusannya itu seketika terhalang dengan rasa kantuknya.

__ADS_1


Wanita itu merasa sangat mengantuk saat ini, akan tetapi dirinya tidak bisa pergi dari tempat itu sebelum semuanya merasa aman. Karena dirinya harus terus mengawasi wanita itu, dia takut kalau wanita itu akan bertindak gegabah jika dirinya pergi dari tempat itu.


"Moci, bagaimana kalo kita tukar tempat saja sekarang? Aku yang tidur dipangkuanmu dan kau yang mengusap kepalaku, bukankah itu ide yang bagus? Ah rasanya staminaku habis saat ini, sepertinya kali ini diriku tidak akan tidur semalaman,"


Akan tetapi, kucing yang diajaknya bicara itu sama sekali tidak menyahuti ucapannya itu. Kucing itu bahkan masih tertidur dengan nyenyaknya didalam gendongan wanita itu, mungkin pelukannya itu terasa begitu hangat bagi hewan yang berbulu lebat tersebut, sehingga hewan itu tertidur dengan sangat nyenyaknya saat ini.


"Hidup sendiri juga susah ya? Hidupku bagaikan terombang ambing dilautan bebas, seharusnya kita sebagai saudara bisa diajak berbicara dan bercanda satu sama lain. Tapi, aku ragu apakah kau bisa menerimaku sebagai saudaramu nanti, Dhira. Kalo seperti itu, begini saja sudah cukup. Suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu dan saling menatap, tapi jangan tendang diriku nanti."


Wanita itu pun terkekeh pelan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya yang akan ditendang oleh Nadhira nanti. Mungkin dia hanya babak belur, atau tidak dia hanya tidur saja tanpa bangun lagi setelahnya.


*****


Nadhira tidak mempedulikan lukanya yang ada di sekujur tubuhnya itu, bahkan darahnya sendiri pun sampai menetes. Dirinya yang sudah biasa dengan rasa sakit itu pun sama sekali tidak mempedulikan lukanya, bahkan di saat terluka parah pun dirinya nampak begitu biasa.


Sebenarnya Nadhira begitu kelelahan saat ini, apalagi dengan kondisinya sekarang yang hanya memiliki satu ginjal saja itu. Pertarungan yang sangat lama akan sangat menguras tenaganya itu, akan tetapi dirinya harus menguatkan dirinya sendiri untuk bisa bangkit agar Rifki bisa selamat.


"Ayo siapa lagi yang maju! Bagaimana kalau kalian barengan saja? Aku masih mampu untuk melawan kalian semua," Teriak Nadhira kepada mereka.


"Lepaskan senjatamu, maka kami juga akan melepaskan senjata kami."


"Melepaskan senjata? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu? Senjata adalah nyawaku."


"Kita duel tanpa senjata,"


Karena merasa bahwa mereka bukanlah tandingan dari Nadhira, mereka pun mencoba untuk bernegosiasi dengannya hingga Nadhira mau melepaskan senjatanya itu, karana mereka berpikir bahwa Nadhira hebat karena senjatanya. Akan tetapi, hal itu justru membuat Nadhira tertawa dengan kerasnya, bagaimana mungkin disaat seperti ini justru mereka menyuruhnya untuk melepaskan senjata? Hanya orang bodoh yang melakukan itu, karena sama saja dengan menggali kuburannya sendiri.


"Bodoh! Aku tidak suka bermain kata kata, hanya seorang pengecut yang mampu membodohi musuhnya. Dan kalian tidak akan bisa membodohiku dengan mudah, bunuh atau dibunuh?"


Satu persatu dari mereka pun tumbang di tangan Nadhira, ia bahkan tidak mampu menghitung berapa banyak nyawa yang telah mati di tangannya itu. Bahkan orang yang telah mati di tangannya itu pun dibiarkan begitu saja olehnya, meskipun hutan itu tampak menyeramkan di sana juga ada begitu banyak tengkorak yang berserakan di mana pmana.


Akan tetapi, tengkorak tengkorak itu tertutupi oleh tanah dan dedaunan seiring berjalannya waktu, maka dari itu hutan tersebut dikenal dengan hutan angker. Bahkan sering terdengar suara jeritan jeritan yang ada di sana, sehingga hal itu membuat para penduduk yang pernah tinggal di sekitar hutan langsung dihindar dari sana.


Setiap kali melangkah, tidak lepas dari kemungkinan mereka akan menginjak sebuah kerangka manusia disana. Hutan itu bahkan sangat angker, akan tetapi Nadhira dan Rifki sama sekali tidak merasa takut dengan hal gaib karena keduanya sudah terbiasa melihat hal hal seperti itu sebelumnya.


Dan kini hanya tersisa Hendra seorang, meskipun musuhnya itu tidak sepenuhnya mati akan tetapi untuk meminta bantuan kepada orang lain hal itu akan sangat sulit. Perlahan lahan mereka akan mati dengan sendirinya karena tidak mendapatkan pertolongan, bahkan jarak hutan itu untuk menuju desa terasa akan sangat jauh.


"Semuanya sudah mati di tanganku, pilihanmu hanya ada dua sekarang, bunuh diri atau dibunuh? Aku bisa saja membunuhmu saat ini dengan mudah, tapi aku tidak mau melakukan itu. Kau telah menghianati suamiku, dan aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah sebelum aku puas menyiksamu," Ucap Nadhira dengan dinginnya.


"Tolong lepaskan aku! Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi, aku benar benar menyesal karena telah melakukan hal seperti ini. Tolong ampuni aku," Ucap Hendra dengan ketakutan.


"Jika posisi ini dibalik, apa kau juga akan mengampuniku jika aku kalah tadi? Itu tidak akan mungkin terjadi bukan? Kau pasti tidak akan segan segan untuk membunuhku dan suamiku,"


"Aku tidak berani melakukan itu, tolong lepaskan aku, aku janji aku tidak akan pernah melakukan itu lagi."


"Seorang penghianat, sekali menjadi penghianat, akan terus berkhianat. Kau tahu dari mana pedang ini berasal? Pedang ini adalah pedang milik Pangeran Kian, pedang ini bahkan sudah menghabiskan nyawa ribuan orang. Dan kau akan menjadi salah satu di antara mereka, pedang ini begitu tajam bahkan mampu untuk memotong tulangmu dengan mudahnya."


Nampaknya Nadhira sudah lebih dulu sampai di tempat itu sebelum mereka tiba, dirinya pun langsung bergegas menuju sebuah gua yang dimaksud sebagai tempat Pangeran Kian menyimpan keris pusaka xingsi sebelumnya. Dirinya mampu masuk ke dalam goa yang sudah terdapat perisai, karena penyatuan itu membuatnya mampu untuk menembusnya.


Siapa sangka bahwa dirinya pun menemukan sebuah pedang yang sangat tajam, bahkan pedang itu terlihat sangat berat karena ketajamannya. Pedang itu adalah pedang milik dari Pangeran Kian, yang pernah digunakan untuk membantai prajurit yang disuruh oleh Ayahandanya.


"Kau tahu kenapa aku sangat mudah mengalahkan kalian? Karena kekuatan dari pedang ini yang mampu untuk mengalahkan kalian. Bukan soal energi atau yang lainnya, karena Rifki sendiri yang mengajarkanku tentang ilmu pedang, bukan tentang seberapa tajamnya pedang itu tapi tentang seberapa hebatnya memainkan sebuah pedang."

__ADS_1


Hendra mencoba untuk melawan rasa takutnya itu, dirinya pun langsung menyerang sembarangan kearah Nadhira. Karena dirinya yang tidak sehebat ucapannya itu, langsung terbaring ketika mendapatkan sebuah tendangan dari Nadhira yang mengenai perutnya itu.


"Mau main main denganku lebih dulu? Baiklah, akan aku ladeni dirimu,"


Nadhira sendiri lalu mengayunkan pedangnya, hal itu langsung dan langsung membuat lengan Hendra tersayat begitu saja. Hendra mengeram kesakitan setelah mendapatkan luka sayatan itu, dirinya pun langsung bangkit berdiri untuk bergegas menjauh dari Nadhira.


"Pak Hendra, mau lari kemana?" Tanya Nadhira dengan tawa lirih.


Nadhira lalu mengejarnya, dirinya pun melemparkan sebuah golok yang dirinya sebelumnya dibawa oleh anak buah Hendra tersebut. Lemaran itu langsung mengenai kaki kanan Hendra, hingga membuat lelaki itu langsung terjatuh begitu saja akibat rasa nyeri yang dirinya terima saat ini.


"Larimu kurang cepat, Pak. Nampaknya usiamu membuat larimu lambat ya, sehingga kau tidak bisa berlari jauh dari tempat ini,"


"Kau lebih kejam daripada seorang hewan buas sekalipun, kau begitu tega membunuh orang orang dengan sadisnya. Apa kau tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun kepada kami?"


"Apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan nyawa suamiku, aku akan bersikap kejam untuk orang orang yang mau membahayakan nyawa dari suamiku. Selama ini kau hanya melihat sisi manjaku, tapi kau tidak pernah melihat sisi kejamku. Kau tidak pernah berhadapan denganku sebelumnya, maka jangan pernah mengusik singa yang tengah tertidur atau kau akan tau resikonya."


Mendengar itu langsung membuat Hendra merasa ketakutan saat ini, kakinya benar benar lemas saat ini juga. Apalagi Nadhira yang menatapnya tajam sambil berjalan dengan perlahan lahan untuk mendekat kearahnya, Nadhira terlihat sangat menyeramkan saat ini.


Bahkan wanita itu sudah mampu untuk melukainya saat ini, hilang beberapa tahun tidak membuatnya melupakan ilmu beladirinya. Hendra merasa bahwa kekuatan Nadhira tiada habisnya saat ini, bahkan dirinya sendiri saja sudah mampu membunuh banyak orang saat ini.


Didesa Mawar Merah itu terletak disebuah tebing, sehingga disana juga terdapat beberapa goa yang cukup besar, dan disebelahnya itu terdapat sebuah jurang yang cukup dalam. Jurang itu adalah tempat dimana Nadhira terjatuh sebelumnya, dan bahkan dirinya harus mengubah identitasnya menjadi Ana.


Hendra mencoba untuk merayap mundur karena dirinya takut dengan Nadhira, sementara Nadhira terus perlahan lahan berjalan mendekati Hendra dengan senyuman yang seperti hewan buas yang tengah mengincar mangsanya itu.


"Nona Muda, tolong ampuni aku. Aku janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, aku mohon beri diriku kesempatan satu kali lagi. Tolong ampuni nyawaku,"


"Tidak semua hal memiliki kesempatan untuk kedua kalinya didunia ini, aku bukanlah tipe orang yang mudah untuk mengampuni orang yang telah berusaha mencelakakan suamiku."


"Nona Muda, jangan bunuh diriku,"


"Sudah terlambat untuk memaafkan dirimu,"


Hendra segitu ketakutan setelah melihat Nadhira, dirinya seakan akan tidak memiliki tenaga untuk bisa kabur dari tempat itu. Tidak jauh dari tempatnya berada, terlihat sebuah jurang yang cukup dalam, Nadhira tidak membiarkan dirinya jatuh dari jurang itu, dirinya pun langsung meraih kerah baju Hendra dan membawanya untuk mendekat kearah dimana Rifki berada.


Dirinya lalu mendorong tubuh lelaki itu hingga menyentuh kaki Rifki yang tidak sadarkan diri itu. Hendra sangat ketakutan dengan Nadhira, ini masih berurusan dengan Nadhira saja, dan dirinya belum berurusan dengan Rifki langsung.


"Lihatlah suamiku, orang yang kamu percayai ini dengan tega menginginkan nyawamu sendiri. Izinkan aku untuk membunuhnya dihadapanmu saat ini, karena seorang penghianat tidak pantas untuk dimaafkan," Ucap Nadhira kepada Rifki, meskipun Rifki masih tidak sadarkan diri saat ini.


"Tidak Nona Muda! Aku mohon jangan lakukan itu," Ucap Hendra sambil memohon dengan ketakutannya dan sampai dirinya memanggil Nadhira sebagai Nona Muda tidak seperti sebelumnya.


Nadhira pun mengarahkan pedang tersebut ke arah lelaki itu, dengan perlahannya dirinya pun menyayat dada lelaki itu. Karena saking perlahannya hal itu membuat Hendra merasa sangat kesakitan, bahkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena sebelumnya Nadhira telah mengikat tangannya dengan kuat disebuah pohon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan untuk Author melanjutkan kisah ini. Awalnya Author berpikir bahwa kali ini Author tidak bisa menyelesaikan kisah ini karena Author mengalami kecelakaan dijalan. Untuk pengendara harap berhati hati ya? Apalagi masa masa seperti ini sangat rawan, banyak jalan yang berlubang dan juga mobil mobil besar yang melintas dengan kecepatan tinggi.


Allah masih mengizinkan Author untuk melanjutkannya, mohon maaf atas keterlambatannya untuk mengirim naskah 🙏


Author ingin masih melanjutkan kisah ini dan kisah "Pelatihku" sampai tamat. Mungkin Allah masih mengabulkan permintaan Author. Author masih ingin mengabadikan kisah Author didalam sebuah novel, jangan lupa mampir dinovel yang lainnya.


Jangan lupa makan, dan jaga kesehatan :v

__ADS_1


Author sayang kalian


__ADS_2