
Mobil yang dinaiki oleh Rifki melanju pergi meninggalkan tempat tersebut, didalam mobil itu Rifki melipat kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya dengan bersandar dikursi mobil itu.
Bayu terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Rifki tersebut, sejak pulang dari rumah Nadhira waktu itu Rifki tidak pernah mengobrol dengan dirinya maupun anak buahnya, Rifki sering mengurung diri didalam kamar yang ada dimarkasnya dan tak seorang pun berani untuk mengetuk pintu kamar tersebut kalau bukan Rifki yang ingin keluar sendiri.
"Kita kembali kemarkas saja" Ucap Rifki tanpa membuka matanya yang terpejam.
"Baik Tuan Muda" Jawab anak buahnya yang tengah mengendarai mobil itu.
"Tuan Muda, kenapa kau bersikap seperti itu kepada Nadhira?" Tanya Bayu yang mencoba untuk memberanikan diri bertanya kepada Rifki.
Mendengar pertanyaan itu seketika membuat Rifki membuka kedua matanya dengan cepat, ia pun langsung menoleh kearah Bayu dengan tatapan tajam, melihat itu membuat Bayu hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan sudah payah.
Melihat Bayu seperti itu membuat Rifki kembali melipat kedua tangannya didepan dadanya dan langsung memejamkan matanya tanpa menjawab pertanyaan dari Bayu, dan hal itu seketika membuat Bayu menghela nafas lega.
Tanpa disadari oleh anggota Gengcobra sendiri, dibelakang mobil itu terdapat beberapa anggota Gengters yang sedang mengejar mobil mereka menggunakan sepeda motor mereka, sementara Rifki sendiri sudah menyadari kedatangan mereka sebelumnya dan lebih memutuskan untuk memejamkan matanya sambil melihat situasi dengan mata batinnya.
Sejak Rifki memasuki rumah makan itu, dirinya sudah menyadari bahwa area rumah makan itu kini tengah diputari oleh anggota Gengters yang langsung dipimpin oleh Theo tersebut hingga dirinya sudah tidak mood lagi untuk berada disana apalagi sampai berurusan dengan mereka.
Rifki tidak menyangka bahwa anggota Gengters akan mengejarnya seperti ini, apalagi mereka telah menyiapkan sebuah rencana untuk dapat mengalahkan dirinya dengan mendatangkan beberapa anggota mereka.
"Mereka lagi mereka lagi, mau apa sih mereka ini" Guman Bayu yang menyadari kehadiran mereka dibelakang mobil yang ia naiki itu.
"Biarkan saja mereka" Ucap Rifki dan masih tetap memejamkan matanya.
"Tuan Muda, seperti semakin jauh kita melaju anggota mereka semakin banyak" Ucap Reno khawatir karena anggota Gengters sudah merencanakan hal ini sebelumnya.
"Aku sudah tau" Ucap Rifki dengan santainya.
Tanpa diberitahu sekalipun itu, Rifki sudah mengetahuinya karena setiap jalan yang mereka lewati selalu ada anggota Gengters yang sedang berjaga jaga disetiap ujung jalan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Tuan Muda?"
"Biarkan saja mereka, tetap lanjutkan perjalanan dan tanpa menambah kecepatan sedikitpun".
"Baik Tuan Muda".
Rifki nampak bersikap sangat tenang didalam mobil tersebut meskipun kini dirinya tengah berada didalam kejaran anggota Gengters yang semakin lama semakin banyak pula yang mengejar mobil tersebut, Rifki meminta kepada anak buahnya untuk mengambil jalur yang berbeda dari tujuan awal mereka sebelumnya.
Sementara disatu sisi Theo merasa kebingungan dengan apa yang tengah dilakukan oleh kelompok Rifki saat ini, bukannya mempercepat laju mobil mereka akan tetapi mereka sama sekali tidak menambah atau mengurangi sedikit kecepatan mobil tersebut dan hal itu membuat Theo merasa curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh Rifki.
"Tuan Muda, mereka terlihat semakin banyak, kita tidak akan sanggup untuk melawan mereka, apa perlu saya memanggil yang lainnya untuk membantu kita juga?" Tanya Reno terlihat gelisah.
"Itu tidak perlu, biarkan saja mereka dan tetap lanjutkan perjalanan " Perintah Rifki.
"Tapi Tuan Muda, bagaimana kalau kita tidak bisa mengalahkan mereka nantinya? Anggota mereka semakin bertambah banyak".
"Biarkan saja".
"Baik Tuan Muda".
Rifki masih tetap terlihat begitu santai, entah apa yang membuatnya bersikap sedemikian rupanya hingga hal itu membuat Bayu merasa keheranan, sementara Reno bukannya tenang mendengar ucapan Rifki akan tetapi dirinya semakin gelisah untuk apa yang akan terjadi dengan mereka nantinya.
Rifki fokus menatap jalan yang ada didepannya, ia sama sekali tidak mempedulikan anggota Gengters yang sedang mengejarnya, yang ada dipikirannya hanyalah tentang apa yang telah ia lakukan kepada Nadhira sebelumnya dan ia berpikir bahwa Theo marah karena hal itu.
"Kenapa kau terlihat begitu tenang seperti ini?" Tanya Bayu lagi kepada Rifki yang ada disebelahnya.
Rifki melirik kearah Bayu sekilas dan langsung mengalihkan pandangannya menuju ke jalan, Rifki benar benar tidak mood untuk berbicara, beberapa hari ini dirinya sering berdiam diri dan bahkan sangat jarang mengeluarkan kata kata atau hanya sekedar bercanda dengan anggota Gengcobra.
Bayu tidak mengerti tentang sebuah kesedihan yang sedang dialami oleh Rifki, meskipun raut wajah Rifki terlihat begitu datar dan dingin akan tetapi dirinya menyimpan begitu banyak luka didalam hatinya yang tidak dapat untuk diutarakan.
Kesedihan dihatinya terus menyerang dirinya bahkan dia hampir tidak mampu untuk menahan rasa sakit itu, apalagi ketika melihat orang yang paling dicintainya menangis didepan mata kepalanya sendiri, ia bahkan tidak bisa melawan keinginan dari kedua orang tuanya.
"Tuan Muda, kita akan menuju kearah mana? Jika kearah markas mereka pasti tau bahwa kita adalah anggota Gengcobra" Tanya anak buah Rifki yang tengah menyetir mobil.
Bahkan sampai saat ini Theo tidak mengetahui bahwa Rifki memimpin sebuah anggota Gengcobra, yang ia ketahui hanyalah Rifki yang memiliki sebuah geng seperti dirinya sehingga anak buah Rifki menanyakan hal seperti itu kepadanya.
"Kearah tanah lapang yang ada didanau" Jawab Rifki.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda"
"Kenapa kita harus menuju kesana Tuan Muda? Bukankah akan semakin berbahaya jika kita kearah yang sepi?" Tanya Bayu dengan terkejutnya.
"Karena disana adalah tempat yang sepi, sehingga tidak akan ada warga yang dalam bahaya" Jawab Rifki dengan begitu singkat.
"Apa kau berniat bertarung dengan mereka? Sepertinya itu bukan ide yang bagus" Bayu membelalakkan matanya mendengar jawaban Rifki.
"Mereka yang memulainya terlebih dulu maka aku yang akan mengakhirinya sekarang".
Rifki membuka matanya lebar lebar setelah mengatakan itu kepada Bayu dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, Bayu merasa bahwa orang yang ada disebelahnya itu tidak sama seperti Rifki yang dahulu.
Ia merasa bahwa Rifki kini telah berubah dan sosok Rifki saat ini seperti sosok yang asing bagi Bayu, tidak biasanya Rifki akan menanggapi hal seperti ini dengan sebuah pertarungan apalagi meminta menuju kearah yang sepi.
Sebelum sampai ditempat tujuan tiba tiba salah satu anak buah Theo hendak memotong perjalanannya, Rifki yang melihat sepeda motor itu hendak menyalip mobilnya, dirinya hanya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
"Tabrak dia" Ucap Rifki.
"Apa!"
Brakkkk...
Belum sempat anak buah Rifki memahami apa yang dikatakan oleh Rifki tiba tiba sebuah sepeda motor telah tumbang didepannya karena tabrakan dari mobil yang dinaiki tersebut, untung saja hanya sepeda motornya saja yang remuk akan tetapi orang yang mengendarainya selamat.
Semua orang yang menaiki mobil tersebut begitu terkejut dengan kejadian baru saja itu, begitupun dengan anggota Gengters yang dipimpin oleh Theo, sementara Rifki hanya menatap tajam kearah jalanan itu sambil melihat anggota Gengters berusaha untuk bangkit dari jatuhnya.
Melihat anak buahnya yang ditabrak begitu saja oleh mobil yang dinaiki Rifki membuat Theo segera bergegas turun dari sepedah motornya dan anak buahnya segera mengepung mobil tersebut atas perintah dari Theo.
Brakk...
"Keluar sekarang kau! Rifki! Jangan jadi pengecut kau, cepat keluar sekarang!".
Theo tidak terima dengan apa yang diperbuat oleh Rifki dan anak buahnya itu sehingga dirinya mengebrak mobil Rifki dengan sangat kerasnya dan berharap bahwa Rifki akan segera keluar untuk menghadapinya sekarang.
"Tuan Muda bagaimana ini?" Tanya salah satu anak buah Rifki yang panik.
"Tapi Tuan Muda".
"Cepat buka pintunya sekarang!".
Dengan berat hati anak buah Rifki tersebut segera membuka pintu itu dengan lebar lebar, mereka yang ada didalam mobil tersebut keluar dari mobil itu secara bergantian begitupun dengan Rifki
Melihat Rifki yang keluar dari mobil itu membuat Theo mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, ia ingin sekali melontarkan sebuah pukulan kepada Rifki yang ada didepannya saat ini, justru disaat seperti itu Rifki masih terlihat begitu tenang.
"Kau munafik Rif! Apa yang telah kau lakukan dengan Nadhira ha!" Ucap Theo dengan geramnya.
"Apa yang aku lakukan? Itu bukan urusanmu, urus saja urusanmu sendiri, jangan ikut campur dalam urusan orang lain"
"RIFKI!!" Bentak Theo.
"Theo" Ucap Rifki dengan nada dingin.
Anggota Gengters pun langsung menyerang kearah anak buah Rifki, sementara anak buah Rifki langsung bersiap siap untuk menyerang balik kearah mereka, nampak terlihat tempat itu cukup ricuh dan kedua anggota geng tersebut saling menyerang.
Tempat yang sepi sebelumnya itu kini menjadi ramai dengan suara tulang tulang yang saling berbenturan satu sama lain, suara pukulan, tangkis maupun tendangan dapat terdengar dengan jelas dari tempat itu, sementara Theo dan Rifki saling menatap tajam satu sama lain.
"Rifki aku tidak menyangka kau akan menyakiti hati Nadhira seperti ini"
"Kau inginkan Nadhira bukan? Maka ambillah, aku tidak butuh dirinya".
"Setelah kau bosan dengan dirinya kau buang begitu saja gitu ha? Lelaki macam apa kau ini, aku tidak akan memaafkanmu Rif! Kau telah berani membuat Nadhira meneteskan air mata".
"Apa urusannya dengan dirimu? Kau sama sekali tidak berhak untuk mengatur diriku".
Theo mengepalkan tangannya dengan sangat erat dan langsung menyerang kearah Rifki yang ada didepannya itu, Theo terlihat begitu marah dengan jawaban yang diberikan oleh Rifki tersebut sehingga dirinya menyerang tanpa ampun kearah Rifki.
Theo mampu mengimbangi kecepatan dan kekuatan Rifki karena dirinya terus berlatih beladiri untuk dapat mengalahkan Rifki, tekat tersebut langsung membawanya semakin bersemangat untuk dapat mengalahkan Rifki itu.
__ADS_1
"Raka, lakukan tugasmu" Ucap Rifki melalui telepati kepada Raka.
"Baiklah" Setelah menjawab ucapan Rifki, Raka tiba tiba menghilang dari tempat itu begitu saja.
Theo sangat kecewa dengan hal yang pernah dilakukan oleh Rifki kepada Nadhira, ia pun terus membuat Rifki merasa terdesak dengan serangan yang ia berikan kepadanya, dan ia memaksa Rifki kedalam posisi bertahan.
Perkelahian itu sudah tidak terelakkan lagi, meskipun anggota Gengcobra kalah jumlah dengan anggota Gengters akan tetapi kemampuan mereka hampir seimbang karena anggota Gengcobra jauh lebih disiplin untuk berlatih.
Tingkat kelincahan mereka pun berbeda, bahkan satu anggota Gengcobra mampu melawan dua sampai tiga orang anggota Gengters meskipun hal itu cukup membuat mereka kewalahan karena lawan yang tidak seimbang tersebut.
Meskipun dalam situasi bertahan, Rifki masih mampu untuk bersikap santai didepan Theo, seakan akan Theo bukanlah lawan yang cocok untuknya akan tetapi disisi lain Rifki merasa sedikit kesulitan untuk menghadapi Theo akan tetapi dirinya masih mampu untuk bersikap tenang.
Theo mencoba untuk menyerang kearah Rifki dengan berbagai macam cara, akan tetapi Rifki masih tetap berada didalam posisi bertahan tanpa menyerang balik kearahnya, entah apa yang sedang direncanakan oleh Rifki.
"Rupanya tekatmu sangat besar untuk dapat mengalahkan diriku Theo, baru beberapa minggu tidak bertemu kekuatanmu meningkat" Ucap Rifki dengan tersenyum tipis sambil menangkis setiap serangan yang diberikan oleh Theo.
"Jangan banyak bac*t kau!"
"Tapi sayang, kau masih terlalu lemah bagiku"
Setelah mengatakan itu Rifki langsung memberikan sebuah tendangan kepada Theo dan tepat mengenai uluh hatinya, hingga membuat Theo terpental kebelakang beberapa meter dan jatuh diatas tanah.
Theo memegangi dadanya dengan sangat eratnya, dan langsung bangkit kembali meskipun masih merasakan nyeri diuluh hatinya, ia tidak mau terlihat lemah dihadapan Rifki, meskipun Rifki sudah lama tidak berlatih akan tetapi teknik teknik yang ia miliki masih diasah hingga tajam olehnya.
Hanya sekali serang saja hal itu membuat Theo mengalami cidera ringan, untuk dapat melatih kekuatan tendangan agar lebih kencang dibutuhkan latihan lari cepat dan beberapa kali melakukan jongkok dan berdiri, jika sering melakukan itu maka tendangan yang dihasilkan akan membuat tendangan begitu terasa.
Sementara untuk melatih kekuatan tangan dibutuhkan push up, angkat beban, akan tetapi untuk melatih kekebalan tangan dibutuhkan musuh yang kuat untuk berlatih memukul dan menangkis.
Gerakan menangkis serangan itu tidak semudah yang dibayangkan ataupun yang kalian lihat, jika tangan itu tidak pernah digunakan untuk latihan menangkis maka ketika kalian melakukan gerakan menangkis maka tanganmu sendiri yang akan merasakan sakit bahkan mengalami memar dan cidera.
Untuk dapat menangkis dengan baik dibutuhkan berlatih dengan lawan yang seimbang ataupun yang lebih kuat, jika salah teknik maka tangkisanmu itu akan membahayakan dirimu sendiri, begitupun dengan menendang, jika tendanganmu lambat maka musuh akan mudah menangkap ataupun sampai membanting dirimu.
Jika masih dalam masa pembelajaran maka gunakan kepalan tangan untuk menangkis serangan dari musuh jika kau membuka kepalan tangan itu maka kau sendiri yang akan terluka dan bahkan mengalami cidera, jika sudah ahli maka kau bebas menangkis seperti apapun itu meskipun tangan terbuka itu juga mampu membuat musuh cidera.
"Sepertinya **** up mu kurang, kau harus lebih banyak banyak melakukan **** up" Guman Rifki.
"Maksudmu apa ha?"
"Bukankah kau ingin bersama Nadhira? Jika kau saja tidak mampu menahan tendanganku, bagaimana bisa kau melindungi Nadhira"
"Aku tidak butuh nasehatmu, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti hati Nadhira lagi"
"Aku tidak peduli".
Meskipun dalam pertarungan sekalipun, keduanya tidak berhenti saling beradu mulut, bukan hanya kaki dan tangan mereka yang disibukkan akan tetapi mulut mereka juga tengah terlihat begitu sibuk.
*****
Setelah selesai mengantarkan kedua anak tersebut Nadhira segera bergegas untuk melanjutkan perjalanannya menuju kerumahnya, didalam perjalanan itu Nadhira hanya berdiam diri, sehingga membuat Pak Mun selaku supir pribadinya hanya mampu ikut berdiam diri.
"Dhira, ada Raka disini" Ucap Nimas tiba tiba dan hanya mampu didengar oleh Nadhira.
"Raka disini? Ada apa?" Tanya Nadhira.
"Non Dhira bicara dengan siapa?" Tanya Pak Mun.
"Bukan apa apa Pak, dia teman gaibku".
Jawaban itu membuat Pak Mun langsung bergidik ngeri mendengarnya, didalam mobil itu hanya ada Nadhira dan Pak Mun saja sehingga membuat Pak Mun merasa ngeri ketika Nadhira berbicara sendiri seperti itu.
"Raka ingin menyampaikan sesuatu denganmu Dhira, ini mengenai anggota Gengcobra dan juga anggota Gengters" Ucap Nimas.
"Apa yang terjadi dengan anggota geng mereka berdua? Apakah mereka berkelahi lagi?" Tanya Nadhira dengan cemas.
"Raka bilang bahwa mereka saling menyerang saat ini, bahkan terlihat seperti tawuran Dhira, Raka meminta bantuanmu untuk dapat memisahkan mereka berdua, kalau tidak maka akan terjadi banyak korban nantinya"
"Biarkan saja mereka, lagian aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keduanya, aku tidak peduli dengan mereka berdua".
__ADS_1