
Meskipun dalam bertarung sekalipun itu Rifki masih memperhatikan apa yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira pun bangkit dari jatuhnya dengan penuh usaha, sementara itu Rifki yang tengah bertarung pun berusaha untuk melepaskan jasnya dan menyampirkan jas tersebut kepada Nadhira yang sedang terlihat sedikit beladadanya.
Plok plok plok
"Hebat, kau benar benar hebat"
Melihat Rifki yang sedang bertarung dengan anggota Gengters membuat Nadhira bertepuk tangan dengan semangatnya, meskipun dalam bertarung sekalipun itu Rifki mencoba untuk tetap menjaga harga diri Nadhira karena begitu cintanya dia kepada Nadhira sehingga ia tidak akan membiarkan siapapun untuk dapat merenggut kehormatannya itu.
Dalam sekejap Rifki mampu untuk menjatuhkan lawan lawannya dengan mudah karena mereka sedang mabuk saat ini, Rifki tidak segan segan untuk membuat mereka babak belur ditempat itu, ketika lawannya semua sudah tumbang tiba tiba Nadhira memeluknya dari belakang.
Nadhira tidak sadar dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini, dan pelukannya tersebut mendadak membuat jantung Rifki berdetak sangat kencang, disatu sisi anggota Gengters mencoba untuk bangkit kembali dan menyerang kearah Rifki.
"Jangan lakukan itu" Ucap Nadhira pelan.
Mendengar ucapan tersebut membuat Rifki mengangkat tangannya dan melambai kepada anak buahnya untuk menangani masalah anak Gengters karena dirinya sedang dipeluk dengan erat oleh Nadhira dari belakang sehingga ia tidak bisa untuk melepaskan pelukan tersebut begitu saja.
Rifki memperhatikan perkelahian antara Gengters dengan Gengcobra, kali ini dirinya membawa beberapa anak Gengcobra baru bersamanya untuk melihat perkembangan mereka jika mereka bertarung dilingkungan terbuka seperti ini.
Tidak diragukan lagi kehebatan metode yang diajarkan kepada anggota Gengcobra tersebut karena anak buahnya itu mampu mengalahkan anggota Gengters dalam keadaan mabuk seperti itu, akan tetapi mereka masih butuh pelatihan yang ekstra agar mereka semakin mampu untuk diandalkan dimasa yang akan datang.
Rifki melihat tangan Nadhira yang saat ini sedang melilit diperutnya sambil menghela nafas untuk menenangkan degup jantungnya yang berdetak tidak stabilnya tersebut.
"Dhira kenapa kau mabuk seperti ini? Apa yang terjadi dengan dirimu?" Tanya Rifki.
"Jangan tinggalkan aku lagi".
Rifki menarik tangan Nadhira, hal itu membuat Nadhira melepaskan pelukannya dan berjalan kearah dimana Rifki menarik tangannya itu, Rifki menjatuhkan Nadhira kedalam pelukannya dengan adanya sebulir air mata dipelupuk matanya.
"Maafkan aku Dhira, aku tau kau pasti sangat sedih sampai sampai kau melakukan hal seperti ini".
"Hangat dan nyaman, ini yang aku cari sejak tadi, aku yakin kau adalah Rifkiku" Ucap Nadhira yang merasakan pelukan yang diberikan oleh Rifki.
"Bagaimana kau bisa tau bahwa aku adalah Rifkimu? Aku tidak mengatakan apapun soal itu".
"Aku bisa merasakannya lewat detak jantungmu".
Nadhira memeluk Rifki dengan sangat eratnya seakan akan dirinya tidak mau untuk melepaskannya karena setelah dia melepaskan pelukan itu ia takut bahwa pelukan hangat itu akan pergi dari kehidupannya lagi seperti sebelumnya.
"Apa sejak tadi kau mencariku Dhira?" Tanya Rifki yang mendengar ucapan Nadhira.
"Iya, pelukan mereka tidak sama seperti dirimu"
Rifki mengusap pelan punggung Nadhira yang saat ini sedang berada didalam pelukannya, ia pun mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari tempat itu, Nadhira yang merasakan tubuhnya diangkat pun langsung menautkan kedua tangannya dileher Rifki.
"Jangan tinggalkan aku Rifki, semua orang yang aku sayangi telah pergi meninggalkan diriku, jangan membentakku seperti itu lagi, itu sangat menyakitkan bagiku Rifki" Ucap Nadhira lirih akan tetapi masih mampu untuk didengar oleh Rifki.
"Aku tidak akan pergi Dhira, aku akan selalu ada disampingmu untuk menjagamu, aku hanya tidak ingin kau bertindak gegabah dan membahayakan nyawamu sendiri Dhira".
"Apa kau mencintaiku Rifki?"
"Aku sangat mencintaimu Dhira, aku akan berusaha untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuaku, agar kita bisa hidup bersama".
"Tapi kenapa kau meninggalkanku seperti itu, sudah bertahun tahun aku menunggumu tapi kau malah membuatku semakin terluka".
Rifki terus berjalan sambil menggendong tubuh Nadhira untuk menuju kemobilnya yang berada sedikit jauh dari tempat tersebut agar tidak menarik perhatian orang orang yang tengah mabuk ditempat itu, ia menatap kearah wajah Nadhira yang saat ini sedang tersenyum tipis meskipun dengan memejamkan kedua matanya.
"Kau adalah seorang wanita Dhira, kenapa kau mabuk seperti ini, tidak sepantasnya kau mabuk mabukan seperti ini apalagi ditempat yang penuh dengan lelaki mes*m itu, bagaimana kalau orang lain sampai merampas harta berhargamu begitu saja? Sementara kau sedang tidak sadarkan diri".
Nadhira seperti sedang tertidur dengan nyenyaknya didalam gendongan Rifki, dengan hati hati Rifki mengangkat dan membawanya masuk kedalam mobilnya tersebut, ia pun menyandarkan kepala Nadhira kekursi mobilnya dan duduk disebelahnya.
"Rifki jangan pergi" Ucap Nadhira sambil menggelengkan gelengkan kepalanya.
"Tenanglah aku ada disini bersamamu, aku tidak akan pergi meninggalkanmu Dhira, dan aku akan selalu ada bersamamu" Ucapnya sambil menggenggam erat tangan Nadhira.
"Apa kau adalah Rifkiku yang aku cari selama ini? Kenapa semua orang memiliki wajah yang sama seperti Rifkiku"
Rifki mengangguk, dan berkata "Iya, aku adalah Rifkimu Dhira dan akan selalu menjadi Rifkimu saat ini dan selamanya" Rifki pun mengusap kepala Nadhira pelan sambil tersenyum kepadanya.
"Hebat, kau adalah Rifkiku"
__ADS_1
Nadhira nampak terlihat seperti anak kecil karena efek dari minuman tersebut, ia pun tertawa dan bertingkah seperti orang gila, minuman itu benar benar membuat dirinya mabuk.
"Apa efek minuman itu seperti ini?" Tanya Rifki keheranan dengan sikap Nadhira.
Rifki tidak pernah melihat orang mabuk karena minuman sebelumnya, Rifki beserta anak Gengcobra sama sekali tidak pernah menyentuh minuman tersebut sehingga hal itu membuatnya merasa keheranan dengan tingah Nadhira.
"Iya Tuan Muda, yang ada didalam pikirannya saat ini hanyalah ada kata bermain dan bersenang senang tanpa memikirkan beban yang ditanggungnya saat ini, sepertinya dia begitu sangat tertekan sehingga dia bersikap seperti itu ketika mabuk" Ucap salah satu anak buah Rifki yang sedang duduk dikursi pengemudi.
"Bagaimana caranya menghilangkan efek minuman itu dengan cepat?".
"Setelah dia terbangun dari tidurnya nanti, efeknya akan hilang begitu saja, mungkin dia akan sedikit merepotkan Tuan Muda nantinya".
"Maksudmu?".
"Karena efek minuman beralkohol itu akan membuat dirinya tidak akan menyadari apa yang sedang ia lakukan, apalagi dia terlihat sangat marah dengan Tuan Muda saat ini".
"Kenapa kau sangat paham dengan hal seperti ini? Apa kau pernah mabuk juga seperti orang orang itu? Jangan coba coba kau berani melakukan itu".
"Tidak Tuan Muda, banyak teman teman saya diluar sana yang sukanya mabuk mabukan, jadi saya paham dengan hal seperti itu".
"Baguslah, aku tidak ingin mendengar bahwa anak Gengcobra mabuk, kalau ada diantara kalian semua maka aku sendiri yang akan mengusirnya, mabuk hanya akan melemahkan kalian".
"Iya Tuan Muda, kami paham soal itu, dan kami semua tidak akan pernah mengecewakan sebuah kepercayaan yang telah Tuan Muda berikan".
Rifki hanya mengangguk sambil menghela nafas mendengar jawaban tersebut, ia pun kembali menatap kearah Nadhira yang saat ini tengah bersandar dibahunya sambil menggeliat manja kepadanya itu, dan hal itu diluar kesadarannya.
Rifki pun mengusap pelan pucuk kepala Nadhira, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk bergegas menuju kemarkas agar Nadhira bisa istirahat disana, untuk membawanya pulang kerumah Nadhira itu adalah hal yang sulit untuk saat ini apalagi dengan Nadhira yang masih berada dibawah pengaruh minuman beralkohol tersebut.
Rifki tidak tau sampai kapan efek minuman beralkohol itu akan berakhir, dan selama Nadhira masih mabuk dia takut Nadhira akan berbuat aneh aneh dan akan membahayakan dirinya sendiri.
Tak beberapa lama perjalanan akhinya mobil yang mereka naiki kini tengah masuk digerbang utama markas Gengcobra, setelah mobil berhenti untuk melaju Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira dan membawanya menuju kamarnya untuk membiarkan Nadhira beristirahat didalamnya.
Melihat Tuan Muda mereka membawa pulang seorang gadis yang tengah tidak sadarkan diri membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Nadhira yang saat ini berada didalam gendongan Rifki, Rifki tidak meminta bantuan kepada anak buahnya untuk membawa Nadhira masuk melainkan dirinya sendiri yang menggendongnya.
"Rifki, ada apa dengan Nadhira?" Tanya Bayu yang tidak sengaja melihat Rifki menggendong Nadhira.
"Dia mabuk Bay, aku akan membawanya kekamar dan membiarkan dia istirahat disana".
"Kalau dia sudah sadar nanti tanya sendiri kepadanya saja, bagaimana dia bisa mabuk seperti ini".
Rifki pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Bayu yang tengah berada didalam lamunannya, dengan perlahan lahan Rifki membaringkan Nadhira diatas kasur tempat dirinya tidur setiap hari, ia pun memakaikan sebuah selimut yang tebal untuk Nadhira ditempat itu.
Rifki mengusap pelan kepala Nadhira dan membiarkan dirinya untuk tidur, ketika dirinya hendak melangkah pergi dari tempat itu mendadak Nadhira terbangun dan memegangi lengannya dengan sangat erat seakan akan dia tidak mau melepaskannya.
"Ada apa Dhira?" Tanya Rifki.
"Jangan pergi tinggalkan aku sendirian disini Rifki, aku tidak mau kesepian".
"Baiklah aku akan menemanimu disini, kamu tidur ya, aku akan menemanimu sampai kau tertidur pulas".
"Ngak mau, aku ingin jalan jalan".
"Hem? Jalan jalan kemana? Ini sudah malam Dhira".
"Kesuatu tempat yang penuh dengan bintang bintang yang sangat indah"
"Jadi kau ingin melihat bintang?".
"Aku rindu Mama, Mama pergi tanpa berpamitan denganku dan sampai sekarang dia tidak pernah kembali, semua orang bohong, semua pembohong, mereka bilang akan selalu ada untukku tapi hanya kebohongan yang mereka ucapkan, kau pun pembohong Rifki, kau bilang akan selalu ada untukku tapi kenapa kau justru pergi meninggalkanku begitu saja" Ucap Nadhira dengan wajah tertawa dan menuding dada bidang tersebut.
Rifki pun hanya berdiam diri mendengarkan ucapan Nadhira, mungkin itu adalah hal yang ingin dikatakan oleh Nadhira akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk mengatakan itu dan alhasil dialam bawah sadarnya dirinya mengatakan hal seperti itu.
"Kau bilang ketika kau kembali dari luar negeri kau akan datang untuk memintaku menjadi pasangan hidupmu, tapi kenapa kau harus menikah dengan orang lain dan meninggalkan diriku Rifki" Ekspresi Nadhira berubah menjadi cemberut.
"Aku janji kepadamu Dhira, aku akan berusaha untuk itu, semoga kedua orang tuaku merestui hubungan kita, dan kita akan bersama untuk selamanya, bersabarlah Dhiraku semua akan baik baik saja, untuk saat ini biarkan aku yang menyelesaikan semuanya" Ucap Rifki sambil berlutut dihadapan Nadhira.
Akan tetapi ucapan tersebut tidak dapat dipahami oleh Nadhira yang masih mabuk saat ini, wajah cemberutnya masih tetap terpapang jelas disana sementara Rifki hanya mampu tersenyum tipis kepada Nadhira sambil menatap wajahnya itu.
"Dhira, apa kau mengerti yang aku ucapkan sekarang ini?" Tanya Rifki.
__ADS_1
"Kau jahat, aku benci dirimu".
Mendengar bahwa Nadhira membenci dirinya membuat Rifki tersenyum, "Bencilah aku semaumu Dhira, aku memang pantas untuk dibenci olehmu karena aku telah menyakiti hatimu, setelah kau sadar nanti aku ingin kau melupakan diriku, aku tidak ingin kau berbuat nekat hanya untuk diriku, apa kau paham?".
Nadhira membuang muka dari hadapan Rifki dengan wajah yang masih cemberut, sementara Rifki segera menggerakkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Nadhira dengan perlahan lahan, dan segera bangkit berdiri.
"Kamu istirahat dulu ya, aku mau keluar sebentar".
"Ngak mau, tidurlah bersamaku".
"Hem? Iya nanti kalo sudah halal, kau terlihat lucu jika mabuk seperti ini Dhira".
Rifki pun membantu Nadhira untuk berbaling dan menyiruh Nadhira untuk tidur, setelah Nadhira memejamkan matanya Rifki segera bergegas pergi dari kamar tersebut, dan menutupnya dengan pelan agar Nadhira tidak terganggu.
Didepan kamar tersebut kini tengah berada beberapa anak Gengcobra termasuk Bayu dan Fajar, mereka sedang berdiri didepan kamar itu saat ini, ketika melihat Rifki keluar dari kamar itu membuat Bayu segera bergegas untuk mendatanginya.
"Bagaimana kondisi Nadhira?" Tanya Bayu.
"Dia sedang tidur karena kelelahan, biarkan dia istirahat saat ini" Jawab Rifki.
"Apa kau melakukan sesuatu kepada Nadhira? Kenapa kau begitu lama didalam sana? Sehingga membuat Nadhira kelelahan sam..".
Plak
Belum selesai Bayu mengatakan sesuatu kepada Rifki, Rifki sudah melontarkan sebuah tamparan kepada Bayu sehingga hal itu membuat Bayu langsung berdiam diri, Rifki tau arah pembicaraan yang akan diucapkan oleh Bayu.
"Aku tidak akan melakukan hal yang menjijikkan seperti itu kepada seorang wanita, jadi hilangkan pikiran yang buruk itu" Ucap Rifki dengan tegas.
"Maafkan aku Tuan Muda Rifki Abriyanta, aku hanya menghawatirkan Nadhira saja".
"Jaga dia, jangan biarkan dia keluar dari kamar dan jangan seorang pun boleh masuk kedalam".
"Baik Tuan Muda"
Belom Rifki melangkah pergi dari tempat itu, tiba tiba terdengar seperti benda jatuh dari dalam ruangan tersebut dan hal itu sontak membuat Rifki dan yang lainnya berlari masuk untuk melihat apa yang telah terjadi kepada Nadhira.
"Dhira" Teriak Rifki.
Akan tetapi didalam kamar tersebut sudah tidak nampak sosok Nadhira, entah kemana perginya Nadhira saat ini, Rifki pun berjalan mendekat kearah jendela kamarnya dan dirinya dapat melihat bahwa jendela tersebut sudah terbuka dengan lebar.
Rifki hanya menghela nafasnya ketika melihat Nadhira sudah berada dihalaman markas Gengcobra sambil berjalan dengan sempoyongan, entah apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Nadhira.
Rifki segera berlari keluar dari kamarnya untuk menemui Nadhira yang tengah berjalan itu, ketika dirinya sudah berada diluar ia terkejut ketika melihat Nadhira melawan anak buahnya yang saat ini anak buahnya itu tidak berani untuk melawan Nadhira karena mereka tau bahwa dia adalah gadis yang digendong oleh Rifki sebelumnya.
"Sudah cukup Dhira" Ucap Rifki sambil memegangi tangan Nadhira itu.
"Mereka nakal" Ucap Nadhira sambil cemberut.
"Mereka nakal kenapa?" Tanya Rifki yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nadhira.
"Mereka bilang Rifki baik, tapi Rifki kan jahat".
"Maafkan kami Tuan Muda, karena telah membuat keributan ditempat ini" Ucap salah satu anak buah Rifki yang sebelumnya terlibat perkelahian dengan Nadhira ditempat itu.
"Kalian bisa kembali ketempat kalian" Ucap Rifki.
"Baik Tuan Muda" Jawab mereka serempak.
Mereka yang terlibat perkelahian dengan Nadhira pun segera bergegas pergi dari tempat itu karena mereka takut akan menjadi sasaran kemarahan Rifki karena dimarkas itu dilarang untuk membuat keributan seperti itu tanpa alasan tertentu.
"Kamu ngapain disini Dhira? Aku tadi mencarimu dikamar tapi kamu ngak ada".
"Aku mau lihat bintang bersamamu, kau pasti sangat menyukainya nanti".
Nadhira pun berjalan jalan ditaman tersebut sambil membentangkan kedua tangannya untuk menggapai bunga bunga mawar yang sedang bermekaran ditempat itu, bunga bunga tersebut adalah bunga yang pernah ditanam oleh keduanya beberapa tahun yang lalu dan dirawat oleh anggota Gengcobra.
...****************...
Hai kakak selamat beraktivitas
__ADS_1
Oh iya Author punya novel baru loh judulnya "Cinta? Hanya dusta" Kali aja berkenan untuk mampir, jangan lupa tinggalkan jejak disana juga ya
Salam dari Author