
Lelaki itu mengalirkan sebuah energi yang begitu sejuk kedalam tubuh Rifki hingga membuat Rifki merasa nyaman dengan kesejukan itu, ia pun tertidur dengan nyenyaknya, melihat Rifki yang sudah tidak bergerak dan berteriak membuat Nadhira merasa kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Tenanglah, dia hanya tertidur karena kelelahan saja, kau tidak perlu cemas soal dirinya itu" Ucap orang tersebut yang mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh Nadhira kepasanya.
"Apakah Rifki akan baik baik saja nantinya? Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan Rifki, aku tidak ingin kehilangan dirinya, apakah dia benar benar tertidur sekarang ini?".
"Dia akan baik baik saja setelah dirinya tersadarkan diri, tapi setelah itu cepatlah bawa dia kerumah sakit agar dia mendapatkan pertolongan disana"
"Iya, aku akan berusaha untuk segera membawanya kerumah sakit setelah ini".
Nadhira merasa tenang ketika mengetahui bahwa Rifki hanya tertidur, energi itu tidak hanya mengalir kedalam tubuh Rifki saja, akan tetapi energi tersebut juga masuk kedalam tubuh Nadhira dengan perlahan lahan hingga membuat Nadhira merasa mengantuk.
Rifki pun tertidur dengan sangat pulas dipangkuan Nadhira saat ini, sementara Nadhira sendiri juga tertidur dengan pulasnya bersandarkan kepada sebuah batang pohon yang ada dibelakangnya, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada keduanya itu karena tiba tiba keduanya mendadak mampu tertidur dengan pulas seperti itu.
"Kalian saling mencintai dengan tulus satu sama lainnya, lalu bagaimana caraku agar aku bisa memisahkan kalian berdua seperti itu, dan aku sendiri tidak tega untuk melakukan itu, ku harap cinta kalian mampu menentang sebuah takdir dan kalian bisa bersama selamanya nanti" Ucap orang itu.
Ketika adzan subuh mulai berkumandang disetiap sudut bumi dan secercah cahaya matahari bersinar begitu tipis, perlahan lahan tubuh orang itu mulai memudar seiring berjalannya waktu, sebelum tubuhnya menghilang sepenuhnya dari tempat itu, orang itu tersenyum melihat Rifki dan Nadhira yang tengah tertidur dengan pulasnya itu.
Diantara rimbunnya pepohonan yang ada didalam hutan itu, keduanya tengah terlelap karena kelelahan sejak semalam mereka bermain kejar kejaran dan juga bertarung untuk melindungi satu sama lain, entah apa yang membuat keduanya mampu tertidur seperti itu.
Matahari mulai menampakkan sinarnya begitu terang hingga membuat Rifki mengernyitkan dahinya ketika merasakan secercah sinar matahari itu jauh mengenai tubuhnya dan terasa begitu hangat dan sangat nyaman, dan sinar itu seakan akan menganggu tidurnya yang nyenyak karena perlahan lahan cahaya tersebut terasa begitu menyengat.
Dengan perlahan lahan dirinya mulai membuka kedua matanya dan mengangkat tangannya untuk menghalangi sinar matahari yang jatuh kematanya itu yang terasa begitu menyilaukan, Rifki memegangi perutnya yang kini tengah berbalut oleh sebuah kain.
"Dhira kau dimana? Kenapa Dhira tidak ada disini bersamaku? Kemana Dhira pergi?" Ucap Rifki ketika mengedarkan pandangannya akan tetapi tidak menemukan keberadaan dari Nadhira.
Rifki sama sekali tidak mengetahui dimana keberadaan dari Nadhira, seingatnya kemarin Nadhira memeluknya dengan erat ketika ada seseorang yang mengobati lukanya, setelah itu dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi karena dirinya sudah berada dialam mimpinya.
"Akh..." Desah Rifki ketika rasa sakit diperutnya mulai menyerangnya yang sedang mencoba untuk bangkit duduk dari tidurnya.
Rifki tidak mampu untuk bangkit karena lukanya yang belum sembuh sepenuhnya, ia merasa cemas karena tidak menemukan keberadaan dari Nadhira disaat dia mulai membuka kedua matanya, Nadhira yang baru datang membawa sesuatu ketika melihat Rifki sudah sadar segera menghampirinya.
"Rifki kau sudah sadar".
Nadhira segera menghampiri Rifki dan menaruh sesuatu itu didekat Rifki, dan dirinya segera membantu Rifki untuk duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada pohon yang ada disekitarnya, Rifki merasa tenang ketika melihat wajah Nadhira.
"Bagaimana dengan lukamu Rif?"
"Ini sudah jauh lebih mendingan daripada sebelumnya Dhira, hanya masih terasa sedikit sakit saja, kau dari mana saja?".
"Aku pergi mengambilkan air untukmu Rif, aku tau setelah kau sadar nanti kau pasti harus".
Nadhira segera mengambil sesuatu yang ia bawa sebelumnya, itu adalah sebuah tanaman kantung semar yang telah ia petik sebelumnya dan telah diisi oleh Nadhira dengan air yang segar dari sebuah pohon tempat dimana Rifki mengambilkan air untuknya kemarin, dan Nadhira segera membantu Rifki untuk meminumnya.
Rifki langsung menenggak minuman itu dengan bantuan dari Nadhira hingga minuman itu tak tersisa sama sekali karena rasa hausnya yang menderanya, melihat itu membuat Nadhira tersenyum dengan cerah kearah Rifki.
"Rifki apa kau masih haus? Biar aku ambilkan minuman lagi untukmu"
"Itu tidak perlu Dhira, apa kau sudah minum sebelumnya? Bagaimana kondisimu?"
"Sudah kok Rif, kau tidak perlu mencemaskan diriku, karena yang terluka disini adalah dirimu, aku merasa bahagia ketika melihatmu terbangun Rif, aku pikir aku akan kehilangan dirimu".
"Dhira, aku sendiri juga berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa melihat wajahmu yang tengah tersenyum itu lagi, ternyata sang Pencipta masih mengizinkan diriku untuk melihatnya".
__ADS_1
"Aku akan selalu bersamamu Rif, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, meskipun dunia akan menentangnya dan aku akan selalu ada untukmu, kita akan selalu bersama".
"Terima kasih Dhira".
Nadhira mengangguk kepada Rifki, ini adalah pagi yang sangat membahagiakan bagi dirinya karena Rifki sudah sadarkan diri dari tidurnya, sejak matahari belum menampakkan dirinya, Nadhira terus menunggu agar Rifki membuka kedua matanya itu.
"Aku tidak tau jalan keluar dari hutan ini Rif, kemarin kita berlari terlalu jauh Rif, sehingga aku belum membawamu untuk pergi dari tempat ini, apa kau mengetahui jalan keluarnya?".
"Aku juga lupa soal itu Dhira, aku tidak terlalu hafal dengan hutan dibagian sebelah ini karena belum pernah masuk kemari, yang ku hafal adalah hutan dibagian terdekat dengan desa Mawar Merah itu, tapi disini sangat jauh dengan desa Mawar Merah".
"Baguslah, kita tersesat sekarang, lalu bagaimana kita bisa keluar? Mungkin tinggal ditempat ini beberapa hari lagi sambil menunggu ada orang yang menolong kita" Ucap Nadhira acuh tak acuh.
"Kenapa malah bagus?"
"Hanya kita berdua yang tinggal disini sekarang, mungkin beberapa hari kedepannya kita hanya akan berburu dihutan ini untuk dapat bertahan hidup, sampai ada seseorang yang menolong kita, tidak tidak, kita harus menemukan jalan keluarnya".
Rifki hanya mengangguk kepada Nadhira dengan seutas senyuman, tubuhnya masih begitu lemas saat ini karena luka yang dideritanya, sehingga apapun keputusan Nadhira adalah keputusan yang terbaik untuknya dan keduanya.
"Kamu tunggu disini dulu, aku mau mencari sesuatu yang bisa kita makan dihutan ini, aku tau kau pasti lapar kan? Karena sejak kemarin kita terus berlari".
"Jangan jauh jauh dariku Dhira, aku tidak mau kau kenapa kenapa".
"Tenang saja, aku hanya akan mencarinya disekitar sini kok Rif dan akan kembali secepatnya untuk membawakanmu beberapa buah buahan yang bisa aku temukan dihutan ini".
Nadhira segera bergegas pergi dari tempat itu meninggal Rifki seorang diri, sementara Rifki menatap kepergian Nadhira dengan perasaan sepi hingga akhirnya dia memutuskan untuk memejamkan matanya karena kondisinya yang belum setabil dan masih terlihat sangat lemah.
Nadhira berjalan mengelilingi tempat itu untuk mencari sesuatu yang bisa untuk dimakan, akan tetapi dirinya belum jua menemukan buah buahan atau tanaman yang bisa digunakan untuk mengganjal perut mereka.
"Akh... "
Nadhira segera menjatuhkan tubuhnya untuk duduk sehingga dirinya dapat mencabut duri tersebut, dengan sekuat tenaga akhirnya dirinya mampu menarik duri itu keluar dari kakinya.
"Huft.. kenapa bisa ada duri sebesar ini yang tidak aku lihat sebelumnya, ku harus melanjutkan mencari makanan untuk Rifki, ini hanya luka kecil saja kok, bukan berarti aku harus menyerah saat ini".
Nadhira pun kembali bangkit dari duduknya dan berjalan dengan pincang, karena kakinya yang terluka akibat terkena sebuah duri yang telah menancam dengan dalam ditelapak kaki itu.
Setelah berputar selama satu jam akhirnya dirinya menemukan sebuah tanaman yang cukup besar, tanaman itu adalah pohon murbei yang tubuh dengan suburnya ditempat itu dengan buahnya yang sangat banyak, buah murbei bentuknya seperti telur ikan yang basih ada didalam perutnya.
Rasa buah murbei tergantung dari warna buahnya, semakin hitam warnanya maka akan semakin manis rasanya, jika masih berwarna putih atau sudah berubah menjadi merah maka rasanya akan terasa sangat asam tanpa adanya rasa manis.
Nadhira pun segera mengambil buah murbei yang sudah berwarna hitam tersebut dengan berhati hati karena buahnya mudah rusak jika tidak berhati hati dan menaruhnya diatas daun talas yang telah ia petik sebelumnya.
"Akhinya aku menemukan sesuatu yang bisa dimakan oleh Rifki, ku harap Rifki akan menyukainya nanti".
Nadhira pun mengambil buah murbei hingga daun talas yang ia bawa saat ini penuh dengan buah murbei, Nadhira pun kembali melanjutkan pencariannya dan tanpa sengaja dirinya menginjak sebuah tanaman yang tingginya selututnya.
"Eh, bukannya ini tanaman ciplukan? Syukurlah aku menemukannya untuk Rifki"
Buah ciplukan adalah buah yang rasanya sedikit asam, bentuknya seperti kelereng akan tetapi warnanya kuning, buah tersebut juga tertutup oleh sebuah kelopak, semakin kering kelopak tersebut maka semakin matang buah yang ada didalamnya sebaliknya jika semakin hijau kelopak tersebut maka semakin kecil isi didalamnya.
Nadhira pun segera menaruh murbei yang ada didalam daun talas tersebut ketanah terdekatnya dan dia segera memanen buah ciplukan tersebut, cukup banyak buah yang ia ambil kali ini hingga membuat dirinya harus menggembol buah buahan itu dengan kain bajunya dan Nadhira segera kembali ketempat dimana Rifki berada dengan membawa buah ciplukan dan murbei untuk Rifki.
Nadhira datang dengan wajah tersenyum dengan lebar, ia pun menatap kearah Rifki yang kini sedang tertidur dengan pulasnya kembali, Nadhira segera mendekat kearah Rifki dan menaruh buah buahan itu didekat Rifki.
__ADS_1
"Rifki bangun, ayo makan dulu, aku hanya menemukan beberapa buah buahan ini saja dihutan, buah buahan ini tidak akan mengenyangkan tapi buah ini sudah cukup untuk mengganjal perutmu yang lapar" Ucap Nadhira sambil menepuk pipi Rifki dengan pelan.
Rifki pun mulai mengernyitkan dahinya dan perlahan lahan membuka kedua matanya, pandangannya jatuh kearah Nadhira yang tengah tersenyum lembut kepadanya saat ini.
"Hanya ini yang dapat aku temukan dihutan ini, makanlah Rifki, kau pasti sangat lapar kan?" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah dimana dia menaruh buah buahan itu sebelumnya.
"Ayo kita makan bersama sama".
"Tidak, kau makan saja dulu sampai kenyang jangan khawatirkan tentang diriku, kau lebih butuh banyak tenaga daripada diriku untuk saat ini".
Rifki menggelengkan kepalanya, dirinya pun langsung mengambil sebuah murbei dan memakannya hal itu membuat Nadhira merasa senang, setelah itu dirinya mengambil sebuah murbei lagi dan menyuapkannya kedalam mulut Nadhira.
"Makanlah juga Dhira, kau juga butuh tenaga yang banyak untuk membawaku keluar dari hutan ini, ayo buka mulutmu biar aku yang menyuapinya" Ucap Rifki sambil menyuruh Nadhira untuk membuka mulutnya.
Nadhira pun tersenyum kepada Rifki dan langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Rifki, dan keduanya pun menikmati buah buahan itu dengan lahapnya.
Makanan itu memang tidak dapat mengenyangkan perut keduanya akan tetapi makanan itu cukup untuk mengganjal perut mereka sesaat dan menjadi tenaga untuk keduanya.
Setelah selesai makan, Nadhira langsung membantu Rifki untuk berdiri dengan cara mengalungkan tangan Rifki kepada lehernya dan mereka harus melanjutkan perjalanannya untuk dapat keluar dari hutan tersebut, dengan susah payah Nadhira memapah tubuh Rifki untuk meninggalkan tempat itu.
"Apa kakimu sakit Dhira?" Tanya Nadhira yang merasakan bahwa Nadhira berjalan dengan sedikit pincang untuk menuntunnya.
"Bukan masalah Rif, hanya terkena duri kecil saja lagian tadi sudah aku bersihkan dan aku beri tanaman obat".
"Jangan dipaksakan jika kau sudah tidak kuat untuk berjalan Dhira".
"Kau tenang saja Rif, aku tau soal itu kok, jalan mana yang harus kita pilih sekarang?".
"Lurus saja Dhira, ada dahan rerumputan yang seperti pernah dilalui oleh orang, mungkin dengan itu kita bisa keluar dari sini".
"Baiklah".
Nadhira segera memapah tubuh Rifki untuk mengarah kemana jejak telapak kaki itu akan membawanya pergi dari tempat ini, Rifki pun mencoba untuk berjalan dengan memegangi punggung Nadhira sambil memegangi perutnya.
Setelah tiga puluh menit mereka berjalan akan tetapi keduanya masih belum melihat tanda tanda mereka akan masuk kedalam kawasan desa Mawar Merah yang telah terbengkalai itu.
"Dhira, sebaiknya kita istirahat dulu disini, perutku mulai terasa sedikit kram, sepertinya aku tidak akan sanggup untuk berjalan lagi".
"Baiklah Rif, aku akan mencari tempat untuk kita beristirahat nantinya, sepertinya pohon itu cukup aman untuk kita istirahat".
Nadhira pun menuntun Rifki mendekat kearah sebuah pohon yang tidak jauh darinya, setelah itu Nadhira membantu Rifki untuk dapat bersandar dipohon itu, Rifki tau bahwa Nadhira sendiri sudah tidak sanggup untuk berjalan karena luka yang ada dikakinya akan tetapi dirinya berpura pura untuk tidak merasakan rasa sakit itu dihadapan Rifki.
"Kita akan istirahat disini dulu ya Rif, istirahatlah, setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan lagi, kita harus segera keluar dari hutan ini, dan membawamu kerumah sakit".
"Iya Dhira, kau juga harus istirahat, kau membutuhkan tenaga yang banyak untuk dapat membawaku keluar dari hutan ini".
"Apapun akan aku lakukan demi dirimu Rif, kau harus bertahan ya sampai kita bisa keluar dari hutan ini dan membawamu kerumah sakit".
"Iya Dhira".
Nadhira pun duduk didepan Rifki, karena kelelahannya ia tidak menyadari bahwa kini dirinya tengah tertidur dengan bersandarkan kepada kedua tangannya sendiri, melihat itu membuat Rifki segera menidurkan kepala Nadhira kepada pangkuannya.
Kini Nadhira sudah terlelap dalam pangkuan Rifki, sementara itu Rifki segera mengusap kepala Nadhira dengan lembutnya, ia tau bahwa saat ini Nadhira sedang kelelahan akan tetapi dia tidak mau menunjukkannya kepada Rifki.
__ADS_1
"Tidurlah dengan nyenyak Dhira, terima kasih atas semua yang telah kau lakukan dan berikan kepadaku, kau wanita yang sangat berarti bagi diriku, maafkan aku karena kali ini aku menjadi beban bagimu dan aku tidak bisa berbuat apa apa untukmu".
Rifki pun mulai menguap, tak beberapa lama kemudian dirinya pun ikut tertidur dengan bersandarkan pada batang pohon, sementara Nadhira sudah terlelap dalam pangkuannya.