
Mendengar Rifki mengatakan bahwa dirinya seperti anak kecil membuat Nadhira memonyongkan bibirnya bak seekor bebek, dan hal itu membuat Rifki semakin gemas dan langsung menarik bibir Nadhira hingga membuat Nadhira mengeluh.
"Auah debat sama kamu ngak akan bisa menang, toh emang dasarnya keras kepala, udah kek batu".
"Kau pun sama Dhira, bahkan lebih keras kepala lagi, udah bawel plus cerewet ngak ada remnya lagi".
"Aku ngambek nih, ngak mau temenan lagi sama dirimu Rif, kau nakal".
"Oh iya sama plus ngambek an, beda dari yang lain, emang dah Nadhira ku emang antik, udah cantik ngambek an lagi, untung Rifki sabar orangnya, Rifki Rifki bagaimana kau bisa sabar dengan wanita seperti ini, untung aku sangat penyabar orangnya".
"Kau sabar? Memuji diri sendiri ngak baik loh, bahkan kalau dilihat lihat kau sangat jauh dari kata itu Rif".
"Kalo begitu maka pujilah aku, biar aku tidak memuji diri sendiri seperti itu" Ucap Rifki sambil menaik turunkan alisnya.
"Idih nanti makin besar kepala lagi, udah besar kepala keras lagi kek batu"
"Pinter banget sih kalo jawab itu loh, untung sayang kalau ngak sudah aku hih kau ini, bikin gemes sih".
Mendengar itu membuat Nadhira tersenyum kearah Rifki, sudah sangat lama sekali mereka tidak pernah bercanda gurau seperti itu, melihat Nadhira yang tersenyum membuat Rifki ikut tersenyum juga.
"Aku ingin jalan jalan".
"Baiklah aku akan membawamu jalan jalan".
"Emang boleh?".
"Boleh, kan Rifki orangnya baik".
"Idih, nih bocah memuji diri sendiri terus ih".
"Biarin, tunggu sebentar aku akan ambilkan kursi roda dulu untuk dirimu".
Rifki langsung bergegas mengambilkan kursi roda untuk Nadhira, setelah itu Rifki membantu Nadhira untuk duduk diatas kursi roda yang telah ia siapkan sebelumnya, dan Rifki pun mendorong kursi roda itu untuk keluar dari dalam ruang rawat inap tersebut.
Rifki mengajak Nadhira ke taman yang ada dirumah sakit tersebut dan taman itu paling dekat dengan ruangan dimana Nadhira dirawat, dari kejauhan Rifki nampak memperhatikan seorang anak kecil yang tengah berada ditengah tengah taman itu.
Rifki mendorong kursi roda Nadhira menuju kebuah tempat duduk yang telah disediakan ditepi taman itu, disana terdapat sebuah air mancur yang mampu membuat udara ditempat itu terasa begitu sejuk dan sangat menenangkan.
Nadhira menghirup nafas dalam dalam sambil merasakan kesejukan dari air mancur tersebut, Nadhira merasa lebih hidup daripada sebelumnya yang selalu terkurung didalam kamar rumah sakit.
"Apa kau senang Dhira?" Tanya Rifki yang melakukan hal yang sama seperti Nadhira.
"Disini begitu sejuk Rif, aku merasa sangat bahagia saat ini, dan aku merasa seperti hidup kembali".
Rifki pun merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Nadhira, ia pun merasa seperti telah terbebas dari beban yang selama ini ia pikul sendirian dan saat ini beban itu terasa menghilang begitu saja dari pundaknya.
Rifki memejamkan kedua matanya sambil merasakan kesejukan itu, gelak tawa seorang anak kecil membuatnya membuka kedua matanya dan mencari sumber suara itu.
"Dhira lihatlah, anak itu terlalu aktif ya Dhira, mampu berlarian kesana kemari dengan bahagianya, begitu lucu dan menggemaskan" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah anak balita yang masih berumur sekisar 3 tahunan yang sedang bermain lari larian seorang diri ditaman dan dijaga oleh ayahnya.
"Imut sekali, dikuncir dua juga, mana rambutnya masih sedikit, pintar sekali yang mengikat rambutnya itu" Senyum Nadhira seketika mengembang ketika melihat anak itu.
"Jangan tersenyum seperti itu kearah Ayah anak perempuan itu, bisa bida dia kepincut dengan dirimu nanti" Ucap Rifki dengan nada sedikit dingin.
"Hem?" Nadhira sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Rifki saat ini dan hal itu membuat Nadhira menoleh kearah Ayah anak perempuan itu.
"Sudah jangan dilihat" Ucap Rifki dan langsung menolehkan wajah Nadhira menjauh dari lelaki yang sedang bermimpi dengan anaknya tersebut.
"Kau memang aneh Rif, aku hanya memperhatikan anak itu saja, sudah besar tapi rambutnya belum tumbuh tumbuh".
__ADS_1
"Kayak kamu dulu Dhira mungkin bahkan lebih parah, sudah play group pun rambutnya ngak ada, dan dulu aku sering memainkan rambutmu yang begitu pendek dan tipis itu" Rifki tertawa ketika mengingat masa kecilnya bersama dengan Nadhira.
Rifki teringat kembali disaat dirinya pertama kali bertemu dengan Nadhira, disaat dia memasuki sekolah kanak kanak, dia berkenalan dengan Nadhira yang saat itu Rifki kira adalah seorang lelaki karena tidak memiliki rambut seperti yang lainnya.
"Kau dulu sangat jahat kepadaku, bahkan aku sering pulang kerumah sambil ngadu ke Mama, lalu Mama bilang akan memukulmu kalau berani menganggu putri kecilnya itu".
"Hahaha... Karena sejak kecil kau pun sudah terlihat sangat menggemaskan Dhira, sehari saja tidak menganggumu rasanya tidak enak sama sekali, bahkan aku tidak bisa tidur dengan nyenyak sebelum membuatmu menangis waktu itu" Rifki tertawa terbahak bahak ketika mengingat hal itu.
"Kau jahat memang, sampai sekarang kau pun masih jahat kepadaku".
"Jadi bisakah aku mengulang kembali masa itu, dimana aku harus memainkan rambut pendekmu itu, bahkan seujung kuku pun terlalu panjang bagi rambut mu itu Dhira, awal bertemu denganmu aku mengira bahwa kau adalah laki laki, tapi anehnya kau memakai sepasang anting"
"Apa kau berniat untuk mengejekku sekarang Rif?" Pertanyaan Nadhira itu hanya ditanggapi oleh gelak tawa Rifki.
Mengingat kembali masa itu membuat keduanya tersenyum dengan sendirinya, bagaimana tidak karena disaat keduanya bertemu Nadhira terlihat seperti laki laki akan tetapi dia memakai sebuah rok, dimasa itu tidak ada beban yang mereka tanggung sehingga mereka hanya memikirkan tentang bermain dan bermain dan bahkan bertengkar akan tetapi sepersekian detik kemudian sudah kembali akur.
"Dia mengingatkanku pada masa kecilmu Dhira, dimana seorang gadis kecil yang berlarian tanpa beban, yang selalu tidak mau mengalah hanya untuk berebut mainan dengan temannya, kau ingat disaat kau berebut mainan dengan Farah? Kalian bahkan saling menarik rambut tapi Farah sama sekali tidak beruntung karena kau tidak memiliki rambut".
"Aku sangat ingat saat itu Rif, karena waktu kecil aku masih berpikir untuk diriku sendiri Rif, mungkin egois jika dikatakan, tapi setelah dewasa aku tau bahwa menjadi baik atau jahat adalah sebuah pilihan, setiap kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan, jika itu dilakukan maka kita sama saja seperti mereka".
"Kau benar Dhira, dulu aku juga berpikir bahwa kebahagiaan adalah mendapatkan semua yang aku inginkan, tapi sekarang aku tau bahwa apapun yang kita inginkan belum tentu ketika mendapatkannya adalah sebuah kebahagiaan, terkadang kita akan terluka dengan apa yang kita miliki".
"Semakin bertambah umur rasanya aku semakin ingin kembali kemasa kecil dulu Rif, tapi keinginan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan".
"Untuk apa kembali kemasa lalu Dhira? Disaat kita sudah berhasil melewati segalanya, tanpa masalalu mungkin kita tidak akan sekuat ini sekarang".
"Kau benar Rif, tak terasa sudah begitu banyak ujian yang berhasil kita lewati, aku tidak menyangka bahwa akan mampu melewati semuanya".
"Apa kau tidak ingin memiliki putri kecil seperti itu Dhira? Pasti sangat indah jika bisa bermain dengan putri kecilmu" Tanya Rifki tiba tiba.
Mendengar pertanyaan Rifki membuat Nadhira segera menoleh kearah Rifki yang saat ini pandangannya masih tertuju kepada gadis kecil yang ada tidak jauh dari mereka berdua, Rifki menatap kearah gadis itu dengan sebuah senyuman lebar yang merekah indah.
"Ingin sekali, tapi aku belum menikah bagaimana aku bisa memilikinya".
"Kau bercanda Rif, bagaimana mungkin kita akan bersama sementara Tante Putri tidak akan merestui hubungan kita berdua".
"Aku akan berusaha untuk itu Dhira, tidak akan ada yang bisa menghalangi cinta kita berdua Dhira, dengan bismillah aku tidak akan mundur ditengah tengah begitu saja, apa kau mau menikah denganku Dhira?".
Nadhira menganggukkan kepalanya dengan seutas senyuman nampak diwajahnya, seraya berkata "Iya aku mau Rif, bagaimana aku bisa menolaknya? Sementara itu adalah keinginanku".
"Terima kasih Dhira, karena kau telah hadir dalam kehidupanku, aku merasa sangat bahagia ketika mendengarnya".
Terlihat seorang wanita dengan seutas senyuman diwajahnya sedang berjalan menuju ketempat dimana Nadhira dan Rifki berada, wanita itu memakai baju putih dengan rapi, ia pun membawa buket bunga yang didalamnya terdapat bunga mawar merah dan berbagai jenis bunga bunga lainnya.
Penampilan wanita cantik itu seperti layaknya seorang dokter cantik, akan tetapi dia membawakan sebuket bunga dan hal itu membuat perhatian orang yang ia lewati tertuju kepada wanita cantik tersebut.
"Dhira" Panggil wanita itu kepada Nadhira.
Nadhira yang mendengar namanya dipanggil begitu saja segera menoleh kearah seseorang yang saat ini sedang memanggilnya, ia pun begitu terkejut ketika melihat orang itu dan seutas senyuman lebar langsung tercipta diwajahnya.
"Susi" Ucap Nadhira dengan girangnya.
Ya, wanita itu adalah Susi yang telah berhasil menyelesaikan pendidikannya dan dia sudah diangkat menjadi seorang Dokter dirumah sakit tersebut beberapa hari yang lalu, ia pun terkejut ketika melihat Nadhira dirawat ditempatnya bekerja.
Susi langsung menjatuhkan pelukannya kepada sahabat yang sangat ia rindukan itu, sudah bertahun tahun keduanya tidak pernah bertemu karena dirinya yang terlalu sibuk dengan pendidikan yang telah ia tempuh sampai sekarang, Nadhira pun membalas pelukannya tersebut dengan penuh kebahagiaan yang tersirat diwajahnya.
"Bagaimana kabarmu Dhira? Maafkan aku karena tidak pernah menjengukmu".
"Aku baik baik saja Sus, bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat Dhira, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku dan sekarang aku sudah diangkat menjadi seorang Dokter, aku sangat merindukan dirimu Dhira" Tangis Susi pecah begitu saja didalam pelukan Nadhira.
"Aku juga sangat merindukan dirimu Sus"
Melihat kedua sahabatnya kini tengah bertemu membuat Rifki semakin bertambah bahagianya apalagi ketika mengetahui bahwa Susi tengah berhasil menjadi seorang Dokter muda, diusia yang belum masuk kepala tiga ia sudah dijuluki sebagai Dokter dirumah sakit itu.
"Apa kau tidak merindukanku juga Sus? Sudah lama tidak bertemu denganku kan?" Tanya Rifki.
Susi lalu melepaskan pelukan dari tubuh Nadhira itu, dan langsung memberikan buket bunga tersebut kepada Nadhira, Nadhira merasa bahagia ketika menerima buket tersebut dan menghirup aroma bunga mawar yang sangat menyegarkan bagi dirinya.
"Tidak, kenapa harus merindukanmu? Tuan Muda yang suka menjitak orang lain, aku ingin sekali memukulmu dengan kedua tanganku kalau bisa!" Ucap Susi dengan nada sebal kepada Rifki.
"Oh iya? Kau mau memukulku? Pukul saja kalau bisa, atau tanganmu sendiri yang akan terasa sakit nantinya, aku ingin memberitahumu kalau aku sudah menemukan metode baru yang lebih canggih untuk dapat menjitak kepalamu itu loh, aku jamin ini pasti akan lebih mudah"
"Aku ngak peduli metode apa yang kau temukan itu, berani kau melakukan itu kepadaku yang selaku Dokter dirumah sakit ini maka aku akan panggilkan satpam agar menyeretmu keluar dari tempat ini".
"Idih siapa juga yang takut?".
"Sudahlah jangan bertengkar lagi, baru juga ketemu masak sudah bertengkar mulu kayak Tom and Jerry aja kalian ini, sudah besar pun" Ucap Nadhira melerai pertikaian keduanya.
Susi pun menjulurkan lidahnya kepada Rifki seolah olah dirinya tengah mengejek Rifki, melihat itu membuat Rifki hanya mengeratkan giginya, sementara Nadhira hanya bisa tertawa melihat kedua sahabatnya itu.
"Dhira aku dengar kau akan menikah dengan lelaki yang menyebalkan ini? Oh Dhira, pilihanmu sungguh buruk sekali Dhira" Tanya Susi sambil menunjuk kepada hidung Rifki.
"Turunkan tanganmu yang bau obat itu, dari mana kau mendengarnya?" Tanya Rifki balik.
"Huftt... Aku ngak ngomong sama dirimu, sebaiknya kau diam saja Rif, ini urusan perempuan, untuk laki laki jangan pernah mengganggu kami berdua" Ucap Susi sambil mengibaskan tangannya mengusir Rifki pergi layaknya seperti seekor ayam.
"Aku bertanya kepadamu? Dari mana kau mendengarnya? Apa salah pertanyaanku?"
"Kau yang bilang sendiri kok, apa kau juga lupa ingatan saat ini hem? Dasar menganggu saja"
"Aneh emang, dia yang mengganggu malah teriak orang lain yang mengganggu, emang dasar wanita yang tidak mau disalahkan" Gerutu Rifki.
"Apa kau bilang? Kau pikir aku tidak mendengarnya gitu hem?" Tanya Susi sambil menuding kearah Rifki.
Mendengar gerutu Rifki pelan membuat Susi langsung menoleh kepada Rifki dan menuding Rifki dengan jari telunjuknya, melihat itu membuat Rifki merapatkan bibirnya.
"Ngak, aku ngak bilang apa apa kok beneran, indra pendengaranmu saja yang begitu tajam, orang ngak bilang apa apa pun masih kau dengar, mau heran tapi kau adalah wanita" Rifki mengelak pertanyaan yang dilontarkan oleh Susi.
"Ehem" Tiba tiba terdengar seseorang yang sedang berdehem didekat mereka bertiga.
Ketiganya pun menoleh kearah sumber suara dan mendapati bahwa sosok seorang Bayu tengah berdiri menatap kearah ketiganya, sekarang lengkap sudah para sahabat tengah berkumpul ditempat itu.
"Sepertinya ada yang berkumpul tanpa diriku disini, huft.. ngak ada yang memberitahu diriku juga lagi" Ucap Bayu sambil memainkan kuku jarinya.
"Sejak kapan kau disini?" Tanya Susi.
"Mungkin sejak 5 abad yang lalu" Jawab Bayu dengan sangat singkat.
"Pantas saja kau sudah tua disitu" Ucap Susi dengan nada sedikit ketus.
"Kau!" Ucap Bayu sambil menuding kearah Susi.
"Apa? Sudah lama tidak bertemu denganmu, mau adu kekuatan denganku disini? Ayo! Siapa takut, ku suntik dirimu biar tau rasa nanti" Ucap Susi sambil meregangkan otot ototnya.
"Kau sama sekali tidak berubah ya Sus, ku pikir kau akan sedikit lembut eh taunya makin parah".
"Sudahlah jangan bertengkar disini, malu tau dilihat orang Sus, apalagi kau kan Dokter disini, masak cantik cantik galak sih" Ucap Nadhira.
__ADS_1
"Kau benar juga Dhira" Ucap Susi yang membenarkan perkataan Nadhira.
"Eh Dhira kau tidak jadi mati? Sudah ku bilang kan kalau Dhira itu akan hidup kembali dan si...." Bayu tidak mampu meneruskan perkataannya karena tatapan tajam yang diberikan oleh Rifki.