Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kekacauan


__ADS_3

Ana kini tengah duduk berdiam diri dihadapan kedua orang lelaki, kedua lelaki itu tengah sibuk mantap beberapa berkas yang ada dimeja. Melihat itu hanya bisa membuat Ana menundukkan kepalanya dalam, dirinya hanya takut jika identitasnya sampai terbongkar dihadapan Rifki.


Ketiga orang itu tengah berada didalam ruang tamu yang luas, hanya ada ketiganya saja karena yang lainnya tengah melakukan aktivitas mereka masing masing. Sudah satu jam mereka berada didalam posisi yang sangat menegangkan itu, bahkan tanpa adanya percakapan sedikitpun diantara ketiganya.


Beberapa anggota Gengcobra tengah berjaga dihalaman depan rumah itu, dan beberapa pekerja lainnya sedang melakukan pekerjaannya yakni memasak, membersihkan halaman, menyirami tanaman, dan lain sebagainya sehingga nampak sibuk dengan urusan mereka masing masing.


"Semuanya sudah tertulis disini kan, Pak?" Tanya Rifki karena berkas yang dirinya bawa sama sekali tidak terdapat nama Ana.


"Semuanya sudah saya tulis, Tuan Muda. Mbak Ana usianya berapa?"


"40 tahun." Jawab Ana.


"Cari berkas 40 tahun yang lalu, Pak. Mungkin daftar namanya ada disana," Perintah Rifki setelah mendengar jawaban dari Ana.


"Baik Tuan Muda."


Hendra pun kembali fokus dengan berkas berkas itu, dirinya pun membenarkan posisi kaca matanya agar dirinya jelas untuk melihat tulisan yang ada disana. Cukup lama mereka mencari, akan tetapi nama itu juga tidak ada disana.


Melihat keseriusan mereka mencari, tangan Ana pun berkeringat dingin dengan jantung yang berdebar tidak teratur itu. Dirinya hanya takut jika identitasnya terbongkar, sementara dirinya belum pernah menjelaskan apapun kepada anaknya agar tidak membenci ayahnya sendiri.


"Dari semua berkas yang ada disini, sama sekali tidak ada nama Novialiana, Tuan Muda." Ucapan itu seketika langsung membuat Ana rasanya seperti mati rasa.


Rifki pun langsung menatap kearah Ana dengan tatapan yang sangat mengintimidasi, sementara Ana tidak mampu menjelaskan apapun kepada Rifki saat ini. Akan tetapi, seketika itu juga tetesan air matanya pun meleleh dan jatuh begitu saja.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Rifki.


Ana pun terdiam, dirinya seakan akan tidak memiliki kata kata sedikit untuk bisa menghindar dari pertanyaan Rifki. Melihat kediaman dari Ana, Rifki pun langsung menyuruh Pak Hendra untuk kembali ke Surya Jayantara, dengan sedikit menunduk kepalanya ia lalu bergegas meninggalkan Rifki dan Ana ditempat itu.


"Kamu tidak bisa menghindar dariku sekarang, siapa kamu?" Tanya Rifki yang mengulangi pertanyaannya dengan nada seperti tengah membendung sebuah kesedihan.


"Kamu mau tau siapa aku?" Tanya Ana.


"Iya. Katakanlah siapa dirimu?"


"Kita keruangan kerja kamu."


Ana pun bangkit dari duduknya, dirinya berjalan lebih dulu daripada Rifki. Sementara Rifki, dirinya lalu mengekorinya, dan keduanya masuk kedalam ruang kerja milik Rifki yang sangat tertutup itu. Ana berdiri membelakangi Rifki, dan dirinya pun menatap kearah sebuah lukisan yang ada disana.


"Mungkin sudah saatnya kamu tau tentang siapa diriku."


Ana pun menghela nafasnya dengan berat, dirinya perlu untuk menyiapkan mental ketika akan melakukan tindakan selanjutnya seperti apa. Dirinya tidak akan mungkin bisa menyembunyikan identitasnya terlalu lama, karena waktu sendirilah yang akan mengungkapkannya.


Ketika dirinya sudah merasa lebih tenang, Ana langsung berbalik kearah Rifki dan menatap lelaki yang ada dihadapannya itu. Kedua matanya terlihat memerah, seakan akan menahan semua air mata yang mau menetes itu.


Ana pun mendekat kearah dimana Rifki berdiri, ketika dirinya berjalan mendekat, tangannya pun perlahan lahan membuka ikatan cadarnya. Sekian detik kemudian, cadar itu perlahan lahan dirinya lepaskan.


Rifki pun membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat saat ini, wajah seorang wanita yang teramat sangat dirinya rindukan ada didepannya. Rifki pun menangis saat itu juga, dirinya sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Rifki." Panggil Nadhira pelan akan tetapi masih mampu didengar oleh Rifki.


"Dhira." Setetes air mata pun menetes membasahi pipinya.


Dengan cepatnya, Rifki pun menarik tangan Nadhira dan memeluknya sangat erat, begitu besar kerinduan yang ada didalam hatinya saat ini. Nadhira pun memejamkan kedua matanya merasakan hangatnya pelukan Rifki kepadanya, dan perlahan lahan kedua tangannya pun melingkar ditubuh Rifki.


Terdengar isakan lirih dari bibir Rifki yang bergetar, sangat sulit untuk diartikan perasaannya saat ini. Keduanya pun menangis untuk mengutarakan rasa rindu yang teramat banyak itu, sudah 15 tahun keduanya berpisah.


"Ini beneran dirimu kan, Sayang? Aku sama sekali tidak bermimpi, kan? Kamu beneran pulang? Tolong jangan jadi mimpi. Aku takut jika aku membuka mata, dan menyadari bahwa ini hanyalah mimpi."

__ADS_1


"Kamu tidak bermimpi, Rif. Maafin aku, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu."


"Aku tidak perlu penjelasanmu, Dhira. Kau kembali bersamaku saja sudah cukup bagiku, aku tidak mau apa apa, aku hanya ingin kau tidak lagi pergi untuk meninggalkan diriku."


Rifki begitu bahagia melihat Nadhira, seakan akan semangatnya hidup kembali, semangat yang telah lama hilang itu akhirnya dirinya miliki lagi. Rifki tidak butuh penjelasan apapun, karena dirinya yakin bahwa apapun yang dilakukan oleh Nadhira pasti ada alasannya.


Nadhira tidak mungkin menduakan cintanya, ia tidak mungkin mengingkari janji suci pernikahannya. Sampai mati, Nadhira akan selalu mencintai Rifki, begitupun juga dengan Rifki yang akan selalu mencintai Nadhira.


Rifki pun mencium beberapa kali kening Nadhira, rasanya dirinya begitu bahagia ketika melihat Nadhira dan bersyukur karena Nadhira mau kembali bersamanya. Nadhira dan Rifki begitu larut dengan apa yang keduanya lakukan saat ini, dan rasa nyaman itu menyelimuti keduanya.


"Kau tau, diriku begitu hancur tanpamu, Dhira. Sangking sayangnya diriku padamu, membuatku tak lagi merasa bahagia setelah kepergianmu. Kini rasanya kebahagiaanku datang lagi, jangan pergi meninggalkan diriku lagi, aku sangat menyayangimu."


"Sangking cintanya diriku untukmu, aku tidak mau satu luka pun ada ditubuhmu, Rif. Bersamaku akan begitu banyak rasa sakitnya,"


"Tapi kalau tidak bersamamu, aku akan mati."


Rifki mengusap pelan puncak kepala Nadhira yang masih tertutup oleh jilbab, keduanya seakan akan larut untuk saling melepaskan kerinduan yang begitu sangat mendalam itu. Aroma rambut Nadhira sama sekali tidak pernah berubah, selalu mampu membuat Rifki merasa tenang.


"Tuan Muda! Tuan Muda! Selamatkan diri anda!" Terdengar suara keributan dari luar rumah itu.


Mendengar teriakan tersebut, Nadhira dan Rifki pun melepaskan pelukan mereka. Keduanya tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini dirumah itu, akan tetapi teriakan mereka begitu membuat keduanya panik.


"Rif, ada apa diluar?" Tanya Nadhira yang terlihat begitu panik.


"Pakai cadarmu lagi. Kau harus segera pergi dari sini," Ucap Rifki yang mengambil sebuah kain cadar yang ada ditangan Nadhira dan memakaikannya.


"Nggak. Aku nggak mau meninggalkan dirimu,"


"Selamatkan dirimu terlebih dulu, Dhira. Aku akan segera menyusulmu nanti, percayalah kepadaku bahwa aku akan baik baik saja," Rifki pun mengenggam erat tangan Nadhira untuk menguatkan wanita itu.


"Bertemu denganmu adalah sebuah keberuntungan bagiku, Dhira. Mereka menginginkan diriku, pergilah agar kau selamat. Aku sangat mencintaimu, lebih dari seluruh hidupku."


"Aku nggak mau meninggalkan dirimu dalam keadaan apapun, Rif. Biarkan aku yang mati lebih dulu daripada dirimu,"


"Jangan keras kepala Dhira, pergilah dengan identitas barumu, dan jangan sampai mereka mengetahuinya. Tetaplah jadi Ana, jangan sampai mereka atau orang orang tau bahwa kau adalah Nadhiraku."


"Rifki, kenapa kau hanya menyuruhku pergi untuk menyelamatkan nyawaku? Kenapa kau tidak ikut pergi bersamaku? Aku nggak bisa melakukan itu, aku nggak bisa."


"Aku akan menyusulmu nanti, Sayang. Percayalah kepadaku, sekarang kamu pergi dulu dan tunggu diriku diperbatasan sana, aku akan sesegera mungkin datang kesana. Jika kau bertarung bersamaku, mereka akan tau siapa dirimu, dan aku tidak mau mereka semua tau."


"Aku bisa menghabisi mereka dengan diam diam, kenapa aku harus pergi darimu?"


"Jangan membuang waktu hanya untuk memperdebatkan ini, Dhira. Tunggu aku disana, aku akan segera datang."


Air mata Nadhira tidak mampu dibendung lagi, apalagi menatap wajah Rifki yang terlihat begitu sangat takut kehilangan dirinya untuk kedua kalinya. Dari kedua matanya saja, Nadhira mampu mengetahui bahwa Rifki begitu serius dengan kata katanya itu.


"Dhira, aku mohon sekali saja dirimu dengarkan aku. Nurut ya? Jangan membantah lagi. Aku tau kamu tidak bisa meninggalkan diriku sendirian disini, tapi tolong sekali saja, jangan membantah lagi."


"Baiklah jika itu kemauanmu, Rif. Cepatlah datang, jangan menyuruhku untuk menunggu terlalu lama. Jika kau tidak segera datang, aku akan kembali kerumah ini untuk mencarimu."


"Iya, aku akan segera datang."


Rifki pun berjalan kearah cendela rumah itu bersama dengan Nadhira, dirinya pun membukakan cendela itu agar Nadhira bisa melewatinya dengan mudah. Nadhira pun menatap lekat lekat wajah Rifki, sangat tidak rela dirinya meninggalkan lelaki yang dicintainya itu.


Rifki pun menganggukkan kepala yakin kepada Nadhira, dengan berat hati Nadhira pun melangkah keluar dari dalam rumah itu melalui cendela rumahnya. Tetesan demi tetesan air mata pun berjatuhan, rasanya keduanya tidak rela jika harus kembali berpisah saat ini.


Ketika Rifki menutup kembali cendela itu, tiba tiba pintu ruangan itu didobrak begitu saja dari luar. Nampak terlihat dua orang anggota Gengcobra yang terpental dan jatuh dilantai sambil memegangi dadanya yang nyeri akibat sebuah tendangan.

__ADS_1


"Tuan Muda, cepat lari!" Teriak salah satu dari mereka.


Rifki pun melihat para pekerjanya tengah berhamburan, nampak seisi rumah itu sangat panik apalagi melihat beberapa anggota Gengcobra telah babak belur dibuatnya. Rifki langsung bergegas mendekat kearah kedua anak buahnya itu, dan dirinya pun membantu keduanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rifki.


"Begitu banyak orang yang menyerbu tempat ini, Tuan Muda. Kami semua tidak bisa mengatasinya, anggota Gengcobra lainnya sedang diperjalanan kemari. Cepat selamatkan diri anda, sampai anggota Gengcobra datang kemari."


Nampak anggota Gengcobra itu terlihat begitu lemas, bahkan keduanya tidak bisa berdiri dengan benar saat ini. Rifki pun mencium sebuah aroma yang tidak asing dari keduanya itu, dan Rifki pun membantu keduanya untuk duduk sambil bersandar ditembok.


"Kalian terkena obat bius. Siapa yang telah melakukan ini?" Tanya Rifki yang menyadari tentang obat tersebut.


"Saya tidak mengenali mereka semuanya, wajah mereka nampak begitu asing, bukan seperti musuh Tuan Muda selama ini. Mereka begitu cerdik, hingga telah merencanakan ini semua dengan matang," Ucapnya dengan begitu lemah.


Rifki pun terdiam beberapa detik mendengarkan penjelasan dari lelaki yang ada dihadapannya itu, dirinya sendiri pun tidak mengenali mereka, entah apa maksud mereka menyerang rumahnya saat ini. Tidak ada motif apapun yang membuat mereka menyerang tempat itu saat ini, bahkan Rifki merasa bahwa tidak pernah mencari gara gara kepada siapapun dan bahkan anggota Gengters pun telah tunduk kepadanya dan bergabung pada anggota Gengcobra.


"Siapa mereka?"


*****


Nadhira tengah berdiri ditempat yang telah ditentukan oleh Rifki sebelumnya, dirinya pun cemas menunggu kedatangan Rifki yang entah kapan. Tubuhnya gemetaran karena mengkhawatirkan sosok suaminya itu, sekuat kuatnya Rifki, ia tetaplah manusia yang memiliki batas.


Rifki telah berjanji bahwa dirinya akan menyusul Nadhira secepatnya, akan tetapi sudah 20 menit dirinya berada disana, belum juga ada tanda tanda Rifki akan datang. Perasaannya semakin tidak karuan saat ini, akan tetapi Rifki melarangnya saat ini.


"Ya Allah, lindungilah suami hamba, hamba memohon kepada-Mu, hanya Engkau yang mampu melindunginya karena Engkau adalah sebaik baiknya Maha pelindung."


Nadhira sangat takut jika sampai terjadi sesuatu dengan Rifki, dan dirinya akan mengutuk dirinya sendiri jika Rifki sampai kenapa kenapa karena dia meninggal Rifki sebelumnya. Rasa ketakutan itu semakin lama semakin bertambah, bukan karena sebab melainkan karena Rifki yang tak kunjung datang menemuinya.


"Memohonlah kepada Tuhanmu itu, bukan keselamatan orang lain tapi keselamatanmu!" Seru seseorang dari belakang Nadhira.


Mendengar itu, Nadhira sontak langsung menoleh kearah sumber suara. Dirinya mendapati sosok seorang wanita yang sangat dirinya kenali akan tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah meskipun sudah belasan tahun tidak bertemu. Nadhira begitu terkejut ketika melihat wanita tersebut, yang tidak lain adalah Sena dengan kelima anak buahnya.


"Ternyata kau masih hidup didunia ini, Dhira. Kau tidak akan bisa berpura pura didepanku," Ucap Sena dengan senyuman yang licik.


"Dhira? Nama saya Ana, bukan Dhira." Ucap Nadhira yang berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap tenang dihadapan wanita itu.


"Hahahaha.... Ucapanmu tidak bisa membodohiku, Dhira. Lihat pergelangan tanganmu itu, jika kau bukan Dhira mana mungkin bekas luka lama ada disana. Luka yang pernah aku ciptakan."


Nadhira pun menoleh kearah pergelangan tangan yang dimaksudkan oleh Sena, akan tetapi disana sama sekali tidak ada bekas apapun yang tertinggal. Entah mengapa Sena bisa mengatakan hal itu kepadanya, dan berpura pura bahwa ada bekas luka ditangannya itu.


"Kenapa kau menoleh kearah tanganmu? Apa kau takut jika ucapanku sebelumnya itu bener?" Tanya Sena lagi.


"Maksudmu apa?!"


"Jika kau bukan Dhira dan tidak memiliki bekas luka ditangan, mana mungkin kau menoleh kearah tanganmu. Dengan caramu menoleh, aku bisa tau bahwa kau adalah Nadhira."


"Omong kosong macam apa yang kau katakan!"


"Sebentar lagi kau akan lenyap ditanganku, Dhira. Ucapkan selamat tinggal pada duniamu!"


Tanpa berkata kata, Sena dan kelima anak buahnya tersebut langsung menyerang kearah Nadhira. Nadhira yang belum siap untuk menerima serangan itu akhirnya pun terpental keatas tanah sambil memegangi perutnya.


"Sakit ya? Pasrahlah, kau akan mati dengan mudah nantinya."


"Sudah ku katakan, aku bukan Dhira." Rasanya dirinya ingin sekali muntah akibat terkena tendangan bertubi tubi dari keenam orang itu.


"Bullshit!"

__ADS_1


__ADS_2