
Didalam sebuah villa Nadhira sedang memainkan ponselnya dengan sangat sibuk, sementara itu Bi Ira sedang keluar untuk jalan jalan diarea sekitar villa, Bi Ira berjalan didekat kolam renang yang telah disediakan didalam halaman villa tempat mereka menginap itu.
Rasanya Pak Santo tidak bisa menyerah begitu saja, Pak Santo terus berusaha untuk mendapatkan hati Bi Ira meskipun hal itu begitu sangat sulit bagi dirinya, karena Bi Ira masih mencintai almarhum suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan sebelum dirinya bekerja bersama dengan Rendi.
"Ra sekali lagi aku minta maaf soal yang tadi siang, beneran deh rasanya seperti tiba tiba gelap begitu".
"Ngak papa, lagian semuanya juga sudah berlalu".
"Jadi kau sudah tidak lagi marah denganku?".
"Ngak".
"Jadi bagaimana? Apa kau bisa menerima cintaku?".
"Soal itu maaf, aku tidak bisa".
"Kenapa? Apakah aku terlalu buruk bagimu? Ataukah karena pekerjaanku hanyalah seorang satpam saja?".
"Bukan seperti itu, aku masih belum bisa membuka hati untuk orang lain, apalagi statusku hanyalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya".
"Aku akan terus menunggu sampai kau bisa membuka hatimu untukku Ra".
Tanpa keduanya sadari bahwa Theo dan Nadhira kini tengah mengintip keduanya dari kejauhan, setelah menyadari bahwa Bi Ira keluar dari kamar terlalu lama membuat Nadhira segera bergegas menyusulnya karena takut terjadi sesuatu kepada Bi Ira.
Ketika Nadhira sudah berada dihalaman villa tersebut Nadhira melihat Theo yang tengah mengintip kedua sejoli itu, hal itu membuat Nadhira perlahan lahan mendekatinya untuk mengetahui apa yang sedang dilihat oleh Theo, Nadhira tersenyum tipis ketika melihat Bi Ira dan Pak Santo kini tengah berjalan berdua disamping kolam renang.
"Ternyata sedari tadi mereka bersama" Ucap Nadhira dengan lirih dan membuat Theo terkejut ketika mendengar tiba tiba ada seseorang berucap disebelahnya saat ini.
"Dhira, sejak kapan kau disini?".
"Mungkin sekitar 3 menitan yang lalu, kenapa?".
"Kenapa aku tidak menyadari kedatanganmu? Tiba tiba saja kau sudah ada disebelah ku".
"Kau terlalu fokus dengan mereka, ada apa sih?".
"Kau lihat itu, Pak Santo mulai mengungkapkan perasaannya lagi kepada Bi Ira, tapi sepertinya akan ditolak lagi oleh Bi Ira".
"Tidak, bagaimana bisa kau seyakin itu, sepertinya Bi Ira masih teringat dengan masalalunya".
"Sama seperti dirimu Dhira, kau masih teringat saja dengan masalalumu bersama dengan Rifki, meskipun kau tau sendiri bahwa Rifki telah pergi meninggalkan dirimu selama ini" Batin Theo.
Nadhira mendengarkan percakapan keduanya dengan teliti meskipun dari kejauhan akan tetapi suara keduanya masih dapat didengar oleh Nadhira meskipun hanya samar samar saja, Nadhira harus memikirkan suatu cara agar Bi Ira mampu membuka hatinya untuk Pak Santo.
Seketika itu juga perut Nadhira berbunyi, meskipun sudah malan dua jam yang lalu akan tetapi Nadhira kembali merasa lapar, hal itu membuat Theo tersenyum tipis kearah Nadhira, tidak menyangka bahwa suara perut Nadhira akan terasa begitu nyaring baginya.
"Ternyata kau sudah lapar lagi Dhira"
"Sedikit sih, entah ada apa dengan nih perut, padahal baru diisi juga sudah minta diisi lagi".
"Bagaimana kalau kita bakar ikan saja? Sekalian membuat kedua orang itu semakin akrab".
"Boleh juga idemu itu, aku akan meminta pemilik villa ini untuk menyiapkan bahan bahannya".
Nadhira segera bergegas untuk mendatangi ruang pelayanan yang ada di villa tersebut, dan segera meminta peralatan dan bahan yang ia butuhkan untuk membakar ikan, sementara pihak villa itu dengan segera mungkin untuk memenuhi keinginan dari pengunjungnya tersebut.
Sementara Theo segera mendatangi kedua orang itu untuk mengajak mereka bergabung dengan keduanya, tidak akan seru jika membakar ikan hanya dengan berdua, sehingga Theo mengajak kedua orang itu bergabung dengannya.
Tak beberapa lama kemudian peralatan yang diinginkan oleh Nadhira akhirnya telah selesai disiapkan, setelah itu Nadhira segera mengurus ikan yang masih hidup karena pihak villa tersebut memberikan ikan itu kepada Nadhira setelah mereka berhasil menangkapnya dihalaman belakang villa.
"Aa.. Kenapa ikannya terus memberontak sih, ngak bisa diam gitu, ayolah ikan jangan memberontak seperti ini, kau membuatku sedikit kesulitan, diamlah sedikit kenapa sih dan jadilah ikan yang baik" Ucap Nadhira sambil berusaha mengeluarkan ikan tersebut dari sebuah wadah.
Tubuh ikan tersebut memang sedikit licin sehingga membuat Nadhira kesulitan untuk menangkapnya, sementara hal itu membuat ketiganya tidak bisa berkata apa apa lagi ketika mendengarkan ucapan Nadhira kepada ikan itu.
"Jelas dia memberontak lah Dhira, orang dianya aja mau disembelih dan dibakar, siapa juga sih yang tidak memberontak kalau mau dibunuh" Ucap Theo menahan tawanya melihat kelakuan Nadhira.
__ADS_1
"Kasihan juga ya ikannya, jadi tidak tega untuk membuatnya sebagai santapan" Ucap Nadhira menghentikan kegiatannya.
"Kalau Dhira ngak bisa biarkan Ibu saja yang menangkapnya" Ucap Bi Ira yang memperhatikan Nadhira menangkap ikan itu.
"Dhira bisa kok, cuma ikan doang mah gampang" Ucapnya dan langsung menggerakkan tangannya untuk menangkap ikan tersebut.
"Hati hati kena siripnya Nak".
"Ibu tenang saja, Dhira bisa kok melakukan ini, ya meskipun ini sedikit sulit".
Nadhira berusaha untuk menangkap ikan tersebut dan mengeluarkannya dari wadah itu, dengan susah payah dan penuh keringat akhirnya Nadhira bisa melakukan itu meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Nadhira memegangi sebuah pisau yang sangat tajam ditangan kanannya untuk membunuh ikan tersebut dan memegangi kepala ikan dengan negitu eratnya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi Nadhira tidak segera melakukan itu justru dia malah memperhatikan ikan itu yang terus membuka dan menutup mulutnya karena kekurangan air untuk dapat bernafas.
"Ikan, kenapa kau terlihat begitu kasihan sekali sih, aku jadi tidak tega untuk menyembelihmu dan menjadikanmu sebagai santapanku, tapi aku sangat lapar, lalu apa yang harus aku lakukan" Ucap Nadhira kepada ikan tersebut.
Ucapan itu seketika membuat ketiga orang itu menghela nafas panjang, yang mereka tunggu tunggu sejak tadi tidak kunjung dilakukan oleh Nadhira, justru Nadhira malah mengajak ikan itu untuk berbicara seperti ini.
"Maafkan kesalahanku ya ikan, tapi kau harus menjadi santapanku karena aku sangat lapar kali ini, apakah dagingmu enak? Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, tapi lihatlah mata yang indah itu, rasanya kau masih berharap untuk dapat hidup kan? Tapi sayang sekali karena dirimulah yang ditangkap oleh mereka".
Nadhira terus mengobrol dengan ikan tersebut, entah apakah ikan itu mengerti ucapan Nadhira atau tidak tapi ikan itu terlihat begitu diam, Nadhira menduga bahwa ikan itu mengerti apa yang sedang ia katakan akan tetapi yang sebenarnya adalah ikan tersebut mulai kehabisan air untuk bernafas sehingga ikan itu hanya berdiam diri saja.
"Sudah selesai belum ngobrolnya dengan ikan? Ayolah Dhira kami sudah menunggu lo sejak tadi" Tanya Theo yang sudah tidak sabaran.
"Belom, aku sangat kasihan dengan ikan ini, sepertinya aku tidak bisa melakukannya kepada ikan yang begitu imut ini" Ucap Nadhira tanpa menoleh sedikitpun.
"Ya sudah kita cari ikan yang lainnya saja, biarkan ikan itu tetap hidup kalau begitu".
"Tidak, nanti ikan yang lainnya juga kasihan, kan mereka juga ingin hidup".
Sebelumnya Nadhira memang tidak pernah membunuh hewan apapun itu kecuali semut yang memang tanpa sengaja keinjak olehnya tanpa sepengetahuan dirinya sendiri sehingga ia merasa tidak tega untuk melakukan itu.
"Lalu bagaimana sekarang Dhira? Apakah kita jadi memanggang ikan itu?".
"Iya jadi, tapi kasihan, aku tidak bisa melakukannya, apalagi ikan ini begitu gemoy seperti ini".
"Baiklah, tapi jangan membuatnya sakit ya Bu, aku benar benar kasihan dengan ikan ini, pasti dia merasa sangat ketakutan apalagi dengan pisau yang sangat tajam seperti ini'.
"Baiklah, Ibu akan melakukannya dengan cepat agar ikannya tidak merasakan sakit yang begitu lama".
Nadhira hanya bisa mengangguk kepada Bi Ira, dan segera bangkit dari tempat ia duduk saat ini untuk membiarkan Bi Ira menempati posisinya untuk menyembelih ikan tersebut.
Nadhira merasa sedikit merinding dengan ikan tersebut karena ukurannya yang lumayan besar, ia tidak tega untuk menyembelih ikan tersebut sehingga ia meminta kepada Bi Ira untuk melakukan itu, dan Bi Ira dengan sigap segera menangkapnya dan menggoreskan sebuah sayatan kepada bagian bahwa kepala ikan itu.
"Akh, itu pasti sangat menyakitkan" Melihat ikan itu tersentak karena sayatan dari Bi Ira membuat Nadhira mendesis kesakitan.
Dapat dilihat bahwa Bi Ira melakukan itu dengan begitu mudahnya, seakan akan tangannya begitu mudah untuk memegangi ikan yang licin itu, masih ada perasaan yang tidak tega dengan apa yang dilakukan oleh Bi Ira kepada ikan itu.
"Baru kali ini aku melihat wanita yang hobinya berkelahi dan menyakiti orang lain sangat ketakutan ketika melihat orang menyembelih seekor ikan seperti ini" Ucap Theo.
"Diamlah, itu berbeda, sangat berbeda, karena mereka yang salah sehingga aku mengajaknya berkelahi kalau mereka ngak salah kenapa juga coba aku melakukan itu, tapi ikan ini sama sekali tidak bersalah kepada kita, justru kita membunuhnya untuk dijadikan santapan makan malam" Alasan seorang Nadhira yang masuk akal dan hampir membuat ketiganya terbatuk batuk karena tersedak ludah mereka sendiri.
"Lagian ikan itu juga sudah mati sekarang".
"Iya aku tau itu, aku juga bisa melihatnya".
Nadhira hanya mampu melihat itu dengan penuh kekaguman kepada Ibu angkatnya itu, Nadhira mampu untuk menyakiti orang lain akan tetapi dirinya tidak mampu untuk menyakiti hewan yang dianggapnya lucu seperti ikan itu.
Setelah ikan itu mati, Bi Ira segera membersihkan sisik sisiknya dan menyayat nyayat badan ikan tersebut agar bumbu yang akan ia berikan meresap sampai kedalam tulang ikan itu.
Pak Santo segera mengangkat ikan tersebut keatas panggangan dan Theo segera mengipasi ikan itu agar cepat matang, sementara Nadhira hanya berdiam diri sambil menyaksikan mereka memanggang ikan itu, bos mah bebas pikir mereka.
"Keduanya seperti terlihat seperti Adek Kakak ya" Ucap Nadhira sambil menunjuk kearah Theo dan Pak Santo.
"Lebih mirip Bapak sama anaknya".
__ADS_1
"Ngak ngak itu ngak cocok, sikap keduanya sangat berbeda jauh, sangat jauh".
"Memanglah jauh Nona Muda, kan mereka juga beda pabrik masak iya sih bisa sama, kalau pabrikan sama dan lubangnya sama baru bisa dikatakan sedikit mirip satu sama lain"
"Eh, iya juga sih Bu" Ucap Nadhira sambil meringis seakan akan tidak merasa bersalah.
Bi Ira mulai mengoleskan sebuah bumbu kepada ikan tersebut dengan perlahan lahan, setalah lama memanggang ikan tersebut akhirnya bau harum mulai tercium oleh Nadhira dan membuat perutnya berbunyi lebih keras lagi daripada sebelumnya.
"Masih belum matang kah?" Tanya Nadhira yang sudah tidak sabaran.
"Belum Nona muda, bumbunya belum meresap seluruhnya" Jawab Theo sambil mengeratkan giginya karena gemes kepada Nadhira.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu" Ucap Nadhira sambil menjatuhkan kepalanya diatas meja yang ada didepannya.
"Mungkin setengah abad lagi, dan bisa juga tiga perempat abad lagi" Ucap Theo dengan santainya.
"Ya keburu aku jadi tengkorak lah kalo selama itu".
Nadhira mendengus kesal karena ucapan Theo, karena dirinya yang sudah sangat lapar sejak tadi akan tetapi ikan tersebut belum matang jua, padahal karena Nadhira sendiri yang mengajak ikan itu mengobrol terlebih dahulu hingga membuat ikan itu lama matangnya.
Setelah bosan lama menunggu akhirnya ikan tersebut matang juga, dan Theo segera mengangkat ikan tersebut dari panggangan, ia menaruh ikan tersebut kedalam sebuah nampan yang cukup besar dan membawanya kepada Nadhira.
"Ikan sudah matang Nona Muda, siap untuk dinikmati, silahkan Nona Muda menikmatinya" Ucap Theo sambil menaruh ikan tersebut dimeja yang ada dihadapan Nadhira.
"Hem.... Baunya harum sekali" Guman Nadhira sambil menghirup dalam dalam aroma ikan bakar.
"Yaya dong, siapa dulu yang masak" Ucap Theo dengan bangganya.
"Eleh, yang memberi bumbu juga adalah Ibu, bukan kamu" Ejek Nadhira.
"Tapi kan sama saja, aku yang bakar, itu artinya aku juga yang masak kan".
"Sangat beda, sudahlah ayo makan aku sudah lapar sejak tadi menunggu kalian".
Ketiganya segera duduk ditempat itu, Nadhira sudah tidak sabar menikmati daging ikan segar itu, rasanya cacing cacing yang ada diperutnya mulai memberontak untuk meminta diisi, Bi Ira segera mengambilkan nasi untuk ketiga orang itu dan dirinya sendiri, setelahnya mereka segera menikmati lezatnya ikan tersebut.
Nadhira mengambil ikan tersebut dibagian yang penuh dengan daging, dan ia segera menaruhnya diatas piring yang telah disediakan oleh Bi Ira sebelumnya, dan ia segera menyantap ikan tersebut dengan lahapnya setelah selesai membaca doa.
Daging ikan itu terasa begitu lezat karena bumbu bumbu halus yang telah diberikan sebelumnya meresap kedalam daging dagingnya sekaligus, hal itu membuat rasa dari ikan tersebut begitu menggugah selera makan Nadhira.
"Kau makan seperti belum pernah makan aja sebelumnya Dhira" Canda Theo.
"Biarin, emang akunya belum makan dari lima abad yang lalu" Jawab Nadhira dengan ketus.
"Ya sudah makan yang banyak, kalau perlu nanti kita bakar ikan lagi setelah ini".
Nadhira tidak mempedulikan ucapan Theo dan dirinya segera melanjutkan makannya, Nadhira begitu sangat puas dengan rasa dari ikan bakar itu, dan tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya berhenti untuk makan setelah dirasa dirinya sedikit kenyang.
"Sudah aku mau kembali kekamar dulu, kalian lanjutkan saja makannya" Ucap Nadhira dan langsung bangkit dari duduknya.
"Apa kau benar benar sudah kenyang Dhira?" Tanya Theo merasa heran dengan Nadhira.
"Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang" Ucap Nadhira sambil melangkah menjauh dari tempat itu.
"Ya sudah aku juga mau kembali kekamar, Pak Santo dan Bi Ira saja yang makan" Ucap Theo dan juga segera bangkit dari duduknya.
"Lah, lah kok jadi kita?" Ucap Pak Santo yang langsung berhenti makan.
"Sudahlah Pak, mubazir kalau ngak dimakan".
Perkataan itu langsung membuat Pak Santo segera melanjutkan makannya, begitupun dengan Bi Ira, kini hanya tersisa mereka berdua saja ditempat itu, sementara Theo dan Nadhira kembali kekamar mereka masing masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah mulai kelelahan.
Nadhira segera merebahkan tubuhnya duduk diatas sofa yang ada dikamar inapnya, sambil menunggu nasi yang ia makan turun kelambung sebelum dia menidurkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Apakah Rifki benar benar akan pulang?" Guman Nadhira pelan.
__ADS_1
Nadhira sangat berharap bahwa kabar itu memang benar, akan tetapi dirinya tidak tau lagi harus bahagia atau sedih karena dirinya telah mengecewakan Rifki dan ia tidak berani untuk bertemu dengannya nanti.
...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...