Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Gelangku!


__ADS_3

Nadhira segera masuk kedalam kamarnya dan tengah bersiap siap untuk keluar bersama dengan Theo, Nadhira sangat bingung harus memakai gaun apa untuk keluar nantinya, ketika dirinya membuka almari pakaian miliknya tanpa sengaja ia melihat sebuah kotak disana.


Nadhira segera mengambil kotak tersebut dan membukanya dengan hati hati, setelah kotak terbuka nampaklah sebuah gaun yang indah berwarna pink nan cantik, Nadhira tersenyum kearah gaun tersebut dan membawa kotak itu untuk duduk di sofa yang ada dikamarnya itu.


"Aku tidak akan memakainya sebelum kita akan bersama suatu saat nanti" Nadhira tersenyum dengan lebarnya ketika menatap gaun itu.


Tiba tiba Nimas muncul didekat Nadhira dan juga ikut menatap kearah gaun itu dengan senyum yang begitu lebarnya, entah apa yang tengah dipikirkan oleh Nimas saat ini.


Nadhira hanya melirik sekilas kearah Nimas dan langsung menutup kembali kotak tersebut, Nadhira lalu berjalan kearah almarinya lagi untuk menyimpan kotak itu baik baik tanpa memperhatikan Nimas lagi.


Nadhira terus memilih milih pakaian yang cocok untuk dirinya, hal itu membuat Nimas segera mendekat kearah Nadhira lagi untuk menyaksikan apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira saat ini, Nimas melihat bahwa Nadhira tengah kebingungan untuk dapat memilih pakaian.


"Sepertinya kau sangat sibuk Dhira, mau aku bantu pilihkan pakaian yang cocok untukmu?"


"Emang kau bisa melakukan itu Nimas? Bajumu sendiri saja tidak pernah ganti, apalagi mau memilih pakaian yang cocok untuk diriku".


"Apa kau meremehkan diriku? Asal kau tau ya, aku sangat pandai dalam hal seperti ini ketika aku masih hidup dulu sih, aku kan juga wanita yang ingin tampil lebih didepan semua orang".


Nimas memandangi pakaian Nadhira yang tengah tergantung didalam almari dengan seksama, Nimas hampir menyerah karena tidak menemukan pakaian yang tepat untuk Nadhira karena semua pakaian tersebut terlihat begitu cantik untuk Nadhira.


"Gimana? Apa kau sudah menemukan pakaian yang cocok untuk ku pakai nanti? Sudah ku bilang kan kalau kau tidak akan mampu menemukan pakaian yang bagus untukku".


"Ah aku lupa, kenapa kau seperti ingin tampil begitu menarik didepan Theo? Apa kau sudah mulai jatuh cinta kepadanya?" Ucap Nimas dengan menyeringai dan mengalihkan pembicaraan Nadhira.


"Nimas kau tau? Aku ingin sekali memukulmu itu, beruntunglah dirimu karena aku tidak bisa menyentuhmu, kalau tidak mungkin wajahmu itu sudah ku buat menjadi mengerikan" Ucap Nadhira sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tinggal mengakuinya saja apa susahnya sih? Toh cinta juga ngak bakal tau kapan datangnya".


"Bosen ah ngobrol sama kamu Nimas".


"Bosen? Tumben kau bisa merasa bosan? Tapi kenapa wajahmu memerah seperti kebakar itu?".


"Sudahlah, bisa diam ngak sih?".


"Ngak".


Nadhira segera mengambil gaun asal asalan karena ucapan dari Nimas, setelah itu dirinya langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, hal itu membuat Nimas tertawa begitu bahagia karena dia berhasil membuat Nadhira terlihat begitu kesal kepadanya.


Tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Nimas selain membuat Nadhira merasa kesal, entah sejak kapan hal itu menjadi hobinya sekarang, mungkin karena sejak dulu Nadhira selalu menang melawan Nimas dengan kata katanya.


Tak beberapa lama kemudian Nadhira akhirnya keluar juga dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang terlihat sederhana berwarna coklat susu yang sesuai dengan warna kulitnya, Nadhira segera berjalan kearah cermin yang ada dimeja riasnya tanpa mempedulikan Nimas.


Nimas memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh Nadhira seperti tanpa ada bosannya bagi Nimas, Nadhira memakai riasan tipis diwajahnya seperti biasa dan juga membiarkan rambut indahnya itu terurai bebas.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Nadhira.


"Bagus, seperti seorang wanita".


"Emang kau pikir aku selama ini adalah pria?" Ucap Nadhira dengan nada sedikit tinggi.


"Bukan aku pikir lagi, tapi memang selama ini sikapmu seperti seorang pria, suka main kekerasan"


"Kau..." Ucap Nadhira yang menggantungkan kata katanya setelah mendekar pintu kamarnya diketuk.


Tok tok tok


"Non, sudah dijemput didepan" Ucap Bi Sari dari luar kamar Nadhira setelah mengetuk pintu kamar itu.


"Cepet banget sih nih orang sampainya" Gerutu Nadhira dan buru buru memakai lipstiknya, "Iya Bi, sebentar lagi aku akan keluar, suruh dia menunggu sebentar saja Bi".


"Baik Non".


Setelah selesai memakai lipstik, Nadhira segera bergegas keluar dari kamarnya menuju kehalaman depan dimana Theo dan Pak Santo sedang mengobrol dengan serunya.


Melihat kedatangan Nadhira membuat keduanya segera menghentikan pembicaraan mereka, Theo memandangi Nadhira dari bawah hingga keatas, ia begitu terkejut ketika melihat kecantikan Nadhira yang bak bidadari itu.


"Apa ada yang salah dengan pakaianku? Kenapa kalian berdua terus memandangiku seperti itu?" Tanya Nadhira ketika melihat Theo dan Pak Santo hanya diam saja.

__ADS_1


"Non cantik sekali malam ini, saya hampir saja tidak mengenali Non Dhira, cie yang mau kencan, sebentar lagi akan ada pesta pernikahan nih dirumah ini".


"Hehe... Tau aja nih Pak Santo, iya pasti akan ada pesta pernikahan disini tapi yang jadi pengantinnya bukan aku, tapi Pak Santo sendiri dengan Ibu Ira".


"Eh Non, kalau saya menikah juga ngak bakalan bisa dirumah ini lah, bagaimana bisa seorang pekerja menikah ditempat majikannya".


"Asal Pak Santo tau saja ya, Ibu Ira rumahnya disini karena dia adalah Ibu angkatku, itu artinya pengantin wanitanya juga dari sinilah, apa ngak terima? Kalau gitu aku maju jodohkan Ibu angkatku dengan orang lain saja lah dari pada Pak Santo"


"Ih Non Dhira jangan marah begitulah kepada saya".


"Biarin, eh iya Pak, Pak Santo tadi dicariin Bu Ira tuh didalam, katanya ada hal yang penting ingin dibicarakan" Bohong Nadhira.


"Hah? Hal penting apa Non?".


"Ya ngak tau Pak, masak iya harus bilang ke aku dulu sih, aneh aja nih Pak Santo, ya sudah ayo berangkat".


Nadhira segera mengajak Theo untuk berangkat sekarang dan meninggalkan Pak Santo yang sedang kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira, melihat wajah kebingungan dari Pak Santo melalui kaca mobil itu membuat Nadhira berusaha untuk menahan tawanya hingga mobil itu berjalan.


"Apa ada yang lucu Dhira?"


"Haha...." Tawa itu lepas juga setelah cukup lama ditahannya, "Sebenarnya Ibu tidak mencari Pak Santo tadi, hanya saja Pak Santo ternyata menyukai Ibu secara diam diam".


"Hah? Benarkah? Baguslah kalau begitu, biar tidak menjadi perjaka tua".


"Kau benar Theo, maka dari itu aku harus berusaha untuk mendekatkan keduanya".


"Aku juga akan berusaha untuk bisa mendapatkan dirimu Dhira, apapun yang terjadi nantinya aku harus memilikimu untuk seutuhnya" Batin Theo.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai disebuah alun alun kota terdekat dengan sebuah danau yang begitu indah ketika malam hari, Theo segera mengajak Nadhira turun dari mobil untuk menikmati indahnya kilauan danau yang terkena pancaran bulan dimalam hati itu.


Banyak orang yang sedang lalu lalang ditempat itu sehingga tempat itu terlihat cukup ramai, para pengunjung sedang menikmati hal yang sama seperti apa yang sedang dilakukan oleh Nadhira dan Theo.


Theo mengajak Nadhira untuk berkeliling memutari danau itu dan melihat lihat begitu banyak lapak yang menjual aneka macam hiasan maupun hal hal yang disukai oleh wanita seperti boneka, hiasan rambut, ataupun masih banyak lagi.


Nadhira begitu bahagia ketika melihat gemerlapan lampu yang ada ditempat itu, Nadhira terus melangkah ditepi danau yang berpagarkan besi itu, dan menjauh dari keramaian yang ada ditempat itu, tanpa ia sadari bahwa ada sebuah kaki yang sengaja diarahkan kepada kakinya hingga membuat Nadhira terjatuh kedalam danau itu.


Untung saja tangan Theo segera memegangi tangan Nadhira hingga Nadhira tidak sampai terjatuh kedanau tersebut, akan tetapi tanpa ia sadari bahwa gelang kesayangannya itu terlepas dari tangannya hingga membuat Nadhira membuka matanya dengan lebar lebar melihat gelang itu.


"Gelangku!"


Nadhira menoleh kearah siapa yang telah berani menjegal langkahnya itu, tanpa siapa sangka bahwa pelakunya adalah Amanda yang saat ini sedang tersenyum liciknya, Nadhira menatap tajam kearah Amanda dan dapat terlihat bahwa dirinya tengah mengepalkan tangannya dengan erat.


"Kau!!" Ucap Nadhira sambil menuding kearah Amanda yang ada didepannya.


"Ah maaf, aku sengaja melakukannya" Ucap Amanda dengan santainya dan langsung melangkah pergi tanpa mempedulikan Nadhira.


Amanda adalah Adik tiri dari Nadhira, anak dari Sena, seorang wanita yang telah membunuh Mamanya dengan cara menyabotase mobil Rendi sehingga Mama Nadhira masuk kedalam jurang dan hingga saat ini jenazah tidak kunjung ditemukan.


Setelah kepergian dari Amanda tanpa berpikir panjang Nadhira segera melompat kedanau itu untuk mencari gelangnya yang jatuh kedalam danau, gelang itu adalah pemberian dari Rifki sehingga gelang itu terlihat begitu berarti bagi Nadhira.


"Dhira, apa yang kau lakukan!".


"Hih anak ini, selalu saja bertindak tanpa berpikir terlebih dulu" Ucap Nimas sambil mengeratkan giginya ketika mengetahui Nadhira melompat masuk kedalam danau itu demi mencari gelangnya.


Nadhira tidak menyangka bahwa air didalam danau itu melebihi tinggi badannya, Nadhira yang tidak bisa berenang pun tetap berusaha untuk mencari gelang yang sangat berharga baginya itu, hingga tiba tiba air danau yang tadinya beriak seketika menjadi begitu tenang kembali.


Nadhira terus merabah apa yang ada didasar danau tersebut hingga secercah cahaya redup terlihat oleh Nadhira dan Nadhira segera menggerakkan tangannya untuk meraih secercah cahaya tersebut, siapa sangka bahwa cahaya itu tercipta dari pantulan permata yang ada digelangnya.


Nadhira merasa senang karena dapat menemukan kembali gelang yang sangat berharga baginya itu, dirinya segera menggenggamnya dengan erat akan tetapi siapa sangka bahwa Nadhira tidak mampu untuk naik kembali ketepian.


Theo terus berteriak memanggil nama Nadhira, ia memperhatikan setiap pergerakan dari air yang ada didanau itu yang perlahan lahan mulai terlihat tenang, dan ia mencoba untuk mengetahui dimana keberadaan dari Nadhira.


"Dhira! Apa yang terjadi".


Didalam air itu nafas Nadhira mulai tidak stabil, seketika itu juga Nadhira dapat melihat bayangan wajah Rifki yang tersenyum kepadanya dan Nadhira pun ikut tersenyum, Nadhira mencoba menggapai tangan Rifki akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk melakukan itu.


"Rifki, kau datang?" Batin Nadhira bertanya.

__ADS_1


Rifki melambaikan tangan kepada Nadhira dan bayangannya perlahan lahan mulai memudar dari hadapan Nadhira, hingga membuat Nadhira memejamkan kedua matanya.


Nadhira tenggelam didanau itu hingga mencapai dasarnya karena dirinya tidak bisa berenang, dan sudah begitu banyak air yang masuk kedalam pernafasannya, hal itulah yang membuat air didanau itu kembali tenang, Theo yang menyaksikan itu segera melompat masuk kedalam danau dan hal itu membuat perhatian orang orang terarah kepadanya.


Theo menyelam ke danau itu dan terus mencari keberadaan dari Nadhira, meskipun begitu sangat gelap didalamnya akan tetapi karena cahaya pantulan dari sinar bulan membuat Theo mampu melihat hanya disekitarnya saja.


"Dhira dimana kamu" Batin Theo yang terus menyelam mencari keberadaan Nadhira.


Melihat itu membuat Nimas segera memunculkan sebuah petunjuk kepada Theo agar dapat menemukan tubuh Nadhira yang terbaring dengan lemahnya didasar danau, Nimas memancarkan sebuah cahaya kemerahan melalui telapak tangannya dan Theo yang melihat cahaya itu begitu terkejut dan segera mendatangi cahaya tersebut.


Nimas membawa Theo menuju ketempat dimana Nadhira saat ini, ketika jaraknya sudah dekat Theo segera mengetahui keberadaan Nadhira dan mengangkat tubuhnya untuk membawa Nadhira menuju ketepi danau.


Ditengah tengah tenangnya danau itu seketika kepala Theo muncul ditepi air, dan membawa Nadhira menuju ketepi danau, Nadhira yang sudah tidak sadarkan diri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Dhira, sadarlah".


Theo segera membaringkan tubuh Nadhira dibebatuan yang ada ditepi danau, melihat itu orang orang segera menghampirinya untuk mengetahui tentang keadaan keduanya.


"Seperti begitu banyak air yang telah ia hirup".


"Kasihan sekali gadis yang malang itu, untung saja dia masih bisa ditemukan".


"Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukannya pagar pembatas itu begitu aman".


Begitu banyak orang yang berkomentar tentang kejadian malam ini, Theo segera menekan dada bagian atas Nadhira untuk mengeluarkan air yang sudah masuk kedalam pernafasannya.


Nadhira pun segera terbatuk batuk hingga air itu keluar melalui mulut dan hidungnya, akan tetapi Nadhira masih terlihat begitu lemas meskipun air air itu telah keluar dari dalam tubuh Nadhira.


"Hei coba kau beri nafas buatan pada pasanganmu itu, dia butuh nafas buatan".


"Nafas buatan?" Bengong Theo.


"Apa! Tidak! Itu ide yang sangat buruk, Dhira sebaiknya kau cepat sadar sebelum bocah tengik ini memberimu nafas buatan, sadarlah Dhira" Ucap Nimas yang terkejut dengan saran itu.


Nadhira tidak dapat mendengar ucapan dari Nimas dengan begitu jelas, Nadhira hanya mendengar bahwa suara itu terlihat begitu samar samar karena telalu banyak orang yang tengah berbicara disekitar dirinya yang terbaring.


Meskipun Nadhira terbaring dengan memejamkan kedua matanya dengan begitu lemahnya, akan tetapi dirinya masih mampu untuk mendengarkan perkataan mereka dan yang Nadhira dengar hanyalah suara bergemuruh saja.


Dengan ragu ragu Theo segera mendekatkan wajahnya kepada Nadhira, Theo dapat melihat wajah Nadhira dengan begitu jelas, hal itu membuat Nimas segera menutup kedua matanya menggunakan tangannya karena ia tidak ingin melihat adegan itu hingga membuat matanya ternodai.


Beberapa detik kemudian wajah Theo dan Nadhira saat ini hanya berkisar beberapa senti meter saja, tapi tiba tiba Nadhira segera membuka matanya dan dirinya begitu terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh Theo kepadanya hingga membuat Nadhira mendorong tubuh Theo menjauh darinya.


"Apa yang kau lakukan Theo!"


Theo yang tiba tiba didorong oleh Nadhira tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga membuatnya terdorong kebelakang hingga jatuh terduduk disamping Nadhira, Nadhira segera bangkit duduk dari terbaringnya.


Melihat Nadhira yang sudah sadarkan diri membuat orang orang yang sedang memutarinya segera membubarkan diri masing masing karena Nadhira sudah sadarkan diri jadi tidak perlu lagi ada yang dicemaskan dari kejadian ini.


"Aku hanya menolongmu Dhira, kenapa kau mendorongku seperti ini".


"Maaf, bukan maksudku untuk mendorongmu seperti itu, aku hanya terkejut saja tiba tiba wajahmu begitu dekat dengan wajahku".


Theo segera membersihkan tangannya yang kotor karena pasir setelah dirinya didorong oleh Nadhira diair danau jernih yang ada didekatnya, Nadhira merasa sedikit bersalah karena telah mendorong Theo dengan begitu kerasnya.


Nadhira juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Theo yang sedang membersihkan tangannya yang kotor karena pasir yang menempel ditangannya itu.


"Kenapa kamu lompat kedanau seperti itu? Sudah tau tidak bisa berenang, kenapa harus nekat untuk masuk kedanau, bagaimana kalau kamu tidak bisa diselamatkan?" Ucap Theo dengan nada marahnya karena dirinya merasa cemas kepada Nadhira.


"Maafkan aku Theo, aku hanya tidak ingin kehilangan gelang milikku ini" Ucapnya sambil menatap kearah gelang yang ada digenggamnya.


"Hanya karena kau tidak ingin kehilangan gelangmu itu, kau ingin kehilangan nyawamu sendiri begitu? Aku tidak habis pikir dengan dirimu Dhira".


"Meski harus kehilangan nyawa itu bukan masalah bagiku, tapi jika aku kehilangan gelang ini, rasanya aku seperti tidak ingin hidup lagi, gelang ini begitu berharga bagiku Theo, aku tidak ingin kehilangannya" Ucap Nadhira yang sedikit meninggikan suaranya.


"Kau tau Dhira, aku begitu cemas tadi melihatmu yang tiba tiba lompat seperti itu, ada aku disini kenapa tidak menyuruhku untuk mengambilkannya, aku tau gelang itu sangat berharga bagimu, tapi nyawamu ....." Theo tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2