Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki terluka cukup parah 2


__ADS_3

Rifki segera mencabut goloknya dari perut dukun sakti itu dan menendang dukun itu dengan sangat keras hingga membuat dukun yang sangat sakit itu terjatuh diatas tanah dengan kerasnya, Rifki memegangi sebuah pisau yang kini menancap diperutnya dengan tubuh yang gemetaran dan berusaha untuk mencabutnya.


"Aarghhh....." Teriak Rifki ketika mencabut pisau yang menancap tersebut.


Darahnya segera menciprat kemana mana, dirinya pun memegangi kedua senjata itu dimasing masing tangannya, ketika pisau itu berhasil dicabut olehnya seketika tubuhnya ikut terjatuh akan tetapi Rifki gukanan kedua senjata itu sebagai tumpuannya hingga tubuhnya tidak jatuh.


Rifki memegangi perutnya yang kini mengalami pendarahan, baju yang ia kenakan saat ini pun terlihat begitu basah karena terkena darahnya, rasa sakit itu terasa begitu menjalar keseluruhan uratnya.


"Aku harus bangkit demi Dhira".


Rifki kembali bangkit karena dirinya teringat bahwa masih ada orang yang belum ia kalahkan saat ini, Rifki berdiri dengan begitu tegaknya dan dirinya segera berbaik menatap kearah empat orang yang tersisa ditempat itu, Rifki tiba tiba tertawa kearah mereka, dan tawa tersebut mengandung sebuah kesedihan yang mendalam.


Meskipun mulutnya tertawa begitu kerasnya akan tetapi air matanya juga ikut mengalir dengan derasnya, mulut yang kini tengah terpenuhi dengan darah membuat tawa Rifki begitu mengerikan dengan darah yang terus menetes.


"Kini hanya tinggal kalian berempat saja, hahaha..." Tawa Rifki terlihat begitu memilukan, meskipun ia tertawa akan tetapi air mata juga ikut menetes.


"Jangan banyak omong! Kau telah membunuh pemimpin kami!" Ucap salah satu dari mereka dengan geramnya kepada Rifki, karena dirinya mampu untuk mengalahkan mereka semua dan bahkan disaat sudah terluka parah seperti ini dia masih mampu untuk bangkit berdiri dengan tegak.


"Tanpa kehadiran pemimpin kalian itu, kalian semua tidak akan bisa mengambil permata iblis itu ataupun memiliki permata itu".


"Jangan banyak omong! Kami akan membalaskan semua rasa sakit yang dirasakan oleh teman teman kami kepadamu!"


"Membalaskan semua? Apa yang ingin kau balaskan kepadaku? Bukankah kalian dulu yang menyerangku dan orang yang aku cintai? Seharusnya aku yang membalas kepada kalian semua" Ucap Rifki sambil memegangi perutnya.


"Cepat serang anak itu!"


Rifki masih mampu untuk mengangkat kedua senjata kearah keempat orang itu, Rifki berusaha untuk menghabisi mereka agar Nadhira aman dan tidak ada yang akan mengincar nyawanya saat ini meskipun harus dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


Rifki menyerang kearah mereka dengan sempoyongan karena luka tusukan tersebut yang membuatnya sangat menderita dan terlihat begitu lemah saat ini, karena luka tusukan itu membuat keempat orang yang menjadi musuhnya segera memanfaatkan situasi itu untuk menghabisi nyawa Rifki, dan mereka tidak akan melewatkan hal itu.


Darah bercucuran dengan derasnya dari tubuh Rifki, akan tetapi Rifki sama sekali tidak menyerah soal itu dan terus berusaha sebisa mungkin untuk melawan mereka walaupun dalam keadaan yang sudah terluka sangat parah itu.


Rifki sudah pasrah dengan keadaannya saat ini, ia sudah puas karena dapat membunuh orang yang menjadi ancaman untuk Nadhira, meskipun mereka memiliki ilmu kanuragan yang hebat akan tetapi Rifki menyerang mereka kearah titik vatalnya sehingga mereka bisa tumbang begitu saja.


Keempat orang itu segera menyerang kearah Rifki yang tengah terluka parah itu, mereka pun bergilir untuk memukul Rifki yang begitu lemah itu, tubuh Rifki bagaikan sebuah bola bagi mereka hingga Rifki didorong kesana kemari dengan sebuah tendangan maupun pukulan.


"Dimana kesombonganmu itu? Apakah telah lenyap juga ha? Ayo tunjukkan kepadaku kehebatanmu itu" Ucapnya sambil memukul Rifki dan melemparkan tubuh Rifki kepada temannya.


"Akh...".


"Kau telah melukai teman teman kami dengan begitu keji dan bahkan telah membunuh mereka semua, rasakan ini" Ucapnya sambil meninju pipi Rifki hingga jatuh kepada temannya.


"Akh...".


"Apa hanya segini saja kemampuanmu? Jangan harap kami akan mengampunimu setelah kau membunuh teman teman kami" Ucapnya sambil menarik rambut Rifki dan memukulnya dengan keras dibagian dadanya.


"Akh..."


Rifki terjauh ditanah dengan tengkurap, ia sudah tidak mampu menahan rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini, akan tetapi keempat orang itu tidak membiarkan Rifki begitu saja, meraka segera membangkitkan Rifki dari tengkurapnya dengan menarik rambut dengan keras.


"Apa hanya segini saja kemampuanmu? Dimana kesombonganmu itu?"


"Hahaha... Kenapa tidak sekalian membunuhku jika kau memang mampu?" Ucap Rifki dengan tertawa meskipun tubuhnya dipenuhi oleh luka dan darah.


"Membunuhmu? Itu sangat begitu mudah bagi kami, dan kami tidak akan melakukan itu sebelum kami bisa menyiksamu lebih kejam lagi".

__ADS_1


"Jika memang begitu, maka siksalah aku, semakin kejam semakin baik bagiku haha... justru yang aku takutkan bahwa aku tidak bisa mati ditangan kalian" Nafas Rifki mulai tersengal sengal dengan darah yang terus bercucuran keluar dari mulutnya.


Salah satu dari mereka segera memegangi tangan Rifki dari belakang dan memeluknya kebelakang, Rifki yang sudah dalam keadaan lemas tidak mampu untuk memberontak, dan dirinya hanya bisa tertawa dengan penuh kesedihan dan penyiksaan dari orang orang itu.


Bhukk


"Arghhhh...."


Salah satu dari mereka segera menendang kearah perut Rifki yang terkena luka tusukan sebelumnya dengan begitu kerasnya hingga membuat dirinya menjerit begitu keras karena rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini.


"Apakah itu sakit?"


"Haha... Apa hanya ini kemampuan kalian untuk dapat menyiksa diriku? Apakah ada yang lebih kejam dan menyakitkan daripada ini?"


"Rupanya kau masih bisa bertahan dengan ini".


"Akh..."


Orang itu pun menancapkan sebuah pisau kepada perut Rifki tepat dimana pisau dari dukun tersebut menancam disana, Rifki hanya bisa mengeram kesakitan tanpa bisa melawan mereka karena tubuhnya yang semakin lemah.


Dengan kerasnya orang tersebut segera mencabut pisau tersebut hingga membuat Rifki merasa seperti nyawanya telah dicabut kedangan kasarnya, ketika pisau itu dicabut seketika itu juga darah mengalir dari ujung bibir Rifki.


Beberapa kali dirinya terus mendapatkan pukulan dan tendangan yang sangat menyakitkan, hingga membuatnya tidak berdaya seperti ini, Rifki berpikir mungkin inilah akhir bagi dirinya dan ini adalah karma baginya karena telah melukai bahkan membunuh orang orang yang ada ditempat itu.


Hingga akhirnya tubuhnya terpental dan akan terjatuh ketanah, akan tetapi tiba tiba tubuhnya menabrak seseorang dan dirinya terjatuh dalam pelukan orang itu, sementara orang itu segera memeluknya dengan erat, orang itu tidak lain adalah Nadhira yang kini tengah memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, sementara Rifki yang merasakan pelukan itu dirinya merasa sangat tenang.


Rifki merasa bahagia ketika merasakan pelukan dari Nadhira, Rifki menikmati pelukan tersebut dengan begitu damainya, dan dia berpikir apakah ini adalah pelukan terakhir kalinya dari Nadhira yang mampu ia rasakan karena setelah ini diri tidak mengetahui apakah dia akan tetap hidup ataupun pergi terlebih dahulu sebelum Nadhira.


Tanpa Rifki ketahui bahwa kini Nadhira tengah menatap kearah keempat orang itu dengan penuh kemarahan, dan tanpa Rifki sadari bahwa kini kedua tangan Nadhira mengepal begitu kuatnya sampai sampai darahnya menetes karena kuku jari tanganya yang menancap ketelapak tangannya.


"Dhira, akhirnya kau terlihat baik baik saja saat ini, dan gerhana bulan merah darah telah berakhir, kau akan aman setelah ini" Ucap Rifki dengan lemahnya dan seutas senyuman tercipta diwajahnya ketika mengetahui bahwa Nadhira baik baik saja.


"Rifki bertahanlah, aku mohon" Ucap Nadhira dengan linangan air mata.


"Aku sudah menepati janjiku kepada Oma mu Dhira untuk dapat melindungimu malam ini, kini aku sudah merasa lebih tenang karena aku mengetahui bahwa kau baik baik saja"


Nadhira memeluk tubuh lemah Rifki dengan sangat eratnya, dirinya pun merasakan bahwa baju yang ia pakai juga terasa basah karena darah yang kaluar dari perut Rifki, Nadhira yang merasakan darah itu membuatnya semakin murka kepada keempat orang yang tengah berdiri dihadapannya itu.


"Kalian telah melukai Rifkiku seperti ini, dan aku tidak akan membiarkan kalian hidup setelah ini! Kalian harus membayar semuanya".


Nadhira pun membaringkan tubuh Rifki yang begitu lemahnya diatas tanah dengan perlahan lahan, setelah itu dirinya mengambil dua buah golok yang berada tidak jauh darinya, dan segera menyerang kearah empat orang tersebut dan hal itu membuat keempatnya segera bersiap siap untuk menerima serangan yang tiba tiba itu.


"Meskipun aku hidup hanya memiliki satu ginjal saja, itu tidak akan membuatku menyerah untuk kali ini demi Rifkiku, dengan satu ginjal saja sudah mampu untuk membunuh kalian" Guman Nadhira pelan.


Keempatnya dibuat kewalahan oleh Nadhira, Nadhira menyerang mereka tanpa ampun sedikitpun untuk membalaskan rasa sakit hatinya dengan apa yang telah mereka lakukan kepada Rifki saat ini, Nadhira pun menyayat tubuh mereka dengan mudahnya.


Setelah cukup lama bertarung hingga akhinya tiga orang telah gugur ditangan Nadhira, akan tetapi tinggal satu orang yang masih mampu berdiri tegak meskipun kini tengah penuh dengan luka sayatan yang ada dikulitnya.


Nadhira pun memberikan sebuah tebasan kepada orang itu akan tetapi dengan mudahnya ia menangkis tebasan tersebut, entah kenapa setiap serangan yang diberikan oleh Nadhira, orang itu dengan mudah menangkis maupun menghindar.


Hingga membuat Nadhira dipaksa untuk mundur beberapa langkah dan dirinya jatuh berlutut didekat tubuh Rifki yang terbaring dengan lemah dan penuh dengan darah itu.


"Bagaimana aku bisa mengalahkan mereka, mereka sepertinya mengetahui arah dari seranganku kali ini" Ucap Nadhira kebingungan.


"Kaki!" Ucap Rifki kepada Nadhira.

__ADS_1


Nadhira menoleh kearah Rifki yang terbaring dengan lemahnya dan berusaha untuk mengatakan kata 'kaki' kepada Nadhira, Nadhira tidak mengerti maksud dari perkataan Rifki dan dirinya mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh Rifki saat ini.


"Kaki? Baiklah aku mengerti Rif".


Nadhira kembali bangkit dan menyerang kearah orang itu dan melakukan tebasan dari atas kebawah, dan orang itu mampu menghindarinya dengan mudah akan tetapi Nadhira tidak tinggal diam begitu saja, ketika orang itu sedang fokus dengan serangan tangan Nadhira tanpa ia sadari bahwa Nadhira langsung menyerangnya menggunakan kakinya hingga membuat orang itu langsung jatuh.


Melihat orang itu yang sudah terjatuh dengan sangat kerasnya, Nadhira langsung mengayunkan salah satu golok yang ada ditangannya dan menancapkannnya keperut orang tersebut dan seketika membuat orang itu tidak sadarkan diri.


"Kalian sudah mencelakai Rifkiku".


Nadhira bernafas dengan lega ketika mereka semua sudah tumbang ditempat itu, dirinya segera bergegas mendatangi Rifki yang sedang terbaring dengan lemahnya itu.


Nadhira segera mengangkat kepala Rifki dan membaringkannya kedalam pangkuannya, dan sesekali dirinya memeluk tubuh Rifki dengan penuh tangisan dan linangan air mata.


"Rifki, jangan tinggalkan aku hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika.


"Aku belum mati Dhira, jangan menangisiku seperti itu, kalau aku sudah mati saja menangislah, lihatlah langit malam ini begitu cerah dan indah, bertaburkan bintang bintang yang bergemerlapan" Ucap Rifki sambil membuka kedua matanya yang indah dan menatap kearah langit dimalam hari ini.


"Kau harus bertahan demi diriku Rif hiks.. hiks.. hiks.. aku tidak mau kehilangan dirimu, ini semua salahku hiks.. hiks.. hiks.. "


"Aku belum memilikimu seutuhnya Dhira, sebelum itu terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu kok hehehe" Ucap Rifki sambil menerbitkan sebuah tawa dari mulut yang penuh darah itu.


Disaat seperti ini Rifki masih tetap berusaha untuk tertawa dihadapan Nadhira, melihat itu membuat tangisan Nadhira terdengar begitu memilukan dan air mata Nadhira menetes memgenai kening Rifki, akan tetapi Rifki tidak mampu untuk menghapus air mata tersebut karena tubuhnya begitu lemah saat ini.


"Kenapa langit yang cerah ini tiba tiba tercipta segumpal mendung, apakah langit akan menurunkan air matanya" Ucap Rifki ketika merasakan tetesan air mata Nadhira yang jatuh itu.


"Rifki hiks.. hiks.. hiks.. bertahanlah demi diriku, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu Rifki hiks.. hiks.. hiks.. Ya Allah hamba mohon jangan ambil Rifki dariku sekarang, jika Engkau ingin mengambilnya maka ambillah nyawaku terlebih dahulu"


"Maafkan aku akh.. karena aku tidak bisa menghapus air matamu itu akh..".


Setelah mengatakan itu, Rifki pun ikut meneteskan air matanya karena dia tidak mampu untuk menghapus air matanya kali ini, membiarkan orang yang dicintainya menangis adalah luka terberat baginya, begitu tidak berdayanya dirinya itu dan bahkan menghapus air mata itu tidak mampu.


Nadhira mengusap pelan pipi Rifki dan menghapus bercak darah yang ada diujung bibir Rifki dengan perlahan lahan, wajah yang tampan itu kini terlihat begitu memilukan dengan beberapa luka memar dan darah yang membasahinya.


"Kau harus bertahan demi diriku Rifki, ini semua salahku hingga kau terluka seperti ini Rif, maafkan aku Rifki, jangan tinggalkan aku sendirian didunia ini, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu".


"Boleh aku minta sesuatu kepadamu Dhira? Akh.."


"Katakan Rif hiks.. apapun akan aku lakukan demi dirimu Rifki hika.. hika.. hika.."


"Biarkan akh.. aku melihat senyumanmu Dhira, aku ingin akh.. tidur dengan tenang malam ini, dibawah taburan bintang bintang yang indah, sebelum aku tidak mampu akh.. melihatnya lagi uhuk... Uhuk...".


Nadhira mencoba untuk memaksakan diri agar dapat tersenyum dihadapan Rifki, sesuai dengan keinginan dari Rifki kepadanya, senyum itu adalah senyum yang paling menyakitkan baginya, dipaksa tersebut dengan keadaan seperti ini adalah sebuah luka paling dalam untuk Nadhira.


"Te rima ka sih Dhira, biar kan a ku ti dur se ben tar sa ja" Ucap Rifki sambil memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin malam ini.


"Hiks.. hiks.. hiks.. jangan tinggalkan aku Rifki, Aarghhhh.... Rifkiii.. jangan tinggalkan aku seperti ini Rifki!! Arghhh.... " Teriak Nadhira ketika Rifki mulai memejamkan kedua matanya itu.


Nadhira memeluk tubuh Rifki yang kini tertidur dipangkunya, pelukan itu begitu erat, dan dapat terdengar suara isak tangis dari mulutnya, kehilangan orang yang paling dicintai adalah suatu hal yang begitu menyakitkan.


Nadhira menangis sambil memeluk tubuh Rifki yang sudah tidak berdaya itu dengan eratnya, Rifki masih dapat mendengar isak tangis tersebut meskipun terdengar samar samar, Rifki memejamkan matanya dan merasakan tubuhnya begitu sakit karena banyaknya luka yang sudah ia terima sebelumnya.


"Rifki, aku sangat mencintaimu, terima kasih telah hadir dalam hidupku, kau adalah orang yang paling aku sayangi, terima kasih telah menciptakan sebuah tawa dalam hari hariku, terima kasih telah melindungi diriku selama ini, terima kasih telah membuatku mampu untuk bertahan sampai detik ini, aku mohon jangan tinggalkan diriku" Bisik Nadhira pelan kepada Rifki yang terbaring tidak berdaya.


Rifki yang mendengar bisikan tersebut menetes air matanya dari pelupuknya, dirinya bahkan tidak mengetahui sampai kapan dirinya akan mampu untuk bertahan dengan luka luka ini, untuk membuka mata saja dia tidak mampu dan dirinya hanya mampu untuk mendengarkan suara Nadhira.

__ADS_1


__ADS_2