Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira dirawat dirumah sakit 3


__ADS_3

Bayu menggantung ucapannya karena mendapat tatapan tajam dari Rifki dan dirinya pun langsung menutup mulutnya dengan sangat rapatnya, sementara Nadhira yang melihat itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.


"Kau bisa saja Bay, bagaimana aku bisa mati kalau tugasku saja belom selesai didunia ini" Ucap Nadhira dengan tersenyum menanggapi ucapan Bayu.


"Nah kan Si Pangeranmu itu loh terlalu menghawatirkan dirimu, udah ku bilang kalau Dhira ngak bakalan mati eh masih saja melotot kek gitu" Ucap Bayu sambil memonyongkan bibirnya menuju kearah Rifki.


"Apakah itu benar Rif? Apa mungkin itu alasanmu menjadi sangat kurus seperti ini Rif?" Tanya Nadhira kepada Rifki yang sedari tadi diam membisu.


"Jangan dengarkan dia Dhira, dia kalo ngomong emang suka bener, " Sahut Rifki.


"Nah kan apa yang ku bilang, jangan bertindak gegabah lagi Dhira, kau sangat menyusahkan diriku, udah tau kalo harimau ngamuk seperti itu masih saja bikin orang khawatir" Timpal Bayu yang meneruskan perkataan Rifki.


"Kau ini sudah kayak wanita saja Bay, terlalu banyak omong" Ucap Rifki dengan nada sedikit sebal.


"Masih mending diriku Rif, meskipun omongannya kayak perempuan tapi tidak bersikap seperti perempuan juga kali".


"Bay, kau memang cantik"


"Aku cowok lah Rif, jangan memujiku seperti itu, nanti kedua cewek ini akan cemburu denganku, iya aku tau memang aku tampan, mau rambut dipanjangin kek cewek pun akan terlihat cantik".


"Untung aku lelaki normal dan tidak menyukai sesama jenis"


Nadhira dan Susi yang mendengar perkataan kedua teman laki lakinya itu langsung tersenyum, Susi yang tidak mampu menahan tawanya tersebut langsung tertawa dengan kerasnya, sementara Nadhira hanya bisa tersenyum karena kalau dia tertawa perutnya masih sakit.


"Rifki ayo kita kembali kekamar, biarkan mereka bedua disini" Ajak Nadhira.


"Baiklah Tuan Puteri yang terhormat".


Rifki pun segera mendorong kursi roda Nadhira untuk pergi dari tempat itu dan membiarkan Bayu dan Susi begitu saja, melihat itu membuat Susi segera menghentikan Rifki.


"Kalian mau kemana?" Tanya Susi.


"Aku sudah ngantuk, ingin istirahat, sebaiknya kalian lanjutkan saja bertemannya, kalau sudah akur nanti kabari ya" Ucap Nadhira.


"Eh kenapa kau meninggalkanku disini Dhira" Protes Susi kepada Nadhira.


"Sudahlah, lanjutkan saja ngobrolnya daa"


Rifki pun segera mendorong kursi roda itu untuk pergi dari tempat itu dan menuju keruang rawat inap Nadhira, setelah sampai disana Rifki lalu membantu Nadhira untuk tidur dikasur yang telah disediakan.


"Apa kau lapar Dhira? Kau harus makan lebih banyak untuk proses penyembuhanmu, dan harus makan makanan yang sehat dan bergizi".


"Aku terlalu kenyang Rif, rasanya setiap satu jam sekali kau menyuapiku tak henti henti, bagaimana kalau nanti aku jadi gendut? Terus ngak bisa jalan ataupun berlari lagi".


"Mungkin didalam perutmu nanti ada dedek bayinya kali Dhira, mangkanya gendut".


"Ih kau ini, serius dikit bisa ngak sih, masak iya aku punya dedek bayi dalam perutku? Padahal kan aku belom nikah juga".


"Apa kau lupa dengan kejadian malam itu? Bisa jadi kan ada anakku didalam perutmu" Tanya Rifki dengan wajah sumringah.


Padahal kenyataannya dirinya lah yang paling berdegup kencang ketika ia hendak terpeleset dan bibirnya hendak menyentuh bibir Nadhira, untung saja Rifki masih mampu menahannya waktu itu, saat itu Rifki yang kebingungan sendiri.


"Rifki!! Nyebelin banget sih jadi orang, apa yang telah kau lakukan denganku? Aku kan ngak tau, jadi kau benar benar telah melecehkan diriku?" Ucap Nadhira dengan sebalnya hingga wajahnya memerah bagaikan tomat.


"Sepertinya aku perlu memberimu minum beralkohol lagi deh Dhira, kau terlihat menggemaskan disaat kau sedang mabuk seperti itu, dan saat kau mabuk kau lebih agresif daripada disaat kau sadar, kau pun sampai sampai membuat diriku kewalahan"


"Apa yang telah aku lakukan waktu itu? Kau kan yang telah membuka resleting bajuku waktu itu? Ngaku kau sekarang Rif!" Nadhira menuding kearah Rifki.


Melihat tuduhan yang diberikan oleh Nadhira hanya membuat Rifki tertawa terbahak bahak, dan berhasil membuat Nadhira semakin malu dihadapan Rifki, melihat Rifki yang tidak bisa berhenti tertawa membuat Nadhira langsung memukulnya.


Pukulan itu tidak begitu menyakitkan bagi Rifki karena kondisi Nadhira yang masih lemah saat ini, akan tetapi Rifki berpura pura kesakitan karena pukulan tersebut yang diberikan oleh Nadhira.


"Auh sakit Dhira, kenapa harus pake kekerasan sih, kau telah melakukan kdrt kepadaku Dhira" Keluh Rifki sambil mengusap dadanya yang sempat dipukul Nadhira itu.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku sekarang juga Rifki! Apa yang telah kau lakukan dengan diriku waktu itu? Berani sekali kau melecehkan diriku disaat aku sedang dibawa kendali minuman beralkohol, kau begitu tega dengan diriku Rifki".


"Aku tanya kepadamu Dhira, kenapa kau minum minuman seperti itu? Udah tau kalau mabuk ngak bisa inget semuanya, malah diminum juga, untung saja kau bertemu denganku kalo terjadi sesuatu kan aku sendiri bisa tanggung jawab kalau kau hamil, kalau bertemu yang lainnya bagaimana? Bisa bisa kau tinggalkan dalam keadaan bunting tau ngak?".


"Jadi kau benar benar telah melecehkan diriku Rif? Katakan Rifki! Aku ingin tau kejadian malam itu, apa yang telah kau lakukan pada diriku"


"Mungkin seperti ini"


Rifki pun mendekatkan wajahnya kepada wajah Nadhira hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti saja, melihat wajah Rifki yang begitu dekat membuat jantung Nadhira menjadi tidak aman, ia pun sedikit berkeringat dingin karena apa yang saat ini dilakukan oleh Rifki.


Nadhira pun dapat merasakan hembusan nafas Rifki yang ada didepannya saat ini, meskipun Rifki terlihat tenang akan tetapi detak jantungnya sudah tidak mampu untuk dikondisikan lagi, semakin lama semakin berdegup kencang bak lari lomba maraton.


Rifki pun tersenyum dengan misteriusnya, dan hal itu sontak membuat Nadhira malu sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, Nadhira lalu memukul dada Rifki hingga Rifki menjauh dari wajahnya, hal itu membuat Rifki tertawa terbahak bahak.


Melihat tindakan yang dilakukan oleh Rifki membuat Nadhira benar benar kebingungan dengan apa yang terjadi, pikirannya pun terus mengatakan bahwa Rifki telah melecehkan dirinya tanpa sepengetahuan ataupun persetujuannya.


"Kau lebih dari buaya darat Rif, ku pikir kau lelaki yang baik, tapi ternyata kau sudah berani sekali menodai diriku ini Rif" Ucap Nadhira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan kepadaku saja Dhira, apa kau sama sekali tidak mengingatnya sedikitpun itu? Apa yang aku lakukan adalah meniru gayamu, lagian mana ada buaya darat yang seperti diriku?"


"Sana menikah saja dengan Syaqila, kau lebih cocok dengan dirinya itu".


"Yakin nih nyuruh aku menikah dengan Syaqila? Memang sih dia lebih cantik, mungkin saranmu itu sangat bagus Dhira" Goda Rifki dan langsung membuat Nadhira menatap tajam kearah Rifki yang tengah tersenyum tipis.


"Kau harus tanggung jawab pada diriku Rif! Kau telah melecehkan diriku saat aku mabuk".


"Ah mungkin itu ide yang sangat bagus Dhira, apa perlu aku panggilkan penghulu untuk datang kemari sekarang juga Dhira? Biar ketika kau pulang dari rumah sakit nanti kita sudah halal".


"Rifki, bisa ngak sih sedikit serius gitu? Jangan bercanda mulu seperti ini, bercandamu ngak lucu sama sekali tau".


"Kau bilang sendiri kepadaku tadi kan kalau aku harus bertanggung jawab pada dirimu kan? Aku serius Dhira, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya, mau dipanggilkan Bapak penghulu sekarang juga? Biar aku panggilkan Bi Ira, Pak Mun, Pak Santo, Kakek dan lainnya, biar jadi saksi pernikahan dadakan kita juga"


"Ngak mau, aku marah pada dirimu, aku sangat sebal denganmu Rifki".


"Kau pembohong Rif, mana mungkin aku seperti itu, Bayu sendiri yang bilang kepadaku kalau dia yang menemukan diriku waktu itu, bukan kau"


"Tanyakan saja kepadanya, dia ada didepan ruang rawatmu ini sekarang, mau aku panggilkan?".


"Ngak usah! Jelas kalian sudah kong kalikong sebelumnya kan".


"Baiklah terserah apa maumu".


"Apa benar kejadiannya seperti itu" Batin Nadhira menjerit jerit.


Nadhira pun merasa malu dengan perkataan dari Rifki seperti itu, entah itu kebohongan Rifki atau bukan sama saja membuat dirinya malu sendiri, sementara Rifki terlihat sedang menguap karena rasa ngantuknya yang muncul tiba tiba.


Rifki pun akhinya menyandarkan kepalanya dikasur yang dipakai oleh Nadhira berbaring saat ini, melihat itu membuat Nadhira menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Rifki dengan perlahan lahan.


"Rif, apa kau sudah tertidur? Tidurlah disofa agar bisa berbaring dengan nyenyak, daripada kau disini tidur sambil duduk nanti tubuhmu akan meresa sakit loh" Ucap Nadhira sambil mengusap kepala Rifki.


"Ngak mau Dhira, aku ingin tidur disini sambil menjaga dirimu agar tidak jatuh".


"Baiklah, terserah apa yang kau mau Rif".


"Tidurlah Dhira, setelah bangun nanti aku akan menyuapimu lagi, kau tidak boleh menolak".


"Iya iya".


Rifki pun memejamkan kedua matanya dan tidur dengan nyenyak disamping Nadhira, melihat itu membuat Nadhira ikut serta tidur meskipun tangannya masih sempat untuk mengusap pelan kepala Rifki saat ini.


"Selamat tidur Rifki, mimpi indah".


Nadhira merasa sangat beruntung karena adanya Rifki yang selalu menemaninya dan tidak pernah meninggalkan dirinya walaupun hanya sesaat, mungkin karena Rifki terlalu kelelahan sehingga dirinya mampu tertidur dengan sangat cepatnya.

__ADS_1


Merasakan usapan lembut dari Nadhira membuat Rifki mampu masuk kedalam dunia mimpinya dengan sangat cepat, karena begitu nyamannya hingga Rifki sendiri tidak menyadari kapan dirinya tertidur, sementara Nadhira sendiri juga tidak tau kapan dia tertidur seperti itu.


Beberapa puluh menit kemudian Rifki mengangkat kepalanya dan menatap kearah Nadhira yang sudah tertidur dengan nyenyak, melihat Nadhira yang tidur dengan damainya membuat Rifki meneteskan air matanya begitu saja.


Entah ujian seperti apa yang dihadapi oleh Nadhira selama ini, Rifki selalu merasa sedih ketika mengingat bahwa saat ini Nadhira hanya memiliki satu ginjal saja, sementara orang yang hidup dengan satu ginjal sangatlah tidak mudah seperti apa yang dibayangkan oleh orang lain.


Melihat Nadhira tidur dengan nyenyaknya seperti ini membuat Rifki merasa damai, akan tetapi ingatan ingatannya tentang ucapan Dokter waktu itu membuatnya merasa sedih.


Sudah sebulan Nadhira tidak sadarkan diri, hanya melalui selang Nadhira mendapatkan tenaga untuk bertahan hidup, akan tetapi meskipun keadaan Nadhira memburuk seperti itu, Rendi tidak pernah datang untuk menjenguknya.


"Dhira kenapa kau lakukan itu? Dan bahkan disaat kau sakit seperti ini pun dia tidak datang meski hanya untuk sekedar menjengukmu, aku tidak tau kesulitan apa yang telah kau lalui selama ini, aku terluka ketika mengetahui bahwa Om Rendi mengatakan bahwa kau bukan anaknya, pengorbananmu sia sia Dhira" Ucap Rifki dengan pelannya.


Rifki pun tidak habis pikir dengan Nadhira, sementara beberapa kali dirinya menghubungi Rendi akan tetapi sama sekali tidak ada respon yang diberikan oleh Papa dari Nadhira itu dan hal itulah yang membuat Rifki semakin terluka.


Meskipun dia tau bahwa Nadhira bukanlah anak kandungnya tapi biar bagaimanapun juga mereka pernah tinggal bersama dan Rendi juga telah menyaksikan Nadhira tumbuh dewasa, bagaimana mungkin Rendi tidak peduli dengan kondisi Nadhira seperti ini.


Nadhira telah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolong Rendi tapi apa yang telah Rendi lakukan kepadanya, dia bahkan tidak peduli dengan apapun yang terjadi kepada Nadhira saat ini, sejak mengetahui bahwa Nadhira hanya memiliki satu ginjal, hal itu membuat Rifki tidak berhenti untuk terus memikirkan tentang keadaan Nadhira.


"Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi Dhira, sudah cukup mereka menyakitimu" Ucap Rifki sambil mengepalkan tangannya.


Rifki mengenggam erat tangan Nadhira yang sedang tidak dipakaikan infus, sementara tangan Nadhira yang satunya sudah terlihat sedikit membengkak karena terlalu lama dipasang oleh sebuah jarum.


Nadhira tertidur dengan begitu sangat nyenyaknya kali ini, ia bahkan tidak merespon genggaman tangan Rifki, melihat itu membuat Rifki merasa tenang akan tetapi air matanya terus menetes.


Nadhira yang merasakan adanya air yang mengenai tangannya membuat dirinya menggerakkan tangan yang sedang digenggam oleh Rifki saat ini, ia pun mengernyitkan dahinya.


"Apa gentingnya bocor?" Tanya Nadhira dengan suara serak kas bangun tidur.


"Kau sudah bangun Dhira?" Tanya Rifki.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Nadhira ketika melihat kedua mata Rifki yang sedikit memerah.


"Ngak, cuma kelilipan aja Dhira".


"Bohongmu ngak lucu Rif, kayak anak kecil aja yang bisa di bohongi, katakan kepadaku, kenapa menangis seperti itu? Siapa yang telah menyakitimu? Jangan sembunyikan apapun dariku Rif".


"Hanya dirimu yang menyakitiku Dhira, rahasia apa yang kau sembunyikan dariku?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu Rif".


"Coba lihat perutmu".


Nadhira lalu memegangi perutnya dengan kedua tangannya, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rifki saat ini, sementara Rifki yang melihat Nadhira melipat tangannya membuatnya menatap tajam kearah Nadhira.


Melihat tatapan yang diberikan oleh Rifki membuat Nadhira hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang saat ini dibicarakan oleh Rifki, entah ada apa dengan perutnya saat ini hingga membuat Rifki begitu tertarik untuk melihatnya.


"Apa maksudmu? Ada apa dengan perutku? Jangan bilang kau sudah melecehkan diriku dan ada anakmu didalam perutku, itu sama sekali tidak lucu Rif, aku tidak hamil Rif, aku tidak menyembunyikan apapun darimu" Tanya Nadhira dengan kebingungan dan menuduh Rifki yang bukan bukan.


"Lihat perutmu sekarang Dhira"


"Ngak boleh, kita bukan mahram, kau tidak boleh melihat perutku, nanti kau khilaf lagi"


"Aku mau jadi mahrammu sekarang Dhira, jangan ada yang dirahasiakan dariku Dhira".


"Aku ngak ngerti apa yang kau bicarakan Rif, rahasia apa yang kau bicarakan itu".


"Aku akan menunggumu sampai kau mau mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku Dhira".


Nadhira hanya bisa berdiam diri tanpa tau apa yang dikatakan oleh Rifki, sementara Rifki hanya menghela nafasnya saja, bertanya dengan Nadhira hanya membuatnya semakin sedih, dan belum tentu juga Nadhira mau untuk menjawabnya dengan jujur.


Tok tok tok


Tiba tiba terdengar suara seseorang yang sedang mengetuk pintu ruang rawat Nadhira, tidak biasanya seseorang datang mengetuk pintu terlebih dahulu, bahkan jika itu Dokter sekalipun itu mereka akan langsung masuk kedalam kamar inap.

__ADS_1


__ADS_2