
Sungguh beruntung majikan perempuannya itu karena memiliki seorang lelaki yang baik hati seperti Rifki, begitu banyak orang yang iri dibuatnya, Rifki hanya melirik kearah mereka sekilas dan langsung membalikkan pandangannya kearah Nadhira.
"Bi Sari! Bi Sari!" Panggil Nadhira ketika dirinya sudah diturunkan oleh Rifki.
"Iya ada apa Non?" Tanya Bi Sari yang langsung bergegas untuk mendatangi Nadhira.
"Tolong masakkan sesuatu untuk Tuan Muda ini, dia sedikit rewel dalam makanan, entah mau makan apa dia tolong buatkan sesuatu yang paling enak"
"Baik Non Dhira"
"Mulutnya itu loh, gemes banget deh" Ucap Rifki seraya mencubit pipi Nadhira.
"Kan memang bener sayang"
"Bilang aja kalo kamu juga ingin"
"Ada apa ini ribut ribut?" Ucap Stevan yang baru keluar dari kamarnya.
"Kakak kemana saja dari tadi ngak ada kabar? Keluar kamar aja ngak, aku kira lagi pingsan berdua didalam kamar tadi" Tanya Nadhira kepada Stevan.
"Kakakmu noh muntah muntah dari pagi sampe malem tak henti henti, aku bingung harus seperti apa agar dia berhenti muntah muntah"
Stevan mengeluh tentang Nandhita yang terus memuntahkan isi perutnya tak henti henti, sedikit makanan yang masuk kedalam mulutnya akan keluar dengan berbagai macam makanan keluar bersama muntahannya itu.
"Seharusnya Kakak ipar lebih sabar, diurut dong pake minya angin" Ucap Rifki.
"Bisa bisanya lo bilang kayak gitu, nanti kalo Nadhira ngidam lebih parah daripada Nandhita baru tau rasa lo, lihat saja nanti"
"Aku kan suami siaga, haha... Aku hanya ngasih saran saja Kakak ipar, dipake ya alhamdulilah ngak dipake ya ngak apa apa"
"Lihat saja nanti, dijamin dirimu akan kewalahan untuk ngurusin Nadhira"
"Kakak ipar ngak boleh bilang seperti itu, ucapan adalah doa, bagaimana nanti kalo aku beneran membuat Rifki kewalahan?" Ucap Nadhira.
"Ya bagus dong, itu kesempatan kamu Dhira untuk membuat lelaki ini kewalahan, kau bisa menghukum dirinya itu dengan alasan ngidam"
"Benarkah? Kata Mama mertua tadi juga seperti itu, dia bikin Papa mertua kewalahan gara gara hamil nih anak satu" Ucap Nadhira menunjuk kearah Rifki.
"Apa saja yang dikatakan oleh Mama?" Rifki menjadi penasaran dengan hal yang diceritakan oleh Putri kepada Nadhira itu.
"Banyak hal sayang"
"Oh iya, sekitar semingguan lagi kami berdua akan terbang keluar negeri, kami sudah pesan tiket"
"Secepat itu? Kenapa harus buru buru balik keluar negeri sih, kenapa ngak buat rumah saja disebelah rumah Dhira"
"Adik ipar yang baik hati, Om mu sudah menyuruh kami balik secepatnya, banyak kerjaan yang belom aku kerjakan disana, apalagi disini tidak ada yang aku kerjakan, aku juga ingin Mama mengurus Nandhita yang muntah muntah seperti itu"
"Emang bisa keadaan Kakak yang muntah muntah bisa naik pesawat? Nanti malah parah lagi"
"Dhira sayang, mereka punya kehidupan masing masing, kamu tidak bisa memaksa mereka untuk tetap disini, apa kamu tega Kak Dhita sama Kakak iparku yang tampan ini berpisah jauh? Apalagi sekarang kondisi Kak Dhita seperti itu" Sela Rifki.
"Lalu bagaimana kalo aku rindu dengan Kakakku? Ngak bisa ketemu dong"
"Kita calling saja, saling memberi kabar, lagian disana Kak Dhita juga ngak sendiri, ada Om David dan keluarga kecilnya juga"
"Jagain Kakakku, jangan buat dia menangis" Ucap Nadhira dengan cemberut.
"Beres Nona Muda Abriyanta" Jawab Stevan dengan semangatnya.
*****
Beberapa hari kemudian, Rifki sudah lama tidak mengunjungi markas besar Gengcobra, sejak pagi Rifki sudah berada didalam markas, karena ini hari libur sehingga dia mendatangi markas tersebut untuk memeriksa perkembangan dimarkas.
"Bay, bagaimana latihan anggota Gengcobra belakang ini? Apa meningkat?" Ucap Rifki seraya melewati lorong yang ada dimarkas.
"Seperti yang kamu lihat sekarang Rif, banyak anak baru yang membuat aturan seenaknya sendiri" Ucap Bayu yang berjalan disebelah Rifki.
"Kenapa bisa dilolosin sih!" Teriak Rifki.
"Ini keteledoran salah satu anggota Gengcobra sendiri Rif, awalnya mereka terlihat serius tapi setelah memasuki markas sikap mereka berubah"
"Aku ngak mau tau, KUMPULKAN SEMUANYA!" Bentak Rifki kepada semuanya.
"Baik Rif"
__ADS_1
Rifki segera melangkah kehalaman belakang markas tersebut untuk menunggu anggota yang lainnya kumpul, Rifki terlihat marah ketika mendapat laporan bahwa anak baru yang masuk kedalam markas Gengcobra membuat masalah.
Tak beberapa lama kemudian seluruh anggota Gengcobra datang ketempat itu, Rifki sudah berdiri ditengah lapangan sambil melipat kedua tangannya itu dihadapan mereka semua dan tak lupa dengan tatapan tajam yang dirinya perlihatkan.
"Beberapa minggu ini aku tidak kemarkas, kalian sudah berbuat seenaknya" Ucap Rifki dengan kesal.
Rifki menatap kearah anggota Gengcobra dengan tatapan mengintimidasi satu satu dari mereka, ini benar benar sangat mengecewakan Rifki, karena anggota baru yang masuk dengan beraninya menggunakan atribut Gengcobra untuk menindas orang orang lemah.
"Bay! Suruh maju anggota baru dan juga siapa yang telah meloloskan mereka" Ucap Rifki.
"Baik Tuan Muda"
Bayu pun langsung mendorong beberapa anggota Gengcobra yang sudah menjadi bagian dari anggota Gengcobra sejak lama, dan dengan bantuan dari Reno keduanya pun langsung melakukan perintah dari Rifki.
Ada tiga anggota Gengcobra lama yang ditundukkan didepan Rifki sekarang ini dan juga
"Berapa lama mereka melakukan ini?" Tanya Rifki tanpa menoleh kepada yang lainnya.
"Sekitar dua hari yang lalu kami mendapat laporan Tuan Muda" Jawab Reno.
Rifki memandangi anggota Gengcobra baru tersebut dengan sangat lama, berbagai macam ekspresi yang sulit untuk diartikan tercipta diwajah mereka masing masing, akan tetapi Rifki mampu melihat dengan jelas siapa yang sedang ketakutan disana.
"Siapa yang memasukkanmu kemari?" Tanya Rifki dengan tegas kepada salah satu anggota Gengcobra baru yang dirinya pegangan pundaknya dengan erat.
"Rafli Tuan Muda" Jawabnya dengan ketakutan.
Seorang pemuda yang sedang dipegang oleh Rifki itu pun gemetaran, ditatap oleh Rifki seperti itu membuatnya sangat gelisah, dan dirinya pun membatin agar Rifki segera melepaskan pegangan tangannya itu.
"Set*n! Bodoh kamu Dam! Kenapa orang disini sih! Mati aja sana mati! Sial banget nasibku, semoga orang ini cepet cepet pergi! Kenapa sih orang ini harus datang kemari sekarang!" Batin pemuda itu yang tak henti hentinya mengumpat.
"NGOMONG YANG KERAS! NGAK USAH MEMBATIN, KAU PIKIR AKU TIDAK MENGERTI!" Bentak Rifki.
"Apa!"
Bhuk..
Rifki langsung meninju perut pemuda yang ia pegangi sebelumnya itu, pemuda itu nampak menggeram kesakitan akibat pukulan dari Rifki yang tidak kira kira kekencangannya itu sehingga Rifki memukul pemuda itu layaknya dia yang memukul sebuah tembok dengan sangat kerasnya itu.
Sekali pukul saja, Rifki mampu membuat pemuda itu langsung muntah darah, karena kerasnya pukulan Rifki apalagi sasarannya adalah uluh hati sehingga membuat pemuda itu menggeram kesakitan akibat dari pukulan keras seorang Rifki.
"Maafkan saya Tuan Muda"
Melihat tindakan Rifki yang tiba tiba membuat mereka yang menjadi tersangka itu pun langsung merasa ketakutan apalagi Rifki mengatakan bahwa dirinya mampu mendengar suara batin mereka.
"Pengecut! Maju kalian semua, lawan aku sekarang juga, kalahkan aku jika mampu, berani sekali kalian bermain main dengan diriku!" Ucap Rifki kepada mereka yang menjadi tersangka.
"Tidak Tuan Muda, biarkan aku saja yang menjadi lawan mereka, tanganku sudah gatal" Ucap Bayu.
"Diam kau, sudah lama aku tidak melakukan pemanasan, dan ini saat yang tepat untuk itu, seberapa sih hebatnya mereka sampai sampai merusak nama baik Gengcobra, mungkin minta di eksekusi mati sekarang juga"
"Bunuh saja mereka Tuan Muda, habisi penghianat!" Teriak anggota Gengcobra lainnya.
"Tuan Muda tolong ampuni kesalahan saya, saya sudah mengabdi kepadamu bertahun tahun, apakah pengorbanan saya selama ini tidak dianggap? Apakah anda sudah tidak mempercayai saya lagi?" Tanya Rafli yang menjadi tersangka.
"Mengampunimu? Atas dasar apa aku berhak untuk mengampuni orang sepertimu? Berani sekali kau mengajukan pertanyaan untukku, siapa dirimu?"
"Tuan Muda, saya telah mengabdi kepadamu bertahun tahun, saya tidak pernah mengkhianati anda Tuan Muda, saya hanya..."
Rifki pun menarik kerah bajunya sehingga membuat dirinya itu terdiam, "Hanya ingin naik jabatan? Kurang ajar! Aku paling benci dengan orang orang sepertimu, jadi kesetiaanmu hanya ingin memiliki jabatan dimarkas ini? Kau akan mendapatkan jabatan disini sebagai seorang penghianat Gengcobra"
"Rasakan itu" Guman seseorang pelan yang bahkan tidak dapat didengar oleh orang orang yang ada disekitarnya itu.
Dengan cepat Rifki melemparkan sebuah pisau kecil yang berbentuk seperti pena tersebut kepada orang yang telah berguman sebelumnya, lemparan pisau dari Rifki tersebut langsung kena sasaran dan melukai lengan dari orang itu, dan hal itu sontak membuat semua orang terkejut.
"Akh... Apa yang Tuan Muda lalukan?" Tanya seorang pemuda yang berada dibarisan paling depan.
"Apa yang kau katakan tadi?" Tanya Rifki seraya melepaskan kerah baju Rafli.
"Saya tidak mengatakan apapun Tuan Muda, anda bisa bertanya kepada orang yang ada disebelah saya" Ucap orang itu sambil menelan ludahnya dengan susah payah.
"Pendengaranku lebih tajam dari apa yang kalian semua ketahui, meskipun aku tidak melihat langsung, aku bisa mengetahui siapa pelakunya disini, jangan coba coba untuk menipuku, katakan yang sejujurnya kepadaku sekarang"
"Maksud Tuan Muda, anda menuduh saya sebagai pelakunya?"
"Siapa yang menuduh? Aku hanya bertanya, apa yang kau katakan tadi, kenapa kau ketakutan?"
__ADS_1
"Saya tidak mengatakan apapun Tuan Muda"
"Kau yang paling belakang, maju kedepan sekarang juga" Tunjuk Rifki kearah seseorang yang berada dibarisan paling belakang.
"Saya Tuan Muda?" Tanya orang yang dimaksud.
"Iya maju kedepan"
Dengan santainya orang yang ditunjuk oleh Rifki tersebut berjalan kedepan sesuai dengan permintaan dari Rifki, entah mengapa dirinya sama sekali tidak merasa gugup seperti orang yang dilukai oleh Rifki sebelumnya.
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya orang tersebut setelah dirinya sudah berada dihadapan Rifki.
"Menurutmu siapa pelakunya dari kedua orang ini?" Tanya Rifki dengan sedikit tersenyum kearah pemuda tersebut yang terlihat begitu santai.
Melihat senyuman Rifki membuat pemuda itu ikut tersenyum, ketika melihat pemuda itu tersenyum membuat Rifki langsung merubah ekspresinya menjadi sangat serius, dan hal itu langsung membuat pemuda tersebut bergidik ngeri melihatnya.
"Menurut psikologi, pelaku kejahatan akan terlihat gelisah Tuan Muda, dan bisa saya katakan kalo Rafli tidak bersalah dalam hal ini"
"Kenapa kau sangat yakin bahwa bukan Rafli pelaku dari semua ini?"
"Rafli orang baik Tuan Muda, dia juga sering membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan bantuan, tanpa meminta imbalan"
"Sedangkan disini dia dituduh sebagai pelakunya, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal itu dengan sangat yakin?"
"Semua orang berhak untuk mengutarakan pendapat mereka masing masing, termasuk juga saya Tuan Muda, orang yang dituduh belum tentu benar benar salah, bisa jadi lempar batu sembunyi tangan, seseorang yang melempar akan tetapi yang dituduh lainnya"
"Kau benar benar anggota Gengcobra sejati, berani mengatakan hal yang berbeda didepan seluruh anggota Gengcobra"
"Apa ada hadiah untukku Tuan Muda? Kali aja makan makan gratis gitu"
"Disini kau pun tiap hari makan gratis, kurang gratis gimana lagi?" Ekspresi wajah Rifki langsung berubah menjadi datar.
"Eh maaf Tuan Muda, saya lupa, bolehkah saya kembali ketempat saya sebelumnya?"
"Silahkan"
Orang yang dipanggil oleh Rifki tersebut adalah seseorang yang kalau ngomong suka keceplosan, akan tetapi pendapatnya setiap kali selalu berbeda dengan yang lainnya, dan dirinya sering ditanyai oleh Rifki dalam persoalan yang membingungkan.
Mendengar interaksi antara Rifki dan pemuda itu membuat seseorang yang tengah terluka saat ini terlihat kebingungan, apalagi dengan tatapan seorang Rifki yang sangat sulit untuk dimengerti itu.
Rifki menatap kearah Sahdam tanpa berkedip sedikit pun, sementara yang ditatap oleh Rifki seperti itu langsung berkeringat dingin karena ketakutan dan tangannya sedikit gemetaran, nampak terlihat sebuah senyuman tipis diwajah Rifki dan hal itu membuat Sahdam bergidik ngeri.
Rifki pun beralih untuk menatap kearah Rafli yang terlihat lebih sedikit santai daripada Sahdam, ia pun menatap tajam kearahnya dan hal itu langsung membuat Rafli memberanikan diri untuk menatap kedua mata Rifki.
"Siapa yang memberi dirimu rekomendasi untuk memasukkan anak ini kedalam anggota Gengcobra?" Tanya Rifki kepada Rafli.
"Sahdam yang mengatakan kepadaku, kalau anak ini adalah anak yang tepat untuk masuk kedalam markas Gengcobra Tuan Muda".
Seseorang yang bernama Sahdam itu semakin berkeringat dingin, ketika Rafli menunjuknya sebagai seseorang yang telah merekomendasikan anggota Gengcobra baru kepadanya itu, dan Sahdam adalah orang yang sebelumnya telah dilukai oleh Rifki.
"Lalu kamu langsung percaya gitu? Bodoh sekali dirimu, seharusnya uji dulu sebelum memasukkannya kedalam markas Gengcobra"
"Ini kelalaian saya Tuan Muda, tolong hukum saya, saya akan terima hukuman apapun yang Tuan Muda berikan, tapi tolong jangan keluarkan saya dari markas Gengcobra"
"Aku tidak akan mengeluarkanmu, selama tiga bulan kedepan, jangan pernah menginjakkan kaki dimarkas Gengcobra itu sebagai hukumanmu, dan selama itu kau harus berada di Surya Jayantara"
"Dengan senang hati saya akan menerimanya Tuan Muda"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk mampir dikarya temenku ini, yg butuh rekomendasi silahkan mampir ya
Blurb:
Jelita, gadis kelas 2 SMA yang dipaksa menikah oleh kakeknya karena sudah menyerah akan kelakuan nakalnya. Dia dinikahkan dengan Erlangga, guru magang sekaligus anak sopir keluarganya. Mereka menyembunyikan pernikahan itu dan akan dipublikasi setelah kelulusan sekaligus diadakan pesta pernikahan.
Namun, tiga hari sebelum pesta pernikahan itu digelar, Erlangga kecelakaan dan memorinya hilang sebagian.
Saat itu, Aulia baru tahu kalau Erlangga sangat membenci dirinya juga kakeknya. Erlangga pun menceraikan, tanpa keduanya sadari kalau Jelita sedang hamil. Hari yang seharusnya membahagiakan menjadi hari yang memilukan. Selain diceraikan oleh Erlangga, Jelita juga kehilangan kakeknya yang meninggal karena serangan jantung.
Apa yang akan dilakukan oleh Erlangga saat ingatannya kembali?
Akankah Jelita memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita?
__ADS_1