
Nadhira dan Rifki telah sampai dirumah mereka dan langsung disambut oleh Pak Santo, Bi Sari, dan beberapa pembantunya yang lainnya, Bi Sari nampak bahagia ketika bertemu kembali dengan Nadhira, sang majikan tersayangnya itu.
"Ini beneran Non Dhira kan? Non Dhira beneran kembali pulang saat ini?" Tanya Bi Sari sambil memegangi kedua pundak Nadhira.
"Beneran Bi, masak iya sih ini Dhira bohong bohongan, Dhira sudah dengar semuanya, apa Bibi baik baik saja?" Tanya Nadhira balik.
"Bibi baik baik saja Non, Bibi seneng banget lihat Non Dhira sudah pulang"
"Nak, akhirnya kau kembali pulang, sudah lama aku menunggumu disini" Tiba tiba seorang wanita menanggil Nadhira hingga membuat Nadhira menoleh kearahnya.
"Ibu disini" Ucap Nadhira gembira ketika mengetahui Bi Ira berdiri tidak jauh darinya.
Nadhira langsung berlari kearah Bi Ira dengan senangnya, ia pun langsung menjatuhkan pelukannya kedalam dekapan seorang wanita yang sudah dianggapnya sebagai Ibu sendiri itu, hal itu pun membuat Bi Sari ikut ikutan memeluk Nadhira.
"Apa kau baik baik saja? Ibu sangat mencemaskan dirimu, Nak" Ucap Bi Ira.
"Aku baik baik saja, Bu. Bagaimana aku bisa terluka kalau ada Rifki yang selalu menemaniku, aku memang kehilangan anakku, tapi aku tidak akan pernah kehilangan Rifkiku,"
"Ibu merasa bahagia ketika melihatmu kembali, Nak. Ibu takut kamu kenapa kenapa,"
"Iya Non, kami semua disini menunggu kepulangan anda, bahkan sampe sampe begadang hanya menuggu kedatangan Non Dhira disini," Ucap Bi Sari.
Kedua orang itu telah menyayangi Nadhira dengan sepenuh hati, meskipun keduanya adalah orang lain dikehidupan Nadhira akan tetapi Nadhira sudah menganggap keduanya sebagai orang yang ia sayangi karena keduanya begitu berarti bagi Nadhira selama ini.
Pak Mun dan Pak Santo pun merentangkan tangannya hendak memeluk mereka bertiga, akan tetapi langsung dihadang oleh Rifki hingga keduanya pun menabrak tubuh Rifki dengan segera.
"Mau ngapain kalian ha?" Tanya Rifki dengan dingin.
"Eh Tuan Muda, kami mau ikut itu" Jawab Pak Mun salah tingkah dihadapan Rifki sambil menunjuk kearah tiga orang yang tengah berpelukan itu.
"Ngak boleh!" Jawab Rifki dengan tegas.
Sementara tiga pembantu wanita baru mereka hanya bisa menatap mereka dalam diam, mereka tidak tau mengapa hubungan Bi Sari dan juga yang lainnya begitu dekat bahkan sampai sampai berpelukan, biasanya tidak akan mungkin bisa ditemukan majikan baik seperti Rifki dan Nadhira.
"Tuan Muda ngak adil" Jawab Pak Santo sambil mendengus dihadapan Rifki.
"Pak Santo hanya boleh memeluk Bi Ira doang, bukan Nadhiraku atau Bi Sari, kalian bukan mahram, dan Pak Mun juga, ingat istri dirumah, udah tua juga mau meluk meluk orang lain, ngak takut api neraka tau gimana?" Omel Rifki kepada keduanya.
Mendengar pertengkaran kecil tersebut membuat Nadhira, Bi Ira dan Bi Sari langsung tertawa bersamaan.
Rifki sama sekali tidak marah ketika Nadhira dipeluk oleh Bi Ira maupun Bi Sari, biar bagaimanapun juga keduanya memiliki posisi yang berbeda dengan Nadhira, akan tetapi melihat Nadhira yang tertawa dengan keduanya membuat Rifki ikut merasa bahagia jika Nadhira bahagia.
"Gimana kabar Ibu? Sudah lama tidak bertemu" Tanya Nadhira kepada Bi Ira.
"Ibu baik baik saja Nak, gimana kabarmu? Mendengar dirimu kenapa kenapa membuat Ibu takut, Ibu pengen menjengukmu dirumah sakit tapi suamimu melarang, katanya nunggu kamu pulang dulu, ya sudah mumpung dapat kabar kalo kamu pulang, jadi Ibu buru buru kemari"
"Dhira baik kok Bu, memang dia egois. Masak menjenguk anaknya sendiri ngak dibolehin, aneh kan?" Ucap Nadhira sambil melirik kearah Rifki.
"Bukan egois, tapi menjaga Bi Ira biar tidak kena virus dirumah sakit, dia kan sedang hamil. Jadi ngak baik wanita hamil kerumah sakit, nanti kalo ikut sakit gimana? Janinnya yang yang dikhawatirkan," Ucap Rifki menjelaskan kepada Nadhira.
"Ibu hamil? Kenapa tidak memberitahu Dhira sebelumnya?" Ucap Nadhira tampak kecewa dengan Ibu angkatnya.
"Ibu takut memberitahukan ini kepadamu, bagaimana Ibu bisa memberitahukan ini sementara dirimu baru saja kehilangan anakmu" Jawab Bi Ira.
"Seharusnya Ibu memberitahukan kabar baik ini kepada Dhira langsung, Dhira kecewa karena Dhira tau dari Rifki bukan dari Ibu sendiri, Pak Santo! Aku akan membuat perhitungan denganmu, kenapa selama ini tidak memberitahuku, aku marah kepadamu!"
"Maaf atuh Non Dhira, mau gimana lagi Non, usia kandungannya juga baru menginjak 2 bulan saat ini" Jawab Pak Santo.
"Benarkah? Jadi Dhira belum telat dengarnya?" Nampak wajah bahagia diwajah Nadhira saat ini.
"Iya Non, saya juga terkejut mendengarnya, setelah lama menanti seorang anak akhirnya datang juga,"
"Pak Santo bagaimana sih, masak istri sendiri hamil bisa ngak tau. Aneh banget,"
"Kan saya jarang pulang, Non. Kerjaan saya tiap hari disini, waktu pulang pun hanya sebentar doang, mau protes takut dipecat,"
"Kalo Pak Santo tidak bisa jaga Ibu dengan baik, Pak Santo aku pecat,"
"Non kok gitu sih, terus gimana cara saya untuk mencukupi kebutuhan istri saya?"
"Pak Santo, aku pecat jadi Bapak angkat lah,"
"Dhira Dhira," Ucap Rifki menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Nadhira.
Mendengar ucapan Rifki langsung membuat Nadhira bersipu malu dihadapan Rifki, Nadhira pun mengembangkan senyuman tipis. Nadhira menoleh kearah Bi Ira dan mengandeng tangannya itu.
"Selamat, kalian berdua akan menjadi orang tua, Dhira senang mendengarnya"
"Maafin Ibu ya, Ibu hamil disaat yang tidak tepat"
"Bu, kita tidak tau kapan malaikat kecil akan hadir, seharusnya Ibu senang karena dianugerahkan seorang malaikat kecil dihidup Ibu, lagian aku dan Rifki juga sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi, kita hanya perlu berdoa semoga secepatnya seorang malaikat hadir didalam rahimku"
"Iya sayang, ucapanmu benar, harusnya kita senang mendengar kabar itu, jangan salahkan dirimu sendiri Ibu, kita kan jadi punya Adek angkat" Tambah Rifki.
"Sejak kapan kau memanggil Ibuku dengan panggilan Ibu?" Tanya Nadhira yang merasa heran.
"Sejak pernikahan kita lah" Jawab Rifki.
__ADS_1
"Udah lama ya? Ternyata sudah 8 bulan kita menikah Rif"
"Iya Dhira, hanya 1 janjiku padamu yang belum terwujud sampai sekarang"
"Janji?"
"Iya, janji untuk mengadakan pesta pernikahan kita, maukan merayakannya? Dulu kita nikahnya dirumah sakit dan belum sempat untuk merayakannya"
"Iya Rif, aku mau"
Mereka pun nampak bahagia mendengarnya, kini hanya tinggal kebahagiaan diantara mereka setelah merasakan kesedihan yang teramat mendalam, Rifki pun mengajak Nadhira untuk masuk kedalam kamarnya setelah itu.
"Selamat menikmati" Ucap Bi Ira dan Bi Sari bersamaan ketika melihat Nadhira hendak membuka pintu kamarnya itu.
"Apa yang kalian berdua rencanakan?" Tanya Nadhira dengan penasarannya.
"Silahkan masuk Nona Muda tercinta" Ucap Bi Sari tanpa menjawab pertanyaan dari Nadhira.
Rifki pun langsung menggandeng tangan Nadhira dan berjalan mendekat kearah pintu, setelah membukanya keduanya terkejut karena kamar keduanya sangat gelap saat ini dengan hiasan lilin lilin cantik yang membentuk sebuah love dilantai sangat cantik hingga membuat Nadhira tersenyum.
"Apa yang mereka rencanakan" Nadhira pun tersenyum melihatnya.
"Entahlah Dhira" Jawab Rifki.
Nadhira dan Rifki pun melangkah masuk kedalam kamarnya itu, melihat itu membuat Bi Ira dan Bi Sari langsung menutup pintu kamar tersebut dari luar, mendengar bunyi pintu kamar yang ditutup membuat Nadhira sekilas menoleh kearahnya.
Nadhira pun mencium baru bunga mawar yang semerbak wangi didalam kamarnya, Rifki langsung mendekat kearah saklar lampu yang berada ditembok dekat dengan pintu dan menyalakannya.
Dan bertapa terkejutnya mereka ketika melihat kamar mereka yang telah dihias begitu indah dengan bunga bunga mawar yang cantik ditembok dengan beberapa foto foto keduanya untuk mengingat masa kecil mereka.
"Pasti ini ide dari Ibu"
Hiasan bunga bunga yang indah itupun membuat Nadhira merasa sangat bahagia, senyuman diwajahnya mengembang begitu sempurna membuat Rifki ikut merasa bahagia jika Nadhira bahagia.
Keduanya pun berjalan menuju kekasur mereka yang kini tengah bertaburan kelopak bunga mawar merah dan putih yang sengaja ditata begitu rapinya hanya untuk mereka berdua, Nadhira pun menoleh kearah Rifki begitupun dengan Rifki.
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang ini Dhira, lukaku belum sembuh dan belum bisa terkena air untuk saat ini, jika aku melakukannya lalu bagaimana dengan sholatku nantinya" Ucap Rifki yang mengingat tentang lukanya.
"Kita tidak akan melakukannya malam ini, aku hanya ingin tidur didalam pelukanmu Rif, sudah lama aku tidak melakukan itu"
"Baiklah"
Rifki dan Nadhira lalu berjalan naik keatas kasur kamarnya itu, keduanya pun merebahkan tubuhnya diatasnya, Nadhira menggunakan lengan Rifki sebagai bantalnya sementara Rifki memasukkan Nadhira kedalam pelukannya.
Rifki memandangi wajah Nadhira yang hanya berjarak beberapa senti saja itu dengan lekat lekat, Nadhira pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini, pandangan keduanya bertemu dan keduanya pun menerbitkan sebuah senyuman yang penuh dengan kebahagiaan.
"Rif, semuanya sudah berlalu, aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan pernah melihat wajahmu lagi sebelumnya, ternyata pikiranku salah, kini kau benar benar dihadapanku"
"Kau tau, waktu aku diculik, aku sangat rindu berada didalam pelukanmu seperti saat ini, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak dan selalu kepikiran dengan dirimu"
"Aku juga sama Dhira, aku rindu memelukmu, aku tidak bisa tidur karena memikirkan tentang kondisimu saat itu, aku takut kau kenapa kenapa"
"Sekarang sudah berlalu, aku merasa senang berada didalam pelukanmu seperti ini"
"Aku juga senang, jika kau senang Dhira"
Rifki pun mendekatkan bibirnya ke bibir Nadhira dengan perlahan lahan, melihat itu membuat Nadhira langsung memejamkan kedua matanya, Rifki pun melum*tnya diikuti oleh Nadhira yang melakukan hal yang sama dengan Rifki.
"Rasanya manis, aku suka" Ucap Rifki.
"Mau dilanjutkan?" Tanya Nadhira.
"Tentu, kau sudah membuatku ketagihan Dhira, rasanya tidak mau jauh jauh darimu"
"Aku mencintaimu Rif, dan akan selalu begitu"
"Waktu kau mengatakan bahwa kau membenciku, rasanya begitu sakit Dhira, aku berpikir bahwa rumah tangga kita akan berakhir saat itu, tapi ternyata cinta kita begitu kuat sampai detik ini"
"Aku juga berpikir seperti itu Rif, tapi rasa benci itu perlahan lahan menghilang dari hatiku, dan kini hanya tersisa rasa cintaku padamu"
"Makasih sayang, kau telah hadir dan melengkapi segalanya dalam hidupku"
"Aku bersyukur karena memiliki seorang suami yang sangat baik seperti dirimu, kau selalu sabar dalam menghadapi sikapku, makasih karena telah hadir dalam kehidupanku Rif"
"Makasih juga karena sudah menjadi yang terbaik untukku Dhira"
Rifki pun menggerakkan tubuhnya hingga posisi dirinya diatas Nadhira, pandangan keduanya pun bertemu dengan jarak yang begitu teramat dekat hingga keduanya mampu merasaakan nafas masing masing karena jaraknya yang dekat.
Rifki pun kembali mendekatkan bibirnya dibibir Nadhira kembali, Nadhira pun memegangi leher Rifki untuk memperdalam cium*n tersebut, dengan suasana yang indah membuat keduanya merasa nyaman berada didalam ruangan itu.
Hiasan bunga bunga yang indah seketika membuat suasana romansa didalam ruangan itu begitu terasa, apalagi bau bunga mawar yang berada didalam ruangan itu membuat keduanya seakan akan menikmati disaat saat itu.
*****
Beberapa hari kemudian, karena hari minggu Rifki pun tidak berangkat bekerja, melainkan duduk bersantai didepan televisi rumahnya bersama dengan Nadhira yang tengah menikmati cemilannya, Rifki pun mengalungkan tangannya dileher Nadhira hingga membuat Nadhira bersandar dipundaknya.
Keduanya pun tertawa karena menyaksikan sebuah komedi didalam acara televisi yang tengah keduanya tonton itu, sudah 1 jam mereka menyaksikan acara televisi akan tetapi sama sekali tidak membuat keduanya bosan.
__ADS_1
"Sayang, jadi kapan kita melakukan resepsi pernikahan? Aku tidak sabar untuk memakai gaun pengantin lagi" Tanya Nadhira sambil memakan cemilan yang ada ditangannya itu.
"Sekarang mau?" Tanya Rifki balik.
"Ih belom siap siap, belom foto prewedding, belum ini belum itu, masak sekarang sih"
"Semuanya sudah siap, tinggal berangkatnya aja yang belom, rencananya sih minggu depan resepsi pernikahannya, tapi kamu maunya kapan?"
"Lusa aja gimana?"
"Iya, aku akan menghubungi pihak wedding organizernya sekarang, kalo waktunya dipercepat"
"Makasih sayang, oh iya lukamu gimana sayang?"
"Beberapa hari ini udah ngak sakit lagi, jadi udah ngak mengonsumsi obat lagi"
"Syukurlah kalo begitu sayang"
"Terima kasih ya, karena sudah merawatku"
Nadhira pun memeluk tubuh Rifki dengan eratnya, berada didalam pelukan Rifki adalah sesuatu yang teramat sangat nyaman, Rifki pun membalas pelukannya itu sambil mengusap kepala Nadhira pelan dengan penuh kasih sayang.
Nadhira dan Rifki pun kembali fokus kepada televisi yang ada didepannya itu, tanpa terasa cemilan yang ada ditangan Nadhira sudah habis, Nadhira memang suka memakan cemilan akan tetapi postur tubuhnya masih terlihat indah dan tidak gemuk.
"Rif, cemilanku habis" Keluh Nadhira.
"Didapur sudah habis kah? Perasaan baru kemarin belinya deh" Tanya Rifki.
"Habis juga, kau tau sendiri kan kalo istrimu ini suka nyemil jadi udah habis dimakan"
"Bersiap siaplah, kita akan pergi belanja cemilan yang banyak setelah ini"
"Ngak mau, pengen tidur saja lah"
"Eihh.. ini masih siang Dhira, jangan tidur mulu"
"Aku bosan Rif, sangat bosan tanpa cemilan"
"Lah iya, ayo beli sayangku cintaku darlingku love you ku, ayo berangkat sekarang"
"Ngak mau Rif, aku capek"
"Ya udah, aku yang berangkat sendiri, kamu dirumah saja saat ini"
"Hah? Kamu mau ninggalin aku gitu? Kamu jahat banget sama aku, Rif"
"Ngak, terus maunya gimana sayang? Kamu diajak juga ngak mau, katanya pengen cemilan"
Belum sempat Nadhira membalas ucapan dari Rifki, ponselnya pun langsung berdering pertanda bahwa ada telpon yang masuk kedalam ponselnya itu, Nadhira lalu mengambil benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang tengah menelponnya itu.
"Kak Dhita," Guman Nadhira pelan.
"Angkat saja, kali aja penting sayang"
"Baiklah"
Nadhira langsung segera menekan tombol untuk menghubungkan telponnya dengan telpon Nandhita yang ada diluar negeri, beberapa detik kemudian langsung terdengar teriakan keras dari Nandhita hingga membuat Nadhira yang menyalakan spicker ponselnya itu pun langsung menutup telinganya.
"Astaga Kak, bagaimana bisa Kak Stevan bertahan dengan suara Kakak yang kayak beldek itu" Gerutu Nadhira setelahnya.
"Dhira!!!" Teriak Nandhita.
"Sayang, jangan teriak teriak gitu dong, ini masih dirumah sakit" Ucap Stevan memperingati istrinya itu.
"Dirumah sakit? Kalian kenapa?" Tanya Nadhira.
"Kalian tidak main kemari kah? Kakakmu sudah lahiran" Jawab Stevan dari seberang sana.
"Alhamdulillah, gimana Kak lahirannya? Lancar?" Tanya Rifki.
"Alhamdulillah lancar"
"Anaknya cewek atau cowok Kak?" Tanya Nadhira.
"Bener kata suamimu, ternyata anaknya cewek"
"Nah kan benar tebakanku, selamat ya, dan maafin kami belum bisa kesana, kalo ada waktu senggang kami akan datang untuk menengok keponakan kami yang cantik itu," Ucap Rifki.
"Iya ngak apa apa, kami hanya memberitahu kalian soal kelahiran anak kami, semoga cepat dihadirkan malaikat kecil lagi ya, kami akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua"
"Iya Kak, terima kasih atas doanya, sehat sehat ya disana"
"Kak tolong kirimin foto debaynya dong, pengen lihat aku" Ucap Nadhira.
"Iya habis ini aku kirim, udah dulu ya, kami mau siap siap untuk pulang hari ini"
"Siap Kak"
__ADS_1
"Ya udah, assalamualaikum"
"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh" Jawab Rifki dan Nadhira bersamaan.