
Tak beberapa lama kemudian datanglah Susi keruangan dimana Nadhira dirawat, Susi membawa beberapa peralatan medis ditangannya, dan langsung menuju kesamping Nadhira.
Melihat kedatangan Susi membuat keduanya bertanya tanya tentang kemana Dokter yang biasanya memeriksa Nadhira, kenapa saat ini Susi sendiri yang memeriksanya bukan Dokter biasanya.
"Susi, tumben kau disini? Dokter yang biasanya kemari kemana?" Tanya Nadhira.
"Kenapa kau cari Dokter lelaki itu? Apa kau sudah jatuh hati kepadanya hem? Sehingga kau mencari cari dia" Tanya Rifki yang sedikit sensitif.
"Kan aku hanya tanya saja Rifki, apa salahnya bertanya tentang hal itu?".
Rifki hanya menghela nafas mendengar pertanyaan dari Nadhira, entah mengapa ada rasa sedikit sakit hati didalam hatinya ketika Nadhira bertanya tentang laki laki lain.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Nadhira ketika melihat Rifki hanya berdiam diri.
"Ngak apa apa" Jawab Rifki singkat.
"Dokter Rizal sedang ada kepentingan Dhira, jadi aku datang kemari untuk mencabut infusmu, kau sudah diperbolehkan untuk pulang hari ini".
"Benarkah?" Tanya Nadhira dengan senangnya.
"Iya, selamat ya atas ke pulangannya, tapi sebelum itu kau disuntik dulu Dhira" Ucap Susi sambil mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah terisi oleh cairan obat dari sebuah kotak yang ia bawa sebelumnya.
"Kenapa harus disuntik lagi sih? Bukannya dia sudah diperbolehkan pulang?" Tanya Rifki dengan penasarannya kepada Susi.
"Apa kau mau menggantikan dia untuk disuntik?" Tanya Susi sambil menggerak gerakan jarum suntik yang ada ditangannya tersebut.
"Lah kok gitu? Yang butuh obat kan Dhira bukan aku" Protes Rifki.
"Mangkanya itu diam saja dan jangan banyak bertanya lagi Rifki"
"Malu bertanya sesat dijalan loh".
Susi sama sekali tidak mempedulikan cerocos Rifki saat ini, ia pun menancapkan jarum itu keselang infus Nadhira dan memasukkan cairan itu diselang infus Nadhira, seketika itu juga Nadhira mengernyitkan dahinya merasakan perih ditangannya.
"Pelan pelan dong Sus, lihat tuh Dhira kesakitan" Omel Rifki ketika melihat Nadhira sedang mengernyitkan dahinya.
"Hanya sebentar saja kok, yang sakit kan Nadhira bukan dirimu, kenapa dirimu yang protes sih".
"Kau ini jadi Dokter menyebalkan sekali sih, bisa bisa yang kau rawat malah makin sakit nantinya".
"Apa kau bilang? Kau mau disuntik juga?"
"Idih, malah ngambek dong"
Susi mengalihkan pandangannya menuju keinfusan Nadhira, ia pun menambah cepat laju aliran air infus menuju ke tangan Nadhira dan hal itu membuat Nadhira merasa tangannya begitu sejuk, rasa perih dari obat itu seketika menghilang begitu saja.
Rifki memperhatikan apa yang dilakukan oleh Susi, pandangan ketiganya tertuju pada botol infus yang ada diatas Nadhira, dan infusan itu masih tersisa setengah saja.
"Bagaimana Dhira? Apa sudah tidak sakit?" Tanya Susi kepada Nadhira.
"Ngak Sus rasanya sudah mendingan kok daripada sebelumnya, sepertinya obatnya sudah masuk deh, soalnya hanya terasa dingin saja karena cairan infus".
"Apa kau sudah merasa baik baik saja Dhira? Aku takutnya nanti kalo sudah dirumah terus ngedrop lagi, kondisimu juga masih lemah"
"Aku ngak apa apa Sus, lagian disini juga merasa bosan, hanya bisa tidur dan makan doang".
"Mending dirawat lebih lama deh Dhira, aku juga takut kalau kau ngedrop lagi" Ucap Rifki menyahuti.
"Ngak mau Rif, Dokter sendiri yang bilang kalo aku sudah diizinkan pulang, jangan aneh aneh deh"
"Biar sembuh dulu gitu loh Dhira"
"Kan aku sudah sembuh".
"Sebentar ya, nunggu infusnya tinggal dikit lagi, setelah itu aku lepas" Ucap Susi.
"Iya Sus".
"Kenapa ngak dicepetin langsung saja tuh infus biar bisa cepet habis" Protes Rifki.
"Emang kau mau Nadhira sesak nafas? Kau pikir kecepatan laju tetesan infus itu tidak berpengaruh apa pada jantungnya, sudahlah kau diam saja dan jangan banyak protes".
Pengaturan cairan infus harus disesuaikan dengan cairan yang keluar dari tubuh baik disadari maupun tidak dan perkiraan kecukupan cairan dengan melihat pada laju BAK seseorang yaitu sekitar 0.5 sampai dengan 1 cc per kg berat badan.
Bila terjadi kekurangan cairan akan terjadi dehidrasi Sedangkan kelebihan akan terjadi hipervolemia, kedua hal tersebut tidak boleh terjadi karena cairan harus dalam kondisi seimbang.
Bila kelebihan biasanya akan dirasakan kondisi bengkak pada daerah ekstremitas atas dan bawah, bengkak pada daerah perut terutama kanan atas, sesak nafas karena penumpukan cairan di paru.
Bila sampai dengan terjadi gejala ini maka perlu dilakukan penanganam oleh dokter untuk mengeluarkan cairan dari tubuh yang secara umum menggunakan obat dari golongan diuretik.
__ADS_1
( Author : sekedar pengetahuan saja ya :v untuk yang belum pernah merasakan infus semoga tidak pernah merasakan infus dan sehat selalu, untuk yang pernah merasakan infus seperti author jaga kesehatannya ya,, author pernah mengalami dimana author merasa kalau selang infus ditangan ngak bisa jalan dan akhirnya iseng buat nyepetin tuh laju tetesan infus, tak beberapa lama kemudian author mengalami sesak nafas dan pingsan dikamar mandi untung para perawat langsung siaga kalau tidak ya wassalam ).
Mendengar penjelasan dari Susi membuat Rifki diam dan dia mengerti, Rifki merasa sangat kagum dengan Susi yang hebat dalam dunia medis, pantas saja jika dia sudah diangkat menjadi dokter diusia yang masih muda daripada yang lainnya.
Susi pun melanjutkan pekerjaannya dan menyiapkan beberapa kapas dan juga plester untuk persiapan melepaskan selang infus yang ada ditangan Nadhira, melihat itu Rifki hanya memperhatikan saja.
"Emang kau bisa Sus? Awas saja sampe menyakiti Nadhira nanti" Ancam Rifki.
"Kau ini sejak tadi protes mulu, ngak bisa diem apa gimana sih, apa perlu aku memberimu obat bius sekalian? Biar diem gitu, untuk apa aku diangkat menjadi Dokter dan memiliki sebuah gelar kalau hal seperti ini saja aku tidak bisa".
"Iya ya, biar bagaimanapun juga laki laki bakalan kalah debat dengan perempuan" Pasrah Rifki.
"Udah tau gitu masih aja ngomel, udah kek ciwi ciwi tau ngak sih? Kebanyakan ngomel".
"Sudah diem, buruan lakukan tugasmu saja lah".
Tak beberapa lama kemudian Susi lalu mematikan laju selang infus yang ada ditangan Nadhira, ia pun lalu menekan tangan Nadhira yang sedang tertancap jarum infus dengan menggunakan sebuah kapas yang telah diberi obat.
Dengan perlahan lahan Susi mencabut jarum infus tersebut dan menempelkan sebuah plester pada tangan Nadhira, proses itu begitu cepat hingga membuat Nadhira tidak merasakan sakit ditangannya lagi karena infusan itu.
"Nah sudah selesai".
Karena tangannya yang sedikit bengkak tersebut membuat Nadhira sedikit merasa cenut cenut diarea tangan yang sebelumnya terpasang selang infus tersebut, dan hal itu membuat Nadhira tidak mampu bergerak dengan bebasnya.
"Kau harus lebih menjaga kesehatanmu Dhira" Ucap Susi memperingatkan kepada Nadhira.
"Iya Sus tenang saja".
"Bilangin tuh Sus, dia emang sangat bandel kalo dibilangin, selalu saja bertindak gegabah" Omel Rifki.
"Seharusnya kau yang harus mengerti Rif, udah tau Dhira selalu bertindak sembrono, kau masih saja tidak bisa berbuat apa apa"
"Kau benar Sus, dia emang tidak pernah mendengar ucapanku, sedikitpun itu".
"Entah apa yang harus ku katakan Rif, cepat nikahi saja dia, pusing aku dengernya".
"Gas lah" Rifki terlihat begitu bersemangat.
Mendengar itu hanya membuat Nadhira sedikit tertawa, menikah dengan Rifki adalah impiannya sejak lama, dan melihat Rifki begitu bersemangat membuat Nadhira tersenyum dengan sendirinya.
Susi tertawa dengan kerasnya ketika mendengar itu, setelah itu Nadhira dan Rifki berpamitan kepada Susi untuk mengajak Nadhira pulang, setelah membayar administrasi dirumah sakit itu, Rifki segera mengajak Nadhira untuk masuk kedalam mobilnya.
Mobil tersebut sudah ada Nandhita dan Bi Ira didalamnya, setelah Nadhira masuk kedalam mobil, anak buah Rifki segera menjalankan mobil tersebut untuk keluar dari halaman parkir rumah sakit yang cukup besar tersebut.
"Gimana perasaanmu Dhira?" Tanya Rifki.
"Aku merasa bahagia karena diizinkan untuk pulang kerumah, entah berapa lama aku tidak kembali pulang" Ucap Nadhira.
"Tumben seneng pulang kerumah? Biasanya hobi banget kalo kerumah sakit" Ucap Nandhita menanggapi ucapan dari Nadhira.
"Tanganku sakit tau Kak, lagian kalo disana Rifki tidak akan membiarkan diriku beraktivitas, entah kenapa begitu banyak peraturan yang ia buat" Sindir Nadhira.
"Bi Ira kalau Nadhira dirumah berbuat aneh aneh atau melakukan aktivitas yang berat, beritahu aku Bi, aku akan memberinya hukuman nanti" Ucap Rifki kepada Bi Ira yang menanggapi sindiran Nadhira.
"Hem? Kenapa jadi ngatur diriku? Jangan dengarkan dia Bu" Ucap Nadhira.
"Emang kau ini sangat susah diatur Dhira, bagaimana kalau sakit lagi? Mau ditusuk jarum lagi?"
"Kan ada kamu Rifki, kalau sakit lagi malahan lebih enak kalo dirawat olehmu, lalu mendapatkan perhatianmu lagi" Ucap Nadhira dengan tersenyum menggoda Rifki.
"Mau tangan kiri atau tangan kanan? Atau kau juga mau dua duanya?" Tanya Rifki sambil mengepalkan kedua tangannya dihadapan Nadhira saat ini.
Melihat itu membuat Nadhira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kalau dia adu pukul dengan Rifki pun dia akan kalah karena kekuatan Rifki jauh lebih kuat daripada dirinya, apalagi Rifki adalah seorang pelatih beladiri.
"Apa kau tega memukulku yang lemah ini?"
"Kenapa tidak?"
"Hiss kalian ini bisa ngak sih sedikit romantis gitu? Masak setelah nikah berantem mulu kerjaannya" Sela Nandhita yang mendengar perkataan keduanya seperti begitu bising baginya.
"Ih Kakak apaan sih? Kakak yang udah umur 28 tahun aja belom nikah pake nyuruh kita romantis segala lagi" Omel Nadhira.
"Kakak tau darimana kalo kita akan menikah? Kalo sudah menikah berantemnya beda Kak" Ucap Rifki.
"Ngejek banget sih nih Adek resek, Kakak juga mau tunangan beberapa minggu lagi" Ucap Nandhita dengan bangganya.
"APA!" Teriak Nadhira dan Rifki bersamaan karena sangking terkejutnya.
"Biasa aja kali, ngak usah teriak juga napa sih, orang Kakak juga ngak budek" Gerutu Nandhita.
__ADS_1
"Kakak serius mau nikah?" Tanya Nadhira dengan sangat antusias.
"Eh calon Kak Dhita siapa ya, kenapa ngak pernah dikenalin ke kita sih" Guman Rifki.
"Aku dan dia kan beda negara, ya jelas lah ngak pernah ngenalin ke kalian berdua, nanti malah bikin heboh lagi" Gerutu Nandhita.
"Kak Dhita ngak takut kalo punya calon beda negara? Nanti ngak bisa pulang loh" Ucap Rifki.
"Kenapa takut, dia orang baik kok, lagian dia juga adalah tangan kanan dari Om David".
"Baguslah kalau begitu Kak Dhita".
"Eh Kakak setelah nikah bakal diboyong ke negaranya kan? Yah nanti Dhira kesepian disini, Kak Dhita, Oma, Om David semua keluar negeri, apa Dhira ikut saja ya keluar negeri?" Ucap Nadhira sambil membayangkan pergi keluar negeri.
"Ngak usah, aku ngak setuju" Ucap Rifki dengan nada sedikit dingin kepada Nadhira.
"Aku ngak minta pendapatmu"
"Tapi aku ngak ngizinin".
"Yayaya... Ngak usah, aku ngak setuju" Ucap Nadhira yang meniru ucapan Rifki dengan nada mengejek.
"Nih anak nguji banget sih, belom pernah merasakan tendangan mautku kali"
"Udah pernah" Ucap Nadhira dan langsung bersandar pada pundak Rifki.
*****
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga tiba saatnya pernikahan Nandhita dengan seseorang yang bernama Stevan, akad pernikahan tersebut berjalan dengan sangat lancarnya dan hal itu membuat kebahagiaan bagi semua orang.
Sarah dan juga anaknya pulang dari luar negeri untuk menyaksikan cucu dan keponakan mereka menikah, kerabat Nadhira berkumpul begitu juga dengan Rendi dan Amanda yang ikut serta dalam acara pernikahan tersebut karena biar bagaimanapun juga Nandhita adalah anak kandung dari Rendi.
Selama proses pernikahan itu berlangsung, tiada percakapan antar Nadhira dan Rendi, Rendi ingin sekali berbicara dengan Nadhira akan tetapi melihat Nadhira yang hanya diam saja membuat Rendi memurungkan niatnya itu.
Nadhira terlihat sangat cantik dengan menggunakan dress batik berwarna coklat tersebut, sementara Rifki yang ada disebelahnya terlihat begitu serasi dengan menggunakan jas berwarna biru kehitaman, keduanya terlihat seperti seorang pasangan yang sangat serasi dengan senyuman yang terus terpancar dari keduanya.
"Dhira, lihatlah Kakakmu sangat serasi ya, Kak Stevan begitu taman dan juga Kak Dhita yang make up nya cantik banget, natural tapi terlihat sangat anggun" Bisik Rifki yang berada didekat Nadhira.
"Kau benar Rif, melihat dia bahagia seperti itu rasanya aku ikut bahagia, Kakakku memang cantik tapi kau tidak memujiku" Ucap Nadhira yang ikut serta berbisik kepada Rifki.
"Apa kau ingin juga dipuji olehku seperti Kak Dhita? Nanti malah besar kepala lagi".
"Ejek terus, terserahmu saja".
"Ayo naik ke pelaminan, apa kau tidak ingin mengucapkan selamat untuk Kakakmu"
Tanpa menunggu jawaban dari Nadhira, Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk naik keatas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada Nandhita yang saat ini sedang bergandengan tangan dengan Stevan diatas panggung pelaminan.
"Wishh... Pengantin baru nih, selamat ya Kak Dhita" Ucap Rifki memberi selamat.
"Makasih calon Adek ipar" Canda Nandhita.
"Kakak apaan sih? Selamat ya Kak" Ucap Nadhira yang tersipu malu.
"Kapan nyusul nih?" Tanya Stevan.
"Doain saja secepatnya, auh sakit Dhira" Ucap Rifki dengan senyum sumringah, dan langsung mendapatkan cubitan dari Nadhira.
"Jangan bercanda lah Rif" Ucap Nadhira.
"Lah, yang bercanda siapa Dhira? Ngak ada tuh yang ngajak bercanda, orang aku hanya meminta doa saja dari calon Kakak iparku, salahnya dimana coba?".
"Adekku yang cantik, imut dan baik hati sedunia, jangan galak galak ya, nanti kalo ditinggal nangis" Ucap Nandhita.
"Jadi Kakak lebih dukung Rifki daripada aku?" Tanya Nadhira dengan cemberut.
"Sudah dong cemberutnya, masak dihari bahagia Kakak wajahmu ditekuk seperti itu?".
"Biasa Kak Dhita, senyumnya emang mahal banget" Rifki menyela pembicaraan keduanya.
Dikejauhan Rendi sedang menyaksikan kebahagiaan pada putri putrinya, Rendi ingin ikut serta naik keatas panggung pelaminan bersama dengan mereka akan tetapi ia takut membuat Nadhira merasa tidak enak sehingga akan meninggalkan acara pernikahan itu.
Rendi memutuskan untuk menikmati pesta pernikahan itu dengan menikmati hidangan yang disajikan dan sesekali mengobrol dengan tamu undangan ditempat itu, melihat Rendi yang sedang sibuk menatap kearah Nadhira membuat Rifki berpamitan untuk pergi kekamar mandi kepada Nadhira.
"Dhira, aku mau kekamar mandi dulu ya"
"Jangan lama lama" Jawab Nadhira.
"Apa kau mau ikut denganku? Biar makin cepat".
__ADS_1
"Ngak! Pergi sana sendiri, aku tunggu disini, jangan lama lama"
"Baiklah".