
Rifki memerintahkan Bayu dan anggota Gengcobra lainnya untuk segera mencari tau keberadaan Nadhira agar mereka bisa menyelamatkan Nadhira dari genggaman tangan Syaqila, Rifki tidak menyangka bahwa masalahnya akan serumit ini.
Rifki tidak bisa merasa tenang selama belum menemukan keberadaan dari Nadhira yang sedang disandera oleh Syaqila, sementara disatu sisi Nadhira tengah terdiam ditempatnya tanpa mampu bergerak sedikitpun dan dia hanya mampu untuk menggerakkan jari jarinya saja.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus menghemat tenagaku untuk kabur dari sini sebelum wanita itu mencelakai Rifki" Batin Nadhira.
Nadhira pun memejamkan kedua matanya untuk tidur agar dirinya memiliki tenaga yang lebih untuk dapat kabur dari tempat yang mengerikan itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya masuk kedalam dunia mimpinya karena dirinya juga merasa begitu kelelahan saat ini.
"Dhira" Tiba tiba seseorang memanggil dirinya didalam alam bawah sadarnya.
"Siapa?" Tanya Nadhira.
Tiba tiba sebuah sinar menyengat kedua matanya hingga membuatnya terpejam karena tidak tahan untuk melihat cahaya putih yang terang benerang itu, perlahan lahan cahaya itu meredup dan nampaklah seseorang yang tengah berdiri didepannya.
Sosok seorang wanita yang sangat cantik dengan hiasan dikepalanya yang bak seorang permaisuri sebuah kerajaan, dengan gaun putih besar yang berpasang pada tubuhnya dengan beberapa selendang yang melilit ditangannya.
"Siapa kamu?" Tanya Nadhira yang sama sekali tidak mengenali dirinya.
"Perkenalkan namaku adalah Radhity, Ibunda dari Pangeran Kian, aku datang untuk meminta bantuan kepadamu" Ucap wanita itu yang memperkenalkan bahwa namanya adalah Radhity
"Ibunda Ratu, apa yang bisa saya lakukan?".
"Tolong selamatkan Rifki, hanya kamu yang bisa melakukan itu, kekuatan permata iblis dalam dirimulah yang mampu melenyapkan permata abadi yang dimiliki oleh wanita itu".
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang anda katakan".
Wanita itu pun menceritakan apa yang sedang dialami oleh Rifki saat ini kepada Nadhira, dan dia juga menceritakan asal usul mengenai permata abadi yang ada didalam tubuh Syaqila saat ini, Nadhira yang mendengar itu begitu sangat terkejut karena serumit itukah masalah yang dihadapi oleh Rifki.
"Aku akan membuka perisai itu dengan sisa kekuatan yang aku miliki, setelah itu berusahalah untuk keluar dari tempat itu".
"Terima kasih Ibunda Ratu, aku tidak akan pernah membiarkan Rifki dalam bahaya, aku akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya".
"Aku tau itu, pergilah".
Wanita itu segera mengibaskan tangannya kepada Nadhira dan membuat Nadhira menghilang dari tempat itu tiba tiba, dialam nyata Nadhira mulai mengernyitkan dahinya karena ia terbangun dari mimpinya kali ini.
Nadhira pun berusaha untuk melepaskan dirinya dari tempat itu, mimpi tersebut membuatnya berusaha untuk melepaskan diri agar dia bisa menyelamatkan Rifki dari orang orang jahat yang menginginkan keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuh Rifki
*****
Rifki sedang duduk didepan sebuah meja rias dengan berpakaian pengantin, ia pun mengenakkan sebuah jas hitam dan dasi kupu kupu yang terlihat begitu menawan dengan wajah miliknya yang rupawan, akan tetapi dirinya kini terlena dengan lamunanya.
"Apa kau yakin akan menikah dengan dirinya Nak?" Tiba tiba suara seorang wanita menyadarkan dirinya dalam lamunannya itu.
"Mama, apapun akan Rifki lakukan demi Nadhira, meskipun dengan mengorbankan nyawa Rifki sendiri, Rifki tidak masalah Ma".
"Kau sudah dewasa Nak, maafkan Mama yang telah membuatmu berada didalam dilema seperti ini".
"Mama tidak salah, berkat Mama melakukan itu membuat Syaqila tidak mengetahui bahwa Nadhira memiliki permata iblis, kalau Mama tidak melakukan itu mungkin dirinya akan tau" Ucap Rifki sambil bangkit dari duduknya saat ini.
Putri lalu memeluk erat tubuh putra cintanya itu, Rifki dapat mendengar suara isak tangis dari mulut Mamanya itu dan hal itu membuat hati Rifki bagaikan tersayat sayat oleh sebuah pisau yang sangat tajam dan terasa begitu perih.
"Kenapa Mama menangis? Rifki akan baik baik saja Ma, Mama jangan sedih ya, Rifki sebentar lagi akan menikah, seharusnya tidak boleh ada kesedihan" Tanya Rifki sambil mengusap pelan punggung Putri.
"Mama hanya takut kehilanganmu Nak, bagaimana kau bisa hidup dengan wanita licik seperti itu? Seandainya Mama mengatakannya lebih awal kepada dirimu, ini semua tidak akan terjadi, ini semua salah Mama Nak, maafkan Mama".
"Mama tidak boleh menyalahkan diri Mama sendiri, semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu untuk disesali Ma, kita hanya perlu mencari solusi untuk dapat keluar dari masalah ini".
"Apa yang dikatakan oleh Rifki benar Nak, tidak perlu menyalahkan diri sendiri, semuanya sudah terjadi dan harus diselesaikan" Terdengar suara Aryabima yang mendekat kearah keduanya.
"Kakek".
"Ayah".
Aryabima mendekat kearah dimana Rifki berada saat ini, ia pun mengusap pelan punggung cucu kesayangannya itu, sementara Aryabima juga merasa sedih karena sebentar lagi ia harus berpisah dengan cucunya itu, Aryabima tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika Rifki menikah dengan Syaqila.
"Cucuku sudah dewasa" Ucap Aryabima pelan.
"Tidak Kek, Rifki masih tetap sama dan akan selalu menjadi cucu kecil Kakek" Ucap Rifki.
__ADS_1
"Ayah, dia akan selalu menjadi cucumu, meskipun dia akan menikah tapi dia tetap menjadi cucu kesayanganmu" Ucap Putri.
"Kau benar, sampai kapanpun dia akan selalu menjadi cucuku, dan tidak akan pernah berubah".
Aryabima lalu memeluk tubuh cucu kesayangannya itu dengan sangat erat, ia merasa bangga memiliki cucu yang sangat pemberani itu, hal itu membuat Rifki merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
"Semuanya sudah siap" Ucap Haris yang baru tiba ditempat itu.
"Iya Pa" Jawab Rifki.
Haris mendekat kearah anak laki lakinya tersebut, ia tidak menyangka bahwa Rifki akan menikah secepat ini, Haris mendekat kearah Rifki dengan tatapan yang penuh kesedihan, dan hal itu membuat Putri meneteskan air matanya.
"Apa kau yakin akan menikah dengan wanita licik itu Nak?" Tanya Haris.
"Rifki sangat yakin Pa, demi Nadhira Rifki akan melakukan apapun itu, Rifki tidak ingin wanita itu menyakiti Nadhira" Ucap Rifki dengan tegasnya.
"Baiklah, ayo kita berangkat".
"Iya Pa" Jawab Rifki sambil menganggukkan kepala.
Rifki dan yang lainnya pun segera melangkahkan kakinya untuk meningkatkan tempat tersebut menuju kesebuah mobil yang telah terparkir didepan rumah mereka dengan karangan bunga yang menghiasi mobil pengantin tersebut.
Langkah demi langkah mereka lakukan untuk meninggalkan rumah itu, setelah melangkah cukup jauh akhirnya mereka sampai juga dimobil yang telah disiapkan, Rifki dan yang lainnya langsung naik kedalam mobil tersebut begitu juga Ayu yang tidak mau ketinggalan.
Mobil itu segera melanju pergi dari rumah Rifki setelah seluruhnya sudah menaiki mobil tersebut, setelah cukup melakukan perjalanan jauh akhirnya mobil yang mereka naiki telah sampailah disebuah gedung yang saat ini sudah dihiasi begitu mewahnya.
Kedatangan Rifki ketempat itu langsung membuat suasana meriah ditempat itu, meskipun disana sangat meriah akan tetapi didalam hatinya Rifki merasa sangat kesepian dan dipenuhi oleh kesunyian disepanjang jalan.
Sambutan demi sambutan mereka lakukan untuk menyambut kedatangan Rifki ditempat itu, Syaqila yang sudah berada lebih dulu digedung itu pun tersenyum dengan sangat cerahnya.
Syaqila dimake up i bak seorang bidadari yang penuh dengan hiasan dikepalanya dan juga gaun pengantin yang indah sedang ia kenakan untuk menyambut kedatangan Rifki ditempat itu, sementara Rifki enggan untuk menatapnya dan memilih untuk membuang muka dari wajah Syaqila.
"Kau tampan sekali" Puji Syaqila sambil tersenyum lebar kearah Rifki.
"Aku sudah memenuhi keinginanmu, lepaskan Nadhira sekarang juga".
"Kau begitu terburu buru sekali, sebaiknya kita nikmati dulu pesta ini, lagian Pak penghulu belum datang ketempat ini".
"Jangan menggertak seorang wanita seperti itu sayang, itu sangat menyakitkan bagiku"
Rifki tidak ingin lagi menyahuti perkataan dari Syaqila, ia pun hanya bisa membuang muka dari wajah Syaqila, hanya pengantin wanita yang terlihat begitu bahagia akan tetapi pengantin lelaki seperti sedang menahan amarahnya.
Orang orang yang melihat itu mengira bahwa pengantin lelaki sedang gugup untuk memulai pernikahan itu sehingga dirinya nampak begitu diam dan tidak banyak berbicara, bahkan untuk tersenyum saja dirinya gelisah, itulah yang mereka pikirkan saat ini tanpa mengetahui apa yang terjadi.
(Pesan Author : Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, tapi belum tentu apa yang kita lihat ataupun kita dengar adalah sebuah kebenaran, jangan menilai seseorang hanya dari apa yang kita lihat ataupun dengar, karena belum tentu itulah kebenarannya).
Layaknya seorang pengantin baru mereka akan lebih gugup dihari mereka akan menikah, akan tetapi berbeda dengan Rifki, Rifki merasa gelisah karena menghawatirkan kondisi Nadhira saat ini yang masih berada didalam sanderaan Syaqila.
"Hentikan basa basimu itu" Ucap Rifki.
"Baiklah, mulai sekarang kau tidak akan pernah mendengarnya lagi, kau tidak perlu khawatir soal itu".
Rifki sudah merasa sangat jenuh ditempat itu apalagi dirinya yang harus duduk berdampingan dengan Syaqila untuk menunggu penghulu datang ketempat itu, akan tetapi sudah 30 menit mereka menunggu akan tetapi belum juga datang.
Tak beberapa lama kemudian seseorang memberikan kabar kepada Rifki bahwa penghulu yang akan menikahkan mereka mengalami sebuah kecelakaan dan hal itu membuat Rifki merasa lega karena dia masih memiliki waktu untuk diulur.
"Carikan penghulu yang lain" Ucap Syaqila.
"Baik Nona".
Mendengar perintah itu seketika membuat Rifki merasa kembali tidak tenang, yang tadinya dirinya sudah sangat senang akan tetapi kesenangan itu tidak lagi terlihat diwajahnya.
"Seharusnya kau senang karena sebentar lagi kita akan menikah Rifki".
"Untuk apa aku senang jika diluar sana Nadhira dalam bahaya karenamu, lepaskan Nadhira terlebih dulu".
"Kau terlalu tidak sabaran Rifki, rasanya aku tidak ingin melepaskannya, aku ingin sekali menghabisi wanita sialan itu, berani beraninya dia menjelek jelekkan diriku diacara tunangan kita"
"Kau memang sudah jelek".
__ADS_1
"Apa yang kau katakan itu? Tidak ada wanita yang cantik selain diriku"
"Bagiku, hanya Nadhiraku yang paling cantik, bukan dirimu"
"Jika aku membunuhnya maka sudah tidak ada yang bisa menyaingi diriku, bukan begitu?".
"Jangan pernah sakiti Nadhira!".
*****
Nadhira berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut, setelah cukup lama mencobanya akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk melepaskan ikatan yang sangat kuat tersebut, dan hal itu membuat pergelangannya menjadi memerah.
Setelah berusaha kembali akhirnya salah satu tangannya terlepas juga dari ikatan yang kuat itu, ia pun langsung melepaskan kain yang menutupi mulutnya itu.
"Aku harus menyelamatkan Rifki" Ucap Nadhira lirih.
Nadhira pun berusaha untuk melepaskan tangan yang satunya, meskipun ikatan tersebut menimbulkan sebuah bekas kemerahan yang melingkar dipergelangan tangannya akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit itu.
Usaha tidak akan mengkhianati hasil, akhirnya kedua tangannya terlepas dari ikatan tersebut, setelah itu ia mencoba untuk melepaskan ikatan yang melilit dikedua kakinya meskipun itu sangat sulit untuk digapai.
"Dimana pisau kecilku" Ucap Nadhira sambil mencari pisau kecilnya yang berbentuk pena itu.
Nadhira pun mengedarkan pandangannya kemana mana untuk mencari benda kecil panjang itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukannya, tiba tiba benda tersebut jatuh begitu saja didekat Nadhira dan menancap pada tanah disampingnya.
"Jangan pernah tinggalkan benda itu"
"Nimas, kau bisa masuk ketempat ini".
Nadhira begitu terkejut ketika melihat Nimas sudah melayang diatasnya, dengan kekuatannya Nimas melemparkan pisau kecil tersebut kepada Nadhira, Nadhira merasa senang karena dapat bertemu dengan Nimas saat ini.
"Entah mengapa penghalangnya tiba tiba menghilang Dhira, jangan pikirkan hal itu, sebaiknya kau harus cepat pergi dari sini Dhira, pernikahan itu sebentar lagi akan terjadi".
"Kau benar Nimas" Ucapnya sambil mengangguk dan langsung memotong tali yang melilit dikakinya menggunakan pisau kecil itu.
Nadhira segera berlari keluar dari goa tersebut setelah merasa cukup aman untuk meloloskan diri dari tempat yang mengerikan itu, dengan rambut yang terurai dirinya berlari menjauh dari tempat dimana dirinya dikurung sebelumnya.
"Dia kabur! Cepat tangkap dia!" Seru beberapa orang yang melihat Nadhira kabur dari tempat itu.
Mendengar seruan tersebut membuat orang orang yang berjaga ditempat itu segera mengejar Nadhira yang mencoba untuk kabur dari tempat itu, Nadhira dengan sekuat tenaganya mencoba untuk lolos dari kejaran tersebut.
Salah satu anak buah Syaqila lalu mencoba untuk menghubungi Syaqila, Syaqila yang sedang asik menyambut kedatangan tamu undangan membuatnya harus menjauh dari semua orang untuk mengangkat telpon tersebut.
"Hallo Bos, gadis itu kabur" Ucap anak buahnya itu kepada Syaqila yang ada diujung sebrang telpon.
"Apa! Bagaimana bisa? Cepat tangkap dia" Perintah Syaqila dari balik telpon.
"Baik Bos, kami akan segera menangkapnya".
"Kalau perlu, bunuh sekalian".
"Baik Bos".
Syaqila lalu mematikan telpon tersebut dengan perasaan marahnya karena Nadhira berhasil mencoba untuk kabur dari tempat itu, sepertinya ada seseorang yang telah membantunya lolos dari perisai yang telah ia buat.
"Akh..."
Tiba tiba sebuah ranting membuat Nadhira terjatuh ditempat itu dan kepalanya mengenai sebuah batu yang sangat runcing hingga membuatnya mengeluarkan darah, Nadhira memegangi kepalanya yang terasa perih tersebut dan dirinya kembali mencoba untuk bangkit.
"Kemana lagi kau akan lari gadis cantik, kau tidak akan bisa lari lagi" Ucap seseorang.
Melihat Nadhira yang terjatuh membuat anak buah Syaqila langsung mengepungnya dan tidak membiarkan Nadhira untuk berlari lebih jauh lagi, Nadhira pun memandangi sekitarnya dan sepertinya tidak ada cela untuk dapat kabur dari orang orang yang menjadi anak buah Syaqila itu.
"Kalian tidak akan bisa menghentikan langkahku" Ucap Nadhira dengan tegasnya.
Nadhira pun melakukan gerakan memutar dan salah satu kakinya ia melakukan gerakan sapuan hingga membuat mereka berjatuhan karena tidak mampu menjaga keseimbangan mereka dari gerakan sapuan yang dilakukan oleh Nadhira saat ini.
Melihat mereka yang berjatuhan membuat Nadhira segera bangkit dari duduknya dan melompati mereka untuk dapat pergi dari tempat itu, dengan lincahnya Nadhira bergegas berlari untuk menjauh dari mereka.
"Cepat bunuh gadis itu!" Perintah seseorang yang diduga sebagai bos ditempat itu.
__ADS_1
"Baik Bos".