Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Meminta restu kepada orang tua


__ADS_3

Nadhira dan Rifki saling berpandangan karena keduanya tidak mengetahui siapa yang akan datang, tidak biasanya mereka mengetuk pintu terlebih dahulu seperti itu sehingga keduanya merasa kebingungan dengan siapa orang itu.


"Assalamualaikum" Ucap seorang wanita setelah membuka pintu kamar tersebut.


"Waalaikumussalam" Jawab Nadhira dan Rifki bersamaan.


Terlihat sosok Putri, Haris, dan Aryabima datang untuk mengunjungi Nadhira, melihat kedatangan ketiganya membuat Rifki dan Nadhira merasa sangat senang, dan Rifki segera bangkit dari duduknya untuk menjabat tangan ketiganya.


Nadhira hendak ikut bangkit dari tidurnya akan tetapi Putri segera mencegahnya, Putri pun mendekat kearah meja yang ada disana untuk menaruh beberapa makanan yang telah ia bawa.


"Kamu tidur saja Dhira, jangan terlalu banyak beraktivitas, kamu baru sadarkan diri dan kondisimu belum benar benar pulih" Ucap Putri.


"Iya Tante".


Melihat Nadhira yang sudah siuman membuat mereka merasa senang, mereka lalu bergegas untuk mengunjungi Nadhira dirumah sakit sekalian membawakan beberapa cemilan untuk Nadhira.


"Gimana Rif? Apa dia sudah makan?" Tanya Aryabima kepada Rifki.


"Belum Kek".


Cletuk..


Mendengar jawaban Rifki membuat Aryabima segera menjitak kepala cucunya itu, melihat itu membuat Nadhira tersenyum tipis, baru kali ini dia melihat Aryabima melakukan itu kepada cucunya sendiri.


"Sakit Kek" Keluh Rifki sambil mengusap kepalanya.


"Kau ini disuruh jagain orang sakit kok malah belum kamu kasih makan sih Rif" Omel Aryabima.


"Gimana kondisi Nadhira?" Tanya Haris.


"Dhira baik baik saja kok Om" Jawab Nadhira.


"Dokter bilang kondisinya masih lemah Pa, dia masih butuh perawatan yang lebih insentif, untuk sementara dia tidak boleh melakukan apapun, Dokter khawatir kalo dia ngedrop lagi" Ucap Rifki dengan nada serius.


"Sejak kapan dokter bilang seperti itu Rif? Aku ngak pernah dengar hal itu, aku baik baik saja sekarang, kau pasti salah dengar Rif" Nadhira sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Rifki saat ini.


Ada perasaan sedih yang tersirat dihati Rifki ketika mengingat apa yang Dokter katakan kepadanya, sementara Haris yang memahaminya pun hanya mengangguk pelan kepada Rifki dan menepuk pelan pundak pemuda tampan itu.


"Rif?" Panggil Nadhira.


"Ada apa Dhira?" Jawab Rifki sambil mendekat kearah Nadhira yang terbaring diatas kasur rumah sakit itu.


"Kenapa kau sedih?"


"Sudah jangan pikirkan ucapanku tadi Dhira, kau harus lebih banyak istirahat lagi untuk saat ini" Ucap Rifki sambil mengusap kepala Nadhira pelan.


"Aku lelah jika harus tidur terus Rif, baru juga bangun tidur masak harus tidur lagi".


"Ya sudah, bagaimana kalau aku suapi makan lagi? Kamu belum makan kan?"


"Ngak mau, rasanya sangat hambar bahkan tidak ada garamnya sama sekali kayaknya, apalagi dengan obat obatan yang pahit itu"


"Kau tidak boleh makan terlalu banyak garam, ngak baik untuk kesehatanmu, kamu terlalu banyak alasan Dhira, itu semua agar kau cepat sembuh, Rifki tidak mau terima penolakan sedikitpun!".


"Iya iya, bantu bangunkan"


Rifki tersenyum mendengar ucapan Nadhira, ia pun lalu membantu Nadhira duduk, entah kenapa luka dipunggungnya membuatnya sangat sulit untuk bangun dengan sendirinya, jadi dia masih memerlukan seseorang untuk membantunya bangkit.


Putri lalu mengeluarkan sebuah kotak yang ia bawa dari rumah tersebut dan memberikannya kepada Rifki, Rifki segera menerima kotak tersebut dan membukanya.


Rifki pun menyuapi Nadhira dengan perlahan lahan, melihat Rifki yang sangat perhatian kepadanya membuat Nadhira merasa gelisah, entah apa yang sedang disembunyikan oleh Rifki kepadanya saat ini.


"Aku sudah kenyang Rif".


"Sedikit lagi habis Dhira, dihabiskan sekalian nanti sayang kalau ngak dimakan".


"Tapi Rif..."


"Sudah buka mulutmu".


Dengan terpaksa Nadhira membuka mulutnya agar Rifki mampu memasukkan nasi kedalam mulutnya itu, melihat Nadhira yang tidak bisa membantah ucapannya itu membuat Rifki tersenyum tipis, karena dihadapan kedua orang tua Rifki membuat Nadhira tidak bisa berkutik ataupun menolak keinginan Rifki.


Rifki hanya khawatir dengan kondisi Nadhira saat ini, karena selama didalam rumah sakit sama sekali tidak ada perkembangan, Rifki mengira bahwa alat yang digunakan untuk memeriksa Nadhira sudah rusak, akan tetapi jika dibayangkan ulang itu bisa saja karena Nadhira saat ini hanya memiliki satu ginjal saja didalam tubuhnya.


Rifki pun membayangkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhira selama ini, ia tidak tau hal apa saja yang dilakukan ataupun dialami oleh Nadhira selama ini untuk dapat melewati hati hatinya yang sangat melelahkan itu.

__ADS_1


*****


Beberapa hari kemudian, Rifki sedang berada dihalaman rumahnya dan berdiri menghadap kearah rumah tersebut, rumah yang paling nyaman bagi dirinya untuk pulang.


Rifki pun melangkah masuk kedalam rumahnya itu, ia segera mencari tau dimana keberadaan dari kedua orang tuanya itu, Rifki akhirnya menemukan kedua orang tuanya yang kini berada dihalaman belakang rumah yang besar itu.


"Ma, Pa" Panggil Rifki.


Haris dan Putri terkejut ketika melihat kedatangan anaknya itu, apalagi disaat Nadhira belum pulang dari rumah sakit, Rifki pun segera menghampiri keduanya yang tengah bersantai disebuah gazebo yang ada ditaman belakang.


"Rifki ingin menikah" Ucap Rifki.


"Apa? Dengan siapa?" Tanya Putri yang terkejut mendengar ucapan Rifki.


"Dengan Nadhira Ma"


Haris dan Putri begitu terkejut mendengar ucapan Rifki, keduanya pun langsung saling berpandangan satu sama lain, dan kedunya langsung berdiri begitu saja dari tempat duduknya.


"Papa tidak setuju!" Ucap Haris dengan tegas.


"Kenapa Pa? Nadhira adalah gadis yang baik, dan dia adalah wanita yang tepat untuk Rifki"


"Pokoknya Papa tidak setuju Rifki, masih banyak gadis yang ada diluar sana yang jauh lebih baik daripada Nadhira".


"Kenapa Pa? Bukannya Papa dan Mama sudah mengenal Nadhira sejak lama? Kenapa Rifki tidak boleh menikah dengan Nadhira?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rifki, Haris segera meninggalkan tempat tersebut dengan langkah gontai sementara Putri yang melihat itu langsung menyusul suaminya yang tiba tiba pergi, dan hal itu membuat Rifki mematung ditempatnya.


"Kenapa aku tidak boleh menikah dengan Nadhira? Dia adalah gadis yang aku cintai"


Rifki menundukkan kepalanya sesaat setelah itu dirinya langsung bergegas untuk mengejar kedua orang tuanya, kedua orang tua Rifki langsung masuk kedalam kamar mereka dan menutup pintu tersebut.


Tok tok tok


"Ma, Pa, tolong jelaskan kepada Rifki kenapa Rifki tidak boleh menikah dengan Nadhira"


Rifki terus mengetuk pintu kamarnya tersebut dan berharap bahwa kedua orang tuanya membukakan pintu kamar tersebut dan membiarkan Rifki untuk masuk kedalam kamar.


Sementara didalam kamar Haris tengah duduk didepan kaca jendela dengan adanya setitik air mata dipelupuk matanya, Putri pun mengusap pelan punggung suaminya itu.


"Jawaban apa yang harus aku berikan kepada Rifki agar Rifki memahami?" Tanya Haris kepada Putri.


"Bagaimana aku bisa mengatakan hal itu kepadanya Dek? Itu pasti akan sangat menyakitkan baginya, aku juga tidak ingin kehilangan Rifki, jika dia menikah dengan Nadhira maka nyawanya tidak akan terselamatkan lagi".


"Lalu bagaimana caranya kita untuk memisahkan keduanya Mas? Keduanya saling mencintai, aku juga tidak ingin kehilangan Rifki, lantas apa yang harus kita lakukan Mas".


Keduanya pun mendengarkan suara Rifki yang terus memohon kepada mereka untuk merestui hubungan Rifki dengan Nadhira, memang Nadhira adalah gadis yang terbaik untuk Rifki akan tetapi disatu disisi Nadhira adalah ancaman terbesar bagi Rifki karena adanya permata iblis didalam tubuhnya.


"Pa tolong restui hubungan kami" Rintih Rifki dari luar kamar tersebut dan berulang ulang kali mengetuk pintu kamar mereka berdua.


Mendengar suara Rifki yang memohon mohon kepadanya membuat Haris dan Putri semakin terluka, sementara diluar Rifki tengah berlutut didepan kamar keduanya agar mereka merestui hubungannya dengan Nadhira.


"Pa buka pintunya tolong restui kami Pa, Rifki mohon, biarkan Rifki menjaga Nadhira Pa, biarkan Rifki selalu ada disamping Nadhira Pa, Rifki mohon"


Beberapa jam Rifki berlutut didepan pintu kamar orang tuanya, tak henti hentinya Rifki terus meminta agar kedua orang tuanya segera merestui hubungan antara dirinya dengan Nadhira, tak beberapa lama kemudian Aryabima mendatangi Rifki dan menyuruh Rifki untuk berdiri.


"Kek tolong bujuk Mama dan Papa, Rifki hanya ingin bersama dengan Nadhira, Rifki mohon Kek" Ucap Rifki dengan kedua mata yang berkaca kaca.


Aryabima mengusap pelan kepala cucunya itu, ia tau bahwa hal ini sangat berat bagi Haris dan Putri, sehingga keduanya mengunci pintu dari dalam dan tidak mempedulikan Rifki yang terus memohon untuk restu dari keduanya.


"Kakek tidak bisa melakukan itu Nak".


"Kenapa Kek? Kenapa Rifki tidak boleh menikah dengan Nadhira? Mama dan Papa tidak mau menjelaskan semuanya kepada Rifki, alasan apa yang membuat mereka tidak setuju Kek? Tolong beritahu Rifki, Rifki mohon".


"Kalian tidak boleh bersama Nak, jika Rifki ingin menikah maka Kakek akan mencarikan wanita yang tepat untuk dirimu Nak".


"Rifki tidak mau wanita yang lainnya Kek, Rifki hanya mencintai Nadhira saja, dan Rifki merasa bahagia jika bersama dengan Nadhira".


"Nak, kalian tidak boleh bersama".


"Alasannya apa Kek! Rifki butuh penjelasan yang jelas dari kalian semua, kenapa tidak ada satupun dari kalian yang mau memberitahu hal itu kepada Rifki, kenapa Kek?".


"Akan sangat berbahaya jika kalian bersama nanti".


"Apapun itu, Rifki dan Nadhira pasti bisa melewatinya Kek, sudah begitu banyak cobaan dan rintangan yang telah kita hadapi bersama sama selama ini, dan kami tidak takut dengan apapun yang akan terjadi kedepannya nanti".

__ADS_1


"Iya memang kalian bisa melewati rintangan itu, tapi apakah anak kalian akan bisa menerima semuanya? Jangan pikirkan perasaan kalian saja Nak, tapi pikirkan juga anak yang akan lahir dari kalian berdua nantinya, apa kau rela melihat anak kalian menderita suatu saat nanti".


"Maksud Kakek apa? Kenapa dengan anak yang akan lahir diantara kami nantinya?".


"Karana anak itu akan membawa malapetaka bagi semua orang, apa kau rela melihat anakmu mati didepan mata kepalamu sendiri?"


"Kenapa Kek?".


"Karena dia adalah keturunanmu dan Nadhira, tidak ada yang mengetahui tentang rahasia ini, anak itu akan memiliki kekuatan permata iblis dan juga keris pusaka xingsi nantinya, dan bisa saja Nadhira atau dirimu yang akan mati terlebih dulu, sampai sekarang kita juga tidak tau bagaimana caranya untuk menghancurkan permata iblis itu".


"Tidak Kek, Kakek pasti berbohong kepadaku kan? Itu semua tidak benar kan? Itu tidak benar, itu tidak mungkin terjadi".


Tiba tiba Haris membuka pintu kamar tersebut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Aryabima kepada Rifki, melihat Rifki yang berlinang air mata membuat Haris merasa terpukul.


"Pa, Kakek bohong kan?" Tanya Rifki penuh harap bahwa Papanya setuju dengan ucapan Rifki.


"Apa yang dikatakan Kakekmu itu benar Nak"


"Tidak Pa, itu tidak mungkin, kalian pasti bohong kan? Itu tidak benar".


"Nak mengertilah, kalian memang tidak boleh bersama sama".


"Rifki hanya mau dengan Nadhira Pa!" Ucap Rifki dan langsung berlari pergi dari tempat itu.


"Rifki! Dengarkan Papa!" Teriak Haris yang tidak dipedulikan oleh Rifki.


Ketika Rifki meninggalkan tempat itu seketika membuat Haris merasa sangat sedih, Haris beberapa kali memanggil namanya akan tetapi Rifki sama sekali tidak mempedulikan panggilan tersebut.


"Biarkan Rifki tenang dulu, mungkin dia hanya kecewa mendengar semua ini, tapi perlahan lahan kondisinya akan kembali seperti semula" Ucap Aryabima yang menghentikan langkah Haris yang ingin mengejar anak laki lakinya itu.


"Tapi Ayah, aku takut kalau Rifki sampai berbuat nekat nantinya, Rifki terlalu keras kepala untuk melakukan sebuah tindakan, aku hanya takut kalau dia melakukan hal yang sama ketika dia akan menikah dengan Syaqila waktu itu".


"Dia tidak akan melakukan itu, dia sangat mencintai Nadhira, mungkin dia akan menemui Nadhira saat ini, aku dengar bahwa Nadhira akan pulang hari ini, Nadhira tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada Rifki, perlahan lahan saja kita memberitahu Nadhira soal itu".


"Baik Ayah, kami hanya khawatir dengan Rifki yang tiba tiba pergi seperti itu".


"Aku tau tentang kekhawatiran kalian itu, Rifki akan memikirkan perkataanku berulang ulang kali, lebih baik dia segera tau daripada kita terus menyembunyikan hal seperti ini darinya".


"Apa tidak ada cara lain Ayah? Aku seorang wanita juga, dan aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Nadhira nanti, apakah kita terlalu egois Ayah?"


Aryabima menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Putri, "Hanya ada satu cara yang sangat sulit, tapi kita tidak akan pernah mungkin untuk bisa melakukannya".


"Cara apa itu Ayah?".


*****


Rifki segera bergegas untuk mendatangi Nadhira dirumah sakit, ia segera masuk kedalam mobilnya dan memerintahkan kepada salah satu anak buahnya untuk menjalankan mobil tersebut untuk menuju kerumah sakit dimana Nadhira saat ini sedang dirawat dirumah sakit itu.


Tak beberapa lama perjalanan mereka, akhirnya mobil yang dinaiki oleh Rifki pun telah sampai diparkiran area rumah sakit itu, Rifki langsung bergegas menuju kekamar inap Nadhira.


Sesampainya dikamar inap Nadhira, Rifki melihat bahwa Nadhira sedang tertidur dengan pulasnya saat ini, melihat kedatangan Rifki membuat Bi Ira segera bergegas untuk mendatangi Rifki.


"Dia baru saja tertidur Nak, sejak tadi dia menunggu kedatanganmu" Ucap Bi Ira pelan.


"Bagaimana kondisinya saat ini Bi?"


"Tadi ada Dokter yang memeriksanya dan katanya Nadhira sudah diperbolehkan untuk pulang, tapi dia harus banyak istirahat"


"Alhamdulillah kalau begitu Bi"


Mendengar suara Rifki yang sudah datang membuat Nadhira membuka kedua matanya, pandangan tertuju kepada Rifki yang tidak jauh dari dirinya dan sedang mengobrol dengan Bi Ira.


"Rif" Panggil Nadhira pelan.


Mendengar panggilan itu membuat Rifki segera menoleh kearah Nadhira dan menemukan bahwa Nadhira saat ini sudah membuka kedua matanya, Rifki pun segera menghampiri Nadhira dan langsung duduk dikursi sebelah Nadhira.


"Kenapa kau terlihat sedih?" Tanya Nadhira ketika menatap kedua mata Rifki yang sedikit sembab.


"Ngak apa apa Dhira, hanya kelilipan debu saja ketika perjalanan kemari".


"Kamu sudah makan Rif?".


"Sudah kok sebelum kesini aku makan dulu Dhira, apa kamu mau nyemil sesuatu?".


"Ngak Rif, oh iya Rif, aku sudah diperbolehkan untuk pulang, kata Dokter kondisiku sudah membaik".

__ADS_1


"Iya Dhira, Bi Ira sudah memberitahukan itu kepadaku tadi, kau harus lebih banyak istirahat Dhira"


"Iya Rif".


__ADS_2