Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Ada apa dengan Rifki?


__ADS_3

Rifki menundukkan kepalanya ketika melihat Nadhira membuang muka dari wajahnya, ia tidak bisa berbuat apa apa untuk mengembalikan mood wanita itu, meskipun dirinya sudah berusaha sebisa yang ia mampu akan tetapi mood wanita itu masih tetap saja membenci dirinya.


"Dhira, apa kau tidak bosan dikamar terus? Ayo jalan jalan keluar" Ajak Rifki dengan suara penuh harap.


"Ngak" Jawab Nadhira singkat.


Mendengar jawaban itu langsung membuat Rifki terdiam, ia tidak tau bagaimana cara menghadapi wanita yang sedang marah itu, ngomong salah ngak ngomong rasanya seperti canggung, yang awalnya begitu dekat kini pun terasa jauh.


Nadhira sebenarnya merasa sangat bosan saat ini, apalagi hanya berduaan diruangan itu, ia masih marah dengan Rifki dan dirinya sangat menantikan kedatangan Putri ketempat itu karena dirinya masih bisa bercanda gurau dengan Putri.


Rifki pun membuka ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya, sementara Nadhira lebih memilih menghadap kearah tembok daripada menghadap kearah wajah Rifki yang selalu membuatnya kecewa itu atas kehilangan anak mereka.


"Halo, ada apa?" Suara Rifki yang nampak sedang mengobrol dengan seseorang yang ada diseberang telpon sana.


"Batalkan saja semuanya hari ini, aku masih ada urusan" Suara Rifki lagi lagi.


Mendengar suara tersebut membuat Nadhira menoleh kearah Rifki, tatapan mata tersebut langsung bertemu karena Rifki saat ini yang terus memandang kearahnya itu, melihat itu pun membuat pipi Nadhira menjadi bersemu merah.


Tiba tiba rasa panas dipipinya pun ia rasakan, hal itu membuat Nadhira langsung memegangi pipinya dengan salah satu tangannya, ia lalu menoleh kearah yang berlawanan dari tempat Rifki berada.


"Ada apa sayang? Apa kamu membutuhkan sesuatu sayang?" Tanya Rifki ketika melihat Nadhira menoleh kearahnya sekilas.


"Ngak" Masih dijawab dengan singkat.


"Bilang aja sayang, akan aku lakukan"


"Pergi sana! Urus saja pekerjaanmu itu"


"Pekerjaanku? Pekerjaanku kan hanya menjagamu sekarang, kalo aku pergi lalu yang menjagamu siapa? Kalo dijaga orang lain aku ngak iklas, jadi kamu mau aku yang urus?"


"Ngak"


Mendengar jawaban singkat dari Nadhira itu langsung membuat Rifki merasa bingung, apakah dia telah melakukan kesalahan dengan Nadhira saat ini, tapi kesalahan apa yang telah ia lakukan? Rifki merasa bingung sendiri saat ini.


"Kenapa? Aku salah lagi ya? Maaf ya sayang, biarkan aku disini ya sayang, pliss. Jangan usir aku keluar"


"Aku ngak butuh dirimu disini"


"Tapi aku butuh dirimu disampingku sayang, aku tidak bisa jauh jauh darimu"


Nadhira kembali mengabaikan ucapan Rifki, ia lalu memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk bisa tidur dengan nyenyak, melihat itu pun membuat Rifki tersenyum tipis kearah Nadhira tanpa Nadhira sendiri ketahui.


1 jam kemudian, Rifki terus menerus memandangi kearah Nadhira yang tidak bergerak itu pertanda bahwa wanita itu telah tertidur dengan nyenyaknya, ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Nadhira dengan perlahan lahan.


Wajah Nadhira yang terlelap itu pun terlihat imut bagi Rifki, ia memandangi wajah Nadhira begitu dalam dan cukup lama, ingin sekali Rifki memeluk tubuh Nadhira yang sangat ia rindukan itu akan tetapi ia takut kalau Nadhira akan terbangun nantinya.


"Cantik, aku rindu Dhira" Guman Rifki pelan.


Nadhira pun mengeliat pelan, hal itu membuat Rifki mengembangkan senyumnya karena saat itulah membuat Nadhira semakin cantik dipandangnya, dengan perlahan lahan Rifki membenarkan anak rambut Nadhira yang menutup wajahnya itu.


"Sudah dong marahnya sayang, aku benar benar minta maaf kepadamu sayang"


Nadhira merasa sesuatu tengah mengusap kepalanya pelan, merasa hal itu membuatnya sedikit terusik dan menggeliat, dengan cepat ia membuka kedua matanya dan mendapati sosok Rifki tengah berdiri disampingnya dengan menatap kearah wajah Nadhira.


"KAMU MAU APA!" Bentak Nadhira kaget.


Rifki pun terkejut bukan main karena mendengar bentakan keras tersebut, ia pun langsung berdiri dengan tegaknya dan menjadi salah tingkah dihadapan Nadhira saat ini, hal itu membuat Nadhira memegangi selimutnya dengan erat.


"Kau melecehkanku!" Nadhira bergidik ngeri dihadapan Rifki saat ini.


"Aku tidak ngapa ngapain Dhira, tadi hanya ada nyamuk yang hinggap dikeningmu, aku ingin mengusirnya agar tidak menghisap darahmu, aku ngak mau kamu digigit nyamuk"


"Bohong!"


"Aku tidak bermaksud untuk melecehkan dirimu Dhira, beneran deh aku ngak bohong kok, ini baru namanya melecehkanmu"


Rifki mendekatkan wajahnya kearah wajah Nadhira dengan perlahan lahan, melihat itu pun membuat Nadhira merasa gemetaran, ketika bibir Rifki hendak menyentuh bibir Nadhira hal itu langsung membuat Nadhira memejamkan kedua matanya, kecupan lama diberikan oleh Rifki dibibir Nadhira dan akhirnya Rifki mendapatkan pukulan keras dari Nadhira.

__ADS_1


"Kau!" Nadhira pun menuding kearah Rifki.


Pukulan tersebut hanya membuat Rifki terkekeh pelan, ia tidak tahan melihat wajah Nadhira yang marah itu, ingin sekali dirinya mencubit kedua pipinya sekarang tapi ia tau bahwa Nadhira akan semakin marah nantinya.


"Rasanya manis, aku suka" Ucap Rifki tanpa bersalah.


Rifki pun merasakan kemenangan kali ini, ia lalu kembali melangkah untuk duduk disofa yang berada tidak jauh darinya, sementara Nadhira langsung memegangi bibirnya yang telah dicium oleh Rifki tersebut dengan tangan kanannya, Nadhira pun terlihat seperti melamun saat ini.


Rifki langsung merebahkan tubuhnya untuk duduk disofa tersebut, ia pun melipat kedua tangannya didepan dadanya sambil menatap kearah Nadhira yang berbaring sambil memegangi bibirnya itu, sebuah senyuman kemenangan tersungging diwajahnya saat ini.


"Mau lagi?" Tanya Rifki.


"Ngak!" Nadhira langsung menyembunyikan rona wajahnya dibalik selimutnya.


Rifki kembali mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa keadaan perusahaannya, setelah cukup lama menutupi wajahnya dengan selimut akhirnya Nadhira membukanya dengan perlahan lahan, ia menatap kearah Rifki yang tengah sibuk dengan ponselnya saat ini.


Nadhira memandangi wajah Rifki cukup lama, wajah itu terlihat sangat kelelahan akan tetapi harus dipaksakan untuk bekerja, Rifki pun merasa bahwa dirinya tengah dipandangi oleh Nadhira dan hal itulah langsung membuatnya mendongakkan wajahnya untuk memandang Nadhira, melihat itu membuat Nadhira langsung kembali menyembunyikan wajahnya.


"Ada apa sayang? Apa kamu butuh sesuatu? Apa mau nyemil atau apa gitu?" Tanya Rifki sambil meletakkan ponselnya dan bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah Nadhira.


"Ngak" Jawab Nadhira dengan singkat.


Rifki masih setia untuk menatap kearah wajah Nadhira saat ini, hal itu membuat Nadhira menjadi canggung dan bahkan untuk bergerak saja dirinya langsung dibuat terpaku oleh Rifki, bagaimana tidak setiap gerak aja Rifki selalu bertanya kepadanya tentang membutuhkan sesuatu atau tidak.


Nadhira menoleh kearah yang berlawanan dari tempat Rifki berada, ia pun menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk kanannya, ciuman yang diberikan oleh Rifki masih terasa sampai saat ini baginya.


"Dia benar benar melakukannya, dia jahat, aku membencinya, dia telah mengorbankan anakku" Guman Nadhira pelan.


Berada disana berdua bersama Rifki membuat Nadhira merasa bahwa hari itu panjang, bahkan sejak tadi pun masih menunjukkan pukul setengah dua belas siang, padahal dirinya sudah merasa begitu lama berada diruangan itu bersama dengan Rifki.


Tak beberapa lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali, tak lama kemudian sosok wanita paruh baya masuk kedalam ruangan itu mengantar makan siang untuk Nadhira, dan Rifki langsung menerimanya setelahnya wanita itu langsung pergi.


"Makan dulu sayang" Ucap Rifki.


"Aku ngak lapar"


"Kamu harus makan, biar cepet sembuh"


"Jadi mau dijagain oleh diriku terus disini? Bolehlah kalo begitu"


Mendengar itu membuat Nadhira berusaha untuk bangkit duduk sendiri, Rifki yang hendak membantu dirinya pun langsung didorong oleh Nadhira untuk menjauh dari dirinya, Rifki hanya bisa pasrah dengan tindakan dari Nadhira.


"Aku bisa sendiri" Ucap Nadhira.


"Udah dong marahnya sayang, maafin ya"


"Ngak"


Nadhira lalu duduk dengan melipat kedua kakinya diatas bangkar, setelahnya ia memangku piring yang berisikan makanan itu, dengan perlahan lahan dia mulai menyuapkan kedalam mulutnya sendiri tanpa meminta bantuan dari Rifki.


Rifki lalu berjalan meninggalkan dirinya untuk masuk kedalam kamar mandi, Nadhira melihatnya hanya sekilas setelahnya ia kembali fokus pada makanannya itu, tak beberapa lama kemudian Rifki keluar dengan puncak rambut yang basah karena selesai berwudhu.


Air yang menetes dari ujung rambutnya itu langsung membawa kedamaian untuk Nadhira, Rifki menyisir rambutnya dengan tangannya hingga membuat pandangan Nadhira terarah kepadanya begitu lama, disaat saat itulah Rifki terlihat begitu tampan bagi seorang Nadhira.


"Ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu? Aku sholat dulu ya, sudah adzan dhuhur"


Ucapan Rifki begitu lembut ditelinga Nadhira, hal itu membuat Nadhira langsung menoleh kearah lain dan terbitlah sebuah senyuman diwajah Nadhira, senyuman yang begitu tipis.


Nadhira pun tidak menjawab ucapannya seperti sebelumnya, hal itu membuat Rifki langsung mengeluarkan sajadah dan pecinya dari dalam tas yang ia bawa sebelumnya untuk berjaga jaga.


Rifki lalu memulai sholatnya didekat Nadhira dan hal itu membuat Nadhira menoleh kearah Rifki yang tengah menghadap kearah kiblatnya dan membelakangi dirinya itu.


Melihat Rifki sholat dari belakang membuat Nadhira merasa damai, Nadhira memakan makan siangnya itu sambil menatap kearah Rifki yang tengah melakukan kewajibannya sebagai umat muslim yang bersujud kepada penciptanya.


"Kenapa wajahmu selalu tidak bisa membuatku marah kepadamu Rif, meskipun aku marah tapi kau tetap mau memperlakukanku dengan begitu baik" Guman Nadhira pelan.


Sebenarnya Rifki mampu mendengarkan setiap gumanan dari Nadhira karena ruangan itu yang kedap suara dari sehingga suara pelan Nadhira dapat didengar oleh Rifki akan tetapi dengan samar samar.

__ADS_1


Rifki yang tengah fokus untuk sholat tersebut pun tidak terlalu mendengar gumanan dari Nadhira karena fokusnya kini teralihkan kepada sang penciptanya sehingga suara Nadhira tidak terlalu terdengar olehnya itu.


Tanpa terasa nasi yang ada dipiring Nadhira sudah habis, ia lalu meletakkannya diatas nakas yang berada disebelahnya, setelah itu dirinya lalu mengambil segelas air putih untuk ia minum setelah makan.


Rifki nampak menoleh kekanan dan kekiri untuk mengucapkan dalam dan pertanda bahwa sholatnya telah selesai dilaksanakan, ia lalu berdiri sambil melipat kembali sajadah yang ia gunakan untuk sholat sebelumnya itu.


Selesai sholat biasanya Rifki akan mencium kening Nadhira akan tetapi tidak untuk kali ini, jangankan untuk mencium kening Nadhira bahkan Nadhira pun tidak ingin dekat dekat dengannya, Rifki lalu memasukkan sajadahnya kembali kedalam tas beserta dengan peci yang ia kenakkan.


Ia melihat kearah nakas dan mendapati bahwa piring Nadhira telah kosong, hal itu membuat Rifki sedikit tersenyum, ia lalu mengambil piring tersebut untuk menaruhnya ditempat piring kotor yang ada didepan ruangan tersebut.


Ketika ia kembali masuk kedalam ruangan, ia sudah tidak mendapati sosok Nadhira ada didalam tersebut dan hal itu langsung membuatnya khawatir, akan tetapi ia menyadari bahwa pintu kamar mandi sedang tertutup.


Ia lantas mendekat kearah kamar mandi tersebut, dengan pelan pelan dia mengetuk pintu kamar mandi itu akan tetapi tidak mendapati sahutan dari Nadhira didalam kamar mandi itu.


"Dhira! Kamu ngak papa kan? Dhira, buka pintunya, Dhira kamu kenapa didalam" Rifki terus mengetuk pintu kamar mandi itu karena tidak mendapatkan jawaban dari Nadhira.


"Berisik!" Teriak Nadhira balik ketika suara ketukan pintu dan teriakan Rifki menganggunya.


"Kamu kekamar mandi kok ngak bilang bilang sih, bikin aku khawatir saja"


"Aku bisa sendiri"


Rifki pun merasa lega ketika mengetahui bahwa Nadhira ada didalam kamar mandi, ia lalu berdiri sambil bersandar di tembok sebelah pintu kamar mandi untuk menunggu Nadhira, cukup lama ia menunggu Nadhira keluar dari kamar mandi tersebut akan tetapi Nadhira tak kunjung keluar.


"Dhira, kamu baik baik saja kan didalam?" Rifki kembali mengetuk pintu kamar mandi itu.


Masih tidak ada sahutan dari Nadhira karena Nadhira sedang marah kepadanya, Rifki yang sejak tadi menunggu diluar pun kembali merasa khawatir, ia takut terjadi sesuatu dengan Nadhira didalam kamar mandi itu.


"Dhira buka pintunya! Biarkan aku menemanimu didalam, kalo ngak dibuka buka, aku dobrak loh ini nanti" Ancam Rifki.


Setelah Rifki mengatakan itu membuat Nadhira langsung membuka pintu kamar mandi itu, ia mendapati sosok Rifki yang tengah berdiri didepan kamar mandi tersebut dengan khawatirnya, Rifki langsung memegangi kedua bahu Nadhira karena rasa khawatirnya kepada wanita itu.


"Kamu ngak apa apa kan? Kenapa begitu lama didalam? Ada apa?" Tanya Rifki khawatir.


"Aku ingin tidur" Ucap Nadhira seraya melepaskan pegangan tangan Rifki.


"Biar aku bantu"


"Ngak usah, aku bisa sendiri"


Nadhira lalu memegangi jagrak infus itu sendiri dan membawanya menuju ke bangkar tempat dirinya akan tidur, melihat itu pun membuat Rifki hanya mengikutinya dari belakang dengan perlahan lahan karena dia takut terjadi sesuatu dengan Nadhira.


Tanpa sengaja perhatiannya terarahkan kepada sebuah bungkus obat yang berada didalam tas yang Rifki gunakan untuk menaruh peralatan sholat dan lain lainnya, Nadhira lalu mengambil bungkus obat tersebut dan membacanya.


"Kenapa ada bungkus obat ini disini?" Tanya Nadhira sambil mengangkat bungkus obat itu.


Itu adalah obat yang penah Nadhira minum ketika luka tusukan yang ada diperutnya waktu dulu kambuh lagi, obat itu untuk meredahkan rasa nyeri dari sebuah luka dan hal itulah yang membuat perhatian Nadhira tertuju kepadanya.


"Maaf, aku lupa membuangnya tadi, biar aku buang sekarang ya, biar ngak lupa lagi nanti" Rifki langsung mengambil bungkus obat tersebut dari tangan Nadhira begitu saja dan menggenggamnya dengan begitu sangat erat.


"Kalo ngak ada apa apa kenapa kamu sangat gelisah ketika aku melihatnya?"


"Ngak apa apa, hanya pikiranmu saja kali Dhira, obat ini juga kan udah ngak ada isinya, kalo ngak dibuang lalu buat apa ada disini"


"Tapi, itu adalah obat luka, kamu terluka?"


"Ngak, bagaimana mungkin aku bisa terluka, kamu ada ada aja Dhira"


"Kamu kenapa?"


"Aku ngak apa apa, aku juga ngak tau kenapa bungkus obat ini bisa ada disini, ya sudah aku mau buang ini dulu" Ucap Rifki beralasan dan dirinya langsung melenggang untuk pergi.


Rifki pun mengenggam erat bungkus obat tersebut dan mencari sebuah tong sampah untuk membuangnya, ia pun membuang bungkusnya itu agak jauh dari ruangan tempat Nadhira dirawat tersebut.


"Kenapa kau bisa sampai lupa dengan bungkus ini sih, untung saja aku masih bisa beralasan" Guman Rifki seraya membuang bungkus obat tersebut.


Tak beberapa lama kemudian Rifki kembali masuk kedalam ruangan itu, ia pun mendapati bahwa Nadhira sudah merebahkan tubuhnya diatas bangkar rumah sakit dengan memejamkan matanya, ia pun tersenyum tipis melihat itu dan kembali duduk disofa yang berada didalam ruangan itu.

__ADS_1


"Cepet banget tidurnya, kalo tidur seperti ini, dia terlihat begitu cantik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna untuk diriku, aku mencintaimu istriku"


Rifki memandangi kearah wajah Nadhira yang terpejam tersebut dengan sebuah senyuman yang tercipta diwajahnya yang cantik itu, melihat itu membuat Rifki merasa lebih damai dan tenang.


__ADS_2