
Kinara baru saja tiba di rumahnya, dirinya langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya karena merasa sangat lelah seharian jalan jalan. Ketika dirinya hendak merupakan tubuhnya di atas kasur, pandangannya langsung tertuju ke arah sebuah meja yang tidak jauh darinya.
Kinara melihat sebuah kotak yang entah kapan dan siapa yang telah menaruhnya di sana, sehingga dirinya tadi pagi dirinya tidak melihat apapun yang ada di meja itu. Kinara sendiri pun langsung bergegas menuju ke arah meja untuk memeriksanya, dan terlihat sebuah kotak yang berisikan ponsel di dalamnya.
"Ini kan ponsel yang tadi aku lihat, kenapa bisa ada di sini?" Gumannya pelan sambil membuka kotak ponsel itu.
Kinara mulai memainkan ponsel tersebut dan mengecek sesuatu di dalamnya, penampakan sel itu terlihat baru saja dibeli karena pengaturannya masih setelan pabrik. Ponsel tersebut terlihat sangat bagus dan ponsel itu yang diinginkan oleh Kinara sebelumnya, kirara sendiri juga bingung kenapa ponsel itu ada di dalam kamarnya.
Kinara merasa bahwa dirinya tidak pernah membeli ponsel tersebut, tapi kenapa ponsel itu ada di dalam kamarnya? Kinara bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Kinara langsung bergegas keluar dari dalam kamarnya untuk mencari Bu Siti, Kinara ingin menanyakan tentang ponsel itu kepada Bu Siti.
"Nek!!" Panggil Kinara dengan nada keras untuk mencari Bu Siti.
Kinara mencari Bu Siti ke seluruh ujung rumah itu tapi tidak ia ketemukan juga, entah ke mana perginya wanita paruh baya itu dari rumah. Kinara terus mencarinya sambil terus memanggil namanya, nampak terlihat Siska langsung muncul di dekatnya.
"Kenapa kamu teriak teriak, Nara? Ada apa?" Tanya Siska kepada Kinara.
"Nenek dimana, Tante?" Tanya Kinara balik tanpa menjawab pertanyaan Siska sebelumnya.
"Dia sedang di kebun, kenapa cari Nenek?"
"Tante tau siapa yang menaruh ponsel ini didalam kamarku? Soalnya tiba tiba ada ponsel ini. Apa Tante lihat siapa yang masuk ke kamarku sebelumnya?"
"Coba lihat,"
Siska merasa penasaran dengan ponsel tersebut dan dirinya mencoba untuk meminjam kepada Kinara, Kinara sendiri langsung memberikan ponsel itu kepada Siska untuk dilihat.
"Ini kan ponsel mahal," Ucap Siska setelah selesai melihatnya.
"Makanya itu aku mau cari Nenek, Tante. Kita kan nggak mampu untuk membeli ponsel semahal ini, apalagi ponsel ini tiba tiba sudah berada di dalam kamarku."
"Apa jangan jangan temanmu sengaja memasukkannya ke dalam tasmu, terus kamu mau dijebak oleh mereka karena dikira mencuri."
"Tante kebanyakan nonton drama deh, masa iya sih teman temanku mau berniat buruk sama aku?
"Kalau bukan seperti itu lantas dari mana ponsel ini? Jangan bilang kalau kamu pura pura ponsel ini sudah ada di dalam kamarmu?"
"Mana ada aku mengambil ponsel ini, Tante. Aku memang tidak punya uang untuk membelinya tapi bukan berarti aku mengambilnya, ponsel ini sudah ada di dalam kamarku dan aku tidak tahu. Mangkanya itu aku mencari nenek untuk meminta penjelasan darinya,"
"Sebentar lagi mungkin Ibu akan pulang, kita tunggu aja di sini sampai dia datang," Pungkas Siska.
"Baik Tante."
Kinara pun menganggukkan kepalanya serius, dirinya tidak sabar untuk menunggu kedatangan Bu Siti ke rumah itu. Kinara sangat penasaran dengan ponsel yang ada di dalam kamarnya itu, entah itu ponsel milik siapa tiba tiba sudah ada di dalam kamarnya.
Tiba tiba terdengar suara pintu yang tengah dibuka oleh seseorang, mendengar itu langsung membuat kedua orang itu bangkit dari duduknya dan segera bergegas untuk mendatangi suara itu. Bu Siti sangat terkejut ketika melihat keduanya tiba tiba sudah ada di depannya, lebih terkejut lagi ketika melihat seseorang lain berada di dekat Bu Siti.
"Kamu sudah pulang, Nak?" Tanya seorang wanita yang ada didekat Bu Siti.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Kinara dengan nada terkejut.
"Apakah Nenek tidak boleh untuk mengunjungi cucunya? Nenek juga sangat rindu sama cucunya.
Kinara hanya diam membisu melihat sosok wanita yang ada disebelah Bu Siti, setelah itu Bu Siti mengajak Lia untuk masuk kedalam rumahnya dan mempersilakan dirinya untuk duduk diruang tamu itu.
Bu Siti berpamitan untuk masuk kedalam rumahnya untuk membuatkan Lia minuman, sementara Siska tidak ingin menganggu percakapan antara keduanya dan memutuskan untuk membantu Ibunya.
__ADS_1
Lia tersenyum ketika melihat sebuah ponsel yang berada didalam genggaman Kinara, melihat pandangan Lia tertuju kepada tangannya, hal itu langsung membuat Kinara menaruh ponsel tersebut diatas meja.
"Kau yang membelinya?" Tanya Kinara.
"Apa kau suka, Nak? Semuanya sudah lengkap disitu, termasuk juga foto foto masa muda Ibumu dan Ayahmu. Apa kau sudah memeriksanya?"
"Tidak. Aku tidak menyukainya, ambil saja," Ucap Kinara sambil menyerahkan ponsel itu kepada Lia.
"Kenapa? Apakah ponselnya kurang bagus? Biar Nenek belikan lagi yang paling bagus,"
"Tidak usah. Aku nggak suka,"
"Kenapa?"
"Pasti orang itu yang menyuruhmu untuk membelikannya, kan? Aku nggak mau."
"Bukan, Nara. Rifki tidak menyuruhku untuk membelikan itu, ini kemauanku untuk membelikan dirimu ponsel baru,"
"Aku tidak percaya, bilangin ke dia untuk jangan pernah menganggu diriku. Aku tidak mau mendengar apapun tentangnya, aku tidak suka."
"Nara..."
"Aku benci kalian semua. Kenapa kalian membiarkan Mama meninggal? Tak ada satupun yang membela dirinya, bahkan menyelamatkan dia. Disaat Mama masih hidup, kalian semua tidak peduli denganku dan Mama, tapi saat Mama meninggal justru kalian sok sok an baik padanya. Aku benci semuanya!" Ucap Kinara dengan linangan air mata seraya mengatakannya.
"Nara maafin Nenek soal itu, Nenek benar benar tidak tau. Seandainya Nenek tau, pasti Nenek sudah mencegahnya lebih awal," Ucap Lia sambil memegangi tangan Kinara.
"Ini bukan salahmu. Tapi jangan pernah menganggu diriku lagi, setiap kali aku melihat kalian semua, hatiku sangat sakit." Kinara pun melepaskan pegangan tangan Lia.
Tiba tiba Rifki muncul ditempat itu, entah darimana dirinya datang keduanya tidak mengetahui hal itu. Rifki berdiri didepan Kinara, sambil menatap Kinara dengan tatapan yang rumit untuk bisa diartikan. Kinara yang melihat bayangan Rifki pun langsung berdiri dari tempat duduknya, dan menatap tajam kearah Rifki.
Rifki pun menaruh sesuatu diatas meja itu, pandangan Kinara mengikuti gerakan tangannya. Sebuah pisau kecil yang selalu dipegang oleh Nadhira, dan Kinara pun mengenali benda itu.
"Hanya mengembalikan barang milik Mamamu, semoga benda itu bisa menjagamu dari segala mara bahaya," Jawab Rifki sambil menghela nafas panjang.
Kinara pun langsung mengambil pisau kecil itu dan menggenggamnya dengan erat, dirinya begitu sangat merindukan Nadhira. Mungkin hanya benda itu yang tersisa baginya, dan mampu menjadi pengobat rindu kepada mamanya walaupun hanya sesaat saja.
"Mama," Ucap Kinara lirih sambil memeluk benda mungil yang tertutup itu.
Melihat Kinara menangis hal itu membuat Rifki ingin sekali menenangkan gadis itu, tapi ia tidak tau harus berbuat apa. Rifki mendengar percakapan antara Kinara dengan Lia, ia tau bahwa Kinara sangat membenci dirinya dan tidak mau bertemu dengan keluarganya lagi.
Tanpa disadari oleh Rifki, tangannya mencoba untuk mengusap puncak kepala Kinara. Merasakan usapan lembut dari Rifki, Kinara langsung menyingkirkan tangan tersebut dengan kasarnya.
"Jangan sentuh aku!" Sentak Kinara.
"Nara, bolehkah Papa memelukmu sekali saja untuk pengobat rinduku. Setelah itu, Papa tidak akan pernah menganggu dirimu, Papa janji. Izinkan Papa memelukmu hanya sebentar saja," Ucap Rifki.
"Nggak!" Kinara pun membuka tutup pisau kecil itu dan langsung mengarahkannya kepada Rifki.
*Flashback on*
"Maafkan Papa, Papa salah Nak, maafkan Papa karena Papa telah meninggalkan kalian bertiga dengan cara seperti ini, semua salah Papa Nak, kau berhak untuk marah kepada Papa, pukul Papa Nak, jika kau juga menginginkan nyawa Papa, maka ambilah Papa rela untuk memberikan hal itu kepadamu, Papa hanya tidak akan sanggup untuk melihatmu marah seperti ini kepada Papa, maafkan Papa, Papa tau kesalahan yang telah Papa lakukan sangat sulit untuk mendapatkan maaf darimu".
"Lantas apa tujuan Papa meninggalkan kami bertiga selama ini? Apa Papa tidak tau apa yang selama ini aku rasakan Pa? Harus melangkah seorang diri tanpa kehadiran seorang Ayah yang menemani, itu menyakitian bagiku Pa, apalagi ketika melihat Ayu yang terus memanggil manggil nama Papa seperti itu, tapi apa? Papa tidak datang jua untuk menemuinya, sekarang Papa datang hanya kata maaf yang mampu Papa ucapkan?".
"Papa tau bahwa kesalahan yang telah Papa lakukan ini terlalu besar bagimu Nak, dan bahkan seribu maaf yang Papa ucapkan tidak akan mengurangi rasa sakit hatimu kepada Papa, lantas bagaimana caranya agar Papa bisa untuk menebus kesalahan yang telah Papa lakukan Nak?".
__ADS_1
"Jika aku menginginkan nyawa Papa sekarang, apa Papa akan memberikannya kepadaku saat ini juga?".
Pertanyaan Rifki seketika membuat perasaan Haris bagaikan tersambar oleh sebuah petir yang begitu dahsyatnya, akan tetapi Haris mampu menampakkan sebuah senyuman diwajahnya.
Haris lebih rela bahwa dirinya akan mati ditangan anaknya daripada harus melihat anaknya begitu marah seperti ini kepadanya, baginya kematian itu tidak begitu menakutkan yang ia takutkan hanyalah tidak mendapatkan maaf dari anak anaknya.
Haris tersenyum begitu bahagianya kepada Rifki yang ada dihadapannya saat ini, karena anaknya menginginkan nyawanya saat ini itu artinya dirinya akan mati ditangan anaknya.
Itu adalah hal yang membahagiakan bagi Haris, karena dirinya bisa mati ditangan anaknya, ditangan darah dagingnya sendiri agar mendapatkan maaf dari anaknya sendiri.
"Jika itu keinginanmu maka ambillah nak, dan jika harus mati ditanganmu itu tidak masalah bagi Papa, karena Papa akan merasa bahagia karena telah mati ditangan anak yang begitu hebat yang pernah papa lihat, asal kau mau memaafkan kesalahan yang telah Papa lakukan, Papa akan ikhlas untuk memberikan nyawa Papa kepadamu sekarang juga Nak".
"Maka lakukanlah Pa, aku sangat menginginkan nyawa Papa untuk saat ini".
"Apa kamu benar benar menginginkan nyawa Papa Nak?". Tanya Haris sekali lagi kepada anaknya.
"Iya, sangat menginginkannya, maka berikan hal itu kepadaku sekarang juga Pa, jika Papa memang benar benar menyayangi kami bertiga, maka berikanlah nyawa Papa kepadaku saat ini juga".
"Jika seorang anak meminta kepada orang tuanya maka orang tuanya akan berusaha untuk memberikan hal itu kepada anaknya". Ucap Haris sambil melangkah menuju kearah dimana peralatan bertahan hidup itu berada.
Rifki memandangi wajah Papanya itu dengan seksama, tidak ada keraguan sedikitpun diwajah lelaki itu, lelaki itu begitu serius dengan ucapannya dan akan melakukan apapun asal anaknya dapat untuk memberikan maafnya kepadanya.
Haris memegang sebuah pisau yang cukup tajam dan lancip berjalan menuju kearah dimana Rifki berada, tatapan Rifki sama sekali tidak bergembing dari posisinya maupun wajahnya sedikitpun.
Hal itu membuat Haris hanya bisa menghela nafasnya karena anaknya benar benar menginginkan nyawanya, Haris memejamkan matanya dan berniat untuk menggoreskan mata pisau itu kelehernya, tanpa dia sangka bahwa bukan lehernya yang tergores melainkan tangan dari anaknya sendiri yang sedang memegangi mata pisau itu dengan eratnya.
Sringg....
Sebelum mata pisau itu menyentuh kulit Papanya, Rifki segera mengayunkan tangannya untuk memegang mata pisau tersebut dan tidak membiarkan mata pisau itu terkena leher dari Papanya, ia sama sekali tidak mempedulikan rasa perih yang dia rasakan saat ini.
Meskipun darahnya bercucuran bergitu derasnya, Rifki sama sekali tidak mempedulikan akan hal itu, darah bercucuran menetes ketanah tempat dimana Haris berdiri saat ini, Haris yang menyadari bahwa pisau yang ia pegang sedang dipegang oleh seseorang membuatnya membuka matanya.
"Akh...". Desah Rifki ketika merasakan sayatan ditangan karena pisau tersebut.
"Apa yang kau lakukan Nak?". Ucap Haris dengan paniknya ketika mengetahui tangan anaknya berdarah dan mengalir dengan derasnya.
Rifki segera menarik pisau yang ada digenggam tangannya tersebut dari tangan Haris, meskipun tangannya kini bersimbah darah, Rifki sama sekali tidak terlihat kesakitan dan bahkan Rifki membuang pisau itu jauh jauh dari dirinya.
Haris segera mengenggam tangan anaknya yang tersayat pisau itu, Haris dapat merasakan bahwa anaknya itu sedang menahan rasa sakit dari sayatan pisau karena tangan Rifki yang bergetar pelan dengan sendirinya tanpa kemauan dari Rifki.
Tangan yang tadinya terlihat sehat, kini mulai memucat karena banyaknya darah yang keluar melalui tangan tersebut, darah Rifki yang menetes ke atas tanah sebagian sudah mulai membeku dan menggumpal sedang ditangannya mulai terasa sedikit lengket dan bau anyir darah mulai tercium.
"Rifki pantas mendapatkannya Pa". Ucap Rifki pelan.
"Apa yang kamu katakan Nak, kenapa kamu melukai dirimu sendiri, maafkan Papa, jangan lakukan hal seperti ini lagi, Papa tidak mau melihatmu terluka". Ucap Haris yang bertambah panik ketika melihat Rifki meneteskan air matanya.
"Rifki tidak bisa marah kepada Papa, maafkan sikap Rifki terhadap Papa tadi, Rifki pantas mendapatkan luka seperti ini karena Rifki telah menyakiti hati orang tua Rifki, dan sekarang kekesalan dan kekecewaan didalam hati Rifki sekarang sudah benar benar sirna seiring dengan menetesnya darah ku ini Pa".
*Flashback off*
Rifki tersenyum mengingat masa lalunya, tidak menyangka bahwa kini anaknya yang mengarahkan pisau itu kepadanya. Meskipun dirinya tersenyum, akan tetapi air matanya dapat lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Rifki pun melangkah mendekat kearah Kinara, sementara Kinara justru reflek langsung ter mundurkan beberapa langkah. Tanpa Kinara sadari bahwa tubuhnya sudah menabrak tembok yang ada dibelakangnya, itu artinya dirinya tidak dapat lagi menjauh dari Rifki.
"Jangan mendekat, atau aku akan melukai dirimu!" Ancam Kinara, dan langsung membuat Rifki menghentikan langkahnya.
__ADS_1