Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kenapa dengan satu ginjal?


__ADS_3

Ketiga anggota Gengcobra tersebut langsung mendatangi pemilik dari motor CBR yang dibawa oleh Nadhira saat ini dan berusaha untuk menenangkan warga sekitar yang sedang mengomel karena seorang gadis membawa kabur sebuah motor milik orang lain.


Apalagi posisi motor itu yang baru saja dibeli oleh pemilik motor CBR, sehingga pemilik dari motor itu begitu marah, dan mengira bahwa dia akan kehilangan yang berpuluh puluh juta karena kehilangan satu motor yang berharga itu.


Akan tetapi bagi pemilik perusahaan Abriyanta Groub, harga motor itu tidaklah ada apa apanya, bahkan dia mampu untuk membelikan seluruh anggota Gengcobra dalam waktu singkat dengan menghabiskan uang bermiliar miliaran.


Kedatangan ketiganya langsung disambut dengan panas oleh para warga dan mengira bahwa ketiganya adalah pelaku dibalik pencurian motor besar itu, ketiganya langsung segera meminta maaf atas kelakuan dari Nona Muda mereka.


"Oh jadi kalian komplotannya!" Bentak pemilik dari motor CBR tersebut.


"Kami minta maaf Pak, atas tindakan dari Nona Muda kami, kami akan segera mengganti motor Bapak"


"Bagaimana bisa aku percaya dengan kalian? Kalian mau menipu diriku?"


"Dia adalah calon istri dari pemilik perusahaan Abriyanta Groub, jika Bapak tidak percaya, Bapak bisa mendatangiku ke perusahaan dan mencariku, ini adalah kartu identitasku jika Bapak tidak percaya" Ucap salah satu anggota Gengcobra menyerahkan sebuah kartu khusus milik anggota rahasia perusahaan Abriyanta Groub kepada orang itu.


"Baiklah, jika kalian berbohong maka aku akan laporkan kepada polisi"


"Iya Pak, kami permisi dulu, masih banyak tugas yang harus kami kerjakan"


Ketiga anggota Gengcobra tersebut segera berpamitan kepada pemilik motor CBR yang dibawa oleh Nadhira itu, dengan berat hati pemilik motor CBR tersebut membiarkan mereka untuk pergi, meskipun demikian dirinya juga mendengar bahwa pemilik perusahaan Abriyanta Groub mengadakan pesta disekitar tempat itu.


"Yang benar saja kau menyerahkan identitasmu kepada orang itu, bagaimana kalau disalah gunakan" Ucap salah satu temannya.


"Tidak ada pilihan lain, kalian tau sendirikan apa yang dilakukan oleh Nona Muda? Kita juga tidak punya uang sebanyak itu untuk mengganti motor yang dibawa oleh Nona Muda"


"Kau benar sih, tapi kenapa harus kartu identitasmu? Apakah nanti Tuan Muda mau menggantinya?"


"Aku akan menghubungi Tuan Bayu, siapa tau dia akan menolongku nantinya"


"Baiklah".


Nadhira yang pernah belajar naik sepeda motor itu pun masih mampu untuk menyeimbangi kecepatan mobil Theo yang membawa Rifki pergi dari tempat itu, meskipun agak sulit karena besar motornya itu hingga membuat Nadhira sedikit kebingungan.


"Bagaimana turunnya nanti" Ucap Nadhira lirih dengan nada penuh dengan kekhawatiran.


Meskipun Nadhira belum mampu untuk mengendalikan motor yang ia bawa itu akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mengurangi kecepatannya dan justru akan ia tambah untuk mengimbangi kecepatan mobil yang Theo naiki.


Nadhira seakan akan terlihat seperti mengendarai motor CBR itu terlihat seperti dengan ugal ugalan karena dengan kecepatan yang tinggi ia lakukan, akan tetapi itu semua dia lakukan hanya untuk menyusul mobil yang membawa Rifki pergi itu.


"Theo hentikan!" Teriak Nadhira.


Nadhira terus menambah kecepatannya menjadi 90km/jam meskipun dikota kota besar kecepatan tersebut tidak terlalu tinggi akan tetapi bagi siapapun yang didesa akan terlihat terlalu kencang hingga daun daun yang ada disekitarnya akan berterbangan ketika Nadhira lewat.


Seluruh perhatian orang orang yang dilalui oleh Nadhira langsung menatapnya dengan keterkejutan karena pakaian Nadhira yang saat ini bersimbah dengan darah, mereka mengira bahwa Nadhira buru buru kerumah sakit untuk mengobati lukanya.


Lampu kuning pun menyala diperempat yang ditemui oleh mereka, mobil tersebut melaju dengan cepatnya untuk mengejar waktu, ketika lampu sudah menyalah merah motor yang dinaiki Nadhira tersebut langsung menerobos lampu merah itu.


"Astaga lampu merah" Ucap Nadhira tersadar.


Tiba tiba beberapa polisi langsung mengejar Nadhira yang melanggar lampu merah tersebut, Nadhira seakan akan tidak memperhatikan polisi tersebut dan lebih fokus pada mobil yang saat ini sedang ia kejar.


Polisi itu pun membelalakkan matanya ketika melihat bercak darah yang ada dibaju Nadhira, mereka jadi merasa bingung dengan apa yang terjadi pada gadis yang saat ini sedang ia kejar dan mereka berpikir bahwa gadis itu telah mengalami kecelakaan hingga dirinya buru buru untuk datang kerumah sakit.


Terjadilah kejar kejaran antara mereka, Nadhira mengejar mobil yang membawa Rifki pergi, sementara Nadhira dikejar sendiri saat ini sedang dikejar oleh para polisi karena dirinya yang melanggar aturan lalu lintas.


"Gadis itu sama sekali tidak mau menyerah" Guman Theo yang melihat Nadhira mengejarnya menggunakan sebuah motor CBR.


"Apa yang harus kita lakukan Bos? Dibelakang juga ada beberapa polisi yang mengejarnya"


"Teruskan saja".


"Baik Bos".

__ADS_1


Anak buah Theo segera menambah kecepatan laju mobil tersebut hingga membuat Nadhira juga ikut serta mempercepat laju motornya, polisi tersebut sedikit tertinggal karena kecepatan motor mereka kalah dengan motor CBR dengan kecepatan 100km/jam itu.


Begitu banyak belokan yang dilakukan oleh anak buah Theo dan diikuti oleh Nadhira dalam jarak dekat dan hal itu membuat para polisi tersebut kehilangan jejak mereka, diantara belokan belokan yang entah berbelok kemana saja itu.


Mobil tersebut memasuki sebuah jalan yang begitu sepi dengan dikelilingi oleh pepohonan dan hal itu membuat Nadhira ikut serta masuk kedalam jalanan itu tanpa ada yang mengawasinya, karena anggota Gengcobra tidak ada yang mengetahui kemana dirinya pergi saat ini.


Nadhira menambah kecepatannya dan langsung memotong jalan mobil yang melaju dengan kencang itu, dan hal yang dilakukan oleh Nadhira membuat pengemudi mobil tersebut mengerem mendadak dan roda belakangnya bergeser hingga menimbulkan bekas hitam.


Nadhira memejamkan matanya karena dirinya takut bahwa mobil itu akan menabraknya akan tetapi siapa sangka bahwa mobil itu langsung berhenti ditempat dengan roda belakang yang masih bergerak.


Nadhira segera turun dari sepeda motor itu dan langsung mendatangi mobil yang dinaiki oleh Theo, Nadhira pun langsung memukuli pintu mobil itu untuk menyuruh Theo keluar dari dalam mobil.


Brak... Brak..


"Theo! Keluar kau!" Teriak Nadhira.


Theo segera membuka pintu mobil tersebut dan keluar secara bersamaan dengan anak buahnya yang tersisa, ia pun menutup pintu mobil itu dengan sangat kerasnya untuk membiarkan Rifki didalam mobil itu.


"Kau terlalu nekat Dhira" Ucap Theo.


"Sudah ku bilang kan? Aku sama sekali tidak akan menyerah sedikitpun itu"


"Kalian, lawan dia sekarang juga!" Perintah Theo kepada kedua anak buahnya.


Nadhira segera memasang kuda kuda untuk berjaga jaga terhadap serangan yang akan dilakukan oleh anak buah Theo kepada Nadhira yang secara tiba tiba itu, ketiga anak buah Theo segera menyerangnya sementara Nadhira terpaksa harus berada diposisi bertahan.


Setelah 20 menit bertarung melawan anak buah Theo hal itu membuat Nadhira termundur beberapa langkah kebelakang karena perutnya merasa sakit akibat terlalu lama bergerak dan melakukan aktivitas fisik yang berlebihan.


Nadhira pun memegangi perutnya yang merasa kram, melihat itu membuat anggota Gengters segera menghentikan pertarungan itu atas perintah dari Theo sendiri, melihat itu membuat Theo tertawa kearah Nadhira.


"Kau tidak akan bisa melawan kami Dhira, tenagamu tidak akan mampu untuk melakukan itu" Ucap Theo.


"Aku tidak peduli! Sekalipun aku mati disini, aku sama sekali tidak takut Theo"


"Orang yang hidup hanya memiliki satu ginjal saja tidak akan mampu untuk mengalahkan kami"


Melihat kebingungan dari Nadhira membuat Theo meneruskan perkataannya, "Emang kau pikir aku tidak tau soal itu Dhira? Jika kau memaksa maka kau bisa mati dengan mudah".


"Kenapa dengan satu ginjal? Memiliki satu ginjal bukan berarti tidak bisa mengalahkan kalian, dengan satu ginjal saja aku masih mampu untuk membunuh kalian, lantas kenapa harus memiliki dua ginjal".


"Kau terlalu percaya diri Dhira, aku tau bahwa kau sekarang hanya memiliki satu ginjal, dan dengan satu ginjal kau tidak akan bisa berkelahi denganku dalam waktu yang sangat lama"


"Kita lihat saja nanti!"


Dijalanan yang sepi itu kini telah terjadinya pertarungan antara Nadhira melawan ketiga anggota Gengters yang sedang bersama dengan Theo, pertarungan itu tidak mampu untuk dielakkan lagi sehingga dengan terpaksa Nadhira harus menyerang balik kearah mereka.


Pertarungan itu terjadi sangat lama dan membuat Nadhira kewalahan menghadapi anggota Gengters itu, akan tetapi tekadnya yang ingin menyelamatkan Rifki membuatnya tidak akan pernah menyerah begitu saja meskipun nyawanya sendiri yang akan melayang saat itu juga.


Brakk...


Nadhira menggunakan teknik bantingan dengan cara menangkap salah satu tendangan anggota Gengters yang diarahkan kepada perutnya dan menarik kaki tersebut dengan sekali ayunan saja, hal itu membuat keseimbangan dari salah satu anggota Gengters goyah dan mampu terbanting begitu saja.


Teknik bantingan bukan hanya bisa dilakukan dengan cara sapuan bawah saja akan tetapi masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat membanting lawan yang memiliki postur tubuh lebih besar daripada kita.


Pertama, jika lawanmu melakukan tendangan yang terarah kepada perutmu jangan menangkisnya dengan tangan karena tanganmu akan kalah melawan serangan kaki yang memiliki tenaga lebih kuat daripada kedua tangan, dan sedikitlah menghindari tendangan itu, usahakan untuk dapat menangkap kakinya.


Setelah kakinya tertangkap, cobalah arahkan kaki itu lebih keatas hingga membuat musuhmu tidak mampu untuk menyeimbangkan dirinya, usahakan lakukan hal itu dengan cepat, dan hal itu mampu untuk menumbangkan musuh yang jauh lebih besar.


Kedua, kamu bisa melakukannya dengan cara yang sama yakni menangkap kaki tersebut lalu menariknya jauh hingga membuat musuhmu goyah, hal ini bisa dilakukan oleh seorang pemula yang belum menguasai ilmu beladiri.


( Pesan Author: dan masih banyak lagi ya, lanjutkan bacanya sambil dengarkan Author yang berbagi ilmu beladiri oke? Ikuti kisah Author sambil belajar bersama sama untuk jaga diri, sebenarnya teknik beladiri itu simpel bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik saja tapi mengandalkan kecerdasan, beladiri itu penting tapi tau diri jauh lebih penting )


Nadhira tersenyum dengan sumringahnya ketika dirinya dapat membanting anggota Gengters dengan mudahnya disaat kondisinya yang semakin lemah itu karena terlalu banyak pertarungan yang ia lakukan dihari ini.

__ADS_1


Akan tetapi seketika senyuman itu lenyap begitu saja ketika dirinya merasakan perutnya yang kram tiba tiba, ia pun memeganginya dengan erat meskipun demikian dirinya tetap berada didalam pertarungan melawan anggota Gengters.


Nadhira mencoba untuk mendekat kearah mobil milik Theo, didalam usahanya itu dirinya terkena sebuah tendangan dipunggungnya lebih tepatnya ditempat dimana dirinya dahulu pernah mengalami tusukan dan dirinya pun terjatuh mengenai kaca mobil tepat dimana Rifki terbaring.


Nadhira mencoba untuk membuka pintu mobil itu akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu untuk membukanya, bayangan Rifki yang masih memejamkan matanya membuat Nadhira meneteskan air matanya.


"Rifki bangunlah! Rifki aku mohon bangunlah" Teriak Nadhira kesakitan sambil mengetuk pintu mobil itu.


Theo lalu menarik tangan Nadhira dengan paksa, tangan yang digunakan untuk mengetuk pintu mobil itu kini tengah digenggam dengan erat oleh Theo, melihat itu membuat Nadhira langsung memberontak untuk meminta dilepaskan dari pegangan tangannya.


"Lepaskan!" Teriak Nadhira.


Tiba tiba salah satu anak buah Theo ikut serta memegangi tangan Nadhira yang satunya, Nadhira pun tidak mampu untuk melepaskan diri dari pegangan mereka meskipun dirinya terus memberontak untuk berusaha melepaskan diri.


Tak beberapa lama kemudian datanglah tiga orang ketempat itu, ketiganya memakai pakaian yang serba hitam dengan menggunakan penutup wajah, Nadhira sendiri pun tidak mengetahui siapa mereka.


"Dimana dia?" Tanya salah satu dari mereka yang nampak seperti pemimpin dari keduanya


"Dia ada didalam mobil" Jawab Theo.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dari Rifki?" Tanya Nadhira dengan panik.


"Bawa dia keluar" Perintahnya lagi tanpa memedulikan pertanyaan dari Nadhira.


"Baik Tuan" Jawab kedua anak buah dari orang misterius itu.


Kedua orang yang diperintahkan oleh sosok tersebut segera mengeluarkan tubuh Rifki dari dalam mobil itu, dan membopongnya menuju ketempat dimana Nadhira yang sedang dipegangi oleh Theo berada.


"Jangan sakiti Rifki, aku mohon" Ucap Nadhira.


Kedua orang itu menautkan tangan Rifki keleher mereka masing masing hingga membuat Rifki berdiri meskipun dirinya masih tidak sadarkan diri saat ini, melihat wajah Rifki yang sedikit pucat membuat Nadhira meneteskan air mata.


"Rifki bangunlah" Ucap Nadhira penuh harap.


Rifki sama sekali tidak merespon ucapan Nadhira yang menyuruhnya untuk bangun dari pingsannya, pemimpin dari orang misterius itu mengarah telapak tangannya menuju kedada Rifki dan lebih tempatnya dibagian jantung Rifki.


Orang itu mencoba untuk menarik keris pusaka xingsi dari tubuh Rifki sehingga membuat Rifki mengernyitkan dahinya karena rasa sakit yang dirasakannya itu, melihat itu membuat Nadhira langsung menangis.


"Jangan sakiti Rifki aku mohon hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika.


Tak beberapa lama kemudian tubuh Rifki langsung terpenuhi oleh keringatnya yang membasahi tubuhnya, Theo yang ikut serta menyaksikan apa yang dilakukan oleh sosok misterius itu langsung terkejut dengan hal itu.


"Lepaskan aku Theo!" Teriak Nadhira.


"Diamlah atau suaramu akan habis" Ucap Theo dan langsung mengeratkan pegangan tangannya dari pergelangan tangan Nadhira.


"Akh..." Desah Nadhira ketika merasakan sakitnya pegangan tangan Theo.


"Apakah itu sakit Dhira? Sudah ku bilangkan, diam dan lihatlah apa yang akan terjadi kepada orang yang kau sayangi itu".


"Apa yang kau rencanakan Theo! Kau jahat! Benar benar jahat Theo"


"Kau yang jahat Dhira, kau menyia nyiakan kebaikanku selama ini, aku yang selalu ada untukmu tapi kenapa kau justru memilih orang lain untuk bersama dengan dirimu"


"Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu Theo! Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, apa yang kau lakukan kali ini benar benar membuatku semakin benci denganmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


"Hahaha... Aku tidak peduli itu Dhira".


Mendadak adanya darah segar yang mengalir dari ujung bibir Rifki, darah yang sangat kental dan berwarna sangat pekat keluar begitu saja meskipun Rifki masih belum sadarkan diri.


"Rifki! Jangan sakiti Rifkiku aku mohon pada kalian!" Teriak Nadhira yang menyaksikannya.


Entah apa yang dilakukan oleh orang itu, dirinya terus menekan dada Rifki dengan penuh tenaga, dapat dilihat dari urat urat tangannya yang terlihat menimbul karena melakukan tekanan yang sangat kuat apalagi hal itu sampai membuat Rifki mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.

__ADS_1


"Rifki bangunlah aku mohon, buka matamu Rifki! Aku tau kau pasti kuat, jangan menyerah seperti ini Rifki, bangunlah! Arghhh...." Teriak Nadhira.


Teriakannya itu seketika membuat Rifki meneteskan air matanya, teriakan Nadhira yang memilukan itu mendadak membuat air mata Rifki lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


__ADS_2