Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Tekadku tidak mudah dikalahkan


__ADS_3

Dibawah alam sadarnya Rifki tengah berada didalam kegelapan yang tak berujung, seketika dirinya mendengar suara Nadhira yang terus memanggil manggil namanya, akan tetapi Rifki sama sekali tidak mengetahui keberadaannya.


"Rifki bangunlah, aku mohon kepadamu bukalah kedua matamu Rifki" Suara Nadhira yang menggema ditelinganya saat ini.


"Dhira dimana kamu? Dhira! Kenapa suaramu terdengar seperti menangis? Ada apa?" Ucap Rifki ditengah tengah kegelapan yang tak berujung itu.


Rifki membuka kedua matanya dengan lebar lebar dan ia melihat adanya benang putih menyala tengah mengikatnya dengan sangat erat, Rifki pun mencoba untuk membuka ikatan itu akan tetapi dirinya sama sekali tidak mampu melakukan itu.


"Apa ini? Dimana aku? Kenapa tubuhku diikat seperti ini" Ucap Rifki panik.


"Bangunlah Nak, lawanlah kekuatan itu, jangan biarkan orang lain merampas keris pusaka xingsi dari dalam tubuhmu, jika sampai itu terjadi maka nyawamu akan menjadi taruhannya" Tiba tiba terdengar suara seorang pria paruh baya.


"Siapa? Siapa yang berbicara?" Tanya Rifki.


"Aku adalah Chandra Kakekmu Nak, apa kau tidak mengenali suaraku yang beberapa kali kau dengar dalam mimpimu, kau harus segera sadar Nak, bangunlah Nak, apa kau mau membiarkan orang yang kau cintai itu menangis?"


"Apa yang terjadi dengan Nadhira Kek? Kenapa dia menangis seperti itu?"


"Bukalah kedua matamu Nak, lihatlah sendiri apa yang terjadi dengan dia".


"Rifki, bangunlah aku mohon" Terdengar suara teriakan pilu Nadhira ditelinga Rifki.


"Akh... Kenapa dadaku terasa sangat sakit Kek? Apa yang sebenarnya terjadi? Akh.." Ucap Rifki sambil menggeram kesakitan.


"Lawanlah rasa sakit itu, bangkitlah dan jangan biarkan siapapun memiliki keris pusaka xingsi"


"Aku tidak sanggup lagi untuk menahannya Kakek, ini sangat sakit sekali".


"Lawan Nak, Kakek yakin kau sanggup untuk melakukan itu".


"Baiklah Kek, Rifki akan mencobanya"


Sementara dialam nyata kini Nadhira tengah menangis menyaksikan Rifki yang mengalirkan beberapa tetes darah dari ujung bibirnya, bibir Rifki pun juga saat ini terlihat semakin membiru seiring berjalannya waktu.


"Rifki bangunlah, kau pasti bisa" Ucap Nadhira beberapa kali untuk meminta Rifki membuka kedua matanya itu.


Perlahan lahan Rifki mulai menggerakkan telunjuknya pertanda bahwa dirinya sebentar lagi akan terbangun akan tetapi sihir itu begitu sangat kuat sehingga tidak mudah bagi Rifki untuk melawannya sendiri.


Nadhira yang melihat pergerakan jari Rifki membuat dirinya semakin memberontak untuk meminta dilepaskan, teriakan Nadhira tersebut membuat Rifki semakin terganggu dan ia berusaha untuk dapat membuka kedua matanya.


"Akh... " Pekik Nadhira ketika Theo memegangi pundak Nadhira dengan erat seraya untuk mengunci tangan Nadhira.


Seketika apa yang dilakukan oleh Theo membuat Nadhira berlutut didepan Rifki dengan menggeram kesakitan karena pegangan tangan Theo yang sangat erat ditangannya yang lebih kecil daripada tangan Theo itu.


"Arghhh...." Teriak Rifki tiba tiba.


Setelah berteriak Rifki langsung membuka matanya dengan lebar lebar, dan teriakan itu seketika menimbulkan energi keris pusaka xingsi yang sangat besar hingga membuat sosok pemimpin misterius itu terpental beberapa meter hingga mengeluarkan seteguk darah segar.


"Sial!" Umpat pemimpin sosok misterius.


Kedua orang yang tengah memegangi Rifki itu pun sama, mereka juga terpental dan langsung jatuh ketanah dengan tenaga yang terkuras begitu saja, dan melihat itu membuat Nadhira begitu terkejut.


"Rifki, kau sadar" Ucap Nadhira pelan.


Rifki pun menatap tajam kearah Theo yang saat ini sedang memegangi Nadhira, ia pun melihat adanya air mata dipipi Nadhira dan juga kedua mata Nadhira yang telah membengkak.


Melihat Rifki yang sudah sadar dari pingsannya membuat Nadhira merasa sangat senang dan bahagia, ia pun menatap kearah Rifki dengan penuh harapan bahwa masalah ini akan segera selesai.


"Lepaskan Dhira!" Teriak Rifki.


Rifki yang masih diikat itu pun berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya, tidak akan ada yang bisa menghalangi tekadnya itu, karena Rifki memiliki tekad yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun.


Dengan mudahnya Rifki melepaskan diri dari ikatan yang diberikan oleh Theo sebelumnya, melihat itu membuat Theo segera memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Rifki begitupun dengan kedua sosok misterius itu, sementara pemimpin sosok misterius hanya duduk ditanah sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


Rifki dengan mudah mengalahkan keempat orang yang tengah menyerangnya itu, dan memberikan luka yang parah kepada keempatnya termasuk juga patah tulang, tendangan bebas yang mengenai uluh hati, dan juga membuat mereka pincang.


Melihat kedua anak buahnya yang kalah dihadapannya membuat Theo langsung melepaskan Nadhira dan bergegas untuk melawan Rifki seorang diri, sementara pemimpin sosok misterius itu langsung kabur dari tempat itu setelah kedua anak buahnya dikalahkan.

__ADS_1


Melihat pertarungan antara Rifki dan Theo membuat Nadhira terjatuh duduk karena tubuhnya yang terasa sangat lemah saat ini, ia pun hanya menatap sekilas sosok misterius yang pergi dari tempat itu dan dirinya tidak mampu berbuat apa apa.


Rifki sedang melakukan pertukaran serangan dengan Theo, Theo mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk dapat mengalahkan Rifki dalam pertarungan itu akan tetapi dirinya hanya mampu mengimbangi kecepatan Rifki yang menurut Rifki adalah kecepatan normal.


Pertarungan itu berlangsung cukup lama karena Rifki hanya menguji sampai kapan Theo akan mampu untuk melawannya seperti itu, agar dirinya mengetahui kelemahan dari Theo.


Perlu diketahui bahwa untuk melatih kesanggupan atau waktu yang lama dalam pertarungan adalah dengan cara latihan berlari, semakin sering kita berlari dalam jarak yang panjang maka pernafasan kita akan mampu untuk menghadapi musuh dalam waktu yang lama.


Itulah kenapa disetiap pelatihan beladiri atau silat, pelatih mereka akan menyuruh siswa yang dilatihnya untuk berlari setelah pemanasan, dan bahkan kadang dengan jarak yang lumayan panjang, itu semua dilakukan agar siswa mereka mampu bertarung dan bertahan dalam waktu yang lama.


Bukan hanya didalam beladiri saja diminta untuk berlari akan tetapi semua bidang, pelatihan apapun akan menyuruh pesertanya untuk berlari termasuk angkatan udara, angkatan laut, angkatan darat dan lain sebagainya.


Karena kelelahan untuk mengahadapi Rifki, Theo sampai tidak fokus pada serangannya dan hal itu membuat Rifki dengan mudah untuk menumbangkan Theo dan langsung membuatnya terbaring tidak berdaya diatas tanah.


Tak beberapa lama kemudian anggota Gengcobra datang ketempat itu dan langsung bergegas menangkap Theo dan orang orang yang telah dikalahkan oleh Rifki sebelumnya.


"Tangkap mereka dan bawa mereka kekantor polisi!" Perintah Bayu.


"Baik Tuan" Jawab anggota Gengcobra.


Bayu datang tepat waktu ketempat itu setelah mengetahui lokasi Nadhira melalui ponselnya yang telah dilacak akhirnya mereka tiba ditempat dimana Nadhira berada, Bayu yang mengetahui kepergian Nadhira dari anak buahnya membuatnya langsung bergegas untuk mencari Nadhira.


Setelah dirinya tiba dirumah sakit bersama dengan yang lainnya, tiba tiba dirinya mendapat sebuah panggilan dari anggota Gengcobra yang memberitahukan bahwa Nadhira membawa kabur sebuah sepeda motor milik orang untuk mengejar mobil Theo yang membawa Rifki pergi.


Tanpa banyak bicara lagi, Bayu segera meninggalkan rumah sakit itu untuk segera mencari Nadhira dan Rifki, ditengah perjalanan dirinya bertemu dengan anggota Gengcobra bersama dengan Vano dan Reno yang memimpin anggota Gengcobra itu.


Keduanya pun bergabung dengan Bayu untuk mencari Rifki dan Nadhira, mereka tiba disaat waktu yang sangat tepat dimana Theo berhasil dikalahkan disana, sementara Rifki sudah mampu untuk bangkit dari pingsannya.


Melihat itu membuat Rifki langsung bergegas untuk mendatangi Nadhira, Nadhira yang melihat Rifki datang kepadanya langsung tersenyum begitu lebarnya, ia pun langsung berdiri dari duduknya.


Rifki lalu menjatuhkan pelukannya kepada Nadhira begitu pun dengan Nadhira, Nadhira merasa bahagia ketika melihat Rifki baik baik saja saat ini dan hal itu membuat Nadhira meneteskan air matanya didalam pelukan erat Rifki.


"Kau baik baik saja Dhira?" Tanya Rifki khawatir.


"Aku baik baik saja Rif, aku pikir bahwa aku tidak akan pernah melihatmu lagi Rif hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Nadhira pecah seketika.


"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu Dhira, selamanya tidak akan pernah, aku akan selalu ada untukmu" Ucap Rifki.


Nadhira memejamkan matanya dan merasakan pelukan hangat Rifki, Nadhira merasa sangat nyaman berada didalam pelukan Rifki dan dirinya menjadi lebih tenang ketika bersama dengan Rifki orang yang paling dia cintai itu.


"Aku sangat takut Rif hiks.. hiks.. akhirnya kau sadarkan diri Rif, aku merasa senang sekali" Dapat terdengar suara isak tangis Nadhira yang keluar dari mulutnya yang begitu lirih didalam pelukan Rifki.


"Semuanya akan baik baik saja Dhira, ada aku disini untukmu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan akan selalu bersamamu Dhira"


Rifki memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya dan berusaha untuk menenangkan pikiran Nadhira saat ini, tiba tiba dirinya tersadar akan sesuatu hingga membuat Nadhira melepaskan pelukan tersebut dengan tiba tiba.


Rifki merasakan pergerakan Nadhira tiba tiba membuka kekedua matanya dan menatap kearah wajah Nadhira yang terlihat bengkak karena kebanyakan menangis itu, Rifki pun menghapus air mata Nadhira dengan kedua tangannya.


"Ada apa Dhira?" Tanya Rifki sambil menatap kedua bola mata Nadhira.


"Oma" Ucap Nadhira.


"Kenapa dengan Oma? Apa yang terjadi sebelumnya Dhira? Kenapa?"


"Oma terluka Rifki, dia melakukan itu semua untuk melindungiku, karena aku Oma terluka"


"Dimana Oma sekarang?" Tanya Rifki kepada Bayu.


"Dirumah sakit medica jaya Rif, dan masih dalam penanganan Dokter saat ini" Jawab Bayu.


"Kita kesana sekarang" Ucap Rifki.


Rifki langsung menggandeng tangan Nadhira dan bergegas pergi dari tempat itu menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu, sementara anak buahnya yang lainnya membawa Theo dan lainnya menuju kekantor polisi karena telah membuat keributan diacara pernikahan Rifki dan Nadhira.


Mobil yang dinaiki oleh Nadhira dan Rifki itu pun melaju dengan cepatnya menuju kerumah sakit yang dimaksud oleh Bayu, didalam mobil itu hanya berisikan ketiga orang saja, Vano memimpin anggota Gengcobra untuk membawa Theo pergi, sementara Reno menaiki sepeda motor yang dibawa oleh Nadhira sebelumnya.


*****

__ADS_1


"Apa masih belum ada kabar tentang mereka?" Tanya Putri kepada Haris yang saat ini berada dirumah sakit.


Setelah mengetahui bahwa Rifki berhasil dibawa pergi dari tempat itu dan juga Nadhira yang mengikutinya membuat Haris memerintahkan seluruh anggota Gengcobra untuk segera mencari Rifki.


Ketika dirinya berada diperjalanan untuk mencari Rifki tiba tiba ponselnya berdering, Putri menelponnya untuk memberitahukan keadaan Sarah yang keritis itu kepada Haris, dan hal itu membuat Haris langsung menuju kerumah sakit.


Aryabima dan Stevan ikut serta dalam pencarian Rifki dan Nadhira, keduanya tidak ikut kerumah sakit untuk melihat Sarah karena mereka harus menemukan Rifki dan Nadhira secepatnya sebelum terjadi sesuatu yang buruk kepada keduanya.


"Belum" Jawab Haris sambil menggeleng gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Semoga mereka baik baik saja, Bu Sarah mengalami keritis Mas, musibah apa yang menimpa kita kali ini, Rifki dan Nadhira juga masih belum ditemukan" Ucap Putri dengan linangan air mata.


"Bersabarlah, semuanya akan baik baik saja, sebentar lagi anggota Gengcobra akan menemukan mereka, dan akan membawa mereka kembali dengan selamat"


"Aku berharap juga seperti itu Mas, semoga semuanya akan baik baik saja".


Haris lalu menghapus air mata Putri yang menetes membasahi pipinya itu, dan langsung menjatuhkan tubuh Putri kedalam pelukannya itu, semua orang yang ada ditempat itu hanya bisa berdiam diri tanpa ada yang berbicara.


Semua orang menunggu kabar dari Dokter mengenai kondisi Sarah yang keritis didalam, perasaan sedih tercipta dihati mereka masing masing, bahkan hanya sekedar berbicara lirih saja tidak ada yang melakukan itu, apalagi Ayu dan Fika yang usianya sama pun hanya mampu meneteskan air mata.


Ayu merasa bahwa air matanya sudah tidak mampu dibendung lagi, dirinya begitu sangat menyayangi Rifki dan dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Kakaknya itu, mendengar bahwa Rifki belum ditemukan membuatnya hanya bisa menangis.


Fika yang hanya Adik angkat dari Nadhira itu pun merasakan hal yang sama seperti apa yang Ayu rasakan, apalagi Nadhira adalah orang yang sangat berarti bagi Fika dan paling Fika sayangi, Fika takut terjadi sesuatu dengan Nadhira.


Bi Ira sendiri hanya mampu memeluk kedua lututnya sambil bersandar di tembok rumah sakit, ia tidak menyangka bahwa hari bahagia yang dinanti nantikan itu mendadak menciptakan sebuah kesedihan yang mendalam apalagi Nadhira dan Rifki belum juga ditemukan.


"Mama" Tiba tiba terdengar suara seorang lelaki ditempat itu dan membuat semuanya segera menoleh kearah sumber suara.


"Rifki"


"Kakak"


"Dhira"


Melihat kedatangan Rifki ditempat itu membuat semuanya bangkit dan langsung bergegas untuk mendatangi Rifki dan Nadhira, mereka sangat terkejut sekaligus bahagia karena Rifki dan Nadhira akhirnya selamat.


Putri dan Ayu langsung bergegas memeluk tubuh Rifki dengan rasa syukurnya, sementara Bi Ira dan juga Fika langsung memeluk tubuh Nadhira, mereka sangat senang karena akhirnya Rifki dan Nadhira dapat kembali dengan keadaan baik baik saja.


"Bagaimana kondisi Oma?" Tanya Nadhira.


"Dia masih keritis Nak" Jawab Bi Ira.


Mendengar ucapan Bi Ira seketika membuat tangisan Nadhira pecah seketika, melihat Nadhira yang menangis membuat Putri segera mendekat kearah Nadhira dan memeluk tubuh Nadhira.


"Yang sabar ya Nak, Bu Sarah pasti akan baik baik saja" Ucap Putri.


"Ini semua salah Dhira, Dhira yang telah membuat Oma kritis hiks.. hiks.." Tangisan Nadhira sudah tidak mampu dibendung lagi.


"Ini semua bukan salah Dhira, jangan pernah mengalahkan diri sendiri Nak, Dhira tidak salah"


"Bagaimana mungkin ini bukan salah Dhira? Seandainya Dhira tidak lengah mungkin Oma tidak akan seperti ini Ma".


"Mama tau apa yang Dhira rasakan, kita semua juga merasakan hal yang sama Nak, kita hanya bisa berdoa dan pasrahkan segalanya kepada Allah"


Nadhira mengangguk pelan mendengar ucapan Putri, Putri pun mengusap pelan punggung Nadhira untuk menenangkan Nadhira, Nadhira merasa sedikit tenang berada didalam pelukan Putri.


"Saudari Nadhira" Panggil seorang Dokter yang keluar dari ruangan dimana Sarah dirawat.


"Saya sendiri Dok" Ucap Nadhira sambil mendekat kepada Dokter itu setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Putri.


"Ibu Sarah ingin bertemu dengan anda, beliau sudah sadarkan diri"


Mendengar itu membuat seluruhnya merasa lega, sebuah senyuman tipis tercipta dari bibir Nadhira ketika mendengarnya, ia merasa bahagia ketika Sarah sudah siuman saat ini.


"Alhamdulillah, boleh saya masuk Dok?"


"Silahkan Mbak".

__ADS_1


Nadhira dan Rifki langsung bergegas untuk masuk kedalam ruangan itu setelah memakai APD lengkap dari rumah sakit, hanya dua orang saja yang diizinkan untuk masuk kedalam ruangan tersebut, sehingga Rifki ikut serta masuk kedalam untuk menjaga Nadhira, ia takut terjadi sesuatu dengan Nadhira.


__ADS_2