
Rifki langsung bergegas untuk mendatangi Nadhira yang tengah sibuk untuk memilih es cream, melihat Nadhira yang bersemangat untuk memilih es cream tersebut membuat Rifki hanya tersenyum tipis kearah Nadhira sambil mengusap kepala Nadhira pelan.
"Kenapa?" Tanya Rifki yang melihat Nadhira hanya berdiam diri didepan lemari es tempat adanya es cream tersebut.
"Aku bingung harus ngambil yang mana" Ucap Nadhira sambil menatap beberapa bentuk es cream.
"Sini biar aku yang ngambil"
Rifki membuka lemari es tersebut dan langsung mengambil beberapa jenis es cream, satu keranjang full dengan es cream, setelahnya keduanya langsung bergegas menuju kekasir untuk membayar semua bahan belanjaannya.
Tak lupa juga Rifki membeli seluruh salad buah yang disediakan ditempat tersebut, es cream yang telah selesai ditotal itu pun langsung diambil satu oleh Nadhira, tanpa menunggu lama lagi Nadhira segera membukanya dan memakannya dengan lahap, melihat itu hanya membuat Rifki menggelengkan gelengkan kepalanya saja.
Nadhira memakan es cream tersebut hingga belepotan dibibirnya, hal itu membuat Rifki merasa resah ketika melihat bibir Nadhira yang penuh dengan es cream tersebut, ia pun mengusap pelan bibir Nadhira dengan ibu jarinya.
"Laper sayang? Pelan pelan, ngak ada yang mau berebut denganmu kok" Tanya Rifki sambil menatap kearah Nadhira yang sibuk dengan es creamnya.
"Ini enak sekali Rif, dingin" Ucap Nadhira dengan semangatnya.
"Namanya juga es cream ya jelas dinginlah sayang, kalo es cream panas itu bukan es namanya tapi seblak"
"Aku ngak suka seblak"
"Kau memang beda dari yang lainnya Dhira"
Setelah selesai membayarnya, Rifki dan Nadhira pun langsung menuju kemobil, Rifki meminta kepada karyawan toko tersebut untuk membawakan bahan belanjaannya itu dan memasukkannya kedalam bagasi mobil tersebut.
Nadhira masih sibuk dengan es cream yang ada ditangannya tersebut, entah sejak kapan dirinya menyukai es cream seperti itu, Nadhira pun menyuapkan satu sendok es cream kedalam mulut Rifki, Rifki lalu membuka mulutnya dan merasakan dinginnya es cream tersebut.
"Enak kan?" Tanya Nadhira.
"Enak banget Dhira, dingin dan lembut"
"Sabar Mun, kau hanya obat nyamuk disini" Guman Pak Mun pelan.
Nadhira dan Rifki yang mendengar gumanan dari Pak Mun tersebut hanya bisa tersenyum, Nadhira pun melanjutkan makannya hingga satu cup es cream pun habis dimakan olehnya, setelah itu dirinya pun tertidur didada bidang suaminya.
"Mudah banget tidurnya" Guman Rifki seraya mengusap pelan kepala Nadhira.
Nadhira memeluk tubuh suaminya dengan sangat eratnya, ia merasa sangat nyaman berada didalam pelukannya tersebut, hal itu membuat Nadhira mudah sekali untuk tertidur dengan nyenyak sambil memeluk tubuh Rifki.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka telah sampai dirumah, Pak Mun dengan bantuan dari Pak Santo segera bergegas untuk menurunkan belanjaan tersebut dan memasukkannya kedalam lemari es dan sebuah etalase untuk beberapa cemilan kesukaan dari Nadhira.
Rifki pun membangunkan Nadhira untuk memberitahukan kepada Nadhira bahwa mereka telah sampai dirumah, Nadhira pun mengeliat sesaat karena merasa terusik oleh Rifki, Nadhira pun membuka kedua matanya dan bergegas untuk keluar dari dalam mobil itu.
Keduanya pun bergegas untuk masuk kedalam rumah besar itu, sementara Pak Mun dan Pak Santo saat ini tengah memasukkan es cream dan juga salad buah milik Nadhira kedalam lemari es, keduanya sesekali bercanda gurau.
"Eh Non Dhira hamil loh" Ucap Pak Mun.
"Hah beneran? Ini kabar yang baik, aku akan memberitahu Ira soal ini" Ucap Pak Santo dengan semangatnya.
"Beruntung sekali ya Non Dhira, sebentar lagi pewaris Abriyanta Groub akan lahir, semoga saja rasa bahagia itu tidak pernah hilang dari wajah Non Dhira"
"Aamiin, sudah lama dirinya merasa sedih, mungkin saat ini adalah saatnya untuk bahagia, kehadiran Tuan Muda membuatnya merasa sangat bahagia"
"Iya, semoga saja senyumannya itu tidak pernah luntur dari wajah cantiknya"
Rifki pun mengabari kedua orang tuanya untuk memberitahukan kabar bahwa Nadhira tengah hamil saat ini, mendengar kabar tersebut membuat Haris dan Putri merasa sangat bahagia karena sebentar lagi dirinya akan menjadi Kakek dan Nenek.
"Rif, apa tidak ada kabar dari Papa Rendi?" Tanya Nadhira tiba tiba.
"Tidak ada Dhira, anggota Gengcobra sama sekali tidak menemukan keberadaannya, mungkin dirinya sudah bahagia bersama dengan Amanda"
Nadhira pun berdiam diri, ia tidak tau lagi harus berkata seperti apa, dirinya sangat merindukan Rendi akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa bertemu dengan Rendi, entah kemana perginya Rendi kali ini sehingga dirinya tidak dapat bertemu dengan sosok lelaki itu.
"Maafkan aku Dhira, aku tidak bisa memberitahu segalanya kepadamu, aku takut kalo dirimu nantinya sedih karena Papamu, sebaiknya kau tidak perlu tau soal itu Dhira, jika aku boleh marah kepadanya, aku ingin meluapkan segalanya tapi aku sadar bahwa orang itu adalah orang yang pernah membesarkanmu sayang, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa apa untukmu" Batin Rifki.
Rifki pun menutup ponselnya dan menaruhnya diatas nakas yang ada didekat tempat tidurnya itu, ia pun duduk disebelah Nadhira yang kini tengah sibuk dengan lamunanya itu setelah Rifki mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui kabar mengenai Rendi, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Nadhira saat ini hingga membuatnya termenung.
"Ada apa sayang?" Tanya Rifki dengan lembut.
"Apakah Papa benci denganku? Jika seperti itu, itu adalah suatu hal yang baik, agar dia bisa melupakanku untuk selamanya"
"Jika itu kabar yang baik, kenapa dirimu menjadi sedih sayang? Hatimu berkata lain dan tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh mulutmu"
"Rif, aku berusaha untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi, aku tidak mau bertemu dengannya lagi yang akan membuatku semakin kesal dengannya"
"Aku tau itu Dhira, kau berusaha untuk membenci Papamu itu tapi kau tidak akan pernah bisa melakukan itu"
"Akankah semuanya akan baik baik saja Rif? Entah mengapa aku merasa sangat takut dan tidak tenang"
"Pasti Dhira, semuanya akan baik baik saja, jika kita yakin maka keyakinan itu yang akan terjadi"
"Rif, boleh aku mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
"Katakan saja sayang"
"Mandi sana Rif, baumu ngak enak, rasanya aku ingin mual mencium baumu itu" Ucap Nadhira sambil menutupi hidungnya.
Rifki pun mencium aroma ketiaknya sendiri, akan tetapi dirinya sendiri tidak merasa bahwa dirinya bau karena wangi tubuhnya tersebut membuat Rifki mengernyitkan keningnya, "Ngak bau tuh sayang, kenapa harus mandi lagi?"
"Baumu membuatku pengen mual Rif, aku tidak suka".
"Masak sih aku bau?" Rifki tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira, ia pun kembali mencium ketiaknya untuk mengeceknya lagi, "Aku ngak bau Dhira"
"Mandi saja sana, baumu ngak enak Rif"
"Iya ya aku mandi lagi"
Rifki pun bergegas masuk kedalam kamar mandi, ia pun membersihkan tubuhnya itu sesuai dengan permintaan dari Nadhira, setelahnya ia pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah karena habis keramas.
"Rif, pengen" Ucap Nadhira dengan manjanya ketika melihat Rifki keluar dari kamar mandi.
"Pengen apa?" Tanya Rifki.
"Mangga muda" Ucap Nadhira sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Mangga muda? Sekarang?"
"Iya sekarang, aku maunya saat ini juga, tolong carikan mangga muda untukku"
"Hemm... Sepertinya dirumah Mama kayaknya ada deh mangga muda, nanti aku ambilkan ya" Ucap Rifki mengingat ingat bahwa dirumah kedua orang tuanya ada sebuah pohon mangga.
"Sekarang! Aku ngak mau nanti nanti Rif, pengennya sekarang bukan nanti"
"Iya, ya udah aku mau berangkat dulu kerumah Papa, nanti aku ambilkan yang banyak untukmu"
"Ikut, aku ngak mau dirumah sendirian" Nadhira pun menggembungkan pipinya hingga terlihat sangat imut.
"Kamu dirumah saja Dhira, biar ngak kecapekan"
"Ngak mau, pokoknya ikut! Atau aku ngambek nih"
"Baiklah ayo kita berangkat sekarang"
"Naik sepeda motor ya, aku maunya kayak dulu lagi waktu masih sekolah, kemana mana selalu naik sepeda motor berdua denganmu"
"Sepeda motorku ada dimarkas Dhira, ya sudah aku ngambil sepeda motor dulu ya, kamu dirumah saja nanti aku jemput"
"Baiklah kita naik mobil dulu ya, setelah sampai di markas nanti baru ngambil sepeda motornya, lalu kita jalan kerumah Mama"
"Baiklah, sayang Rifki" Nadhira pun mengecup pipi Rifki dan memeluk tubuh Rifki dengan gembiranya.
Hati Rifki merasa seperti berbunga bunga ketika mendapatkan ciuman dari Nadhira, tidak biasanya Nadhira akan menciumnya seperti itu, yang biasanya mencium Nadhira adalah dirinya bukan Nadhira yang mencium dirinya.
Keduanya pun bergegas untuk keluar dari kamar tersebut, Rifki lalu memanggil Pak Mun untuk mengantarkan keduanya menuju kemarkas besar Gengcobra yang berada lumayan jauh dari tempat itu, Pak Mun yang mendapat perintah seperti itu pun langsung bergegas untuk mengeluarkan mobil itu dari dalam garasi.
Nadhira dan Rifki langsung masuk kedalam mobilnya itu, melihat itu membuat Pak Santo segera membukakan pintu gerbang utama agar mobil yang dinaiki oleh majikannya itu dapat keluar dari halaman rumah besar tersebut.
Melihat itu membuat Pak Mun segera menjalankan mobil itu untuk keluar dari halaman rumah, dengan kecepatan sedang Pak Mun menjalankan mobil itu sesuai dengan permintaan dari Rifki karena dirinya tidak ingin mobil itu melaju cepat.
Setelah satu jam mengendarai mobil tersebut akhirnya mereka telah sampai juga dihalaman markas Gengcobra, anak buah Rifki yang melihat kedatangan mobil tersebut langsung membukakan pintu gerbang utama untuk mobil tersebut.
"Pak Mun bisa kembali" Ucap Rifki.
"Baik Tuan Muda" Tanpa banyak bertanya, Pak Mun kembali menjalankan mobilnya setelah kedua orang itu turun dari mobil.
Melihat kedatangan Rifki dan Nadhira kemarkas membuat seluruh anggota Gengcobra segera menunduk dihadapan Rifki dan Nadhira, Rifki pun segera memerintahkan mereka untuk mengeluarkan sepeda motor miliknya dari dalam garasi.
"Sudah siap Tuan Muda" Ucap salah satu anggota Gengcobra kepada Rifki yang telah mengeluarkan sepeda motor itu.
"Apa sudah kau panasi sepedahnya?" Tanya Rifki sekali lagi.
"Tadi siang sudah Tuan Muda, setiap siang hari sudah saya panasi sepedanya, setiap hari juga kami servis biar tetap nyaman kalo dinaiki"
"Baguslah"
Rifki pun lalu berjalan menuju kearah sepedanya, ia pun menyalakan mesin sepeda tersebut, lalu memakai helm yang terpasang dispion motornya, sementara Nadhira yang melihat itu pun langsung bergegas untuk naik ke sepeda itu, ia lalu memeluk tubuh Rifki dari belakang dengan sangat erat.
"Helmnya dipake dulu sayang" Ucap Rifki sambil memberikan helm kepada Nadhira.
"Baiklah" Nadhira lalu memakai helm pemberian dari Rifki tersebut.
Rifki pun menjalankan motornya untuk keluar dari markas besar Gengcobra, melihat kedua pasangan tersebut membuat Bayu yang baru tiba ditempat itu pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, entah bertapa besar perasaan iri didalam hatinya itu sehingga membuat Bayu hanya bisa mengelus dadanya saja.
"Nona Muda sedang hamil, jadi sikapnya sedikit aneh seperti itu" Ucap Reno yang menyadarkan lamunan dari Bayu.
"Hamil? Apa kau tidak salah berbicara? Bagaimana dia bisa hamil ya?" Tanya Bayu untuk memastikan apa yang dia dengar sebelumnya.
__ADS_1
"Benar, Tuan Muda tadi bilang kepadaku kalo Nona Muda sedang hamil saat ini, dan menyuruhku untuk mengadakan syukuran dimarkas Gengcobra, kalo soal bertanya kenapa dia bisa hamil tanyakan saja kepada Allah, soalnya aku sendiri juga ngak tau"
"Tak disangka kecebong milik Rifki begitu canggih hingga membuat Dhira langsung hamil, apa kau tidak ingin seperti mereka Ren? Sampai sekarang masih jomblo saja"
"Sadar diri napa Tuan! Anda sendiri juga jomblo sampai sekarang ngak laku laki!" Reno yang sedikit tidak terima dikatakan jomblo tersebut langsung mengeluarkan unek uneknya.
"Kau lebih tua beberapa tahun dariku, ya wajarlah aku mengatakan itu kepadamu, lagian apa salahnya diriku bertanya seperti itu?"
"Usia tidak menentukan kapan seseorang akan menikah Tuan Bayu"
"Keburu tua entar ngak laku dirimu Ren, aku hanya memberi saran saja, cepet nikah udah kepala tiga pun masih jomblo aja"
"Ya artinya berjodoh dengan malaikat maut lah, jika tidak berjodoh dengan wanita maka jodohku adalah malaikat mautku sendiri"
"Apa kau tidak takut dengan kematian Ren?"
"Jika aku takut dengan kematian, untuk apa aku menjadi anak buah Tuan Muda selama ini? Kematian tidak begitu menakutkan, jika aku mati maka aku bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuaku disyurga-Nya mereka pasti sedang menungguku"
"Aku tau apa yang kau rasakan Ren, keep strong Ren, kau tidak sendiri, masih ada kami yang menemanimu, Gengcobra akan selalu bersama kita"
"Anda benar Tuan Bayu, Gengcobra adalah rumahku, selama aku masih memiliki jalan untuk kembali, aku pasti akan baik baik saja"
"Ini rumah kita, dan kitalah yang harus menjaganya"
*****
Nadhira dan Rifki kini tengah berboncengan mengendarai sepeda motor milik Rifki, meskipun sepeda itu terlihat tua akan tetapi mesinnya begitu sangat halus dan nyaman, Nadhira pun menyandarkan kepalanya yang memakai helm tersebut dipunggung Rifki.
Rifki yang sedang menyetir itu pun melepaskan tangan kirinya dan mengusap pelan lutut Nadhira yang sedang menempel kepada lututnya itu, ketika dilampu merah keduanya terlihat sangat romantis dan dilihati oleh banyak orang.
"Sayang, ayo beli es kelapa muda, aku haus pengen minum yang dingin dingin" Rengek Nadhira.
"Katanya tadi mau mangga muda? Kok sekarang jadi es kelapa muda sih? Cepet banget berubahnya" Tanya Rifki.
"Nanti saja mangga mudanya sayang, ayolah sayang kita cari es kelapa muda sekarang, anakmu ini mau es kelapa muda"
"Anakku? Perasaan yang minta adalah istriku bukan anakku deh, kau memfitnah anak kita deh Dhira, jadi kita kearah pantai nih?"
"Iya, pengen yang seger seger sayang"
"Baiklah, kita cari yang jualan kelapa muda"
Rifki pun mengarahkan sepedanya untuk mencari es kelapa muda sesuai dengan yang diinginkan oleh Nadhira saat ini, ditengah tengah sorenya hari itu nampak Nadhira yang begitu senang berada dibelakang Rifki dengan pelukan yang sangat erat.
Setelah sekian lama mencari penjual es kelapa muda akhirnya keduanya menemukan sebuah warung yang jualan es kelapa muda, Rifki lalu memarkirkan sepedanya sementara Nadhira langsung turun untuk memesan es kelapa muda tersebut.
"Pak beli 3 gelas ya" Ucap Nadhira memesan.
"Mau diminum disini atau dibawa pulang, Mbak?" Tanya sang penjual.
"Diminum disini Pak"
"Baik Mbak, silahkan duduk dulu"
Nadhira pun langsung duduk disebuah meja yang dekat dengan sawah, keduanya kini tengah berada disebuah warung pinggir jalan lebih tepatnya dekat dengan persawahan, Rifki lalu langsung duduk disebelah Nadhira yang kini tengah asik menikmati pemandangan.
"Kau tidak pernah main ke sawah Dhira?" Tanya Rifki sambil memandang kearah hijaunya tanaman padi.
"Ngak pernah Rif" Jawab Nadhira.
"Sama, tapi melihatnya dari kejauhan seperti ini membuat damai ya"
"Iya Rif, seperti melihat wajahmu yang selalu membuatku merasa damai"
"Gombal banget sih"
Keduanya pun tertawa sambil menikmati pemandangan yang menyejukkan itu, tak beberapa lama kemudian datanglah penjual es kelapa muda tersebut sambil membawakan 3 gelas minuman es kelapa muda kepada Rifki dan Nadhira.
"Loh kok 3? Satunya buat siapa sayang?" Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Kan buat kita bertiga Rif"
"Kita bertiga?"
"Kamu, aku, dan anak kita sayang"
"Tapi kan dia belom lahir Dhira, emang kuat untuk menghabiskan 2 gelas sekaligus?"
"Kan ada kamu sayang, kalo tidak habis nanti kamu yang harus menghabiskannya"
"Iya deh, penting kamu senang Dhira"
Nadhira pun langsung menyambar satu gelas es kelapa muda itu dan langsung meminumnya, segar rasanya ketika air kelapa itu tengah mengalir melewati tenggorokan Nadhira, Rifki pun mengambil segelas es kelapa muda tersebut dan melakukan hal yang sama seperti Nadhira.
__ADS_1
Dirinya yang belom pernah menikmati minum air kelapa dipinggir jalan seperti ini membuat Rifki terlihat agak canggung, biasanya dia akan meminum air kelapa ditepi pantai dengan menggunakan batoknya asli tapi kali ini dirinya menikmati air kelapa didalam gelas bening.