Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kinara marah


__ADS_3

Lelaki tersebut seakan akan sudah tidak bisa bangkit lagi akibat tendangan bebas yang diberikan oleh Ana dengan sangat kerasnya itu. Melihat itu membuat mereka semua terkejut dengan kemampuan Ana yang telah disembunyikan selama ini, ternyata Ana ahli dalam beladiri meskipun sama sekali tidak pernah untuk dirinya tunjukkan kepada siapapun.


Ana tidak akan terima jika orang lain mau menyakiti anak tersayangnya itu, bahkan dirinya pun rela melakukan apapun asalkan anaknya baik baik saja. Melihat orang lain ingin menyakiti anaknya, hal itu membuat Ana terpancing emosi bahkan tidak segan segan untuk menghajarnya.


"Nara ngak papa, kan?" Tanya Ana kepada anaknya itu yang sedang memegangi bajunya dengan erat.


"Nara takut, Ma. Mama jangan galak galak," Ucap Kinara sambil membenamkan wajahnya didalam jilbab Mamanya itu.


"Nara jangan takut ya, ada Mama disini yang akan ngelindungin Nara,"


Ana pun merasakan bahwa anaknya itu kini tengah mengangguk mendengar ucapannya itu, Ana hanya tersenyum tipis ketika merasakan anggukan kepala dari Kinara itu.


"Jadi dompet saya mau dicuri oleh orang itu?" Tanya wanita itu sambil memegangi erat dompetnya.


"Nara, minta maaf sama Tante, Nara kan sudah lempar tomat sembarangan. Jadi Nara harus minta maaf," Ucap Ana kepada anaknya.


"Tante, maafin Nara ya, tadi Nara lempar sayuran ke Tante gitu aja. Nara ngak berniat untuk melukai atau mengotori baju Tante kok, Nara cuma mau bantuin Tante saja. Nara ngak macam macam kok sama Tante," Ucap Kinara lirih sambil tetap bersembunyi dibalik punggung Ibunya.


"Terima kasih ya, Nak. Sudah nolongin Tante, didalam sini ada uang yang sangat berharga milik Tante yang tersisa. Kalau bukan karena kamu, mungkin Tante akan kehilangan harta Tante ini, Tante bener bener berterima kasih sama kamu,"


"Iya Tante, maafin Nara juga ya? Soalnya Nara sudah membuat baju Tante jadi kotor seperti itu,"


"Ngak papa, Nak. Nanti bajunya juga bisa Tante cuci dirumah,"


"Mama, Nara sudah minta maaf," Ucap Kinara lirih kepada Ana.


Lelaki yang terbaring diatas tanah itu pun berusaha untuk bangkit kembali, akan tetapi hal itu langsung membuat perhatian seluruhnya terarah kepada lelaki tersebut. Begitupun juga Ana dan Siska yang ikut serta memerhatikan lelaki tersebut, pukulan Ana sangat keras hingga membuatnya menggeram kesakitan setelahnya.


"Jadi dia pencurinya?" Tanya salah satu warga sambil menunjuk kearah lelaki yang tengah terbaring ditanah sambil menggeram kesakitan itu.


"Hajar dia!"


"Dia harus diberi pelajaran agar tidak mencuri lagi,"


"Jangan beri dia ampun!"


Ana ingin menghentikan aksi mereka yang main hakim sendiri itu, akan tetapi dirinya terlambat karena warga langsung menghajar orang tersebut. Melihat itu langsung membuat Kinara ketakutan hingga memejamkan kedua matanya, sambil memegangi baju Ibunya dengan eratnya.


"Mama, Nara takut," Ucap Kinara pelan sambil terus mengenggam erat baju Ibunya itu.


Ana yang tau bahwa anaknya kini tengah ketakutan itu pun menyerahkan anaknya itu kepada Siska, sementara dirinya ingin menghentikan aksi main hakim sendiri itu agar anaknya tidak semakin ketakutan melihatnya.


Siska yang paham dengan maksud dari Ana itu, langsung bergegas untuk memegangi tangan Kinara dengan eratnya. Sementara Kinara hanya menurut dengan ucapan Mamanya itu, dan langsung bersembunyi kembali dibelakang tubuh Siska.


"Hentikan! Kalo main hakim sendiri jangan dimari," Ucap Ana sambil menengahi mereka.


Meskipun begitu, hal itu tidak cukup untuk menghentikan para warga memukuli lelaki itu. Ana harus menghentikan mereka dengan cara yang lain yakni mendorong mereka untuk menjatuh dari lelaki itu, hal itu langsung membuat mereka berhenti.


"Dia memang salah, tapi bukan berarti kalian bisa main hakim sendiri, apalagi ini adalah halaman rumahku. Aku tidak akan membiarkan kalian main hakim disini, lebih baik segera membawanya kekantor polisi untuk meminta pertanggung jawaban,"


Mereka pun menghentikan aksinya itu, lelaki yang dihajar itu pun kini sudah menjadi babak belur bahkan ada memar yang sampai mengeluarkan darah akibat pukulan tersebut.


"Benar apa yang dikatakan Ana, sebaiknya kita segera bergegas membawanya pergi dari sini untuk kekantor polisi,"


"Saran yang bagus, baiklah kita bawa dia pergi dari sini secepatnya,"


Warga sekitar memang sangat mengenali Ana, mereka yang berjualan dipasar itu pun juga mengenali Ana karena Ana adalah orang yang sangat baik hati. Sekaligus selalu suka membantu, meskipun anaknya sangat nakal, akan tetapi Kinara tetap menjadi kesayangan disana.


"Kalo begitu kami pergi dulu ya, Mbak Ana. Maaf sudah salah paham dengan anak anda," Ucap salah satu warga dengan merasa tidak enak kepada Ana.


"Ngak papa, Pak. Saya paham kenapa kalian mengejar anak saya tadi, kalo semuanya sudah jelas, saya merasa lega," Ucap Ana.


"Kami permisi dulu,"


Mereka pun langsung memegangi lelaki itu dan membawanya pergi dari tempat itu untuk menuju kekantor polisi. Disana kini hanya tersisa penjual sayur dan juga wanita yang hendak dicopet itu, Ana kembali mendekati kearah anaknya.

__ADS_1


"Berapa kerugian yang Bapak alami karena ulah anak saya? Saya akan ganti," Ucap Ana kepada penjual sayuran yang ada didepannya itu.


"Biar saya yang ganti, Mbak. Karena anak anda telah menyelamatkan saya dari kecopetan, kalau bukan karena anak, Mbak. Mungkin saya akan kehilangan harta yang berharga bagi saya ini," Ucap wanita tersebut kepada Ana.


"Ngak perlu diganti, Mbak Ana. Saya sudah iklas kok, lagian anak Mbak Ana melakukan ini untuk menolong orang lain, bukan hanya sekedar untuk bermain main. Jadi saya bisa memaklumi itu," Ucap penjual sayuran.


"Saya ngerasa ngak enak kalo gini, Pak. Karena anak saya, anda mengalami kerugian besar, biar saya ganti saja ya, Pak? Bapak minta berapa?" Tanya Ana.


"Ngak kok, Mbak. Berkat anak Mbak, Ibu ini tidak jadi kena musibah, lagian kita sesama manusia harus saling tolong menolong. Tapi lain kali, tolong anaknya dibilangin jangan berbuat yang bisa membahayakan diri seperti tadi,"


"Tapi Pak..."


"Kalo begitu saya permisi dulu ya, Mbak."


"Terima kasih, Pak. Saya akan bilangin ke Nara, supaya tidak berbuat seperti ini lagi,"


"Iya Mbak Ana."


lelaki penjual sayuran itu langsung bergegas untuk pergi dari tempat tersebut, kini hanya tersisa Ana, Siska, Kinara, dan wanita yang hendak kecopetan itu. Ketika lelaki itu meninggalkan tempat tersebut Kinara langsung berjalan keluar dari tempat persembunyiannya yang paling aman itu.


"Sekali lagi terima kasih ya, Dek. Sudah nolongin Tante, maafin Tante yang sudah berburuk sangka dengan dirimu tadi. Tante pikir kamu memang sengaja ngelakuin itu kepada Tante," Ucap wanita tersebut kepada Kinara.


"Maafin Nara juga ya Tante, Nara tadi melempar Tante begitu saja. Sebenarnya Nara mau ngelemparin ke Om Om itu, tapi malah kena Tante," Ucap Kinara.


"Kalo begitu, saya permisi dulu ya,"


"Iya Mbak, lain kali hati hati kalau ditempat keramaian, sekarang banyak penjahat yang berkeliaran. Takutnya nanti, mereka akan mencopet lagi," Ucap Ana.


"Iya Mbak, terima kasih ya."


Wanita tersebut pun langsung bergegas untuk meninggalkan halaman rumah itu, sementara kini Ana tengah menatap tajam kearah anaknya tersebut sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Melihat itu langsung membuat Kinara menundukkan kepalanya dalam, seraya merasa takut dengan tatapan yang diberikan oleh Mamanya.


"Mama ngak suka Nara seperti ini, gimana kalo Nara kenapa kenapa? Mama ngak suka Nara ikut campur urusan orang lain, gimana tadi kalo ngak ada Mama? Nara bisa bisa dipukul orang, Nara mau kayak gitu?" Omel Ana kepada anaknya.


"Mama ngak suka! Apanya yang ditolong? Itu bahaya, Nara. Nara masih kecil! Gimana kalo kena pukul? Mama marah sama Nara, ngak pernah mau dengerin ucapan Mama selama ini."


Belum sempat Kinara menyelesaikan perkataannya, Ana langsung memotongnya begitu saja. Nampak setitik air mata dipelupuk mata Ana, Ana benar benar marah kepada Kinara saat ini.


Ana tidak mau anaknya terlibat dalam bahaya, seakan akan bahaya yang mengincar mereka selalu menggentayangi hidupnya. Selama ini dirinya hidup tanpa rasa tenang sedikitpun akibat musuh musuh yang dimiliki oleh suaminya itu, hal itu membuatnya tidak menginginkan anaknya terluka sedikitpun itu.


Bertahun tahun dirinya menyembunyikan Kinara dari seluruh dunia, tapi justru Kinara sendiri yang mencoba untuk mendekati bahaya itu. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu, dirinya selalu hidup dalam ketakutan akan setiap hal yang berhubungan dengan orang orang yang ingin mencelakai Kinara.


Bahkan dirinya tidak rela jika setetes darah Kinara keluar dari tubuhnya karena cidera, oleh karena itu Ana pasti akan marah jika melihat Kinara terluka begitu saja. Meskipun itu luka kecil sekalipun itu, dirinya tidak suka melihat Kinara terluka.


"Kak, jangan ngomelin Nara seperti itu. Kasihan dia, dia masih anak anak, Kak. Jangan marahi dia," Ucap Siska sambil membela Kinara.


"CUKUP SISKA! Jangan belain Nara terus, dia akan terus seperti ini kalo kamu terus terusan ngebelain dia. Gimana kalo orang itu datang dan mencelakakan Kinara lagi? Aku ngak mau anakku terlibat dalam bahaya apapun!" Sentak Ana kepada Siska.


"Ma, jangan marahi Tante," Ucap Kinara sambil bergelayutan ditangan Ana.


"Diam kamu! Mama lagi marah sama kamu, Mama ngak suka kamu ngelakuin hal kagak gini, kalo mereka sampai memukuli Nara gimana?"


"Maafin Nara, Ma." Cicit Kinara pelan, dirinya pun meneteskan air matanya ketika diomeli oleh Mamanya seperti itu.


"Nara ngerti ngak apa yang Mama katakan?" Tanya Ana sambil berlutut dihadapan anaknya itu sambil memegangi kedua pundak anaknya, "Nara mau bikin Mama nangis lagi? Apa Nara udah ngak sayang sama Mama? Katakan Nara! Kenapa Nara ngelakuin hal seperti ini? Jangan pernah ulangi lagi, atau Mama akan benar benar marah sama Nara. Awas saja kalo diulangi lagi, Mama ngak akan pernah ngizinin Nara keluar rumah nanti,"


Kalimat terakhir dari Ana itu pun langsung membuat Kinara membuka matanya lebar lebar, "Mama jahat! Nara mau tinggal sama Papa saja!"


Kinara tidak mau jika harus dikurung didalam rumah nantinya, ia pun lalu mengibaskan tangan Ana begitu saja. Kinara dengan isakkan tangisannya itu pun langsung berlari untuk pergi dari halaman rumah itu, melihat itu langsung membuat Ana berdiri dari duduknya.


"Nara!" Teriak Ana.


"Nara mau cari Papa!" Teriak Kinara sambil mengusap air matanya dan berlari.


Ana pun langsung mengejar anaknya setelah mendengar jawaban dari Kinara. Dirinya tidak mau kalau anaknya sampai pergi meninggalkan dirinya begitu saja, didalam pengejaran itu Kinara bersembunyi dibalik sebuah semak semak agar tidak ditemukan oleh Mamanya.

__ADS_1


"Nara! Kamu pergi kemana, Nak?" Tanya Ana ketika sudah tidak menemukan bayangan Kinara.


"Larinya cepet banget lagi," Ucap Siska yang sedikit ngos ngosan setelah berlari jauh.


"Cepat cari dia, Sis. Harus sampai ketemu,"


Mereka berdua pun kembali mencari Kinara, tanpa diketahui oleh keduanya, kini Kinara tengah duduk diatas pohon sambil bersembunyi dari kejaran Mama dan Tantenya itu. Disebuah taman, Kinara tengah berada diatas pohon sambil menangis.


Kinara dapat melihat bahwa Mama sama Tantenya itu kini tengah sibuk mencarinya dari atas pohon, akan tetapi Kinara tidak mau memberitahukan keberadaannya kepada keduanya. Kinara takut jika akan dimarahi lagi oleh mereka.


Kinara tidak tau kenapa Mamanya sangat marah saat ini, Kinara hanya ingin membantu orang lain tapi mengapa Mamanya justru sangat memarahinya setelahnya. Bukannya membantu sesama akan mendapatkan pahala? Lantas mengapa dirinya justru dimarahi oleh Mamanya, itulah yang saat ini tengah dipikirkan oleh Kinara.


"Aku pengen ketemu sama Papa. Kata Mama, Papa adalah orang yang baik. Dia pasti tidak akan pernah marah marah dengan Nara, hiks.. hiks.. hiks.. Papa Nara kemana? Nara pengen bertemu dengan Papa, kenapa Papa ngak pulang pulang dan nemuin Nara?"


Kinara pun mengayun ayunkan kedua kaki pendeknya itu, dirinya juga sedang marah kepada Ana karena Ana telah mengomelinya dan memarahinya, dia tidak mau pulang karena takut untuk dimarahi lagi.


Kinara pun menghapus air matanya dengan kasar, meskipun dirinya tau bahwa air mata itu akan kembali bercucuran karena perasaan sedihnya. Akan tetapi, dirinya terus melakukan itu karena setiap air matanya menetes pasti terasa gatal dan ingin digaruknya.


"Pembangunan gedungnya akan dilakukan beberapa hari lagi, bangunan ini akan dijadikan sebagai rumah makan yang dibawah perusahaan Abriyanta yang berjalan dibidang kuliner, letaknya cukup strategis, Rif. Dan kita akan mengadakan makan geratis setiap hari jum'at untuk warga sekitar," Ucap seorang lelaki sambil menunjukkan sebuah berkas.


"Bagus juga, untuk pertama kalinya Abriyanta Group bergerak dibidang kuliner, usahakan yang terbaik untuk itu, Bay."


"Kau tenang saja Rif, beberapa tempat sudah dibangun rumah makan yang sama, dan kita akan memperkerjakan beberapa orang dari Surya Jayantara untuk itu. Dengan cara itu, maka kita akan memajukan orang orang yang kurang mampu dengan bantuan dari Surya Jayantara, kita juga akan memeroleh untung yang banyak sehingga bisa membantu sesama,"


"Lakukan apapun itu, Bay. Untuk pembangunan gedung yang ada disekitar sini, aku serahkan semua kepadamu baiknya seperti apa,"


"Iya, Rif."


Tidak jauh dari tempat Kinara berada, terlihat dua orang yang saling berbincang bincang dengan berjalan lirih untuk melihat lokasi dimana mereka akan membangun sebuah rumah makan, rumah makan itu akan diberi nama rumah makan Sangdhira.


Karena ayunan kaki Kinara yang terlalu cepat hingga membuat sandal yang dirinya gunakan itu pun terlempar, dan sandalnya itu jatuh tepat dihadapan dua orang lelaki itu, keduanya tidak lain adalah Rifki dan Bayu yang tengah membicarakan tentang pembangunan gedung rumah makan.


"Maafin aku, Om. Aku ngak sengaja," Ucap Kinara dari atas pohon ketika melihat sandalnya mengenai orang lain.


"Astaga, ngapain kamu diatas sana? Kalo jatuh nanti gimana?" Tanya Rifki ketika menoleh keatas pohon.


"Kenapa anak itu bisa nyangkut disana? Emang habis terbang darimana tuh anak?" Tanya Bayu yang merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Kinara saat ini.


"Om baik," Ucap Kinara yang merasa senang ketika bertemu dengan Rifki kembali.


"Nara? Astaga anak ini ngapain diatas sana? Nara turun gih, nanti kalo jatuh gimana?" Rifki pun nampak panik karena melihat anak kecil yang sedang memanjat pohon cukup tinggi.


"Nara ngak mau, Nara maunya disini,"


"Nara turun ya, Nak. Nanti Om kasih permen deh, tapi Nara harus turun dulu,"


"Nara lupa caranya turun, Om. Nara ngak bisa turun," Ucap Kinara ketika menyadari bahwa dahan tempatnya duduk itu cukup tinggi.


"Bisa naik tapi ngak bisa turun, gimana sih nih bocah cewek? Orang tuanya juga kemana? Masak dibiarkan diatas gitu saja," Guman Bayu sambil menggeleng gelengkan kepalanya heran.


"Kamu naik deh, Bay. Bantuin dia turun, biar aku jaga dibawah," Ucap Rifki.


"Tapi Rif, aku ngak bisa manjat pohon tau. Apalagi pohonnya setinggi itu," Ucap Bayu.


"Bisamu apa, Bay? Manjat pohon gini aja ngak bisa,"


Mendengar pertengkaran kecil itu langsung membuat Kinara tertawa, tawanya itu langsung membuat perhatian keduanya tertuju kepada Kinara yang duduk diatas dahan pohon dengan santainya.


"Lah malah ketawa diatas lagi nih anak, turun sekarang, Nak. Jatuh jadi bakwan goreng kamu nanti ya," Ucap Bayu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Turun ngak ya? Tapi Om, Nara ngak mau turun, nanti takut ketahuan sama Mama terus diomelin lagi kayak tadi," Ucap Kinara.


"Hem... Nara ngak asik ah duduk disana sendirian, mending duduk dikursi sana sama Om," Ucap Rifki sambil menunjuk kearah sebuah kursi taman.


"Nara ngak mau, Om baik aja yang naik keatas untuk duduk sama Nara," Ucap Kinara membersi saran.

__ADS_1


__ADS_2