
"Aku berharap bahwa ini hanya mimpi Bu, aku masih belum siap jika harus kehilangan Rifki" Ucap Nadhira dengan rintihan air mata.
"Sudah jangan dipikirkan lagi soal itu Nak, sebaiknya kau segera membersihkan tubuhmu setelah itu makan, Ibu akan menyiapkan masakan untukmu".
Nadhira pun mengangguk kepada Ibu angkatnya itu, melihat anggukan tersebut membuat Bi Ira segera bergegas keluar dari kamar Nadhira, Nadhira juga ditemani oleh Bi Sari dikamarnya, sementara Nadhira segera bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah pulang bekerja.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Bi Sari lalu mengajak Nadhira turun kebawah untuk makan, Nadhira hanya mengangguk dengan berusaha untuk menahan kesedihannya itu, Rifki terlalu berharga bagi dirinya sehingga ia begitu sulit untuk mengikhlaskan dirinya bergandengan tangan dengan orang lain.
"Non Dhira jangan sedih dong, Bibi jadi ikut sedih nih, apa Non tega melihat Bibi sedih?" Ucap Bi Sari yang melihat wajah sedih Nadhira.
"Dhira ngak sedih kok Bi, Bibi jangan sedih juga ya" Ucap Nadhira yang berusaha untuk menerbitkan sebuah senyuman diwajahnya.
"Kalo Non Dhira tersenyum seperti itu, Non Dhira kelihatan begitu sangat cantik, Bibi sampe iri dengan kecantikan Non Dhira".
"Bibi bisa aja, semua wanita itu cantik Bi, kalo tampan bukan wanita lagi".
"Nah gitu dong Non, keep smile"
Nadhira lalu menuju kearah meja makan yang saat ini sudah terhidangkan sebuah makanan kesukaan Nadhira disana, Nadhira pun segera memakannya dengan lahap karena ditungguin oleh Bi Ira dan juga Bi Sari disebelahnya.
*****
Bayu dan sebagian anak Gengcobra sedang berada dirumah Rifki untuk perisapan acara pertunangan antara Rifki dan Syaqila, kedua orang tua Rifki merencanakan pesta tersebut disebuah gedung yang sangat mewah dikota itu.
Acara pertunangannya akan berlangsung sekitar 2 jam lagi akan tetapi Rifki masih terlihat begitu santai dan bahkan belum bersiap siap dengan rambut yang masih acak acakan setelah bangun dari tidurnya.
"Rifki, kenapa kau belum siap siap juga sih, ini sudah jam berapa? Kenapa kau belum bersiap siap juga Nak" Ucap Putri yang mulai sedikit heboh dengan tindakan anaknya.
"Emang Rifki harus menghadiri acara itu ya Ma? Bisa kah Rifki tidak ikut?" Tanya Rifki dengan santainya.
"Kamu ini bagaimana sih, kan yang akan tunangan dirimu, masak iya kamunya ngak dateng sih, apa kata orang nantinya" Omel Putri.
"Rifki sakit Ma" Ucap Rifki seakan akan seperti sedang mengigil saat ini.
"Kamu sakit apa Nak?" Ucap Putri terkejut dan langsung menghampiri anaknya dan menyentuh kening Rifki dengan punggung tangannya, "Astaga Rifki, badanmu panas banget" Ucap Putri terkejut ketika merasakan bahwa suhu tubuh Rifki begitu panas saat ini.
Putri pun sangat panik ketika mengetahui bahwa Rifki sedang sakit saat ini, ia pun segera memanggil Haris, tak beberapa lama kemudian Aryabima dan Haris segera datang kekamar Rifki untuk memeriksa kondisinya saat ini.
Aryabima mampu menyentuh punggung Rifki dan menekan nekan saraf Rifki sehingga hal itu membuat Rifki mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit akibat dari tekanan yang diberikan oleh Aryabima.
"Tinggalkan kami berdua" Ucap Aryabima.
"Tapi Ayah, bagaimana dengan keadaan Rifki, apa sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit Yah? Badannya sangat panas" Ucap Putri yang cemas.
"Aku akan mengurus Rifki disini, beberapa saat lagi dia akan sembuh".
"Baiklah Ayah".
Haris dan Putri pun segera bergegas keluar dari kamar Rifki, setelah itu Aryabima menyuruh Rifki untuk berbaring tengkurap diatas kasurnya, dalam pijatannya itu Aryabima sedikit menyalurkan sebuah energi kepada Rifki.
Aryabima merasakan bahwa keris pusaka xingsi itu sedang tidak baik baik saja dan memberi perlawanan kepada Rifki hingga membuat Rifki merasakan sakit dan juga suhu tubuhnya yang meningkat, Aryabima tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini.
"Kenapa kau nekat sekali sih Nak, kenapa kau ingin menghancurkan keris itu seorang diri? Jika kau terus seperti ini, maka nyawamu yang menjadi taruhannya Nak" Ucap Aryabima.
"Rifki tidak masalah jika harus kehilangan nyawa Rifki sendiri Kek, bukankah Rifki memang dilahirkan untuk melenyapkan keris ini Kek? Rifki tidak akan mampu untuk melukai Nadhira".
"Jangan nekat seperti ini Rifki! Bukannya keris itu yang hancur justru dirimu yang akan hancur, dan keris itu akan berpindah kepada orang lain, sementara orang itu belum tentu bisa menghancurkannya seperti dirimu, jiwa mu nantinya tidak akan tenang karena kau belum melaksanakan tugasmu".
"Lalu apa yang harus Rifki lakukan Kek? Rifki tidak akan sanggup untuk melukai Nadhira ataupun bahkan merebut nyawanya Kek, Rifki ngak mau Kek, biarkan Rifki sendiri yang hancur"
"Sadar Nak, jangan bertindak gegabah seperti ini, kau adalah satu satunya harapan leluhur dan kami semua, jika kau membahayakan diri seperti ini maka kau akan melukai hati kami semua, Kakek akan berusaha untuk mencari cara yang lain, jangan bertindak nekat seperti ini".
"Iya Kek"
Rifki mengangguk kepada Aryabima, sementara Aryabima mencoba untuk mengendalikan kekuatan dari keris pusaka xingsi itu, dan hal itu membuat Rifki merasa sangat nyaman karena kehangatan yang ditimbulkan oleh gerakan telapak tangan Aryabima.
"Apakah Rifki harus tunangan saat ini Kek?" Tanya Rifki tiba tiba.
"Hem? Bukannya ini yang kau inginkan Nak?".
"Rifki tidak mau menikah Kek"
"Apa? Bagaimana bisa kau mempermainkan hati seorang wanita nantinya? Bagaimana dengan perasaan wanita itu jika kau melakukan hal ini".
__ADS_1
"Rifki tidak punya pilihan lain Kek, Rifki takut Mama berbuat nekat nantinya, Mama ingin bunuh diri kalau Rifki tidak mau menikah dengan wanita itu".
"Jika kamu tidak mau menikah, kenapa kamu menyetujuinya Nak?".
"Rifki terpaksa Kek, maafkan Rifki, Rifki salah".
"Seharusnya kamu bicara dengan Kakek sejak awal Nak, sudahlah, nanti Kakek yang akan berbicara kepada Mamamu, untuk saat ini bersiap siaplah untuk menghadiri tunangan itu, jangan buat Mamamu kecewa saat ini".
"Tapi Kek..."
"Iya Kakek tau Nak, percayalah dengan Kakek".
"Terima kasih karena telah mau mengerti Rifki Kek, Kakek memang terbaik untuk Rifki".
"Tapi berjanjilah kepada Kakek jangan lakukan hal yang membahayakan keselamatanmu lagi Nak".
"Iya Kek, Rifki berjanji tidak akan melakukannya lagi".
*****
Rifki keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi dan digandeng oleh Aryabima, melihat Rifki membuat Putri merasa bahagia karena Rifki sudah sembuh dari sakit panasnya.
Putri lalu mendekat kearah dimana Rifki berdiri saat ini dan langsung memeriksa keadaan Rifki, ia begitu terkejut karena Rifki sembuh begitu cepat, dan saat ini sudah berpakaian sangat rapi.
"Alhamdulillah kau sudah sembuh Nak" Ucap Putri dengan bahagianya.
"Iya Ma, ini semua karena Kakek Arya" Jawab Rifki.
"Baguslah, sekarang kita harus pergi keacara tunanganmu Nak, mereka sudah lama menunggu".
"Iya Ma".
Putri pun menggandeng tangan anaknya itu dan segera bergegas menuju kesebuah gedung yang telah disewanya sebelumnya, diikuti oleh Haris dan Aryabima dibelakangnya, melihat itu membuat anak buahnya segera mengikutinya juga.
Mobil yang dinaiki oleh Rifki dan keluarganya itu pun melaju meninggalkan rumah Rifki dengan diikuti oleh beberapa mobil hitam dibelakangnya yang mengangkut anak buah Rifki yang ikut dalam acara tunangan tersebut.
"Apakah Tuan Muda benar benar akan tunangan dengan wanita itu?" Tanya Reno kepada Bayu yang sedang berada dimobil yang ada dibelakang mobil yang dinaiki oleh Rifki.
"Entahlah, masih tunangan kan? Itu artinya masih banyak kesempatan untuk membatalkannya, semoga semuanya akan baik baik saja, kasihan Nadhira" Ucap Bayu yang membayangkan bertapa sedihnya Nadhira saat ini dimana dirinya harus melihat orang yang dicintainya bersanding dengan orang lain.
"Kau benar, mungkin ini juga pilihan yang sangat sulit untuk Rifki, seandainya aku jadi dirinya pun aku tidak akan sanggup untuk bertahan hingga sejauh ini".
"Tuan Muda kita hebat ya, tapi ujian yang dihadapinya juga begitu luar biasa".
"Berdoa saja lah semoga semuanya akan baik baik saja kedepannya nanti".
"Aamiin" Jawab mereka serempak.
Setelah cukup lama perjalanan akhinya mereka sampailah disebuah gedung yang cukup mewah dengan hiasan hiasan yang begitu mahal, melihat mobil sangat mewah memasuki halaman gedung tersebut membuat seluruh orang yang menghadiri acara tersebut segera menatap kearah mobil itu berasal.
"Dia sudah datang" Guman Syaqila yang melihat mobil mobil itu telah sampai.
Didalam mobil itu Rifki sekilas memandang kearah gedung tersebut, ia merasa ada yang aneh dengan lingkungan sekitar itu, mobil pun berhenti dan Putri mengajaknya untuk keluar dari mobil.
"Ayo turun Nak, mereka sudah menunggumu".
"Ma, bolehkah aku duduk disini sebentar, perasaan Rifki mendadak merasa tidak enak".
"Hem? Mungkin hanya perasaanmu saja Nak, kau kan sebentar lagi akan bertunangan".
"Bukan seperti itu Ma, Rifki hanya merasa bahwa Rifki belum siap untuk masuk kedalam gedung itu sekarang, tapi Rifki janji kepada Mama, kalo perasaan Rifki sudah membaik nanti Rifki akan masuk".
"Baiklah, biarkan Kakek Arya menemanimu disini".
"Iya Ma".
Putri dan Haris pun segera bergegas keluar dari mobil itu berserta dengan sopirnya, dan kini hanya menyisakan Rifki dan Aryabima saja yang ada didalam mobil tersebut, Rifki pun menutup pintu mobil itu rapat rapat.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan dengan Kakek?" Tanya Aryabima.
"Entahlah Kek, Rifki hanya merasa bahwa ada yang ingin mencelakakan Rifki didalam sana, entah perasaan seperti apa yang saat ini Rifki rasakan Kek, seperti ada aura negatif didalamnya akan tetapi aura itu begitu tipis dan samar samar".
"Tenanglah, Kakek akan selalu melindungimu Nak, kita masuk ya, jangan jauh jauh dari Kakek".
__ADS_1
"Tapi Kek..."
"Kita tidak boleh membuat musuh kita semakin curiga Nak, kita harus mengikuti permainannya, agar kita tau apa tujuannya yang sebenarnya, mereka tidak boleh mengetahuinya".
"Apa Kakek juga merasakan hal yang sama seperti yang Rifki rasakan saat ini?".
"Iya, sudah sejak lama Kakek merasakan hal seperti ini Nak, akan tetapi mereka belum juga bertindak sampai sejauh ini, entah apa yang sedang mereka rencanakan Kakek juga tidak mengetahuinya, apa kau takut mati Nak?".
"Rifki takut mati?" Tanya Rifki dengan tersenyum masam, "Keturunan Pangeran Kian tidak pernah takut mati Kek, bagaimana bisa Rifki takut mati?"
"Baguslah, tidak diragukan lagi kau memang benar benar adalah cucuku kesayanganku yang pemberani, kalau begitu ayo masuk".
"Maksud Kakek apa?"
"Sudahlah ayo masuk" Ucap Aryabima dan langsung menarik baju Rifki untuk keluar dari mobilnya.
Rifki pun akhirnya keluar dari mobil tersebut atas paksaan dari Aryabima, melihat Kakeknya yang merasa sangat yakin membuat kepercayaan diri Rifki mulai bangkit, tidak ada keraguan didalam hatinya untuk terus melangkah.
Melihat pemimpin perusahaan Abriyanta Groub keluar dari mobilnya seketika tempat itu terasa begitu meriah dengan taburan kelopak bunga mawar yang menghiasi langkahnya, ia pun menangkap sebuah kelopak bunga tersebut.
"Nadhira, maafkan aku" Guman Rifki sambil menggenggam erat kelopak bunga yang ia tangkap sebelumnya.
Bunga mawar merah adalah kesukaan Nadhira, sehingga dimanapun ada bunga mawar, Rifki akan selalu mengingat tentang Nadhira, keindahan kelopak mawar merah dengan semerbak bau harumnya membuat Rifki selalu tersenyum karena disaat ia mencium aroma bunga mawar sekilas bayangan Nadhira terlintas dalam pikirannya.
Kedatangan Rifki ditempat itu begitu disambut dengan hormat oleh semua orang, dengan langkah tegasnya Rifki melangkah diantara puluhan orang yang saat ini sedang mengelilinginya.
"Tuan Muda Abriyanta sangat tampan sekali".
"Nona Syaqila merasa sangat beruntung karena memiliki orang tampan seperti itu".
"Seandainya aku yang menjadi calonnya, ah bagaikan sebuah mimpi yang begitu indah".
"Tampan sekali, hidung yang mancung, kumis tipis, mata yang indah, idaman banget sih".
"Aaa... Ingin ku kantongin terus bawa pulang aja tuh Tuan Muda Abriyanta, kenapa Kau menciptakan manusia terindah seperti ini Ya Tuhan, dan kenapa bukan aku yang menjadi jodohnya".
Desas desus kedatangan Rifki ditempat itu tidak didengar begitu jelas oleh Rifki karena disana terlihat begitu ramai dan banyak pula orang yang tengah membicarakannya saat ini, dan hal itu membuat suara mereka seperti sedang bergemuruh.
Rifki pun lalu naik keatas panggung yang telah disiapkan dengan penuh karangan bunga, dari kejauhan dirinya dapat melihat bahwa Nadhira sudah berada ditempat itu dan berdiri dibarisan paling belakang dari semuanya.
"Dhira, kenapa dia hadir disini?" Guman Rifki yang mampu didengar oleh Syaqila disebelahnya.
"Dia harus hadir, aku yang mengundangnya atas nama dirimu Rifki" Ucap Syaqila dengan ringannya.
"Maksudmu apa menyuruhnya untuk datang?" Ucap Rifki dengan nada yang sedikit emosi kepada Syaqila.
Rifki tau bahwa ini begitu sangat menyakitkan bagi Nadhira, ia merasa benar benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Syaqila kali ini, ia tidak menyangka bahwa Syaqila sengaja membuat Nadhira semakin terluka.
Disatu sisi Nadhira menatap kearah Rifki, entah kenapa hatinya memaksanya untuk datang ketempat itu, ia pun sangat terluka akan tetapi perasaannya semakin tidak enak jika tidak menghadiri acara tersebut, entah kenapa dirinya sangat takut kalau Rifki sampai terluka.
"Agar dia tau diri bahwa aku adalah tunanganmu".
"Sepertinya aku tidak ingin melanjutkan tunangan ini, kau terlalu ikut campur dalam urusanku".
"Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kau membatalkan semuanya begitu saja, apa hanya karena wanita itu?".
"Bukan urusanmu".
"Rifki, kau tidak boleh melakukan itu, apa kau ingin Mamamu itu kenapa kenapa karena kau memaksa untuk menghentikan pertunangan ini?".
"Maksudmu apa mengatakan itu? Apa kau ingin menjebak diriku?".
"Pikirkan baik baik atas ucapanku Rifki".
Rifki pun mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga telapak tangannya terlihat begitu memutih, ia tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu saat ini.
"Mamamu berada dibawah kendaliku, jika kau nekat, tidak akan ada yang bisa menghentikan diriku untuk membunuh Mamamu saat ini juga".
"Kau!".
Rifki tidak menyangka bahwa Syaqila mengatakan itu kepadanya disaat dirinya akan bertunangan dengan Rifki, dari kejauhan Nadhira melihat bahwa ada yang tidak beres dengan apa yang saat ini sedang ia lihat, entah kenapa ia merasa bahwa Rifki saat ini sedang begitu marah.
"Apa yang terjadi? Kenapa perasaanku semakin tidak enak saat ini" Guman Nadhira.
__ADS_1
Ia pun menatap kearah Rifki dengan perasaan yang begitu campur aduk, setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya, entah sebab apa yang membuat air mata itu mengalir begitu saja.