Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Meminta restu kepada Sarah


__ADS_3

Haris teringat kembali saat dimana dirinya digendong pergi oleh Aryabima dari tempat dimana Ayahnya dibunuh hanya karena ingin melindungi Haris, dan penyebab utamanya adalah kekuatan dari keris pusaka xingsi yang saat itu berada pada tubuh Haris.


"Keris itu pembawa masalah Ayah, seandainya keris itu tidak ada mungkin Ayah Chandra masih ada didunia ini dan hidup bersama sama dengan kita".


"Inilah takdir keluarga kita Nak, harapan kita hanya ada kepada Rifki, jika dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya maka kita tidak punya harapan lagi untuk dapat menghancurkan keris pusaka xingsi, dan menyebabkan seluruh dunia akan mengalami kehancuran karena memperebutkan kekuatan dari keris pusaka xingsi".


"Semoga saja Rifki bisa melakukan itu Ayah, aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi"


Rifki yang mendengar percakapan antara keduanya pun mulai membuka kedua matanya, Rifki pun membayangkan bertapa sedihnya Haris dikala itu, dimana dirinya sendiri yang menyaksikan kejadian yang membuat Ayahnya tewas seketika.


"Akh..." Desah Rifki ketika hendak bangkit dan langsung membuat kedua orang itu segera memandangnya dengan khawatir.


"Nak kau sudah bangun" Ucap Haris.


"Jangan banyak gerak dulu Nak, lukamu masih belum sembuh sepenuhnya, istirahatlah dulu agar tidak semakin parah nantinya" Ucap Aryabima.


"Dhira dimana? Kenapa dia tidak ada disini? " Tanya Rifki dengan lemahnya.


"Kakek suruh dirumah saja Nak, bagaimana mungkin dia ikut kemari sementara Kakaknya sedang mengadakan acara pernikahan"


Mendengar jawaban itu membuat Rifki hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja dengan pelan, dirinya masih terasa begitu lemah untuk saat ini akan tetapi mendengar Nadhira baik baik saja itu sudah cukup baginya.


Rifki kembali memejamkan kedua matanya karena dirinya merasa sedang sangat lemah saat ini, membuka kedua matanya terlalu lama membuatnya seperti semakin kehilangan energinya.


"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Aryabima kepada Rifki ketika melihat Rifki memejamkan matanya.


"Ngak ada Kek, hanya saja Rifki merasa lemah saat ini" Jawab Rifki pelan.


"Jangan lakukan hal ini lagi Nak, kau membuat kami merasa cemas" Ucap Haris dan langsung dibalas anggukan oleh Rifki pelan, meskipun sedang memejamkan matanya.


"Sebaiknya kita tinggalkan dia saja, biarkan dia istirahat untuk beberapa saat" Ucap Aryabima.


"Baiklah Ayah" Jawab Haris.


Haris mengangguk kepada Aryabima, Aryabima segera bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan Rifki untuk istirahat karena kondisinya masih belum stabil kembali.


"Cepatlah sembuh anakku, apa kau tidak ingin segera menikah dengan Nadhira?" Bisik Haris ditelinga Rifki.


Mendengar bisikan tersebut membuat Rifki mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum tipis karena ucapan Haris, meskipun dia sedang memejamkan matanya akan tetapi dirinya merasa sangat bahagia.


Melihat senyuman Rifki yang mengembang membuat Haris ikut tersenyum lembut kepada Rifki dan membelai lembut kepala Rifki, setelah itu Haris segera bergegas untuk menyusul Aryabima.


Ucapan Haris seketika langsung membuat semangat Rifki kembali membara, perkataan Haris yang ia dengar sebelum ia jatuh pingsan kembali terngiang ngiang didalam kepalanya.


Rifki pun tetap melanjutkan tidurnya karena rasa mengantuk tiba tiba menyerangnya dan juga rasa sakit didadanya pun masih menjalar karena energi keris pusaka xingsi yang meluap atas tindakan yang dirinya lakukan sebelumnya.


"Tunggu aku Dhira" Guman Rifki pelan.


Sekian detik kemudian Rifki mulai hanyut dalam mimpinya yang indah, kesadarannya kini masuk kedalam dunia ilusi yang penuh dengan halu, Rifki terlena dalam tidurnya yang nyenyak itu.


*****


Pagi ini Nadhira tengah duduk digazebo yang berada dihalaman rumahnya, sejak semalam dirinya menunggu kabar dari Rifki akan tetap kabar yang dia tunggu tunggu belum datang juga sampai saat ini, Nadhira merasa sangat cemas dengan kondisi Rifki.


"Apa Rifki baik baik saja, kenapa Kakek Arya belum juga memberitahu kabarnya kepadaku" Guman Nadhira pelan.


Dikejauhan terdapat Bi Ira yang tengah memperhatikan Nadhira yang sedang melamun seorang diri disebuah gazebo, Bi Ira tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Nadhira kali ini sehingga membuatnya murung begitu saja.


Nadhira hanya menghela nafasnya sambil memandang ponsel miliknya yang ditaruh diatas sebuah meja yang ada didepannya, sama sekali tidak ada notifikasi dari ponsel tersebut kecuali notifikasi dari Citra sekertarisnya.


"Apa mungkin mereka lupa memberitahuku" Guman Nadhira lagi sambil menatap layar ponselnya.


Tiba tiba ribuan kelopak bunga mawar merah berjatuhan menimpa Nadhira, seketika sebuah senyuman mengembang dari wajahnya, ia pun menoleh kebelakang dan mendapati sosok seorang lelaki yang tengah menutupi wajahnya dengan sebuah buket bunga.


"Kau sudah sembuh?" Tanya Nadhira.


"Bagaimana kau bisa menebak bahwa ini adalah diriku?" Tanya pemuda itu balik kepada Nadhira dan langsung menyingkirkan buket bunga dari wajahnya.


"Rifki" Ucap Nadhira dan langsung bangkit dari duduknya seketika.


Nadhira langsung menjatuhkan pelukannya kedalam dada bidang milik Rifki, Nadhira memeluk Rifki dengan sangat eratnya dan ia merasa sangat bahagia ketika melihat bahwa Rifki sudah baik baik saja saat ini.

__ADS_1


Rifki pun membalas pelukan tersebut dengan sangat hangat dan lembut, tanpa disadari air mata Nadhira lolos begitu saja karena bahagianya, Rifki melepaskan pelukan tersebut dan langsung bergegas menghapus air mata Nadhira.


"Kenapa menangis Dhira? Katakan kepadaku kenapa kau menangis seperti ini?" Tanya Rifki.


"Aku takut kehilangan dirimu Rif, sangat takut" Ucap Nadhira sambil menatap kedua mata Rifki.


"Aku tidak akan meninggalkan dirimu lagi Dhira, aku berjanji kepadamu bahwa kita akan selalu bersama".


"Aku hanya ingin kau baik baik saja Rifki, kenapa kau harus melakukan itu?" Tangis Nadhira pecah seketika itu juga.


"Jangan menangis, Rifkimu akan selalu baik baik saja selama kau ada untukku Dhira, jangan khawatirkan tentang diriku Dhira".


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir Rif? Aku sangat takut karena kau tiba tiba muntah darah seperti itu, apalagi dengan tubuh yang sangat lemah".


"Bagaimana bisa terjadi sesuatu dengan diriku? Lihatlah sekarang, aku baik baik saja kan?"


"Kau jahat" Ucap Nadhira sambil memukul pelan dada bidang milik Rifki.


"Akh..." Desah Rifki ketika Nadhira memukulnya.


"Kau kenapa Rif?" Tanya Nadhira khawatir.


"Hahaha... Ini sangat sakit Dhira" Mendengar suara Nadhira yang khawatir kepadanya membuat Rifki tertawa dengan kerasnya.


"Bisa bisanya kau bercanda seperti ini, kenapa kau sama sekali tidak mau memikirkan perasaanku Rif?" Ucap Nadhira dengan sebalnya.


"Kau yang tidak mau memikirkan perasaanku Dhira, itulah yang ku rasakan disaat kau terluka, hatiku sakit Dhira ketika melihatmu terluka, sedangkan dirimu tidak mau berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan melakukan tindakan yang membahayakan nyawamu".


"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu Rif, aku tidak ingin kau kenapa kenapa sedangkan diriku tidak bisa berbuat apa apa".


"Kita saling mencintai Dhira, tapi kenapa kau tidak bisa terbuka dengan diriku? Kenapa kau menyimpan semuanya sendiri, kau menahan luka yang begitu besar sementara kau tidak mau berbagi kepadaku".


"Aku tidak ingin kau merasakan sakit Rif, biarkan diriku saja yang merasakannya".


"Sekarang tidak lagi, kita harus hadapi semuanya dengan bersama sama Dhira"


"Maksudmu apa? Jangan bercanda Rif".


Rifki pun langsung berlutut didepan Nadhira dan memegangi kedua tangan Nadhira dengan tatapan yang sangat serius, Nadhira kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Rifki kali ini.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Nadhira.


"Maukah kau menikah denganku Dhira?" Tanya Rifki.


"Tidak" Jawab Nadhira.


Seketika jawaban itu membuat Rifki mendadak merasa sangat sedih atas penolakan dari Nadhira, ia pun melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nadhira seketika.


"Tidak akan menolak, bagaimana mungkin aku bisa menolaknya Rif?" Ucapan Nadhira lagi.


"Jadi kau menerimanya Dhira?" Tanya Rifki dengan penuh harap.


"Iya Rif" Jawab Nadhira dengan menganggukkan kepalanya pelan kepada Rifki.


Jawaban itu seketika membuat riuh ditempat itu dengan kedatangan dari anggota Gengcobra, semuanya merasa senang dengan jawaban dari Nadhira dan hal itu membuat Nadhira merasa bahagia dengan kedatangan dari anggota Gengcobra tersebut.


Tak beberapa lama kemudian anggota Gengcobra mendadak mundur beberapa langkah untuk membiarkan seseorang berjalan mendekat kearah Nadhira dan Rifki yang berada di tangah tengah sekumpulan anggota Gengcobra.


Nampak sosok Susi dan Bayu tengah berjalan mendekat kearah keduanya sambil membawa buket bunga yang lebih besar daripada yang dibawa oleh Rifki sebelumnya, didalam buket bunga tersebut terdapat sebuah kotak cincin.


Keduanya segera menyerahkan buket bunga tersebut kepada Rifki, Rifki lalu mengambil kotak cincin tersebut dan akan memasangkannya kepada jari manis Nadhira.


"Hentikan!"


Ketika Rifki hendak memasang cincin tersebut kepada Nadhira seketika seseorang langsung berteriak untuk menghentikan hal tersebut, mereka semua langsung menoleh kepada sosok wanita patuh baya yang tengah berjalan mendekat kearah Nadhira dan Rifki.


"Oma" Ucap Nadhira lirih.


Sarah mendekat kearah dimana Nadhira berada dan meminta kepada anggota Gengcobra untuk memberinya jalan untuk dapat menghampiri Nadhira yang tengah berhadapan dengan Rifki saat ini.


"Jangan harap kau dapat memiliki cucu Oma, Oma sama sekali tidak akan setuju dengan hal itu" Ucap Sarah yang berjalan mendekat kearah Nadhira.

__ADS_1


"Apa yang Oma katakan? Kenapa Oma tidak menyetujui hubungan kami?" Tanya Nadhira.


Tanpa menjawab ucapan dari Nadhira, Sarah mengedipkan mata kirinya kepada Nadhira dan langsung membuat Nadhira mengerti apa maksud dari Sarah itu.


Mendengar ucapan Sarah seketika membuat semua yang hadir merasa sangat kecewa, kebahagiaan yang mereka nantikan tidak akan pernah terwujud hari ini.


Begitu banyak ujian yang telah dihadapi keduanya selama ini, apakah untuk bersama itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi? Rifki sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya akan tetapi Sarah tiba tiba saja tidak merestui hubungannya dengan Nadhira.


"Kenapa Oma?" Tanya Rifki.


"Kau tidak layak untuk cucuku" Jawab Sarah sambil menatap tajam kearah Rifki.


"Oma..." Ucap Nadhira.


Sarah lalu meraih tangan Nadhira dan menarik Nadhira kebelakangnya, hal yang dilakukan oleh Sarah itu mendadak membuat Rifki terkejut dan bertanya tanya apa yang terjadi dalam batinnya, kenapa mendadak Sarah tidak menyetujui hubungan keduanya itu.


Bi Ira yang melihat itu tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Sarah, Nadhira dan Rifki begitu saling mencintai akan tetapi kenapa Sarah mendadak tidak menyetujui hal tersebut.


"Kenapa Nyonya besar seperti itu? Hampir saja melihat adegan yang bagus" Gerutu Bi Sari yang ada didekat Bi Ira.


"Entahlah, aku juga tidak tau Sar, aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nyonya besar itu" Jawab Bi Ira yang menyaksikan kejadian itu.


"Semoga saja ada keajaiban Bi, kasihan mereka berdua apalagi Non Dhira yang sudah lama menanti hari ini tiba".


"Kita berdoa saja, semoga mereka bisa bersama"


"Aamiin".


Sementara disatu sisi Bayu dan yang lainnya juga merasa terkejut ketika Sarah tiba tiba tidak menyetujui hubungan keduanya padahal sebelumnya Sarah begitu sangat menginginkan keduanya bersatu entah mengapa kali ini dirinya justru yang tidak merestui hubungan keduanya.


"Begitu banyak rintangan yang mereka lalui, apakah Nadhira bisa bersatu dengan Tuan Muda?" Bisik Vano kepada Reno yang ada disebelahnya.


"Mereka pasti akan bersatu, jika takdir sudah bersama mereka, tidak akan ada yang bisa memudahkan keduanya, aku yakin itu" Bisik Reno balik kepada Vano.


"Semoga saja, semoga semuanya akan baik baik saja".


"Aamiin".


Anggota Gengcobra terus berdoa dalam hati mereka, mereka berharap bahwa Nadhira dan Rifki akan bersama sama, itulah yang diimpikan oleh semuanya karena ketulusan cinta yang diberikan oleh Rifki kepada Nadhira dan hanya Nadhira yang mampu untuk mengendalikan emosi Rifki.


Kesenangan yang semula mereka rasakan disaat Nadhira menerima Rifki mendadak sirna begitu saja dan kini hanya tersisa keheningan ditempat itu, perasaan senang tersebut mulai terasa begitu layu karena tidak ada yang menyiramnya.


"Tolong restui hubungan kami Oma, Rifki sangat menyayangi Nadhira, hanya Nadhira yang Rifki cintai Oma" Ucap Rifki memohon dihadapan Sarah.


"Aku tidak akan pernah memberikan itu kepadamu, apakah dengan cinta saja kau layak mendapatkan Nadhira begitu saja, cintamu tidak akan pernah berguna didepan Oma"


"Kenapa Oma? Apa yang membuat Rifki tidak layak untuk Nadhira cucu Oma? Apakah karena Rifki bukanlah orang yang sempurna?"


"Memang kau tidak akan pernah sempurna untuk Nadhiraku, ada seseorang yang jauh lebih baik daripada kamu untuk Nadhira yang sengaja Oma pilihkan untuk dirinya"


"Didunia ini memang banyak sekali orang yang jauh lebih baik daripada Rifki, tapi cinta Rifki kepada Nadhira begitu sangat tulus Oma, Rifki tidak pernah menginginkan kesempurnaan akan tetapi yang Rifki inginkan adalah dia yang mampu menyempurnakan"


"Tapi Oma menginginkan seseorang yang sangat sempurna bagi Nadhira, karena hanya tinggal satu anak dari Lia yang belum dimiliki oleh orang lain"


"Rifki akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjadi yang terbaik untuk Nadhira Oma".


"Bagaimana kalau Oma sudah menjodohkan dirinya dengan orang lain yang jauh lebih sempurna daripada dirimu?".


"Tolong jangan lakukan itu Oma, Rifki mohon, jangan menjodohkan Nadhira dengan orang lain".


"Dhira tidak mencintaimu lagi belakang ini Rifki, dia sudah mencintai seseorang yang telah Oma jodohkan dengan dirinya sejak dulu".


Rifki terdiam beberapa saat mendengar ucapan dari Sarah, mungkinkah Nadhira akan menikah dengan orang lain, dan didalam hatinya tersirat sebuah rasa perih yang menjalar ketika perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Sarah.


"Jika memang demikian, asalkan Nadhira bahagia meskipun harus bersama dengan orang lain, maka Rifki hanya bisa pasrah Oma, Rifki hanya menginginkan kebahagiaan dari Nadhira".


"Kau menyerah begitu saja Rifki? Apa kau tidak mau memperjuangkan dirinya?"


"Rifki akan tetap berjuang seterusnya Oma, bukan hanya sekedar untuk mendapatkannya saja tapi Rifki akan terus berjuang untuk dapat membuat dirinya tetap bahagia, meskipun kebahagiaannya itu bukan bersama dengan Rifki, Rifki sangat menyayangi Nadhira Oma, dan kebahagiaannya jauh lebih penting daripada ego Rifki".


Sarah dapat melihat ketulusan cintanya untuk Nadhira diwajah Rifki, sementara Nadhira yang mendengar jawaban tersebut merasakan sangat bahagia dan terharu dengan apa yang dikatakan oleh Rifki saat ini.

__ADS_1


__ADS_2