Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira kembali


__ADS_3

Putri memeluk tubuh anaknya yang bergetar itu dengan erat, Putri dapat merasakan apa yang anaknya itu rasakan saat ini, biar bagaimanapun juga Rifki sangat menyayangi Nadhira, dan dirinya tidak akan mampu untuk kehilangan sosok seperti Nadhira.


"Ini kesalahan Rifki, Rifki tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi Ma, Rifki gagal untuk menjaga Nadhira Ma, ini semua salah Dhira"


"Ssttt... Jangan katakan itu Nak, serahkan semuanya kepada Allah, semoga semuanya akan membaik, Nadhira bisa kembali bersama sama dengan kita lagi, dan bahagia bersama"


"Sampai kapan dia akan menghukumku terus terusan seperti ini Ma? Rifki tidak kuat lagi Ma, Rifki sangat takut kehilangan Dhira Ma"


"Sabarlah Nak, jangan seperti ini Nak, kamu membuatku semakin sedih jika seperti ini, tenanglah Nak, Mama mohon"


"Bagaimana mungkin Rifki bisa sabar, Rifki hanya ingin Dhira sembuh Ma, Rifki tidak minta apa apa lagi selain kesembuhan Nadhira, apakah salah Rifki meminta untuk tetap bersama Dhira? Ma, lakukan sesuatu untuk Rifki, Ya Allah tolong jangan ambil Nadhira dari hamba"


"Tenanglah Nak, Dhira pasti baik baik saja" Putri sudah tidak mampu untuk menghentikan air matanya yang terus mengalir itu.


"Ma, Dhira sama sekali ngak mau merespon ucapan ku, dia sangat marah kepadaku Ma, sehingga dia menghukumku seperti ini, dia mau meninggalkanku dengan cara seperti ini Ma, aku telah merenggut nyawa anak kita, dia pasti sudah tidak mau bertemu dengan Rifki lagi"


"Mama tau ini sangat berat, Mama juga seorang Ibu, pasti sangat sakit ketika kehilangan seorang anak, apalagi orang yang kita cintai, tapi percayalah kepada Allah bahwa dibalik setiap cobaan selalu Allah selipkan kebahagiaan, yang kuat ya anak Mama, semuanya pasti baik baik saja"


Tak beberapa lama kemudian pintu ruangan tersebut terbuka, hal itu membuat Rifki dan Putri langsung bangkit berdiri, mereka memandangi wajah petugas rumah sakit itu yang tertunduk dengan lesu, seakan akan menunjukkan kekalaha.


"Apa yang terjadi Dok? Bagaimana kondisi Dhira?" Tanya Rifki dengan nafas yang memburu.


Dokter dan para suster itu pun saling berpandangan, akan sulit bagi mereka untuk menjelaskan kepada Rifki saat ini, para suster itu pun mengangguk kepada sang Dokter pertanda mengiyakan untuk memberitahukan itu kepada Rifki.


"Kenapa kalian diam saja! Ada apa?" Tanya Rifki dengan nada sedikit tinggi karena melihat mereka yang diam membisu beberapa saat.


"Yang sabar ya Pak, kami turut berduka atas meninggalnya pasien, kami sudah berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa, tapi kami gagal untuk menyelamatkannya"


Deg


Bagaikan sebuah sambaran petir dihati Rifki ketika mendengarnya, tubuh Rifki pun sedikit lunglai ketika mendengarnya, air matanya semakin deras tak tertahankan, Aryabima dan Haris yang mendengar itu pun langsung bangkit dari duduknya.


"Tidak mungkin! Dhira tidak mungkin meninggalkan diriku, ini semua tidak benar!" Teriak Rifki dan langsung berlari masuk kedalam ruangan itu.


Dengan gelagapan Rifki berlari masuk kedalam ruangan itu dan langsung menjatuhkan pelukannya kepada tubuh Nadhira yang sudah tidak bernafas itu, perasaannya campur aduk dan langsung memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya.


"Kau boleh memarahiku Dhira, tapi kenapa kau harus meninggalkanku seperti ini, bangunlah aku mohon arghhh.... Kau tidak mungkin meninggalkanku seperti ini kan sayang? Ini hanya mimpi kan? Dhira tidak mungkin pergi meninggalkan diriku, Dhira bangun sayang, jangan pergi" Tangisan Rifki pecah begitu saja ketika memeluk tubuh Nadhira.


Aryabima, Haris, dan Putri. Pun langsung bergegas masuk untuk menyusul Rifki, ia melihat Rifki yang tengah memeluk tubuh Nadhira dengan linangan air mata, lelaki itu terlihat begitu menyedihkan, melihat anaknya seperti itu membuat Putri pun memeluk tubuh Haris.


"Kenapa kau meninggalkanku sayang, kau pernah berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan diriku, dimana janji itu Dhira? Jangan tinggalkan aku seperti ini aku mohon kepadamu Dhira, bangunlah sayang,


Maafkan aku tapi kenapa kau menghukumku seperti ini? Bangunlah sayang, biarkan aku menebus semua kesalahanku kepadamu, maafkan aku karena telah melukai hatimu tolong kembalilah, Dhira aku sangat menyayangimu sampai kapanpun itu, bangun sayang kau harus bangun demi diriku"


"Dhira bangunlah Nak, kenapa kau juga menghukum Mama seperti ini? Kesalahan apa yang telah Mama lakukan kepadaku Nak? Hukuman ini tidak adil bagi Mama, kenapa kau memberi hukuman kepada Mama seperti ini Nak? Kenapa?" Ucap Putri yang berlinang air mata sambil mengusap pelan kepala Nadhira.


"Dhira jahat kan Ma? Dia bahkan menghukum kami semua, kenapa sayang? Kenapa kau lakukan itu kepada kita? Aku yang salah sayang, hukum saja diriku tapi tidak dengan cara seperti ini, bangunlah sayang, jangan menghukum diriku seperti ini sayang, aku tidak sanggup lagi, pukul aku Dhira, pukul sekeras yang kamu inginkan, tapi tolong jangan tinggalkan aku seperti ini"


"Dhira anak yang baik, kenapa bukan diriku saja yang menjemput maut, aku sudah hidup terlalu lama didunia ini, dan merasakan pahit manisnya dunia, kenapa harus dia" Ucap Aryabima.


"Ayah, takdir tidak ada yang tau, Dhira menghukum kita semua dengan cara seperti ini, dia telah meninggalkan kita Ayah" Ucap Putri.


Hancur! Iya itu yang dirasakan oleh Rifki saat ini, hatinya begitu hancur ketika mendengar bahwa nyawa Nadhira sudah tidak bisa diselamatkan lagi, bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh Rifki saat ini, kehilangan seorang yang begitu dicintai adalah hal yang sulit untuk diterima dengan mudah.


"Dhira pasti baik baik saja Ma, dia hanya tertidur karena kelelahan kok Ma, Dhira tidak mungkin pergi meninggalkan diriku Ma, dia hanya marah kepadaku karena tidak menyelamatkan anak kami, kalo kemarahannya sudah redah, dia pasti bangun, dia belum puas untuk menghukum diriku" Ucap Rifki yang sangat sulit untuk menerima kenyataan.


"Rifki, ikhlaskan kepergiannya, dia menghukum kita dengan cara seperti ini" Ucap Haris.


"Tidak Pa! Dhiraku baik baik saja, Dokter itu bohong soal Dhira, apa yang mereka katakan itu bohong, Dhiraku hanya kelelahan Pa, dia pasti akan bangun nantinya, Dhira belum meninggal"

__ADS_1


"Sadarlah Nak di, yang sabar ya Nak, Dhira sudah tiada" Ucap Aryabima.


"Tidak mungkin, kenapa kalian bilang Nadhira sudah tiada? Nadhira hanya tertidur Kek, Dhira pasti bangun nanti, dia pasti akan mendengarkan ucapanku, dia tidak mungkin meninggal! Dia tidak mungkin meninggalkanku seperti ini, Ma kita harus membawa dia kerumah sakit yang lebih besar, dia harus diselamatkan, dia tidak boleh pergi"


"Rifki, sudah tidak ada harapan lagi Nak"


"Engak Ma! Dia harus bangun, dia ngak boleh pergi meninggalkanku Ma, dia harus kembali, aku ngak mau dia pergi secepat ini Ma"


Rifki semakin mengeratkan pelukannya itu, ia tidak mau mendengarkan kata kata yang menyakitkan itu, hingga membuat Rifki menutupi telinganya dengan erat, ia sama sekali tidak bisa menerima kenyataannya bahwa Nadhira telah pergi.


"Dhira, kau pasti baik baik saja kan sayang, kita akan menikmati hari tua kita bersama sama, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua, mereka jahat, mereka bilang kamu sudah tiada, padahal kamu sedang istirahat kan? Kamu pasti capek karena disekap begitu lama oleh orang jahat itu, mereka sudah ku bunuh Dhira, mereka tidak akan bisa mencelakaimu lagi, kamu tenang saja ya, aku akan selalu bersamamu, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua, tidurlah yang nyenyak Dhira aku akan selalu disini untuk memelukmu"


Mendengar ucapan Rifki membuat ketiganya semakin khawatir dengan mental lelaki itu, Rifki tidak mau menerima kenyataannya pahit itu, ia bahkan tidak mau mendengar mereka mengatakan bahwa Nadhira sudah tiada.


"Kau pasti sangat kelelahan kan? Mangkanya kau tertidur seperti ini, mereka membuatmu begadang setiap hari ya sayang, pasti kamu kelelahan, maafin aku ya karena aku datang terlambat untuk menolong kalian, apakah Dokter Lila menjaga kalian dengan baik selama ini? Dia bilang akan selalu menjaga kalian untukku,


Aku Ayah yang gagal sekaligus suami yang buruk, aku gagal menjaga anak kita sehingga kita harus kehilangan anak kita, dan aku juga gagal menjagamu sayang, sehingga kau membenciku seperti ini, kamu pasti baik baik saja kan? Kamu pernah berjanji kepadaku bahwa kamu tidak akan meninggalkanku secepat ini, maafkan aku"


Rifki tidak kuasa untuk menahan tangisnya, ia pun menangis sambil memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya seakan akan tidak mau kehilangan.


*****


Cahaya putih bersinar kini tengah menyelimuti tubuh Nadhira, ia melihat sebuah jalan yang panjang berada dihadapannya, jalan itu memancarkan cahaya yang menarik perhatian dari Nadhira, Nadhira pun tersenyum dan melangkah untuk mendekat kearah cahaya yang bersinar itu.


"Mungkinkah itu syurga" Ucap Nadhira.


Nadhira pun melangkah pelan pelan untuk mendekat kearah cahaya itu, semakin lama langkahnya itu semakin berat, tiba tiba ia mendengar suara Rifki yang terus memanggilnya, dan hal itu membuat dirinya menghentikan langkahnya.


"Dhira kenapa kau ingin meninggalkanku?"


Nadhira langsung menoleh kearah dimana suara itu berasal, sosok Rifki tengah berdiri dibelakangnya dengan linangan air mata yang sangat deras, Rifki pun memegangi tangan Nadhira hingga membuat Nadhira mengibaskan tangannya.


"Dhira, maafkan aku, kenapa kau sangat ingin meninggalkan diriku? Apakah kesalahanku sama sekali tidak bisa kau maafkan?"


"Aku ingin menyusul anakku, jangan halangi aku, kau telah membunuhnya, aku membencimu Rifki, aku sangat membencimu"


"Maafkan aku ya, kau boleh memarahiku, kau boleh menghukumku bagaimana pun itu, tapi tolong jangan tinggalkan aku, aku pantas mendapatkan hukuman darimu tapi aku tidak akan sanggup kalau harus kehilangan dirimu dengan cara seperti ini"


"Aku membencimu Rif, aku tidak mau melihatmu lagi, kau sangat jahat kepada kita berdua, kesalahan apa yang telah anakku lakukan kepadamu sehingga kau membunuhnya seperti itu, kenapa kau harus mementingkan aku daripada anakku, apalah arti bagi seorang Ibu jika tidak bisa menyelamatkan nyawa anaknya, kau telah merenggut kebahagiaanku yang selalu aku jaga selama ini, dengan mudahnya kau menyerahkan nyawa anak kita"


"Ada banyak alasan kenapa aku melakukan ini Dhira, meskipun aku memilih anak kita, dia tidak akan bisa hidup lebih lama karena usianya baru menginjak 6 bulan, dan tanpa adanya seorang Ibu disampingnya dia tidak bisa tumbuh seperti anak anak seusianya, mengertilah sayang, aku tidak pernah menginginkan dia mati, aku adalah seorang Ayah yang penuh dengan kekurangan"


"Kamu jahat Rif, aku membencimu"


"Kau boleh membenciku Dhira, kau bahkan boleh membunuhku jika kau inginkan itu, aku siap mati ditanganmu Dhira, luapkan semua kemarahanmu kepadaku, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku"


"Jangan katakan itu! Pergilah, biarkan aku tenang"


"Tidak Dhira, kau tidak boleh pergi begitu saja, tujuan hidup kita belum selesai sampai disini, masih banyak hal yang harus kita selesaikan, jangan menyerah begitu saja, kita akan selalu bersama"


"Pergilah Rifki! Jangan memperlambat langkahku seperti ini, aku tidak mau kembali"


"Aku tidak mau memperlambatmu Dhira, tapi hatimu sendiri yang mengatakan bahwa hatimu yang tidak mengizinkan dirimu untuk pergi, kembalilah sayang, bukan demi diriku tapi demi Mama Putri, dia sangat menyayangimu, kau telah menumpahkan air matanya sayang, kau boleh menghukumku tapi tolong jangan hukum Mama"


"Kau jahat Rif, aku membencimu, aku ngak mau melihat wajahmu lagi, pergi dari sini"


"Aku menyayangimu Dhira, dan akan selalu seperti itu selamanya, kembalilah sayang, aku mohon untuk yang terakhir kalinya, kembalilah aku mohon kepadamu Dhira" Suara Rifki terlihat memelan dengan penuh kesedihan.


"Rifki"

__ADS_1


"Aku menyayangimu Dhira, maafkan aku" Perlahan lahan tubuh Rifki pun menghilang dari hadapan Nadhira saat ini.


"Rifki! Kamu dimana! Rifki! Kenapa kau menghilang! Rifki!" Teriak Nadhira memanggil nama Rifki.


*****


Rifki tetap setia memeluk tubuh Nadhira yang semakin lama semakin dingin itu, ia mengusap puncak kepala Nadhira pelan dengan penuh kasih sayang dan berharap bahwa Nadhira akan segera membuka kedua matanya itu.


"Sayang, jangan tinggalkan aku seperti ini, aku benar benar minta maaf Dhira, aku salah, tolong jangan menghukum diriku seperti ini sayang, maafkan aku"


"Rifki, sabar Nak" Aryabima tidak tega melihat kondisi Rifki yang terus terisak tangis itu.


Rifki memeluk tubuh Nadhira semakin erat, tak beberapa lama kemudian para perawat masuk kedalam ruangan tersebut untuk melakukan tugas mereka untuk melepaskan peralatan medis yang ada ditubuh Nadhira.


"Permisi Pak, biarkan kami melakukan tugas kami" Ucap suster tersebut dengan sopan kepada Rifki.


"TIDAK!" Bentak Rifki, "Nadhira belum meninggal, jika kalian lepaskan alat alat ini nanti Nadhira tidak bisa bertahan lagi! Aku tidak mau kehilangan Dhira!"


"Rifki tenang Nak" Ucap Haris sambil memegangi pundak Rifki.


"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu! Dhiraku masih hidup, dia hanya kelelahan saja, nanti dia pasti bakalan bangun" Rifki masih tetap pada pendiriannya dan tidak mau dibantah sedikitpun.


Rifki melepaskan pelukannya dari tubuh Nadhira itu, ia pun berdiri menghalangi para perawat yang akan melepaskan peralatan medis yang ada ditubuh Nadhira itu, ia tidak akan membiarkan mereka melakukan tindakan tersebut.


Rifki terlihat mengamuk ketika para perawat itu mencoba untuk melepaskan peralatan medis yang tertempel ditubuh Nadhira, Haris dan Aryabima berusaha untuk menenangkan lelaki tersebut akan tetapi Rifki masih tetap merasa yakin bahwa Nadhira akan bangun kembali.


"Rifki, tenang Nak" Putri lalu memeluk tubuh anaknya itu dengan erat.


Tangisan pun terdengar dari ruangan itu, melihat hal itu membuat para perawat tidak tega akan tetapi mereka harus melaksanakan tugas mereka untuk melepaskan peralatan medis tersebut karena pasien sudah tidak bernafas lagi.


"Tidak Ma! Mereka mau mencelakakan Nadhira, aku tidak akan membiarkan itu terjadi Ma, lepaskan Rifki Ma, Rifki harus melindungi Nadhira!"


"Tidak Nak, tenangkan dirimu, jangan seperti ini Nak, kau akan membuat Nadhira bersedih nanti"


"Ngak Ma, Rifki ngak mau kehilangan Dhira, mereka tidak boleh melakukan itu, Nadhira belum meninggal Ma, dia masih hidup dan butuh istirahat banyak"


Putri pun mencoba untuk menenangkan anaknya itu, ia mengusap pelan punggung Rifki hingga membuat Rifki menjatuhkan kepalanya dipundak Putri, isak tangis penyesalan pun keluar dari mulut Rifki, Putri yang mendengar itu hanya bisa meneteskan air matanya saja.


Rifki benar benar kehilangan Nadhira, ia seakan akan tidak ingin hidup lagi tanpa adanya Nadhira disisinya, ketika para perawat tersebut hendak mencabut jarum infus yang ada ditangan Nadhira tiba tiba dirinya merasakan denyutan dinadi Nadhira.


Perawat wanita itu langsung membelalakkan kedua matanya setelah merasakan denyutan itu dan langsung melepaskan tangannya dari tangan Nadhira, melihat itu membuat temannya merasa aneh dengannya.


"Ada apa?" Tanya perawat lain kepada perawat yang hendak mencabut jarum infus itu.


"Aku merasakan denyut nadinya" Ucapnya sambil menyentuh kembali tangan Nadhira, karena tidak mempercayai apa yang ia rasakan sebelumnya, "Ya Allah, nadinya masih berdenyut"


Aneh, jantungnya sudah berhenti berdetak akan terapi nadinya masih berdenyut, mendengar ucapan tersebut membuat Rifki langsung melepaskan pelukan Putri, ia langsung mendekat kearah dimana Nadhira terbaring.


"Aku panggilkan Dokter dulu untuk memeriksanya, jangan dilepas dulu alatnya" Ucap salah satu perawat rumah sakit.


"Baik lah" Sahut yang lainnya.


"Istri saya masih hidup kan?" Tanya Rifki dengan kedua mata berbinar.


"Kami tidak bisa memastikan hal itu, sebaiknya kita tunggu Dokter datang dulu Pak" Jawabnya.


"Dhira, aku yakin bahwa kau masih hidup, kau tidak mungkin meninggalkanku, kau pasti baik baik saja" Rifki pun mencium kening Nadhira dengan lama.


Tak beberapa lama kemudian dada Nadhira pun terlihat naik turun pertanda bahwa dia kembali bernafas, melihat itu membuat Rifki langsung menerbitkan sebuah senyuman diwajahnya, air mata kebahagiaan pun mengalir.

__ADS_1


__ADS_2